Rabu, 03 Juni 2026

Ketulusan Hati

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketulusan adalah kejujuran yang sepenuhnya keluar dari lubuk hati yang suci. Wikipedia menyatakan yang senada: Ketulusan adalah suatu kualitas kesungguhan dan kebersihan hati yang tidak berpura-pura, jujur, dan lurus.  

Dari kedua penjabaran di atas, ketulusan berkaitan erat dengan hati. Orang yang tulus memiliki hati yang bersih, suci, tanpa kepura-puraan, dan jujur. 

Di tengah era yang sarat kepalsuan dalam tampilan wajah-wajah bertopeng saat ini, ketulusan hati mutlak dibutuhkan untuk dapat tetap hidup bersih dan suci di hadapan Tuhan dan sesama. 

Raja Daud meyakini ia hidup dengan ketulusan, maka dengan berani ia berkata, "Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu." (Mazmur 7:4-6) 

Raja Daud juga meminta, agar Tuhan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. (Mazmur 125:4-5)

Sudahkah kita hidup dengan ketulusan hati? Adakah kita menampilkan wajah asli kita, atau kita terbiasa memakai topeng-topeng untuk mengamankan diri kita dalam interaksi dengan orang-orang yang kita anggap dapat menyingkap wajah asli kita?

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Sabtu, 30 Mei 2026

Wajah yang Adem

Keprihatinan mendalam terhadap sepak-terjang kecerdasan buatan, mendorong Paus Leo XIV menyampaikan pesan bertajuk “Menjaga Suara dan Wajah Manusia,” pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tahun 2026.

Menurut Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik ke-267 ini, wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci karena merupakan anugerah Allah, yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Jangan sampai teknologi digital secara mendasar mengubah pilar-pilar penting peradaban manusia. Karena itu Paus Leo XIV berpendapat, tantangan utama kita bukan sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Perhatikanlah wajah orang-orang kudus. Satu ciri utama yang tampak adalah wajah mereka yang adem – memancarkan aura positif, tenang dan damai. Tentu mereka tidak berpura-pura atau memakai topeng. Mereka berwajah adem karena memancarkan kasih Kristus dari hati mereka.

Bandingkan wajah-wajah kreasi aplikasi Artificial Intelligence (AI) yang bertebaran di media sosial. Secara visual wajah-wajah ini memang kelihatan menarik, tetapi kalau diperhatikan tak ada kedalaman jiwa pada wajah-wajah kreasi mesin. Mereka bagaikan manusia tak berhati.

Manusia sebagai pelaku teknologi, perlu menjaga martabat dan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Cara pandang manusia dalam memanfaatkan teknologi, perlu diluruskan. Berkaca pada pengalaman para kudus, dua hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga wajah dan suara kita tetap otentik adalah menjalin relasi akrab dengan Tuhan, serta memiliki hati murni dan suci.

 

Relasi Akrab dengan Tuhan

Ketika menciptakan manusia, Allah memateraikan martabat luhur dengan menjadikan manusia menurut gambar-Nya (bdk. Kejadian 1:27). Inilah wajah asli manusia yang secitra dengan Sang Pencipta.

Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri menyatakan Ia menyinari dan menghadapkan wajah-Nya  kepada manusia untuk memberi kasih karunia dan damai sejahtera (bdk. Bilangan 6:25-26).

Keadaan kini berbeda. Di era modern ini AI terus menggerus keberadaan dan peran Tuhan dalam hidup manusia. Wajah-Nya tertutup chatbot – asisten virtual berbasis AI. Manusia jadi terbiasa mengejar jawaban instan atas berbagai pertanyaan dan permasalahan hidupnya.

Orang cenderung tidak sabar, ingin segera mendapat jawaban pasti. Padahal, berelasi dengan Allah butuh kesabaran dan kesetiaan, seperti ditunjukkan Abraham ketika berpuluh tahun menanti anak yang dijanjikan Tuhan.

Perlu pula disadari bahwa martabat, identitas, dan relasi manusia tidak dapat digantikan mesin. “Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama,” pesan Paus Leo XIV.  

