Senin, 15 Juni 2026

Sepuluh Tahun Silam

Terima kasih sapaan kasihmu, Ibu Surgawi
yang membuatku sadar dan berbalik ke jalan Tuhan
Berjumpa denganmu laksana menemukan mutiara 
yang selama ini tak terlihat 
Untuk itu aku sangat bersyukur dan bertekad
tak akan menjauh darimu selamanya
 

Sabtu, 13 Juni 2026

Tidak Tahu Dosa

Sejak Santa Perawan Maria masih kanak-kanak, orang tuanya menyerahkan putri mereka ke Bait Allah. Maria kecil tumbuh dalam lingkungan yang mengutamakan kesucian. Ia tidak tahu tentang bermacam dosa dan kejahatan di sekitarnya. Hatinya menjadi suci dan tidak ternoda oleh dosa.

Kita hidup di tengah dunia yang mengedepankan kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Keinginan menonjolkan diri, menumpuk harta, ambisi menjadi penguasa - dalam skala apa pun; membuat manusia bersaing. Muncul sikap iri hati, melakukan dan membenarkan segala cara untuk menjadi yang berkuasa, berharta, dan berjaya. Akibatnya, manusia kehilangan kesucian hatinya.  

Di hari peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, kita dapat belajar darinya. Kita berupaya memiliki hati yang suci dengan selalu mengarahkan hati kita kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Perawan Tersuci semasa hidupnya di dunia.

Jumat, 12 Juni 2026

Menyelami Hati Mahakudus Yesus

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Matius 11:29)

Dengan memiliki hati yang lembut dan rendah hati, seperti Kristus sendiri, kita dapat menyelami rahasia Hati-Nya yang Mahakudus. 


Rabu, 03 Juni 2026

Ketulusan Hati

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketulusan adalah kejujuran yang sepenuhnya keluar dari lubuk hati yang suci. Wikipedia menyatakan yang senada: Ketulusan adalah suatu kualitas kesungguhan dan kebersihan hati yang tidak berpura-pura, jujur, dan lurus.  

Dari kedua penjabaran di atas, ketulusan berkaitan erat dengan hati. Orang yang tulus memiliki hati yang bersih, suci, tanpa kepura-puraan, dan jujur. 

Di tengah era yang sarat kepalsuan dalam tampilan wajah-wajah bertopeng saat ini, ketulusan hati mutlak dibutuhkan untuk dapat tetap hidup bersih dan suci di hadapan Tuhan dan sesama. 

Raja Daud meyakini ia hidup dengan ketulusan, maka dengan berani ia berkata, "Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu." (Mazmur 7:4-6) 

Raja Daud juga meminta, agar Tuhan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. (Mazmur 125:4-5)

Sudahkah kita hidup dengan ketulusan hati? Adakah kita menampilkan wajah asli kita, atau kita terbiasa memakai topeng-topeng untuk mengamankan diri kita dalam interaksi dengan orang-orang yang kita anggap dapat menyingkap wajah asli kita?

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)