Rabu, 31 Desember 2014

Memahkotai Tahun

Apa pun yang telah aku alami,
apa pun yang bakal aku alami,
aku mau senantiasa mengucap syukur kepadaMu,
karena aku tahu di balik semua peristiwa,
Engkau selalu memahkotai tahun 
dengan kebaikanMu 
(lihat Mazmur 65:11a)

Kamis, 25 Desember 2014

Tak Perlu Mencari Penginapan Lagi

Di tengah malam gelap dan sunyi,
ketika penduduk kota Betlehem telah terlelap,
AyahMu mencari penginapan,
IbuMu menahan sakit menjelang persalinan.

Beberapa rumah menolak menerima,
tak ada ruang tersisa untuk Ayah dan IbuMu,
apalagi ditambah Seorang Bayi yang akan lahir,
mereka tak mau terusik di tengah kenyamanan.

Menjelang perayaan hari lahirMu,
rumah kami telah selesai dibangun,
Ayah dan IbuMu tak perlu mencari penginapan lagi,
tinggallah seterusnya di sini.

Inilah rumah yang akan menjadi RumahMu,
tempat Ayah dan IbuMu membesarkanMu,
kami siap menjadi pelayan-pelayanMu,
senantiasa bersamaMu di bawah satu atap.

Kamis, 18 Desember 2014

Semarak Menyambut KelahiranMu

Hari-hari ini, ketika berjalan dalam mal-mal anyar, kita dapat merasakan begitu semarak aneka hiasan dan lagu-lagu yang dikumandangkan untuk menyambut perayaan Natal. Hati kita dipenuhi rasa sukacita menikmati kesemarakan itu.

Semoga, hati setiap orang juga memiliki semarak yang sama, karena menerima kehadiran Sang Bayi Mungil nan suci dalam hidup mereka. Jika ini terjadi, maka kemilau indah aneka hiasan dan kidung gembira yang digemakan di pusat-pusat perbelanjaan akan semakin memberi makna, bukan sekadar ritual perayaan tahunan.

Minggu, 07 Desember 2014

Lega....

Tenangkanlah hatimu, 
perhambaanmu sudah berakhir, 
kesalahanmu telah diampuni,
sebab engkau telah menerima hukuman 
dari tangan Tuhan dua kali lipat
karena segala dosamu.

(lihat Yesaya 40:2, bacaan pertama dalam Perayaan Ekaristi di minggu Adven ke-2) 

Jumat, 05 Desember 2014

Teringat Dosa Lama

Masa Adven - penantian akan kedatanganMu. Ajakan untuk bertobat menggema - menyucikan hati, agar pantas menerima kehadiran Engkau, Sang Juru Selamat.

Merefleksikan perjalanan hidup untuk menggali dosa-dosa yang masih tersisa dan perlu diakui, membuatku teringat akan dosa lama. Tiga dosa besar itu telah aku akui dalam Sakramen Rekonsiliasi hampir lima tahun silam, menjelang Natal seperti sekarang.

Engkau telah mengampuniku, menebusku dengan Darah suciMu. Sejauh timur dari barat, Engkau menjauhkan aku dari pelanggaranku. (lihat Mazmur 103:12)

Semestinya semua sudah selesai. Namun, ingatan akan dosa lama itu dimanfaatkan si jahat untuk merenggangkan relasiku denganMu. Aku jadi merasa tak pantas berada dalam hadiratMu. Aku menarik diri, melangkah mundur dari hadapanMu. Aku enggan menyapaMu, apalagi berbincang secara pribadi denganMu. Rasanya malu, tak layak.

Sesaat terasa hampa. Ah... di pojok sana si jahat menyeringai.
Bertepuk tangan penuh kemenangan. 

Hei, apa yang terjadi denganku?

Dengan sikapku seperti ini, bukankah berarti....
aku meragukan pengampunanMu,
aku menolak kerahimanMu,
aku menghancurkan kedekatan relasi yang telah terbangun di antara kita.

Ampuni, aku, ya Yesus.
Engkau adalah Gembala yang rela meninggalkan 99 ekor domba
hanya untuk mencari seekor domba yang hilang.
Engkau adalah Ayah yang selalu mengasihi,
meskipun si anak telah menghamburkan harta warisan.

Aku kembali kepadaMu, apa adanya.
     

Minggu, 23 November 2014

Menukar Allah dengan Alam

Belakangan ini, sebagian orang lebih memilih memakai kata "alam" daripada kata "Allah" untuk menggambarkan Kemahakuasaan. Beberapa contoh: alam menganugerahkan warna-warni yang luar biasa, alam mendatangkan apa yang terbaik untuk kita pada saatnya, alam memberikan pelajaran yang berharga.

Mungkin penggunaan kata "alam" dipandang lebih netral dan dapat diterima semua kalangan, ketimbang kata "Allah" yang terkesan membatasi pemahaman dan merujuk pada agama-agama monoteisme.

Mungkin pula pada zaman di mana penduduk dunia penat akan hiruk-pikuk duniawi dan meditasi menjadi semacam oasis yang melegakan batin - bersamaan dengan itu masuklah pengaruh Buddhisme yang menekankan pada sistem hubungan kausal yang mendasari alam semesta sebagai tatanan alam dan sumber pencerahan. Menurut ajaran Buddha, manusia harus mempelajari alam untuk mencapai kebijaksanaan pribadi. (sumber: Wikipedia)

Namun, sebagai pengikut Kristus hendaklah kita jangan terkecoh. Siapakah yang sebenarnya memberikan segala sesuatu untuk kita? Siapa yang lebih berkuasa: Allah yang menciptakan alam semesta atau alam itu sendiri?

Hari ini ada sebuah perhelatan besar di tempat terbuka. Seperti lazimnya acara-acara penting, panitia merasa tenang karena telah menyewa pawang hujan. Tetapi, langit berangsur mendung pekat dan hujan cukup deras tercurah di tengah hari. Pawang hujan tak sepenuhnya mampu mengendalikan alam yang ada di bawah kuasa Sang Pencipta.

Perayaan Kristus Raja Alam Semesta meneguhkan keyakinan: manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta yang sangat luas. Dan alam semesta ini bukan penguasa sebenarnya, karena ia pun diciptakan oleh Allah Yang Mahakuasa. Janganlah kita menukar Allah dengan alam.

Jumat, 21 November 2014

7 Kondisi Penghuni Dunia Saat Ini

Hari-hari ini, ketika kita semakin mendekati perayaan Kristus Raja Semesta Alam, Tuhan Yesus mengingatkan kita akan kondisi penghuni dunia saat ini - sama seperti yang disampaikanNya kepada rasul Yohanes dalam kitab Wahyu - dengan meminta Yohanes menuliskan surat kepada tujuh malaikat jemaat di Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. (lihat Wahyu 2:1-29 dan Wahyu 3:1-22)

1. Ada penghuni dunia ini yang berbuat baik dan benar, tetapi tak memiliki relasi pribadi dengan Tuhan.
2. Ada penghuni dunia ini yang hidup miskin dan susah.
3. Ada penghuni dunia ini yang menjadi penganut ajaran-ajaran sesat.
4. Ada penghuni dunia ini yang jatuh pada dosa perzinahan.
5. Ada penghuni dunia ini yang terjerat hal-hal duniawi, tidak waspada.
6. Ada penghuni dunia ini yang menuruti firman Tuhan, tidak menyangkal dan tekun menantikanNya.
7. Ada penghuni dunia ini yang tidak peduli sekitarnya karena sudah kaya harta.

Termasuk penghuni dunia yang manakah kita?

Yang dikehendaki Tuhan Yesus menjelang kedatanganNya adalah
- bertobat
- senantiasa berjaga-jaga
- setia sampai mati

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. (Wahyu 2:7, 11, 17, 29 dan Wahyu 3:6, 13, 22)

Kamis, 20 November 2014

Hati yang Penuh CintaMu

Tuhan Yesus, 
berilah aku hati yang penuh dengan CintaMu,
agar aku dapat mencintai semua ciptaanMu 
seperti Engkau mencintai mereka.

Minggu, 16 November 2014

Talenta = Kerajaan Allah = Kasih

Perumpamaan tentang talenta sering kali dimaknai sebagai pemberian bakat, kecerdasan, keterampilan dariMu kepada setiap manusia ciptaanMu. Namun, dalam pemahaman hari ini aku memandang talenta itu sebagai Kerajaan Allah.

Kepada setiap insan yang datang kepadaMu, Engkau menyampaikan warta tentang Kerajaan Allah. Ada orang yang memperoleh pemahaman mendalam tentang Kerajaan Allah - Engkau mengumpamakannya sebagai orang yang diberi lima talenta; tetapi ada pula orang yang mendapatkan pemahaman cukup saja tentang Kerajaan Allah - diberi dua talenta. Orang yang lain lagi, hanya memperoleh sedikit pemahaman tentang Kerajaan Allah - diberi satu talenta.

Engkau berharap, orang yang hanya memperoleh pemahaman sedikit tentang Kerajaan Allah bersikap proaktif, sehingga pemahamannya dapat bertambah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "proaktif" berarti "lebih aktif." Tetapi, bukannya bersikap proaktif, orang yang hanya sedikit memahami Kerajaan Allah itu malah enggan mengembangkan pemahamannya.

Ketika murid-muridMu menanyakan, mengapa Engkau berbicara kepada orang banyak dengan memakai perumpamaan? KataMu, murid-muridMu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi orang banyak itu tidak. (lihat Matius 13:10-11)

Mengetahui rahasia Kerajaan Sorga sama dengan memiliki pemahaman mendalam tentang Kerajaan Allah. Allah adalah Kasih, itulah yang Engkau wartakan selama hidup di dunia dan terus digemakan oleh para rasulMu setelah Engkau kembali ke Surga. Memiliki pemahaman mendalam tentang Kerajaan Allah berarti menyadari bahwa Kasih bertakhta di dalam KerajaanMu. Kasih itu pula hendaknya merajai hidup manusia, seperti telah Engkau katakan di dalam kedua hukum - mengasihi Allah dan mengasihi sesama - tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (lihat Matius 22:37-40).

Jikalau kita merasa masih sedikit memiliki pemahaman tentang Kerajaan Allah, kita dapat terus menggalinya dengan tekun berdoa, membaca Kitab Suci, dan menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan Yesus. Ia akan membukakan mata rohani kita untuk mengasihi, mengasihi, dan mengasihi - tanpa syarat dan tanpa batas seperti yang dicontohkanNya.

Dan Ia pun menjanjikan, setiap orang yang telah memiliki Kasih, akan diberi Kasih sehingga ia berkelimpahan. Sedangkan orang yang tidak mempunyai Kasih, apa pun yang ada padanya akan diambil. (bandingkan Matius 25:29)  

Kamis, 13 November 2014

Kerajaan Allah

Saat aku berjalan bersamaMu dalam persatuan Roh, saat itulah aku berada dalam Kerajaan Allah.

KataMu, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Sebab, sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." (lihat Lukas 17:20-21)

Ketika Allah meraja di hati, kita memancarkan Kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita - menghadirkan Kerajaan Allah di hadapan sesama. 


Senin, 03 November 2014

Perjumpaan yang Membahagiakan

Kematian sejatinya hanya istilah manusia di dunia. Dalam kata "kematian" tercakup penderitaan, kesengsaraan, dan kesedihan; terutama bagi kita yang ditinggal mati oleh orang yang kita kasihi. Secara fisik orang yang kita kasihi itu tidak lagi dapat kita pandang, sentuh, dan ajak berkomunikasi. Tubuh jasmaninya telah tak bernyawa, menjadi jasad beku tanpa makna. Tubuh itu pun tak berguna lagi, sehingga kita yang masih hidup perlu memakamkan atau mengkremasi jasad tersebut.

Dalam dunia roh, tidak dikenal kata "kematian," karena roh tidak pernah mati. Jiwa dan roh manusia terpisah dari tubuh yang ditumpanginya selama hidup di dunia, karena sudah tiba saatnya si pemilik roh dan jiwa itu kembali kepada Sang Pencipta. Pemberi Napas Kehidupan memanggilnya pulang, memandang peziarahan manusia tersebut di dunia sudah cukup.

Setelah Yesus Kristus membinasakan musuh terakhirNya, yaitu maut (lihat 1 Korintus 15:26), bagi orang beriman yang percaya kepada Kristus, tidak ada lagi kata "kematian." Ketika jiwa dan roh melesat dari tubuh, yang terjadi selanjutnya adalah perjumpaan yang membahagiakan dengan Kristus Raja Semesta Alam. Dia yang begitu mengasihi kita, menyatukan jiwa dan roh kita dengan RohNya, membawa kita ke Rumah Bapa yang memiliki banyak tempat tinggal.    

Dengan penuh iman dan sukacita kita menantikan perjumpaan yang membahagiakan itu, karena kita percaya akan perkataan dan janjiNya: Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yohanes 14:2-3)


Sabtu, 01 November 2014

Memiliki Karakter-Karakter Allah

Menjadi kudus adalah sasaran tertinggi yang perlu dicapai manusia dalam hidup ini. Mengapa? Allah telah mengatakan, "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus." (Imamat 19:2)

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (lihat Kejadian 1:26), maka pada dasarnya - menurut asalnya - kita memiliki karakter-karakter Allah. Namun, karena dosa-dosa yang melingkupi, kita kehilangan gambar dan rupa Allah dalam diri kita.

Perjuangan sehari-hari kita di dunia adalah mengusahakan semaksimalnya, agar karakter-karakter Allah tetap tercermin dalam diri kita. Dengan menakhlukkan diri, mengatasi berbagai godaan, menyingkirkan kuasa gelap dan iblis - kita menjadi pemenang yang menampilkan wajah Allah di hadapan sesama manusia.

Memiliki karakter-karakter Allah secara permanen dalam diri, akan membuat kita mampu mencapai kekudusan, yang selanjutnya menghantar kita pada kesempurnaan. "Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48)

Jumat, 31 Oktober 2014

Kebenaran di Atas Kebaikan

Seorang dosen mengusulkan ke bagian kemahasiswaan, agar nama putriku dimasukkan dalam daftar penerima beasiswa bagi para asisten dosen. Suatu perbuatan yang baik. Tetapi, putriku bukan asisten dosen.

Putriku diminta menyerahkan nomor rekening buku tabungannya, agar beasiswa dapat dikirim ke sana. Beberapa hari berselang, putriku membatalkannya. Aku menanyakan alasannya. Ia mengatakan, suara hatinya berbisik: "Mengambil jatah orang lain yang sebenarnya bukan hak dirinya sama seperti korupsi."

Aku terperangah, aku tak berpikir sejauh itu. Aku hanya melihat kebaikan dan menghormati sang dosen. Namun, aku sepenuhnya membenarkan sikap putriku. Ternyata, sesuatu yang tampaknya baik belum tentu benar. Seperti seseorang ingin menengok temannya yang sedang sakit. Ia tahu temannya sangat suka buah mangga. Lalu, ia memetik beberapa buah mangga di kebun tetangga untuk diberikan kepada temannya. Suatu niat yang baik, tetapi tidak dilakukan dalam koridor yang benar.

Pengalaman ini menjadikanku perlu lebih waspada dalam menghadapi berbagai intrik duniawi. Berikan aku selalu terang Roh KudusMu, ya Yesus, agar aku dapat memilah-milah dengan bijak mana yang:
- benar dan baik
- benar meskipun tidak baik
- tidak benar meskipun baik
- tidak benar dan tidak baik

Dalam penjelasan tentang perumpamaan lalang di antara gandum, Engkau telah mengatakan, pada akhir zaman malaikat-malaikatMu akan memisahkan gandum dari lalang. Lalang akan dibakar, sementara gandum disimpan dalam lumbung. Gandum melambangkan orang-orang benar, mereka akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa. (lihat Matius 13:36-43)

Perhatikan, yang masuk ke Kerajaan Bapa adalah orang-orang benar. Orang benar dengan hikmat yang dimilikinya akan melakukan perbuatan-perbuatan baik, sehingga ia juga menjadi orang baik. Tetapi, orang baik belum tentu ia pun orang benar.

Ukuran seseorang adalah orang baik dapat dilihat dari perbuatan-perbuatannya. Sedangkan ukuran seseorang adalah orang benar dapat dilihat dari ketaatan orang tersebut terhadap perintah/ajaran dan kehendak Tuhan.    

Tanpa kompromi, Kebenaran harus diletakkan di atas kebaikan.


Kamis, 30 Oktober 2014

Harapan dan Kerinduan

Dalam Injil, Engkau jarang sekali mengungkapkan harapan dan kerinduanMu. Tetapi, seminggu lalu Engkau menyatakan harapanMu melihat api yang Kau lemparkan ke bumi selalu menyala. (lihat Lukas 12:49) Dan hari ini Engkau mengatakan kerinduanMu mengumpulkan anak-anak Yerusalem, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap. (lihat Lukas 13:34b)

Api yang Kau lemparkan ke bumi adalah Api Roh Kudus. Orang-orang yang menerima Api Roh Kudus memiliki Engkau di dalam diri mereka. Dengan Api Roh Kudus yang selalu menyala dalam diri manusia, kerinduanMu untuk mengumpulkan anak-anak Allah di bawah naunganMu akan tercapai.

Apa pun akan kita lakukan untuk memenuhi keinginan orang-orang yang kita kasihi. Terlebih lagi terhadap Kekasih Jiwa yang sangat jarang mengutarakan isi hatiNya yang terdalam. Peliharalah selalu nyala Api Roh Kudus dan ikuti bimbinganNya sampai kepada persatuan denganNya.    

Sabtu, 25 Oktober 2014

Jangan Diombang-Ambingkan

Seorang teman mengatakan, siaran televisi itu bagus. Setiap malam ada film yang menggambarkan penerapan kasih dalam kehidupan sehari-hari di keluarga. Yang diajarkan tentang kasih, sama seperti inti ajaran Kristus.

Seorang teman lain bercerita, ia mengikuti praktik olah batin yang menggunakan pendekatan keyakinan berbeda untuk memperoleh kesadaran akan diri sejati. Tujuannya bagus, selaras dengan kebaikan dan kedamaian yang diwartakan Kristus. 

"Waspadalah, supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu," pesanMu. (lihat Matius 24:4)

Banyak tayangan dan tawaran yang baik, tetapi belum tentu benar. Jangan terkecoh! Ujilah dengan berpatokan pada Alkitab. Mungkin saran ini seperti mengedepankan fanatisme, tetapi itulah yang perlu dilakukan jika ingin tetap berada di jalan yang benar. 

Rasul Paulus mengingatkan, kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Berpegang teguhlah kepada kebenaran di dalam kasih bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus yang menjadi Kepala. (lihat Efesus 4:14-15)

Jangan diombang-ambingkan. Teguhlah kepada Kebenaran!

Jumat, 24 Oktober 2014

Memutuskan Sendiri yang Benar

Setiap saat kita dihadapkan pada lebih dari satu pilihan, yang membuat kita mau tak mau harus mengambil keputusan untuk memilih. Mulai dari saat kita membuka mata di pagi hari, kita dihadapkan pada pilihan: segera bangun atau bermalas-malasan sebentar di tempat tidur?

Jika kita memutuskan untuk segera bangun, kita kembali dihadapkan pada pilihan berikutnya: langsung mandi atau sarapan dulu? Setelah kita memutuskan mengambil satu pilihan, muncul lagi hal-hal lain yang membuat kita terus-menerus harus mengambil keputusan, keputusan, keputusan....

"Mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?" kataMu. (lihat Lukas 12:57)

Memutuskan sendiri apa yang benar, tampaknya mudah untuk rutinitas sehari-hari yang tidak mengandung konsekuensi besar. Lalu, bagaimana jika kita harus mengambil keputusan untuk hal-hal yang berisiko tinggi, berdampak luas? 

Milikilah hikmat, maka kita akan dapat memutuskan segala hal dengan tepat!
Di mana hikmat dapat ditemukan? Ayub 12:13 mengatakan: Pada Allah ada hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.

Bagaimana dapat memperoleh hikmat? Nabi Daud dan putranya Salomo mengakui: permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Mazmur 111:10 dan Amsal 9:10). Dengan "takut" akan Tuhan dalam arti memberikan diri kita seutuhnya, percaya penuh kepada Tuhan, menjalin relasi yang akrab denganNya, maka kita akan mendapatkan hikmat.

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak, kata Salomo (lihat Amsal 16:16). Jika kita dapat memperoleh hikmat untuk jiwa kita, maka masa depan dan harapan kita tidak akan hilang (lihat Amsal 24:14).

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. (Mazmur 51:6)

Kamis, 16 Oktober 2014

Putih

Setelah menjalani proses kremasi selama tiga jam, petugas krematorium  memanggil kami. Kepada kami ditunjukkan tiga nampan berisi serpihan tulang-belulang Ibu. "Ini termasuk putih," kata petugas tersebut.

Petugas yang telah puluhan tahun menangani pembakaran jenazah itu lalu menjelaskan, tulang-belulang yang berwarna putih menandakan semasa hidup sang pemilik tulang adalah orang yang baik, hatinya bersih.

Ibu menjalani hidupnya di dunia selama 77 tahun dengan sangat sederhana, tanpa ambisi pribadi. Hari-hari Ibu disibukkan dari pagi sampai malam dengan melayani keluarga tanpa pamrih. Orang-orang kecil yang ada di sekitar tak luput dari perhatian besar Ibu.

Setelah ayah berpulang tahun 2003, kami - enam anak Ibu - sibuk mengurus keluarga masing-masing, Ibu banyak menghabiskan waktu dalam kesendirian. Keceriaan Ibu hilang, berganti dengan kecemasan yang kerap kali melingkupi beliau.

Kami mengira Ibu bisa berangsur menjadi kuat kembali, seperti ketegaran beliau menghadapi aneka tantangan kehidupan selama ini. Nyatanya, Ibu semakin melemah, apalagi beberapa penyakit yang mendera tubuh beliau.  

Setelah sepuluh tahun hidup dalam kelimbungan akibat kehilangan ayah yang selama ini menjadi tumpuan hidup, Ibu mengikuti Bunda Maria, ayah beliau, dan suami beliau (ayah kami) yang datang menjemput beliau seiring munculnya fajar 15 Oktober 2013. 

Bagiku, Ibu adalah teladan kejujuran, kesederhanaan, kesetiaan, dan ketegaran. Aku bersyukur kepadaMu, yang telah memberiku contoh nyata seorang Ibu yang menjalani kehidupan di dunia ini dengan ketulusan hati.

Kini Ibu telah menikmati kebahagiaan kekal bersama kedua orangtua beliau dan suami tercinta dalam Kerajaan KudusMu.

Serpihan tulang-belulang berwarna putih menjadi bukti: ada kaitan antara yang batiniah dan yang lahiriah, antara sikap dan perilaku seseorang semasa hidup di dunia dengan warna tulangnya. 

Senin, 13 Oktober 2014

Tidak Mengenakan Pakaian Pesta

Perjamuan pesta telah disiapkan raja, tetapi para undangan tidak mau hadir. Lalu, sang raja minta hamba-hambanya mengajak semua orang yang ditemui di persimpangan-persimpangan jalan untuk datang memenuhi ruangan pesta.

Orang-orang di persimpangan jalan itu ada orang-orang jahat dan orang-orang baik, tetapi mereka semua telah mengenakan pakaian pesta. Hanya satu orang yang berada di dalam ruangan pesta, tetapi tidak mengenakan pakaian pesta.  

"Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?" tanya sang raja. Tetapi orang itu diam saja. (lihat Matius 22:12)

Rasul Paulus mengatakan, semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. (lihat Galatia 3:27) Pakaian pesta kita adalah Kristus.

Tetapi, setelah kita dibaptis, sebagai manusia yang lemah, terkadang kita menanggalkan pakaian pesta kita. Kita lebih suka memakai pakaian yang praktis dan nyaman dikenakan pada tubuh kita, daripada mengenakan pakaian pesta yang "berat."

Jika karakter pribadi kita tidak lagi mencerminkan karakter-karakter Kristus, jika perilaku kita tidak lagi menyerupai perilaku Kristus, jika jalan kita menyimpang dari jalan Kristus - tengoklah apakah pada saat itu kita masih mengenakan pakaian pesta?

Jangan sampai kita tidak lagi mengenakan pakaian pesta, meski tetap berada dalam ruangan pesta. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dipanggil, tetapi tidak dipilih. (lihat Matius 22:14)

Minggu, 05 Oktober 2014

Cinta

Cinta adalah hal universal yang menjadi hakikat kehidupan. 
Semua agama mengajarkan cinta. 
Tetapi hanya Engkau yang menunjukkan Cinta Sejati 
- dengan mempersembahkan DiriMu seutuhnya 
dalam Kekudusan, 
demi keselamatan umat manusia.
Masih adakah cinta lain yang dapat dibandingkan dengan CintaMu?

Jumat, 26 September 2014

Perempuan-Perempuan yang MelayaniMu

Pepatah mengatakan, di balik kehebatan seorang laki-laki, tentu ada perempuan yang berperan. Agaknya kebenaran pepatah tersebut telah terbukti dari zaman ke zaman, bahkan semasa Yesus Kristus hidup di dunia.

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. (Lukas 8:1-3)

Hanya Injil Lukas yang menyinggung tentang keberadaan banyak perempuan dalam rombongan Yesus. Perempuan-perempuan itu mengikuti Yesus terus, setelah mereka disembuhkan dari roh jahat atau berbagai penyakit. Perempuan-perempuan itu melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka. 

Jika hanya sekadar telah disembuhkan dari penyakit atau dikeluarkan roh jahat dari dalam diri mereka, belum tentu perempuan-perempuan tersebut mau mengikuti Yesus terus. Tentu ada pesona tersendiri pada diri Yesus, yang membuat mereka tak bisa lepas dari Yesus.

Ketertarikan fisik, keunggulan Yesus merangkai kata-kata dalam pengajaran dan pembicaraan, kebaikan dan kemurahan hati Yesus,atau daya Ilahi yang terpancar dari Yesus - yang telah membuat perempuan-perempuan itu tak bergeming dari hadapan Yesus?  

Santo Lukas tidak merinci lebih jauh bagaimana sikap perempuan-perempuan itu saat berada dalam rombongan Yesus. Apakah di antara mereka ada kecemburuan satu sama lain karena ingin dirinya yang paling dekat dengan Yesus? Adakah intrik-intrik di antara mereka untuk bisa tampil semenarik mungkin, berupaya dengan berbagai cara untuk mengambil hati Yesus?

Bisa saja itu terjadi, kita tidak tahu. Tetapi dengan caraNya sendiri, Yesus tentu akan membawa mereka ke relasi yang lebih indah dan lebih jauh dari sekadar relasi manusiawi. Seiring berjalannya waktu, perempuan-perempuan itu akhirnya paham maksud dan makna sejati dari mengikuti Yesus.  

Persahabatan murni di antara dua manusia berjenis kelamin berbeda dapat terjadi, bila masing-masing pihak menyadari posisinya tanpa berusaha menguasai pihak lainnya. Kesadaran ini membuat kedua pihak dapat mengembangkan diri secara positif, bebas dari belenggu relasi duniawi, dan menghantar pada kekudusan kedua pihak.

