Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2026

Suam-Suam Kuku

Masuk kanal YouTube, tiba-tiba muncul tawaran menyaksikan video ceramah Uskup Agung Fulton J. Sheen - yang pada 24 September lalu dianugerahi gelar Beato oleh Gereja Katolik. 

Video berdurasi 41 menit itu bertutur tentang perilaku umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah - mengikuti perayaan Ekaristi atau berdevosi. Menurut Beato Fulton Sheen dalam pengajarannya, mengutip pengalaman Santo Pio dari Pietrelcina, umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah merupakan orang-orang yang paling banyak tinggal di api penyucian.

Beato Fulton Sheen lalu memaparkan pengalaman seorang imam muda yang datang berkonsultasi ke Padre Pio di biara San Giovanni Rotondo. Imam itu merasa paroki yang dipimpinnya dalam kondisi sekarat. Sebanyak 800 umat tetap rutin beribadah, tetapi tidak memiliki nyala 'api' yang hidup.

Jika Anda ingin mengetahui detail pemaparan Beato Fulton Sheen, dapat menyaksikan di link YouTube ini:

 https://www.youtube.com/watch?v=q1P9BmLxUQQ

Tayangan video itu membuat kita semakin menyadari, menjalin relasi erat dengan Tuhan bukan soal berapa banyak waktu kita habiskan dalam satu hari untuk berada di hadirat-Nya, tetapi lebih pada di mana hati kita berada pada saat kita mendekatkan diri kepada Tuhan?

Senin, 14 September 2026

Angin Menerbangkan Debu

Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, erupsi. Debu vulkaniknya tertiup angin ke arah barat, memenuhi udara, melintasi sekitar 158 kilometer sampai ke kota Jakarta.

Muncul himbauan bagi warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup jendela-jendela, memakai masker guna menghindari paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik yang partikelnya sangat kecil saja bisa diterbangkan angin, melintasi perairan dan pulau, mendarat di halaman rumah kita. 

Pernahkah kita bayangkan, hembusan Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan ke atas dunia? Tentu kecepatannya lebih dahsyat dibandingkan kecepatan debu vulkanik memenuhi udara Ibu Kota. 

Jika debu vulkanik yang berupa partikel sangat kecil mampu melintasi jarak sekian puluh kilometer menjangkau suatu tempat, apalagi Roh Tuhan yang tak terlihat dengan kemampuan menerobos pikiran dan hati manusia.

Fenomena alam masih ada keterbatasannya. 
Kuasa Tuhan tiada batasnya. 

Selasa, 08 September 2026

Ketulusan

Sikap batin yang sangat langka,
di tengah dunia yang kian materialistis,
ditunjang makin maraknya media sosial.
 
Ketulusan ditandai hati yang jujur,
tidak berpura-pura,
berbuat tanpa pamrih.

Ketulusan kunci kelanggengan relasi,
yang didamba untuk dijumpai,
di hamparan aneka topeng

Ketulusan muncul dari hati yang mencinta,
pancaran kesahajaan tanpa kepalsuan,
pesona yang membangkitkan harapan.

Selasa, 11 Agustus 2026

Lima Belas Tahun Penuh Makna

Ketika mulai mengunggah tulisan pertama di blog ini 11 Agustus 2011, yang terbersit dalam hati hanyalah keinginan untuk mengutarakan dan membagikan percikan aneka pengalaman saat berjalan bersama Tuhan.

Tuhan yang penuh misteri dan kejutan; yang berusaha kudekati dan kenali dengan segala dinamika-Nya. Di padang gurun yang kering, di bukit yang hijau, di gunung berangin kencang, di lembah penuh bunga, di tepi laut bergelombang besar, di danau yang teduh - pada kehidupan seperti itulah aku terus berjalan bersama-Nya.

Sejumlah warganet menemukan blog ini, menyimak tulisan-tulisan di sini. Kepada Anda sekalian yang dengan setia pada saat-saat tertentu mengklik blog ini dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya, dari hati terdalam kuhaturkan beribu terima kasih.

Kita memang tidak saling mengenal dalam tatapan mata, tetapi hati kita menyatu dalam pesona kasih Allah Tritunggal dan Bunda Maria. Berusaha memetik hikmah dalam peziarahan di dunia ini. Semoga yang dibagikan di sini dapat memberi makna kepada kehidupan Anda sekalian. 

