Jumat, 18 September 2026

Mega-trust

Letak negara Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (ring of fire) - jalur berbentuk tapal kuda dengan banyak gunung berapi aktif sepanjang sekitar 40.000 km di sekeliling Samudra Pasifik.  

Dengan kondisi teritorial seperti itu, ancaman megathrust membayangi. Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik di bumi, serta bisa memicu gempa bumi sangat besar dan tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat Indonesia, agar siap siaga menghadapi ancaman megathrust.

Tak dapat dipungkiri, setelah Anak Krakatau erupsi, ancaman megathrust sepertinya tampak nyata. Muncul kekhawatiran sangat besar. Kita patut berjaga-jaga dan waspada, namun tak perlu sampai ketakutan membelenggu hidup kita.

Hadapilah ancaman megathrust dengan mega-trust. Perteguh iman dan harapan kita kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Tekunlah memohon dalam doa-doa kita, agar kerahiman-Nya menjauhkan segenap makhluk ciptaan-Nya dari bencana alam yang mematikan.

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?" (Lukas 12:25-26)

Senin, 14 September 2026

Angin Menerbangkan Debu

Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, erupsi. Debu vulkaniknya tertiup angin ke arah barat, memenuhi udara, melintasi sekitar 158 kilometer sampai ke kota Jakarta.

Muncul himbauan bagi warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup jendela-jendela, memakai masker guna menghindari paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik yang partikelnya sangat kecil saja bisa diterbangkan angin, melintasi perairan dan pulau, mendarat di halaman rumah kita. 

Pernahkah kita bayangkan, hembusan Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan ke atas dunia? Tentu kecepatannya lebih dahsyat dibandingkan kecepatan debu vulkanik memenuhi udara Ibu Kota. 

Jika debu vulkanik yang berupa partikel sangat kecil mampu melintasi jarak sekian puluh kilometer menjangkau suatu tempat, apalagi Roh Tuhan yang tak terlihat dengan kemampuan menerobos pikiran dan hati manusia.

Fenomena alam masih ada keterbatasannya. 
Kuasa Tuhan tiada batasnya. 

Selasa, 08 September 2026

Ketulusan

Sikap batin yang sangat langka,
di tengah dunia yang kian materialistis,
ditunjang makin maraknya media sosial.
 
Ketulusan ditandai hati yang jujur,
tidak berpura-pura,
berbuat tanpa pamrih.

Ketulusan kunci kelanggengan relasi,
yang didamba untuk dijumpai,
di hamparan aneka topeng

Ketulusan muncul dari hati yang mencinta,
pancaran kesahajaan tanpa kepalsuan,
pesona yang membangkitkan harapan.

Sabtu, 22 Agustus 2026

Misteri

Ada kalanya kita tak dapat memahami sikap seseorang,  
sekalipun ia orang yang cukup dekat dengan kita.
Tak semua hal bisa dimengerti dengan nalar,
tetap ada misteri dalam diri setiap insan.
 
Biarlah yang tak dapat dipahami tetap tinggal sebagai misteri,
menggoreskan keunikan tanpa menuntut kejelasan.
Seperti Tuhan pun menyimpan misteri
dalam relung kehidupan setiap kita.
 

Selasa, 11 Agustus 2026

Lima Belas Tahun Penuh Makna

Ketika mulai mengunggah tulisan pertama di blog ini 11 Agustus 2011, yang terbersit dalam hati hanyalah keinginan untuk mengutarakan dan membagikan percikan aneka pengalaman saat berjalan bersama Tuhan.

Tuhan yang penuh misteri dan kejutan; yang berusaha kudekati dan kenali dengan segala dinamika-Nya. Di padang gurun yang kering, di bukit yang hijau, di gunung berangin kencang, di lembah penuh bunga, di tepi laut bergelombang besar, di danau yang teduh - pada kehidupan seperti itulah aku terus berjalan bersama-Nya.

Sejumlah warganet menemukan blog ini, menyimak tulisan-tulisan di sini. Kepada Anda sekalian yang dengan setia pada saat-saat tertentu mengklik blog ini dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya, dari hati terdalam kuhaturkan beribu terima kasih.

