Rabu, 06 Mei 2026

Rahasia Maria

"Berbahagia, ya sungguh berbahagialah jiwa di dunia ini yang kepadanya Roh Kudus singkapkan Rahasia Maria untuk dikenal."

Santo Louis-Marie de Montfort, 'rasul' Bunda Maria, menulis kalimat itu dalam bukunya Rahasia Maria. Ketika kita mendaraskan Rosario di bulan yang dikhususkan Gereja untuk menghormati dan menjalin relasi lebih erat dengan Bunda Maria, mohonkanlah kepada Ibu Surgawi, agar berkenan menyingkapkan rahasianya kepada kita. Dan Anda akan tercengang mengalaminya.

Minggu, 19 April 2026

Kembali dari Emaus

Dalam Lukas 10:1-12, dikisahkan Yesus mengutus 70 murid, di samping 12 rasul yang telah dipilih Yesus sebelumnya. Ke-70 murid ini diutus Yesus berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus.

Penginjil Lukas mencatat, kemudian ke-70 murid itu kembali dengan gembira mendapati Yesus dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takhluk kepada kami demi nama-Mu." (Lukas 10:17)

Dari kisah tersebut, berarti ada 35 kelompok murid Yesus yang masing-masing terdiri dari dua murid. Ketika Lukas menceritakan Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35), yang dimaksudkan Lukas tentu dua orang dari ke-70 murid Yesus.

Dua murid memilih meninggalkan kota Yerusalem. Mereka ingin mengasingkan diri ke Emaus lantaran patah harapan. Yesus yang dielu-elukan bakal jadi raja ketika memasuki kota Yerusalem, malah dihukum mati di kayu salib. Sirna sudah kebanggaan sebagai murid-murid Yesus yang berkuasa mengalahkan setan-setan.

Tuhan Yesus memilih mendekati kedua murid-Nya itu, bukan 68 murid-Nya yang lain. Ia menemani mereka dalam perjalanan, sambil bercakap-cakap tentang diri-Nya yang ditulis dalam Kitab Suci. 

Kedua murid masih belum menyadari Orang yang bersama dengan mereka sepanjang perjalanan, meskipun mereka mengakui hati mereka menjadi berkobar-kobar ketika Orang yang menemani mereka berbicara tentang Kitab Suci.

Mereka meminta Yesus tinggal bersama karena hari telah malam. Pada saat makan; Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu terbukalah mata hati mereka. Kedua murid mengenali Yesus. 

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus dapat menjadi refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Sering kali kita memilih pergi menjauh, karena tidak ada harapan lagi. Entah dalam kehidupan di keluarga, di kantor, di tempat pelayanan, atau kondisi kita lainnya.

Kita merasa sendirian menempuh perjalanan hidup, padahal Tuhan Yesus selalu mendampingi. Kita tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya, karena mata hati kita tertutup berbagai masalah dan kepahitan hidup yang kita alami.

Seperti kedua murid yang mengajak Yesus tinggal bersama mereka, hendaknya kita pun membuka diri dan hati, mengajak Yesus masuk dan tinggal dalam kehidupan kita. 

Melalui Ekaristi, kita akan memperoleh kekuatan dari Yesus untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. Bahkan kobaran semangat-Nya begitu besar, sehingga membuat kita berbalik dari kepedihan kita, mewartakan Kristus melalui kehidupan kita sehari-hari.

Kamis, 09 April 2026

Dicari: Fransiskus-Fransiskus Assisi Zaman Ini

Penetapan Paus Leo XIV tentang Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Assisi 10 Januari 2026 - 10 Januari 2027 mengandung makna tersendiri bagi kita umat Katolik.

Fransiskus (1182-1226), anak saudagar kain yang kaya di kota Assisi, Italia. Ia terbiasa hidup boros, berpesta dengan teman-temannya hingga larut malam. Lama-kelamaan ia bosan dan mulai menarik diri. Fransiskus menjelajah pedalaman di sekitar Assisi, menghabiskan waktu dengan menyepi.

Suatu hari ia masuk ke gereja tua San Damiano yang tak terurus di Assisi. Fransiskus berjam-jam memandang Yesus yang tersalib dan hatinya tersentuh. Dalam batin ia mendengar Kristus memintanya memperbaiki gereja itu. Fransiskus menjual kain-kain ayahnya untuk memperbaiki gereja San Damiano.

Awal pertobatannya tersebut disusul dengan perubahan hidup yang radikal, setelah ia mendengar bacaan Injil dalam Misa. Kristus mengutus murid-murid-Nya pergi mewartakan kabar gembira tanpa membawa tongkat, bekal, atau memakai kasut.

Fransiskus terkesima. Itulah cara hidup yang diimpikannya. Ia memeluk kemiskinan dengan sepenuh hati. Hidup dari derma, memberi perhatian besar pada seluruh makhluk ciptaan, serta mengedepankan persaudaraan dan perdamaian.

Di kemudian hari, Fransiskus menyadari maksud Tuhan memintanya memperbaiki Gereja yang hampir roboh juga mengandung makna spiritual. Pada zaman itu, institusi Gereja tengah mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Melalui Fransiskus, Tuhan menghendaki umat kembali menghayati Injil secara radikal seperti dihayati Fransiskus.

Berkaca pada pengalaman Santo Fransiskus Assisi, Gereja pun sekarang membutuhkan Fransiskus-Fransiskus zaman ini, yang berani menyuarakan kasih dan perdamaian, menampik hal-hal duniawi yang berlebihan, serta memerhatikan keharmonisan alam ciptaan. Mungkin Anda orangnya.

Rabu, 01 April 2026

Beda Dunia dengan Surga

Dalam buku Misteri Tujuh Sabda Yesus di Salib dan Bunda Maria dalam Injil, ada satu kisah menarik yang ditulis Uskup Agung Fulton J. Sheen. Berikut salinannya:

Seorang wanita kaya dan berstatus sosial tinggi, suatu ketika masuk surga. Lalu, Santo Petrus menunjukkan sebuah rumah yang sangat bagus kepadanya dan berkata, "Ini rumah sopir Anda." "Bagus sekali," kata wanita itu. "Kalau untuk dia saja sudah demikian bagus, rumah saya pasti lebih bagus lagi," lanjutnya.

Kemudian, Santo Petrus menunjukkan satu pondok kecil dan berkata, "Itu rumahmu." "Oh, tidak. Saya tidak bisa hidup dalam pondok kecil," sahut wanita kaya. "Maaf, Bu," kata Santo Petrus. "Hanya pondok seperti itu yang bisa saya buat dari material yang Ibu kirimkan kepada saya."  

Menurut Fulton J. Sheen, hal-hal yang kita lakukan di dunia ini sesungguhnya tidak begitu penting. Sebab yang paling penting adalah seberapa besar cinta kita dalam melakukan hal-hal itu. Seorang penyapu jalan yang menerima salib hidupnya dalam nama Tuhan, akan diangkat dari status kehidupannya; meskipun ia dianggap hina oleh sesamanya.

Status hidup kita di dunia ini sangat ditentukan oleh status ekonomi. Sedangkan di mata Tuhan, kita dinilai dengan ukuran yang lain: apakah kita melaksanakan kehendak-Nya atau tidak. 

Selasa, 24 Maret 2026

Daun di Antara Bebatuan

Betapa sulit menyapu sehelai daun yang terselip di antara batu-batu. Sapuan berulang sapu lidi, tak mampu membuat daun bergeser dari celah batu. Tak ada cara lain, tangan si penyapu harus mengambil daun tersebut dari antara bebatuan.
 
Adakah kita seperti sehelai daun itu? Dengan kekerasan hati, kita memilih tetap berkubang dalam kebiasaan-kebiasaan lama yang sangat merugikan. Sampai tangan Sang Juru Selamat mengangkat kita dari himpitan-himpitan di sekeliling kita.

Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama Tuhan: "Ya Tuhan, luputkanlah kiranya aku!".... Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu. (Mazmur 116:3-4, 7)
 
Angkatlah aku, ya Yesus.... bebaskan aku dari belenggu-belenggu yang merantaiku. Hantarkan aku ke tempat Engkau ingin aku berada.
 

Kamis, 19 Maret 2026

Doa untuk Kematian yang Bahagia

Bagi Santo Paus Yohanes Paulus II, setelah Santa Perawan Maria, Santo Yusuf adalah yang terbesar di antara para kudus; mengingat peran penting Santo Yusuf dalam kehidupan awal Yesus di dunia dan keikutsertaannya dalam karya penyelamatan umat manusia yang dirancang Allah.

Santo Yusuf diyakini meninggal sebelum Tuhan Yesus tampil di muka umum untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ketika terbaring dalam sakratul maut, Santo Yusuf didampingi oleh Santa Perawan Maria - istrinya dan Tuhan Yesus - Putranya. 

Demikianlah kondisi kematian yang bahagia bagi seorang manusia: didampingi Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Karena itu, umat kristiani dapat berdoa kepada Santo Yusuf untuk memohon kematian yang bahagia. 

Santo Yusuf yang kudus, aku memilih engkau pada hari ini sebagai pelindung istimewa dalam hidupku dan pada saat ajalku. Peliharalah dan tambahkanlah dalam diriku semangat doa dan semangat pengabdian kepada Tuhan. Jauhkanlah aku dari segala bentuk dosa; perolehkanlah bagiku rahmat agar kematian tidak datang tanpa aku mempersiapkan diri, melainkan aku beroleh waktu untuk mengakukan dosa-dosaku dalam Sakramen Tobat dan menangisinya dengan pemahaman yang paling sempurna dan tobat yang paling tulus, sehingga aku boleh menghembuskan jiwaku ke dalam tangan Yesus dan Bunda Maria. Amin.
 

Senin, 02 Maret 2026

Yang Terpenting dalam Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami merupakan doa paling ringkas dan indah, yang diajarkan Yesus sendiri semasa hidup-Nya di dunia ini kepada para murid-Nya. Kalimat-kalimat dalam doa Bapa Kami dapat dipilah ke dalam beberapa bagian, lalu diuraikan maknanya.

Kita tidak akan membahas uraian doa Bapa Kami di sini. Namun, jika Anda perhatikan, ada satu hal sangat menarik. 

Setelah Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, Ia menutup pengajaran-Nya dengan berkata, "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15)

Pernyataan Yesus itu memberi arti bahwa dari semua kalimat pujian dan permohonan yang ada dalam doa Bapa Kami, kalimat terpenting yang diulangi Yesus adalah tentang pengampunan: mengampuni kesalahan orang lain, supaya Bapa juga mengampuni kesalahanku.

Di masa Prapaskah ini, ujud pertobatan paling nyata adalah mengampuni orang yang bersalah kepadaku, yang telah membuat aku menderita. Tuhan Yesus, mampukan aku melakukannya.