Inilah tantangan iman di zaman sekarang. Manusia perlu terus menjalin relasi akrab dengan Tuhan,  agar tetap memiliki wajah aslinya; seperti ketika Allah menciptanya.

 

Hati Murni dan Suci

Manusia berbeda dengan robot. Manusia memiliki hati yang terpaut kepada Sang Penciptanya, karena Tuhan telah menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati manusia. Ketika Kain marah dan membenci adiknya, Tuhan menegurnya, “Mengapa hatimu panas dan wajahmu muram? Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kejadian 4:6-7a)

Raut wajah mencerminkan hati. Tatkala orang menolak berelasi akrab dengan Tuhan, terhanyut hal-hal duniawi yang berlebihan; hati nuraninya menjadi tumpul. Kepentingan diri dikedepankan, daripada kebaikan dan kepentingan orang lain.

Cermati gerak batin kita saat melihat aneka konten di media sosial. Kita mungkin seperti Kain yang panas hati, ketika melihat orang-orang memamerkan diri atau gaya hidup (flexing) di media sosial. Hindarilah kekeruhan hati, yang menghambat kita berelasi akrab dengan Tuhan.

Memiliki hati murni dan suci, membuat kita hidup dalam ketulusan dan kejujuran. Kita bertindak berdasarkan suara hati; bukan menurut kata orang di media sosial, bukan pula berdasarkan tanggapan dan keputusan yang disodorkan AI.

Kata Bapa Suci Paus Leo XIV, kalau kita menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin, berarti kita mengubur talenta yang kita terima dari Tuhan untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Sama saja dengan kita menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Hati murni dan suci mutlak kita perlukan, di dunia saat ini yang sarat kepura-puraan dan kebohongan. Hoaks telah menggunung, menyurutkan kepercayaan. Tak ada rambu-rambu kebenaran yang jelas di media sosial. Kita sendirilah yang perlu menegakkan batasan-batasannya berdasarkan hati nurani.

 

Pertahankan Wajah yang Adem

Kehidupan manusia sepertinya dimudahkan dengan keberadaan AI, namun sejatinya kemanusiaan kita tengah digerogoti perlahan tetapi pasti. Menyisakan manusia tanpa hati.

Di tengah ingar-bingar kecerdasan buatan, kita bisa belajar dari para kudus. Semasa hidup di dunia, orang-orang kudus menjadikan Yesus Kristus Sang Sumber Kekudusan dan Bunda Maria yang hatinya tak bernoda sebagai junjungan dan panutan mereka. Dari Kristus dan Bunda-Nya mereka menimba kekudusan, yang membuat wajah mereka adem.

Wajah yang adem memancarkan pesona yang berasal dari dalam diri (inner beauty), melampaui penampilan fisik yang bersifat sementara. Inilah yang patut kita pertahankan melawan gempuran AI.

Tukarlah waktu kita berkutat di media sosial dengan memeluk keheningan. Dalam hening, kita berhadapan dengan wajah Tuhan yang menyinari kita. Lakukanlah tanpa jemu setiap hari dengan hati murni dan suci, niscaya perlahan tetapi pasti, wajah kita menjadi adem.

Wajah yang adem, memancarkan ketulusan tanpa kepalsuan.

Wajah yang adem, tak mudah dipengaruhi kecerdasan buatan.

Wajah yang adem, membuat suara tenang membawa harapan.

Bersama Santo Paulus kita dapat berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa hati nurani kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” (2 Korintus 1:12)

[Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan di lingkup Gereja Katolik Indonesia] 

 

 

 

Selasa, 26 Mei 2026

Percaya dan Bertahan

Ketika dilanda masalah - apa pun persoalan hidup yang kita hadapi, termasuk penyakit; sering kali kita tak sabar menanti penyelesaiannya. Kita berusaha keras percaya dan berserah kepada Tuhan, namun kenyataan sehari-hari mencuatkan keraguan. 

Di tengah penantian tak berujung, kerap kita bertanya: kapankah Tuhan akan menolong dan mengabulkan doaku?

Pengharapan tidak mengecewakan, itulah yang diyakini Paus Fransiskus. Kalimat Santo Paulus dalam Roma 5:5 tersebut digunakan Bapa Suci sebagai tema Tahun Yubileum 2025.  

Tujuh tahun aku menanti penyelesaian suatu masalah. Bagai janda di Sarfat, harapan itu pupus digerus penderitaan (lihat 1 Raja-Raja 17:7-24). Beberapa kali, terlontar pertanyaanku kepada Paus Fransiskus, "Bapa Suci, engkau meyakini pengharapan tidak mengecewakan. Benarkah demikian?" 

Tetapi tanpa berpaling, aku terus bertahan dengan mencontoh Bunda Maria. Melakukan semua kewajiban dan kegiatan, meski dengan langkah tertatih-tatih. Sampai tiba hari ini, ketika Tuhan dengan cara-Nya yang ajaib, melalui Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat, melimpahkan berkat-Nya yang sangat besar.  

Lewat tulisan ini, aku mau bersaksi. Sungguh, tak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali percaya penuh kepada Tuhan dan bertahan sekuatnya, di tengah penderitaan dan pencobaan.

Teruslah menghidupkan pengharapan dalam melewati badai kehidupan. Percaya selalu akan kasih setia Tuhan dan penyelenggaraan-Nya yang tepat pada waktu-Nya. Bertahan dalam situasi tersulit, di tengah gempuran duniawi. Selalu ada solusi, bagi yang menaruh harapan kepada-Nya.

Kamis, 14 Mei 2026

Meningkatkan Relasi ke Alam Roh

"Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:7)

Biasanya, ketika akan beralih dari kehidupan di dunia ke alam keabadian, orang menyampaikan pesan penting dan khusus. Demikian pula dengan Tuhan Yesus.

Sebelum naik ke surga, Yesus menjanjikan Penghibur yaitu Roh Kebenaran, yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Roh itu juga akan memberitakan hal-hal yang akan datang. (lihat Yohanes 16:13)

Yesus telah 33 tahun berada di dunia, menjalani hidup sebagai manusia yang tampak secara kasat mata dalam tubuh jasmani-Nya. Dengan kembali kepada Bapa, Yesus meningkatkan relasi-Nya dengan umat manusia ke alam roh.

Maka, manusia perlu mencapai tingkat yang rohaniah ini, agar dapat berelasi akrab dengan Tuhan. Seperti telah disabdakan Yesus, sebelum Ia menyatakan akan mengutus Penghibur, "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

"Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi...." Perkataan Yesus ini menegaskan kebenaran: yang jasmaniah akan berlalu, yang rohaniah akan kekal. Manusia Yesus telah kembali ke Rumah Bapa di surga, tetapi Roh Yesus senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman, seperti yang dijanjikan-Nya. (lihat Matius 28:20)

Rabu, 06 Mei 2026

Rahasia Maria

"Berbahagia, ya sungguh berbahagialah jiwa di dunia ini yang kepadanya Roh Kudus singkapkan Rahasia Maria untuk dikenal."

Santo Louis-Marie de Montfort, 'rasul' Bunda Maria, menulis kalimat itu dalam bukunya Rahasia Maria. Ketika kita mendaraskan Rosario di bulan yang dikhususkan Gereja untuk menghormati dan menjalin relasi lebih erat dengan Bunda Maria, mohonkanlah kepada Ibu Surgawi, agar berkenan menyingkapkan rahasianya kepada kita. Dan Anda akan tercengang mengalaminya.

Minggu, 19 April 2026

Kembali dari Emaus

Dalam Lukas 10:1-12, dikisahkan Yesus mengutus 70 murid, di samping 12 rasul yang telah dipilih Yesus sebelumnya. Ke-70 murid ini diutus Yesus berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus.

Penginjil Lukas mencatat, kemudian ke-70 murid itu kembali dengan gembira mendapati Yesus dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takhluk kepada kami demi nama-Mu." (Lukas 10:17)

Dari kisah tersebut, berarti ada 35 kelompok murid Yesus yang masing-masing terdiri dari dua murid. Ketika Lukas menceritakan Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35), yang dimaksudkan Lukas tentu dua orang dari ke-70 murid Yesus.

