Tampilkan postingan dengan label Pemahaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemahaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2026

Gandum dan Lalang - Tanda Kepercayaan Tuhan

Perumpamaan gandum dan lalang dalam Matius 13:24-30, memberi kita pemahaman tentang kepercayaan Tuhan kepada anak-anak Kerajaan Allah.

Ketika melihat ada lalang di antara gandum, hamba-hamba pemilik ladang bertanya kepada pemilik ladang; apakah Tuan mau supaya lalang dicabut? Tetapi, tuannya mengatakan, kalau lalang dicabut, mungkin nanti ada gandum yang ikut tercabut. "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai." (Matius 13:30a)

Dalam penjelasan tentang perumpamaan lalang dan gandum, Yesus mengatakan:

- Ladang = dunia

- Orang yang menabur benih yang baik = Anak Manusia

- Benih yang baik = anak-anak Kerajaan Allah

- Musuh yang menabur lalang = iblis

- Benih lalang = anak-anak si jahat

- Waktu menuai = akhir zaman

Mencermati perumpamaan itu, tak perlu lagi kita mempertanyakan ada orang-orang jahat di dunia ini. Memang Tuhan membiarkan anak-anak Kerajaan Allah hidup berdampingan dengan anak-anak si jahat. Mengapa?

Seorang imam yang membawakan homili tentang perumpamaan ini, mengungkapkan hal menarik: Anak Manusia (Yesus) tidak setuju hamba-hamba-Nya mencabuti lalang, karena sebagai Penabur, Yesus yakin benih-benih yang ditabur-Nya adalah benih-benih yang baik. Benih-benih yang baik akan dapat bertahan terus sampai waktu menuai tiba. 

Bagaimana dengan kita? Sebagai anak-anak Kerajaan Allah, apakah kita sanggup bertahan di tengah berbagai tantangan zaman ini, di antara lalang-lalang yang mencoba menjerat kita dengan bermacam daya tarik dunia?

Sang Penabur benih yang baik menaruh kepercayaan-Nya yang besar kepada kita. Ia berharap, pada akhir zaman Ia akan melihat orang-orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa (lihat Matius 13:43).

Sabtu, 13 Juni 2026

Tidak Tahu Dosa

Sejak Santa Perawan Maria masih kanak-kanak, orang tuanya menyerahkan putri mereka ke Bait Allah. Maria kecil tumbuh dalam lingkungan yang mengutamakan kesucian. Ia tidak tahu tentang bermacam dosa dan kejahatan di sekitarnya. Hatinya menjadi suci dan tidak ternoda oleh dosa.

Kita hidup di tengah dunia yang mengedepankan kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Keinginan menonjolkan diri, menumpuk harta, ambisi menjadi penguasa - dalam skala apa pun; membuat manusia bersaing. Muncul sikap iri hati, melakukan dan membenarkan segala cara untuk menjadi yang berkuasa, berharta, dan berjaya. Akibatnya, manusia kehilangan kesucian hatinya.  

Di hari peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, kita dapat belajar darinya. Kita berupaya memiliki hati yang suci dengan selalu mengarahkan hati kita kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Perawan Tersuci semasa hidupnya di dunia.

Jumat, 12 Juni 2026

Menyelami Hati Mahakudus Yesus

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Matius 11:29)

Dengan memiliki hati yang lembut dan rendah hati, seperti Kristus sendiri, kita dapat menyelami rahasia Hati-Nya yang Mahakudus. 


Kamis, 14 Mei 2026

Meningkatkan Relasi ke Alam Roh

"Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:7)

Biasanya, ketika akan beralih dari kehidupan di dunia ke alam keabadian, orang menyampaikan pesan penting dan khusus. Demikian pula dengan Tuhan Yesus.

Sebelum naik ke surga, Yesus menjanjikan Penghibur yaitu Roh Kebenaran, yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Roh itu juga akan memberitakan hal-hal yang akan datang. (lihat Yohanes 16:13)

Yesus telah 33 tahun berada di dunia, menjalani hidup sebagai manusia yang tampak secara kasat mata dalam tubuh jasmani-Nya. Dengan kembali kepada Bapa, Yesus meningkatkan relasi-Nya dengan umat manusia ke alam roh.

Maka, manusia perlu mencapai tingkat yang rohaniah ini, agar dapat berelasi akrab dengan Tuhan. Seperti telah disabdakan Yesus, sebelum Ia menyatakan akan mengutus Penghibur, "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

"Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi...." Perkataan Yesus ini menegaskan kebenaran: yang jasmaniah akan berlalu, yang rohaniah akan kekal. Manusia Yesus telah kembali ke Rumah Bapa di surga, tetapi Roh Yesus senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman, seperti yang dijanjikan-Nya. (lihat Matius 28:20)

Minggu, 22 Februari 2026

Mencermati Godaan Si Jahat

Menarik menelaah pencobaan yang dialami Yesus di padang gurun. Kita dapat menyimaknya dari Injil Matius 4:1-11 dan Injil Lukas 4:1-13. Yang akan dibahas di sini diambil dari Injil Lukas.

Setelah 40 hari tidak makan apa-apa, Yesus lapar. Iblis mulai mendekati dan mencobai-Nya. Pertama, si jahat membujuk Yesus untuk mengatasi lapar dengan mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menangkal godaan itu dengan mengutip Sabda Allah: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja." (Lukas 4:4)

Kemudian Yesus dibawa iblis ke suatu tempat tinggi. Si jahat memperlihatkan Yesus semua kerajaan dunia. Perhatikan kata-kata iblis ini, "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki...."

Perkataan iblis terutama yang ditebalkan, menunjukkan dunia dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya berada di tangan si jahat. Karena itu, sebagai anak-anak terang, hendaknya kita tidak mudah terseret arus dunia.

Yesus tak mau menyembah iblis demi untuk mendapatkan seluruh dunia. Yesus kembali mengutip Sabda Allah: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Si jahat kalah lagi, lantaran Yesus memakai senjata Firman Allah.

Belum menyerah, iblis membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkannya di puncak atap Bait Allah. Kali ini si jahat mengikuti cara Yesus, ia mengutip Sabda Allah supaya Yesus mau menurutinya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau...."  

Yesus konsisten menanggapinya dengan mengutip Sabda Allah: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" Si jahat kalah telak. Ia mundur dari Yesus, namun tetap mengincar-Nya sambil menunggu waktu yang baik untuk kembali menggoda Yesus.

Belajar dari Yesus, dalam menangkis godaan si jahat, kita perlu memakai perisai Sabda Allah secara konsisten. Tetaplah teguh, jangan goyah; maka iblis akan menyingkir.


Kamis, 01 Januari 2026

Nyanyian Baru

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. (Mazmur 98:1)

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.... TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik terhadap musuh-musuh-Nya. Ia membuktikan kepahlawanan-Nya. (Yesaya 42:10 & 13)

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya, karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (Wahyu 5:9)

"Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan," mungkin dimaksudkan pemazmur, nabi Yesaya, dan Santo Yohanes Rasul yang menulis kitab Wahyu - sebagai benar-benar tindakan menyanyi, tetapi bisa saja mengandung makna lebih dari sekadar menyanyi lagu yang baru.

"Nyanyian baru" merupakan ungkapan sesuatu yang berbeda dari biasanya, sesuatu yang indah, memesona, dahsyat, amat menarik, dan luar biasa sebagai tanggapan atas perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib dan sangat mengagumkan, sehingga perlu "dinyanyikan."

Memasuki Tahun 2026, sudahkah kita menyiapkan "nyanyian baru" bagi Tuhan? "Nyanyian" yang berbeda dari sebelumnya. "Nyanyian" pujian dan syukur atas segala berkat dan penyertaan-Nya di tahun yang lalu. "Nyanyian" tekad untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkenan di hadirat Tuhan.

Marilah kita "menyanyikan nyanyian baru" bagi Tuhan

dalam hidup kita

Selamat Memaknai Tahun 2026!

