Minggu, 07 Juli 2013

Ujian Tingkat Lanjut

Beberapa hari sebelum kami sakit, putriku mengatakan, sekarang Engkau akan mengujiku melalui dirinya. Aku masih tenang saja, sampai tiba-tiba putriku menderita sesak napas di dada kanan dan timbul bercak-bercak merah di wajah dan sekujur tubuhnya. Dari diagnosis dokter, putriku menderita sakit campak (measles). Masih menurut dokter, penyakit ini sangat menular, karena itu disarankan putriku tidur terpisah.

Di hari yang sama, menjelang malam hari, aku mulai merasakan gejala serupa. Tubuh menggigil dan demam, mata pedas, persendian sakit. Ah, bagaimana aku bisa merawat putriku yang sakit, kalau aku sendiri sakit? Aku mulai melirik jalan pintas: ke rumah sakit, dirawat sekamar berdua.

Rumah sakit yang biasanya penuh pasien sehingga harus mengantre, kali ini begitu aku menelepon, kamar tersedia. Inikah jalanMu atau godaan? Aku teringat, aku telah bertekad tidak mau diopname lagi setelah tiga kali aku keluar-masuk rumah sakit dalam kurun 14 bulan. Terakhir aku diopname karena muntah dan diare pada pertengahan Januari 2013.

Tentu saja, aku berusaha memegang teguh komitmenku kepadaMu. Lalu, muncul suara yang membujukku: "Hei, kasus ini berbeda. Yang sakit bukan hanya dirimu, tetapi juga anakmu. Bagaimana kau bisa merawat orang sakit sementara kau sendiri sakit? Di rumah sakit, kau tak perlu pusing memikirkan makanan dan sebagainya."  

Malam itu angin bertiup kencang, hujan turun. Dalam cuaca seperti ini, rasanya bukan tindakan bijak pergi ke rumah sakit dengan taksi. Aku menunda keputusanku sampai keesokan hari. 

Aku bangun dengan hati bimbang. Aku memohon kepadaMu untuk menunjukkan kehendakMu. Suara lembut dalam hati mengatakan agar aku menyimak bacaan hari ini. Di situlah aku akan mendapatkan jawabanMu.

Bacaan Kamis lalu (4 Juli) mengisahkan tentang iman Abraham yang diuji sehabis-habisnya oleh Tuhan. Abraham diminta mengurbankan Ishak, anak tunggal kesayangannya. Meski berat, tanpa bertanya, Abraham menaati kehendak Tuhan. (lihat Kejadian 22:1-19) Kemudian, bacaan Injil hari itu mengulas tentang orang lumpuh yang Engkau sembuhkan karena keteguhan imannya. (Matius 9:1-8)   

Bacaan tersebut sama dengan situasi yang kualami sekarang. Engkau memintaku keteguhan imanku untuk berani "mengurbankan" putriku untukMu. Membiarkan Engkau yang menjamah dan menyembuhkannya, tanpa ketergantungan besar pada kenyamanan pengobatan di rumah sakit.

Dalam keterbatasan fisikku yang menderita sakit pula, aku memercayakan segalanya kepadaMu. Benarlah yang dikatakan putriku, sekarang Engkau mengujiku melalui dirinya. Ujian yang hanya menyangkut diri sendiri lebih mudah dihadapi, daripada ujian yang menyangkut orang-orang yang disayangi.

Engkau menempatkanku pada ujian tingkat lanjut ini untuk semakin memurnikan relasiku denganMu. Seperti Abraham, aku mau melaksanakan perintahMu tanpa mempertanyakannya.
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar