Selasa, 06 Oktober 2026

Sepenuh Hati

Marta sibuk melayani Tuhan Yesus yang berkunjung ke rumahnya dengan menyediakan aneka hidangan. Sementara Maria lebih suka duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya. (lihat Lukas 10:38-42)

Pilihan yang diambil Marta dan Maria bukan soal perbedaan cara hidup aktif dan kontemplatif, tetapi lagi-lagi yang Tuhan pentingkan adalah bagaimana sikap hati seseorang terhadap Diri-Nya - cara kita menyembah dan mengabdi-Nya.

Marta mengabdi Tuhan dengan menyibukkan diri menyiapkan makanan. Ini suatu tindakan aktif yang baik, namun hati Marta tidak sepenuhnya berfokus pada pelayanannya. Sambil memasak, ia menggerutu dalam hati, kesal karena Maria tidak membantunya.

Tuhan tidak berkenan dengan sikap hati seperti itu, meskipun yang dilakukan Marta sebenarnya sangat baik. Bayangkan kalau ada tamu agung bertandang ke rumah kita, ingin santap siang bersama kita, tetapi kita tidak punya makanan apa-apa.

Maria, karena berada di hadapan Yesus, tentu saja seluruh dirinya terarah kepada perkataan-perkataan Yesus. Hati Maria fokus menyembah Yesus. 

Sepenuh hati - itulah yang Tuhan inginkan dari kita dalam menjalin relasi dengan-Nya.

Jumat, 02 Oktober 2026

Suam-Suam Kuku

Masuk kanal YouTube, tiba-tiba muncul tawaran menyaksikan video ceramah Uskup Agung Fulton J. Sheen - yang pada 24 September lalu dianugerahi gelar Beato oleh Gereja Katolik. 

Video berdurasi 41 menit itu bertutur tentang perilaku umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah - mengikuti perayaan Ekaristi atau berdevosi. Menurut Beato Fulton Sheen dalam pengajarannya, mengutip pengalaman Santo Pio dari Pietrelcina, umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah merupakan orang-orang yang paling banyak tinggal di api penyucian.

Beato Fulton Sheen lalu memaparkan pengalaman seorang imam muda yang datang berkonsultasi ke Padre Pio di biara San Giovanni Rotondo. Imam itu merasa paroki yang dipimpinnya dalam kondisi sekarat. Sebanyak 800 umat tetap rutin beribadah, tetapi tidak memiliki nyala 'api' yang hidup.

Jika Anda ingin mengetahui detail pemaparan Beato Fulton Sheen, dapat menyaksikan di link YouTube ini:

 https://www.youtube.com/watch?v=q1P9BmLxUQQ

Tayangan video itu membuat kita semakin menyadari, menjalin relasi erat dengan Tuhan bukan soal berapa banyak waktu kita habiskan dalam satu hari untuk berada di hadirat-Nya, tetapi lebih pada di mana hati kita berada pada saat kita mendekatkan diri kepada Tuhan?

Kamis, 01 Oktober 2026

Seperti Anak Kecil

Santa Theresia Lisieux atau yang dikenal sebagai Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, masuk biara kontemplatif Karmel Tak Berkasut (OCD) di usia 15 tahun. Hanya 9 tahun ia hidup membiara. Penyakit TBC merenggut nyawanya pada 30 September 1897.

Dalam upaya menghidupi panggilannya di biara, Santa Theresia membaca riwayat para kudus Karmelit seperti Santa Teresa Avila dan Santo Yohanes Salib. Tetapi ia merasa dirinya sangat kecil, sulit sekali mengikuti jalan kekudusan yang hebat dari para pendiri ordo Karmel Tak Berkasut itu.

Permenungannya membawa Santa Theresia Lisieux pada penemuan Jalan Kecil-nya yang mengagumkan. Ia memilih menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan Yesus. Ia membiarkan dirinya dibimbing Tuhan setiap hari - melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan cinta yang besar, sepenuh hati.

Hari ini, kita merayakan pesta Santa Thersia Lisieux. Ternyata, pedoman hidupnya yang sangat sederhana seperti anak kecil, justru membuatnya menjadi orang kudus yang besar. Jalan Kecil yang dihidupinya menjadi inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia. Santo Paus Yohanes Paulus II menggelarinya Pujangga Gereja tahun 1997.  

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:13-14)

Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, doakanlah kami agar dapat mengikuti Jalan Kecil-mu setiap hari.


Jumat, 25 September 2026

Kekekalan di Hati Manusia

Tak ada yang abadi di dunia ini. Seperti ditulis Pengkhotbah, "Untuk segala sesuatu ada waktunya." (Pengkhotbah 3:1-15)

Tetapi, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati manusia (lihat Pengkhotbah 3:11a).

Yang kekal dan abadi ada di dalam Hati manusia. 
Tuhan sendiri yang menanamkannya. 
Apakah kita menyadarinya?

Jumat, 18 September 2026

Mega-trust

Letak negara Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (ring of fire) - jalur berbentuk tapal kuda dengan banyak gunung berapi aktif sepanjang sekitar 40.000 km di sekeliling Samudra Pasifik.  

Dengan kondisi teritorial seperti itu, ancaman megathrust membayangi. Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik di bumi, serta bisa memicu gempa bumi sangat besar dan tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat Indonesia, agar siap siaga menghadapi ancaman megathrust.

Tak dapat dipungkiri, setelah Anak Krakatau erupsi, ancaman megathrust sepertinya tampak nyata. Muncul kekhawatiran sangat besar. Kita patut berjaga-jaga dan waspada, namun tak perlu sampai ketakutan membelenggu hidup kita.

Hadapilah ancaman megathrust dengan mega-trust. Perteguh iman dan harapan kita kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Tekunlah memohon dalam doa-doa kita, agar kerahiman-Nya menjauhkan segenap makhluk ciptaan-Nya dari bencana alam yang mematikan.

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?" (Lukas 12:25-26)

Senin, 14 September 2026

Angin Menerbangkan Debu

Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, erupsi. Debu vulkaniknya tertiup angin ke arah barat, memenuhi udara, melintasi sekitar 158 kilometer sampai ke kota Jakarta.

Muncul himbauan bagi warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup jendela-jendela, memakai masker guna menghindari paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik yang partikelnya sangat kecil saja bisa diterbangkan angin, melintasi perairan dan pulau, mendarat di halaman rumah kita. 

Pernahkah kita bayangkan, hembusan Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan ke atas dunia? Tentu kecepatannya lebih dahsyat dibandingkan kecepatan debu vulkanik memenuhi udara Ibu Kota. 

Jika debu vulkanik yang berupa partikel sangat kecil mampu melintasi jarak sekian puluh kilometer menjangkau suatu tempat, apalagi Roh Tuhan yang tak terlihat dengan kemampuan menerobos pikiran dan hati manusia.

Fenomena alam masih ada keterbatasannya. 
Kuasa Tuhan tiada batasnya. 

Selasa, 08 September 2026

Ketulusan

Sikap batin yang sangat langka,
di tengah dunia yang kian materialistis,
ditunjang makin maraknya media sosial.
 
Ketulusan ditandai hati yang jujur,
tidak berpura-pura,
berbuat tanpa pamrih.

Ketulusan kunci kelanggengan relasi,
yang didamba untuk dijumpai,
di hamparan aneka topeng

Ketulusan muncul dari hati yang mencinta,
pancaran kesahajaan tanpa kepalsuan,
pesona yang membangkitkan harapan.