Peziarahan kita masih berlanjut, sampai setiap kita tiba di pintu gerbang Kerajaan-Nya yang abadi. Marilah terus berjalan bersama-Nya.

Aku tak tahu ke mana Ia melangkah. Terkadang Ia membawaku melalui rerumputan yang lembut, kali lain Ia mengajakku melewati jalan berbatu. Jalan apa pun yang ditempuh-Nya, aku selalu mengiringi-Nya, karena aku adalah alas kaki-Nya. 

Tuhan, Engkau penuh misteri dan selalu punya kejutan. Untuk semua ini aku bersyukur.

Kamis, 16 Juli 2026

Penyembuhan Sejati

Belakangan ini marak ibadat dan sarasehan bertema penyembuhan. Tema penyembuhan bagai magnet berdaya besar yang menarik umat datang. Ada orang-orang yang selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan rohani untuk penyembuhan.

Ada pula yang sama sekali tidak tergerak mengikuti acara-acara penyembuhan; meskipun menghadirkan imam-imam dengan kuasa menyembuhkan, atau pembicara-pembicara terkenal yang ceramahnya sangat pas menghibur kecemasan dalam hati.

Sebagai manusia, kita semua menerima salib sakit-penyakit. Apalagi dengan usia makin bertambah, kita semua tak luput dari penyakit-penyakit degeneratif. Kita percayakan saja semuanya kepada Sang Pencipta dan Penyelenggara Kehidupan. 

Meski tubuh fana ini kian rapuh digerus berbagai penyakit seiring penuaan, marilah kita merangkul salib ini dengan hati penuh kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Cukuplah kita mendekat ke Ibu Surgawi Tersuci, yang menjadi Pengantara Segala Rahmat Allah, agar ia bermurah hati menyembuhkan kita seturut kasih karunia Tuhan.

Pada saat seluruh kedirian kita telah mencapai titik penerimaan diri dalam kepasrahan kepada Tuhan, maka akan terjadi penyembuhan yang sejati; yang melampaui segala sakit. Karena sudah tidak ada lagi pergumulan, hati kita diliputi rasa damai.

Rabu, 01 Juli 2026

Kebersamaan Kita

Bacaan dari kitab Hosea 2:14-20 sangat mengena di hatiku, ya Tuhan. Seperti itulah aku merasakan, kehadiran-Mu dalam kehidupanku. Engkau telah membujukku untuk mau berjalan bersama-Mu di padang gurun. Di sanalah Engkau menenangkan hatiku. Melalui berbagai tantangan dan pencobaan yang aku alami ketika "menggarap kebun anggur" yang Engkau berikan kepadaku, aku belajar mengenal-Mu dan tetap menujukan pandanganku kepada-Mu.

Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!... Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. (Hosea 2:16, 19-20)

Terima kasih, Allah Tritunggal dan Bunda Maria!


Senin, 15 Juni 2026

Sepuluh Tahun Silam

Terima kasih sapaan kasihmu, Ibu Surgawi
yang membuatku sadar dan berbalik ke jalan Tuhan
Berjumpa denganmu laksana menemukan mutiara 
yang selama ini tak terlihat 
Untuk itu aku sangat bersyukur dan bertekad
tak akan menjauh darimu selamanya
 

Rabu, 03 Juni 2026

Ketulusan Hati

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketulusan adalah kejujuran yang sepenuhnya keluar dari lubuk hati yang suci. Wikipedia menyatakan yang senada: Ketulusan adalah suatu kualitas kesungguhan dan kebersihan hati yang tidak berpura-pura, jujur, dan lurus.  

Dari kedua penjabaran di atas, ketulusan berkaitan erat dengan hati. Orang yang tulus memiliki hati yang bersih, suci, tanpa kepura-puraan, dan jujur. 

Di tengah era yang sarat kepalsuan dalam tampilan wajah-wajah bertopeng saat ini, ketulusan hati mutlak dibutuhkan untuk dapat tetap hidup bersih dan suci di hadapan Tuhan dan sesama. 

Raja Daud meyakini ia hidup dengan ketulusan, maka dengan berani ia berkata, "Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu." (Mazmur 7:4-6) 

Raja Daud juga meminta, agar Tuhan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. (Mazmur 125:4-5)

Sudahkah kita hidup dengan ketulusan hati? Adakah kita menampilkan wajah asli kita, atau kita terbiasa memakai topeng-topeng untuk mengamankan diri kita dalam interaksi dengan orang-orang yang kita anggap dapat menyingkap wajah asli kita?

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Selasa, 26 Mei 2026

Percaya dan Bertahan

Ketika dilanda masalah - apa pun persoalan hidup yang kita hadapi, termasuk penyakit; sering kali kita tak sabar menanti penyelesaiannya. Kita berusaha keras percaya dan berserah kepada Tuhan, namun kenyataan sehari-hari mencuatkan keraguan. 

Di tengah penantian tak berujung, kerap kita bertanya: kapankah Tuhan akan menolong dan mengabulkan doaku?

Pengharapan tidak mengecewakan, itulah yang diyakini Paus Fransiskus. Kalimat Santo Paulus dalam Roma 5:5 tersebut digunakan Bapa Suci sebagai tema Tahun Yubileum 2025.  

Tujuh tahun aku menanti penyelesaian suatu masalah. Bagai janda di Sarfat, harapan itu pupus digerus penderitaan (lihat 1 Raja-Raja 17:7-24). Beberapa kali, terlontar pertanyaanku kepada Paus Fransiskus, "Bapa Suci, engkau meyakini pengharapan tidak mengecewakan. Benarkah demikian?" 

Tetapi tanpa berpaling, aku terus bertahan dengan mencontoh Bunda Maria. Melakukan semua kewajiban dan kegiatan, meski dengan langkah tertatih-tatih. Sampai tiba hari ini, ketika Tuhan dengan cara-Nya yang ajaib, melalui Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat, melimpahkan berkat-Nya yang sangat besar.  

Lewat tulisan ini, aku mau bersaksi. Sungguh, tak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali percaya penuh kepada Tuhan dan bertahan sekuatnya, di tengah penderitaan dan pencobaan.

Teruslah menghidupkan pengharapan dalam melewati badai kehidupan. Percaya selalu akan kasih setia Tuhan dan penyelenggaraan-Nya yang tepat pada waktu-Nya. Bertahan dalam situasi tersulit, di tengah gempuran duniawi. Selalu ada solusi, bagi yang menaruh harapan kepada-Nya.

Rabu, 06 Mei 2026

Rahasia Maria

"Berbahagia, ya sungguh berbahagialah jiwa di dunia ini yang kepadanya Roh Kudus singkapkan Rahasia Maria untuk dikenal."

Santo Louis-Marie de Montfort, 'rasul' Bunda Maria, menulis kalimat itu dalam bukunya Rahasia Maria. Ketika kita mendaraskan Rosario di bulan yang dikhususkan Gereja untuk menghormati dan menjalin relasi lebih erat dengan Bunda Maria, mohonkanlah kepada Ibu Surgawi, agar berkenan menyingkapkan rahasianya kepada kita. Dan Anda akan tercengang mengalaminya.

Minggu, 19 April 2026

Kembali dari Emaus

Dalam Lukas 10:1-12, dikisahkan Yesus mengutus 70 murid, di samping 12 rasul yang telah dipilih Yesus sebelumnya. Ke-70 murid ini diutus Yesus berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus.

Penginjil Lukas mencatat, kemudian ke-70 murid itu kembali dengan gembira mendapati Yesus dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takhluk kepada kami demi nama-Mu." (Lukas 10:17)

Dari kisah tersebut, berarti ada 35 kelompok murid Yesus yang masing-masing terdiri dari dua murid. Ketika Lukas menceritakan Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35), yang dimaksudkan Lukas tentu dua orang dari ke-70 murid Yesus.

Dua murid memilih meninggalkan kota Yerusalem. Mereka ingin mengasingkan diri ke Emaus lantaran patah harapan. Yesus yang dielu-elukan bakal jadi raja ketika memasuki kota Yerusalem, malah dihukum mati di kayu salib. Sirna sudah kebanggaan sebagai murid-murid Yesus yang berkuasa mengalahkan setan-setan.

Tuhan Yesus memilih mendekati kedua murid-Nya itu, bukan 68 murid-Nya yang lain. Ia menemani mereka dalam perjalanan, sambil bercakap-cakap tentang diri-Nya yang ditulis dalam Kitab Suci. 

Kedua murid masih belum menyadari Orang yang bersama dengan mereka sepanjang perjalanan, meskipun mereka mengakui hati mereka menjadi berkobar-kobar ketika Orang yang menemani mereka berbicara tentang Kitab Suci.

Mereka meminta Yesus tinggal bersama karena hari telah malam. Pada saat makan; Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu terbukalah mata hati mereka. Kedua murid mengenali Yesus. 

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus dapat menjadi refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Sering kali kita memilih pergi menjauh, karena tidak ada harapan lagi. Entah dalam kehidupan di keluarga, di kantor, di tempat pelayanan, atau kondisi kita lainnya.

Kita merasa sendirian menempuh perjalanan hidup, padahal Tuhan Yesus selalu mendampingi. Kita tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya, karena mata hati kita tertutup berbagai masalah dan kepahitan hidup yang kita alami.

Seperti kedua murid yang mengajak Yesus tinggal bersama mereka, hendaknya kita pun membuka diri dan hati, mengajak Yesus masuk dan tinggal dalam kehidupan kita. 

Melalui Ekaristi, kita akan memperoleh kekuatan dari Yesus untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. Bahkan kobaran semangat-Nya begitu besar, sehingga membuat kita berbalik dari kepedihan kita, mewartakan Kristus melalui kehidupan kita sehari-hari.

Rabu, 18 Februari 2026

Kembali ke Padang Gurun

Padang gurun membentang,
tak ada pilihan lain,
aku harus kembali melintasinya.
 
Gersang dan tandus,
sunyi tanpa suara,
sepi tanpa hiruk-pikuk.
 
Padang gurun tak bertepi,
siap kujajaki tanah pasirmu,
dalam terik surya dan temaram bulan.
 

Sabtu, 31 Januari 2026

Asalkan Kamu Percaya

Semalam aku tak bisa tidur nyenyak. Baru terlelap tiga jam, harus segera bangun. Ada beberapa kegiatan menanti dilaksanakan. Oh Tuhan, apakah aku sanggup menjalaninya dengan kondisi tubuh yang letih?

Aku mendekati Bunda Surgawi dan memohon, "Bunda, tolonglah aku. Berikan aku kekuatan fisik agar dapat melakukan berbagai kegiatan hari ini dengan baik." Dalam batin terdengar bisikan halus, "Tenang saja, asalkan kamu percaya."

Lalu aku beralih ke Tuhan Yesus, memohon yang sama. Dan suara serupa menggema dalam batin, "Asalkan kamu percaya, hal itu akan terjadi." Ah, baiklah Tuhanku dan Bundaku. Aku harus lebih dulu percaya, baru kemudian aku akan memperoleh kekuatan fisik itu. 

Satu per satu kegiatan berlalu. Kututup hari dengan penuh syukur, "Terima kasih Tuhan Yesus dan Bunda Maria, aku diberi kekuatan fisik sehingga mampu menjalani semuanya dengan baik."

"Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22)

Selasa, 06 Januari 2026

Gereja yang Megah

Hari ini, 6 Januari 2026, Bapa Suci Paus Leo XIV menutup pintu Basilika Santo Petrus sebagai tanda berakhirnya Tahun Yubileum biasa ke-27 yang telah dimulai pada 24 Desember 2024 oleh alm. Bapa Suci Paus Fransiskus.

Bagi umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) khususnya, ziarah Porta Sancta di Tahun Yubileum 2025 berlangsung meriah. Untuk memperoleh indulgensi penuh salah satu persyaratannya ialah mengunjungi setidaknya masing-masing satu gereja yang ada di seluruh sembilan dekenat di KAJ.

Lalu muncul semacam paspor dengan stempel gereja yang telah dikunjungi. Sudah berapa banyak Porta Sancta di KAJ yang Anda kunjungi? Atau bahkan mungkin Anda melengkapi paspor Anda dengan stempel gereja-gereja di luar KAJ?

Sejatinya, jumlah pintu suci yang telah dikunjungi dan paspor peziarah Porta Sancta yang dilengkapi stempel hanyalah sarana untuk membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Demikian pula tampilan bangunan-bangunan gereja yang indah dan megah, Ini pun sarana, agar kita mengalami kedekatan dengan Tuhan dan memuliakan-Nya.  

Tetapi, ketika melihat kemegahan bangunan gereja yang dikunjungi, ada di antara para peziarah Porta Sancta yang menjadi minder. "Mengapa gedung gereja itu sangat megah dengan berbagai ornamen ukiran, sedangkan bangunan gereja kami seperti gudang?"  

