Minggu, 19 April 2026

Kembali dari Emaus

Dalam Lukas 10:1-12, dikisahkan Yesus mengutus 70 murid, di samping 12 rasul yang telah dipilih Yesus sebelumnya. Ke-70 murid ini diutus Yesus berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus.

Penginjil Lukas mencatat, kemudian ke-70 murid itu kembali dengan gembira mendapati Yesus dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takhluk kepada kami demi nama-Mu." (Lukas 10:17)

Dari kisah tersebut, berarti ada 35 kelompok murid Yesus yang masing-masing terdiri dari dua murid. Ketika Lukas menceritakan Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35), yang dimaksudkan Lukas tentu dua orang dari ke-70 murid Yesus.

Dua murid memilih meninggalkan kota Yerusalem. Mereka ingin mengasingkan diri ke Emaus lantaran patah harapan. Yesus yang dielu-elukan bakal jadi raja ketika memasuki kota Yerusalem, malah dihukum mati di kayu salib. Sirna sudah kebanggaan sebagai murid-murid Yesus yang berkuasa mengalahkan setan-setan.

Tuhan Yesus memilih mendekati kedua murid-Nya itu, bukan 68 murid-Nya yang lain. Ia menemani mereka dalam perjalanan, sambil bercakap-cakap tentang diri-Nya yang ditulis dalam Kitab Suci. 

Kedua murid masih belum menyadari Orang yang bersama dengan mereka sepanjang perjalanan, meskipun mereka mengakui hati mereka menjadi berkobar-kobar ketika Orang yang menemani mereka berbicara tentang Kitab Suci.

Mereka meminta Yesus tinggal bersama karena hari telah malam. Pada saat makan; Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu terbukalah mata hati mereka. Kedua murid mengenali Yesus. 

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus dapat menjadi refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Sering kali kita memilih pergi menjauh, karena tidak ada harapan lagi. Entah dalam kehidupan di keluarga, di kantor, di tempat pelayanan, atau kondisi kita lainnya.

Kita merasa sendirian menempuh perjalanan hidup, padahal Tuhan Yesus selalu mendampingi. Kita tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya, karena mata hati kita tertutup berbagai masalah dan kepahitan hidup yang kita alami.

Seperti kedua murid yang mengajak Yesus tinggal bersama mereka, hendaknya kita pun membuka diri dan hati, mengajak Yesus masuk dan tinggal dalam kehidupan kita. 

Melalui Ekaristi, kita akan memperoleh kekuatan dari Yesus untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. Bahkan kobaran semangat-Nya begitu besar, sehingga membuat kita berbalik dari kepedihan kita, mewartakan Kristus melalui kehidupan kita sehari-hari.

Rabu, 01 April 2026

Beda Dunia dengan Surga

Dalam buku Misteri Tujuh Sabda Yesus di Salib dan Bunda Maria dalam Injil, ada satu kisah menarik yang ditulis Uskup Agung Fulton J. Sheen. Berikut salinannya:

Seorang wanita kaya dan berstatus sosial tinggi, suatu ketika masuk surga. Lalu, Santo Petrus menunjukkan sebuah rumah yang sangat bagus kepadanya dan berkata, "Ini rumah sopir Anda." "Bagus sekali," kata wanita itu. "Kalau untuk dia saja sudah demikian bagus, rumah saya pasti lebih bagus lagi," lanjutnya.

Kemudian, Santo Petrus menunjukkan satu pondok kecil dan berkata, "Itu rumahmu." "Oh, tidak. Saya tidak bisa hidup dalam pondok kecil," sahut wanita kaya. "Maaf, Bu," kata Santo Petrus. "Hanya pondok seperti itu yang bisa saya buat dari material yang Ibu kirimkan kepada saya."  

Menurut Fulton J. Sheen, hal-hal yang kita lakukan di dunia ini sesungguhnya tidak begitu penting. Sebab yang paling penting adalah seberapa besar cinta kita dalam melakukan hal-hal itu. Seorang penyapu jalan yang menerima salib hidupnya dalam nama Tuhan, akan diangkat dari status kehidupannya; meskipun ia dianggap hina oleh sesamanya.

Status hidup kita di dunia ini sangat ditentukan oleh status ekonomi. Sedangkan di mata Tuhan, kita dinilai dengan ukuran yang lain: apakah kita melaksanakan kehendak-Nya atau tidak.