Kita memang tidak saling mengenal dalam tatapan mata, tetapi hati kita menyatu dalam pesona kasih Allah Tritunggal dan Bunda Maria. Berusaha memetik hikmah dalam peziarahan di dunia ini. Semoga yang dibagikan di sini dapat memberi makna kepada kehidupan Anda sekalian. 

Peziarahan kita masih berlanjut, sampai setiap kita tiba di pintu gerbang Kerajaan-Nya yang abadi. Marilah terus berjalan bersama-Nya.

Aku tak tahu ke mana Ia melangkah. Terkadang Ia membawaku melalui rerumputan yang lembut, kali lain Ia mengajakku melewati jalan berbatu. Jalan apa pun yang ditempuh-Nya, aku selalu mengiringi-Nya, karena aku adalah alas kaki-Nya. 

Tuhan, Engkau penuh misteri dan selalu punya kejutan. Untuk semua ini aku bersyukur.

Jumat, 07 Agustus 2026

Bangga Punya Relasi

Melihat seorang selebriti, dengan penuh kebanggaan seorang kawan berujar, "Dia itu temannya temanku waktu di SMA." Kawan yang lain tak mau kalah, "Pejabat itu saudara sepupu kakak ipar ibuku."

Sering kali kita merasa bangga memiliki percikan relasi dengan orang-orang terkemuka; meskipun percikan itu hanya setitik dan relasi mungkin sebatas tahu nama, tetapi tidak mengenal orang yang dibanggakan itu.

Mengapa kita begitu ingin dipandang sebagai orang yang punya relasi dengan para tokoh terkenal? Manfaat apa yang diperoleh, jika kita punya relasi - meski sangat jauh bahkan mungkin hanya kenal nama - dengan orang-orang terkemuka?

Ada Tokoh sangat tersohor, dikenal hampir oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. Namanya: Yesus Kristus. Anda tentu kenal juga.

Apakah kita merasa sangat bangga karena telah mengenal-Nya? Apakah kita akan memberitahu orang-orang di sekitar kita bahwa kita punya relasi yang dekat dengan Tokoh terkenal ini?

Dialah Sahabat Sejati kita, seperti yang diungkapkan Joseph Scriven dalam lirik lagu What a Friend We Have in Jesus. Sebagian terjemahannya:

Sungguh indah Sahabat kita, Yesus
yang menanggung segala dosa dan duka kita
Sungguh suatu anugerah 
dapat membawa segala sesuatu kepada Allah dalam doa

Adakah Sahabat yang begitu setia,
yang mau turut merasakan segala duka kita?
Yesus mengetahui segala kelemahan kita,
bawalah itu kepada Tuhan dalam doa

Mulai sekarang, berbanggalah karena kita punya relasi yang dekat dengan Tuhan Yesus Kristus.

Kamis, 30 Juli 2026

Beda ke Pasar dengan ke Gunung

Tentu ada perbedaan antara kita akan pergi ke pasar atau kita akan mendaki ke gunung. 

Kalau mau ke pasar, kita tahu pasar mana yang dituju, jalan untuk sampai ke sana sudah tergambar dengan jelas. Sedangkan saat kita akan naik ke gunung, meskipun kita tahu gunung yang dituju, kita belum tahu secara pasti jalan untuk sampai ke puncaknya.

Perjalanan spiritual lebih seperti perjalanan mendaki ke gunung. Tujuannya sudah jelas: Kerajaan Allah. Jalan untuk mencapai "gunung" itu sudah tergambar, namun ketika kita menempuh jalan itu, terkadang kita menemukan "jalan" yang bercabang. Muncul keraguan, jalan mana yang harus kita pilih. 

Perjalanan berlanjut, muncul tantangan-tantangan lain. Para pendaki gunung memakai kompas untuk menentukan arah yang akan dijalani. Kita pun perlu "kompas" yakni Firman Tuhan untuk memastikan kita berada di jalan yang benar mencapai tujuan. 

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya..... Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. (Mazmur 119:97-98, 101)