Selasa, 31 Desember 2013

BersamaMu

Ketika aku menoleh ke belakang, memandang jalan-jalan yang telah kita tempuh bersama,  hanya inilah yang terucap: "Terima kasih, Yesus."

Sungguh mengagumkan merasakan kasih setiaMu di sepanjang perjalanan kita. Sungguh ajaib segala yang telah Kau perbuat untukku. TanpaMu di sisiku, tak mungkin aku dapat sampai pada keberadaanku sekarang.

Terima kasih, Kekasih Jiwaku, Engkau yang memampukan aku, Engkau yang membimbing aku, Engkau yang menyertai aku senantiasa. Puji dan syukur hanya kepadaMu.

Di sini, kita menatap hamparan gurun, gunung, dan lembah. "Mari," kataMu seraya tersenyum lembut mengulurkan tanganMu, "Sudah saatnya kita meneruskan perjalanan ini." Aku memandangMu dalam diam dan menggenggam erat telapak tanganMu.


Rabu, 25 Desember 2013

Bayi Kekudusan

Perayaan KelahiranMu tahun ini membawa makna lahirnya "bayi" Kekudusan. Kian hari kian kupahami, Kekudusan adalah sejatinya inti kehidupan manusia. Pada saat Allah Tritunggal menciptakan manusia, Kekudusan bersemayam dalam diri manusia - seperti dikatakan dalam Kitab Kejadian, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (lihat Kejadian 1:26).

Kekudusan adalah tujuan hidup manusia di dunia. Setiap kita dipanggil untuk menjadi kudus, sehingga sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Namun, menjadi kudus tidaklah semudah menarik napas. Adanya tarikan-tarikan dunia membuat kita mudah tergoda dan jatuh ke dalam dosa, sehingga menjauhkan kita dari Kekudusan.

Natal membawa penyadaran bagi kita untuk kembali kepada Kekudusan. Bayi mungil di Betlehem adalah wujud nyata Kekudusan sejati. Menerima kelahiran Bayi Kekudusan dalam hati, membuat hidup kita menjadi suci, sehingga diri kita menjadi persembahan yang kudus dan tak bercela bagi Allah.   

Kamis, 05 Desember 2013

Kemartiran Masa Sekarang

Sebelum memasuki Masa Adven, aku mendengar seruanMu berulang kali melalui bacaan-bacaan Kitab Suci tentang akhir zaman. Engkau meminta para pengikutMu untuk terus bertahan dalam iman sampai Engkau datang kembali ke dunia dalam sinar kemuliaan.

Bertahan dalam iman sampai tarikan napas penghabisan, itulah tanda kemartiran. Kemartiran masa sekarang bukan kepala yang dipenggal atau badan yang ditusuk pedang.

Kemartiran masa sekarang adalah kepasrahan pada kehendak Tuhan, kesediaan memanggul salib tanpa mengeluh, kegembiraan dalam kedukaan, keikhlasan memaafkan tanpa mengingat kesalahan-kesalahan orang lain, ketulusan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan dengan mengabaikan kepentingan diri, penyangkalan diri terus-menerus demi memiliki hati yang murni.


Senin, 25 November 2013

Hambatan Kekudusan

Ketika mulai masuk dalam kekudusan hidup, ada suara yang menghambat langkah. "Hei, jangan terlalu baik, jangan terlalu suci... nanti kau cepat mati!"

Sungguhkah seorang yang kudus akan cepat beralih ke alam baka?
Sebagian besar orang kudus memang tak panjang usianya. Tetapi, ada pula yang tergolong lanjut usia seperti Santo Yohanes Rasul, Santo Augustinus, Santo Hieronimus, Santa Rosa Venerini.

Suara si jahat itu sungguh mengganggu. Agaknya, begitulah cara setan membujuk manusia agar menjauh dari kekudusan. Semakin kita berusaha hidup murni, semakin gencar ia mengggoda. Tak ada alasan untuk mundur, kembali ke keduniawian. Hidup di dunia ini atau beralih ke Surga untuk memandang langsung wajahMu adalah mutlak kebijaksanaanMu, ya Yesus.

Aku menghalau suara godaan itu dengan perkataan Santo Paulus, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku" (Filipi 1:20).

Senin, 11 November 2013

Ketika Harus Memilih

Ketika aku dihadapkan pada pilihan-pilihan dan aku harus menentukan satu di antaranya,
maka aku akan memilih yang paling sedikit kenikmatannya.
Seperti Engkau yang memilih jalan salib ketimbang jalan dunia,
maka aku akan menikmati salib dengan segala keindahannya,
daripada menikmati dunia dengan segala salibnya.

Jumat, 25 Oktober 2013

Mendadak atau Menderita

Dua setengah bulan silam, sejak mengetahui Ibu mengidap sirosis hati stadium akhir, aku selalu berdoa agar di akhir hidup Ibu tidak terlalu menderita kesakitan. Rasanya tidak tega membayangkan beliau harus mengalami muntah darah karena pendarahan di lambung dan usus.

Engkau mengabulkan permohonanku, ya Tuhan. Ibu dibawa ke rumah sakit bukan karena keluhan serius, hanya tidak mau makan seharian. Tetapi, siapa sangka, begitu dimasukkan ke ruang perawatan ICU, kondisi Ibu memburuk. Dalam kurun 12 jam, beliau kembali ke pangkuanMu.

Aku kembali bertanya kepadaMu, mengapa Ibu pergi sangat mendadak? Seperti mimpi, aku berada di antara kenyataan dan kenangan. Engkau menjelaskan kepadaku, begitulah caranya jika aku tidak mau melihat Ibu banyak menderita di akhir hidup beliau.

Kepergian mendadak memang menyisakan duka dan tanya bagi orang-orang yang ditinggalkan, namun segera membebaskan orang yang sakit itu dari penderitaan. Pilihannya hanya salah satu dari dua ini: mendadak atau menderita? Ayah seorang teman menderita kanker hati. Dua bulan terakhir kondisi sang ayah memburuk dan terus berada di rumah sakit.

Ya, Yesus, aku tidak akan bertanya lagi kepadaMu terkait cara dan waktu Engkau memanggil Ibuku pulang. Engkaulah Sang Pemilik Kehidupan. PenyelenggaraanMu tidak pernah salah. Ajarilah aku untuk menerima apa yang Engkau lakukan sebagai bagian dari rencana besarMu yang belum aku ketahui saat ini.

Minggu, 06 Oktober 2013

Bersabar

Sudah dua kali Engkau membawaku ke padang gurun, belajar menanti dengan sabar penggenapanMu. Jika saat ini Engkau memintaku bersabar sebentar, tak selama berada di padang gurun, masakan aku tidak dapat memenuhi permintaanMu?

Ujian ketaatan kepadaMu telah dimulai, sejak aku menetapkan arahku hanya kepadaMu.
Ya, Yesusku, berikanlah aku kesabaranMu, agar dengan tenang aku menanti penggenapanMu yang membawa sukacita dan damai. Aku percaya Engkau akan menepati janji-janjiMu.

PerkataanMu dalam bacaan hari ini menyejukkan hatiku, membawa pengharapan dalam penantianku. Ya, aku hanya perlu bersabar.

Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. (Habakuk 2:3)
 

Selasa, 01 Oktober 2013

Berbahagialah

Berbahagialah, wahai pendosa besar!
Karena penebusan Yesus, engkau diselamatkan. 
Pertobatan sejati menghantarmu pada CintaNya yang begitu besar dan tulus.

Engkau akan sangat bersukacita, karena kebinasaan yang sepatutnya diperoleh sebagai akibat dosa, telah diganti olehNya dengan kehidupan kekal.
    
Engkau akan merasakan damai tak berbatas, karena aliran KasihNya tak terbendung, mengaliri segenap relung jiwamu.

Engkau akan terpesona menikmati keajaiban PerbuatanNya, dengan tanganNya yang perkasa Ia menuntunmu di jalan yang benar.

Adakah hal lain yang masih kau inginkan, jika semua yang terbaik dan terindah telah dianugerahkanNya kepadamu?

Berbahagialah aku.


Kamis, 26 September 2013

Pintu Gerbang Kekudusan

Jadikanlah aku pintu gerbang kekudusan, ya Yesus, di mana melalui pintu ini, banyak orang dapat berjumpa denganMu dan mengasihiMu.

Minggu, 08 September 2013

Takut MengikutiMu

Engkau memaparkan perumpamaan seorang yang hendak membangun menara dan raja yang hendak berperang - sebagai gambaran perencanaan yang matang bagi seorang yang hendak mengikutiMu (Lukas 14:28-32).

MengikutiMu bukan sekadar kegembiraan memperoleh makanan jasmani (penggandaan roti) dan rasa takjub akan kesembuhan fisik (mukjizat penyembuhan); seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang yang berduyun-duyun mengikutiMu dalam perjalanan.