Sabtu, 29 November 2025

Menghadirkan Surga

Bulan November dikhususkan Gereja Katolik untuk mendoakan para arwah orang beriman. Ketika menghadiri Misa Arwah peringatan 1 tahun wafat ibu dari sahabatku, Imam yang mempersembahkan Misa menyampaikan homili yang makin membuatku yakin tentang keberadaan surga di dunia ini.

Menurut Imam tersebut, kita semua kelak masuk surga karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus kita dari segala dosa kita, ketika Ia wafat di kayu salib. Jika kita sekarang masih hidup di dunia, berarti kita masih diberi Tuhan tugas untuk menghadirkan surga di atas bumi.

Setiap kali kita mendaraskan doa Bapa Kami: ".... Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga...." Allah Bapa ingin kita sebagai anak-anak-Nya menghadirkan surga dalam keseharian kita, sehingga keadaan di bumi tempat kita berpijak saat ini menyerupai di surga.

Menghadirkan surga di atas bumi dapat kita lakukan dengan bermacam cara. Misalnya, tersenyum dan menyapa orang yang ada di dekat kita, mencintai keluarga, menunjukkan belas kasih kepada mereka yang membutuhkan, dan banyak surga lain yang bisa kita hadirkan di tengah dunia ini.

Semoga setiap kali kita mendoakan Bapa Kami, kita selalu ingat dan melaksanakan tugas kita sebagai anak-anak Allah: menghadirkan surga di atas bumi, sehingga kehendak Tuhan terlaksana.


Minggu, 12 Oktober 2025

Fatima

Tempat ziarah rohani pertama yang kami kunjungi setiba di Eropa adalah Fatima, Portugal. Fatima menyimpan banyak pesan, misteri, dan mukjizat terkait Santa Perawan Maria. 

* Di tempat inilah pada penampakan terakhir (ke-6) tanggal 13 Oktober 1917, Bunda Maria memperlihatkan keagungannya kepada tiga anak gembala - Lusia, Fransisko, dan Yasinta - serta 70.000 orang yang memenuhi Cova da Iria.

Dalam jarak jauh di samping matahari, ketiga anak gembala melihat Santo Yusuf dengan Kanak-Kanak Yesus dan Santa Perawan Maria. Penampakan itu kemudian lenyap, berganti dengan penampakan Tuhan Yesus dan Santa Perawan Maria. Setelah penampakan kedua lenyap, tampak Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

* Pada enam kali penampakan di Fatima, Bunda Maria menyampaikan pesan yang utama yang sama, agar kita berdoa Rosario setiap hari. Di penampakan ke-3 tanggal 13 Juli 1917, Bunda Maria mengajarkan doa singkat yang sekarang kita daraskan di akhir setiap peristiwa dalam doa Rosario:

"Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan Kerahiman-Mu." 

* Satu hal yang menarik, ketika ketiga anak gembala ditahan oleh otoritas setempat pada 13 Agustus 1917, supaya tidak terjadi pertemuan dengan Bunda Maria; enam hari berselang, ketika anak-anak itu tidak berani mendekat ke Cova da Iria, hanya menggembala di tempat yang agak jauh, Bunda Maria tetap menemui mereka pada 19 Agustus 1917.

Di area yang bernama Valinhos, ada monumen dengan ikon Bunda Maria - menandai tempat penampakannya di sana. Penampakan Bunda Maria di Valinhos membuktikan kesetiaan Bunda Maria pada janji yang diucapkannya kepada tiga anak gembala, bahwa Ia akan menemui mereka setiap tanggal 13 dalam bulan. 

* Fatima menjadi sumber inspirasi bagi St. Maximilian Maria Kolbe ketika ia mendirikan komunitas Militia Immaculata atau Tentara Imakulata tahun1917. Father Stefano Gobbi juga memperoleh lokusi batin dari Bunda Maria, ketika ia berdoa di Fatima. Imam asal Italia ini lalu mendirikan Gerakan Imam Maria yang memelopori doa Senakel tahun 1973.

Sampai sekarang, Fatima menjadi tempat ziarah umat Katolik yang selalu ramai dikunjungi, untuk menunjukkan hormat dan bakti kita kepada Santa Perawan Maria.

Fatima, aku menanti mukjizatmu di zaman ini.


Minggu, 22 Juni 2025

Perendahan Diri Kristus

Ketika mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Imam yang mempersembahkan misa memaparkan pemahaman yang indah dan mendalam tentang Perendahan Diri Kristus.

Menurut beliau, di dalam 3 peristiwa Kristus yang adalah Putra Allah telah merendahkan diri-Nya:

* Peristiwa Inkarnasi: Putra Allah turun ke dunia menjadi Manusia

* Peristiwa Salib: Putra Allah memikul salib dan wafat di kayu salib seperti penjahat

* Peristiwa Ekaristi: Putra Allah merendahkan diri-Nya dengan memperkenankan Imam - sebagai manusia yang tak luput dari dosa, mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya (transubstansiasi). Dalam Ekaristi pula, Putra Allah yang Mahatinggi merendahkan diri-Nya, mau bersatu dengan umat manusia melalui Hosti Kudus

Kristus telah merendahkan diri-Nya demi menjangkau kita. 
Bagaimana tanggapan kita terhadap kasih-Nya?

 

Kamis, 22 Mei 2025

Anggapan yang Keliru

Sering terlontar ujaran mereka yang enggan mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja: "Untuk apa ke gereja? Seperti orang munafik. Pura-pura saleh, padahal kelakuan masih buruk!"

Sebenarnya, untuk apa ada gereja dan untuk siapa?

Paus Fransiskus memandang gereja sebagai "rumah sakit lapangan" atau "rumah sakit darurat." Gereja sepatutnya menjadi tempat di mana orang-orang yang terluka secara fisik maupun rohani, dapat menemukan dukungan, pemulihan, dan penyembuhan. 

Berdasarkan sudut pandang Paus Fransiskus tersebut, gereja diharapkan menjadi tempat bagi orang-orang yang datang ke sana untuk dapat berjumpa dengan Kristus yang menghibur, menyembuhkan, dan mengubah.

Gedung gereja tak bermakna apa-apa, tanpa umat beriman kristiani yang adalah Gereja. Orang-orang yang terluka akibat 'perang' ini perlu disambut dan ditangani dengan kasih, seperti yang diajarkan Kristus.  

Sebagai Gereja, umat beriman kristiani yang telah mengalami Kasih Kristus; diharapkan dapat menolong orang-orang terluka yang datang ke gereja, agar mereka dapat pula mengalami Kasih Kristus dalam hidup mereka.

Meski demikian, tak ada manusia yang sempurna. Sebagai umat beriman kristiani kita berupaya meneladan Kristus, meski masih ada kelemahan-kelemahan manusiawi yang melekat dalam diri kita. Maka, kita tetap perlu datang ke "rumah sakit darurat" secara rutin untuk mendapatkan sentuhan Kasih Kristus yang meneguhkan.

Karena itu, keliru jika ada anggapan yang mengatakan orang-orang yang ke gereja adalah orang-orang munafik yang sok suci. Justru mereka adalah orang-orang yang terluka, sakit, dan membutuhkan kerahiman Tuhan. Baik yang sedang mencari kesembuhan, maupun yang sudah lebih baik tetapi belum sembuh sepenuhnya, semua merasa perlu ke gereja untuk menjumpai Kristus - Sang Penyembuh Sejati.  

 

Kamis, 01 Mei 2025

Cara Kerja Bunda Maria

Dalam sebuah wawancara, Paus Fransiskus menyatakan, beliau ingin dimakamkan bukan di Basilika Santo Petrus melainkan di Basilika Santa Maria Maggiore. Menurut beliau, setiap kali akan melakukan dan kembali dari perjalanan apostolik, beliau selalu berdoa kepada Santa Perawan Maria di Basilika itu. Ketika lockdown di masa pandemi Covid-19 dan pada hari Minggu, beliau kerap berdoa di sana.

Dari buku Rosario Bersama Paus Fransiskus - Doa & Novena Mother Mary Untier of Knots yang disusun oleh H. Witdarmono tahun 2016, dapat ditelusuri awal kedekatan Paus Fransiskus dengan Bunda Maria.

