Kamis, 30 Juli 2026

Beda ke Pasar dengan ke Gunung

Tentu ada perbedaan antara kita akan pergi ke pasar atau kita akan mendaki ke gunung. 

Kalau mau ke pasar, kita tahu pasar mana yang dituju, jalan untuk sampai ke sana sudah tergambar dengan jelas. Sedangkan saat kita akan naik ke gunung, meskipun kita tahu gunung yang dituju, kita belum tahu secara pasti jalan untuk sampai ke puncaknya.

Perjalanan spiritual lebih seperti perjalanan mendaki ke gunung. Tujuannya sudah jelas: Kerajaan Allah. Jalan untuk mencapai "gunung" itu sudah tergambar, namun ketika kita menempuh jalan itu, terkadang kita menemukan "jalan" yang bercabang. Muncul keraguan, jalan mana yang harus kita pilih. 

Perjalanan berlanjut, muncul tantangan-tantangan lain. Para pendaki gunung memakai kompas untuk menentukan arah yang akan dijalani. Kita pun perlu "kompas" yakni Firman Tuhan untuk memastikan kita berada di jalan yang benar mencapai tujuan. 

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya..... Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. (Mazmur 119:97-98, 101)

Minggu, 19 Juli 2026

Gandum dan Lalang - Tanda Kepercayaan Tuhan

Perumpamaan gandum dan lalang dalam Matius 13:24-30, memberi kita pemahaman tentang kepercayaan Tuhan kepada anak-anak Kerajaan Allah.

Ketika melihat ada lalang di antara gandum, hamba-hamba pemilik ladang bertanya kepada pemilik ladang; apakah Tuan mau supaya lalang dicabut? Tetapi, tuannya mengatakan, kalau lalang dicabut, mungkin nanti ada gandum yang ikut tercabut. "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai." (Matius 13:30a)

Dalam penjelasan tentang perumpamaan lalang dan gandum, Yesus mengatakan:

- Ladang = dunia

- Orang yang menabur benih yang baik = Anak Manusia

- Benih yang baik = anak-anak Kerajaan Allah

- Musuh yang menabur lalang = iblis

- Benih lalang = anak-anak si jahat

- Waktu menuai = akhir zaman

Mencermati perumpamaan itu, tak perlu lagi kita mempertanyakan ada orang-orang jahat di dunia ini. Memang Tuhan membiarkan anak-anak Kerajaan Allah hidup berdampingan dengan anak-anak si jahat. Mengapa?

Seorang imam yang membawakan homili tentang perumpamaan ini, mengungkapkan hal menarik: Anak Manusia (Yesus) tidak setuju hamba-hamba-Nya mencabuti lalang, karena sebagai Penabur, Yesus yakin benih-benih yang ditabur-Nya adalah benih-benih yang baik. Benih-benih yang baik akan dapat bertahan terus sampai waktu menuai tiba. 

Bagaimana dengan kita? Sebagai anak-anak Kerajaan Allah, apakah kita sanggup bertahan di tengah berbagai tantangan zaman ini, di antara lalang-lalang yang mencoba menjerat kita dengan bermacam daya tarik dunia?

Sang Penabur benih yang baik menaruh kepercayaan-Nya yang besar kepada kita. Ia berharap, pada akhir zaman Ia akan melihat orang-orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa (lihat Matius 13:43).

Kamis, 16 Juli 2026

Penyembuhan Sejati

Belakangan ini marak ibadat dan sarasehan bertema penyembuhan. Tema penyembuhan bagai magnet berdaya besar yang menarik umat datang. Ada orang-orang yang selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan rohani untuk penyembuhan.

Ada pula yang sama sekali tidak tergerak mengikuti acara-acara penyembuhan; meskipun menghadirkan imam-imam dengan kuasa menyembuhkan, atau pembicara-pembicara terkenal yang ceramahnya sangat pas menghibur kecemasan dalam hati.

Sebagai manusia, kita semua menerima salib sakit-penyakit. Apalagi dengan usia makin bertambah, kita semua tak luput dari penyakit-penyakit degeneratif. Kita percayakan saja semuanya kepada Sang Pencipta dan Penyelenggara Kehidupan. 

Meski tubuh fana ini kian rapuh digerus berbagai penyakit seiring penuaan, marilah kita merangkul salib ini dengan hati penuh kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Cukuplah kita mendekat ke Ibu Surgawi Tersuci, yang menjadi Pengantara Segala Rahmat Allah, agar ia bermurah hati menyembuhkan kita seturut kasih karunia Tuhan.

Pada saat seluruh kedirian kita telah mencapai titik penerimaan diri dalam kepasrahan kepada Tuhan, maka akan terjadi penyembuhan yang sejati; yang melampaui segala sakit. Karena sudah tidak ada lagi pergumulan, hati kita diliputi rasa damai.

Rabu, 01 Juli 2026

Kebersamaan Kita

Bacaan dari kitab Hosea 2:14-20 sangat mengena di hatiku, ya Tuhan. Seperti itulah aku merasakan, kehadiran-Mu dalam kehidupanku. Engkau telah membujukku untuk mau berjalan bersama-Mu di padang gurun. Di sanalah Engkau menenangkan hatiku. Melalui berbagai tantangan dan pencobaan yang aku alami ketika "menggarap kebun anggur" yang Engkau berikan kepadaku, aku belajar mengenal-Mu dan tetap menujukan pandanganku kepada-Mu.

Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!... Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. (Hosea 2:16, 19-20)

Terima kasih, Allah Tritunggal dan Bunda Maria!


Senin, 15 Juni 2026

Sepuluh Tahun Silam

Terima kasih sapaan kasihmu, Ibu Surgawi
yang membuatku sadar dan berbalik ke jalan Tuhan
Berjumpa denganmu laksana menemukan mutiara 
yang selama ini tak terlihat 
Untuk itu aku sangat bersyukur dan bertekad
tak akan menjauh darimu selamanya
 

Sabtu, 13 Juni 2026

Tidak Tahu Dosa

Sejak Santa Perawan Maria masih kanak-kanak, orang tuanya menyerahkan putri mereka ke Bait Allah. Maria kecil tumbuh dalam lingkungan yang mengutamakan kesucian. Ia tidak tahu tentang bermacam dosa dan kejahatan di sekitarnya. Hatinya menjadi suci dan tidak ternoda oleh dosa.

Kita hidup di tengah dunia yang mengedepankan kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Keinginan menonjolkan diri, menumpuk harta, ambisi menjadi penguasa - dalam skala apa pun; membuat manusia bersaing. Muncul sikap iri hati, melakukan dan membenarkan segala cara untuk menjadi yang berkuasa, berharta, dan berjaya. Akibatnya, manusia kehilangan kesucian hatinya.  

Di hari peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, kita dapat belajar darinya. Kita berupaya memiliki hati yang suci dengan selalu mengarahkan hati kita kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Perawan Tersuci semasa hidupnya di dunia.

Jumat, 12 Juni 2026

Menyelami Hati Mahakudus Yesus

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Matius 11:29)

Dengan memiliki hati yang lembut dan rendah hati, seperti Kristus sendiri, kita dapat menyelami rahasia Hati-Nya yang Mahakudus.