MengikutiMu membutuhkan kesediaan mengorbankan segalanya: keluarga, nyawa sendiri, dan milik (Lukas 14:26 dan 33). Setelah berkurban, masih ada tuntutan lain sebagai pengikutMu, yaitu memanggul salib. Semuanya tidak enak. Karena itu Engkau menggugah setiap orang untuk menimbang dengan saksama, sebelum memutuskan berjalan bersamaMu.

Ketika pengajaranMu tentang Roti Hidup dipandang sebagai perkataan yang keras (lihat Yohanes 6:60),  banyak murid yang mengundurkan diri. Hanya 12 rasul dan beberapa pengikut lain yang setia mengiringiMu. Namun, mereka pun mundur, saat Engkau menapaki jalan salib.

Takut, itulah inti ketidakbersediaan orang-orang mengikutiMu. Takut kehilangan kenikmatan duniawi, takut melepaskan keterikatan dengan orang-orang yang dicintai, takut menderita. 

"Jangan takut!" Dalam Alkitab, sebanyak 365 kali kalimat itu diserukan olehMu. Artinya, kehidupan manusia setiap hari hendaknya dijalani tanpa rasa takut. Tak takut melepaskan segala keterikatan, tak takut menderita karena memanggul salib.

Ketika St. Yohanes Penginjil diberi penglihatan tentang langit yang baru dan bumi yang baru (lihat Wahyu 21:1-8), dalam perikop itu disebutkan, orang-orang penakut - disebutkan pertama kali, sebelum disebutkan pula: orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta - akan mendapat bagian di dalam lautan api yang menyala-nyala.

Orang-orang penakut yang takut mengikutiMu, mereka tidak akan melihat langit yang baru dan bumi yang baru. 

Sabtu, 31 Agustus 2013

Talenta = Tanda Cinta

Engkau menuturkan perumpamaan tentang tiga orang yang diberi talenta dengan jumlah berbeda (Matius 25:14-30). Pemahaman tentang talenta sering kali dikaitkan dengan bakat atau kemampuan seseorang dalam berkarya. Namun, Engkau memberiku pemahaman, talenta lebih dari sekadar bakat atau kemampuan berkarya, apalagi saat mengisahkan perumpamaan itu, Engkau membukanya dengan perkataan: "Hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri..." (Matius 25:14).

Talenta adalah tanda cinta. Memang betul, secara umum Engkau mencintai semua makhluk yang Kau ciptakan, terutama manusia yang diciptakan serupa dengan gambarMu (lihat Kejadian 1:27). Engkau tidak membeda-bedakan orang baik dan jahat atau benar dan tidak benar dengan membuat matahari bersinar dan mencurahkan hujan untuk semua makhluk ciptaanMu (lihat Matius 5:45).

Namun, di samping cinta yang universal itu, Engkau mencintai orang-orang tertentu secara khusus. Contohnya, dari 12 rasul yang Engkau pilih saat berada di dunia, ada tiga rasul - Petrus, Yohanes, dan Yakobus - yang selalu Engkau ajak mengikutiMu dari dekatMu seperti ketika Engkau membangkitkan anak perempuan yang telah meninggal (Markus 5:37),  pergi ke Gunung Tabor (Lukas 9:28), dan berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:37).

Talenta yang Engkau berikan kepada setiap orang adalah tanda cinta, agar orang dapat  lebih mengenal Engkau dan berada lebih dekat denganMu. Itulah Kerajaan Sorga - ketika orang senantiasa diam di hadiratMu dan melakukan kehendakMu.

PemberianMu adalah rahmat semata, bukan karena jasa orang yang menerimanya. Ada orang yang mendapat lima talenta, yang lain tiga talenta, dan ada pula yang mendapat satu talenta. Orang yang mendapat lima talenta dan dua talenta, dengan giat mengembangkan relasi cintanya denganMu, sehingga semakin dekat denganMu.

Sementara orang yang mendapat satu talenta merasa dirinya kurang Engkau cintai. Ia tidak berusaha memupuk relasi intim denganMu, malah memilih mengubur tanda cintaMu. Iman dan cintanya kepadaMu tidak berkembang.

Kepada orang-orang yang menanggapi cintaMu, Engkau semakin mendekati mereka dan memberi mereka rahmat berlimpah. Ini dilambangkan dengan pelipatgandaan talenta yang dimiliki orang pertama dan orang kedua: dari lima menjadi sepuluh talenta, dari dua talenta menjadi empat talenta. Bahkan, satu talenta milik orang ketiga diberikan kepada orang pertama yang telah memiliki sepuluh talenta.

"Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya," kataMu (Matius 25:29). Nyatalah, setiap orang yang mempunyai cinta kepadaMu akan Engkau puaskan, sehingga ia berkelimpahan. Sementara orang yang tidak menaruh cinta kepadaMu, akan Kau campakkan.

Minggu, 25 Agustus 2013

KehendakMu adalah Kekudusan

PengajaranMu dengan tegas menyatakan:
- makan dan minum bersamaMu
- mendengar pengajaranMu
belum cukup menjamin seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Orang-orang yang mengikuti perayaan Ekaristi setiap minggu bahkan setiap hari, belum berarti mereka dekat denganMu secara Roh. Orang-orang yang menghadiri seminar, ceramah, pendalaman rohani, dan membaca Kitab Suci; belum tentu hati mereka terpaut sepenuhnya padaMu.

Bukan wewenangku untuk menilai mereka. Engkau tidak menghendaki penghakiman kepada sesama, sekecil apa pun. Tetapi, dari perkataanMu aku meyakini, bukan setiap orang yang berseru kepadaMu: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Engkau hanya berkenan kepada orang-orang yang melakukan kehendak BapaMu (lihat Matius 7:21).

Apakah yang menjadi kehendak Bapa? Aku memahaminya sebagai menjadi kudus - kekudusan. Itulah sasaran tertinggi dalam kehidupan manusia. Allah Bapa telah menciptakan manusia menurut gambarNya. Ia adalah Kudus, maka Ia pun menghendaki agar manusia kudus seperti diriNya. Kudus berarti suci, murni. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah," demikian Engkau mengajarkan (Matius 5:8).

Dengan menjadi kudus, kita dapat menyembah Allah secara benar dalam Roh dan Kebenaran (lihat Yohanes 4:24). Kekudusan membuat kita dapat memasuki kota Yerusalem baru kelak (lihat Wahyu 21:1-8). Mereka yang berhak masuk ke kota suci ini adalah mereka yang keluar dari kesusahan besar; mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba (lihat Wahyu 7:14).

".... dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran."  (Yohanes 17:19)

Kamis, 22 Agustus 2013

Napas Allah

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)

Dari kisah penciptaan manusia pertama, kita memahami sebenarnya milik Tuhan-lah napas kita. IA yang menghembuskan napas hidup ke dalam hidung kita, sehingga kita menjadi makhluk yang hidup.

Seorang penginjil asal Amerika Serikat, Norvel Hayes, memberi kesaksian dirinya pernah berada di Surga. Seperti apakah Surga itu? "Dalam setiap tarikan napasku, aku merasakan kehadiran Allah di sekelilingku," ujarnya.

Sejatinya, Surga lebih daripada sekadar merasakan kehadiran Allah di sekitar kita. Surga adalah ketika kita mengangkat jiwa kita dalam tarikan napas, sehingga roh kita menyatu dengan Roh Allah. Surga adalah ketika kita menghembuskan napas dari hidung kita dan menikmati Allah yang bernapas dalam raga kita. Napas Allah melalui tubuh fana kita mengalirkan sukacita dan damai yang tak terbatas.

Surga telah mulai dapat kita nikmati saat kita masih hidup di dunia ini. Surga yang sama akan kita alami ketika napas kita berhenti dari tubuh dan menyatu sepenuhnya dalam napas Allah. 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Aku Mau

Engkau masih terpaku di kayu salib sampai saat ini. 
Engkau masih menanggung segala dosa umat manusia.
Engkau masih setia mengorbankan diriMu.

Dapatkah seorang yang mencinta membiarkan Kekasihnya menanggung semua itu sendirian?

Aku mau ikut merasakan salibMu.
Aku mau ikut menderita bersamaMu.
Aku mau setia menemaniMu.
 

Senin, 12 Agustus 2013

Sudah Ada Jawaban

Tuhanku, aku tahu Engkau telah memberikan jawaban atas segala permasalahanku, pada saat aku belum menemukannya. 
Bimbing dan terangi aku dengan Roh KudusMu, agar aku dapat memperoleh jawaban itu – jawaban yang sesuai dengan kehendakMu.

Senin, 29 Juli 2013

Waktu BersamaMu

Ketika Engkau mengunjungi rumah Marta dan Maria, Engkau menegur Marta yang begitu sibuk melayani Engkau dan rombonganMu, sementara Maria dengan tenang duduk diam di bawah kakiMu. (Lukas 10:38-42)

Ketika aku mulai sibuk merancang ini-itu dengan harapan semakin banyak orang mengenalMu dan memiliki relasi yang dekat denganMu, aku malah merasa jauh dariMu, ada jarak di antara kita. Aku mempersingkat waktu doa pagi, menunda waktu merenungkan FirmanMu, dan meniadakan waktu hening - saat kuangkat jiwaku kepada RohMu.  

"Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu," kataMu kepada Marta, seperti Engkau tujukan juga kepadaku.BagiMu, waktu bersamaMu lebih penting ketimbang segala urusan lain - termasuk berbagai kesibukan pelayanan atas namaMu.Engkau ingin orang-orang yang mencintaiMu hadir di hadapanMu, duduk diam menikmati waktu bersamaMu.

Tanda cinta yang sejati: dua hati berpadu dalam keheningan.

Senin, 22 Juli 2013

MenemukanMu

Di manakah Engkau bisa ditemukan? Ketika aku sibuk mencariMu, aku malah tidak menemukanMu.

Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?" Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia. (Kidung Agung 3:1-4a)

Begitu aku meninggalkan segalanya, diam dalam keheningan, Engkau mendekat dengan segala pesonaMu.


Rabu, 17 Juli 2013

Membedakan

Ajarilah aku, ya Yesus, agar dengan bijak dapat membedakan antara: menunggu waktuMu yang tepat untuk bertindak dengan keengganan dalam diriku untuk bertindak selaras kehendakMu. 

Aku membuka diriku seluas-luasnya, agar Engkau dapat berkarya dalam diriku, sesuai rencanaMu sejak semula - ketika Engkau menciptakan aku.

Senin, 15 Juli 2013

Belajar MencintaiMu

Ketika sendi-sendi sekujur tubuh terasa ngilu, kepala bagai ditusuk-tusuk, mata pedih berair, tenaga lenyap sama sekali; aku teringat kepadaMu. Aku sangat bersyukur, aku boleh sedikit merasakan penderitaanMu di kayu salib melalui sakit yang kuderita ini.

Hari demi hari kulalui tanpa berdaya. Menggerakkan anggota tubuh saja perlu perjuangan. Aku masih lebih beruntung ketimbang diriMu saat memanggul salib. Aku mengonsumsi parasetamol tiga kali sehari untuk meredakan sakit sendi-sendi ini, sementara Engkau menanggung luka dan sakit tanpa obat pereda sakit.

Tidak seperti pengalaman-pengalaman sakitku sebelumnya, kali ini aku menerima sakit yang Kau berikan kepadaku dengan penuh cinta kepadaMu.Ternyata perbedaan pandangan ini sangat memengaruhi suasana hati dalam menanggung sakit flu tulang. Aku menjadi lebih pasrah pada kehendakMu dan mengangkat jiwaku mendekati RohMu. 

Terima kasih, karena Engkau berkenan memakai tubuhku untuk berbagi penderitaanMu. Tak ada lagi tanya untuk denyut berkepanjangan di alis mata kanan selama beberapa hari, detak jantung berulang yang memedihkan di selama Jumat sore hingga malam, rahang mulut yang tak dapat digerakkan selama satu jam pada Jumat malam minggu berikutnya. Aku kini paham makna cinta di balik penderitaan. Dengan cara inilah aku belajar mencintaiMu seperti Engkau ingin kucintai. 

Minggu, 07 Juli 2013

Ujian Tingkat Lanjut

Beberapa hari sebelum kami sakit, putriku mengatakan, sekarang Engkau akan mengujiku melalui dirinya. Aku masih tenang saja, sampai tiba-tiba putriku menderita sesak napas di dada kanan dan timbul bercak-bercak merah di wajah dan sekujur tubuhnya. Dari diagnosis dokter, putriku menderita sakit campak (measles). Masih menurut dokter, penyakit ini sangat menular, karena itu disarankan putriku tidur terpisah.

Di hari yang sama, menjelang malam hari, aku mulai merasakan gejala serupa. Tubuh menggigil dan demam, mata pedas, persendian sakit. Ah, bagaimana aku bisa merawat putriku yang sakit, kalau aku sendiri sakit? Aku mulai melirik jalan pintas: ke rumah sakit, dirawat sekamar berdua.

Rumah sakit yang biasanya penuh pasien sehingga harus mengantre, kali ini begitu aku menelepon, kamar tersedia. Inikah jalanMu atau godaan? Aku teringat, aku telah bertekad tidak mau diopname lagi setelah tiga kali aku keluar-masuk rumah sakit dalam kurun 14 bulan. Terakhir aku diopname karena muntah dan diare pada pertengahan Januari 2013.

Tentu saja, aku berusaha memegang teguh komitmenku kepadaMu. Lalu, muncul suara yang membujukku: "Hei, kasus ini berbeda. Yang sakit bukan hanya dirimu, tetapi juga anakmu. Bagaimana kau bisa merawat orang sakit sementara kau sendiri sakit? Di rumah sakit, kau tak perlu pusing memikirkan makanan dan sebagainya."  

Malam itu angin bertiup kencang, hujan turun. Dalam cuaca seperti ini, rasanya bukan tindakan bijak pergi ke rumah sakit dengan taksi. Aku menunda keputusanku sampai keesokan hari. 

Aku bangun dengan hati bimbang. Aku memohon kepadaMu untuk menunjukkan kehendakMu. Suara lembut dalam hati mengatakan agar aku menyimak bacaan hari ini. Di situlah aku akan mendapatkan jawabanMu.

Bacaan Kamis lalu (4 Juli) mengisahkan tentang iman Abraham yang diuji sehabis-habisnya oleh Tuhan. Abraham diminta mengurbankan Ishak, anak tunggal kesayangannya. Meski berat, tanpa bertanya, Abraham menaati kehendak Tuhan. (lihat Kejadian 22:1-19) Kemudian, bacaan Injil hari itu mengulas tentang orang lumpuh yang Engkau sembuhkan karena keteguhan imannya. (Matius 9:1-8)   

Bacaan tersebut sama dengan situasi yang kualami sekarang. Engkau memintaku keteguhan imanku untuk berani "mengurbankan" putriku untukMu. Membiarkan Engkau yang menjamah dan menyembuhkannya, tanpa ketergantungan besar pada kenyamanan pengobatan di rumah sakit.

Dalam keterbatasan fisikku yang menderita sakit pula, aku memercayakan segalanya kepadaMu. Benarlah yang dikatakan putriku, sekarang Engkau mengujiku melalui dirinya. Ujian yang hanya menyangkut diri sendiri lebih mudah dihadapi, daripada ujian yang menyangkut orang-orang yang disayangi.

Engkau menempatkanku pada ujian tingkat lanjut ini untuk semakin memurnikan relasiku denganMu. Seperti Abraham, aku mau melaksanakan perintahMu tanpa mempertanyakannya.
    

Senin, 01 Juli 2013

Darah MuliaMu


Dari dua situs ini aku mengetahui bahwa hari ini, 1 Juli, pernah dirayakan sebagai Hari Pesta Darah MuliaMu, ya Kristus. (sumber:  https://www.facebook.com/notes/gereja-katolik/sekilas-tentang-hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus/10150232624182440 dan http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id6.htm)

Pada 1849, Paus Pius IX menyatakan hari Minggu pertama bulan Juli sebagai Pesta Darah Mulia dan wajib dirayakan secara universal. Selanjutnya, Paus Pius X melakukan pembaruan penanggalan liturgi dan Pesta Darah Mulia dipindahkan menjadi tanggal 1 Juli.

Pada 1961, semua pesta sengsara termasuk Pesta Darah Mulia yang tercantum dalam appendix, dihapuskan, kecuali apabila ada permintaan dengan alasan yang masuk akal oleh ordo/kongregasi atau keuskupan yang memiliki keterkaitan istimewa dengan pesta-pesta tersebut.

Kebijakan gerejawi berubah pada masa kepemimpinan Paus Yohanes XXIII.Beliau adalah seorang yang berdevosi pada Darah Mulia. Beliau mempromosikan devosi terhadap Darah Mulia melalui ensiklik “Inde a Primis.

Tahun 1960-an ada perubahan penanggalan liturgi Gereja universal. Diputuskan bahwa pesta-pesta devosional harus dipindahkan atau paling tidak diturunkan tingkatannya. Pesta Darah Mulia yang dirayakan pada 1 Juli turut dihapuskan, walaupun tidak lama setelah keputusan ini dikeluarkan, banyak petisi dari para uskup yang meminta agar Pesta Darah Mulia tetap dilestarikan. Namun demikian Konsili menolak petisi-petisi tersebut dan memutuskan untuk menambahkan kata “Darah,” sehingga Hari Raya Tubuh Kristus dirayakan sebagai “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.”

Walaupun kita tidak lagi mempraktikkan Pesta Darah Mulia dalam penanggalan liturgi Gereja Universal, namun secara tradisional Gereja Katolik mendedikasikan BULAN JULI demi penghormatan pada Darah Mulia Kristus.

Pada hari yang istimewa ini, perkenankanlah aku mendaraskan doa bagiMu, ya Penebus dan Juru Selamatku:

Terpujilah Darah Kristus yang Mahaindah, 
yang telah menebusku dari segala dosa dan mengampuni semua kesalahanku.
Terpujilah Darah Kristus yang Mahasuci, 
yang telah menarikku dari jurang maut dan mengaruniakan kehidupan kekal kepadaku.

Segala hormat, puji, dan sembah kami haturkan kepadaMu, ya Yesus Kristus,
yang telah taat dan rela mengurbankan diriMu untuk menyelamatkan umat manusia melalui puluhan ribu tetes DarahMu yang Mulia. Amin.

Sabtu, 29 Juni 2013

Pujian UntukMu

Hari-hari ini, ketika aku merenungkan penyelenggaraanMu dalam hidupku,
Mazmur 103:2-4 menjadi ungkapan hatiku yang paling tepat untukMu:

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,
yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur,
yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.

Terima kasih, Tuhan Yesus, Sang Penebus dan Juru Selamatku.

Minggu, 16 Juni 2013

Setelah Diampuni

Hari ini di rumahMu aku menyimak tentang pertobatan raja Daud, rasul Paulus, dan seorang perempuan.

Daud berdosa karena mengingini istri salah satu prajuritnya.Tuhan yang Maha Berbelas-kasih tidak mencabut nyawa Daud, raja Israel yang diurapi-Nya untuk menggantikan Saul. Daud menerima hukuman atas dosanya berupa kematian anak sulung yang dikandung Batsyeba (2 Samuel 12:18) dan pedang tidak akan menyingkir dari keturunan Daud (2 Samuel 12:10).

Namun, Daud tetap setia kepada Tuhan sepanjang umur hidupnya. Ia memerintah 40 tahun sebagai raja Israel. Meskipun kemudian sebagian besar keturunan Daud tidak taat kepada Tuhan ketika menduduki takhta kerajaan, namun Tuhan tetap setia memegang perjanjian-Nya kepada Daud. Kerajaan Israel dipecah-belah karena kemurkaan Tuhan, namun satu suku Israel, yakni suku Yehuda, tetap diperintah oleh keturunan raja Daud.

Setelah rasul Paulus bertobat, ketika ia bertemu dengan Yesus yang dianiayanya dalam perjalanan ke Damsyik, ia mewartakan Kristus yang tersalib tanpa memikirkan dirinya lagi. "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku" (Galatia 2:19b-20).

Perempuan itu dikenal sebagai pendosa besar di masyarakatnya. Ia menghampiriMu, dengan berurai air mata meminyaki kakiMu dan mengusapi dengan rambutnya. "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih," kataMu (Lukas 7:47).

Raja Daud dan rasul Paulus masing-masing memiliki komitmen pribadi kepadaMu, setelah dosa mereka diampuni. Entah komitmen apa yang diberikan oleh perempuan itu kepadaMu, setelah dosanya yang banyak Kauampuni. Injil Lukas membiarkan para pembacanya mengisi sendiri komitmen pribadi masing-masing kepada Yesus yang telah mengampuni segala dosa.

Aku juga pendosa besar. PengampunanMu telah memberi hidup baru kepadaku. Aku pun memberikan komitmen pribadiku kepadaMu.

Minggu, 09 Juni 2013

Pekerjaan yang Dikehendaki Allah

Banyak pekerjaan ditawarkan di dunia dan banyak orang beriman berupaya melakukan apa yang menjadi kehendak Allah.

"Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" tanya orang banyak kepadaMu. (Yohanes 6:28)

"Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah," jawabMu. (Yohanes 6:29)

Percaya sepenuhnya kepadaMu sebagai Allah yang menjadi manusia, itulah yang dikehendaki Bapa. Dengan menaruh kepercayaan kepadaMu, tidak ada hal yang mustahil.

Jumat, 07 Juni 2013

HatiMu

HatiMu adalah wujud nyata Allah yang mencintai secara manusiawi:

HatiMu mudah tergerak oleh belas kasihan ketika menyaksikan orang banyak bagai domba tanpa gembala (Matius 9:36), ketika melihat orang-orang sakit (Matius 14:14), ketika melihat orang banyak terus mengikutiMu selama tiga hari dan tidak punya makanan (Markus 8:2).

HatiMu masygul karena kematian Lazarus (Yohanes 11:33 dan 38).

HatiMu juga lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29), serta murah hati (Lukas 3:36).

Ya Yesus, ajarilah aku mencintai seperti Engkau mencintai.

Minggu, 02 Juni 2013

Relasi Abadi

Memberikan daging dari tubuh sendiri sebagai makanan untuk hidup dunia - siapa dapat menerima konsep absurd ini?

Saat berbicara tentang hal tersebut kepada murid-muridMu, Engkau berwujud manusia. Bagaimana bisa seorang manusia mengaku sebagai roti hidup dari Surga dan dapat dimakan, sehingga yang memakanNya akan hidup selama-lamanya? (lihat Yohanes 6:51)

PerkataanMu dianggap sesuatu yang keras, sulit dipahami oleh murid-muridMu, sehingga setelah itu banyak muridMu yang mengundurkan diri (lihat Yohanes 6:60 dan 66)

Dalam Perjanjian Lama, Allah menyertai peziarahan umatNya dalam rupa tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari. Allah hadir secara kasat mata, namun tetap saja ada jarak antara Allah dan manusia ciptaanNya.

Terjalin relasi putus-sambung antara Allah dan bangsa pilihanNya seperti dapat dibaca mulai dari kitab Hakim-Hakim - sejak umat Israel masuk ke tanah perjanjian Kanaan. Jika dipimpin hakim yang benar, umat Israel menyembah Tuhan. Begitu pula pada zaman raja-raja, yang dimulai dengan raja Saul. Hanya sedikit raja Yehuda yang setia kepada Allah, kebanyakan melenceng begitu kekuasaan ada di tangan.

Relasi yang berjarak antara Allah dan manusia - dalam hal ini bangsa pilihanNya - menyebabkan tidak langgengnya relasi tersebut. Maka, dalam Perjanjian Baru, melalui kedatangan Yesus Kristus yang adalah Putra Allah dalam wujud manusia, Allah berkenan mengubah bentuk relasiNya dengan manusia ciptaanNya.

Melalui Yesus Kristus relasi antara Allah dan manusia menjadi abadi. Pemberian Tubuh dan DarahNya sebagai makanan dan minuman membuat manusia dapat bersatu dengan Allah di dalam dirinya, sehingga tak ada lagi jarak antara Sang Pencipta dengan ciptaanNya.

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia." (Yohanes 6:53 dan 56)

Setelah pengurbananMu di kayu salib, wafat dan kebangkitanMu, lalu diikuti dengan kenaikanMu ke Surga dan pencurahan Roh Kudus; barulah para pengikutMu dapat memahami makna perkataanMu itu yang tidak lagi menggoncangkan iman, malah sebaliknya memperkokoh iman.

Engkau tinggal di dalam manusia dan manusia tinggal di dalamMu adalah persatuan Roh yang erat. Misteri Tubuh dan DarahMu hanya dapat dipahami sepenuhnya dalam cara pandang Roh, seperti perkataanMu, "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna," (Yohanes 6:63)

Jumat, 31 Mei 2013

Berbahagia

Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, IbuMu bersukacita ketika didatangi malaikat Gabriel dan diberitahu bakal mengandung Anak Allah. IbuMu bersemangat mengunjungi Elisabeth, sanak keluarganya, untuk membagikan kabar sukacita itu.

Meskipun aku tidak tahu apa yang bakal terjadi, hatiku bersukacita ketika Engkau datang menyelamatkanku dari jurang maut dan memberi anugerah hidup kekal kepadaku. Aku berbahagia karena termasuk orang yang dipilih BapaMu untuk menjadi anggota Kerajaan Surga. Aku bersyukur karena cahaya Roh Kudus yang mengajarkan segala sesuatu kepadaku.

Bersama IbuMu, aku memadahkan kidung ini: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus." (Lukas 1:46-49)

Bunda Allah yang Kudus, semasa hidupmu di dunia ini, engkau menanggapi segala peristiwa dengan tangan terbuka dan kepasrahan yang dalam pada penyelenggaraan Ilahi. Ajari aku menyikapi kehidupanku sama seperti engkau, sehingga hidupku menjadi kesaksian iman dan kasih kepada Allah Tritunggal - seperti telah engkau contohkan.


Rabu, 29 Mei 2013

Hanya dengan Berdoa

Berdoa sering kali dianggap pekerjaan yang tak memberi banyak hasil. Pekerjaan sia-sia dan hanya cocok dilakukan para manula (manusia lanjut usia). Orang-orang sibuk di zaman sekarang, jarang atau bahkan hampir tidak ada waktu untuk berdoa. Waktu mereka habis untuk bekerja, mengumpulkan harta untuk membiayai kebutuhan hidup jasmani; ketimbang berdoa.

