Hari ini, 6 Januari 2026, Bapa Suci Paus Leo XIV menutup pintu Basilika Santo Petrus sebagai tanda berakhirnya Tahun Yubileum biasa ke-27 yang telah dimulai pada 24 Desember 2024 oleh alm. Bapa Suci Paus Fransiskus.
Bagi umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) khususnya, ziarah Porta Sancta di Tahun Yubileum 2025 berlangsung meriah. Untuk memperoleh indulgensi penuh salah satu persyaratannya ialah mengunjungi setidaknya masing-masing satu gereja yang ada di seluruh sembilan dekenat di KAJ.
Lalu muncul semacam paspor dengan stempel gereja yang telah dikunjungi. Sudah berapa banyak Porta Sancta di KAJ yang Anda kunjungi? Atau bahkan mungkin Anda melengkapi paspor Anda dengan stempel gereja-gereja di luar KAJ?
Sejatinya, jumlah pintu suci yang telah dikunjungi dan paspor peziarah Porta Sancta yang dilengkapi stempel hanyalah sarana untuk membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.
Demikian pula tampilan bangunan-bangunan gereja yang indah dan megah, Ini pun sarana, agar kita mengalami kedekatan dengan Tuhan dan memuliakan-Nya.
Tetapi, ketika melihat kemegahan bangunan gereja yang dikunjungi, ada di antara para peziarah Porta Sancta yang menjadi minder. "Mengapa gedung gereja itu sangat megah dengan berbagai ornamen ukiran, sedangkan bangunan gereja kami seperti gudang?"
Tak perlu membanding-bandingkan bangunan gereja yang satu dengan gereja yang lain. Apakah kita akan lebih bisa berdoa khusuk kepada Tuhan di dalam gedung gereja yang megah daripada di gedung gereja yang sederhana?
Ingatlah, ketika datang ke dunia, Tuhan Yesus pun memilih tempat yang paling sederhana. Tuhan tak pernah mementingkan penampilan fisik. Tatkala ditugaskan Tuhan untuk mengurapi raja Israel, nabi Samuel berpikir Tuhan akan memilih anak Isai yang gagah.
Namun Tuhan berkata, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7)
Cintailah Rumah Tuhan di tempat Anda bermukim. Di sanalah Tuhan bersemayam dengan keagungan-Nya, tanpa mempersoalkan gedung baru yang megah atau gedung lama yang tanpa ornamen.