Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2026

Suam-Suam Kuku

Masuk kanal YouTube, tiba-tiba muncul tawaran menyaksikan video ceramah Uskup Agung Fulton J. Sheen - yang pada 24 September lalu dianugerahi gelar Beato oleh Gereja Katolik. 

Video berdurasi 41 menit itu bertutur tentang perilaku umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah - mengikuti perayaan Ekaristi atau berdevosi. Menurut Beato Fulton Sheen dalam pengajarannya, mengutip pengalaman Santo Pio dari Pietrelcina, umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah merupakan orang-orang yang paling banyak tinggal di api penyucian.

Beato Fulton Sheen lalu memaparkan pengalaman seorang imam muda yang datang berkonsultasi ke Padre Pio di biara San Giovanni Rotondo. Imam itu merasa paroki yang dipimpinnya dalam kondisi sekarat. Sebanyak 800 umat tetap rutin beribadah, tetapi tidak memiliki nyala 'api' yang hidup.

Jika Anda ingin mengetahui detail pemaparan Beato Fulton Sheen, dapat menyaksikan di link YouTube ini:

 https://www.youtube.com/watch?v=q1P9BmLxUQQ

Tayangan video itu membuat kita semakin menyadari, menjalin relasi erat dengan Tuhan bukan soal berapa banyak waktu kita habiskan dalam satu hari untuk berada di hadirat-Nya, tetapi lebih pada di mana hati kita berada pada saat kita mendekatkan diri kepada Tuhan?

Kamis, 01 Oktober 2026

Seperti Anak Kecil

Santa Theresia Lisieux atau yang dikenal sebagai Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, masuk biara kontemplatif Karmel Tak Berkasut (OCD) di usia 15 tahun. Hanya 9 tahun ia hidup membiara. Penyakit TBC merenggut nyawanya pada 30 September 1897.

Dalam upaya menghidupi panggilannya di biara, Santa Theresia membaca riwayat para kudus Karmelit seperti Santa Teresa Avila dan Santo Yohanes Salib. Tetapi ia merasa dirinya sangat kecil, sulit sekali mengikuti jalan kekudusan yang hebat dari para pendiri ordo Karmel Tak Berkasut itu.

Permenungannya membawa Santa Theresia Lisieux pada penemuan Jalan Kecil-nya yang mengagumkan. Ia memilih menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan Yesus. Ia membiarkan dirinya dibimbing Tuhan setiap hari - melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan cinta yang besar, sepenuh hati.

Hari ini, kita merayakan pesta Santa Thersia Lisieux. Ternyata, pedoman hidupnya yang sangat sederhana seperti anak kecil, justru membuatnya menjadi orang kudus yang besar. Jalan Kecil yang dihidupinya menjadi inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia. Santo Paus Yohanes Paulus II menggelarinya Pujangga Gereja tahun 1997.  

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:13-14)

Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, doakanlah kami agar dapat mengikuti Jalan Kecil-mu setiap hari.


Jumat, 18 September 2026

Mega-trust

Letak negara Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (ring of fire) - jalur berbentuk tapal kuda dengan banyak gunung berapi aktif sepanjang sekitar 40.000 km di sekeliling Samudra Pasifik.  

Dengan kondisi teritorial seperti itu, ancaman megathrust membayangi. Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik di bumi, serta bisa memicu gempa bumi sangat besar dan tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat Indonesia, agar siap siaga menghadapi ancaman megathrust.

Tak dapat dipungkiri, setelah Anak Krakatau erupsi, ancaman megathrust sepertinya tampak nyata. Muncul kekhawatiran sangat besar. Kita patut berjaga-jaga dan waspada, namun tak perlu sampai ketakutan membelenggu hidup kita.

Hadapilah ancaman megathrust dengan mega-trust. Perteguh iman dan harapan kita kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Tekunlah memohon dalam doa-doa kita, agar kerahiman-Nya menjauhkan segenap makhluk ciptaan-Nya dari bencana alam yang mematikan.

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?" (Lukas 12:25-26)

Senin, 14 September 2026

Angin Menerbangkan Debu

Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, erupsi. Debu vulkaniknya tertiup angin ke arah barat, memenuhi udara, melintasi sekitar 158 kilometer sampai ke kota Jakarta.

Muncul himbauan bagi warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup jendela-jendela, memakai masker guna menghindari paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik yang partikelnya sangat kecil saja bisa diterbangkan angin, melintasi perairan dan pulau, mendarat di halaman rumah kita. 

Pernahkah kita bayangkan, hembusan Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan ke atas dunia? Tentu kecepatannya lebih dahsyat dibandingkan kecepatan debu vulkanik memenuhi udara Ibu Kota. 

Jika debu vulkanik yang berupa partikel sangat kecil mampu melintasi jarak sekian puluh kilometer menjangkau suatu tempat, apalagi Roh Tuhan yang tak terlihat dengan kemampuan menerobos pikiran dan hati manusia.

Fenomena alam masih ada keterbatasannya. 
Kuasa Tuhan tiada batasnya. 

Selasa, 08 September 2026

Ketulusan

Sikap batin yang sangat langka,
di tengah dunia yang kian materialistis,
ditunjang makin maraknya media sosial.
 
Ketulusan ditandai hati yang jujur,
tidak berpura-pura,
berbuat tanpa pamrih.

Ketulusan kunci kelanggengan relasi,
yang didamba untuk dijumpai,
di hamparan aneka topeng

Ketulusan muncul dari hati yang mencinta,
pancaran kesahajaan tanpa kepalsuan,
pesona yang membangkitkan harapan.

Selasa, 11 Agustus 2026

Lima Belas Tahun Penuh Makna

Ketika mulai mengunggah tulisan pertama di blog ini 11 Agustus 2011, yang terbersit dalam hati hanyalah keinginan untuk mengutarakan dan membagikan percikan aneka pengalaman saat berjalan bersama Tuhan.

Tuhan yang penuh misteri dan kejutan; yang berusaha kudekati dan kenali dengan segala dinamika-Nya. Di padang gurun yang kering, di bukit yang hijau, di gunung berangin kencang, di lembah penuh bunga, di tepi laut bergelombang besar, di danau yang teduh - pada kehidupan seperti itulah aku terus berjalan bersama-Nya.

Sejumlah warganet menemukan blog ini, menyimak tulisan-tulisan di sini. Kepada Anda sekalian yang dengan setia pada saat-saat tertentu mengklik blog ini dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya, dari hati terdalam kuhaturkan beribu terima kasih.

Kita memang tidak saling mengenal dalam tatapan mata, tetapi hati kita menyatu dalam pesona kasih Allah Tritunggal dan Bunda Maria. Berusaha memetik hikmah dalam peziarahan di dunia ini. Semoga yang dibagikan di sini dapat memberi makna kepada kehidupan Anda sekalian. 

Peziarahan kita masih berlanjut, sampai setiap kita tiba di pintu gerbang Kerajaan-Nya yang abadi. Marilah terus berjalan bersama-Nya.

Aku tak tahu ke mana Ia melangkah. Terkadang Ia membawaku melalui rerumputan yang lembut, kali lain Ia mengajakku melewati jalan berbatu. Jalan apa pun yang ditempuh-Nya, aku selalu mengiringi-Nya, karena aku adalah alas kaki-Nya. 

Tuhan, Engkau penuh misteri dan selalu punya kejutan. Untuk semua ini aku bersyukur.

Jumat, 07 Agustus 2026

Bangga Punya Relasi

Melihat seorang selebriti, dengan penuh kebanggaan seorang kawan berujar, "Dia itu temannya temanku waktu di SMA." Kawan yang lain tak mau kalah, "Pejabat itu saudara sepupu kakak ipar ibuku."

Sering kali kita merasa bangga memiliki percikan relasi dengan orang-orang terkemuka; meskipun percikan itu hanya setitik dan relasi mungkin sebatas tahu nama, tetapi tidak mengenal orang yang dibanggakan itu.

Mengapa kita begitu ingin dipandang sebagai orang yang punya relasi dengan para tokoh terkenal? Manfaat apa yang diperoleh, jika kita punya relasi - meski sangat jauh bahkan mungkin hanya kenal nama - dengan orang-orang terkemuka?

Ada Tokoh sangat tersohor, dikenal hampir oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. Namanya: Yesus Kristus. Anda tentu kenal juga.

Apakah kita merasa sangat bangga karena telah mengenal-Nya? Apakah kita akan memberitahu orang-orang di sekitar kita bahwa kita punya relasi yang dekat dengan Tokoh terkenal ini?

Dialah Sahabat Sejati kita, seperti yang diungkapkan Joseph Scriven dalam lirik lagu What a Friend We Have in Jesus. Sebagian terjemahannya:

Sungguh indah Sahabat kita, Yesus
yang menanggung segala dosa dan duka kita
Sungguh suatu anugerah 
dapat membawa segala sesuatu kepada Allah dalam doa

Adakah Sahabat yang begitu setia,
yang mau turut merasakan segala duka kita?
Yesus mengetahui segala kelemahan kita,
bawalah itu kepada Tuhan dalam doa

Mulai sekarang, berbanggalah karena kita punya relasi yang dekat dengan Tuhan Yesus Kristus.

Kamis, 30 Juli 2026

Beda ke Pasar dengan ke Gunung

Tentu ada perbedaan antara kita akan pergi ke pasar atau kita akan mendaki ke gunung. 

Kalau mau ke pasar, kita tahu pasar mana yang dituju, jalan untuk sampai ke sana sudah tergambar dengan jelas. Sedangkan saat kita akan naik ke gunung, meskipun kita tahu gunung yang dituju, kita belum tahu secara pasti jalan untuk sampai ke puncaknya.

Perjalanan spiritual lebih seperti perjalanan mendaki ke gunung. Tujuannya sudah jelas: Kerajaan Allah. Jalan untuk mencapai "gunung" itu sudah tergambar, namun ketika kita menempuh jalan itu, terkadang kita menemukan "jalan" yang bercabang. Muncul keraguan, jalan mana yang harus kita pilih. 

Perjalanan berlanjut, muncul tantangan-tantangan lain. Para pendaki gunung memakai kompas untuk menentukan arah yang akan dijalani. Kita pun perlu "kompas" yakni Firman Tuhan untuk memastikan kita berada di jalan yang benar mencapai tujuan. 

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya..... Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. (Mazmur 119:97-98, 101)

Rabu, 03 Juni 2026

Ketulusan Hati

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketulusan adalah kejujuran yang sepenuhnya keluar dari lubuk hati yang suci. Wikipedia menyatakan yang senada: Ketulusan adalah suatu kualitas kesungguhan dan kebersihan hati yang tidak berpura-pura, jujur, dan lurus.  

Dari kedua penjabaran di atas, ketulusan berkaitan erat dengan hati. Orang yang tulus memiliki hati yang bersih, suci, tanpa kepura-puraan, dan jujur. 

Di tengah era yang sarat kepalsuan dalam tampilan wajah-wajah bertopeng saat ini, ketulusan hati mutlak dibutuhkan untuk dapat tetap hidup bersih dan suci di hadapan Tuhan dan sesama. 

Raja Daud meyakini ia hidup dengan ketulusan, maka dengan berani ia berkata, "Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu." (Mazmur 7:4-6) 

Raja Daud juga meminta, agar Tuhan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. (Mazmur 125:4-5)

Sudahkah kita hidup dengan ketulusan hati? Adakah kita menampilkan wajah asli kita, atau kita terbiasa memakai topeng-topeng untuk mengamankan diri kita dalam interaksi dengan orang-orang yang kita anggap dapat menyingkap wajah asli kita?

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Sabtu, 30 Mei 2026

Wajah yang Adem

Keprihatinan mendalam terhadap sepak-terjang kecerdasan buatan, mendorong Paus Leo XIV menyampaikan pesan bertajuk “Menjaga Suara dan Wajah Manusia,” pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tahun 2026.

Menurut Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik ke-267 ini, wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci karena merupakan anugerah Allah, yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Jangan sampai teknologi digital secara mendasar mengubah pilar-pilar penting peradaban manusia. Karena itu Paus Leo XIV berpendapat, tantangan utama kita bukan sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Perhatikanlah wajah orang-orang kudus. Satu ciri utama yang tampak adalah wajah mereka yang adem – memancarkan aura positif, tenang dan damai. Tentu mereka tidak berpura-pura atau memakai topeng. Mereka berwajah adem karena memancarkan kasih Kristus dari hati mereka.

Bandingkan wajah-wajah kreasi aplikasi Artificial Intelligence (AI) yang bertebaran di media sosial. Secara visual wajah-wajah ini memang kelihatan menarik, tetapi kalau diperhatikan tak ada kedalaman jiwa pada wajah-wajah kreasi mesin. Mereka bagaikan manusia tak berhati.

Manusia sebagai pelaku teknologi, perlu menjaga martabat dan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Cara pandang manusia dalam memanfaatkan teknologi, perlu diluruskan. Berkaca pada pengalaman para kudus, dua hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga wajah dan suara kita tetap otentik adalah menjalin relasi akrab dengan Tuhan, serta memiliki hati murni dan suci.

 

Relasi Akrab dengan Tuhan

Ketika menciptakan manusia, Allah memateraikan martabat luhur dengan menjadikan manusia menurut gambar-Nya (bdk. Kejadian 1:27). Inilah wajah asli manusia yang secitra dengan Sang Pencipta.

Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri menyatakan Ia menyinari dan menghadapkan wajah-Nya  kepada manusia untuk memberi kasih karunia dan damai sejahtera (bdk. Bilangan 6:25-26).

Keadaan kini berbeda. Di era modern ini AI terus menggerus keberadaan dan peran Tuhan dalam hidup manusia. Wajah-Nya tertutup chatbot – asisten virtual berbasis AI. Manusia jadi terbiasa mengejar jawaban instan atas berbagai pertanyaan dan permasalahan hidupnya.

Orang cenderung tidak sabar, ingin segera mendapat jawaban pasti. Padahal, berelasi dengan Allah butuh kesabaran dan kesetiaan, seperti ditunjukkan Abraham ketika berpuluh tahun menanti anak yang dijanjikan Tuhan.

Perlu pula disadari bahwa martabat, identitas, dan relasi manusia tidak dapat digantikan mesin. “Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama,” pesan Paus Leo XIV.  

Inilah tantangan iman di zaman sekarang. Manusia perlu terus menjalin relasi akrab dengan Tuhan,  agar tetap memiliki wajah aslinya; seperti ketika Allah menciptanya.

 

Hati Murni dan Suci

Manusia berbeda dengan robot. Manusia memiliki hati yang terpaut kepada Sang Penciptanya, karena Tuhan telah menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati manusia. Ketika Kain marah dan membenci adiknya, Tuhan menegurnya, “Mengapa hatimu panas dan wajahmu muram? Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kejadian 4:6-7a)

Raut wajah mencerminkan hati. Tatkala orang menolak berelasi akrab dengan Tuhan, terhanyut hal-hal duniawi yang berlebihan; hati nuraninya menjadi tumpul. Kepentingan diri dikedepankan, daripada kebaikan dan kepentingan orang lain.

Cermati gerak batin kita saat melihat aneka konten di media sosial. Kita mungkin seperti Kain yang panas hati, ketika melihat orang-orang memamerkan diri atau gaya hidup (flexing) di media sosial. Hindarilah kekeruhan hati, yang menghambat kita berelasi akrab dengan Tuhan.

Memiliki hati murni dan suci, membuat kita hidup dalam ketulusan dan kejujuran. Kita bertindak berdasarkan suara hati; bukan menurut kata orang di media sosial, bukan pula berdasarkan tanggapan dan keputusan yang disodorkan AI.

Kata Bapa Suci Paus Leo XIV, kalau kita menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin, berarti kita mengubur talenta yang kita terima dari Tuhan untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Sama saja dengan kita menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Hati murni dan suci mutlak kita perlukan, di dunia saat ini yang sarat kepura-puraan dan kebohongan. Hoaks telah menggunung, menyurutkan kepercayaan. Tak ada rambu-rambu kebenaran yang jelas di media sosial. Kita sendirilah yang perlu menegakkan batasan-batasannya berdasarkan hati nurani.

 

Pertahankan Wajah yang Adem

Kehidupan manusia sepertinya dimudahkan dengan keberadaan AI, namun sejatinya kemanusiaan kita tengah digerogoti perlahan tetapi pasti. Menyisakan manusia tanpa hati.

Di tengah ingar-bingar kecerdasan buatan, kita bisa belajar dari para kudus. Semasa hidup di dunia, orang-orang kudus menjadikan Yesus Kristus Sang Sumber Kekudusan dan Bunda Maria yang hatinya tak bernoda sebagai junjungan dan panutan mereka. Dari Kristus dan Bunda-Nya mereka menimba kekudusan, yang membuat wajah mereka adem.

Wajah yang adem memancarkan pesona yang berasal dari dalam diri (inner beauty), melampaui penampilan fisik yang bersifat sementara. Inilah yang patut kita pertahankan melawan gempuran AI.

Tukarlah waktu kita berkutat di media sosial dengan memeluk keheningan. Dalam hening, kita berhadapan dengan wajah Tuhan yang menyinari kita. Lakukanlah tanpa jemu setiap hari dengan hati murni dan suci, niscaya perlahan tetapi pasti, wajah kita menjadi adem.

Wajah yang adem, memancarkan ketulusan tanpa kepalsuan.

Wajah yang adem, tak mudah dipengaruhi kecerdasan buatan.

Wajah yang adem, membuat suara tenang membawa harapan.

Bersama Santo Paulus kita dapat berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa hati nurani kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” (2 Korintus 1:12)

[Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan di lingkup Gereja Katolik Indonesia] 

 

 

 

Selasa, 26 Mei 2026

Percaya dan Bertahan

Ketika dilanda masalah - apa pun persoalan hidup yang kita hadapi, termasuk penyakit; sering kali kita tak sabar menanti penyelesaiannya. Kita berusaha keras percaya dan berserah kepada Tuhan, namun kenyataan sehari-hari mencuatkan keraguan. 

Di tengah penantian tak berujung, kerap kita bertanya: kapankah Tuhan akan menolong dan mengabulkan doaku?

Pengharapan tidak mengecewakan, itulah yang diyakini Paus Fransiskus. Kalimat Santo Paulus dalam Roma 5:5 tersebut digunakan Bapa Suci sebagai tema Tahun Yubileum 2025.  

Tujuh tahun aku menanti penyelesaian suatu masalah. Bagai janda di Sarfat, harapan itu pupus digerus penderitaan (lihat 1 Raja-Raja 17:7-24). Beberapa kali, terlontar pertanyaanku kepada Paus Fransiskus, "Bapa Suci, engkau meyakini pengharapan tidak mengecewakan. Benarkah demikian?" 

Tetapi tanpa berpaling, aku terus bertahan dengan mencontoh Bunda Maria. Melakukan semua kewajiban dan kegiatan, meski dengan langkah tertatih-tatih. Sampai tiba hari ini, ketika Tuhan dengan cara-Nya yang ajaib, melalui Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat, melimpahkan berkat-Nya yang sangat besar.  

Lewat tulisan ini, aku mau bersaksi. Sungguh, tak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali percaya penuh kepada Tuhan dan bertahan sekuatnya, di tengah penderitaan dan pencobaan.

Teruslah menghidupkan pengharapan dalam melewati badai kehidupan. Percaya selalu akan kasih setia Tuhan dan penyelenggaraan-Nya yang tepat pada waktu-Nya. Bertahan dalam situasi tersulit, di tengah gempuran duniawi. Selalu ada solusi, bagi yang menaruh harapan kepada-Nya.

Minggu, 19 April 2026

Kembali dari Emaus

Dalam Lukas 10:1-12, dikisahkan Yesus mengutus 70 murid, di samping 12 rasul yang telah dipilih Yesus sebelumnya. Ke-70 murid ini diutus Yesus berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus.

Penginjil Lukas mencatat, kemudian ke-70 murid itu kembali dengan gembira mendapati Yesus dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takhluk kepada kami demi nama-Mu." (Lukas 10:17)

Dari kisah tersebut, berarti ada 35 kelompok murid Yesus yang masing-masing terdiri dari dua murid. Ketika Lukas menceritakan Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35), yang dimaksudkan Lukas tentu dua orang dari ke-70 murid Yesus.

Dua murid memilih meninggalkan kota Yerusalem. Mereka ingin mengasingkan diri ke Emaus lantaran patah harapan. Yesus yang dielu-elukan bakal jadi raja ketika memasuki kota Yerusalem, malah dihukum mati di kayu salib. Sirna sudah kebanggaan sebagai murid-murid Yesus yang berkuasa mengalahkan setan-setan.

Tuhan Yesus memilih mendekati kedua murid-Nya itu, bukan 68 murid-Nya yang lain. Ia menemani mereka dalam perjalanan, sambil bercakap-cakap tentang diri-Nya yang ditulis dalam Kitab Suci. 

Kedua murid masih belum menyadari Orang yang bersama dengan mereka sepanjang perjalanan, meskipun mereka mengakui hati mereka menjadi berkobar-kobar ketika Orang yang menemani mereka berbicara tentang Kitab Suci.

Mereka meminta Yesus tinggal bersama karena hari telah malam. Pada saat makan; Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu terbukalah mata hati mereka. Kedua murid mengenali Yesus. 

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus dapat menjadi refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Sering kali kita memilih pergi menjauh, karena tidak ada harapan lagi. Entah dalam kehidupan di keluarga, di kantor, di tempat pelayanan, atau kondisi kita lainnya.

Kita merasa sendirian menempuh perjalanan hidup, padahal Tuhan Yesus selalu mendampingi. Kita tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya, karena mata hati kita tertutup berbagai masalah dan kepahitan hidup yang kita alami.

Seperti kedua murid yang mengajak Yesus tinggal bersama mereka, hendaknya kita pun membuka diri dan hati, mengajak Yesus masuk dan tinggal dalam kehidupan kita. 

Melalui Ekaristi, kita akan memperoleh kekuatan dari Yesus untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. Bahkan kobaran semangat-Nya begitu besar, sehingga membuat kita berbalik dari kepedihan kita, mewartakan Kristus melalui kehidupan kita sehari-hari.

Kamis, 09 April 2026

Dicari: Fransiskus-Fransiskus Assisi Zaman Ini

Penetapan Paus Leo XIV tentang Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Assisi 10 Januari 2026 - 10 Januari 2027 mengandung makna tersendiri bagi kita umat Katolik.

Fransiskus (1182-1226), anak saudagar kain yang kaya di kota Assisi, Italia. Ia terbiasa hidup boros, berpesta dengan teman-temannya hingga larut malam. Lama-kelamaan ia bosan dan mulai menarik diri. Fransiskus menjelajah pedalaman di sekitar Assisi, menghabiskan waktu dengan menyepi.

Suatu hari ia masuk ke gereja tua San Damiano yang tak terurus di Assisi. Fransiskus berjam-jam memandang Yesus yang tersalib dan hatinya tersentuh. Dalam batin ia mendengar Kristus memintanya memperbaiki gereja itu. Fransiskus menjual kain-kain ayahnya untuk memperbaiki gereja San Damiano.

Awal pertobatannya tersebut disusul dengan perubahan hidup yang radikal, setelah ia mendengar bacaan Injil dalam Misa. Kristus mengutus murid-murid-Nya pergi mewartakan kabar gembira tanpa membawa tongkat, bekal, atau memakai kasut.

Fransiskus terkesima. Itulah cara hidup yang diimpikannya. Ia memeluk kemiskinan dengan sepenuh hati. Hidup dari derma, memberi perhatian besar pada seluruh makhluk ciptaan, serta mengedepankan persaudaraan dan perdamaian.

Di kemudian hari, Fransiskus menyadari maksud Tuhan memintanya memperbaiki Gereja yang hampir roboh juga mengandung makna spiritual. Pada zaman itu, institusi Gereja tengah mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Melalui Fransiskus, Tuhan menghendaki umat kembali menghayati Injil secara radikal seperti dihayati Fransiskus.

Berkaca pada pengalaman Santo Fransiskus Assisi, Gereja pun sekarang membutuhkan Fransiskus-Fransiskus zaman ini, yang berani menyuarakan kasih dan perdamaian, menampik hal-hal duniawi yang berlebihan, serta memerhatikan keharmonisan alam ciptaan. Mungkin Anda orangnya.

Rabu, 01 April 2026

Beda Dunia dengan Surga

Dalam buku Misteri Tujuh Sabda Yesus di Salib dan Bunda Maria dalam Injil, ada satu kisah menarik yang ditulis Uskup Agung Fulton J. Sheen. Berikut salinannya:

Seorang wanita kaya dan berstatus sosial tinggi, suatu ketika masuk surga. Lalu, Santo Petrus menunjukkan sebuah rumah yang sangat bagus kepadanya dan berkata, "Ini rumah sopir Anda." "Bagus sekali," kata wanita itu. "Kalau untuk dia saja sudah demikian bagus, rumah saya pasti lebih bagus lagi," lanjutnya.

Kemudian, Santo Petrus menunjukkan satu pondok kecil dan berkata, "Itu rumahmu." "Oh, tidak. Saya tidak bisa hidup dalam pondok kecil," sahut wanita kaya. "Maaf, Bu," kata Santo Petrus. "Hanya pondok seperti itu yang bisa saya buat dari material yang Ibu kirimkan kepada saya."  

Menurut Fulton J. Sheen, hal-hal yang kita lakukan di dunia ini sesungguhnya tidak begitu penting. Sebab yang paling penting adalah seberapa besar cinta kita dalam melakukan hal-hal itu. Seorang penyapu jalan yang menerima salib hidupnya dalam nama Tuhan, akan diangkat dari status kehidupannya; meskipun ia dianggap hina oleh sesamanya.