Paus Fransiskus baru mulai mendaraskan 15 misteri doa Rosario (catatan: sebelum tahun 2000 hanya ada 3 Peristiwa doa Rosario), setelah mengamati Paus Yohanes Paulus II yang khusuk berdoa Rosario saat berkunjung ke Argentina tahun 1985.

Suatu sore, Pastor Jorge Mario Bergoglio, S.J. mengikuti doa Rosario yang dipimpin Paus Yohanes Paulus II bersama banyak orang. "Saya memandang Bapa Suci dari belakang.... Saya merasa, orang ini telah dipilih untuk memimpin Gereja dan sedang menapaki jalan ke atas, ke Ibunya di surga, jalan yang telah ditempuhnya sejak masa kecilnya. Saya segera menyadari betapa dalamnya makna kata-kata Bunda Maria dari Guadalupe kepada St. Juan Diego, 'Jangan takut! Bukankah aku ini ibumu!' Di situlah, saya baru sungguh memahami kehadiran Bunda Maria dalam kehidupan Paus. Apa yang saya saksikan itu tidak pernah terlupakan. Sejak saat itu, saya mendaraskan 15 misteri Rosario setiap hari."

Kesediaan Pastor Bergoglio, S.J. membuka hatinya bagi Santa Perawan Maria melalui doa Rosario, membuat Ibu Surgawi merangkul dan membentuk hatinya. Ada satu lagi kisah hidup Pastor Bergoglio yang menunjukkan kedekatannya dengan Bunda Maria.

Pada Mei 1986 - setahun setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Argentina, Pastor Bergoglio ditugaskan ke Munich, Jerman, untuk menyelesaikan disertasi doktoralnya. Di sela-sela kesibukan studinya, beliau berkunjung ke rumah para imam Jesuit di kota Augsburg, 80 km dari Munich. 

Suatu kali, beliau melihat lukisan Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah di gereja kecil St. Petrus. Lukisan itu dihormati masyarakat setempat sejak awal abad ke-18. Hati Pastor Bergoglio sangat tersentuh. "Saya harus memohon bantuan Bunda Maria, agar dilepaskan dari simpul-simpul kusut yang membingungkan ini," ujarnya.

Pastor Bergoglio lalu mengambil keputusan. Beliau tidak menyelesaikan penelitian untuk disertasinya yang telah dijalani 9 bulan. Pada Desember 1986 beliau pulang ke Argentina membawa banyak kartu pos lukisan dan doa kepada Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah. Pastor Bergoglio menyebarkan devosi baru kepada Bunda Maria di tanah airnya.

Tahun 1992, Pastor Bergoglio, S.J. diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II menjadi Uskup Tituler Auca dan Uskup Auksilier Buenos Aires. Enam tahun kemudian, tahun 1998, beliau menjadi Uskup Agung Buenos Aires. Selanjutnya, tahun 2001 Uskup Bergoglio diangkat sebagai Kardinal. Tahun 2013 dipilih sebagai Paus menggantikan Paus Benediktus XVI.

Relasi akrab yang telah terjalin antara Paus Fransiskus dan Bunda Maria selama 40 tahun, sejak beliau pertama kali disentuh oleh Bunda Surgawi dan tergerak mendoakan Rosario lengkap setiap hari, memampukan beliau menapaki jalan ke atas, ke Ibunya di surga.  

Dari pengalaman hidup Pastor Bergoglio, S.J. yang kemudian menjadi Paus Fransiskus, kita melihat cara kerja Bunda Maria. Setelah satu pribadi membuka hati, mempersilakan Bunda Maria masuk ke dalam hidupnya; maka selanjutnya Ibu Surgawi akan memurnikan dan membentuk hati orang tersebut, membuatnya semakin berkenan di hadirat Tuhan. 

Kita dapat belajar dari pengalaman hidup Bapa Suci Paus Fransiskus.


Jumat, 28 Februari 2025

Separuh Surga di Atas Bumi (1)

Orang-orang yang berusaha hidup kudus di dunia ini, 
mereka yang memilih jalan hidup bakti,
maupun kaum awam yang mengarahkan hati kepada Tuhan,
dalam kehidupan mereka di dunia ini,
menerapkan cara hidup surgawi,
di tengah berbagai tarikan duniawi. 
 
Separuh Surga telah diciptakan dan dipertahankan,
meskipun mereka masih berada di atas bumi. 
 

Sabtu, 04 Januari 2025

Memaknai Pintu Suci

Tahun Yubileum atau Tahun Suci merupakan tradisi dalam Gereja Katolik yang dirayakan setiap 25 tahun sekali. Pada Tahun Suci ini umat Katolik diajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, merenungkan perjalanan spiritual masing-masing, serta membarui iman melalui ziarah dan pertobatan.

Paus Fransiskus telah membuka Pintu Suci (Porta Sancta) di Basilika Santo Petrus pada malam Natal 24 Desember 2024 untuk menandai awal Tahun Yubileum. Penutupan Tahun Yubileum akan dilakukan pada 6 Januari 2026.

Selain Pintu Suci di Basilika Santo Petrus, ada 4 Pintu Suci di Roma yang dibuka selama Tahun Yubileum ini, yaitu Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran, Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, dan Basilika Santa Maria Maggiore. Satu Pintu Suci khusus yang bukan basilika, untuk pertama kali dibuka Paus Fransiskus, yaitu Pintu Suci di Rebibbia - rumah tahanan terbesar di Italia.

Dengan tema "Peziarah Pengharapan," kita diingatkan bahwa pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:5)

Pembukaan Pintu Suci dapat diartikan sebagai gambaran keterbukaan Tuhan menerima kembalinya anak-anak-Nya yang selama ini menjauh atau menghilang dari hadapan-Nya. 

Bagi anak-anak-Nya yang tidak berada jauh dari-Nya, Tahun Yubileum juga menjadi momen penting untuk menilik kembali kehidupan spiritual kita, apakah sungguh kita telah melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita?

Melalui pertobatan, rekonsiliasi, dan tindakan amal kasih yang kita lakukan sepanjang Tahun Yubileum, diharapkan kita dapat mengalami pembaruan rohani yang membawa kita semakin dekat dalam relasi dengan Tuhan dan memberi damai dalam kehidupan kita.

Rabu, 01 Januari 2025

Berani Menghadapi

Menghadapi sesuatu yang baru, kita sering kali dilanda kekhawatiran. Apakah segalanya akan berjalan baik?  

Ketika tahun berganti, kita pun dihadapkan pada tahun yang baru. Di sela-sela harapan, mengemuka pula kekhawatiran: apakah tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya? Bagaimana jika..........?

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah."

Kutipan di atas ditulis oleh Soe Hok Gie (17 Desember 1942-16 Desember 1969). Almarhum adalah seorang aktivis mahasiswa yang dikenal karena menentang ketidakadilan di era Orde Lama dan Orde Baru.

Berani menghadapi yang tanda tanya, yang belum jelas. Seperti Santa Perawan Maria yang berani menjawab permintaan Tuhan melalui malaikat Gabriel dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Santa Perawan Maria dengan berani dan penuh iman menghadapi segala yang belum jelas, sejak kesediaannya menjawab panggilan Tuhan dalam hidupnya. Bersama Santo Yusuf, ia harus pergi ke Betlehem dalam keadaan hamil besar. Membawa Bayi Yesus ke Mesir, karena terancam dibunuh oleh Herodes. Menyaksikan Putranya ditentang orang-orang Farisi, ketika mewartakan Kerajaan Allah. Menemani Putranya di jalan salib. Berdiri di bawah salib ketika Putranya meregang nyawa.
 
Selamat Memasuki Tahun 2025!
Penuh tanda tanya, tetapi hadapilah dengan berani


Kamis, 07 November 2024

Orang-Orang Berjubah Putih

Mengapa ada orang-orang yang mau mengenakan jubah putih, membaktikan seluruh hidup mereka untuk Tuhan; padahal kaki mereka masih berpijak di dunia, mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersinggungan dengan dunia, dan mereka pun menyantap makanan yang sama dengan orang-orang lain di dunia ini?

"Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?" .... "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. (Wahyu 7:13-14)

Kaum religius - para imam, biarawan, biarawati - adalah orang-orang berjubah putih, yang telah mencuci jubah mereka di dalam darah Anak Domba; pada saat mereka mengucapkan ikrar setia atau kaul hidup bakti untuk melayani Kristus.

Kaum religius bukan baru mengenakan jubah putih, setelah mereka berada di alam baka. Namun, sejak masih hidup di dunia ini mereka telah memakai jubah putih; lantaran mereka berusaha menghidupi surga, ketka mereka berada di dunia.

Kaum religius telah memilih untuk hidup seperti di surga, walaupun wujud fisik mereka dan secara manusiawi mereka tetap manusia biasa. Dapat dibayangkan, betapa sulit menerapkan kehidupan a la surgawi di tengah belantara dunia yang sarat tarikan-tarikan duniawi.

Sebagai umat beriman kristiani, kita patut mendukung upaya-upaya kaum religius memaknai panggilan hidup mereka. Kita dapat membuat 'jubah mereka tetap putih' dengan mendoakan mereka dan membantu mereka menyelamatkan jiwa-jiwa, seperti yang ditugaskan Kristus kepada para pengikut-Nya.

Jumat, 01 November 2024

Belajar Kekudusan dari Santa Theresia Lisieux

Dalam buku otobiografinya, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus (1873-1897), seorang biarawati Karmel Tak Berkasut (OCD) yang berasal dari Lisieux, Prancis; menuliskan keinginannya menjadi orang suci.

Namun, ia merasa tak mampu mengikuti teladan para kudus yang seperti gunung tinggi baginya, sementara ia bagaikan pasir yang diinjak orang. 

Di sisi lain, Santa Theresia memiliki keyakinan: tak mungkin Tuhan menanamkan keinginan untuk menjadi orang kudus dalam dirinya, jika hal itu tidak bisa diwujudkan. 

Santa Theresia merasa dirinya memiliki banyak ketidaksempurnaan. Sulit sekali baginya menjadi orang dewasa. Tetapi, justru dengan menerima kekurangan diri inilah, Santa Theresia berhasil menemukan cara tersendiri menuju surga.

Ia sangat terkesan dengan Sabda Yesus yang meminta agar murid-murid-Nya membiarkan anak-anak datang kepada-Nya (lihat Matius 19:13-14). Yesus sangat mencintai anak-anak. Maka, ia pun akan menjadi seperti anak kecil di mata Yesus.

Aku ingin tahu, apa yang akan Engkau lakukan terhadap anak kecil yang menjawab panggilan-Mu? Inilah yang kutemukan: "Seperti seorang yang dibelai ibunya, Aku juga akan menghiburmu. Kamu akan menyusu, digendong, dan dibelai-belai di pangkuan." (Lihat Yesaya 66:10-13)

Dari penemuan itulah, Santa Theresia yakin, ia harus tetap menjadi kecil. Jalan kecil Santa Theresia adalah jalan spiritual seorang anak yang percaya dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan.

Menurut Santa Theresia, jalan kecil yang ditemukannya merupakan jalan yang sangat lurus dan pendek untuk mencapai kekudusan. 
 
Santa Theresia hanya 24 tahun menghirup udara di dunia. Pengalaman hidupnya yang singkat namun penuh percik kekudusan, menjadi bukti nyata kebenaran jalan kecilnya. 

Sabtu, 21 September 2024

Ada yang Tak Bisa Dibagi

Perumpamaan Lima Gadis Bijaksana dan Lima Gadis Bodoh memunculkan pertanyaan: apakah lima gadis bijaksana itu sedemikian pelit dan egois, sehingga tak mau berbagi minyak milik mereka dengan kelima gadis lain yang persediaan minyaknya sedikit?
 
Dengan membagi minyak berarti, kita mau berkompromi dengan dunia. Memberi dukungan terhadap tindakan yang tidak benar. Padahal, jelas bahwa yang bersalah adalah kelima gadis bodoh, karena mereka keasikan menikmati dunia, sehingga tak membawa persediaan minyak.
 
Jangan mau berkompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip kebenaran. Dari perumpamaan ini, kita bisa belajar, ternyata tidak dalam semua hal kita harus berbagi. Ada hal-hal prinsipil yang tak bisa kita kompromikan. 
 
Ada yang tak bisa dibagi, bukan lantaran kita pelit dan egois. Namun, di sinilah ujian integritas kita. Apakah kita tetap menjunjung tinggi prinsip kebenaran dan keadilan?
 

Jumat, 23 Agustus 2024

Jangkauan Doa

Kerap kau bertanya penuh keraguan:
apakah ia yang selalu kau sebut dalam doa-doamu
menyadari dan merasakan getaran kasihmu
 
Tidak tahukah engkau
jangkauan doa laksana hembusan angin sepoi-sepoi
tak kasatmata, namun menyejukkan
menyentuh relung terdalam jiwa
menorehkan sukacita dan damai
 
Jangkauan doa laksana sinar mentari
dapat dipandang efeknya, tetapi tak bisa dipegang
memberi terang bagi hati yang gundah
memberkas cahaya tanpa meninggalkan jejak
 
Doamu, doaku
melesat jauh melampaui 
segala yang kelihatan
 

Senin, 13 Mei 2024

Doa dan Matiraga

Dalam penampakan pertama Bunda Maria di Fatima, Portugal, pada 13 Mei 1917, Bunda Maria bertanya kepada Lusia, Fransisko, dan Yasinta; apakah mereka mau mempersembahkan diri kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang dikirimkan-Nya demi penebusan dosa-dosa yang melukai hati Tuhan dan demi pertobatan para pendosa?

Mempersembahkan diri kepada Tuhan dan bersedia menanggung semua penderitaan sebagai silih bagi orang-orang berdosa merupakan wujud matiraga. 

Bunda Maria juga berpesan agar ketiga anak itu berdoa Rosario setiap hari untuk memperoleh damai bagi dunia dan berakhirnya perang.

Sampai sekarang, pesan Bunda Maria Fatima masih relevan. Doa dan matiraga menjadi tanda kasih kita yang paling personal kepada Tuhan.

Bunda Maria Fatima, bimbinglah kami agar ikhlas bermatiraga dan tekun berdoa - terutama berdoa Rosario, supaya banyak jiwa dapat diselamatkan dari kebinasaan kekal.

Jumat, 29 Maret 2024

Pengosongan Diri

Kata Santa Perawan Maria kepada malaikat Gabriel: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (lihat Lukas 1:38) Sejak menerima Kabar Sukacita, Santa Perawan Maria berkomitmen melaksanakan kehendak Tuhan dengan menjadi hamba-Nya yang setia. Ini dibuktikannya mulai dari Betlehem hingga Golgota.
 
Doa Yesus di taman Getsemani: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (lihat Lukas 22:42) Dalam menjalani perutusan-Nya menebus dosa seluruh umat manusia, Yesus Kristus berkomitmen melakukan kehendak Bapa, bukan kehendak-Nya sendiri. 

Menerima dan melakukan kehendak Tuhan hendaknya juga menjadi komitmen setiap orang beriman kristiani. Dan untuk dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, satu hal yang diperlukan: pengosongan diri.  

Pengosongan diri menjadi kunci keberhasilan Santa Perawan Maria dan Yesus Kristus dalam menjalani hidup di dunia sesuai kehendak Tuhan. Mengosongkan diri berarti kita menyingkirkan kepentingan dan keinginan pribadi, menempatkan Tuhan di atas segalanya, dan seperti hamba selalu siap melaksanakan apa yang dikehendaki tuannya.

Ya Tuhan, ajarilah aku cara pengosongan diri seperti yang telah Engkau dan Bunda-Mu lakukan selama hidup di dunia ini, sehingga kelak aku pun bisa berada bersama-Mu dalam kemuliaan Kerajaan Allah. Amin.