Dua murid memilih meninggalkan kota Yerusalem. Mereka ingin mengasingkan diri ke Emaus lantaran patah harapan. Yesus yang dielu-elukan bakal jadi raja ketika memasuki kota Yerusalem, malah dihukum mati di kayu salib. Sirna sudah kebanggaan sebagai murid-murid Yesus yang berkuasa mengalahkan setan-setan.

Tuhan Yesus memilih mendekati kedua murid-Nya itu, bukan 68 murid-Nya yang lain. Ia menemani mereka dalam perjalanan, sambil bercakap-cakap tentang diri-Nya yang ditulis dalam Kitab Suci. 

Kedua murid masih belum menyadari Orang yang bersama dengan mereka sepanjang perjalanan, meskipun mereka mengakui hati mereka menjadi berkobar-kobar ketika Orang yang menemani mereka berbicara tentang Kitab Suci.

Mereka meminta Yesus tinggal bersama karena hari telah malam. Pada saat makan; Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu terbukalah mata hati mereka. Kedua murid mengenali Yesus. 

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus dapat menjadi refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Sering kali kita memilih pergi menjauh, karena tidak ada harapan lagi. Entah dalam kehidupan di keluarga, di kantor, di tempat pelayanan, atau kondisi kita lainnya.

Kita merasa sendirian menempuh perjalanan hidup, padahal Tuhan Yesus selalu mendampingi. Kita tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya, karena mata hati kita tertutup berbagai masalah dan kepahitan hidup yang kita alami.

Seperti kedua murid yang mengajak Yesus tinggal bersama mereka, hendaknya kita pun membuka diri dan hati, mengajak Yesus masuk dan tinggal dalam kehidupan kita. 

Melalui Ekaristi, kita akan memperoleh kekuatan dari Yesus untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. Bahkan kobaran semangat-Nya begitu besar, sehingga membuat kita berbalik dari kepedihan kita, mewartakan Kristus melalui kehidupan kita sehari-hari.

Kamis, 09 April 2026

Dicari: Fransiskus-Fransiskus Assisi Zaman Ini

Penetapan Paus Leo XIV tentang Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Assisi 10 Januari 2026 - 10 Januari 2027 mengandung makna tersendiri bagi kita umat Katolik.

Fransiskus (1182-1226), anak saudagar kain yang kaya di kota Assisi, Italia. Ia terbiasa hidup boros, berpesta dengan teman-temannya hingga larut malam. Lama-kelamaan ia bosan dan mulai menarik diri. Fransiskus menjelajah pedalaman di sekitar Assisi, menghabiskan waktu dengan menyepi.

Suatu hari ia masuk ke gereja tua San Damiano yang tak terurus di Assisi. Fransiskus berjam-jam memandang Yesus yang tersalib dan hatinya tersentuh. Dalam batin ia mendengar Kristus memintanya memperbaiki gereja itu. Fransiskus menjual kain-kain ayahnya untuk memperbaiki gereja San Damiano.

Awal pertobatannya tersebut disusul dengan perubahan hidup yang radikal, setelah ia mendengar bacaan Injil dalam Misa. Kristus mengutus murid-murid-Nya pergi mewartakan kabar gembira tanpa membawa tongkat, bekal, atau memakai kasut.

Fransiskus terkesima. Itulah cara hidup yang diimpikannya. Ia memeluk kemiskinan dengan sepenuh hati. Hidup dari derma, memberi perhatian besar pada seluruh makhluk ciptaan, serta mengedepankan persaudaraan dan perdamaian.

Di kemudian hari, Fransiskus menyadari maksud Tuhan memintanya memperbaiki Gereja yang hampir roboh juga mengandung makna spiritual. Pada zaman itu, institusi Gereja tengah mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Melalui Fransiskus, Tuhan menghendaki umat kembali menghayati Injil secara radikal seperti dihayati Fransiskus.

Berkaca pada pengalaman Santo Fransiskus Assisi, Gereja pun sekarang membutuhkan Fransiskus-Fransiskus zaman ini, yang berani menyuarakan kasih dan perdamaian, menampik hal-hal duniawi yang berlebihan, serta memerhatikan keharmonisan alam ciptaan. Mungkin Anda orangnya.