Pengalaman Yesus dengan murid-muridNya berikut ini mengungkap dimensi lain dari doa:

Suatu kali, Yesus bersama Petrus, Yohanes, dan Yakobus pulang dari bepergian. Dari kejauhan tampak beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan murid-murid Yesus lainnya. Yesus mendekati kerumunan itu. Ternyata, murid-muridNya gagal menyembuhkan seorang anak yang kerasukan roh jahat. Dengan penuh kuasa, Yesus dapat mengusir roh jahat itu keluar dari tubuh si anak.

Setiba di rumah, murid-murid yang penasaran itu bertanya kepada Yesus, "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?" Jawaban Yesus sangat singkat, namun bermakna begitu luas dan mendalam, "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa." (Markus 9:29)

Murid-murid Yesus tentulah orang-orang yang secara fisik sangat dekat dengan Yesus saat itu. Mereka tentu percaya kepada Allah Bapa seperti Sang Guru mereka. Namun, semua itu belum menjamin mereka memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat.

Dari beberapa teks dalam Injil, kita dapat mengetahui kebiasaan Yesus berdoa kepada BapaNya seorang diri, sedangkan murid-muridNya tidak ikut berdoa bersamaNya. (lihat Matius 14:23, Markus 6:46, Lukas 6:12) Di sinilah letak kekuatan dan kuasa Yesus.

Roh jahat yang merasuki si anak adalah roh super jahat. Roh ini telah berada dalam tubuh si anak sejak ia masih kecil, sehingga membuat si anak bisu dan tuli. Saat roh itu menyerang, tubuh anak itu dibanting-banting ke tanah, mulutnya berbusa, giginya bekertakan, dan tubuhnya kejang. (lihat Markus 9:20-21, 25) 

Untuk dapat mengusir roh super jahat itu, menurut Yesus, tidak bisa dilakukan dengan cara lain, kecuali dengan berdoa. Ternyata, jangkauan doa jauh melampaui pemikiran dan kesanggupan kita. Kuasa doa luas, tak terikat ruang dan waktu. Dalam doa, kita memupuk relasi akrab dengan Allah Tritunggal. Inilah letak kekuatan kita.

Berdoa sebuah tindakan yang sangat sepele, namun berdaya luar biasa.  
  

Minggu, 26 Mei 2013

Memahami Allah Tritunggal

Selama kita mengkotak-kotakkan Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus secara indrawi berdasarkan pikiran manusia, maka Kebenaran satu Allah tiga Pribadi merupakan sesuatu yang absurd. Misteri Allah Tritunggal hanya dapat dipahami secara jelas melalui cara pandang Roh.

"Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)

Jumat, 24 Mei 2013

Hidup dalam RohMu

Ibu berusia lebih dari 70 tahun itu bertanya tentang bunga lotus yang tengah mekar di kebunku. Kami lalu terlibat perbincangan tentang berbagai tanaman. Kali kedua bertemu, saat ibu itu kembali dari pasar, perbincangan meningkat ke soal penyakit jantung yang dideritanya dan penyakit kanker stadium 4 yang diderita putrinya. Masih satu kali lagi kami berbincang di halaman rumah - seputar penyakit dan tanaman.

Bulan demi bulan berlalu, aku mendapat kabar ibu tersebut meninggal karena serangan jantung, tepat sehari sebelum Pekan Suci. Aku menghadiri misa requiem-nya pada Minggu Palem. Keesokan hari, ketakutan yang sangat besar menyergapku.

Suara-suara si jahat dalam hatiku menghasutku, melumpuhkan kekuatanku. Aku dicekam ketakutan, merasa kematian begitu dekat. Aku berseru kepadaMu, ya Yesus, memohon agar Engkau menghalau suara-suara yang menjengkelkan ini. Aku tak berdaya, lunglai didera rasa takut.

Lalu, Engkau dengan lembut memintaku untuk lebih berani hidup dalam roh, menyatu dengan RohMu, sehingga tak akan dikuasai lagi oleh ketakutan akan maut. Menaruh kepercayaan pada apa yang tampak oleh indra, tidak akan dapat menenteramkan jiwa.

Perlahan aku melepaskan keterikatan jiwaku pada hal-hal indrawi. Aku mengangkat jiwaku naik ke alam roh dan mendekati RohMu. Rasa takut memudar, berganti dengan kedamaian yang luas. Sebelum peristiwa ini, aku selalu ketakutan jika harus melewati malam hari seorang diri di rumah.

Hidup dalam RohMu membuatku begitu damai, sehingga tak ada bedanya antara sendirian atau ada orang lain di dekatku. Cerita-cerita menyeramkan tentang hantu, setan, arwah yang kudengar; pengalaman melayat orang-orang yang meninggal, tidak mengoyakkan ketenangan jiwaku.

Kini, aku sepenuhnya dapat merasakan kehadiranMu dengan mengarahkan perhatianku pada RohMu yang bersemayam dalam relung hatiku. Semakin dalam aku memasukinya, semakin nyata keberadaanMu di sana.Terima kasih, ya Yesus, yang telah membuatku memahami dan mengalami semua ini.

Beristirahatlah dengan damai, Ibu B. Iman mendalam yang Ibu tunjukkan semasa Ibu hidup di dunia akan mengangkat jiwa Ibu untuk menyatu sempurna dengan Roh Tuhan Yesus yang mulia. 

Kamis, 23 Mei 2013

Kemurnian Jiwa dan Kesatuan Roh

Kemurnian jiwa seseorang belumlah menjamin kesatuannya dengan Allah Tritunggal, sampai orang itu mendekatkan jiwanya yang sudah murni dengan Roh Ilahi, untuk kemudian menjadi satu dalam Roh.
 

Sabtu, 18 Mei 2013

Penyembah yang Benar

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:23)

Menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran memiliki makna sangat dalam. Menyembah dalam Roh berarti kita mendaraskan doa-doa dan memuji Tuhan bukan karena kewajiban atau semata menjalankan ritual keagamaan yang menjadi rutinitas.

Sebaliknya, doa dan pujian kepada Tuhan yang keluar dari hati dan mulut kita muncul dari kemurnian roh dan jiwa kita yang telah menyatu dengan Roh Tuhan. Dalam kaitan ini, perkataan Yesus berikut menjadi relevan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21)

Mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari tidak akan membuat kita menjadi lebih suci, jika kita melakukannya hanya sebatas ritual keagamaan. Mendaraskan aneka doa devosi dan berziarah ke berbagai tempat yang disucikan tidak akan menjamin tiket masuk ke Surga, jika kita melakukannya hanya sebatas kesenangan dan membebaninya dengan segudang permohonan pribadi untuk memuaskan ego.

Yesus meminta kita untuk melakukan kehendak Bapa, yaitu melihat Anak dan percaya kepadaNya. Orang yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman. (lihat Yohanes 6:40)

Kita yang hidup di zaman modern, ribuan tahun setelah kehadiran fisik Yesus di dunia, memang tidak dapat melihat Anak secara langsung dengan indra mata kita. Namun, kita dapat bertemu Yesus dengan membaca dan merenungkan isi Alkitab setiap hari, sehingga kita semakin mengenal dan menyatu dengan Allah Tritunggal. Yesus sendiri telah mengatakan, Firman Allah adalah Kebenaran. (lihat Yohanes 17:17) Maka, semakin kita akrab dengan Alkitab, berarti kita telah menyembah Allah dalam Kebenaran.

Cara lain untuk melihat Anak dan percaya kepadaNya adalah dengan memenuhi undangan Yesus untuk hadir dalam perayaan Ekaristi. Karena kasih dan kebaikan Allah yang tak terhingga, kita dapat bertemu dan bersatu secara fisik dengan Yesus pada saat kita menerima Tubuh dan DarahNya, seperti telah dikatakan Yesus, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia."(Yohanes 6:56)

Ya, Yesus, semasa hidupMu di dunia, Engkau telah menjanjikan Penolong dan Penghibur yang akan selalu menyertai kami. Ialah Roh Kebenaran yang akan memimpin kami kepada seluruh Kebenaran. Pada hari Pentakosta ini kami mohon, curahkanlah Roh Kudus yang Engkau janjikan itu, supaya kami dapat menjadi penyembah-penyembah benar yang berkenan di hati Bapa.
 

Minggu, 12 Mei 2013

Hak atas Pohon Kehidupan

Kota kudus – Yerusalem yang baru, turun dari Surga. Berkilauan bagai permata tanpa perlu sinar matahari, karena Allah sendirilah yang menerangi kota itu. “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba," kata malaikat kepada Yohanes. (Wahyu 21:9)

Mempelai Anak Domba itu adalah suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. (Wahyu 7:9)

Merekalah para penghuni Yerusalem yang baru. "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba,” malaikat menjelaskan kepada Yohanes. (Wahyu 7:14)

Di tengah-tengah jalan kota Yerusalem yang baru, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. (Wahyu 22:2)

Pohon kehidupan telah disebut dalam Kitab Kejadian. Ketika manusia pertama dan pasangannya tidak menaati perintah Allah dengan memakan buah dari pohon pengetahuan, Allah berkata, "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." (Kejadian 3:22)

Dari perkataan Allah di Kitab Kejadian itu, kita tahu bahwa pohon kehidupan merupakan simbol  kehidupan kekal. Orang-orang yang berhak atas pohon kehidupan yang ada di kota kudus Yerusalem yang baru adalah mereka yang telah disucikan dengan Darah Anak Domba Allah, menjadi para mempelai Anak Domba Allah. “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." (Wahyu 2:7)

Oh, Tuhan Yesus, semoga aku termasuk salah satu dari kumpulan besar orang banyak yang berdiri di hadapanMu, yang Kauberi makan dari pohon kehidupan. Aku telah mencuci jubahku dan Engkau telah menjadikannya putih dalam DarahMu yang suci. Jangan biarkan jubahku tercemar lagi oleh setitik noda apa pun. Aku ingin kelak dapat berkata bersamaMu, “Marilah!” (Wahyu 22:17a)

“Barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!" (Wahyu 22:11)

Kamis, 09 Mei 2013

Perjumpaan Bukan Perpisahan

Hari ini para pengikutMu dengan sukacita merayakan Engkau yang naik ke Surga. Peristiwa ini membawa kegembiraan bukan kesedihan, karena Engkau kembali bersatu dengan Bapa yang telah mengutus Engkau ke dunia. Engkau yang telah menang atas dosa dan maut, telah menjadikan segala sesuatu baru. Engkau menghapus segala air mata; tidak ada lagi maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Segala sesuatu yang lama telah berlalu. (lihat Wahyu 21:4-5).

Jika demikian kenyataannya, mengapa manusia bersedih kalau ada orang yang dicintai meninggalkan dunia ini? Dari sisi duniawi, peristiwa kematian fisik seseorang adalah perpisahan. Kita berpisah secara fisik dengan orang yang kita cintai. Kita tidak dapat memandang wajahnya dan menyentuh raganya lagi. Namun, jika kita melihat dari sisi spiritualitas, peristiwa kematian fisik seseorang adalah perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Orang yang memiliki relasi sangat dekat denganMu, ya Yesus; rohnya telah menyatu denganMu pada saat raga atau fisiknya masih berada di dunia. Seperti perkataanMu kepada para murid, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15: 4a & 5b)

Roh manusia yang menyatu dengan Engkau yang telah bangkit mengalahkan maut, tidak akan mengalami kematian. Fisik manusia bisa saja menjadi rapuh dan tak mampu lagi menyangga roh, tetapi roh orang beriman tetap hidup di dalam dan bersama Engkau.

Tak ada lagi alasan berduka, ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai. Kita percaya rohnya telah berjumpa dengan Allah. Begitu pula hari ini, ketika kita memperingati peristiwa kembalinya Yesus kepada BapaNya. Meskipun secara kasat mata Yesus tidak dapat lagi dilihat, namun Ia tetap hadir dalam setiap detik kehidupan kita.

Engkau bukanlah manusia yang fana, ya Yesus, maka Engkau memilih wujud Roh untuk senantiasa berada bersama kami. Hanya perlu keberanian kami untuk menapak masuk dalam dunia Roh Ilahi, agar dapat bersatu denganMu saat kami masih mengembara di dunia. Melalui persatuan Roh denganMu, maka kami  akan senantiasa merasakan kehadiranNya yang membawa sukacita dan damai.     

Selasa, 23 April 2013

Kematian dan Kehidupan

Selami dan pahami kematian sedalam-dalamnya bersama Kristus, maka engkau tidak akan takut lagi menghadapi kehidupan.


Kamis, 18 April 2013

S - A - K - I - T dan S - A - L - I - B

Menunggu seorang sahabat yang tengah menjalani operasi bersama beberapa orang kawan, memunculkan berbagai kisah pengalaman seputar kesehatan. Salah seorang kawan bertutur tentang putranya yang sakit "aneh." Ia telah membawa putranya berobat ke beberapa negara, tetapi para dokter tidak dapat menemukan penyakitnya. Kawan lain bercerita tentang anak temannya yang menderita penyakit saraf sangat langka: anak itu tidak boleh tertawa, karena akan pingsan. Ada lagi kisah tentang virus yang masuk ke otak dan ke jantung, serta cerita lainnya.

Merenungkan berbagai penyakit yang melanda manusia, membawa pada pemahaman: akhirnya semua bergantung kepadaMu, ya Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Jika Engkau menghendaki seseorang sehat, akan sehatlah orang itu sekalipun dikelilingi oleh orang-orang yang sakit dan lingkungan yang kurang sehat. Namun, jika Engkau menghendaki seseorang terkena penyakit tertentu, akan sakitlah orang itu meskipun sudah berobat ke manapun dan meminum obat terampuh sekalipun.

Maka, satu hal terpenting yang perlu kita lakukan ketika sakit adalah S-A-K-I-T =
                                               
                               Saya - Akan - Kembali - Ingat - Tuhan

Jadikanlah sakit sebagai sarana dan kesempatan istimewa untuk dekat dengan Sang Pemberi Kehidupan, maka sakit itu akan berubah menjadi keindahan S-A-L-I-B =
                                               
                               Saya - Alami - Limpahan - Iman dan - Berkat


Kamis, 11 April 2013

Jarak

Dalam sosiologi kedekatan relasi seseorang dengan orang lain dapat dilihat dari jarak antara kedua orang tersebut. Dua orang yang sangat dekat relasinya berada pada jarak intim (0-45cm), sedangkan dua orang yang cukup dekat relasinya ada dalam lingkup jarak pribadi (45cm-1,22m). Sementara itu, jarak sosial (1,22m-4,66m) merupakan jarak yang wajar dalam komunikasi antar-manusia, dan jarak publik (lebih jauh dari 3,66m) salah satu contohnya jarak selebriti yang sedang berada di atas pentas dengan para penggemarnya. Jarak ini merupakan jarak yang nyata terlihat dan terukur, di mana terjadi keterlibatan intensif panca indra seseorang terhadap orang lain. 

Senada dengan perbedaan jarak itu adalah jarak psikologis yang terentang antara seseorang dengan orang lain. Jarak psikologis di sini maksudnya seberapa jauh seseorang bisa masuk dalam ranah pribadi orang lain.

Seorang sahabat memintaku menulis buku perjalanan hidupnya. Namun, ia tetap menjaga jarak pribadi denganku. Ia sulit dikontak, ia tak pernah melibatkanku dalam kegiatan-kegiatan pribadinya. Kami hanya bertemu seperlunya di ruang publik.

Berbeda dengan Engkau, ya Yesus. Pada saat Engkau memanggilku untuk mendekat dan aku menanggapi panggilanMu, maka yang terjadi adalah leburnya jarak psikologis antara kita. Ketika aku kemudian memintaMu untuk memberiku kuasa Roh Kudus yang lebih besar, dengan lembut Engkau memberitahu, jika jiwa telah menyatu denganMu, maka RohMu adalah Roh Kudus yang akan menguasai dan menggerakkan roh dan jiwa. Betapa dahsyat pemahaman dan pengalaman yang terjadi di ranah spiritual ini.

Minggu, 07 April 2013

Real Time, Real Fact

Perkembangan teknologi saat ini begitu canggih. Kita dapat memotret sesuatu dilengkapi dengan koordinat spasialnya, dan dalam hitungan detik langsung diterima oleh si penerima. Menyalakan pesawat televisi atau perangkat komputer, kita bisa menyaksikan siaran langsung atau live streaming tentang suatu peristiwa penting yang sedang berlangsung. Pada waktu saat ini (real time), kita dapat memperoleh fakta yang sebenarnya (real fact).

Kecanggihan tersebut di satu sisi memudahkan dan menggembirakan, namun di sisi lain memprihatinkan. Kita baru percaya akan sesuatu, kalau sudah melihat faktanya. Maka, sepiring makanan, pemandangan alam tertentu, kejadian tertentu lebih bergaung kebenarannya, jika telah ditampilkan fotonya.

Kita menjadi orang-orang yang tidak mudah percaya pada kebenaran suatu hal, sebelum kita melihat gambarnya - entah lewat layar telepon seluler, televisi, komputer, atau langsung. Inilah sebabnya, mengapa orang-orang modern sekarang sulit mengimani Yesus Kristus.

Kita bagai Tomas yang tidak akan percaya akan kebangkitan Kristus, sebelum melihat bekas paku pada tanganNya, mencucukkan jari ke bekas paku itu, dan mencucukkan tangan ke dalam lambungNya. (lihat Yohanes 20:25)

Tomas beruntung, karena delapan hari kemudian, ia didatangi Kristus yang telah bangkit. Kristus meminta Tomas menaruh jarinya ke tangan Kristus dan mencucukkan tangannya ke lambung Kristus. Bagaimana dengan kita yang tidak pernah melihat Kristus secara kasat mata?  Tak ada seorang pun dari kita yang bisa memotret luka di tangan dan lambung Kristus, lalu mengirimkannya kepada orang-orang lain agar percaya.