Persahabatan di antara orang-orang kudus seperti St. Fransiskus Assisi dengan St. Clara Assisi, St. Teresa Avila dengan St. Yohanes Salib, St. Fransiskus de Sales dengan St. Frances de Chantal - merupakan contoh betapa relasi di antara mereka mendorong pada kekudusan satu sama lain.

Bagaimana dengan relasi antara para imam dengan umatnya? Apakah umat secara positif menyokong karya dan pelayanan imam-imam? Atau sebaliknya, umat - dalam hal ini kaum perempuan - malah lebih suka menggoda para imam, menarik mereka ke relasi duniawi ketimbang saling mendoakan dan bersama-sama berkembang menjadi orang-orang kudus?

.... tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Petrus 1:15-16)

Minggu, 21 September 2014

Penghargaan yang Sama

Melalui perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Matius 20:1-16), Engkau menggambarkan dengan jelas kemurahan hatiMu kepada semua pekerjaMu. Pekerja yang bekerja dari pagi di kebun anggurMu mendapat upah yang sama dengan pekerja yang baru mulai bekerja menjelang tengah hari dan petang. Bahkan Engkau membayarkan upah lebih dulu kepada pekerja yang masuk paling akhir.

"Terlambat aku mencintaiMu. Aku mencariMu di luar, padahal Engkau ada di dalam," kata Santo Agustinus. Ia bertobat dan dibaptis pada usia 33 tahun. Meski sudah terlambat dalam pandangannya, Agustinus masih diberi kesempatan mewartakan Kristus yang diimaninya selama 43 tahun lagi.

Berapa lama waktu yang Engkau berikan kepadaku, setelah aku menyerahkan diriku secara total kepadaMu? Terkadang aku merasa berkejaran dengan waktu. Aku ingin berbuat banyak untukMu, selagi aku masih berada di dunia ini.

Aku mengimani, semua dosaku telah Engkau ampuni melalui penebusanMu di Kayu Salib. Aku merasakan, betapa besar KasihMu kepadaku. Aku adalah orang yang berbahagia, karena itu aku ingin orang-orang lain mengalami kebahagiaan yang sama seperti yang aku rasakan. Keinginan tersebut membuatku sibuk merancang dan berbuat ini-itu, padahal mungkin bukan demikian yang Engkau inginkan dariku.

Aku terdiam, berhenti melangkah. Membiarkan Engkau mengarahkanku, menghantarku pada hal-hal yang memang perlu aku kerjakan menurutMu. Ternyata, kuk yang Kau pasang enak dan bebanku ringan. Aku hanya perlu mengosongkan diri, memberi ruang kepadaMu untuk bergerak di dalam aku.

Karyawan lama - karyawan baru, tidak masalah di mataMu. Engkau yang merekrut, Engkau tentu tahu job description kami masing-masing. Sekarang aku tak terlalu memusingkannya, biarlah Engkau sebagai CEO Kehidupan yang mengaturnya.

Bersama Santa Teresa Avila, aku mendaraskan doa ini: Perolehlah kembali waktu yang terbuang itu, ya Tuhan, dengan memberi aku rahmat sekarang dan di masa mendatang, supaya aku dapat menghadap Engkau, ya Tuhan, dengan berpakaian pengantin; sebab bila Kau kehendaki, Engkau dapat melakukannya. Amin.

Selasa, 09 September 2014

Pandangan yang Terhalang

Di tengah perjalanan, aku minta izin kepadaMu untuk sejenak menikmati pemandangan. Seperti biasa dan selalu, Engkau memberi kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih.

Pemandangan itu begitu indah dan menyenangkan, aku ingin tinggal lebih lama di sana. Tetapi, karena aku hanya minta izin sebentar, aku harus segera kembali berjalan bersamaMu.

Aku masih menengok ke belakang, berusaha tetap mempertahankan pemandangan itu, sementara kita telah mulai melangkah lagi melanjutkan perjalanan.

Aku masih membayangkan keindahan pemandangan tadi. Akibatnya, pandanganku jadi terhalang. Aku tidak bisa melihat jalan yang akan kita lalui dengan jelas.

Betapa pun, perhentian sejenak itu mengesankan, walau kini telah menjadi bagian dari masa lalu. Sekali lagi aku ingat perkataanMu: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62)

Ah, maafkan aku yang masih keduniawian ini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.

Senin, 01 September 2014

Menyiapkan Tanah

KataMu, "Tanah harus disiapkan, sebelum benih ditabur." 
Engkau lalu memberiku tugas menyiapkan tanah itu, sementara tugasMu adalah menabur benih berkat ke tanah yang telah disiapkan.
Engkau juga memintaku meluangkan lebih banyak waktu untuk menyiapkan tanah itu. Doa akan membuat tanah menjadi subur. Banyak hal harus dikerjakan dalam menyiapkan tanah itu.
"Kita mengerjakannya bersama-sama dan bersuka cita saat menuai hasilnya," janjiMu.

(God Calling - renungan tanggal 2 Agustus)

Senin, 18 Agustus 2014

Kemerdekaan Sejati dalam Kristus

"Tuhan, jadikan kami orang yang benar-benar merdeka," demikian tanggapan atas Doa Umat yang didaraskan dalam Perayaan Ekaristi kemarin.

Tuhan adalah Roh, di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan, kata rasul Paulus dalam 2 Korintus 3:17. Maka, orang yang benar-benar merdeka adalah:

- Hidup dalam Roh Kristus yang telah memerdekakannya dari hukum dosa dan hukum maut. (Roma 8:2)
- Berdiri teguh dan tidak mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)
- Tidak menggunakan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa. (Galatia 5:13a)
- Melayani satu sama lain karena kasih. (Galatia 5:13b)


... dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)

*Terima kasih, Yesus Kristus - Pembebas roh, jiwa, dan tubuhku
atas pengalaman seminggu di Padang Gurun bersamaMu (10-17 Agustus 2014)

Jumat, 15 Agustus 2014

Diangkat ke Surga

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama ada dua orang yang tubuh dan jiwanya diangkat ke Surga, yaitu Henokh dan nabi Elia. Henokh adalah anak dari Kain. Dalam hidupnya ia bergaul dengan Allah, memiliki relasi dekat dengan Allah, sehingga suatu saat ia tidak ada lagi karena telah diangkat oleh Allah. (lihat Kejadian 5:24) Nabi Elia diangkat ke Surga dengan kereta berapi dan kuda berapi dalam angin badai. (lihat 2 Raja-Raja 2:11) Kedua orang itu diangkat Allah ke Surga, berbeda dengan  Tuhan Yesus yang naik ke Surga bukan diangkat, melainkan dengan kekuatanNya sendiri.

Selama berabad-abad umat Katolik meyakini Bunda Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga, karena peran pentingnya dalam kehidupan Yesus. Pada 1 November 1950 Paus Pius X mengeluarkan dogma yang mengukuhkan tentang pengangkatan tubuh dan jiwa Bunda Maria ke Surga. 

Jika Henokh dan nabi Elia yang bergaul akrab dengan Allah mendapat hak istimewa diangkat tubuh dan jiwa mereka ke Surga, terlebih lagi Maria. Sejak masih kanak-kanak, Maria telah bergaul akrab dengan Allah. Magnificat atau Kidung Maria dalam Lukas 1:46-55 yang secara spontan terlontar dari mulut Maria menjadi tanda kedekatan Maria dengan Allah.

Kesediaan Maria untuk taat penuh pada kehendak Allah merupakan bukti iman Maria yang mendalam kepada Tuhannya. Maria selalu setia mendampingi Putranya, Yesus, sejak saat Ia lahir ke dunia sampai wafat di kayu salib. Setelah Yesus naik ke Surga, Maria masih meneruskan misi yang diterimanya dari Allah, yakni mendampingi para rasul dalam menanti dan menerima Roh Kudus, serta mewartakan Kabar Sukacita.

Bunda Maria diangkat ke Surga -kiranya bukan sekadar dogma, melainkan keyakinan dan kenyataan. 

Sabtu, 09 Agustus 2014

Hati yang Murni

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. (Mazmur 51:12)

Refren Mazmur Tanggapan dua hari yang lalu menggugahku. Hati yang murni..... itulah yang menjadi dambaanku sejak enam tahun silam. Saat itu lewat pengalaman doa sehari-hari, aku merasa doa-doaku dijawab Tuhan, jika aku menyampaikannya dengan hati yang murni, tanpa tergores sedikit pun oleh noda apalagi dosa. Bukan hanya jawaban atas doa-doa. Hati yang murni membuatku mampu menjalani hari-hariku dengan sukacita dan damai, memandang segalanya dengan tulus.  

Namun, ketika itu - enam tahun silam - hati yang murni masih menjadi kerinduan utamaku. Aku baru mengalaminya sesekali, bukan sesuatu yang ada dalam diriku. Aku masih meraba-raba, bagaimana cara memperoleh hati yang murni?

Dengan caraNya, Tuhan Yesus menghantarku pada pemahaman dan pengalaman itu secara bertahap. Perkenalanku dengan meditasi, pemurnianku dari segala dosa masa lampau, pendekatanku kepada Tuhan melalui pembacaan Alkitab setiap hari dan doa-doa rutin harian, serta belakangan ini kehadiran dalam perayaan Ekaristi sesering mungkin kalau bisa setiap hari - semuanya mengasah hati untuk semakin menuju pada kemurniannya.

Kehidupan memiliki dinamikanya tersendiri. Kita mengalami peristiwa-peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Kemurnian hati bukan suatu kondisi yang permanen, melainkan ikut bergerak bersama dinamika kehidupan. Melalui berbagai peristiwa dan pengalaman dengan orang lain, kemurnian hati kita diuji. Di sinilah tantangannya.

Dalam 1 Timotius 1:19, rasul Paulus mengatakan tentang beberapa orang yang telah menolak hati nuraninya yang murni, sehingga iman mereka kandas. Kita perlu terus memurnikan hati kita, agar kita semakin serupa dengan gambaran Allah - karena kita diciptakan Allah secara murni pada mulanya.  

Bersama rasul Paulus,  mari kita katakan, "Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah Para Rasul 24:16)
 

Minggu, 27 Juli 2014

Permintaan yang Tepat

Suatu malam, Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Salomo meminta hikmat dan pengertian, agar ia dapat memimpin bangsanya. Tuhan berkenan akan permintaan Salomo, karena ia tidak meminta kekayaan, kemuliaan, atau umur panjang. (lihat 2 Tawarikh 1:10-12)

Salomo memang menjadi raja yang adil dalam menghakimi rakyatnya. Kisah dua ibu yang memperebutkan seorang bayi melegendakan hikmat Salomo. Namun, Salomo tidak memiliki hikmat dalam relasi dengan Allah dan manusia. Ia memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik. Istri-istrinya itu menjauhkan hatinya dari Tuhan.

Pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya mencondongkan hati Salomo kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, berbeda dengan Daud - ayahnya. Tuhan menjadi marah dan berniat mengoyakkan kerajaan yang dikuasai Salomo. Tetapi Tuhan masih berbaik hati kepada Salomo, sehingga hal itu baru akan terjadi pada saat kerajaan diperintah oleh anak Salomo. Dan karena kasih Tuhan kepada Daud, bagi keturunannya disisakan satu suku (Yehuda) dari 12 suku Israel. (lihat 1 Raja-Raja 11:3-13)

Seandainya Tuhan berfirman kepada kita secara pribadi, apakah yang akan kita minta? Ajukanlah permintaan yang tepat - yang berkenan kepada Tuhan, memberi keselamatan bagi kita, dan membawa kebaikan bagi sesama.

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. 
(Mazmur 27:4)
 

Sabtu, 26 Juli 2014

Bertahan

Satu hal terpenting, agar tetap berada di jalanMu ialah bertahan.
Bertahan, meski segala tampak suram dan tanpa harapan.
Seperti dicontohkan Ayub, ketika ia didera berbagai musibah.
Seperti diteladankan Engkau sendiri, ya Yesus, dari Taman Getsemani ke Golgota.

Bertahan, sesuatu yang sulit dilakukan, selama kita berpegang pada keinginan kita.
Bertahan, sesuatu yang mudah dilakukan, selama kita mengarahkan pandangan kita kepadaNya.

Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!....... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 
(Wahyu 2:10) 

Minggu, 20 Juli 2014

Mencabuti Lalang

Hanya Engkaulah yang berhak memerintahkan para malaikat untuk mencabuti lalang di ladang dunia. Sementara tugasku adalah mencabuti lalang, begitu ia mulai bertumbuh dalam ladang hatiku. Aku tak ingin lalang itu meninggi, sehingga Engkau tidak dapat memanen gandum kelak dari ladang hatiku.
  

Sabtu, 19 Juli 2014

Pelajaran dari Selembar Uang

Kemarin sore aku naik angkutan umum. Aku menyodorkan selembar uang Rp 20.000 yang masih mulus. Di antara uang kembalian yang diberikan sopir, ada selembar uang Rp 1.000 yang kehitaman, dekil, robek di beberapa tepinya, serta semplak di ujung kiri atasnya.

Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?

Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.

Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?

Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.

Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.

Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.

Rabu, 16 Juli 2014

Ilmu dan Iman

Sewaktu remaja, ia berkisah, sebagai putra altar ia bisa setiap hari mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja. Ia begitu percaya akan isi Kitab Suci. Kini di usianya yang ke-70 tahun, imannya menguap. Ia meragukan isi Kitab Suci, bahkan keberadaan Tuhan.

Baginya, bukti-bukti temuan ilmu pengetahuan menjadi kebenaran yang sahih, bukan isi Kitab Suci yang bagaikan cerita rekaan. Katanya, sekarang ia beriman secara rasional. Ia hanya sesekali ke Gereja, agama tidak lebih sebagai sarana untuk menenteramkan hati.

Apa yang dapat kukatakan kepada orang-orang seperti itu, yang bersikukuh dengan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran? Mata hati mereka tak lagi dapat memandangMu, telinga mereka tak lagi mampu mendengar bisikanMu. Pemaparanku tentang Engkau sama sekali tidak digubris. Semoga di penghujung hidup mereka kelak, mata hati mereka kembali terang, dan telinga mereka kembali dapat mendengar bisikan lembutMu.

Melintas dalam benakku, perkataanMu yang meneguhkan, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25)

Dalam pandanganMu, orang bijak dan orang pandai yang mengagungkan ilmu pengetahuan malah Kau anggap bukan apa-apa. Engkau justru memberitahu rahasia KerajaanMu kepada orang-orang kecil yang membuka hati seluas-luasnya kepadaMu.

Kamis, 03 Juli 2014

Maha-Segalanya

Memandang dari udara - tebaran atap rumah-rumah yang berdesakan,  membuat diriku merasa sangat kecil di mataMu.

Begitu banyak rumah, terlebih lagi banyak sekali orang yang tinggal di dalam rumah-rumah itu - tetapi Engkau dapat mengetahui dengan tepat, segala isi hati setiap orang di dunia.

Engkau Maha Segalanya,  ya Tuhan Allah Tritunggal,
pikiranku tak sanggup menjangkau pikiranMu,
hanya jiwaku yang mampu mengagungkanMu dalam kekaguman total, dan rohku perlahan merayap mendekatiMu.

Minggu, 29 Juni 2014

Kelemahan Manusia-Kesempurnaan KasihMu

Tiga kali rasulMu itu menyangkalMu, padahal sebelumnya ia begitu mantap mengatakan, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." (Matius 26:33)

Lalu, setelah Engkau bangkit dari mati, tiga kali Engkau meminta kepastian tentang kesungguhannya mengasihiMu. Ia menjadi sedih hati dan berkata, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." (Yohanes 21:17)

Kemudian, Engkau naik ke Surga. Dengan bimbingan Roh Kudus, rasulMu itu mewartakan Jalan Tuhan - Kabar SukacitaMu kepada orang-orang sebangsanya. 

Setelah tiga tahun mengikutiMu secara langsung, setelah Engkau memberikan kunci Surga kepadanya, setelah Engkau memintanya menggembalakan domba-dombaMu, setelah ia dipenuhi Roh Kudus; bukan berarti ia menjadi manusia sempurna yang tak bercacat.

Dalam Galatia 2:11-14, rasul Paulus mengisahkan pertentangannya dengan rasul Petrus. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mau makan bersama saudara-saudara yang tidak bersunat; tetapi setelah beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut kepada saudara-saudara yang bersunat.

Ada pula legenda yang mengisahkan, rasul Petrus berusaha melarikan diri dari Roma yang membara karena penangkapan orang-orang beriman. Sampai di suatu jalan dalam pelariannya ia bertemu denganMu yang tengah memanggul salib. Petrus bertanya kepadaMu, "Mau ke mana, Engkau, Tuhan?" JawabMu," Aku mau pergi untuk disalibkan kembali." Petrus sadar, ia tak jadi melarikan diri. Di Roma, ia mati disalibkan dengan kepala di bawah - karena tidak ingin menyamai posisiMu di salib.

Kelemahan rasul Petrus yang utama adalah rasa takut. Namun, kelemahan itu tidak membuatMu mengalihkan kepercayaanMu darinya. Engkau tetap memilihnya sebagai yang utama dari antara ke-12 rasulMu - mendirikan jemaatMu di atas batu karang itu. (lihat Matius 16:18)

Kelemahan manusia bukan halangan bagiMu untuk tetap berkarya di tengah umat manusia saat ini. Kesempurnaan kasihMu akan melengkapi kelemahan manusia pilihanMu, sehingga ia dapat menghasilkan karya dahsyat yang melampaui segala yang dapat dipikirkan manusia.
 

Minggu, 08 Juni 2014

Berjalan BersamaMu

Berjalan bersamaMu adalah petualangan yang menakjubkan,
menyusuri jalan setapak tanpa memusingkan yang telah dilalui di belakang dan yang akan menghadang di depan.
 
Berjalan bersamaMu adalah penyerahan diri total berbalut sukacita,  menaruh kepercayaan penuh tanpa meragukan jalan yang Kau pilih dan berapa lama jarak tempuhnya.

Berjalan bersamaMu adalah berpegang erat pada FirmanMu dalam terang Roh Kudus, memperoleh kepastian dalam kegelapan dan peneguhan dalam terang.
 

Jumat, 06 Juni 2014

PertanyaanMu

Sepertinya semalam Engkau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, tetapi yang ada hanya keheningan. Pagi ini, ketika aku mengikuti perayaan Ekaristi, aku tahu apa yang ingin Engkau sampaikan: "Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:15-17)

Tiga kali Engkau menanyakan hal itu kepada rasul Petrus. Engkau pun meminta aku menjawab pertanyaan yang sama. 

PertanyaanMu membawaku pemahaman lebih jauh: 

- Tak cukup sekadar mengucapkan, "Aku mencintaiMu dengan Cinta yang murni dan mendalam." MengasihiMu perlu diwujudnyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.

- Bukan kedekatan relasi antara guru-murid atau majikan-hamba. MengasihiMu merupakan kesatuan Roh yang kuat dalam kesetaraan.

- Tanpa terjerat pada situasi yang dialami, selalu dipenuhi damai dan sukacita. MengasihiMu adalah memberi yang terbaik bagi Sang Kekasih.  

"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau." 


Kamis, 22 Mei 2014

Mendekat ke Bapa

Terima kasih, Bapa.... 
Engkau berkenan memasukkan aku dalam daftar orang-orang yang perlu diselamatkan. 
Engkau lalu mengutus Putra-Mu untuk menebusku.

Kebesaran Kasih-Mu nyata dalam diri Putra-Mu yang menarikku keluar dari jurang maut, membersihkanku dari segala noda dosa, dan memahkotaiku dengan hidup kekal.

Berbahagialah orang yang dosanya diampuni.
Aku menjadi orang yang diberkati karena Engkau. 

Kamis, 15 Mei 2014

Pengkhianat

Salah satu tokoh yang muncul setiap kali kita memperingati peristiwa sengsara dan wafat Kristus adalah Yudas Iskariot. Ia telah mengikuti Sang Guru selama lebih dari tiga tahun. Pada saat Yesus mengutus para rasul pergi berdua-dua untuk memberitakan Injil, Yudas ikut mewartakan Kabar Gembira, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Dalam perjamuan terakhir, Yudas pun masih dibasuh kakinya oleh Yesus.

Namun, rupanya kedekatan dengan Yesus dan karunia-karunia yang diperoleh Yudas sebagai rasul, tak cukup mampu mengalahkan apalagi memadamkan kejahatan yang ada dalam dirinya. Iblis berhasil membisiki Yudas untuk mengkhianati Sang Guru, justru pada saat mereka sedang makan bersama (lihat Yohanes 13:2).

Pengkhianat Kristus tetap ada dalam aneka wujudnya sampai sekarang. Paus Emeritus Benediktus XVI dalam pesan di Vatikan pada 26 Agustus 2012 menegaskan, umat Katolik yang tidak setuju dengan ajaran Katolik atau tidak percaya kepada Yesus Kristus, hendaknya meninggalkan Gereja ketimbang menjadi pengkhianat seperti Yudas. Yudas tetap bersama Yesus bukan karena iman atau cinta, melainkan dengan maksud rahasia mengkhianati Gurunya. Kejahatan paling serius dari Yudas adalah kepalsuan. 

Adakah kita tetap bersama Yesus saat ini karena iman dan cinta, atau karena kepalsuan - mengaku pengikut Kristus tetapi punya niat dan rencana terselubung yang menyakiti hatiNya? Atau tetap mengikuti Perayaan Ekaristi setiap minggu, namun berpandangan dan berperilaku yang jauh dari teladanNya? Senantiasa sadar dan pertimbangkan segala pikiran dan tindakan kita, agar tidak menjadi pengkhianat Kristus.     
 

Jumat, 09 Mei 2014

Rahasia Kekuatan

Jika roh sudah bersatu, masih perlukah kesatuan fisik? Bukankah persatuan roh lebih erat dan kekal dibandingkan persatuan fisik?

Setelah pertobatanku, belum setiap hari aku menghadiri Perayaan Ekaristi. Aku baru menambah satu hari dalam seminggu - selain hari Minggu - untuk menghampiri Meja PerjamuanMu. Hari ini Engkau membuka pemahamanku yang lebih luas tentang pentingnya persatuan fisik denganMu, di samping persatuan batin/roh. 

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. (Yohanes 6:53-54, 56-58b)

KehendakMu jelas, mengharapkan semua orang pilihanMu bersatu sesering mungkin dengan Tubuh dan DarahMu, agar Engkau tinggal di dalam mereka dan mereka di dalam Engkau. Engkaulah yang akan menggerakkan mereka, menjadi energi kehidupan bagi mereka.

Memang, telah lama kuperhatikan, orang-orang berjubah - rohaniwan dan rohaniwati- memiliki kekuatan fisik yang tangguh. Meskipun telah lanjut usia dan didera aneka penyakit, semangat mereka tetap berkobar. Mereka masih sanggup beraktivitas dari pagi sampai petang tanpa istirahat.

Yang mengagumkan, kelemahan fisik mereka seolah-olah lenyap sama sekali, tidak merintangi karya pelayanan mereka. Itulah rahasia kekuatan mereka:menyambut Tubuh dan DarahMu setiap pagi, sebelum memulai aktivitas harian mereka.

Sementara aku, tanpa melakukan banyak aktivitas pelayanan, tubuhku cepat merasa lelah. Pernah suatu hari Jumat, aku menghadiri Misa pagi. Setelah itu aku sibuk melakukan aktivitas kerja sepanjang hari. Menjelang malam, beberapa teman mengajakku bertandang ke rumah seorang teman lain untuk berbagi pengalaman hidup. Aku baru bisa beristirahat ketika hari itu hampir berakhir. Aku sama sekali tidak merasa letih. Aku punya energi ekstra yang kuyakini berasal dariMu.

"Untuk kelemahan fisikmu, engkau begitu rajin menenggak obat rutin setiap hari. Tak pernah sekali pun engkau melewatkan jadwal minum obat itu. Mengapa engkau tidak melakukan yang sama terhadapKu? Santaplah Tubuh dan DarahKu setiap pagi, maka engkau akan memperoleh kekuatanKu. Persatuan Roh adalah untuk roh dan jiwamu, sedangkan persatuan fisik adalah untuk ragamu," suaraMu terdengar lembut dalam batinku.

Terima kasih, Yesus, kini aku mengerti sepenuhnya makna menyambut Tubuh dan DarahMu setiap hari. Secara bertahap aku akan memenuhinya, sehingga persatuan kita bukan semata persatuan roh tetapi juga persatuan fisik, yang akan memampukanku bergerak di dalamMu dan bersamaMu.

Selasa, 06 Mei 2014

Terserah KepadaMu

Pengalaman bersamaMu di "padang gurun" tahun ini menghantarku pada pemahaman baru dalam berelasi denganMu:

Tak perlu aku merancang segala sesuatu untuk menyenangkan hatiMu
Tak perlu aku mencita-citakan segala sesuatu dengan alasan untuk kemuliaanMu
Tak perlu aku melakukan segala sesuatu dengan berjerih payah atas namaMu

Engkau tidak pernah menuntutku
Engkau tidak pernah memaksaku
Engkau tidak pernah mengharapkan kemasyhuran namaMu

Pada dasarnya, Engkau telah memiliki segalanya
Engkau telah mulia, tanpa perlu manusia menyanjungMu
Aku mendekatiMu, karena aku membutuhkanMu

Yang perlu kulakukan adalah mengikuti ayunan langkahMu dalam diriku
Membiarkan Engkau memakai raga dan jiwa ini seturut kehendakMuBersamaMu dan di dalamMu aku bergerak

Akan ada banyak kesempatan,
Akan ada banyak pilihan,
Engkau yang bekerja dalam diriku yang akan menentukannya

Akan ada banyak hambatan,
Akan ada banyak tantangan,
Engkau yang bertakhta dalam diriku yang akan menghadapinya

Aku berpikir, namun bukan lagi "aku" yang memikirkannya
Aku berkata, namun bukan lagi "aku" yang mengatakannya
Aku bergerak, namun bukan lagi "aku" yang menggerakkanya
Aku hanyalah wadah, Engkaulah yang mengisinya

Penyerahan diri ini membawa nuansa kehidupan baru
Segala sesuatu tampak indah
Segala sesuatu tampak baik
Segala sesuatu tampak menyenangkan
Segalanya terserah kepadaMu

Minggu, 27 April 2014

Orang Kudus

Hari ini Gereja mengukuhkan dua pemimpinnya sebagai orang kudus yang layak menyandang sebutan Santo/Saint/Vir Sanctus. Sebenarnya, siapakah yang patut dipandang sebagai orang kudus?

Mencermati keempat Injil, Yesus tidak pernah sekali pun menyebut dua kata itu. Hanya Injil Matius yang satu kali menyebut orang kudus, ketika mengisahkan situasi yang terjadi sesaat setelah kematian Yesus: ...dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. (Matius 27:52)

Rasul Paulus yang paling sering menyebut orang kudus dalam tulisan-tulisannya kepada para jemaat. Dalam Kisah Para Rasul 26:10, Paulus mengakui ia bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, melainkan juga setuju jika mereka dihukum mati.

