Minggu, 26 April 2015

Dipanggil untuk Menjadi Saluran Berkat

Hari ini kita merayakan Minggu Panggilan. Sebagai orang Katolik, mendengar kata "panggilan," kita langsung menghubungkannya dengan panggilan khusus menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Padahal, setiap kita yang menghirup udara di muka bumi ini juga memiliki panggilan.

Panggilan hakiki setiap manusia adalah menjadi saluran berkat bagi orang lain. 

Membuka Perjanjian Lama, kita mendapati banyak contoh seseorang yang menjadi saluran berkat bagi orang lain. Beberapa di antaranya:

- Ketika Tuhan akan menghukum kota Sodom dan Gomora karena kedosaan mereka, Abraham mencoba melunakkan hati Tuhan dengan memohon dan bertanya, "Sekiranya ada 50 orang benar di kota itu, apakah Engkau akan menghukum juga?" Tuhan berfirman,  "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (Kejadian 18:26). Abraham kurang yakin ada orang benar sebanyak itu di kota Sodom, maka ia bernegosiasi dengan Tuhan, "Bagaimana kalau ada 10 orang benar?" Ternyata, meskipun hanya ada 10 orang benar di kota itu, Tuhan tidak akan menghukumnya. Segelintir orang benar dapat menyelamatkan seluruh kota.

- Yusuf yang dijual saudara-saudaranya ke orang Ismael, dibeli Potifar, kepala pengawal raja Firaun di Mesir. Yusuf dikasihi tuannya dan diberi kuasa atas rumah dan segala milik Potifar. Sejak itu, Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf (lihat Kejadian 39:5). Potifar orang Mesir, tidak mengenal Tuhan, tetapi ia mendapat berkat dariNya karena Yusuf, yang dikasihi Tuhan.

- Naaman, panglima raja Aram, sakit kusta. Seorang anak perempuan dari Israel yang menjadi pelayan istri Naaman, memberitahukan tentang Nabi Elisa yang dapat menyembuhkan sakit Naaman (lihat 2 Raja-Raja 5:1-14). Anak perempuan Israel yang percaya akan kesalehan nabi Elisa ini menjadi saluran berkat bagi Naaman melalui informasi yang diberikannya.

Mencermati kehidupan Yesus Kristus, kita dapat melihat seluruh hidupNya merupakan saluran berkat Allah Bapa bagi orang-orang di sekitarNya.

Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir yang dijumpainya bersama Yohanes di depan gerbang Bait Allah. Mukjizat penyembuhan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 3:1-10 ini yang pertama terjadi setelah Kristus naik ke Surga dan para rasul menerima karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta. Dalam kisah ini, Petrus yang penuh dengan Roh Kudus menjadi saluran berkat bagi orang lumpuh itu.

Kita pun dapat berbuat seperti para rasul, menjadi saluran berkat bagi orang lain. Untuk itu, pertama-tama kita perlu memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang dekat hanya dapat tercipta karena ada cinta yang tulus antara kedua pihak.

Memupuk benih cinta kepada Tuhan setiap hari dapat kita lakukan melalui doa, mengenalNya lebih dekat lewat FirmanNya, dan menghadiri Perayaan Ekaristi. Ingatlah akan perkataan Yesus, barangsiapa makan TubuhNya dan minum DarahNya, maka orang itu tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam orang itu (lihat Yohanes 6:56).

Kesatuan dengan Yesus Kristus memampukan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh yang Ia janjikan akan diberikanNya, setelah Ia bangkit dari kematian dan kembali kepada Bapa di Surga.

Lihatlah bagaimana Filipus mendapat bisikan Roh untuk mendekati sebuah kereta yang di dalamnya ada seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan ratu negeri itu, yang sedang membaca kitab nabi Yesaya. Filipus mendampingi orang tersebut dan memberitakan Injil Yesus. Sida-sida itu lalu minta dibaptis. Setelahnya, Roh Tuhan melarikan Filipus ke Asdod. Di situ Filipus memberitakan Injil di semua kota sampai tiba di Kaisarea (lihat Kisah Para Rasul 8:26-40).

Sadarilah, setiap kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain di sekitar kita. Kita hanya perlu membuka diri untuk menanggapi panggilan itu dengan mendengarkan suara Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar