Kamis, 31 Desember 2015

Antikristus

Apakah Yesus yang lahir di Betlehem dan baru saja kita rayakan peristiwa kelahiranNya, masih tetap menjadi Mesias dalam kehidupan kita?

Di penghujung tahun, Santo Yohanes lewat tulisannya mengingatkan kita telah bangkit banyak antikristus. Mereka adalah orang-orang yang menyangkal Bapa dan Yesus Kristus (lihat 1 Yohanes 2:22). Kita perlu senantiasa waspada, apakah dalam berpikir, berkata-kata, dan bertindak kita telah menyangkal Kristus?

Menyangkal Kristus bermakna luas antara lain mengutamakan kegiatan duniawi dibandingkan kegiatan spiritual; mementingkan pemenuhan kebutuhan pribadi daripada memerhatikan sesama yang membutuhkan; mengikuti aktivitas yang bertujuan menyehatkan jasmani atau rohani padahal merupakan ritual keyakinan yang berbeda; mencampuradukkan ajaran lain dengan ajaran Yesus; tidak merealisasikan sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.

Antikristus bukan orang yang jauh, yang tidak kita kenal. Mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita (lihat 1 Yohanes 2:19). Kenali dengan cermat antikristus, agar kita tidak terseret dalam kesesatan.

Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. (Efesus 5:11)

Senin, 28 Desember 2015

Tanda Kemartiran

Setelah merayakan Kelahiran Yesus, pada hari Natal kedua - tanggal 26 Desember - Gereja Katolik Semesta memperingati kemartiran Stefanus. Selang sehari - tanggal 28 Desember - kita memperingati martir-martir kecil yakni bayi-bayi berusia di bawah dua tahun yang dibunuh pasukan Herodes.

Peringatan kemartiran diletakkan sangat berdekatan dengan perayaan Kelahiran Yesus untuk mengingatkan kita akan misi kedatangan Yesus ke dunia. Bukan untuk menjadi raja dunia seperti disangka orang-orang Yahudi, melainkan menjadi martir.

Sesungguhnya sejak Allah mewujud dalam Bayi, sejak itulah kemartiranNya dimulai. Kemahakuasaan sebagai Allah ditanggalkanNya, berganti kepapaan sebagai Anak Manusia. Perjalanan hidup Yesus selama 33 tahun di dunia adalah perjalanan kemartiran yang memuncak di Golgota.

Sepatutnya perjalanan hidup kita sebagai pengikut-pengikut Yesus juga merupakan perjalanan kemartiran dalam arti luas. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. (Mazmur 126:5)

Kamis, 24 Desember 2015

Natal yang Berbeda

Romantisme Natal yang syahdu dengan kemeriahan dan kegembiraan bagi diri sendiri tidak lagi relevan. Seperti Engkau yang memberikan diriMu kepada umat manusia melalui kehadiranMu di dunia, mulai Natal tahun ini aku pun akan mengisi perayaan kelahiranMu dengan memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitarku yang membutuhkan.

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (Yesaya 60:1)
 

Senin, 21 Desember 2015

Rumah Terang

Betapa indah rumah-rumah yang berhiaskan aneka lampu menyambut Natal. Terang benderang. Sesekali lampu-lampu bergantian berkedip, menambah romantis suasana ketika menatap rumah seperti itu di tengah semilir angin di malam hari yang senyap.

Tetapi penampilan rumah-rumah demikian hanya dapat dijumpai di negara-negara Barat. Tentu akan sangat mencolok kalau aku menghias tampak muka rumahku seperti itu. Namun, aku mendambakannya.

Mengapa masyarakat di Barat senang menghias rumah mereka dengan ratusan lampu menjelang Natal? Mungkin menandakan kegembiraan merayakan Natal dan seminggu kemudian tahun baru. Aha..., ada makna yang lebih mendalam dari sekadar menghias rumah dengan lampu-lampu.

Rumah terang melambangkan kesiapan tuan rumah menyambut Sang Terang. Di tengah dunia nan gelap karena kegelapan dosa, ada rumah-rumah terang yang bercahaya menyongsong Terang Dunia. Rumah terang menjadi simbol penerimaan penuh sukacita akan Berkah Surgawi.

Tak ada dekorasi Natal yang semarak di depan rumahku. Apalagi lampu-lampu yang berkelap-kelip. Tetapi bukan berarti aku tidak siap menyambut Sang Terang. Lebih baik aku menata rumah batinku, agar menjadi rumah terang yang pantas dihuni Terang Dunia.  

Rabu, 16 Desember 2015

Pertanyaan Yohanes Pembaptis

Ketika mendatangi Perawan Maria untuk menyampaikan pesan dari Allah, malaikat Gabriel menyebut Elisabet sebagai sanak (saudara/keluarga) Maria. (lihat Lukas 1:36) Berarti ada pertalian persaudaraan antara Yohanes Pembaptis - dalam tulisan ini disebut Yohanes - dengan Yesus.

Saat Maria mengunjungi Elisabet, anak di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan ketika mendengar salam dari Maria. (lihat Lukas 1:41) Dapat dikatakan, sejak dalam kandungan Yohanes telah mengakui Keilahian Yesus.

Yohanes begitu yakin Yesus adalah Anak Allah, tatkala Yohanes berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29) Dan Yohanes pun menunjuk Yesus kepada dua orang muridnya yang kemudian pergi mengikut Yesus. (Yohanes 1:35-37)

Ketika orang-orang bertanya kepada Yohanes, siapakah dirinya? Yohanes terus terang mengakui, "Aku bukan Mesias." (Yohanes 1:20) Ia adalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalanTuhan! (lihat Yohanes 1:23) Sedangkan Dia yang datang kemudian daripada Yohanes, "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak," ujar Yohanes. (lihat Yohanes 1:27)

Lebih jauh, dalam kitab Yohanes 3:22-36, kita dapat membaca kesaksian Yohanes tentang Yesus. Sejak awal mewartakan pertobatan bagi orang-orang berdosa, tampak iman Yohanes yang begitu besar kepada Yesus.

Sampai terjadilah peristiwa itu. Yohanes menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri adiknya. Yohanes lalu dipenjara. Dalam keadaan tak menentu di selnya, muncul keraguan pada Yohanes. Ia lalu mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (lihat Matius 11:3)

Yesus tidak menjawab secara langsung pertanyaan Yohanes, melainkan memaparkan kejadian-kejadian nyata: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. (lihat Matius 11:5)

Tidak seperti Petrus dan Yohanes serta Paulus yang pernah dibebaskan dari penjara melalui pertolongan malaikat, Yohanes terus mendekam dalam penjara sampai anak Herodias meminta kepala Yohanes sebagai hadiah atas tariannya yang indah di hadapan Herodes.

***

Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan kita juga. Ketika kehidupan berjalan mulus, iman kita memuncak dalam kegembiraan. Tetapi, tatkala kemalangan merengkuh kita, dalam keadaan serba tidak jelas, kita melontarkan tanya kepada Yesus, "Engkau akan menolongku? Berapa lama lagi aku harus menanti?"

Perhatikanlah. Seperti kepada Yohanes, mungkin Tuhan Yesus memberi kita jawaban tidak secara langsung. Adakah kita melihat-mendengar-memahami jawabanNya? Atau, kita menjadi tidak sabar, putus asa, dan meninggalkanNya?

"Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku," tandas Yesus kepada murid-murid Yohanes yang datang bertanya kepadaNya. Kata-kata yang sama diucapkanNya kepada kita. 

Selasa, 08 Desember 2015

Imanuel dan Imakulata

Hari ini Gereja semesta memperingati Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda atau Imakulata. Sebetulnya mudah bagi kita untuk meyakini sepenuhnya Kebenaran bahwa Bunda Maria sejak dalam kandungan tidak memiliki dosa asal. Dan keyakinan kita ini bukan lantaran dogma yang diterbitkan Paus Pius IX pada 8 Desember 1854, tetapi lebih pada pemahaman akan Sabda Yesus dalam Injil.

Dalam Matius 5:8, tertulis salah satu Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus Kristus, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Seorang manusia biasa yang hatinya bersih dan murni akan dapat melihat Allah. Jika Allah mensyaratkan hati yang suci untuk dapat berelasi secara pribadi dengan Allah, tentu Allah mensyaratkan yang jauh lebih sempurna bagi kediaman Sang Putra - Allah yang menjadi Manusia.

Bunda Maria sebagai Perawan Pilihan Allah telah dipersiapkan jauh sebelumnya. Ingatlah akan kalimat-kalimat dalam Mazmur 139:16, "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Saat Allah menciptakan sesosok manusia, Ia telah merancang secara rinci hari-hari yang akan dijalani manusia tersebut. Dengan pemahaman ini, tentu Bunda Maria pun telah digariskan sejak semula untuk menjadi Ibu Allah Putra.

Namun Allah tak pernah memaksakan kehendakNya. Ia selalu memberi kebebasan untuk memilih kepada setiap ciptaanNya. Ketika Allah mengutus malaikat agung St. Gabriel kepada Maria, keputusan akhir ada pada Maria. Jawaban Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," (Lukas 1:38) menjadi keputusan terpenting yang menggulirkan kisah selanjutnya - kehadiran Allah dalam wujud manusia untuk menebus umat manusia dari belenggu dosa dan maut.

Allah hadir di tengah umat manusia (Imanuel) dapat terwujud karena Imakulata.

Senin, 07 Desember 2015

Jalan Kudus

Jika setiap orang di dunia ini secara sadar selalu berusaha menyenangkan hatiMu, ya Tuhan, 
maka pastilah tak akan ada lagi kesedihan, kekerasan, dan kejahatan di muka bumi. 
Semua makhluk mengarahkan pandangan mereka kepadaMu dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebut Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. (Yesaya 35:8)

Jumat, 04 Desember 2015

SikapMu

Hampir semua orang sudah tahu, ia bukan orang baik. Sepak terjangnya semata demi kesohoran dan kemakmuran diri sendiri. Kalau pun ada yang menganggapnya dermawan, mungkin hanya segelintir orang yang memperoleh keuntungan berelasi dengannya.

Terhadap orang seperti itu, bukankah sebaiknya kita mengambil jarak? Kalau bisa tak perlu sama sekali berhubungan dengannya, supaya kita tidak ikut terseret dalam gelombang kejahatan tersembunyi yang dilakukannya. Selain itu, kalau kita berbaik sapa di hadapannya sementara hati kita menentang sepak terjangnya, bukankah berarti kita berlaku munafik?

Rasanya sudah benar sikap tegas menjauhkan diri dari orang yang berkelakuan buruk, tetapi aku ingin mengetahui bagaimana sikapMu kalau berhadapan dengan orang seperti itu? Apa yang akan Engkau lakukan? 

Ketika aku mengambil buku renungan harian God Calling, kudapati renungan ini yang menggambarkan sikapMu terhadap orang-orang yang melupakanMu - mereka yang melakukan kejahatan di dunia demi kekuasaan dan keuntungan pribadi: 

Bagi mereka yang tidak merasa membutuhkan Aku, yang dengan keras kepala menolak Aku, yang menutup pintu hati mereka sehingga Aku tidak dapat masuk, Aku akan datang kepada mereka dengan kerinduan yang lemah lembut dan rendah hati. Bahkan apabila Aku mendapati semua celah tertutup, semua celah dihambat, Aku akan bertahan sebagai Pengemis yang mengetuk dan terus mengetuk pintu hati mereka. Pengemis Surgawi dalam Kerendahan Hati-Nya. (renungan tanggal 25 November)

Hmmm... betapa bedanya sikapMu dengan sikapku. Terhadap orang-orang yang menolak kehadiranMu dalam hidup mereka, Engkau akan tetap bersikap lemah lembut dan rendah hati. Engkau akan tetap bertahan, terus mengetuk pintu hati mereka agar mereka berbalik kepadaMu.

Aku malu terhadap diriku yang masih jauh dari gambaran IlahiMu. Ampuni aku, ya Yesus. Aku perlu banyak belajar dariMu. Tak sepatutnya aku menghakimi orang-orang seperti itu. Bukankah penghakiman adalah wewenangMu? Sebagai Hakim Kehidupan, Engkau masih berbelas kasih kepada mereka.

Mulai saat ini, jika Engkau menghantarku kepada orang berkelakuan buruk, aku akan melihat orang itu seperti Engkau memandangnya, berelasi dengannya seperti Engkau menyapanya. Engkau yang bergerak di dalam aku, bukan aku bertindak tanpa menyertakanMu.

Minggu, 29 November 2015

Masa Lalu dan Masa Kini

Jangan pernah menyesali masa lalu 
karena masa itu tidak akan terulang kembali. 
Lebih baik mensyukuri masa lalu 
karena melalui masa itu 
engkau telah sampai pada titik 
di mana engkau berada sekarang.






Senin, 02 November 2015

Memahami Kematian

Seseorang berdiri di halte bus. Tiba-tiba sebuah mobil yang rem-nya blong menabrak orang itu hingga wafat. Seseorang lain menjadi korban aksi perampokan, ditusuk dan meninggal. Ada orang yang tampak sehat, tiba-tiba mengalami serangan jantung lalu menghembuskan napas terakhir. Gempa bumi melanda suatu tempat, meruntuhkan bangunan dan menimbun mati penghuninya. Pesawat terbang itu meledak di udara akibat hantaman peluru kendali yang salah sasaran, seluruh penumpangnya tewas. 

Sederet cara orang meninggal bisa ditambahkan pada paragraf di atas. Terhadap orang-orang yang meninggal mendadak, kerap muncul pertanyaan: apakah orang yang mengalami kematian seperti itu memang sudah waktunya kembali kepada Sang Pencipta ataukah sebenarnya kematian bisa ditunda?

Dalam kitab Mazmur 139:16 nabi Daud menulis, ".... mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Ini berarti hari-hari hidup setiap manusia di dunia sudah ditentukan jangka waktunya. Maka, jika seseorang mengalami kematian mendadak, orang itu memang sudah saatnya pulang kepada Sang Pencipta.

Kematian milik setiap manusia, tak terelakkan. Kita tidak tahu dengan cara bagaimana kita akan mati pada waktu yang telah ditentukan Sang Pencipta. Kalau setiap orang diperkenankan Tuhan untuk memilih, tentu semua orang akan meminta cara mati yang menyenangkan dan paling sedikit rasa sakitnya. Tidur nyenyak di malam hari, membuka mata sudah di alam keabadian. Apalagi kalau Tuhan juga memperkenankan orang yang akan mati untuk berpamitan dengan keluarga dan handai tolan, lebih dulu memberesi semua urusannya di dunia.  

Kematian mendadak dengan berbagai cara yang tidak mengenakkan di mata manusia, itulah yang sering kali menyebabkan jiwa-jiwa yang belum mau beralih ke dunia lain terpenjara antara dunia fana dan kekal, serta menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.

Mungkin, cara Tuhan memanggil pulang tidak sesuai dengan harapan manusia. Kematian mendadak - mengejutkan kedua pihak: orang yang meninggal belum siap dan belum ingin meninggal, sementara orang yang ditinggalkan belum siap ditinggal pergi selamanya. Dalam situasi ini diperlukan  keikhlasan hati. Orang yang meninggal ikhlas melepas segala ikatannya dengan dunia kebendaan, sedangkan orang yang ditinggalkan ikhlas melepas kepergian orang itu ke alam baka.  

Kematian tetap menjadi misteri bagi manusia. Tetapi, dengan iman kita meyakini, Kristus telah dibangkitkan Bapa dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Kristus telah membinasakan musuh terakhir manusia, yaitu maut. (lihat 1 Korintus 15:20 dan 26)

Kita semua yang masih tinggal di dunia ini menanti jemputanNya. Nantikan kedatanganNya bukan dengan rasa takut dalam ketidakpastian, melainkan dengan rasa pasrah dalam keyakinan.

KedatanganNya sepatutnya menjadi saat yang membahagiakan bagi setiap orang, karena dapat menatap Tuhan muka dengan muka. Seperti dikatakan Santa Teresa Avila, "Aku ingin melihat Tuhan, dan untuk melihatNya, aku harus mati." Melalui perubahan dari hidup fana ke hidup kekal, terpenuhilah kerinduan jiwa manusia untuk bersatu dengan Penciptanya.

Minggu, 01 November 2015

Tidak Dikenal, Namun Terkenal


Menurut rasul Paulus, salah satu ciri pelayan Allah adalah "sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal." (2 Korintus 6:9) Para kudus yang kita rayakan pada hari ini adalah pelayan-pelayan Allah yang setia semasa mereka hidup di dunia. Tidak banyak orang mengenal mereka, namun akhirnya mereka menjadi terkenal.

Ketika Germaine Cousin lahir di Pibrac-Perancis tahun 1579, ibunya meninggal. Ayahnya menikah lagi, tetapi sang ibu tiri sangat membenci Germaine. Ia tidak boleh tinggal di rumahnya sendiri, melainkan di gudang. Tidur beralas kumpulan ranting dengan bantal dari tumpukan jerami.

Germaine berperawakan kurus, tangan kanannya cacat, dan menderita penyakit TBC kelenjar. Setiap pagi ia hanya diberi sepotong roti dan air putih. Ia harus menggembalakan domba dan mengerjakan berbagai tugas dari ibu tirinya. Semua tugas diselesaikan Germaine dengan gembira.

Sepanjang hidupnya, Germaine tak pernah mengenyam pendidikan. Tetapi ia memiliki pengalaman rohani yang mendalam. Di tengah kesibukan kerja setiap hari, Germaine selalu menyediakan waktu untuk mengikuti misa dan berdoa Rosario.

Germaine meninggal di atas ranjang rantingnya pada usia 22 tahun. Saat itulah, ibu tirinya bertobat. Ia terus berada di samping jenazah anak tirinya dan meminta maaf atas semua perlakuannya kepada Germaine.

Kisah hidup seorang anak manusia yang sangat biasa, diterlantarkan ibu tiri yang kejam. Namun Tuhan mengganjar kerendahan hati, ketabahan, dan kesalehan Germaine dengan mahkota kehidupan abadi. Setelah 43 tahun kematiannya, ketika makamnya dibongkar, mereka mendapati jasad Germaine tidak hancur. Jasad itu dimakamkan kembali dalam peti kaca dan diletakkan di bawah altar Gereja Pibrac.

Alfonsus Rodriguez (1531-1617) selama 45 tahun melakukan tugasnya sebagai penjaga pintu biara Serikat Yesuit di Palma de Majorca, Spanyol. Banyak orang mendapat peneguhan spiritual saat bertamu ke biara dan diterima oleh sang penjaga pintu. Di antaranya, Petrus Claver, imam Yesuit yang semasa belajar sering meminta nasihat Bruder Alfonsus.

Kesetiaan pada tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati, menjadikan Alfonsus seorang kudus. Ia selalu menganggap orang yang ia bukakan pintu di biara adalah Yesus sendiri. Pada 6 September 1887 Alfonsus dikanonisasi sebagai Santo.

Ini pun kisah hidup yang sangat bersahaja. Bayangkan, selama 45 tahun hanya menjadi penjaga pintu! Bagi Tuhan ketulusan hati dalam kesetiaan adalah harta yang tak ternilai.

Hidup tersembunyi dalam persekutuan yang erat bersama Yesus selama berada di dunia. Memakai  mahkota kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah. Tidak dikenal, tetapi terkenal - demikianlah cara hidup orang-orang kudus.

Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.

Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.

Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.

Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.

Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.

Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.

Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.

Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.

Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.

Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.

Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.

Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.

Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.

Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.

Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.

Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.

Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.

Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.

Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpufMereka sangat rendah hati, tidak mengharapkan ketenaran; namun setelah mereka meninggalkan dunia ini, mereka malah terkenal.

Kamis, 22 Oktober 2015

Alarm

Misa harian pagi itu terlambat 20 menit. Pasalnya, Imam yang memimpin misa kebablasan tidur. Alarm yang dipasang untuk membangunkan beliau tidak berbunyi. Kejadian ini membuahkan refleksi: Bagaimana jika alarm dalam diri kita tidak berfungsi?

Alarm pengetahuan baik dan jahat, alarm kejujuran, alarm kasih, alarm kemanusiaan, alarm kerendahan hati, alarm penyangkalan diri, alarm ketegasan... dan alarm-alarm lain yang berfungsi mengingatkan kita kepada kebenaran pikiran, perkataan, dan perilaku kita; yang membuat kita terhindar dari jerat dosa dan maut.

Periksalah keberfungsian alarm kita secara berkala dengan berpedoman pada kebenaran Alkitab.
 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12)
    

Jumat, 09 Oktober 2015

Kerendahan Hati dan Ketaatan

Masa pemurnian telah selesai,
kini saatnya belajar mengosongkan diri.
Bagai bejana baru yang siap Engkau isi,
dalam kepasrahan total kepadaMu.

Untuk dapat mengosongkan diri,
perlu kerendahan hati.
Untuk dapat berserah secara total,
perlu ketaatan.

Kerendahan hati dan ketaatan,
kunci menuju kesatuan dengan Bapa.
Engkau sendiri telah mencontohkannya,
semasa hidupMu di dunia.

Setahap demi setahap,
Engkau membuka pemahamanku.
Aku masih perlu banyak sekali belajar dariMu.
Biarkan Air itu mengalir ke dalam bejana,
sampai penuh pada saat yang Engkau tentukan.

Jumat, 18 September 2015

Taat dan Setia

Orang yang setia adalah orang yang selalu taat. Untuk dapat menjadi orang yang setia, 
kita perlu bertahan terus dalam ketaatan. 

Selasa, 15 September 2015

Martir Tanpa Darah

Semasa hidup di dunia Bunda Maria mengalami berbagai penderitaan, terutama tujuh duka yang kita peringati hari ini. Duka-duka itu menjadikan Bunda Maria sebagai Martir Tanpa Darah.

Sampai sekarang, Bunda Maria masih berduka melihat penderitaan yang dialami manusia di muka bumi:

* Bunda Maria berduka karena perbantahan di antara manusia - percekcokan, pertengkaran, dan permusuhan merajalela dari lingkup rumah tangga hingga antar-negara. 

* Bunda Maria berduka karena banyak orang harus mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat perang dan bencana alam.

* Bunda Maria berduka karena anak-anakNya yang hilang - semakin menjauh dari Kerajaan Allah.

* Bunda Maria berduka karena sikap apatis manusia - ketidakpedulian akan penderitaan orang lain di sekitarnya.

* Bunda Maria berduka karena semakin banyak orang memilih kematian yang sia-sia, tanpa menggali tujuan hidup yang bermakna.

* Bunda Maria berduka karena kekerasan semakin kerap terjadi, seolah menjadi cara yang wajar untuk menyingkirkan makhluk lain yang tidak disukai.

* Bunda Maria berduka karena kehampaan hidup yang dialami manusia akibat meluasnya paham-paham duniawi.      

Karena itu, sampai sekarang Bunda Maria terus bergiat dalam upaya menyelamatkan umat manusia. Kita pun dapat meringankan, kalau tidak mampu menghapus, duka Bunda Maria. Bertobat, berdoa, berpuasa, dan bermatiraga demi keselamatan banyak orang - menjadi Martir Tanpa Darah seperti Bunda Maria.  


Kamis, 03 September 2015

Hari-Hari Ini adalah Jahat

Kejahatan semakin merajalela, dengan kekejaman yang tak terbayangkan. Penghilangan nyawa manusia lain tidak lagi dipandang sebagai kejahatan tertinggi.

Bagaimana bisa terjadi, seorang siswa SMP di Bandung membawa palu dari rumahnya untuk dipukulkan ke kepala siswi SMP lain? Lalu, mengapa seorang pria penagih utang di Bekasi tega mencekik dan membenturkan kepala perempuan yang berutang Rp 300 ribu ke lantai, hingga berujung pada kematian?

Dua kejahatan dalam kurun satu minggu itu hanyalah segelintir dari bermacam kekerasan yang terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia. Banyak manusia tidak lagi memiliki hati yang lemah lembut. Egoisme melambung, mengalahkan kemanusiaan. Suara hati menjadi tumpul.

Tidakkah Anda merasakan, betapa kuasa kegelapan semakin mencengkeram dunia ini? Si jahat kian gencar berkeliaran mencari mangsa. Dengan kelicikannya menyulut pertengkaran antarpribadi, permusuhan antarkomunitas, sampai peperangan antarbangsa. 

Hari-hari ini adalah jahat. Untuk itu kita perlu menggunakan waktu yang ada dengan bijak:
Lawanlah si jahat dengan kekuatan doa.
Bertahan dalam iman dan kebenaran.
Bertumbuh dalam kasih dan pengharapan.
Setia menempuh jalan sunyi yang tidak populer.     

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:15-17)

Jumat, 28 Agustus 2015

Di Bawah Pohon Ara

Di bawah pohon ara Filipus bertemu Natanael. Filipus berkata tentang Yesus anak Yusuf dari Nazaret. "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" tanya Natanael kepada Filipus.

Ketika Natanael datang kepadaNya, Yesus berkata, "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Natanael menanggapi Yesus. (lihat Yohanes 1:45-51)

Mengapa Natanael takjub akan Yesus yang mengatakan sebelumnya Ia telah melihat Natanael di bawah pohon ara?