Status hidup kita di dunia ini sangat ditentukan oleh status ekonomi. Sedangkan di mata Tuhan, kita dinilai dengan ukuran yang lain: apakah kita melaksanakan kehendak-Nya atau tidak. 

Selasa, 24 Maret 2026

Daun di Antara Bebatuan

Betapa sulit menyapu sehelai daun yang terselip di antara batu-batu. Sapuan berulang sapu lidi, tak mampu membuat daun bergeser dari celah batu. Tak ada cara lain, tangan si penyapu harus mengambil daun tersebut dari antara bebatuan.
 
Adakah kita seperti sehelai daun itu? Dengan kekerasan hati, kita memilih tetap berkubang dalam kebiasaan-kebiasaan lama yang sangat merugikan. Sampai tangan Sang Juru Selamat mengangkat kita dari himpitan-himpitan di sekeliling kita.

Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama Tuhan: "Ya Tuhan, luputkanlah kiranya aku!".... Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu. (Mazmur 116:3-4, 7)
 
Angkatlah aku, ya Yesus.... bebaskan aku dari belenggu-belenggu yang merantaiku. Hantarkan aku ke tempat Engkau ingin aku berada.
 

Senin, 02 Maret 2026

Yang Terpenting dalam Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami merupakan doa paling ringkas dan indah, yang diajarkan Yesus sendiri semasa hidup-Nya di dunia ini kepada para murid-Nya. Kalimat-kalimat dalam doa Bapa Kami dapat dipilah ke dalam beberapa bagian, lalu diuraikan maknanya.

Kita tidak akan membahas uraian doa Bapa Kami di sini. Namun, jika Anda perhatikan, ada satu hal sangat menarik. 

Setelah Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, Ia menutup pengajaran-Nya dengan berkata, "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15)

Pernyataan Yesus itu memberi arti bahwa dari semua kalimat pujian dan permohonan yang ada dalam doa Bapa Kami, kalimat terpenting yang diulangi Yesus adalah tentang pengampunan: mengampuni kesalahan orang lain, supaya Bapa juga mengampuni kesalahanku.

Di masa Prapaskah ini, ujud pertobatan paling nyata adalah mengampuni orang yang bersalah kepadaku, yang telah membuat aku menderita. Tuhan Yesus, mampukan aku melakukannya.

Kamis, 12 Februari 2026

Satu Hal yang Salomo Lupa

Suatu kali, Raja Salomo, penerus takhta Raja Daud, mempersembahkan seribu korban bakaran di Gibeon. Pada malam harinya, Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi. Tuhan berkata, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Salomo meminta hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat Tuhan, sehingga dapat membedakan yang baik dan yang jahat. 

Tuhan sangat berkenan terhadap Salomo yang memohon kebijaksanaan, bukan umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhnya. "Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau." (lihat 1 Raja-Raja 3:4-12)

Raja Salomo memerintah Israel selama 40 tahun. Sayangnya, suatu awal yang baik tidak diikuti dengan akhir yang baik pula. Di kemudian hari, Salomo mencintai banyak perempuan asing. Padahal Tuhan telah berfirman kepada orang Israel, agar jangan bergaul dengan orang-orang dari suku lain yang akan mencondongkan hati mereka kepada allah-allah suku-suku itu. (lihat 1 Raja-Raja 11:1-11)

Salomo memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik. Ketika Salomo sudah tua, istri-istrinya menarik hatinya dari Tuhan. Salomo mengikuti dewa-dewi yang dipuja istri-istrinya, dan mendirikan bukit pengorbanan bagi dewa-dewi itu. 

Tuhan murka karena Salomo tidak berpegang pada perintah-Nya. "Oleh karena begitu kelakuanmu...., maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu darimu...." (1 Raja-Raja 11:11)

Salomo yang semula sangat berkenan di hadapan Tuhan, kini menjadi Salomo yang sangat dibenci Tuhan. Ke manakah hikmat kebijaksanaan yang pernah Tuhan berikan kepadanya? Di sinilah pangkal masalahnya. Salomo telah melupakannya. 

Kalau saja Salomo selalu mengingat perjumpaan istimewa dengan Tuhan ketika ia masih belia, tentu ia tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan. Kekuasaan dan kemewahan hidup telah membutakan mata hati Salomo.

Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? (Keluaran 15:11)

Rabu, 14 Januari 2026

Guncangan dalam Kestabilan

Semua berjalan baik dalam ketenangan,
kelihatannya aman-aman saja.
Mendadak muncul guncangan,
memporak-porandakan kestabilan. 

Kecemasan melanda,
meragukan kasih setia Tuhan.
Adakah Ia merancang semua ini,
membiarkan anak-Nya menderita.

Bukan wewenang manusia,
mempertanyakan kuasa Tuhan.
Ciptaan tunduk pada Pencipta,
tanpa ragu apalagi menentang.

"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." (Wahyu 4:11)

Selasa, 06 Januari 2026

Gereja yang Megah

Hari ini, 6 Januari 2026, Bapa Suci Paus Leo XIV menutup pintu Basilika Santo Petrus sebagai tanda berakhirnya Tahun Yubileum biasa ke-27 yang telah dimulai pada 24 Desember 2024 oleh alm. Bapa Suci Paus Fransiskus.

Bagi umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) khususnya, ziarah Porta Sancta di Tahun Yubileum 2025 berlangsung meriah. Untuk memperoleh indulgensi penuh salah satu persyaratannya ialah mengunjungi setidaknya masing-masing satu gereja yang ada di seluruh sembilan dekenat di KAJ.

Lalu muncul semacam paspor dengan stempel gereja yang telah dikunjungi. Sudah berapa banyak Porta Sancta di KAJ yang Anda kunjungi? Atau bahkan mungkin Anda melengkapi paspor Anda dengan stempel gereja-gereja di luar KAJ?

Sejatinya, jumlah pintu suci yang telah dikunjungi dan paspor peziarah Porta Sancta yang dilengkapi stempel hanyalah sarana untuk membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Demikian pula tampilan bangunan-bangunan gereja yang indah dan megah, Ini pun sarana, agar kita mengalami kedekatan dengan Tuhan dan memuliakan-Nya.  

Tetapi, ketika melihat kemegahan bangunan gereja yang dikunjungi, ada di antara para peziarah Porta Sancta yang menjadi minder. "Mengapa gedung gereja itu sangat megah dengan berbagai ornamen ukiran, sedangkan bangunan gereja kami seperti gudang?"  

Tak perlu membanding-bandingkan bangunan gereja yang satu dengan gereja yang lain. Apakah kita akan lebih bisa berdoa khusuk kepada Tuhan di dalam gedung gereja yang megah daripada di gedung gereja yang sederhana?

Ingatlah, ketika datang ke dunia, Tuhan Yesus pun memilih tempat yang paling sederhana. Tuhan tak pernah mementingkan penampilan fisik. Tatkala ditugaskan Tuhan untuk mengurapi raja Israel, nabi Samuel berpikir Tuhan akan memilih anak Isai yang gagah. 

Namun Tuhan berkata, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7)

Cintailah Rumah Tuhan di tempat Anda bermukim. Di sanalah Tuhan bersemayam dengan keagungan-Nya, tanpa mempersoalkan gedung baru yang megah atau gedung lama yang tanpa ornamen.  

Kamis, 01 Januari 2026

Nyanyian Baru

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. (Mazmur 98:1)

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.... TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik terhadap musuh-musuh-Nya. Ia membuktikan kepahlawanan-Nya. (Yesaya 42:10 & 13)

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya, karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (Wahyu 5:9)

"Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan," mungkin dimaksudkan pemazmur, nabi Yesaya, dan Santo Yohanes Rasul yang menulis kitab Wahyu - sebagai benar-benar tindakan menyanyi, tetapi bisa saja mengandung makna lebih dari sekadar menyanyi lagu yang baru.

"Nyanyian baru" merupakan ungkapan sesuatu yang berbeda dari biasanya, sesuatu yang indah, memesona, dahsyat, amat menarik, dan luar biasa sebagai tanggapan atas perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib dan sangat mengagumkan, sehingga perlu "dinyanyikan."

Memasuki Tahun 2026, sudahkah kita menyiapkan "nyanyian baru" bagi Tuhan? "Nyanyian" yang berbeda dari sebelumnya. "Nyanyian" pujian dan syukur atas segala berkat dan penyertaan-Nya di tahun yang lalu. "Nyanyian" tekad untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkenan di hadirat Tuhan.

Marilah kita "menyanyikan nyanyian baru" bagi Tuhan

dalam hidup kita

Selamat Memaknai Tahun 2026!