Keprihatinan mendalam terhadap sepak-terjang kecerdasan buatan, mendorong Paus Leo XIV menyampaikan pesan bertajuk “Menjaga Suara dan Wajah Manusia,” pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tahun 2026.
Menurut Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik ke-267 ini, wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.
Wajah dan suara memiliki nilai yang suci karena merupakan anugerah Allah, yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Jangan sampai teknologi digital secara mendasar mengubah pilar-pilar penting peradaban manusia. Karena itu Paus Leo XIV berpendapat, tantangan utama kita bukan sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.
Perhatikanlah wajah orang-orang kudus. Satu ciri utama yang tampak adalah wajah mereka yang adem – memancarkan aura positif, tenang dan damai. Tentu mereka tidak berpura-pura atau memakai topeng. Mereka berwajah adem karena memancarkan kasih Kristus dari hati mereka.
Bandingkan wajah-wajah kreasi aplikasi Artificial Intelligence (AI) yang bertebaran di media sosial. Secara visual wajah-wajah ini memang kelihatan menarik, tetapi kalau diperhatikan tak ada kedalaman jiwa pada wajah-wajah kreasi mesin. Mereka bagaikan manusia tak berhati.
Manusia sebagai pelaku teknologi, perlu menjaga martabat dan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Cara pandang manusia dalam memanfaatkan teknologi, perlu diluruskan. Berkaca pada pengalaman para kudus, dua hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga wajah dan suara kita tetap otentik adalah menjalin relasi akrab dengan Tuhan, serta memiliki hati murni dan suci.
Relasi Akrab dengan Tuhan
Ketika menciptakan manusia, Allah memateraikan martabat luhur dengan menjadikan manusia menurut gambar-Nya (bdk. Kejadian 1:27). Inilah wajah asli manusia yang secitra dengan Sang Pencipta.
Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri menyatakan Ia menyinari dan menghadapkan wajah-Nya kepada manusia untuk memberi kasih karunia dan damai sejahtera (bdk. Bilangan 6:25-26).
Keadaan kini berbeda. Di era modern ini AI terus menggerus keberadaan dan peran Tuhan dalam hidup manusia. Wajah-Nya tertutup chatbot – asisten virtual berbasis AI. Manusia jadi terbiasa mengejar jawaban instan atas berbagai pertanyaan dan permasalahan hidupnya.
Orang cenderung tidak sabar, ingin segera mendapat jawaban pasti. Padahal, berelasi dengan Allah butuh kesabaran dan kesetiaan, seperti ditunjukkan Abraham ketika berpuluh tahun menanti anak yang dijanjikan Tuhan.
Perlu pula disadari bahwa martabat, identitas, dan relasi manusia tidak dapat digantikan mesin. “Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama,” pesan Paus Leo XIV.
Inilah tantangan iman di zaman sekarang. Manusia perlu terus menjalin relasi akrab dengan Tuhan, agar tetap memiliki wajah aslinya; seperti ketika Allah menciptanya.
Hati Murni dan Suci
Manusia berbeda dengan robot. Manusia memiliki hati yang terpaut kepada Sang Penciptanya, karena Tuhan telah menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati manusia. Ketika Kain marah dan membenci adiknya, Tuhan menegurnya, “Mengapa hatimu panas dan wajahmu muram? Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kejadian 4:6-7a)
Raut wajah mencerminkan hati. Tatkala orang menolak berelasi akrab dengan Tuhan, terhanyut hal-hal duniawi yang berlebihan; hati nuraninya menjadi tumpul. Kepentingan diri dikedepankan, daripada kebaikan dan kepentingan orang lain.
Cermati gerak batin kita saat melihat aneka konten di media sosial. Kita mungkin seperti Kain yang panas hati, ketika melihat orang-orang memamerkan diri atau gaya hidup (flexing) di media sosial. Hindarilah kekeruhan hati, yang menghambat kita berelasi akrab dengan Tuhan.
Memiliki hati murni dan suci, membuat kita hidup dalam ketulusan dan kejujuran. Kita bertindak berdasarkan suara hati; bukan menurut kata orang di media sosial, bukan pula berdasarkan tanggapan dan keputusan yang disodorkan AI.
Kata Bapa Suci Paus Leo XIV, kalau kita menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin, berarti kita mengubur talenta yang kita terima dari Tuhan untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Sama saja dengan kita menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.
Hati murni dan suci mutlak kita perlukan, di dunia saat ini yang sarat kepura-puraan dan kebohongan. Hoaks telah menggunung, menyurutkan kepercayaan. Tak ada rambu-rambu kebenaran yang jelas di media sosial. Kita sendirilah yang perlu menegakkan batasan-batasannya berdasarkan hati nurani.
Pertahankan Wajah yang Adem
Kehidupan manusia sepertinya dimudahkan dengan keberadaan AI, namun sejatinya kemanusiaan kita tengah digerogoti perlahan tetapi pasti. Menyisakan manusia tanpa hati.
Di tengah ingar-bingar kecerdasan buatan, kita bisa belajar dari para kudus. Semasa hidup di dunia, orang-orang kudus menjadikan Yesus Kristus Sang Sumber Kekudusan dan Bunda Maria yang hatinya tak bernoda sebagai junjungan dan panutan mereka. Dari Kristus dan Bunda-Nya mereka menimba kekudusan, yang membuat wajah mereka adem.
Wajah yang adem memancarkan pesona yang berasal dari dalam diri (inner beauty), melampaui penampilan fisik yang bersifat sementara. Inilah yang patut kita pertahankan melawan gempuran AI.
Tukarlah waktu kita berkutat di media sosial dengan memeluk keheningan. Dalam hening, kita berhadapan dengan wajah Tuhan yang menyinari kita. Lakukanlah tanpa jemu setiap hari dengan hati murni dan suci, niscaya perlahan tetapi pasti, wajah kita menjadi adem.
Wajah yang adem, memancarkan ketulusan tanpa kepalsuan.
Wajah yang adem, tak mudah dipengaruhi kecerdasan buatan.
Wajah yang adem, membuat suara tenang membawa harapan.
Bersama Santo Paulus kita dapat berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa hati nurani kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” (2 Korintus 1:12)
[Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan di lingkup Gereja Katolik Indonesia]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar