Kamis, 01 Januari 2026

Nyanyian Baru

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. (Mazmur 98:1)

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.... TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik terhadap musuh-musuh-Nya. Ia membuktikan kepahlawanan-Nya. (Yesaya 42:10 & 13)

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya, karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (Wahyu 5:9)

"Menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan," mungkin dimaksudkan pemazmur, nabi Yesaya, dan Santo Yohanes Rasul yang menulis kitab Wahyu - sebagai benar-benar tindakan menyanyi, tetapi bisa saja mengandung makna lebih dari sekadar menyanyi lagu yang baru.

"Nyanyian baru" merupakan ungkapan sesuatu yang berbeda dari biasanya, sesuatu yang indah, memesona, dahsyat, amat menarik, dan luar biasa sebagai tanggapan atas perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib dan sangat mengagumkan, sehingga perlu "dinyanyikan."

Memasuki Tahun 2026, sudahkah kita menyiapkan "nyanyian baru" bagi Tuhan? "Nyanyian" yang berbeda dari sebelumnya. "Nyanyian" pujian dan syukur atas segala berkat dan penyertaan-Nya di tahun yang lalu. "Nyanyian" tekad untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkenan di hadirat Tuhan.

Marilah kita "menyanyikan nyanyian baru" bagi Tuhan

dalam hidup kita

Selamat Memaknai Tahun 2026!

Rabu, 24 Desember 2025

3 K

Malam ini, ketika kita merefleksikan kisah kelahiran Yesus Kristus ke dunia, ingatlah kepada seorang tokoh sentral Natal yang menerapkan 3 K dalam seluruh hidupnya; terlebih setelah ia menerima kabar dari malaikat Gabriel.

Santa Perawan Maria, menyatakan Komitmennya untuk menerima kehendak Tuhan dalam hidupnya: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Berpegang pada komitmen itu, Santa Perawan Maria secara Konsisten melakukan kehendak Tuhan mulai dari mengandung Putra Allah, melahirkan-Nya, mengasuh-Nya, mendampingi-Nya dengan setia sampai Sang Putra wafat di kayu salib.

Melaksanakan komitmen secara konsisten tak lepas dari berbagai rintangan. Bunda Maria dengan Konsekuen menerima dan menanggung segala hal, demi komitmen yang dipegangnya.

Dalam kondisi hamil tua, Santa Perawan Maria harus mengikuti Yusuf mendaftar untuk sensus penduduk di Betlehem. Semua penginapan penuh, ia harus melahirkan anak di gua tempat ternak berlindung.

Konsekuensi lain yang ditanggung Bunda Maria karena berpegang teguh pada komitmennya secara konsisten ialah mengungsi ke Mesir ketika Herodes akan membunuh bayi dan anak laki-laki di bawah dua tahun, menjalani hidup berkeluarga bersama Yusuf di Nazaret, mengasuh dan mendampingi Yesus sampai Yesus wafat dengan penuh luka di kayu salib.

3 K = Komitmen, Konsisten, Konsekuen - hendaknya menjadi acuan kita juga, ketika menekuni peziarahan hidup kita di dunia ini. Seperti yang diteladankan Bunda Maria, kita berpegang teguh pada komitmen kita, menjalaninya secara konsisten, dan siap menerima salib yang Tuhan berikan kepada kita secara konsekuen.

Selamat Natal.

Kamis, 18 Desember 2025

Ragu-Ragu

Tiga tokoh terkait Natal yang dihadirkan di masa Adven, tak disangkal awalnya menampilkan sikap ragu-ragu ketika mendapat kabar dari surga.

* Zakharia - ragu-ragu terhadap kehamilan Elisabet istrinya, sehingga bisu sampai putranya yaitu Yohanes pembaptis, lahir.

* Yusuf - ragu-ragu mengambil Maria sebagai istrinya karena telah hamil oleh kuasa Roh Kudus, sampai malaikat mendatanginya dalam mimpi.

* Maria - ragu-ragu menerima kabar ia akan mengandung dari malaikat Gabriel, karena ia belum bersuami.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, ketiga tokoh tersebut dengan iman yang besar tidak lagi meragukan karya Tuhan dalam hidup mereka. Namun,dari pengalaman Zakaria, Yusuf, dan Maria - kita tahu bahwa pada dasarnya ragu-ragu adalah sikap yang manusiawi.

Manusia memiliki nalar yang merupakan kemampuan untuk berpikir logis. Hal-hal yang tidak dapat dicerap akal budi, akan menimbulkan sikap ragu-ragu, sehingga sulit dipahami dan diterima.

Di sisi lain, kita pun dapat belajar dari para gembala di padang. Mereka orang-orang kecil yang lugu, tidak menunjukkan keragu-raguan. Setelah melihat kedatangan para malaikat dan mendengar warta sukacita kelahiran Yesus, gembala-gembala segera berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf, dan bayi Yesus di dalam palungan (lihat Lukas 2:8-18).

Ketika sikap ragu-ragu menguasai kita, sadarilah dan berdiam dirilah sejenak, sebelum mengambil keputusan. Seperti Zakharia yang diberi waktu merenung berbulan-bulan dalam kebisuan, atau  Yusuf yang menimbang-nimbang langkah yang akan ditempuh dalam tidurnya, atau Maria yang memilih untuk melakukan kehendak Tuhan apa pun risikonya.

Betapa pun, sikap ragu-ragu perlu diatasi dengan keberanian bertindak.

Selasa, 09 Desember 2025

Tergantung Wadahnya

Pernahkah Anda perhatikan, tanaman yang sama akan tumbuh secara berbeda, jika ditempatkan pada wadah yang berlainan?

Pada pot berukuran kecil, tanaman akan tumbuh dengan daun-daun yang kecil dan batang yang kecil juga; sesuai ukuran wadahnya. Sementara itu, jika tanaman yang sama ditempatkan pada pot berukuran besar, ia akan bertumbuh lebih besar dibandingkan tanaman yang ada di pot kecil.

Berada di wadah spiritual manakah kita? Dengan wadah spiritual yang kecil, pertumbuhan rohani kita pun terbatas. Sedangkan jika kita menempatkan hal-hal rohaniah pada wadah spiritual yang besar, kerohanian kita dapat berkembang lebih pesat dengan akar-akar yang lebih tertanam kuat.

 

Sabtu, 29 November 2025

Menghadirkan Surga

Bulan November dikhususkan Gereja Katolik untuk mendoakan para arwah orang beriman. Ketika menghadiri Misa Arwah peringatan 1 tahun wafat ibu dari sahabatku, Imam yang mempersembahkan Misa menyampaikan homili yang makin membuatku yakin tentang keberadaan surga di dunia ini.

Menurut Imam tersebut, kita semua kelak masuk surga karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus kita dari segala dosa kita, ketika Ia wafat di kayu salib. Jika kita sekarang masih hidup di dunia, berarti kita masih diberi Tuhan tugas untuk menghadirkan surga di atas bumi.

Setiap kali kita mendaraskan doa Bapa Kami: ".... Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga...." Allah Bapa ingin kita sebagai anak-anak-Nya menghadirkan surga dalam keseharian kita, sehingga keadaan di bumi tempat kita berpijak saat ini menyerupai di surga.

Menghadirkan surga di atas bumi dapat kita lakukan dengan bermacam cara. Misalnya, tersenyum dan menyapa orang yang ada di dekat kita, mencintai keluarga, menunjukkan belas kasih kepada mereka yang membutuhkan, dan banyak surga lain yang bisa kita hadirkan di tengah dunia ini.

Semoga setiap kali kita mendoakan Bapa Kami, kita selalu ingat dan melaksanakan tugas kita sebagai anak-anak Allah: menghadirkan surga di atas bumi, sehingga kehendak Tuhan terlaksana.


Minggu, 09 November 2025

Semua akan Pulang

Aku mengenalnya di awal ia merintis karier. Kami bekerja di kantor yang sama. Seorang yang bersemangat tinggi, dengan pemikiran kritis dan lontaran kata-kata tegas. Sebagai pendatang dari perantauan, prestasi kerja dan peningkatan karier menjadi cita-cita dan impian yang ingin diraihnya.

Lalu, kami berpisah jalan lantaran fokus yang berbeda. Beberapa kali aku masih menemukan jejak keberadaannya di ruang-ruang publik. Kariernya memang terus menanjak, sesuai harapannya.

Dua puluh lima tahun berlalu. Terkejut aku menerima berita kematiannya. Lebih terkejut lagi ketika aku menghadiri misa requiem-nya. Imam yang mempersembahkan Perayaan Ekaristi menceritakan betapa temanku ini sangat berdedikasi bagi Gereja dengan memberikan pelayanan sepenuh hati.

Melintas dalam bayanganku, betapa kontras pilihan hidupnya seperempat abad lalu dengan yang dijalaninya beberapa tahun terakhir. Orang dapat berubah, asalkan terbuka pada rencana dan kehendak Tuhan.

Dari pengalaman hidup teman itu, dapat dipetik hikmah: meski manusia berjarak dengan Sang Pencipta, pada akhirnya dengan berbagai cara, Tuhan akan memanggil anak-anak-Nya kembali mendekat kepada-Nya. Semua akan pulang, menuju kehidupan kekal.

Sabtu, 08 November 2025

Mangga Berkulit Hijau

Aku ragu mengupasnya. Mangga harum manis berkulit hijau pasti masih asam. Aku lebih cenderung membuka mangga berkulit kekuningan. Tetapi suara hatiku terus mendesakku untuk lebih dulu mengupas mangga yang berkulit hijau. 

Aku ikuti suara hati. Tak disangka, mangga berkulit hijau itu buahnya lebih manis daripada mangga berkulit kekuningan yang aku kupas belakangan.  

Dalam keseharian kita, sering kali logika lebih memimpin kita dalam bertindak, ketimbang suara hati. Pengalaman ketika mengupas mangga, membawa refleksi tersendiri. Ternyata, yang dipikirkan manusia berbeda dengan yang diberikan Tuhan. Pilihannya ada pada kita. Satu hal patut diingat selalu: bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Mangga berkulit hijau pun bisa manis isinya.