Di bawah pohon ara Natanael meragukan ke-Ilahi-an Yesus yang berasal dari Nazaret. Dengan berkata telah melihatnya di bawah pohon ara, berarti Yesus sudah mengetahui seluruh isi hati Natanael. Natanael merasa "telanjang" di hadapan Yesus.

Di dalam hati kita berkutat segala pikiran, perasaan, niat, rancangan, keinginan, dan harapan. Adakah kepalsuan dan kebusukan di dalam hati kita? Di hadapan Allah kita semua "telanjang."  
  

Selasa, 25 Agustus 2015

Jalan di Tengah

Jalan di sisi kanan penuh semarak surgawi
Jalan di sisi kiri penuh kenikmatan duniawi
Putih dan hitam, ekstrem kanan dan ekstrem kiri

Jalan di tengah sangat sempit
Terdesak jalan di sisi kanan dan kirinya
Bukan jalan abu-abu
Bukan pula jalan kompromi

Jalan di tengah bening bagai kristal
Sejernih hati yang melintasinya
Tanpa kecenderungan ke kiri atau ke kanan
Pandangan lurus ke tujuan akhir

Jalan di tengah adalah jalanMu
Jalan Kasih dan Kesetiaan

       ***

Kendati jalanKu tampaknya sempit, jalan itu menghantar menuju kehidupan yang berkelimpahan. Ikutilah jalan itu. Jalan itu tidak terlalu sempit untuk Aku yang ingin menempuh jalan itu di sampingmu. Kamu tidak pernah kesepian dengan persahabatan semacam itu. Seorang sahabat dengan kelembutan dan kekuatan yang tiada batas akan menempuh jalan itu bersamamu. (dari buku God Calling - renungan tgl 25 Agustus)

Rabu, 19 Agustus 2015

Menapak Tanah Suci

Entah kapan pastinya, dalam sanubariku muncul kerinduan untuk menapak tanah suci - tempat Engkau pernah menghirup udara bumi dan bermukim selama 33 tahun. Mungkin kerinduan itu telah muncul saat aku membeli buku Napak Tilas ke Tanah Suci 17 tahun silam, atau ketika aku melihat film Jerusalem - Holy City 8 tahun lalu.....

Jawaban Doa
Dan kerinduan itu semakin menggunung, tatkala seorang sahabat yang baru kembali dari ziarah ke Yerusalem dua tahun silam - memberiku Rosario bermanik-manik kayu zaitun dengan lingkaran 0,5 cm yang memuat tanah Yerusalem disertai tulisan terra sancta.

Setiap aku mendaraskan doa dengan Rosario itu, aku mencium tanah keringnya seraya berucap dalam hati, "Suatu saat aku akan ke tempat Engkau pernah tinggal, ya Tuhan Yesus dan Bunda Maria...."

Jawaban doa itu datang tanpa diduga, bahkan didahului dengan dua peristiwa duka dalam hidupku: kepergian Ibuku dan pasangan hidupku. Niat untuk berziarah semakin mantap, akhirnya terwujud pada pertengahan bulan lalu (16-26 Juli 2015).

Terima kasih atas anugerah ini....
Segencar apa pun aku mengingini sesuatu, tak akan kesampaian tanpa campur tanganMu.

Mengikis Kekhawatiran

Semakin mendekati hari keberangkatan, aku dilanda kekhawatiran: Bagaimana keamanan di tempat-tempat yang akan kami kunjungi dalam ziarah? Bagaimana keselamatan dalam penerbangan jarak jauh yang harus kami tempuh?  

Aneka pikiran bermain dalam benak. Kian dibayangkan, kian mencemaskan. SabdaMu bergema  dalam hatiku mengatasi kerapuhan imanku. "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka," (Matius 10:28) sebagai jawaban atas kekhawatiranku terhadap keamanan di Timur Tengah.

"Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu," (Matius 10:29) menjadi kekuatanku ketika menaiki tangga pesawat. Yakin, kalau Engkau tidak menghendaki kami jatuh ke bumi, seberat apa pun medan perjalanan yang akan kami tempuh, kami akan tetap selamat.

Terima kasih atas peneguhan ini.....
Aku harus tetap fokus pada tujuan semula, tanpa FirmanMu, si jahat dengan mudah mengacaukannya.

MenghidupiMu
Mengunjungi sejumlah tempat di mana Engkau pernah menapak, tinggal, dan mewartakan Kabar Sukacita lebih dari 2000 tahun silam, sebagai upaya menghidupiMu di tengah zaman ini. Pemaparan-pemaparan yang ada di Kitab Suci menjadi hidup dan penuh makna dalam pandangan mata.

Jalan salib menyusuri deretan pertokoan - jalan yang sama seperti yang Engkau tempuh di masa lalu, tetapi tentu dengan pemandangan berbeda. Menikmati keheningan Danau Galilea pada waktu malam dari balik jendela kamar hotel - suasana yang sama seperti yang Engkau rasakan di masa lalu, tetapi tentu di tempat berbeda.

Betapa terasa kehadiran IbuMu, ketika berkunjung rumahnya di Nazaret. Rasa sukacita yang penuh tatkala menuruni Gunung Tabor, seperti ketiga muridMu yang menyaksikan langsung KemuliaanMu. 

Terima kasih atas pengalaman ini.....
Engkau telah membuka mata dan hatiku untuk mengenal Jejak-jejakMu di muka bumi,

Pasrah dan Rendah Hati
Berbagai pengalaman yang dialami dalam peziarahan 10 hari ini mengerucut pada dua keutamaan  yang perlu dimiliki peziarah: pasrah dan rendah hati.

Pasrah sepenuhnya pada kehendak Tuhan, membiarkan diri dibimbingNya meski tidak tahu apa yang bakal dialami. Dengan rendah hati menerima apa yang terjadi selama peziarahan, karena percaya apa yang diberikanNya adalah yang terbaik.

Terima kasih atas pembelajaran ini....
Engkau telah mengajarkanku dua keutamaan yang bukan hanya diperlukan saat berziarah di Tanah Suci, melainkan juga dalam peziarahan di dunia ini.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Enam Tempayan di Kana


Aku datang ke tempat ini untuk menemuiMu di ruang pesta perjamuan.
Sementara sejumlah pasangan mengukuhkan janji pernikahan mereka,
aku berharap dapat mengikat persatuan sepenuhnya denganMu.

"Saatmu belum tiba," ujarMu kepadaku.

Berapa lama lagi aku harus menantiMu?
Teringat penggalan Injil Yohanes 2:6 yang kubaca di dinding halaman gereja ini:
Ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi...

Lihat, di latar belakang altar, tampak enam tempayan tanah liat!
Aku mengerti maksudMu.
Engkau masih perlu mengisi enam tempayanku yang kosong
dengan air anggur terbaikMu,
sampai aku menjadi sempurna dan siap dibawa ke Pemimpin Pesta.

Berilah aku kesabaran dan kerendahan hati menunggu waktuMu.

Kamis, 16 Juli 2015

Ke Tempat Engkau Pernah Menapak

Ini adalah perjalanan Ketaatan.
Jika kami mengingininya,
tetapi Engkau tidak menghendakinya,
tentu tak akan terwujud.

Ini adalah perjalanan Pencarian.
Seperti tiga orang majus dari timur,
meyakini akan bertemu Sang Raja,
terus maju mengarungi padang gurun.

Ini adalah perjalanan Cinta.
Menapaki jalan-jalan yang dulu Engkau pernah lalui,
menghayati perjuangan hidupMu sebagai Allah yang menjadi Manusia,
menyadari betapa tak bersyarat CintaMu kepada kami.

Rabu, 01 Juli 2015

KepadaMu dan BersamaMu

Sembah-hormat dan puji-syukur kepadaMu, ya Tuhan Yesus Kristus,
yang telah membawaku berjalan bersamaMu sampai sejauh ini:

Engkau membuka mata batinku,
bagai Bartimeus yang memperoleh penglihatan.

Engkau memampukanku menyelami kehidupan,
bagai Maria Magdalena yang meninggalkan cara hidup lama.

Engkau memberiku pemahaman akan kehidupan surgawi,
bagai Nikodemus yang bercakap-cakap denganMu di malam hari.

Engkau bertakhta dalam diriku,
bagai Paulus yang hidup sepenuhnya bagiMu.  

BersamaMu, tak ada lagi perbedaan antara:
kegembiraan dan kesedihan,
keberhasilan dan kegagalan,
kesehatan dan kesakitan,
kenikmatan dan kekeringan,
kehidupan dan kematian.

Yang ada hanyalah Engkau:
kepadaMu, dan BersamaMu.

Jumat, 26 Juni 2015

Ketidaktaatan Sarai dan Ketaatan Hagar

Sudah 10 tahun berlalu sejak Abram mengikuti perintah Tuhan untuk tinggal di tanah Kanaan. Tetapi janji Tuhan akan memberinya keturunan belum juga dipenuhi. Di tengah ketidakpastian, Sarai, istri Abram, berinisiatif mengajukan seorang hambanya yang berasal dari Mesir, Hagar, untuk menjadi istri kedua dari Abram (lihat Kejadian 16:1-3).

Apa yang dilakukan Sarai kepada suaminya mirip seperti saat Hawa menyodorkan buah pohon pengetahuan baik dan buruk kepada Adam. Hawa tidak taat kepada perintah Allah, sama seperti Sarai yang bertindak sendiri tanpa mau menunggu Allah bertindak.

Keadaan menjadi runyam, saat Hagar mengandung anak Abram. Hagar memandang rendah Sarai, majikannya. Sarai balik menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkan nyonyanya.

Dalam pelarian, di dekat mata air di padang gurun, Hagar disapa malaikat. Malaikat itu memintanya kembali ke rumah Sarai dan membiarkan dirinya ditindas. Setelah mengalami penindasan, Hagar akan melahirkan seorang anak lelaki dan keturunannya pun akan sangat banyak (lihat Kejadian 16:7-10).

Hagar taat pada apa yang dikatakan malaikat. Ia membiarkan dirinya ditindas Sarai sampai lahir anak lelakinya yang dinamai Ismael. Ketaatan Hagar membuahkan berkah bagi putranya. Tuhan menjadikannya juga bangsa yang besar (lihat Kejadian 17:20).


***

Betapa mudah kita menjadi tidak taat kepada Tuhan, karena kita lebih condong pada kemauan kita sendiri daripada melakukan kehendakNya.

Bahkan sekalipun kita bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat demi namaNya - pekerjaan-pekerjaan besar itu tak ada artinya jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebaliknya, meskipun kita melakukan pekerjaan remeh yang dalam pandangan orang banyak tak bernilai, tetapi jika hal itulah yang Tuhan ingin kita lakukan, maka Tuhan berkenan akan perbuatan kita.

Selasa, 16 Juni 2015

Tinggi - Rendah - Tinggi

Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas; (Yehezkiel 17:22)

Pucuk pohon yang paling ujung adalah bagian tertinggi dari sebatang pohon. Berada di puncak tak berarti kita telah menempati posisi yang mapan dan aman. Sang Pencipta dapat saja mematahkan kita dan memindahkan kita ke atas tanah.

Tentu IA punya maksud tertentu ketika melakukannya, saat kita merasa sakit karena dipatahkan dari tempat kita semula. Kita pun malu karena dari pucuk paling tinggi kini berada begitu rendah - dekat sekali dengan tanah. Tak dipungkiri, kita melayangkan protes kepadaNya.

Jangan tergesa berburuk sangka. Ikutilah prosesNya. Bukankah IA telah memilih engkau di antara sekian banyak pucuk pohon? Memang, ada rasa sakit ketika kita dicabut dari zona nyaman dan direndahkan. 

Tunggulah beberapa waktu. Engkau akan melihat hasilnya. Pucuk yang kecil dan tak berdaya itu, kini menjadi pohon besar dan rindang di atas gunung yang menjulang tinggi. Engkau akan bersukacita, membungkuk penuh hormat dan syukur kepadaNya.  

Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya." (Yehezkiel 17:24)

Sabtu, 13 Juni 2015

Ya atau Tidak

Hari ini Engkau mengajarkan tentang ketegasan dan keteguhan: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37)

Yang Engkau maksudkan "apa yang lebih daripada itu" adalah kebimbangan - antara ya dan tidak. Orang yang berada dalam situasi bimbang atau ragu, akan mudah sekali disusupi si jahat. Ketika kita tidak tegas dalam mengambil keputusan, si jahat akan menyodorkan berbagai alasan yang memperlemah kita, sampai akhirnya kita memutuskan yang salah. 

Stop keraguan.
Bersikaplah tegas dalam memutuskan dan teguh dalam memegang keputusan.

Rabu, 03 Juni 2015

Titik Kepasrahan Total

Pada saat manusia sepenuhnya sadar akan ketidakberdayaan dirinya, saat itulah ia mencapai titik kepasrahan total.

Di titik kepasrahan total, manusia mengakui ada kuasa lain yang jauh lebih besar di luar dirinya.
Di titik kepasrahan total, manusia mengimani Sang Mahakuasa yang mengendalikan keadaan yang tengah dihadapinya.
Di titik kepasrahan total, manusia mengalami kehadiran dan penyertaan Sang Mahakuasa dalam batinnya.

Titik kepasrahan total adalah titik tertinggi dalam grafik perjalanan iman manusia, bukan titik terendah. Karena pada titik itulah manusia berada paling dekat dengan Tuhan yang diimaninya.

Sabtu, 30 Mei 2015

Kuasa Mengampuni Dosa

Setelah Yesus bangkit dari kematian, para muridNya berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu tertutup karena takut kepada orang-orang Yahudi. Yesus lalu menampakkan diri kepada mereka (lihat Yohanes 20:19).

Kemudian, Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus sambil berkata, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yohanes 20:22-23)

Dari peristiwa tersebut kita dapat menyimpulkan, setiap pengikut Kristus yang telah memiliki Roh Kudus dalam dirinya, juga mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Kita dapat menyatakan dosa seseorang tetap ada atau kita mengampuni dosa orang itu. Kuasa yang sungguh besar ini diberikan kepada kita.

Di satu sisi, kita bisa saja sesuka hati tidak mau mengampuni kesalahan orang yang kita anggap telah amat sangat merugikan kita. Bukankah kita memiliki kuasa untuk menyatakan dosa seseorang tetap ada?

Namun, di sisi lain Yesus mengajarkan kita mengampuni kesalahan orang lain: "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Markus 11:25)

Gunakanlah kuasa mengampuni dosa yang diberikan Yesus melalui Roh KudusNya ini dengan sangat bijaksana. Ingatlah akan perumpamaan hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta kepada rajanya. Hutang yang besar itu dihapuskan karena belas kasihan raja. Tetapi hamba itu tidak mau menghapus hutang temannya yang hanya seratus dinar. Kebaikan hati kita mengampuni dosa orang lain paralel dengan kebaikan hati Bapa  mengampuni dosa-dosa kita.

Kamis, 21 Mei 2015

Bertahan dalam Penantian

Menanti adalah pekerjaan yang menimbulkan harapan sekaligus kecemasan selama penantian. Contohnya, ketika kita menanti anak kita pulang ke rumah dari bepergian. Kita berharap segera bertemu dengannya, tetapi selama menanti itu kita diwarnai kecemasan apalagi jika hari sudah larut malam.

Menanti dengan batas waktu tertentu lebih ringan, daripada menanti tanpa batas waktu yang jelas. Misalnya, seseorang berjanji bertemu dengan kita lima jam lagi. Kita menantinya, tetapi kita tenang karena yakin lima jam lagi akan berjumpa dengan orang itu. Lain halnya jika kita diminta menanti terus, tanpa batas waktu sebagai akhir penantian.

Itulah yang terjadi dengan kesebelas rasul dan Bunda Maria, ketika Yesus telah naik ke Surga. Yesus berpesan agar mereka tetap bertahan di Yerusalem, menanti kedatangan Roh Kudus. Yesus tidak mengatakan batas waktu penantian itu (lihat Kisah Para Rasul 1:4).

Tak ada yang tahu, kapan penantian akan berakhir. Setiap hari mereka berkumpul di ruang atas untuk berdoa (lihat Kisah Para Rasul 1:13-14). Ada harapan, namun diliputi kecemasan. Mereka takut pada orang-orang Yahudi.

Dalam masa penantian yang tak berujung ini, orang-orang yang menanti cenderung beralih dari fokus yang dinanti. Tidak ada kejelasan, sementara banyak tawaran lain yang menarik datang menghampiri.

Satu hal yang diperlukan: bertahan dalam penantian!  

Memang tidak enak - membosankan, membuat hati berharap-harap cemas, ingin segera mencapai akhir penantian. Namun, jangan berpaling dari fokus, yang dapat membuat kita menyesalinya setelah penantian berakhir.

IA yang menjanjikan, tentu tahu batas kesanggupan penantian setiap manusia. Jika kita tetap bertahan dalam penantian, yakinlah, kebahagiaan telah menunggu di ujung penantian.

Selasa, 19 Mei 2015

Dicari: Kaum Awam yang Kudus

Menarik mencermati perbandingan orang kudus yang berasal dari kaum religius (imam, biarawan, biarawati) dan kaum awam, seperti ditampilkan dalam tabel di bawah ini:



          Era Paus
Kanonisasi Kaum Religius
Kanonisasi Kaum Awam
Beatifikasi Kaum Religius
Beatifikasi Kaum Awam
Paus Yohanes Paulus II (27 thn)
480
2
1.324
14
Paus Benediktus XVI (8 thn)
42
3
811
32
Sumber: dari Buku Sumber Tak Pernah Kering – Catatan Keteladanan Para Kudus Awam karya Paulus Widyawan Widhiasta, Penerbit Kanisius tahun 2015 - yang dijadikan tabel.


Minggu 17 Mei yang lalu, Paus Fransiskus menganugerahkan gelar "Santa" (kanonisasi) kepada empat biarawati: Santa Mariam Bawardy dan Santa Marie Alphonsine Danil Ghattas - keduanya berasal dari Palestina; serta Santa Jeanne Emilie de Villeneuve dari Perancis dan Santa Maria Cristina Brando dari Italia.

Kembali, kaum berjubah yang dikanonisasi. Mengapa hanya sedikit kaum awam yang layak disebut Santo/Santa dan Beato/Beata?

Kita dapat beralasan, kaum religius memang pantas disebut kudus, karena cara hidup mereka mengarah pada kekudusan. Mengawali setiap hari, mereka bersatu dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Mereka memiliki disiplin doa yang ketat - pagi, sore, dan malam hari. Mereka melakukan retret berkala, membaca Kitab Suci dan buku-buku rohani. Mereka mencerminkan Kristus kepada sesama yang mereka layani.

Kaum awam pun dapat berbuat seperti yang dilakukan kaum berjubah!

Awalilah hari dengan hadir dalam Perjamuan Kudus untuk bersatu dengan Kristus. Daraskan doa harian dan doa devosi seperti Rosario, Koronka, Roh Kudus, Jiwa-Jiwa di Api Penyucian, devosi kepada Malaikat Agung dan Orang Kudus tertentu. Bukan untuk terus meminta, melainkan untuk menghormati, bersyukur, serta berdoa bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Bacalah renungan harian yang tersedia dalam buku renungan. Berbagai buku renungan harian ditawarkan, pilihlah yang paling sesuai. Pada setiap renungan, tercantum bacaan Kitab Suci untuk hari itu. Dengan demikian, kita pun membaca Alkitab setiap hari. Jika masih ada waktu, kita dapat membaca buku-buku rohani lainnya.

Sebagai pengikut Kristus, setiap kita - baik kaum berjubah maupun kaum awam - diharapkan dapat menjadi "Kristus yang lain" - mencerminkan sifat-sifat Kristus melalui perkataan, sikap, dan perilaku kita sehari-hari. Inilah bukti nyata kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita.

Jika kaum awam semuanya menerapkan seperti yang dikemukakan di atas, maka tak ada lagi perbedaan kerohanian antara kaum berjubah dengan kaum awam. Yakinlah, dengan cara ini akan semakin banyak kaum awam yang menjadi orang kudus.  

Senin, 18 Mei 2015

Suara Hati

Rasul Yohanes mengatakan, jikalau hati kita tidak menyalahkan kita, maka kita berani menghadap Allah. Apa yang kita minta akan kita dapatkan, karena kita taat pada perintah-perintahNya dan melakukan apa yang menyenangkan hatiNya (lihat 1 Yohanes 3:21-22).

Hati kita dapat menyalahkan kita kalau kita berbuat salah dan dosa, karena suara hati adalah suara Roh Kudus. Sebaliknya, jika hati kita tidak menyalahkan kita, berarti kita sudah berada di jalan yang benar, melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan.

Kalau kita sering mengabaikan suara hati, lama-kelamaan suara hati menjadi pudar dan tak terdengar. Kita kehilangan arah yang benar. Tetap ada suara lain yang terdengar dari dalam hati kita, namun bukan suara Roh Kudus. Lebih pada suara egoisme manusia, yang kita sangka adalah suara hati yang benar.

Bersihkanlah selalu hati kita, agar kita dapat mendengar suara hati yang sejati.
 

Minggu, 17 Mei 2015

Ditinggalkan Roh Tuhan

Saul adalah raja pertama bangsa Israel di zaman nabi Samuel. Semula bangsa Israel yang telah tinggal di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan, tidak mempunyai raja. Raja mereka adalah Allah Semesta Alam. Tetapi, kemudian bangsa Israel mengingini seorang raja, seperti bangsa-bangsa lain. Nabi Samuel telah mengingatkan, adanya raja akan membawa petaka. Namun, karena bangsa Israel tetap bersikukuh, Tuhan mengabulkan permintaan umat pilihanNya dengan menjadikan Saul sebagai raja.

Setelah menjadi raja, beberapa kali Saul tidak taat kepada Allah. Misalnya, sebelum menyerbu bangsa Filistin, bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran kepada Allah lebih dulu. Saul menunggu kedatangan nabi Samuel, tetapi karena sang nabi tidak kunjung tiba, Saul mempersembahkan sendiri korban bakaran.

Ketika nabi Samuel datang dan mengetahui apa yang telah diperbuat Saul, ia berkata, "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan. Sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hatiNya untuk menjadi raja atas umatNya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu." (lihat 1 Samuel 13:5-14)

Ketidaktaatan Saul yang kedua adalah ketika ia dipercaya Tuhan menumpas orang Amalek. Tuhan mengatakan semua harus dimusnahkan tanpa kecuali. Tetapi Saul menyisakan Agag, raja orang Amalek; kambing domba, lembu, dan segala yang berharga juga tidak dimusnahkan.

Tuhan lalu berkata kepada nabi Samuel, "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firmanKu." (lihat 1 Samuel 15:1-35) Selanjutnya, karena ketidaktaatan Saul, Roh Tuhan mundur darinya. Atas perkenan Tuhan, ia diganggu roh jahat. (lihat 1 Samuel 16:14)

Kita dapat menarik hikmah dari pengalaman Saul. Ketaatan kepada Tuhan tidak bisa setengah-setengah. Harus total. Jangan sampai karena ketidaktaatan, kita ditinggalkan Roh Tuhan dan menjadi mangsa roh jahat.

Sabtu, 16 Mei 2015

Berbicara Bahasa yang Baru

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, (Markus 16:17)

Berbicara bahasa yang baru bukan berarti tiba-tiba menguasai satu atau lebih bahasa asing.
Berbicara bahasa yang baru bukan berarti melantunkan bahasa roh yang tak dipahami kebanyakan orang.

Berbicara bahasa yang baru adalah menjadikan Cinta sebagai bahasa yang universal.
Bahasa Cinta - bahasa baru karya Roh Kudus dalam hati setiap orang percaya. 

Jumat, 15 Mei 2015

Penolong yang Lain

Ingat ketika Anda mengantar anak pertama kali masuk sekolah taman kanak-kanak? Kebanyakan anak kita minta ditemani. Ia merasa tidak nyaman, takut menghadapi lingkungan baru. Beberapa hari pertama, pihak sekolah membolehkan orangtua atau pengasuh menemani anak, tetapi hari-hari selanjutnya mereka harus pergi, membiarkan anak menghadapi situasi yang baru sendiri.

Seorang anak yang mau membuka diri kepada gurunya, setelah ditinggal orangtua atau pengasuhnya di sekolah; anak itu akan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sedangkan anak yang tetap menutup diri, terus menangis dan mengharapkan  orangtua atau pengasuhnya kembali mendampinginya, maka anak itu akan sulit masuk ke dalam situasi yang baru.

***

Demikian pula yang terjadi, ketika Yesus memutuskan untuk kembali kepada Bapa di Surga. IA harus pergi, agar para rasul bisa menghadapi situasi sendiri dan belajar menjadi dewasa. Yesus telah menjanjikan akan mengirim Penolong yang lain yang akan menyertai selama-lamanya (lihat Yohanes 14:16).

Para rasul mengimani janji Yesus dan mau membuka diri mereka untuk menerima Penolong yang lain. Dengan dibimbing dan diterangi Roh Kudus, para rasul mampu berkarya menyebarluaskan Injil Kerajaan Allah, membuat bangsa-bangsa mengenal Kristus.

Bagaimana dengan kita? Kita tidak pernah bertemu dengan Yesus dalam wujud manusia. Tetapi, apakah kita bersedia membuka diri terhadap sapaan Roh Kudus dalam sanubari kita? Ataukah kita bersikukuh tidak mau mendengarkan, bahkan merasa tidak pernah mendengar suara lembut Roh Kudus dalam hati kita?

Menjelang Pentakosta, bukalah hati kita. Kenali Yesus lebih dekat, sehingga kita dimampukan untuk mencintaiNya. Setelah mengenal dan mencintaiNya, barulah kita bisa mewartakanNya kepada orang-orang di sekitar kita.

Senin, 04 Mei 2015

Paulus dan Barnabas

Ketika Saulus baru bertobat, ia ingin bergabung dengan para pengikut Kristus di Yerusalem. Tetapi mereka takut kepadanya, tidak percaya kalau Saulus sudah menjadi murid Kristus. Barnabas dengan berani menerima Saulus dan membawanya ke para rasul (Kisah Para Rasul 9:26-27).

Santo Lukas, penulis Kisah Para Rasul, mengatakan Barnabas orang baik, penuh Roh Kudus dan iman (lihat Kisah Para Rasul 11:24). Barnabas membawa Paulus ke Antiokhia, di sini murid-murid Yesus pertama kali disebut Kristen (lihat Kisah Para Rasul 11:25-26).

Selanjutnya duet Paulus dan Barnabas menjadi pewarta Injil ulung kepada bangsa-bangsa lain. Sampai suatu kali, Barnabas ingin menyertakan Yohanes atau dikenal dengan nama Markus, sepupunya, dalam perjalanan ke kota-kota yang pernah mereka berdua kunjungi. Paulus menolaknya.

Terjadi perselisihan tajam antara kedua sahabat pewarta ini (lihat Kisah Para Rasul 15:36-41). Barnabas tetap mengajak Markus ke Siprus, sedangkan Paulus membawa Silas ke Siria dan Kilikia. Tak diketahui bagaimana kelanjutan persahabatan di antara mereka. Sepertinya perselisihan tajam itu tidak berbuntut panjang. Paulus menulis dalam suratnya kepada orang-orang di Galatia, setelah 14 tahun, ia pergi ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus (lihat Galatia 2:1).

***

Jangan pernah mengompromikan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya. Agaknya prinsip ini yang dipegang Paulus dalam mewartakan Injil Kristus. Bahkan ia tak mau berkompromi dengan Barnabas yang pertama kali menerimanya dengan tulus dan terbuka. 

Bagi Paulus, apa yang dianggap tidak benar perlu dijauhi. Dalam surat kepada orang-orang di Galatia, Paulus mengisahkan tentang kemunafikan Petrus di depan golongan yang bersunat dan tidak bersunat. Menurut Paulus, dalam peristiwa itu, Markus - saudara Barnabas - juga ikut terseret dalam kemunafikan (lihat Galatia 2:11-14).

Ketika sahabat atau orang yang dekat dengan kita tidak lagi berjalan dalam prinsip-prinsip yang kita yakini kebenarannya, apakah kita berani berterus terang kepada orang itu, mencari titik temu tanpa mengompromikan nilai-nilai kita?

Pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang lain, yang berbeda dengan sahabat atau orang yang dekat dengan kita; apakah kita tetap teguh menjalaninya tanpa merasa tidak enak dan bersalah kepada orang itu?

Merenungkan relasi antara Paulus dan Barnabas, ternyata Yesus pun bisa memakai ketidaksepahaman antara dua sahabat untuk lebih meluaskan pewartaan Injil. Perpisahan Paulus dengan Barnabas memungkinkan Injil Kristus tersebar lebih luas di beberapa wilayah berbeda, ketimbang mereka berjalan bersama ke satu wilayah.

Selalu ada sisi positif dalam setiap peristiwa, meskipun di mata manusia yang tampak adalah sisi negatifnya.

Minggu, 26 April 2015

Dipanggil untuk Menjadi Saluran Berkat

Hari ini kita merayakan Minggu Panggilan. Sebagai orang Katolik, mendengar kata "panggilan," kita langsung menghubungkannya dengan panggilan khusus menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Padahal, setiap kita yang menghirup udara di muka bumi ini juga memiliki panggilan.

Panggilan hakiki setiap manusia adalah menjadi saluran berkat bagi orang lain. 

Membuka Perjanjian Lama, kita mendapati banyak contoh seseorang yang menjadi saluran berkat bagi orang lain. Beberapa di antaranya:

- Ketika Tuhan akan menghukum kota Sodom dan Gomora karena kedosaan mereka, Abraham mencoba melunakkan hati Tuhan dengan memohon dan bertanya, "Sekiranya ada 50 orang benar di kota itu, apakah Engkau akan menghukum juga?" Tuhan berfirman,  "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (Kejadian 18:26). Abraham kurang yakin ada orang benar sebanyak itu di kota Sodom, maka ia bernegosiasi dengan Tuhan, "Bagaimana kalau ada 10 orang benar?" Ternyata, meskipun hanya ada 10 orang benar di kota itu, Tuhan tidak akan menghukumnya. Segelintir orang benar dapat menyelamatkan seluruh kota.

- Yusuf yang dijual saudara-saudaranya ke orang Ismael, dibeli Potifar, kepala pengawal raja Firaun di Mesir. Yusuf dikasihi tuannya dan diberi kuasa atas rumah dan segala milik Potifar. Sejak itu, Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf (lihat Kejadian 39:5). Potifar orang Mesir, tidak mengenal Tuhan, tetapi ia mendapat berkat dariNya karena Yusuf, yang dikasihi Tuhan.

- Naaman, panglima raja Aram, sakit kusta. Seorang anak perempuan dari Israel yang menjadi pelayan istri Naaman, memberitahukan tentang Nabi Elisa yang dapat menyembuhkan sakit Naaman (lihat 2 Raja-Raja 5:1-14). Anak perempuan Israel yang percaya akan kesalehan nabi Elisa ini menjadi saluran berkat bagi Naaman melalui informasi yang diberikannya.

Mencermati kehidupan Yesus Kristus, kita dapat melihat seluruh hidupNya merupakan saluran berkat Allah Bapa bagi orang-orang di sekitarNya.

Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir yang dijumpainya bersama Yohanes di depan gerbang Bait Allah. Mukjizat penyembuhan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 3:1-10 ini yang pertama terjadi setelah Kristus naik ke Surga dan para rasul menerima karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta. Dalam kisah ini, Petrus yang penuh dengan Roh Kudus menjadi saluran berkat bagi orang lumpuh itu.

Kita pun dapat berbuat seperti para rasul, menjadi saluran berkat bagi orang lain. Untuk itu, pertama-tama kita perlu memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang dekat hanya dapat tercipta karena ada cinta yang tulus antara kedua pihak.

Memupuk benih cinta kepada Tuhan setiap hari dapat kita lakukan melalui doa, mengenalNya lebih dekat lewat FirmanNya, dan menghadiri Perayaan Ekaristi. Ingatlah akan perkataan Yesus, barangsiapa makan TubuhNya dan minum DarahNya, maka orang itu tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam orang itu (lihat Yohanes 6:56).

Kesatuan dengan Yesus Kristus memampukan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh yang Ia janjikan akan diberikanNya, setelah Ia bangkit dari kematian dan kembali kepada Bapa di Surga.

Lihatlah bagaimana Filipus mendapat bisikan Roh untuk mendekati sebuah kereta yang di dalamnya ada seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan ratu negeri itu, yang sedang membaca kitab nabi Yesaya. Filipus mendampingi orang tersebut dan memberitakan Injil Yesus. Sida-sida itu lalu minta dibaptis. Setelahnya, Roh Tuhan melarikan Filipus ke Asdod. Di situ Filipus memberitakan Injil di semua kota sampai tiba di Kaisarea (lihat Kisah Para Rasul 8:26-40).

Sadarilah, setiap kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain di sekitar kita. Kita hanya perlu membuka diri untuk menanggapi panggilan itu dengan mendengarkan suara Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita.

Selasa, 21 April 2015

Pekerjaan DariMu

Untuk kesekian kali aku disodorkan pertanyaan yang sama oleh mereka yang berbincang denganku, "Apa kerjamu sekarang? Bagaimana kamu menghidupi keluarga setelah suamimu wafat?" Aku memahami perhatian dan kecemasan mereka, padahal aku tenang saja menjalani hidup ini. Aku katakan, aku menerima apa yang Tuhan berikan dan membiarkanNya mengatur segala sesuatu untukku.

Mereka tak puas dengan jawabanku. Mereka bilang tidak bisa demikian. Aku perlu bekerja, supaya ada income tetap. Jika hanya satu-dua orang yang berpendapat seperti itu, mungkin aku tak terlalu peduli. Tetapi, jika sudah lebih dari lima orang yang melontarkan gagasan yang sama, aku jadi berpikir ulang.

Jangan-jangan, aku salah mengartikan Sabda yang mengatakan: Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. (Mazmur 127:2) Mungkinkah aku terlalu meyakini kata-kata pemazmur itu, sampai 'malas' bekerja?

Lalu, aku mulai memikirkan beberapa kegiatan produktif yang dapat dikerjakan untuk memperoleh pemasukan. Aku membayangkan kesibukan akan menyita banyak waktuku: tergesa-gesa di pagi hari, bekerja sepanjang siang, dan kelelahan di malam hari.

Aku akan kehilangan waktu bersamaMu: terpaksa mengurangi doa-doa harian, tak sempat lagi merenungkan Firman, membaca buku-buku rohani, dan melayani orang-orang di sekitarku. Benarkah ini kehidupan yang seharusnya kujalani, setelah 15 bulan aku melewati hari-hari denganMu?

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu... (Yohanes 6:27)," kuresapi perkataanMu saat bacaan Injil kemarin.

Ah, biarlah mereka mengajukan pertanyaan itu terus kepadaku, aku pun akan tetap bertahan pada keyakinanku. Aku hanya akan melakukan pekerjaan dariMu.  
   

Jumat, 17 April 2015

Galilea-ku

Dalam perjalanan ke Taman Getsemani di bukit Zaitun setelah mengadakan Perjamuan Terakhir, Engkau mengatakan kepada para rasul, "Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." (Matius 26:32)

Pesan yang sama disampaikan malaikat, ketika beberapa perempuan datang ke makamMu menjelang fajar, "Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.... (Matius 28:7)

Engkau memilih Galilea sebagai tempat perjumpaan dengan orang-orang yang Engkau kasihi. Di Galilea pertama kali Engkau bertemu dengan mereka, ketika mereka sedang menangkap ikan. Di Galilea pula Engkau menanti mereka, berjumpa kembali denganMu setelah kebangkitanMu.

***

Galilea-ku adalah rumahku. Di tempat ini pertama kali Engkau mengetuk hatiku. Di tempat ini pula Engkau mendahului aku, menanti kepulanganku, setelah perayaan kebangkitanMu....

Suamiku wafat sekitar 14 bulan silam, sejak itu aku selalu merasa tidak nyaman berada sendirian di rumah. Selama hampir satu tahun, aku mengikuti putriku yang menuntut ilmu di luar kota. Tetapi aku tak bisa seterusnya demikian, karena rumah kami yang telah selesai direnovasi perlu dihuni.

Meskipun penampilan rumah sudah berbeda, namun aku tidak betah di rumah pada malam hari. Sepanjang pagi hingga sore hari, aku tak mengalami masalah berada sendirian di rumah. Tetapi, begitu langit berganti malam, aku mulai resah. Kesepian mencengkeram.

Menjadi niatku selama masa Prapaskah untuk pantang menginap di luar rumah. Terkadang putriku pulang menemaniku, namun tidak setiap akhir pekan ia bisa seperti itu. Selama 47 hari masa retret agung Prapaskah, aku sempat melewati 15 malam sendirian di rumah.

Setiap malam aku terbangun beberapa kali. Setelah itu sulit memejamkan mata kembali. Apa yang kutakuti atau kucemaskan? Aku tidak takut hantu, setan, dan sejenisnya. Aku pun tidak mencemaskan tindak kejahatan. Tetapi, seperti ada bagian dalam diriku yang menolak kehadiran sang malam.

Trihari Suci berlalu. Seusai libur Paskah, putriku kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu. Aku segera mengikutinya. Bukankah masa Prapaskah sudah usai? Dua malam aku menginap di hotel. Betapa pun aku ingin tetap berada dekat putriku, aku harus kembali ke rumah.

Di depan pintu gerbang rumah, aku berkata dalam hati, "Inilah Galilea-ku. Tempat Kristus mengunjungiku secara pribadi lebih dari tiga tahun silam, dan tempat Kristus kini telah menanti aku." Aku masuk ke rumah dengan hati yang damai.

Malam hari itu, untuk pertama kali aku bisa melewati malam dengan tenang dan tidur yang cukup. Hari berganti, malam menjelang. Tak ada sedikit pun rasa kesepian dalam kesendirian. Sejak itu, aku menikmati keberadaanku sepenuhnya di rumah.

Dalam keheningan suasana, di tengah doa-doa yang kudaraskan, aku dapat merasakan kehadiranMu. Keadaan sekeliling masih tetap sama saat ini seperti sebelum Paskah, namun aku yakin hatiku-lah yang telah Engkau ubah dengan kuasa Roh Kudus.

Terima kasih, ya Yesus Kristus, Engkau berkenan memberiku pengalaman Kebangkitan bersamaMu.
 

Kamis, 09 April 2015

Ketika Engkau Melepas Belengguku

Ada rasa sakit ketika Engkau melepas belengguku,
di hari pertama setelah perayaan KebangkitanMu.

Selama ini belenggu itu telah menyatu denganku,
menjadi bagian diriku, sampai aku tak lagi memandangnya sebagai belenggu.

Tentu Engkau punya maksud tertentu dengan tindakanMu itu,
aku belum dapat memahaminya saat ini.

Seperti Maria Magdalena yang belum menyadari KebangkitanMu,hatiku yang tertutup kepedihan, tak dapat melihat kehadiranMu di dekatku.

Betapa pun, belenggu ini memang perlu dilepas,
agar aku dapat menjalani hidup dengan cara pandang baru.

Minggu, 05 April 2015

Sukacita - Sukacita - Sukacita

Trihari Suci adalah Perayaan Sukacita:


* Sukacita Persatuan

Perjamuan TerakhirMu bersama para rasul. Makan malam bersama yang sedikit menegangkan dan membawa kesedihan, karena Engkau mengatakan ada yang mengkhianatiMu. Namun, ini adalah perayaan sukacita, karena dalam Perjamuan Terakhir ini Engkau memberi teladan untuk melayani dengan sepenuh hati dan sukacita. Dalam Perjamuan ini pula, Engkau memberikan kenangan abadi yang terindah: Tubuh dan DarahMu sebagai makanan dan minuman. Suatu warisan sangat berharga yang tak lekang oleh waktu. Setiap orang percaya yang menyambut Tubuh dan DarahMu, bersatu secara fisik denganMu. Adakah persatuan manusiawi lain yang lebih indah selain daripada persatuan Tubuh dan Darah?


* Sukacita Salib

Mengalami siksaan lahir dan batin, ketidakadilan dalam pengadilan, yang berujung pada kematianMu di kayu salib - Engkau menanggung semua itu dengan ikhlas. Engkau tahu, setelah kesusahan ini sukacita menanti. SalibMu adalah Salib Sukacita. Melalui kesediaanMu untuk menderita, relasi Allah dan manusia dipulihkan. Ini adalah perayaan sukacita, karena lewat SalibMu orang yang percaya mengalami penebusan sepenuhnya. Semua dosa dihapus oleh tetes-tetes DarahMu. Adakah yang lebih menggembirakan selain daripada terbebas dari beban berat akibat dosa-dosa?  


* Sukacita Kebangkitan

Kematian - akhir dari kehidupan fana. Engkau pun mengalaminya. Tetapi lewat kematianMu, Engkau menunjukkan kuasa Allah yang melampaui maut. Itulah kehidupan kekal. Dan kekekalan ini juga dapat dinikmati manusia yang menaruh kepercayaan kepadaMu. Maut tak lagi berkuasa atas manusia. Ini adalah perayaan sukacita yang sangat besar, karena ada jaminan akan kehidupan abadi yang menanti setelah kehidupan fana. Adakah yang lebih mulia selain daripada mengetahui manusia yang fana telah Engkau angkat menjadi anak-anakMu dan berhak menikmati kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah?  
 
Bersukacitalah karena CintaNya, PenebusanNya, KemenanganNya!