Selanjutnya rasul Paulus menyebut orang-orang kudus, ketika ia mengawali surat-suratnya. Beberapa contoh: Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. (2 Korintus 1:1); Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. (Efesus 1:1); Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken. (Filipi 1:1)

Dalam pandangan rasul Paulus, orang-orang kudus adalah mereka yang setia kepada Yesus dan ajaranNya, bertekun dalam doa, serta hidup baik dan rukun dalam persekutuan jemaat. Gelar kudus yang diberikan Gereja kepada sejumlah orang tertentu bukanlah batasan sempit hanya merekalah orang-orang kudus, melainkan dari merekalah kita sebagai umat beriman dapat belajar untuk meneladani kekudusan mereka.

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.(Lukas 10:21)

Orang-orang kecil adalah orang-orang kudus di mataMu, ya Yesus, karena kepada merekalah Bapa berkenan menyatakan Diri dan rahasiaNya.

Senin, 21 April 2014

Berbahagialah Wahai Kaum Perempuan

Di mataMu kaum perempuan punya arti penting.

Engkau lahir dari seorang Perempuan suci yang agung. (Lukas 1:26-38)

Ketika Engkau berjalan berkeliling memberitakan Injil, ada beberapa perempuan yang melayani rombonganMu dengan kekayaan mereka. (Lukas 8:1-3)

Engkau menyelamatkan seorang perempuan yang kedapatan berzinah, sehingga ia terhindar dari amukan massa yang ingin melemparinya dengan batu. (Yohanes 8:1-11)

Kepada seorang perempuan Samaria, Engkau menawarkan Air Kehidupan dan bercakap-cakap cukup lama dengannya. (Yohanes 4:1-42)

Di Betania, menjelang kematianMu, seorang perempuan mencurahkan minyak wangi yang mahal ke atas kepalaMu. Engkau berterima kasih kepadanya dengan mengatakan: "Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Matius 26:6-13)

Kepada seorang perempuan Engkau pertama kali menampakkan diri setelah bangkit dan meminta perempuan itu menyampaikan kabar sukacita kepada murid-murid lain. (Yohanes 20:11-18)

Berbahagialah, wahai kaum perempuan!
Kita diciptakan untuk turut aktif ambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Minggu, 20 April 2014

Mencintai Bukan Membalas Cinta

KataMu, Engkau tak membutuhkan balasan cintaku. Engkau mencintaiku dengan setulus hati, tanpa menghendaki balasan. Karena itu, Engkau tak mau aku membalas cintaMu. Yang Engkau inginkan adalah cinta yang tulus dariku. Bukan sebagai balasan cinta, melainkan semata karena cinta.

Ah, aku baru menyadarinya. Mengapa aku bertekad membalas cintaMu? Padahal, sejatiMu adalah cinta. Engkau akan tetap mencintai, betapa pun manusia tidak menghiraukanMu. Engkau akan tetap eksis dengan atau tanpa cinta manusia.

Ajarilah aku mencintaiMu seperti Engkau ingin dicintai, ya Yesus, sehingga di antara kita yang ada hanyalah kepenuhan cinta.  

Jumat, 18 April 2014

Jalan SalibMu

Aku berada di tengah kerumunan umat yang mengikuti drama Jalan Salib. Rasanya seperti benar-benar mengiringiMu di Jalan Salib yang kau tempuh ribuan tahun lampau. Aku terdiam saat orang-orang Yahudi meneriakkan: "Salibkan Dia... Salibkan Dia..." Pun saat para prajurit menderaMu. Ah, mungkin memang itulah yang akan kulakukan, seandainya aku berada di Yerusalem saat Engkau memanggul salib.

Diam, hanya diam; tanpa tahu apa yang harus kuperbuat.
Diam, hanya diam; menatapMu menahan sakit lahir-batin.
Diam, hanya diam; menanti apa yang akan terjadi.

Banyak orang yang mengikutiMu di Jalan Salib ini menaruh harapan tinggi kepadaMu. Mereka telah melihat mukjizat-mukjizat besar yang Engkau lakukan: lima roti dan dua ikan bisa untuk mengenyangkan ribuan orang yang mendengarkan pengajaranMu, orang buta -melihat, orang lumpuh -berjalan, orang mati -bangkit kembali. Jika untuk orang-orang lain saja Engkau memperlihatkan hal-hal yang menghebohkan, tentu untuk diriMu sendiri Engkau dapat melakukan yang lebih dahsyat.

Nyatanya, Engkau kesakitan menanggung penyiksaan fisik.
Nyatanya, Engkau beberapa kali jatuh tertimpa salib.
Nyatanya, Engkau tak melakukan apa pun untuk menyelamatkan diriMu.

Apa yang kini dapat diharapkan dariMu? Engkau tak lebih dari manusia biasa yang penuh kelemahan. Semua muridMu meninggalkanMu, orang-orang mencibirMu, para pemuka agama menertawakanMu. Tak ada lagi kehebatan, kekuatan, kewibawaan yang tersisa padaMu.

Jalan SalibMu adalah jalan kesendirian dalam pengosongan diri.
Jalan SalibMu adalah jalan kelemahan manusia dalam kekuatan Allah.
Jalan SalibMu adalah jalan kebahagiaan dalam cinta sejati.

Dalam diam aku menapaki Jalan SalibMu.

Kamis, 17 April 2014

Warisan Agung yang Sangat Genius

Perjamuan Terakhir yang Engkau selenggarakan bersama kedua belas muridMu sebelum penyalibanMu merupakan warisan agung yang tak lekang oleh waktu. Roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan DarahMu.

Bukan sekadar lambang, tetapi setelah imam yang menjadi wakilMu di dunia ini mengkonsekrasikan roti dan anggur, maka meski tetap berwujud roti dan anggur - senyatanya itu adalah Tubuh dan DarahMu.

Seorang imam di Lanciano, Italia, pada tahun 700 Masehi, meragukan akan Kebenaran tersebut. Setelah konsekrasi, roti berubah menjadi daging dan anggur menjadi darah. Mukjizat ini telah diperiksa oleh beberapa dokter asal Italia pada tahun 1970-1971 dan 1981. Mereka menyimpulkan, potongan daging itu benar-benar daging manusia yang berasal dari irisan jantung (myocardium) dan darah itu bertipe AB, mengandung segala protein yang terdapat dalam darah segar manusia. Meski terpapar udara dan tidak memakai pengawet, daging dan darah tersebut tidak berubah secara biologis (lihat http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id31.htm)

Siapakah Allah yang seperti Engkau? Memiliki pemikiran begitu mendalam untuk menyatakan cintaMu kepada manusia. Ungkapan cinta yang setiap hari dapat dinikmati orang-orang yang mencintaiMu.

Menyatu secara fisik dengan Tubuh dan DarahMu, meski Engkau tahu tubuh fana manusia suatu saat akan hancur. Namun, Engkau menjanjikan: "Akulah roti hidup. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia." (Yohanes 6:35, 54-56)

Sungguh, warisan agung yang sangat genius dan hanya Engkau - Yang Mahakuasa - yang dapat melakukannya.
 

Minggu, 13 April 2014

Setia

Hari ini aku mengangkat daun palem bersama lautan umatMu di seluruh dunia,
memuji kebesaranMu: Hosana yang datang dalam nama Tuhan.

Dahulu warga Yerusalem pun menyambut kedatanganMu ke kota itu,
namun beberapa hari kemudian mereka berteriak keras menginginkan Engkau disalibkan.

Jika Engkau mau, bisa saja Engkau memilih untuk tidak datang ke Yerusalem.
Manusia memiliki kehendak bebas, apalagi Engkau sebagai Putra Allah.

Namun Engkau justru dengan sadar memasuki Yerusalem,
meski Engkau tahu penderitaan berat bakal menimpaMu.
KataMu: "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan meyelesaikan pekerjaanNya." (Yohanes 4:34)

Oh Yesus, tolonglah aku manusia yang lemah ini.
Aku ingin tetap setia kepadaMu, seperti Engkau yang selalu setia melaksanakan Kehendak Bapa.

Selasa, 08 April 2014

Salah Meminta?

Belum lama berselang aku mendapat pelajaran berharga dari pengalamanMu menyembuhkan tiga orang sakit dengan pendekatan berbeda (lihat posting yang berjudul: Tak Perlu Meminta), namun ketika akhir bulan lalu Engkau bertanya kepadaku: "Apa yang kamu inginkan?" Bukannya menginginkan CintaMu, aku malah minta Engkau memberi kesehatan prima kepadaku, agar fisikku dapat menopang tugas-tugas yang akan Engkau berikan kepadaku. Betapa malu aku. Engkau telah menelanjangi kelemahanku lewat pengalaman ini.

Dua hari sebelumnya, Engkau membuka selubung bawah sadarku. Membuatku tak berdaya didera rasa bersalah dan keraguan akan penyelenggaraanMu. Engkau tengah membentukku. Engkau telah memukul, tetapi akan membalut aku.(lihat Hosea 6:1)

Aku memohon ampun kepadaMu atas kesalahanku meminta. MengharapkanMu menyatu denganku dalam Cinta - itu lebih penting ketimbang memohon kesehatan. Kedekatan denganMu sudah otomatis akan membuat tubuh menjadi kuat dan mampu melakukan kehendakMu.

Penyakit hipertensi yang kualami sejak 2,5 tahun belakangan, membuatku kerap mengkhawatirkan kondisi fisikku. Sadar atau tidak, penyakit ini membelengguku. Melalui pengalaman kelemahanku tersebut, Engkau ingin mematahkan belenggu itu. Kini, aku memandang penyakit bukan lagi sebagai kelemahan diri, melainkan godaan si jahat yang berusaha mengoyak imanku. 

"Maukah engkau sembuh?" tanyaMu seraya tersenyum lembut. (lihat Yohanes 5:6) Ah, Engkau tidak menganggap permintaanku egoistis. Engkau malah menawarkan kesembuhan. Aku membiarkanMu menyembuhkanku lewat cara yang tak terduga.

Kesempatan mengikuti retret di awal bulan ini membuka belenggu keraguan dan ketakutanku. Aliran CintaMu mengalahkan kepentingan diri, melahirkan Cinta baru dalam hatiku. Aku bersukacita karena Engkau begitu mengasihiku.  

Awalnya aku memang salah meminta, tetapi Engkau telah menjadikan kesalahanku itu pengalaman berharga tentang Cinta kepadaMu. "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk," kataMu. (lihat Yohanes 5:14)

Selasa, 01 April 2014

30 Tahun Menantiku

Terima kasih, Tuhan Yesus, atas kesabaranMu yang sangat besar. Engkau bersedia menantiku selama 30 tahun mengembara di belantara dunia, sampai pada titik balik saat ini. 

Aku bagaikan isteri masa muda yang Engkau pinang kembali. Hatiku bersorak, karena Engkau tidak melupakanku dan tidak menyerahkan aku kepada maut. Kini aku menanti penggenapan janji-janjiMu.

Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. 

Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. 

Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati 
TUHAN memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? firman Allahmu. 

Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. 

Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. 

(Yesaya 54:4-8)

Kamis, 27 Maret 2014

Tak Perlu Meminta


Setelah Engkau mengajar orang banyak dalam Khotbah di Bukit, Engkau turun dari bukit dan seorang yang sakit kusta mendatangiMu. "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." (Matius 8:2) Engkau menyembuhkannya secara langsung.

Berikutnya, ketika Engkau memasuki Kapernaum, seorang perwira memohon kepadaMu untuk menyembuhkan hambanya yang terbaring di rumah karena sakit lumpuh. (Matius 8:6) Engkau juga menyembuhkannya dari jarak jauh.

Setelah itu, Engkau tiba di rumah Petrus. Engkau melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Engkau memegangnya dan lenyaplah demamnya. (Matius 8:14-15)

Dari tiga rangkaian penyembuhan yang ditulis Matius itu, ada dua hal yang menarik perhatianku:

- Seseorang dapat meminta kesembuhan bagi dirinya sendiri (seperti orang yang sakit kusta), dapat pula memohon kesembuhan bagi orang lain (seperti perwira yang memohon kesembuhan untuk hambanya).

- Petrus tidak memohon kesembuhan bagi ibu mertuanya. Namun, karena relasiMu yang sangat dekat dengan Petrus, Engkau langsung tergerak menyembuhkan ibu itu.

Oh, betapa indah memiliki relasi yang erat denganMu, ya Yesus. Tak perlu aku meminta, Engkau telah mengetahui kebutuhan dan keinginanku. Engkau akan langsung bertindak, sepanjang kebutuhan dan keinginanku itu selaras dengan kehendakMu. Yang kuperlukan hanyalah berjalan bersamaMu selalu.


Senin, 24 Maret 2014

Berubah Total

Perempuan itu bertemu denganMu di dekat sumur Yakub. Lalu, Engkau mengajaknya berbincang-bincang. Perempuan itu bukan wanita baik. KataMu, ia telah memiliki lima suami dan yang bersamanya sekarang bukan suaminya. Namun, Engkau tetap mengasihinya, malah Engkau menawarkan Air Hidup kepadanya.

Pertemuan pribadi denganMu membuahkan pertobatan. Perempuan itu kemudian memberitahu tentang Engkau kepada orang-orang di sekitarnya. Banyak orang menjadi percaya kepadaMu karena perkataan perempuan itu. (Lihat Yohanes 4:6-39)

Pendosa besar tidak dipandang oleh masyarakat sekitar; tetapi jika orang itu berubah total setelah mengalami pertobatan sejati, ia dapat menjadi pewarta yang didengar banyak orang.

Selasa, 11 Maret 2014

Tiga Tahap Pencobaan

Tiga pencobaan yang Engkau alami seusai menjalani puasa selama 40 hari - menggambarkan tiga tahap pencobaan yang dialami orang-orang yang memilih untuk dekat denganMu. Seperti Engkau mengalaminya sendiri, setelah Engkau menyatu dengan BapaMu dalam keheningan di padang gurun (lihat Matius 4:1-11)

Pencobaan pertama: mengubah batu-batu menjadi roti.
Ini adalah tahap dasar pencobaan manusia, di mana kebutuhan jasmani seperti sandang, pangan, dan papan menjadi hal-hal yang diutamakan dalam hidup manusia. Jika manusia sudah dapat lepas bebas dari berbagai kebutuhan material ini, maka ia akan dibawa pada pencobaan tahap berikutnya.

Pencobaan kedua: menjatuhkan diri tetapi tak akan binasa, karena dijaga para malaikat.
Setelah dibebaskan dari kebutuhan material, manusia akan mengalami pencobaan emosional. Iblis menggelitik emosi manusia, muncul godaan-godaan untuk mencobai Tuhan demi memenuhi kebutuhan emosional manusia: rasa puas, rasa berkuasa, rasa diri berharga, rasa diri hebat. Tetapi, jika manusia berhasil membebaskan diri dari pencobaan emosional ini, sehingga apa pun yang terjadi ia tetap teguh berpegang pada Tuhan - bukan pada perasaan-perasaan yang senantiasa berubah, maka ia akan dibawa pada pencobaan tahap selanjutnya.

Pencobaan ketiga: menyembah iblis akan mendapat semua kerajaan dunia.
Menyembah yang bukan Allah Tritunggal sama dengan penyembahan berhala. Inilah pencobaan tahap akhir yang merupakan pencobaan spiritual. Pada tahap ini manusia perlu sangat waspada, karena iblis dengan sejuta taktik liciknya akan memerdaya manusia untuk menjauhi Sang Terang.

Ya Tuhan Yesus, bimbinglah kami senantiasa, agar dapat mengalahkan ketiga tahap pencobaan; seperti Engkau sendiri telah memberi teladan cara-cara mengatasi berbagai pencobaan itu. Kami ini manusia lemah yang hanya dapat menjadi kuat dengan Kuasa dan KekuatanMu.  

Senin, 03 Maret 2014

Pengurus Rahasia Allah

Kemarin, dalam bacaan kedua pada Perayaan Ekaristi, Rasul Paulus mengatakan kalimat yang sangat indah: "Hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah" atau terjemahan Alkitab versi lain menuliskannya sebagai "pengurus rahasia Allah" (1 Korintus 4:1).

Berbahagialah orang-orang yang Engkau percayai menjadi pengurus rahasia Allah. Hanya ada satu syarat untuk dapat menjadi hamba Kristus yang memegang rahasia Allah, yaitu orang tersebut dapat dipercaya (1 Korintus 4:2).

Apakah Engkau berkenan menjadikan aku salah satu hamba seperti itu? Ataukah ada tugas lain yang akan Engkau berikan kepadaku? Aku mau menelusurinya bersamaMu di padang gurun kali ini.

Senin, 17 Februari 2014

Dihantar KepadaMu

Di hari Perayaan Engkau Dipersembahkan di Kenisah pada 2 Februari 2014, aku pun mempersembahkan diriku seutuhnya kepadaMu. Kehidupan duniawiku telah terkubur, seiring kepergian mendadak suamiku pada 24 Januari 2014. Bagiku tak ada lagi yang menarik dari dunia ini.

"Aku sedang mengantar kamu kepada Yesus," kata Bunda Maria pada 2 Februari 1989, yang ditulis ulang dalam buku renungan Ruah pada tanggal yang sama tahun ini. Perkataan IbuMu menggugahku. Aku ingat, di hari Natal tahun lalu, IbuMu membisikkan kepadaku, agar aku lebih kuat karena yang akan kuhadapi sekarang bukanlah godaan material atau godaan emosional, melainkan godaan spiritual. Kemudian, memasuki Tahun Baru, IbuMu berpesan agar aku siap menjalani penggemblengan khusus pada tahun ini.

Lalu, datanglah penggemblengan itu satu demi satu: suamiku direnggut dariku melalui serangan jantung. Sehari berselang, putriku diopname di rumah sakit karena typhus. Tiga minggu kemudian, saat aku menulis ini, giliran putraku diopname di tempat yang sama karena sakit yang sama.

Aku menerima semua itu sebagai bagian dari ujian iman dan cinta yang harus aku lalui, sebelum tiba saatnya - melalui hantaran IbuMu - aku bertemu dan bersatu denganMu sebagai Mempelaiku. Tidak ada salib yang terlalu berat untuk kupanggul, karena Engkau telah menyatakannya kepadaku, "Jangan lagi ada sedikit pun keraguan, jika kamu ingin berjalan bersamaKu."