Tak perlu membanding-bandingkan bangunan gereja yang satu dengan gereja yang lain. Apakah kita akan lebih bisa berdoa khusuk kepada Tuhan di dalam gedung gereja yang megah daripada di gedung gereja yang sederhana?

Ingatlah, ketika datang ke dunia, Tuhan Yesus pun memilih tempat yang paling sederhana. Tuhan tak pernah mementingkan penampilan fisik. Tatkala ditugaskan Tuhan untuk mengurapi raja Israel, nabi Samuel berpikir Tuhan akan memilih anak Isai yang gagah. 

Namun Tuhan berkata, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7)

Cintailah Rumah Tuhan di tempat Anda bermukim. Di sanalah Tuhan bersemayam dengan keagungan-Nya, tanpa mempersoalkan gedung baru yang megah atau gedung lama yang tanpa ornamen.  

Selasa, 09 Desember 2025

Tergantung Wadahnya

Pernahkah Anda perhatikan, tanaman yang sama akan tumbuh secara berbeda, jika ditempatkan pada wadah yang berlainan?

Pada pot berukuran kecil, tanaman akan tumbuh dengan daun-daun yang kecil dan batang yang kecil juga; sesuai ukuran wadahnya. Sementara itu, jika tanaman yang sama ditempatkan pada pot berukuran besar, ia akan bertumbuh lebih besar dibandingkan tanaman yang ada di pot kecil.

Berada di wadah spiritual manakah kita? Dengan wadah spiritual yang kecil, pertumbuhan rohani kita pun terbatas. Sedangkan jika kita menempatkan hal-hal rohaniah pada wadah spiritual yang besar, kerohanian kita dapat berkembang lebih pesat dengan akar-akar yang lebih tertanam kuat.

 

Sabtu, 29 November 2025

Menghadirkan Surga

Bulan November dikhususkan Gereja Katolik untuk mendoakan para arwah orang beriman. Ketika menghadiri Misa Arwah peringatan 1 tahun wafat ibu dari sahabatku, Imam yang mempersembahkan Misa menyampaikan homili yang makin membuatku yakin tentang keberadaan surga di dunia ini.

Menurut Imam tersebut, kita semua kelak masuk surga karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus kita dari segala dosa kita, ketika Ia wafat di kayu salib. Jika kita sekarang masih hidup di dunia, berarti kita masih diberi Tuhan tugas untuk menghadirkan surga di atas bumi.

Setiap kali kita mendaraskan doa Bapa Kami: ".... Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga...." Allah Bapa ingin kita sebagai anak-anak-Nya menghadirkan surga dalam keseharian kita, sehingga keadaan di bumi tempat kita berpijak saat ini menyerupai di surga.

Menghadirkan surga di atas bumi dapat kita lakukan dengan bermacam cara. Misalnya, tersenyum dan menyapa orang yang ada di dekat kita, mencintai keluarga, menunjukkan belas kasih kepada mereka yang membutuhkan, dan banyak surga lain yang bisa kita hadirkan di tengah dunia ini.

Semoga setiap kali kita mendoakan Bapa Kami, kita selalu ingat dan melaksanakan tugas kita sebagai anak-anak Allah: menghadirkan surga di atas bumi, sehingga kehendak Tuhan terlaksana.


Minggu, 09 November 2025

Semua akan Pulang

Aku mengenalnya di awal ia merintis karier. Kami bekerja di kantor yang sama. Seorang yang bersemangat tinggi, dengan pemikiran kritis dan lontaran kata-kata tegas. Sebagai pendatang dari perantauan, prestasi kerja dan peningkatan karier menjadi cita-cita dan impian yang ingin diraihnya.

Lalu, kami berpisah jalan lantaran fokus yang berbeda. Beberapa kali aku masih menemukan jejak keberadaannya di ruang-ruang publik. Kariernya memang terus menanjak, sesuai harapannya.

Dua puluh lima tahun berlalu. Terkejut aku menerima berita kematiannya. Lebih terkejut lagi ketika aku menghadiri misa requiem-nya. Imam yang mempersembahkan Perayaan Ekaristi menceritakan betapa temanku ini sangat berdedikasi bagi Gereja dengan memberikan pelayanan sepenuh hati.

Melintas dalam bayanganku, betapa kontras pilihan hidupnya seperempat abad lalu dengan yang dijalaninya beberapa tahun terakhir. Orang dapat berubah, asalkan terbuka pada rencana dan kehendak Tuhan.

Dari pengalaman hidup teman itu, dapat dipetik hikmah: meski manusia berjarak dengan Sang Pencipta, pada akhirnya dengan berbagai cara, Tuhan akan memanggil anak-anak-Nya kembali mendekat kepada-Nya. Semua akan pulang, menuju kehidupan kekal.

Sabtu, 08 November 2025

Mangga Berkulit Hijau

Aku ragu mengupasnya. Mangga harum manis berkulit hijau pasti masih asam. Aku lebih cenderung membuka mangga berkulit kekuningan. Tetapi suara hatiku terus mendesakku untuk lebih dulu mengupas mangga yang berkulit hijau. 

Aku ikuti suara hati. Tak disangka, mangga berkulit hijau itu buahnya lebih manis daripada mangga berkulit kekuningan yang aku kupas belakangan.  

Dalam keseharian kita, sering kali logika lebih memimpin kita dalam bertindak, ketimbang suara hati. Pengalaman ketika mengupas mangga, membawa refleksi tersendiri. Ternyata, yang dipikirkan manusia berbeda dengan yang diberikan Tuhan. Pilihannya ada pada kita. Satu hal patut diingat selalu: bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Mangga berkulit hijau pun bisa manis isinya.

Jumat, 24 Oktober 2025

Usai Peziarahan

Suatu perjalanan, pasti ada awal dan akhir. Setelah 14 hari dalam peziarahan, tibalah saat kembali ke tanah air. Orang bisa beranggapan, selesai berziarah berarti usai pula liburannya. Ada pula yang menanyakan: apakah jalan-jalan ini membawa kesenangan?

Syukur sebesar-besarnya kepada Allah Tritunggal dan Bunda Maria yang telah melimpahkan rahmat besar, sehingga kami dapat mengikuti peziarahan. Sesuatu yang belum terbayangkan, ketika memasuki tahun 2025.

Perjalanan ziarah rohani berbeda dengan liburan atau pesiar. Yang dikunjungi adalah tempat-tempat suci yang penuh makna historis dan religius, bukan destinasi-destinasi wisata yang hanya sedap dipandang mata tanpa kedalaman.

Perjalanan ziarah rohani perlu dihayati dengan saksama, sehingga dalam jangka waktu panjang membawa pembaruan kehidupan rohani bagi sang peziarah. Semoga demikian!

Rabu, 22 Oktober 2025

Mencari Makna Pertemuan Sekejap

Lautan manusia memadati lapangan Basilika Santo Petrus. Tepat di hari peringatan Santo Paus Yohanes Paulus II tanggal 22 Oktober, kami akan beraudiensi dengan Bapa Suci Paus Leo XIV. 

Kami berangkat dari hotel jam 6 pagi, mengantre bersama ribuan peziarah lain bak ular meliuk di luar tembok Vatikan. Gerbang masuk ke lapangan Basilika Santo Petrus baru dibuka jam 8 pagi, sementara Bapa Suci akan mengelilingi jalur-jalur di lapangan Basilika dengan mobil terbuka jam 10 pagi.

Harap-harap cemas seluruh peziarah menanti. Akankah Paus Leo XIV melewati jalan yang ada di depan kami? Ataukah beliau malah akan mengitari jalan lain di lapangan yang sama? 

Seorang bayi laki-laki yang menunggu berkat Bapa Suci dalam jarak sekitar satu meter dari tempat kami berdiri, menjadi 'penyelamat.' Karena bayi inilah kendaraan Paus Leo XIV berhenti dan memberikan berkat. Beliau kemudian melambai-lambaikan tangan dan memberkati umat. Mobil bergerak lagi.

Pertemuan sangat singkat, mungkin kurang dari satu menit; dalam jarak lurus sekitar dua setengah meter. Tanpa tatap mata pribadi, apalagi bersalaman. Rasanya tak sebanding dengan pengorbanan berjam-jam mengantre dan menanti. 

Sampai sekarang aku masih mencari makna pertemuan sekejap ini. Tetap bersyukur atas rahmat Tuhan yang luar biasa - dapat menatap langsung Bapa Suci dari jarak cukup dekat dan mendapatkan berkat secara umum dari beliau, serta menyaksikan ribuan peziarah dalam kesatuan iman.

Sepertinya dari atas sana, Santo Paus Yohanes Paulus II tersenyum memandang ke lapangan Basilika Santo Petrus, seraya berujar: "Anakku, aku senang engkau datang ke sini."