Di sinilah iman berperan. Keyakinan bahwa karena kuasa Allah, Kristus telah bangkit dari alam maut. Kebangkitan Kristus benar adanya, meskipun kita tidak melihat secara langsung.

Jika kita termasuk orang-orang yang percaya penuh akan kebangkitan Kristus, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia, seperti dikatakan Kristus sendiri: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29)

Dan pada saat kita mengimani kebangkitan Kristus, maka saat itu pula (real time) kita memperoleh fakta sebenarnya (real fact) akan kebenaran tersebut. Tidak secara kasat mata, tetapi semua itu berlangsung dalam relung spiritual kita - dalam dunia rohaniah yang tidak kasat mata. 


Jumat, 05 April 2013

Lebih MengenalMu

Perjalanan di padang gurun selama masa Prapaskah kali ini membuatku lebih mengenalMu dan menyatu denganMu.

Ada orang yang menganggapMu sebagai salah seorang nabi seperti nabi Musa, nabi Elia, atau nabi-nabi lain yang bernubuat sampai 400 tahun sebelum kelahiranMu di dunia. Yang lain, memandangMu sebagai guru spiritual yang berhasil mengosongkan diri hingga mencapai kesempurnaan batiniah. 

Bagiku, Engkau lebih dari sekadar nabi atau guru spiritual. Engkau adalah Putra Allah yang menjelma menjadi manusia. Dalam diriMu bersemayam Roh Allah Bapa dan Roh Kudus. Maka, mengenalMu sama dengan mengenal Bapa yang mengutusMu dan juga mengenal Roh Kudus yang selalu bersama denganMu.

MengenalMu secara mendalam telah menghantarku pada kesatuan roh denganMu. Membawaku pada dunia tidak kasat mata yang hanya dapat dirasakan kedamaiannya di kedalaman jiwa. Ketika dunia kasat mata tempat ragaku hidup saat ini mulai bergejolak dengan segala persoalannya, aku hanya perlu berdiam dalam keheningan dan masuk ke kedalaman jiwa di mana Engkau bersemayam. Lalu, aku memandangMu, merasakan kehadiranMu, dan mendengarkan suaraMu.

Degup jantung yang keras tak lagi kurasakan, setelah dengan lembut Engkau memasuki ruang jiwaku. Tiada lagi keraguan dan ketakutan berhadapan denganMu. Yang ada hanyalah sukacita dan damai.    

Minggu, 31 Maret 2013

Langit yang Baru dan Bumi yang Baru

Melalui kebangkitanMu, Engkau menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru bagiku. Dosa-dosaku tidak Engkau ingat lagi. Setelah Engkau menebusku, tiada keinginan dalam hatiku untuk menyakitiMu dengan berbuat dosa. Seperti dikatakan Nabi Yesaya, "Sesungguhnya Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati." (Yesaya 65:17)      

Rasul Yohanes yang memperoleh penampakan, juga menulis tentang langit yang baru dan bumi yang baru dalam kitab Wahyu: "Aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi." (Wahyu 21:1)

Langit yang baru dan bumi yang baru adalah pemenuhan janjiMu bagi manusia yang percaya kepadaMu dan hidup menurut hukum dan ketetapanMu. Aku ingin tetap beriman teguh dan bertahan sampai akhir, supaya aku menang dan memperoleh semuanya. Engkau menjadi Allahku dan aku menjadi anakMu. (lihat Wahyu 21:7)

Percaya bahwa Engkau adalah Allah yang Mahakuasa saja tidaklah cukup. Bahkan iblis pun percaya kepadaMu. Yang membedakan adalah cara hidup. Setelah percaya dan berimanMu, maka hidup yang kujalani tidak akan sama lagi. Manusia lamaku telah disalibkan bersamaMu.

Manusia baru laksana langit yang baru. Hidup dalam kesucian dan kebenaranMu. Aku tahu, bukan berarti hidupku jadi begitu mudah tanpa rintangan dan salib. Sebagai manusia baru berilah aku kekuatanMu, agar setia memanggul salib seperti telah Kau contohkan dalam menjalani penderitaan hidup di dunia.

Dengan berjalan bersamaMu, Engkau akan menghapus segala air mata dari mataku. Tidak akan ada lagi maut dan perkabungan, ratap tangis atau dukacita. Segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.(lihat Wahyu 21:4) Karena, Engkau telah menang atas dukacita dan maut.

Jadikanlah aku seorang pemberani seperti Engkau, ya Yesus Kristus. Tak takut menghadapi cercaan, hinaan, deraan, sakit, penolakan, kesepian, penderitaan, dan maut. Jangan sampai ketakutan menguasaiku, menjadikanku seorang penakut, sehingga tak layak menikmati langit yang baru dan bumi yang baru. (Lihat Wahyu 21:8)

Rabu, 27 Maret 2013

Perayaan PaskahMu

Injil Matius 26:17-25 yang menjadi bacaan hari ini mengungkap sesuatu yang unik dari perkataanMu. Pada ayat ke-18 dituliskan: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktuKu hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-muridKu." 

Siapakah si Anu itu, ya Yesus? RasulMu Matius tidak mengungkapkan nama pemilik rumah yang sebenarnya. Maka, si Anu bisa berarti siapa saja yang kepadanya Engkau berkenan menyatakan diri. Betapa bahagianya orang yang akan Kaukunjungi untuk merayakan Paskah bersama. 

Sabtu, 23 Maret 2013

Tiga Hal yang Perlu

Menjelang masuk ke tanah Kanaan, nabi Musa berpesan kepada bangsa Israel, agar mereka memilih kehidupan dengan: (lihat Ulangan 30:20a)

1. Mengasihi Tuhan
2. Mendengarkan suaraNya
3. Berpaut padaNya 

Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir tahun 1446 Sebelum Masehi. Kemudian bangsa Israel 40 tahun mengembara di padang gurun sebelum dapat masuk ke tanah terjanji: Kanaan. 

Berarti pesan di atas diucapkan Musa sekitar tahun 1406 Sebelum Masehi. Dan ternyata, pesan itu masih tetap relevan sampai sekarang.

Mengasihi Tuhan sudah jelas maksudnya. Manusia hendaknya menempatkan Tuhan di atas segala hal lain.

Mendengarkan suaraNya dengan cara membaca Kitab Suci, karena di dalam Alkitab tertulis hal-hal yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan manusia.

Berpaut padaNya berarti menaruh kepercayaan, beriman kepada Tuhan, dan mengandalkan Tuhan bukan bersandar pada kekuatan manusia.

Tiga hal itulah yang perlu dipraktikkan dalam hidup manusia sehari-hari, agar dapat tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan.
 

Minggu, 17 Maret 2013

Pangeran Penyelamat Jiwa

Saat aku mendekatiMu dan menceritakan semua kekeliruanku sejak berada di peziarahan dunia ini,  Engkau menghiburku dengan mengatakan, "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yohanes 8:11)

Bagiku, Engkau adalah Pangeran Penyelamat Jiwa seperti dalam kisah dongeng-dongeng putri yang kubaca:

- Engkau adalah Pangeran yang membebaskanku dari penderitaan;
seperti Cinderella yang ditindas oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya atau Rapunzel yang dikurung di menara tinggi oleh peri jahat, kemudian ditolong oleh pangeran yang begitu mencintainya.

- Engkau adalah Pangeran yang kudambakan dalam kesendirianku;
seperti Putri Salju yang sendirian melayani tujuh kurcaci di tengah hutan atau Putri Tidur yang diasingkan ke hutan bersama tiga peri, lalu kerap dikunjungi oleh pangeran yang begitu mencintainya.

- Engkau adalah Pangeran yang kuimpikan;
seperti Ariel yang merindukan kehidupan manusia yang sempurna bersama pria pujaannya, aku pun merindukan kesatuan roh denganMu, sehingga dapat menjalani hidup laksana di Surga pada saat masih berada di bumi.

- Engkau adalah Pangeran Surgawi dalam rupa Anak Manusia yang hidup dengan selalu memikul salib sampai wafat di kayu salib;
seperti Belle yang setia melayani Beast pangeran berwajah buruk, aku pun ingin setia kepadaMu meski harus menempuh jalan yang sempit dan sulit.

Aku bersyukur karena KasihMu yang begitu besar, wahai Pangeran Penyelamat Jiwa!

Sabtu, 02 Maret 2013

Aku-lah Anak yang Hilang Itu

Engkau menganugerahkan kehidupan yang baik kepadaku,
namun aku lebih suka menikmati kenyamanan hidup yang sia-sia.

Engkau memberikan rahmat berlimpah kepadaku,
namun aku kurang bersyukur, menganggap semua itu sudah sewajarnya kuterima.

Engkau membisikkan arah langkahku,
namun aku cenderung mengambil berbagai keputusan tanpa melibatkanMu.

Engkau mendampingi sepanjang jalan hidupku,
namun aku kurang menyadari, merasa ditinggalkan sendirian dalam belantara kehidupan.

Aku-lah anak yang hilang itu, ya Bapa.

Kini dengan hati terkoyak aku kembali kepadaMu,
berharap akan pengampunanMu sepenuhnya.

Penyesalan dan pertobatan ini akan terus mengiringi langkah hidupku selanjutnya.
Tak ingin lagi aku menorehkan setitik luka pun di hatiMu.

Maukah Engkau menyongsongku seperti bapa yang menyambut putera bungsunya, setelah ia menghabiskan harta warisan? 

Rabu, 20 Februari 2013

Tujuan dan Pencapaian Akhir

Tujuan akhir (the ultimate goal) yang ingin dicapai Allah pada setiap manusia adalah manusia kembali menjadi gambar dan rupa Allah, seperti ketika Allah pertama kali menciptakan manusia (lihat Kejadian 1:26a). Untuk mencapai tujuan itulah, Yesus Kristus datang ke dunia. Melalui penderitaanNya, wafat dan kebangkitanNya, Ia membuka kembali relasi antara Allah dan manusia yang telah terputus karena dosa-dosa, sejak kejatuhan manusia pertama di Taman Eden.

Pencapaian akhir (the ultimate achievement) yang dapat dicapai manusia di dunia dalam relasinya dengan Allah adalah manusia diubahserupakan dengan Allah. Melalui pernikahan rohani seperti yang dihayati oleh St. Yohanes Salib dan St. Teresa Avila, manusia diubahserupakan dengan Allah.

Selama masih berada di dunia, roh dan jiwa manusia belum dapat menyatu sepenuhnya dengan Allah. Persatuan sejati baru akan terjadi saat roh dan jiwa manusia tidak lagi terperangkap dalam tubuh jasmaninya, di saat roh dan jiwa terbang menuju Allah.

Maka, tahap paling optimal yang dapat dicapai manusia di dunia ini dalam relasi dengan Allah adalah diubahserupakan dengan Allah - di mana tidak ada lagi ego. Yang tampak dalam keseharian hidup manusia yang telah diubahserupakan dengan Allah adalah sifat-sifat Ilahi - seperti yang diteladankan oleh Yesus Kristus selama hidupNya di dunia.

Allah Bapa dan Sang Putra bekerja sampai sekarang (lihat Yohanes 5:17) untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Apakah kita sebagai manusia ciptaanNya juga berusaha meraih pencapaian akhir itu?

Kamis, 14 Februari 2013

Dosa Terbesar


Ketika rasulMu, Petrus, mengalami mukjizat berupa tangkapan ikan yang berlimpah, setelah Engkau memintanya bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala di situ; ia memohon agar Engkau meninggalkannya. "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Lukas 5:8)

Di awal Retret Agung Prapaskah kali ini, aku pun merasa malu sekali akan dosa terbesar yang kubuat terhadapMu. Setelah Engkau memintaku bertolak ke tempat yang dalam - melewati padang gurun bersamaMu setahun silam, seharusnya aku menjadi seorang yang teguh iman. Aku telah mengalami curahan kasihMu, penyertaanMu, peneguhanMu lewat kata-kata dalam Kitab Suci dan suara dalam hati, bahkan mukjizat kecil dan besar yang terjadi dalam hidupku pada kurun setahun belakangan ini; namun seolah semua itu tak cukup untuk menumbuhkan iman sebesar biji sesawi dalam diriku.

Itulah dosa terbesarku. Seperti Petrus, dengan tertunduk di rumahMu kemarin, aku berujar, "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa..." Aku merasa tak layak, tak berdaya, dan takut karena Engkau begitu agung dan baik hati, sementara aku begitu hina dan tak tahu membalas kasihMu.

Tetapi, Engkau malah semakin mendekatiku dan menanyakan kesediaanku untuk tetap mau melanjutkan perjalanan bersamaMu. KataMu, "Lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:31-32)

Maka, aku meraih kembali tanganMu yang terulur. Padang gurun membentang di hadapan kita. Sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan.


Senin, 04 Februari 2013

Menghindari yang Enak

Kemarin, Engkau ditolak di kampung halamanMu, Nazaret. Engkau tidak mau memenuhi permintaan orang-orang sekampungMu untuk membuat mukjizat kesembuhan, mengusir setan dan roh jahat, menggandakan roti - seperti yang Engkau lakukan di tempat-tempat lain. Engkau memilih meninggalkan mereka dan kembali meneruskan perjalanan. (Lukas 2:22-40)

Hari ini, Engkau menyembuhkan orang yang sudah lama kerasukan setan di daerah orang Gerasa. Setelah orang itu sembuh, Engkau malah memintanya untuk tidak mengikutiMu, melainkan tetap tinggal di daerahnya untuk menceritakan apa yang telah diperbuat Tuhan atasnya dan bagaimana Tuhan telah mengasihinya. (Markus 5:1-20) 

Bayangkan seandainya Engkau memilih tetap tinggal di Nazaret. Engkau akan menjadi orang terkenal di kampung halamanMu, menikmati kemapanan dan kehormatan. HidupMu akan nyaman dan tenteram.

Lalu, seandainya orang yang telah sembuh dari kerasukan setan itu mengikutiMu. Ia tentu akan senang bersamaMu selalu, tak akan menderita sakit-penyakit lagi, serta bebas dari tudingan dan gunjingan orang-orang sekampungnya yang mempertanyakan kesembuhannya yang aneh, karena telah membinasakan sekitar dua ribu ekor babi di kampung itu.

Engkau sendiri telah memilih untuk menghindari yang enak, jalan yang membawa ketenaran dan kemapanan. Engkau pun meminta orang yang telah sembuh dari kerasukan setan itu untuk tidak memilih jalan nyaman dan menyenangkan.

JalanMu adalah jalan tak dikenal, jalan salib yang penuh misteri, namun berujung pada kebahagiaan dan kemenangan abadi bagi orang-orang yang setia bertahan di jalanMu.


Senin, 21 Januari 2013

Ketaatan dalam Penderitaan

Perayaan Natal yang penuh kegembiraan telah berlalu, kita sekarang memasuki masa "biasa" dalam Liturgi Gereja. Melalui bacaan harian Kitab Suci kita diajak untuk taat meski menderita. Santo Paulus menekankan agar kita meneladan Kristus yang selalu taat kepada BapaNya, meski harus melewati jalan salib yang penuh kesengsaraan.

Pernyataan iman Bunda Maria saat mengatakan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," mengandung makna yang sama: taat meski harus mengalami bertubi-tubi penderitaan sepanjang hidupnya bersama Sang Putra.

Selain dari Kristus - tokoh sentral untuk taat dalam penderitaan dan Bunda Maria; kita pun dapat belajar dari pengalaman Ayub dalam Perjanjan Lama, serta pencobaan dan penderitaan yang dialami para kudus sampai mereka meraih mahkota kehidupan abadi.

Jika kita berkata, "Jadilah kehendakMu," dalam doa Bapa Kami yang kita daraskan, maka kita pun sebenarnya telah menyatakan kesiapan kita untuk selalu taat pada kehendak Bapa, meski harus memanggul salib kehidupan sehari-hari.

Ketaatan dalam penderitaan adalah syarat mutlak dan utama mengikut Kristus. Dan buah dari ketaatan dalam penderitaan adalah kebahagiaan kekal.
    

Sabtu, 12 Januari 2013

Iman, Bukan Obat

Hasil laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya tidak mengindikasikan penyakit-penyakit, tetapi mengapa tekanan darah ini tak kunjung turun? Dengan ringan, dokter menambahkan jenis dan dosis obat-obat yang harus diminum. Dari pagi hingga malam aku disibukkan dengan kegiatan meminum bermacam obat.

Hei, mengapa jadi seperti ini?

Sebanyak apa pun obat yang kutelan, tak akan mengubah kondisi tubuhku selama Tuhan tidak berkenan memberikannya. Sebaliknya, tanpa harus minum banyak obat, jika Tuhan menjamahku sekejap saja, tentu segala kelemahan tubuhku akan lenyap.

Yang kubutuhkan adalah setangkup iman, bukan segunung obat.

Aku mempelajari setiap jenis obat yang diresepkan dokter kepadaku. Aku memohon terang Roh Kudus saat memilah-milah, obat mana yang tetap kuminum dan obat mana yang akan kuhentikan.

Ya, Tuhan, ke dalam tanganMu kupercayakan jiwaku.

Rabu, 02 Januari 2013

Seperti IbuMu

Aku ingin seperti IbuMu, yang mengatakan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," untuk segala peristiwa yang akan kualami sepanjang tahun yang baru ini.

Tidak sepatutnya aku memberontak, berbelok dari jalan yang Kau ingin aku menempuhnya, hanya lantaran jalan itu sempit, sulit, gelap, dan jarang sekali dilalui orang.

Dalam kepasrahan diri total kepadaMu, kini aku akan melangkah mengikuti irama langkah kakiMu.

Mungkin aku tidak paham setiap hal yang Engkau izinkan aku mengalaminya, tetapi aku ingin pula seperti IbuMu yang menyimpan segala perkara "aneh" yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya.