Sabtu, 31 Desember 2016

Saat Aku Menatapmu

Berulang kali aku merasakan kehadiranmu, tetapi aku tak menggubrismu.
Banyak tanda telah engkau berikan, tetapi aku berkilah itu hal biasa.
Engkau tetap setia mendampingi, sementara aku tak menyadari keberadaanmu.
Bertahun-tahun berlalu dalam kesenyapan di antara kita.

Perjumpaan denganmu secara pribadi sungguh membuatku berubah.
Menjadikan peristiwa tak terduga ini sebagai rahmat terbesar bagiku.

Kini, perkenankan aku meraih tanganmu yang terulur penuh cinta.
Tanganmu yang selama ini kubiarkan menggapai, disertai tatapan matamu yang penuh perhatian.

Terima kasih Bunda Maria, Ratu Abadi yang Teragung.
Sapaan kasihmu mendekatkanku kepadamu.
Aku tak akan berpaling lagi darimu.

Rabu, 21 Desember 2016

Ketika Surga dan Bumi Menyatu

Adakah hal lain yang lebih membahagiakan, ketika Surga dan Bumi menyatu dalam raga - mengalirkan damai dan sukacita yang melampaui segala hal? 

Senin, 12 Desember 2016

Satu Misi

Bunda Surgawi, menampakkan diri secara berbeda di Guadalupe-Meksiko (1531), La Vang-Vietnam (1798), Lourdes-Perancis (1828), Fatima-Portugal (1917), dan sejumlah tempat lain; namun ia mengemban satu misi: terus bekerja menyelamatkan umat manusia, setelah Sang Putra naik ke Surga dan duduk di takhta Allah.

Kita dapat turut serta membantu Bunda Maria dalam misinya dengan tekun mendaraskan doa Rosario, sesuai pesannya dalam penampakan di Fatima, "Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoalah, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa.... Akulah Ratu Rosario.... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang."

Kamis, 08 Desember 2016

Hati yang Tak Bernoda

Hati yang tak bernoda adalah hati yang suci dan murni. Sekudus apa pun para Santo dan Santa, hati mereka tidak sepenuhnya suci dan murni. Sebab, tak ada seorang manusia pun yang memiliki hati yang tak bernoda, kecuali Bunda Maria. Mengapa demikian?

Bunda Maria sejak awal telah dipilih untuk menjadi Bunda Putra Allah yang akan menjelma menjadi Manusia. Tak sulit untuk memahami dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dengan memakai analogi sangat sederhana ini: ketika masakan siap disajikan, bukankah kita akan menempatkannya pada wadah yang bersih?

Putra Allah yang Mahakudus membutuhkan tempat bernaung jasmaniah yang kudus pula, ketika Ia akan menjelma menjadi Manusia. Allah Bapa menyiapkan segalanya dengan sempurna jauh-jauh hari. Untuk itu, Allah Bapa telah menguduskan Santa Perawan Maria sejak ia dikandung ibunya. Selanjutnya, dengan dikandung tanpa noda, dalam kehidupan di dunia ini Santa Perawan Maria pun memiliki hati yang tak bernoda.

Kita memang tidak dapat memiliki hati yang tak bernoda seratus persen, tetapi dengan menyerahkan diri kita kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, kita akan hidup bersama Bunda Maria dan diubah dari dalam oleh Bunda Maria sendiri; sehingga semakin hari hidup kita semakin menyerupai Bunda Maria.  

Selasa, 29 November 2016

Mata yang Melihat

Mata siapakah yang dimaksud Yesus Kristus, ketika Ia mengatakan, "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat" dalam Injil Lukas 10:23b?

Mata yang melihat apa yang dilihat murid-murid Yesus waktu itu adalah mata kita semua, para pengikutNya di masa sekarang. Mata yang dapat melihat pernyataan Anak tentang BapaNya. Mata orang kecil yang dapat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa, Tuhan langit dan bumi.

Mata yang melihat adalah mata iman di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Minggu, 20 November 2016

Pintu Suci - Pintu Hati

Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. (Mazmur 118:19-20)

Pintu Suci (Porta Sancta) di Vatikan dibuka Paus Fransiskus pada 8 Desember 2015. "Saya bersukacita membuka Pintu Suci pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pintu Suci akan menjadi sebuah pintu kerahiman. Siapapun yang masuk, akan mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan." (Dikutip dari Bulla Paus Fransiskus tentang Misericordiae Vultus - Wajah Kerahiman)

Sepanjang Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015 - 20 November 2016) umat Katolik seluruh dunia diajak semakin memahami dan meyakini Kerahiman Allah, sehingga dapat mengalami pertobatan pribadi; kemudian mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan nyata, dengan semakin berbelas kasih kepada sesama. 

Hari ini, Pintu Suci yang kasat mata sudah ditutup, namun tidak demikian dengan pintu hati kita. Justru setelah mengalami penebusan dan pemurnian di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pintu hati kita sekarang menjadi terbuka dan kita mulai melangkah dalam perjalanan rohani yang baru.  

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu. Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. (Yesaya 60:1, 11, 17b, 19)

Rabu, 09 November 2016

Ekaristi Melenyapkan Masalah?

Seorang teman datang dengan wajah kusut. Ia bertutur, ketika akan ke gereja untuk mengikuti misa harian, seorang tetangganya  berujar, "Kamu rajin ikut misa tiap pagi, tetapi kenapa hidupmu tetap banyak masalah?" Teman ini menjadi galau dan mempertanyakan: apakah Ekaristi dapat melenyapkan masalah?

Kita perlu memurnikan tujuan kita menghadiri perayaan Ekaristi harian. Apakah kita datang ke misa seperti seorang janda yang mendatangi seorang hakim terus-menerus untuk membela perkaranya? Ataukah kita datang ke misa untuk menyatakan kerapuhan kita sebagai orang berdosa yang tak berdaya tanpa Tuhan?

Di dalam perayaan Ekaristi kita mengenang kembali pemberian diri Tuhan Yesus secara total kepada umat  manusia. KeagunganNya, kebesaran CintaNya, kepedulianNya tampak nyata dalam Hosti Kudus. Melalui  perayaan Ekaristi, kita sebagai anak-anakNya dapat mengalami kedekatan dengan Kristus, serta menimba kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bukan otomatis karena mengikuti misa harian, maka hidup akan tenteram tanpa masalah. Tetapi setelah mengikuti perayaan Ekaristi, hati kita akan tetap tenang dan damai meskipun didera berbagai masalah. Ekaristi menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan harapan.

Jumat, 04 November 2016

Rosario Merah Putih

Rosario Merah Putih yang diresmikan penggunaannya oleh Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, pada awal Bulan Maria 1 Mei 2016, dimaksudkan sebagai salah satu wujud nyata gerakan "Amalkan Pancasila" sesuai Arah Dasar (Ardas) KAJ 2016-2020.

Bukan suatu kebetulan, melainkan karya Roh Kudus yang menggerakkan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di Jakarta, untuk mengedepankan doa Rosario Merah Putih di tengah tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dihadapi.

Mari kita terus berdoa bersama Bunda Maria yang pasti akan menolong kita untuk:

- Kebahagiaan kekal jiwa-jiwa para pahlawan bangsa
- Keutuhan alam Indonesia yang kaya dan subur
- Persatuan Indonesia
- Kebijaksanaan para pemimpin bangsa
- Upaya-upaya mewujudkan keadilan sosial

Sabtu, 15 Oktober 2016

Tanaman yang Indah

Bagi yang suka berkebun, apa yang Anda lakukan jika melihat tanaman Anda tumbuh subur, menampilkan keindahan, dan menyenangkan hati? Anda tentu akan semakin menyayanginya, memerhatikannya dengan memberi pupuk dan menyingkirkan tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya.

Pengalaman berkebun ini memberi pemahaman akan perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dalam Injil Lukas 13:6-9. Betapa Sang Pencipta sebenarnya ingin melihat keindahan ciptaanNya.

Lalu, apakah kita sebagai ciptaanNya telah dan terus menampilkan keindahan kita bagai tanaman yang tumbuh subur di kebun Tuhan?

Untuk dapat menjadi tanaman yang indah dan menghasilkan buah, kita perlu senantiasa berpijak di jalan yang lurus serta berpegang pada FirmanNya, seperti yang disampaikan pemazmur: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)

Jumat, 07 Oktober 2016

Sukacita Jumat Pertama

Nuansa yang merebak setiap kali kita melakukan devosi kepada Hati Mahakudus Yesus adalah sendu berbalut duka. Litani Hati Mahakudus Yesus dan doa Silih kepada Hati Mahakudus Yesus mengungkapkan suasana hati orang berdosa yang memohon belas kasih Allah.

Adakah kita menyadari, sebenarnya perayaan Hati Mahakudus Yesus adalah perayaan penuh syukur dan sukacita? Tuhan Yesus Kristus telah memberikan Hati IlahiNya. Pemberian Hati yang penuh Cinta adalah hadiah terbesar bagi umat manusia. Bersyukurlah dan bergembiralah, karena Tuhan Sang Pencipta begitu baik dan penuh kasih kepada ciptaanNya.

Jumat, 30 September 2016

Sin Amnesty

Sudahkah kita memanfaatkan "Sin Amnesty" dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah ini, seperti kita memanfaatkan keleluasaan yang diberikan Pemerintah Indonesia dalam program Tax Amnesty?

Ungkap - Tebus - Lega adalah tiga kata yang didengungkan dalam program Tax Amnesty, agar wajib pajak mau mengungkapkan harta kekayaan yang dimilikinya tetapi selama ini belum pernah dilaporkan untuk urusan perpajakannya.

Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah yang dicanangkan Paus Fransiskus, berlangsung dari 8 Desember 2015 hingga 20 November 2016, mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk kembali kepada Allah. Bagai anak yang hilang kembali ke rumah bapaknya.  

Ungkapkanlah dosa-dosa kita, tebuslah dengan berbalik sepenuhnya dari dosa-dosa dan menjadi manusia baru, maka kita akan mengalami kelegaan dalam menjalani hari-hari selanjutnya di dalam persatuan dengan Allah Tritunggal.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5)

Rabu, 21 September 2016

Tak Perlu Melaporkan

Terima kasih, 
Tuhan Pencipta alam semesta,
setiap pagi aku menikmati 
harta kekayaan berlimpah:
mata yang menatap fajar menyingsing,
telinga yang menangkap kicauan burung,
hidung yang menghirup kesegaran udara,
mulut yang melambungkan pujian syukur,
jari-jari tangan yang menyentuh kelopak bunga,
telapak kaki yang menginjak rerumputan,
organ-organ tubuh yang berfungsi baik,
segala yang Engkau anugerahkan kepada setiap anakMu....

Dan aku bebas menggunakan harta kekayaan itu, 
tanpa perlu menyatakannya dalam Laporan Harta Kekayaan.
Tetapi aku ingin menuliskannya di sini,
sebagai ungkapan rasa syukurku yang mendalam. 
Terima kasih,
Tuhan Pencipta alam semesta,

harta kekayaan dariMu jauh melebihi harta kekayaan dunia.

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)

Kamis, 15 September 2016

Ketaatan Mendatangkan Penderitaan?

Ketaatan Bunda Maria sejak menyatakan kesediaannya untuk menerima kehendak Tuhan, tidaklah membuat hidupnya senang. Bertubi-tubi duka menghampirinya. Nabi Simeon menubuatkan pedang akan menusuk hatinya - mulai dari kelahiran Putra Manusia hingga wafatNya di kayu salib.

Ketaatan Kristus kepada kehendak BapaNya, juga tidak membuat hidupNya di dunia ini nyaman. Orang banyak kerap memburuNya, para ahli Taurat dan orang Farisi mencari celah untuk menjatuhkanNya, murid-muridNya tak kunjung memahami maksudNya - hingga berujung pada kematian tragis di kayu salib. 

Ketaatan di mata dunia memang tampaknya mendatangkan penderitaan. Tetapi tidak demikian di hadapan  Tuhan. Lewat ketaatan manusia diuji imannya, ketahanannya, kesetiaannya.

Penderitaan yang muncul karena ketaatan hanyalah penderitaan sementara - selama hidup di dunia, itu pun tidak seluruh hidup dipenuhi dengan penderitaan. Bukankah Bunda Maria masih bisa tertawa ketika mengasuh Kanak-Kanak Yesus? Bukankah Yesus masih bisa bergembira ketika menyusuri ladang gandum dengan murid-muridNya?

Ketaatan pada kehendak Tuhan sepatutnya menjadi satu-satunya keinginan manusia di dunia ini, seperti dicontohkan Tuhan Yesus dan Bunda Maria selama hidup di dunia.

Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).

Kamis, 08 September 2016

Ratu Surgawi

Maria bukan Allah, tetapi ia adalah Bunda Allah.
Ia hanya seorang makhluk, tetapi ia ciptaan Allah yang terbesar.
Ia bukan raja, tetapi ia adalah bunda ratu yang dipilih oleh Allah.
Persis seperti seorang seniman yang ingin melukis suatu masterpiece di antara banyak karyanya,
demikian Yesus membuat ibu-Nya menjadi masterpiece yang terbesar.
Mengakui kebenaran tentang Maria tidaklah mengurangi karya Yesus,
sebaliknya, menolak mengakuinya sungguh mengurangi karya Yesus.

(Scott Hahn dalam buku Salam, Ratu Surgawi - Bunda Allah dalam Sabda Allah hal. 166. Penerbit Dioma, 2007)

Minggu, 04 September 2016

Memahami dan Mengimani SabdaMu

Tuhan Yesus, 
terangilah kami dengan Roh Kudus,
agar kami dapat memahami maksudMu dalam Alkitab.
Tetapi jika kami tak juga dapat memahaminya,
biarlah kami tetap mengimaninya 
dengan penuh cinta kepadaMu.

Senin, 15 Agustus 2016

Doa Rosario Pengampunan


Doa yang didaraskan dengan menggunakan kaplet Rosario ini BUKAN pengganti doa Rosario, melainkan pelengkap doa harian yang dapat menjadi senjata peperangan rohani, di saat kekerasan semakin meningkat.

Di tengah situasi dunia yang diwarnai kebencian dan balas dendam, sebagai pengikut Yesus Kristus, kita tetap memegang teguh SabdaNya: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44).

Ilham Roh untuk mendaraskan doa Rosario Pengampunan berpangkal pada teladan Bunda Maria yang mencintai seluruh umat manusia. Melalui dialog batin dengan Pastor Don Stefano Gobbi, Bunda Maria menyampaikan pesan-pesan kepada para imam, putra-putra terkasihnya. Pesan Bunda Maria yang disampaikan pada 28 November 1979 berbicara tentang kasih yang universal: 

“Kasihilah terutama mereka yang sudah amat jauh, yakni para pendosa, para ateis, dan mereka yang ditolak oleh setiap orang; kasihilah juga para penganiaya dan para algojo. Katakanlah dengan penuh kasih, ‘Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Bagi mereka yang membenci, mereka yang membunuh, mereka yang melakukan kekerasan, mereka yang melakukan kejahatan, mereka yang menghujat, mereka yang menciptakan sandungan, berikanlah hanya kasih....” (Dikutip dari buku Bersama Maria dan Putranya dalam Doa Senakel – Sebuah Refleksi atas Pesan-Pesan Bunda Surgawi. Pengarang: Atanasius Ari Pawarto, O.Carm. Penerbit Karmelindo, 2014)

Tujuan mendaraskan doa Rosario Pengampunan:

- Mohon ampun atas segala dosa kita, agar kita layak menghadap ke hadirat Tuhan dan mendaraskan doa  Rosario Pengampunan
- Mohon ampun atas kesalahan dan dosa orang-orang yang telah mendukakan hati Tuhan
- Mohon pertobatan bagi dunia




Doa Tobat
Allah yang Maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang Mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa. (Amin) 

Doa Datanglah Roh Kudus
Datanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya Api Cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu, maka semua akan dijadikan lagi, dan Engkau akan membarui muka bumi. 
Marilah berdoa: Ya Allah, Engkau yang mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus, berilah supaya dalam Roh yang Kudus ini, kami senantiasa berpikir benar dan bertindak bijaksana serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus Tuhan kami. (Amin)

Doa Salam Maria
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah, doakalah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. (Amin)

Doa Bapa Kami
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, 
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. (Amin)
 
Doa Pengampunan
Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
 
Doa Kemuliaan
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, 
dan sepanjang segala abad. (Amin)  
 

Kamis, 11 Agustus 2016

Mengampuni dengan Segenap Hati

Terhadap orang yang bersalah kepada kita, yang telah menyakiti entah fisik dan/atau perasaan, kita dapat saja mengatakan: aku memaafkanmu.... Tetapi, sungguhkah kita telah mengampuni dengan segenap hati?

Dalam Injil, Yesus mengatakan kita perlu mengampuni dengan segenap hati (lihat Matius 18:35). Mengampuni dengan segenap hati mensyaratkan satu hal: melupakan kesalahan orang yang telah menyakiti kita. Bisakah kita berinteraksi kembali dengan orang yang pernah menyakiti kita, tanpa dibebani ingatan akan peristiwa masa lalu yang telah menggoreskan luka?

Kita perlu belajar menjadi sempurna seperti Bapa di Surga dalam mengampuni: .... sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:34)

Kamis, 28 Juli 2016

Yeremia dan Kita

Hari-hari ini, ketika awan kelam menutupi Gereja Universal, kita mengeluh seperti nabi Yeremia: "Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan?" (Yeremia 15:18)

Sesungguhnya Tuhan telah memberikan jawaban yang tepat melalui sabdaNya, sesuai bacaan Alkitab dalam liturgi harian kemarin dan hari ini: "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku.... Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau." (Yeremia 15:19a dan 20)

Tuhan pun meminta kita belajar dari pekerjaan tukang periuk. "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku." (Yeremia 18:6)

Dalam membuat sebuah bejana perlu proses yang makan waktu, tidak langsung jadi. Tukang periuk berulang kali membentuk tanah liat yang ada di tangannya, hingga menghasilkan bejana yang diinginkan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4)    

Dengan rendah hati mari kita kembali kepada Tuhan untuk dibentuk menjadi pribadi yang sesuai dengan rancanganNya. Perlu proses, makan waktu. Tetaplah bertahan dan setia. Bersediakah kita? 

Kamis, 21 Juli 2016

Jika Aku Khawatir

Jika aku khawatir,
berarti aku meragukan KekuasaanMu yang Mahabesar, 
MukjizatMu yang Mahadahsyat, 
Kesempurnaan KasihMu yang senantiasa melingkupi anak-anakMu.

Jika aku khawatir, 
berarti aku belum sepenuh hati percaya kepadaMu,
imanku masih dangkal dan lemah,
ya Tuhan Yesus, aku mau percaya. Tambahkanlah imanku.

Jumat, 15 Juli 2016

Tanpa Rasa Sakit

Ibu berusia 71 tahun itu biasa berjalan kaki sambil mendaraskan doa Rosario di tengah kegelapan pagi, menempuh jarak sekitar 1,5 km untuk menghadiri misa pagi. Ia mengaku sudah menjalani rutinitas ini selama 19 tahun, sejak suaminya wafat.

Namun, kemarin subuh sesuatu yang tak lazim terjadi. Di tengah jalan yang sunyi dan gelap, ia didekati dua pemuda yang mengendarai sepeda motor. Pemuda yang dibonceng berupaya keras menarik tas tangan si ibu yang disandang di bahu kirinya. Keruan saja tubuh si ibu terputar, lalu terjatuh membentur aspal jalan.

Motor segera berlalu, tanpa berhasil meraih tas yang berisi buku Puji Syukur dan Ruah serta uang kurang dari Rp 30 ribu; meninggalkan ibu sepuh yang tergeletak di tepi jalan. "Saya tidak bisa melihat apa-apa. Gelap. Saya berusaha bangun sambil menyebut nama Yesus... Yesus... tolong..." Setelah penglihatannya berangsur pulih, ibu ini merangkak. Darah bersimbah di kepala dan tangan kanannya.

Seorang pengemudi motor lewat, menolong si ibu berdiri. Lalu muncul seorang bapak yang telah jalan pagi. Ia menghantar ibu ini pulang ke rumah dengan naik bajaj. Segera anak dan menantunya membawa si ibu ke rumah sakit.

Ketika menengoknya tadi pagi, si ibu menuturkan pengalaman dengan suara nyaring dan wajah berhias senyum. Padahal, kami prihatin melihat kondisi fisiknya - mata kanan sembap hanya 1/4 terbuka, kepala kiri sedikit digundul dan ditutup plester karena luka cukup dalam tetapi tidak perlu dijahit, tangan kanan dari lengan hingga ke jari berhias luka-luka parut akibat tergores aspal jalan.

"Tidak ada yang sakit," ujar si ibu dengan mantap. Bagaimana bisa luka-luka di kepala, wajah, dan tangan kanan tidak menimbulkan rasa sakit?

Kejadian yang dialami ibu itu membawa pada perenungan tentang jalan salib dan penderitaan. Si ibu tidak mengalami rasa sakit karena ia menyerukan nama Yesus. Ia setia mengikuti Perayaan Ekaristi dan mendaraskan Rosario. Kekuatan Ilahi menaunginya, mengalahkan kesakitan jasmaniah.

Demikian pula, kekuatan Ilahi yang besar melingkupi para martir dan orang-orang kudus yang memiliki relasi erat dengan Allah Tritunggal dan Bunda Maria, sehingga mereka dapat menanggung penderitaan fisik tanpa rasa sakit. Tentu saja, kekuatan Ilahi dari Allah Bapa tinggal bersama Yesus Sang Putra, saat Ia menapaki jalan salib hingga wafat di Golgota; sehingga Ia dapat menyelesaikan jalan sengsara dan berkata dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)       

Sabtu, 09 Juli 2016

Berani Bersikap

Ketika dosa-dosa lama kembali menggeliat dalam ingatan, aku lunglai didera ketidakberdayaan. Langkahku terhenti di tengah perjalanan, merasa tak layak untuk bergerak maju. Mungkin sebaiknya aku mundur, membiarkan jarak lebar terbentang di antara kita.

Tetapi Engkau mendekatiku lewat sabdaMu hari ini. KataMu, "Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."(lihat Yesaya 6:7) Aku terkesima, menyadari betapa Mahakasih Engkau.

Nabi Yesaya yang telah disucikan, segera menjawab panggilan Tuhan. "Ini aku, utuslah aku!" ujar sang nabi (lihat Yesaya 6:8) Beranikah aku bersikap seperti nabi Yesaya? Menjawab dengan mantap panggilanNya tanpa menengok ke belakang.

Jumat, 01 Juli 2016

Tahun Baru

Perayaan tahun baru di dunia internasional serempak dirayakan pada 1 Januari. Namun, sesungguhnya tahun baru setiap pribadi adalah pada saat orang itu merayakan hari kelahirannya di dunia. Karena itu, tahun baru setiap orang berbeda, kecuali mereka yang lahir pada tanggal yang sama.

Tahun baru menjadi momen yang tepat untuk bersyukur, seraya merefleksikan segala pencapaian yang telah diraih pada tahun sebelumnya, serta meneguhkan berbagai rencana dan niat yang akan dilaksanakan di tahun yang akan dilalui.

Marilah kita memaknai tahun baru kita masing-masing untuk terus berproses melangkah maju, menjadi ciptaan baru yang semakin menyerupai Kristus.

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Sabtu, 18 Juni 2016

Bukan Dua Tuan yang Berbeda

Jika dapat langsung berelasi dengan Yesus, mengapa harus menjalin relasi juga dengan Bunda Maria? Sering kali pertanyaan ini dilontarkan kepada orang Katolik. Sepertinya orang Katolik mengabdi kepada dua tuan.

Dari Injil dapat dilihat betapa erat relasi antara Bunda Maria dan Putranya Yesus Kristus - Allah yang menjadi Manusia. Sembilan bulan Yesus berada dalam rahim Bunda Maria, sejak Perawan Maria menyanggupi terlaksananya Kehendak Tuhan. Tiga puluh tahun Bunda Maria tinggal bersama Sang Putra, sampai tiba saat Yesus tampil di depan umum untuk mewartakan Sabda Allah. Bunda Maria setia mendampingi Yesus dalam penderitaan Salib sampai akhir hidupNya.

Kedekatan Bunda Maria dengan Yesus membuat dua tokoh kunci dalam karya penyelamatan manusia di dunia ini merupakan satu kesatuan. Melalui Bunda Maria kita memperoleh berbagai karunia dari Sang Putra, sekaligus melalui Bunda Maria kita dihantar di jalan yang benar menuju Sang Putra. Per Mariam Ad Jesum - Melalui Bunda Maria sampai kepada Yesus.

Tak perlu merasa mengabdi kepada dua tuan. Bunda Maria dan Yesus Kristus bukanlah dua tuan yang berbeda, melainkan kesatuan yang indah antara Ibu dan Anak yang sama-sama bekerja demi keselamatan jiwa umat manusia.   

Selasa, 07 Juni 2016

Janda di Sarfat

Seorang janda bersahaja dengan satu anak perempuan. Ia telah diperintahkan Tuhan untuk memberi makan nabi Elia (lihat 1 Raja-Raja 17:9), tetapi ketika nabi Elia memintanya untuk membuatkan roti, janda ini sempat menolak dengan halus. Katanya, "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli... (1 Raja-Raja 17:12)

Namun, nabi Elia menjanjikan tepung dan minyak milik janda itu tidak akan habis sesuai firman Tuhan. Ia memenuhi permintaan nabi Elia. 

Lalu, anak perempuannya jatuh sakit parah sampai berhenti bernapas (lihat 1 Raja-Raja 17:17). Janda itu mempertanyakan kehadiran nabi Elia di rumahnya. Tuhan mengabulkan permintaan nabi Elia agar nyawa anak perempuan tersebut dipulangkan ke tubuhnya.

Iman janda itu membuat kehidupannya terjamin selama musim kering. Dan kesediaannya memberi tumpangan kepada nabi Elia membuat anak perempuannya yang sakit parah sampai meninggal bisa dihidupkan kembali.

Dalam Injil Lukas 4:25-26, Yesus menyebut ada banyak janda di Israel, tetapi nabi Elia diutus kepada seorang janda di Sarfat. Kisah janda di Sarfat merupakan gambaran: banyak orang yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.

Dan kepada sedikit orang yang telah dipilih Tuhan, apakah akan mematuhi perintahNya? Dibutuhkan iman yang teguh untuk melaksanakan kehendakNya. Namun percayalah, kesediaan menjawab panggilanNya akan membuahkan berkah.  

Jumat, 27 Mei 2016

Hidup Kontemplatif

Hidup yang dapat dijalani semua orang
bukan milik eksklusif kaum berjubah.
Hidup yang dijiwai Roh Kudus,
yang bersemayam dalam diri.

Kaki melangkah di bumi, 
tangan menyentuh benda duniawi, 
mata memandang sekeliling; 
namun 
pikiran netral - tidak menilai dan membandingkan, 
mulut dibuka hanya bila diperlukan,  
hati senantiasa tertuju pada hal-hal surgawi.    

Kamis, 12 Mei 2016

Terus Bertahan

Di Yerusalem, para petinggi agama Yahudi menentang pengajaran Yesus, bahkan Yesus mati disalib di kota ini. Namun, di sanalah Yesus meminta murid-muridNya tetap tinggal sampai Ia mengirim Roh Kudus seperti yang dijanjikan Bapa (lihat Lukas 24:49).

Masa penantian mulai dari Yesus naik ke Surga hingga turunnya Roh Kudus tentu bukan periode yang tenteram. Suasananya seperti setelah Yesus dimakamkan - murid-murid Yesus berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi (lihat Yohanes 20:19).

Dalam kalender liturgi Gereja, masa penantian hanya sembilan hari - dari peringatan Yesus naik ke Surga hingga perayaan Pentakosta. Dalam kenyataan di zaman itu, entah berapa lama masa penantian turunnya Roh Kudus.

Namun satu hal yang pasti, para rasul bersama beberapa perempuan serta Bunda Maria dan saudara-saudara Yesus - lihat Kisah Para Rasul 1:14 - tetap bertahan di tengah ketidakpastian, kecemasan, dan kesesakan. Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi, hanya mengandalkan iman karena percaya akan janji Yesus.

Terus bertahan, itu juga menjadi pesan Yesus kepada kita yang masih berziarah di dunia ini. Bertahan dalam aneka situasi yang menantang. Bertahan dalam penderitaan jasmani dan rohani. Bertahan dalam ketidakpastian masa depan yang masih gelap.     

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)


Jumat, 06 Mei 2016

Kuangkat Jiwaku

Kepada-Mu ya Tuhan, kuangkat jiwaku (Mazmur 25:1) 

Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku (Mazmur 86:4) 

.... Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.(Mazmur 143:8) 

Apa maksud kuangkat jiwaku?

Tumbuhan hanya mempunyai tubuh, tidak bisa berpindah tempat; hewan memiliki tubuh dan jiwa yang dapat menggerakkannya berdasarkan naluri. Namun, hewan tidak bisa mengangkat jiwanya, karena tidak memiliki roh.

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa berada di antara tubuh dan roh, maka manusia dapat menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkatnya ke tingkat roh.

Contoh perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh: marah yang meledak hingga melakukan kekerasan. Seorang pengemudi sepeda motor menyenggol sebuah mobil. Pengemudi mobil marah dan memukul pengemudi motor. Bukankah perilaku ini seperti hewan yang merasa teritorinya diserang, lalu marah dan balas menyerang? Jiwa turun ke tingkat tubuh.

Sebaliknya, contoh perilaku manusia yang mengangkat jiwanya ke tingkat roh: meski mendapat perlakuan kasar dari Mahkamah Agama Yahudi, dilempari batu sampai tewas, Stefanus mengangkat jiwanya ke tingkat roh, sehingga ia dapat berkata, "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Dan kepada orang-orang yang menyakitinya, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." (lihat Kisah Para Rasul 7:51-60)

Tentu masih banyak contoh lain tentang perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkat jiwanya ke tingkat roh.

Berdasarkan pengalaman nabi Daud dalam Mazmur di atas, manusia perlu mengangkat jiwa ke tingkat roh sehingga dapat memahami apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya (Mazmur 143:8). Dengan  mengangkat jiwa ke tingkat roh - bersatu dengan Roh Tuhan - akan membuat jiwa manusia bersuka cita (Mazmur 86:4).

Sadarilah keberadaan tubuh, jiwa, dan roh dalam diri kita. Dengan kesadaran itu, saat kita mengalami suatu peristiwa, kita dapat dengan cepat memutuskan apakah jiwa kita akan kita turunkan ke bawah - mengikuti keinginan tubuh; atau jiwa kita akan kita angkat ke atas - mengikuti kuasa Roh Kudus yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada setiap orang yang percaya kepadaNya.

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23) 
 

Senin, 02 Mei 2016

Diselingkuhi

Ada dua kabar perceraian yang kuterima belakangan ini dari teman-temanku. Pertama, seorang ibu muda dengan tiga anak usia 2-7 tahun, lebih memilih berpisah dengan pria yang dinikahinya secara Katolik, daripada hampir setiap hari rumah tangganya diwarnai pertengkaran sengit. Kedua, seorang ibu yang telah menikah 25 tahun pun memilih jalan sendiri-sendiri, ketimbang memaafkan suaminya.

Meski kedua pasangan berbeda kota dan tak saling kenal, sang istri mengalami perlakuan yang sama dari suami masing-masing: diselingkuhi.

Yang sering terjadi, pihak yang diselingkuhi (istri) merasa sebagai pihak yang kalah, harga diri direndahkan dan tidak lagi dicintai, karena itu patut menuntut balas dengan perceraian. Padahal, jika kita berpikir jernih, pihak yang diselingkuhi adalah pihak yang menang. Mengapa demikian? Menang karena selama ini berhasil menjaga kesetiaan dalam pernikahan.

Namun, seperti kata pepatah: sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dapat dipercaya. Agaknya itulah yang diterapkan para istri dalam berelasi dengan pasangan hidup. Mereka lupa akan firman Tuhan untuk mengasihi sesama bahkan musuh dan mengampuni orang yang bersalah tanpa batas (70 kali 7 kali).

Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pesan "terakhir" yang diberikan Tuhan Yesus dan digemakan dalam Injil menjelang KenaikanNya ke Surga. Dalam amanat perpisahanNya, Tuhan Yesus kerap menekankan dua hal, yaitu menaati perintah (firman) Tuhan dan saling mengasihi - lihat Yohanes 15:7-12.

Menaati firmanNya antara lain berarti mau mengampuni orang yang bersalah dan tetap mengasihi, seperti telah diteladankan Yesus. Tiga kali Petrus mengkhianatiNya, tetapi Yesus mengampuninya dan tetap mengasihi dengan meminta Petrus menggembalakan domba-dombaNya - lihat Yohanes 21:15-17.

Jika pernikahan Anda di ambang kehancuran karena Anda diselingkuhi, janganlah mengambil keputusan segera untuk bercerai saat emosi Anda tinggi dan kacau. Ingatlah, Anda bukan pihak yang kalah. Anda adalah pemenang dalam hal kesetiaan berumah tangga. Inilah ujian iman Anda: apakah Anda akan menaati firman Tuhan dengan mengampuni pasangan hidup Anda dan tetap mengasihinya? Jika Anda menjawab "ya" untuk pertanyaan ini, berarti Anda benar-benar pemenang sejati di mata Tuhan.

Selasa, 26 April 2016

Gairah Perjalanan

Ketika melakukan perjalanan wisata, kita sangat bergairah menjalaninya. Berbagai panorama yang melintas memberi percikan keindahan tersendiri. Suasana riang, hati ringan. Tak ada duka yang menggelayut, semua tampak cerah.

Allah menciptakan manusia, lalu mengutus manusia untuk hidup di dunia dan kelak kembali ke Tanah Air Surga. Hidup kita di dunia pun adalah perjalanan wisata. Tempat pesiar kita adalah tempat kita bermukim dengan segala panorama kesehariannya.

Apakah dalam melakukan perjalanan wisata kehidupan ini kita sama bergairahnya seperti ketika kita berpesiar ke suatu tempat tertentu? Adakah kita menikmati keindahan dari berbagai panorama kehidupan yang melintas di hadapan kita? Apakah hati kita dipenuhi sukacita dalam perjalanan wisata kehidupan ini?
 

Rabu, 20 April 2016

Melepas Keinginan

Tuhan Yesus, jangan biarkan aku menginginkan sesuatu,
jika Engkau sendiri tidak menghendakinya.
 

Jumat, 01 April 2016

Beda Senang dan Sukacita


Ada perbedaan mendasar antara rasa senang dan sukacita. Perhatikan beberapa contoh berikut:

Saya senang karena bisa bertemu dengan Anda.
Saya senang karena berpesiar ke luar negeri.
Saya senang karena mendapat hadiah.
Saya senang karena karier saya meningkat.
Saya senang karena memiliki rumah baru.

Saya bersukacita karena memaafkan kesalahannya.
Saya bersukacita karena membantu anak yatim piatu.
Saya bersukacita karena memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada orang lanjut usia.
Saya bersukacita karena menolong pedagang asogan yang dagangannya jatuh di jalan.
Saya bersukacita karena memberi semangat kepada teman yang putus asa.   

Rasa senang bersifat sementara, ketika peristiwa berlalu bersama waktu, rasa senang dapat lenyap. Anda senang bertemu sahabat atau kekasih Anda, tetapi ketika harus berpisah dengannya, rasa senang itu menguap. Anda senang mendapat promosi jabatan, tetapi beberapa tahun kemudian, rasa senang akan posisi baru tidak lagi dirasakan. 

Sedangkan rasa sukacita menetap, terus dirasakan walaupun peristiwanya sudah lama berlalu. Kunci untuk bersukacita adalah menuruti perintah Kristus. Apakah itu? Supaya kita saling mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita (lihat Yohanes 15:10 dan 12). Memaafkan kesalahan orang lain, membantu yang miskin, lemah, cacat, dan tersingkir - merupakan perbuatan kasih kepada sesama. Fokusnya adalah orang lain, bukan diri sendiri.

Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan: bersenang-senang atau bersukacita - seperti jalan lebar atau jalan sempit - ambillah pilihan yang tidak lazim dipilih orang-orang dunia.

"Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)

 

Jumat, 25 Maret 2016

Memberikan Diri Bukan Mengorbankan Diri

KematianMu di kayu salib adalah pemberian diri yang ikhlas, bukan pengorbanan diri.

Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita melakukannya dengan hati ringan tanpa merasa terpaksa. Sedangkan kalau kita mengorbankan sesuatu untuk orang lain, ada rasa terpaksa dan berat hati.

Tak ada perkataanMu dalam Injil, yang mengatakan Engkau mengorbankan diri. Malah Engkau berkata, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." (Yohanes 10:17-18)

Karena Engkau memberikan diriMu secara sukarela sebagai tebusan untuk keselamatan umat manusia, Engkau menekuni jalan sengsara dengan rasa damai dan sukacita di dalam hatiMu. Tentu saja rasa sakit fisik akibat cambukan dan torehan paku-paku tajam Engkau rasakan sebagai Anak Manusia, tetapi Engkau memilih untuk diam dalam ketaatan penuh kepada Bapa.

Tepatlah yang digambarkan nabi Yesaya jauh sebelum penyalibanMu, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yesaya 53:7)

Meneladan Kristus, marilah kita memberikan diri bukan berkorban, maka jalan salib kehidupan akan terasa ringan.

Rabu, 09 Maret 2016

Matahari yang Tak Terkalahkan


Gerhana matahari total terjadi hari ini. Fenomena alam yang sangat langka setelah 33 tahun silam. Sinar matahari pagi akan sirna tertutup bulan. Tepat pada jam yang diprediksi para ahli terjadi gerhana matahari total, saat lingkaran matahari sepenuhnya ditutupi sang rembulan, ternyata bagian bumi yang mengalami gerhana matahari total tidaklah gelap total. Mengapa? Karena ada korona. Memang, lingkaran matahari tertutup penuh oleh lingkaran bulan, tetapi korona matahari - sinar di sekeliling lingkaran matahari yang tertutup bulan - tetap memancarkan terangnya.

Bersikaplah seperti matahari yang tak terkalahkan, meski bayangan gelap menutupi kita. Senantiasa tinggal bersama Tuhan memampukan kita tetap dapat memancarkan terang. maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Mazmur 139:12)  

Senin, 07 Maret 2016

Menyikapi Spotlight


Dari tujuh film yang diunggulkan sebagai film terbaik di ajang Piala Oscar 2016 yang digelar di Dolby Theatre, Hollywood, Los Angeles – Amerika Serikat, pada malam 28 Februari 2016, Spotlight akhirnya terpilih sebagai pemenang. Padahal, film Revenant lebih dijagokan karena sebelumnya film yang membuahkan Leonardo DiCaprio sebagai aktor terbaik ini sudah mengantongi penghargaan sebagai film terbaik di Golden Globe Award dan BAFTA (British Academy Film Awards).

Film Spotlight yang disutradarai Tom McCarthy menjadi film terbaik Oscar dengan jumlah penghargaan paling sedikit. Satu penghargaan lagi yang diraih film ini adalah penghargaan Naskah Asli Terbaik yang ditulis Tom McCarthy dan Josh Singer.

Film berdurasi 2 jam 9 menit yang beredar di Indonesia pertengahan Februari 2016 ini berkisah tentang penyelidikan oleh empat wartawan The Boston Globe tahun 2002 untuk mengungkap kasus pelecehan seksual yang dilakukan John Geoghan, pastor di Keuskupan Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Saat menerima penghargaan Oscar, Michael Sugar, produser film Spotlight berujar, “Film ini menjadi suara bagi para korban. Dan suara ini kami harap bisa menjadi ‘paduan suara’ yang bisa didengar sampai ke Vatikan.”


Tanggapan Paus Fransiskus

Tuduhan pelecehan seksual anak yang melibatkan sejumlah pastor Gereja Katolik sesungguhnya telah lama bergulir. Namun menurut Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keuskupan tidak mengambil sikap tegas terhadap kasus-kasus pelecehan seksual yang dilaporkan ke Vatikan sejak 1995.

Pada Desember 2013, Paus Fransiskus membentuk sebuah tim untuk menyelidiki semua kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilaporkan. Tim ini bertujuan memberantas kekerasan seksual dan memberi keadilan kepada para korban.

Setahun sebelum film Spotlight dibuat, tepatnya pada 11 April 2014, di depan para anggota Biro Anak-Anak Katolik Internasional, sebuah jejaring organisasi Katolik Perancis yang melindungi hak-hak anak, Paus Fransiskus meminta maaf kepada mereka yang dilecehkan secara seksual oleh para pastor. Paus bertekad tak akan mundur dari upaya keras melindungi anak-anak.

Tiga bulan berselang, pada 7 Juli 2014, Paus Fransiskus menggelar pertemuan pertama dengan para korban kekerasan seksual oleh segelintir pastor. Enam korban dari Irlandia, Inggris, dan Jerman; menghadiri misa pagi di kediaman Paus di Vatikan. Paus mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun di Gereja Katolik yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.


Hikmah bagi Umat Katolik

Menyaksikan Spotlight, menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang mengatakan, kita tidak perlu mengeneralisasi seluruh Gereja Katolik buruk; sebab perbuatan kekerasan seksual dilakukan oleh oknum pastor, hanya sedikit sekali dari ratusan ribu pastor di seluruh dunia. Namun, ada pula yang jadi malas beribadah dan berkurang kepercayaannya kepada institusi Gereja Katolik. Yang lain, tidak ambil pusing dengan Spotlight. Itu hanya film, bukankah setiap orang bebas berkreasi dan berinterpretasi?

Satu hal yang menarik, pengumuman Oscar berlangsung pada awal Minggu Prapaskah ke-3 (28 Februari 2016); sementara di akhir Minggu Prapaskah ke-3, tepatnya pada 4-5 Maret 2016, umat Katolik seluruh dunia menanggapi seruan Paus Fransiskus untuk menggelar “Momen 24 Jam untuk Tuhan.” Pada waktu tersebut, umat Katolik semesta didorong untuk semakin mengarahkan hidup kepada Tuhan sepanjang waktu dengan bertobat, rekonsiliasi, peduli, dan berbela rasa.

Suatu kebetulankah? Kedua acara tersebut, tentu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Mungkin ada baiknya, hal ini dipandang sebagai cara Tuhan menyapa umatNya. Dengan rendah hati kita sebagai umat Katolik mengakui, pada dasarnya semua manusia berdosa dan sangat membutuhkan pengampunan dari Allah dan sesama.

Selain itu, kita perlu waspada terhadap berbagai upaya si jahat yang selalu mencari waktu yang baik untuk menggoda manusia (lihat saja apa yang dilakukan iblis setelah mencobai Yesus di padang gurun – Lukas 4:13). Jangan sampai Spotlight menggerus iman kita. Betapa pun, Spotlight hanya sebuah film buatan manusia yang punya berbagai motivasi di baliknya.

Tak perlu ciut hati dengan berbagai rongrongan terhadap Gereja Katolik. Ingatlah Sabda Yesus saat memilih Paus pertama, yakni Santo Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18). Bahkan alam maut saja tak mampu menguasai Gereja yang senantiasa dilindungi Yesus Kristus.

Lihatlah sisi positifnya. Kita dapat menyikapi kemenangan Spotlight di ajang Oscar dengan semakin memurnikan Gereja Katolik. Para imam berikhtiar menjadi semakin kudus seperti Yesus Kristus. Umat Katolik beribadah secara benar dan suci, mendukung karya pelayanan Gereja dengan mendoakan para imam, biarawan, dan biarawati, serta bekerja sama meluaskan Kerajaan Allah.

Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!.... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).