Kamis, 31 Desember 2020

2020

Besok, kau akan berlalu
Besok, kau akan segera dilupakan
 
Betapa pun kau berlaku garang,
menebar kemuraman di mana-mana,
darimu aku belajar memperteguh iman,
menyelami makna keheningan,
memupuk harapan dalam ketidakpastian
 
Besok, kau akan tinggal kenangan,
bagian dalam sejarah kehidupan di bumi

Engkau [Tuhan] memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu (Mazmur 65:12)
 

Minggu, 13 Desember 2020

Sukacita Mengajak Yesus ke Rumah

Ada berkat tak terduga di masa pandemi Covid-19. Bapa Uskup Agung Jakarta memperkenankan umat yang sehat dan berada dalam rentang usia 18-59 tahun untuk menjadi Pelayan Pembawa Komuni (PPK) bagi para anggota keluarga lain yang tidak dapat hadir mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja. 

Sakramen Maha Kudus (SMK) yang selama masa normal - sebelum terjadi pandemi - hanya bisa disambut dalam Perayaan Ekaristi di gereja, kini SMK bisa dibawa pulang ke rumah. Sungguh berbeda, mengajak Yesus dalam wujud SMK masuk ke rumah, bersemayam dalam meja altar sederhana sementara kita terbenam dalam doa-doa sebelum menyambut-Nya.

Terlepas dari ketidakpantasan kita sebagai umat dalam memperlakukan SMK secara sakral, karena sebelumnya hanya Imam dan Prodiakon yang diperkenankan menghantar SMK kepada umat, kehadiran Yesus di rumah tinggal kita masing-masing membawa sukacita tersendiri. Selamat datang, Tuhan Yesus, di rumah kami.

Jumat, 04 Desember 2020

Terjadi Karena Iman

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan kepada orang buta yang ingin matanya sembuh: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." (Matius 9:29) Kunci mengalami kuasa Tuhan adalah iman yang mendalam dan teguh. Sudahkah kita memilikinya?

Sabtu, 28 November 2020

Sikap terhadap Orang Jahat

Terhadap orang yang berbuat jahat kepada kita, janganlah sampai kita mengucapkan kata atau mengharapkan yang buruk terjadi kepada orang itu. Dalam hati yang murni dan suci tidak tersimpan sesuatu yang negatif dan buruk. Bukankah Kristus sebagai Putra Allah menghendaki pertobatan orang-orang berdosa, bukan kebinasaan mereka?


Kamis, 19 November 2020

Mutiara Salib

Jika mutiara sudah di tangan, mengapa aku harus melepaskannya, hanya karena tanganku terluka pada saat aku akan mengambilnya? Aku akan terus menggengam rahmat surgawi yang telah engkau anugerahkan kepadaku, ya Bunda Surgawi, meski ada salib yang menyertainya.


Minggu, 01 November 2020

Investasi Dunia vs Investasi Surga

Investasi dunia: Setelah kita berinvestasi, hasil besar segera didapat. Kita senang karena hasil cepat yang diperoleh, lalu memperbesar investasi. Namun, seiring berjalannya waktu, justru hasil yang didapat dari investasi jenis ini semakin lama semakin menurun. Bahkan ada yang berupa investasi bodong.

Investasi surga: Awalnya kita tak berani banyak berinvestasi, masih menimbang-nimbang lantaran hasilnya entah kapan baru bisa dinikmati. Tetapi, jika kita bertekun, sedikit demi sedikit menambah investasi jenis ini dalam hidup kita, maka kita akan mendapat hasil berlimpah berupa mahkota kehidupan kekal kelak. 

Jenis investasi mana yang kita pilih?

Jumat, 30 Oktober 2020

Anatomi Tindakan Jahat

Suatu pikiran negatif/buruk melintas dalam benak. Anda berusaha menghalau pikiran tersebut dengan menetralisir pikiran negatif itu, atau mengubahnya menjadi positif. Tak terjadi tindakan jahat.

Suatu pikiran negatif/buruk melintas dalam benak. Anda TIDAK berusaha menghalau pikiran itu. Anda malah terus memikirkannya - semakin lama semakin bertambah negatif/buruk. Belum lagi ditambah "kobaran api" kemarahan dan kebencian, akhirnya memuncak dalam tindakan jahat.

Berhentilah berpikir negatif/buruk pada saat pikiran itu pertama kali melintas dalam benak Anda! Hindari tindakan jahat. Jaga kebersihan hati Anda.

Senin, 12 Oktober 2020

Orang Kudus Zaman Ini

Seorang remaja, Carlo Acutis (15 tahun), dibeatifikasi oleh Takhta Suci Vatikan pada 10 Oktober 2020. Anak milenial yang cerdas dan sangat religius. Ia mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari, juga berdoa Rosario. Ia membersihkan hatinya dengan menerima Sakramen Tobat setiap minggu. Ia memaknai hidupnya yang singkat  - karena sakit leukimia - dengan mendokumentasikan mukjizat-mukjizat Ekaristi yang terjadi di seluruh dunia. 

Ketika seluruh mata tertegun memandang kesucian Beato Carlo Acutis, pada dini hari 10 Oktober 2020 juga, di Aceh Timur seorang anak lelaki berinisial R (9 tahun) tewas dibunuh. Ia berusaha melindungi ibunya dari nafsu bejat seorang pria yang akan memerkosa ibu itu. R yang masih kanak-kanak merelakan nyawanya demi membela sang ibu. Sejatinya, R adalah martir pembela kesucian. 

Tentu banyak kisah orang kudus zaman ini yang jauh dari sorotan khalayak, muncul dalam situasi kehidupan yang beraneka ragam. Cara orang menggapai kekudusan berbeda satu sama lain, tetapi satu hal yang pasti: jalan kekudusan adalah jalan yang selayaknya ditempuh setiap insan yang mengarahkan hidupnya kepada kebenaran dan kekekalan.

Kamis, 01 Oktober 2020

Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang

Memasuki bulan Oktober, berarti 3 bulan lagi tahun akan berganti. Menengok sejenak ketika kita memasuki tahun 2020, adakah yang pernah memprediksi tahun dengan angka cantik ini bakal mengubah wajah dunia secara drastis? 

Semua membayangkan dan mengharapkan yang baik, indah, bagus, menyenangkan, menguntungkan. Manusia terlalu yakin dengan dunia dalam genggamannya, sehingga melupakan Tuhan yang menjadikan dunia dan segala isinya.

Jika yang terjadi di tahun ini adalah kebalikan dari bayangan dan harapan kita, apakah kita lantas tidak dapat melihat karya Tuhan di tahun ini?

"Roh Tuhan ada pada-Ku.... untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19) Tahun rahmat Tuhan telah datang, karena kehadiran dan karya kasih Yesus di tengah umat manusia. 

Meski dihantam virus Corona, tahun 2020 adalah juga tahun rahmat Tuhan. Melalui penderitaan yang dialami umat manusia di dunia, adakah kita melihat kehadiran dan karya kasih Yesus di tengah kita? Masih ada tiga bulan untuk menyadarinya, sebelum tutup tahun 2020. 

Jumat, 18 September 2020

Selamat karena Memandang Salib

Di padang gurun umat Israel bersungut-sungut karena bosan memakan roti hambar. Tuhan mendatangkan ular tedung yang memagut mereka. Menyadari kesalahan, mereka menghadap Musa untuk memohon ampun dan belas kasih Tuhan. Kemudian, Tuhan meminta Musa membuat ular tembaga yang dipasang pada tiang. Setiap orang Israel yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga itu akan selamat. (lihat Bilangan 21:4-9)

Adakah kita yang seperti umat Israel di zaman nabi Musa? Ketika pandemi Covid-19 memporak-porandakan kehidupan seluruh warga dunia; kita tak dapat lagi berelasi dan beraktivitas seperti biasanya, apakah kita bersungut-sungut? 

Kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, lantaran Ia tidak segera bertindak menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman virus mematikan itu. Kita 'memaksa' Tuhan segera bertindak, sebelum semakin banyak manusia berpaling dari-Nya.

Sudahkah kita melakukan yang satu ini? Pandanglah salib, agar selamat.

Rabu, 09 September 2020

Overdosis Live Streaming

Sejak masa pandemi, banyak sekali siaran live streaming terkait kehidupan menggereja. Perayaan Ekaristi on-line diselenggarakan paroki-paroki di seluruh dunia, kita bisa terbang ke mana pun kita ingin ikut ambil bagian dalam Misa virtual. Belum lagi ada seminar, sarasehan, rekoleksi, retret, doa devosi, novena, dan sebagainya yang digelar berbagai komunitas setiap hari.

Tentu saja siaran-siaran tersebut sangat menenteramkan hati yang tengah gundah di rumah saja. Waktu terisi dengan baik, relasi dengan Tuhan tercerahkan. Tetapi, di sisi lain, pernahkah Anda mengalami satu atau beberapa gejala berikut ini?

* Timbul rasa mual dan pusing saat menyaksikan tayangan live streaming

* Tubuh terasa lunglai, tak berdaya

* Tidak bersemangat mengikuti tayangan live streaming

* Tidak memahami topik yang sedang diperbincangkan dalam tayangan live streaming

Kalau mengalami gejala seperti itu, mungkin pertanda Anda overdosis dalam mengikuti acara-acara di media sosial. 

Sebaiknya, pilih secara selektif kegiatan rohani apa yang penting untuk Anda ikuti secara live streaming. Ingatlah, Tuhan tidak hanya dapat ditemukan melalui pengajaran atau homili atau ceramah atau apa pun perbincangan yang disiarkan secara on-line melalui media sosial. 

Siaran-siaran live streaming terkait hal-hal rohani merupakan salah satu sarana yang dapat membantu meningkatkan keimanan kita di masa pandemi ini. Kita tetap perlu menyediakan waktu hening tanpa siaran media sosial untuk menikmati kebersamaan dengan Tuhan dalam jiwa kita.

Minggu, 06 September 2020

Hater atau Liker?

Media sosial semakin ramai di masa pandemi. Segala hal bisa ditayangkan ke hadapan publik lewat berbagai aplikasi. Keterbukaan informasi publik ini tentu mengundang tanggapan dari para netizen yang merupakan pemirsa media sosial.

Sebagai netizen, terhadap suatu posting di media sosial, kita bisa memilih menjadi orang yang netral (tidak berkomentar), hater (orang yang berkomentar negatif), atau liker (orang yang berkomentar positif). Layaknya audiens media massa yang banyak dan tak semuanya dikenal oleh orang yang menyampaikan pesan, demikian pula netizen tidak seluruhnya dikenal oleh orang yang memposting di media sosial.

Saat ini situasi di sekitar kita cenderung negatif karena imbas pandemi. Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh terhadap komunikasi sosial kita. Namun, dengan pengendalian diri yang baik, kita tetap dapat menjadi netizen yang santun. Tak perlu mengomentari semua posting yang kita lihat. 

Jika ingin berkomentar, tebarkanlah ujaran yang positif dan jadilah liker. Kalau mau mengoreksi postingan yang isinya dianggap negatif atau tidak benar, kita tetap dapat memilih menggunakan kata-kata yang membangun, memberi semangat agar orang yang memposting itu berubah menjadi baik; bukan komentar yang memojokkan, apalagi mencaci. 

Hidup ini sudah berat dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, janganlah kita menambah berat beban dengan menjadi hater bagi orang lain, meskipun kita tidak mengenalnya. Wajah dunia ditentukan oleh orang-orang yang menghuninya. Ciptakanlah hunian bersama yang indah dan nyaman, di mana setiap insan betah tinggal di dalamnya. Mari mulai dari diri sendiri.

Senin, 24 Agustus 2020

Menantang Maut dan Menentang Maut

Seorang nenek, tetanggaku, berjalan melintas di depan rumah. Aku menyapanya, mengingatkan agar ia memakai masker demi kesehatannya. Bulan depan, nenek ini akan berulang tahun ke-92. Suatu berkat kehidupan yang patut disyukuri.

Tetapi sang nenek dengan mata berkaca-kaca mengatakan, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya. Berulang kali ia memohon kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Alasannya, anak yang paling disayanginya telah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. 

Tindakan nenek yang berjalan tanpa masker bisa dikatakan menunjukkan sikapnya menantang maut, sementara sebagian besar umat manusia berjuang menentang maut yang mengintai di masa pandemi Covid-19 ini.

Kehidupan adalah anugerah Tuhan yang penuh misteri. Mengapa tidak kita hidupi tanpa menantang atau menentang maut? Jika sampai hari ini Tuhan masih memberi kita napas kehidupan, berarti Ia masih memberi kita kesempatan menikmati anugerah-Nya di dunia ini. Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya; tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.

Jumat, 14 Agustus 2020

Militia Imakulata

Hari ini Gereja Katolik memperingati kemartiran Santo Maximilian Maria Kolbe (1894-1941), seorang Imam Fransiskan asal Polandia, yang merelakan dirinya menggantikan seorang tawanan lain di kamp konsentrasi Auschwitz pada masa penguasaan Nazi. 

Salah satu warisan St. Max Kolbe ialah komunitas Militia Imakulata. Awalnya, ketika sedang berada di Roma, St. Max Kolbe melihat parade orang-orang Freemason yang memperingati 200 tahun keberadaan mereka dengan membawa spanduk bertuliskan: "Setan akan menguasai Vatikan dan Paus akan menjadi hambanya."

St. Max Kolbe lalu bertekad mempertahankan Gereja. Pada 16 Oktober 1917 - 3 hari setelah penampakan terakhir Bunda Maria di Fatima kepada 3 anak gembala - St. Max Kolbe mendirikan komunitas Militia Imakulata yang kemudian dikenal dengan nama Bentara Maria Imakulata. Tujuan Militia Imakulata ialah mempertobatkan para pendosa dan penganut bidaah, terutama pengikut Freemason; serta pengudusan semua orang melalui teladan dan perantaraan Bunda Maria.

Pilihan St. Max Kolbe kepada Maria Imakulata berdasarkan keyakinan bahwa Bunda Maria akan menang melawan setan dan menghancurkan kepala setan. Selain itu, Bunda Maria adalah perantara segala rahmat.

Menurut St. Max Kolbe ada 3 "medan pertempuran" bagi anggota Militia Imakulata, yaitu  (1) memenangkan jiwa kita sendiri bagi Maria Imakulata, (2) memenangkan jiwa keluarga dan teman-teman kita bagi Maria Imakulata, (3) memenangkan jiwa seluruh umat manusia bagi Maria Imakulata.

St. Maximilian Maria Kolbe dikenal sebagai rasul pengabdian kepada Bunda Maria dan martir cinta kasih. Pada 10 Oktober 1982 ia dikanonisasi oleh Paus St. Yohanes Paulus II.

Jumat, 07 Agustus 2020

Jika Virus Itu Seperti Dosa...

Di masa pandemi Covid-19 ini, kita diminta menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari terpapar virus Corona dengan cara:
- Memakai masker
- Sering mencuci tangan
- Menjaga jarak sosial

Mengibaratkan virus Corona seperti dosa, kita pun perlu menerapkan protokol keselamatan jiwa dengan cara:
- Menutup mulut terhadap pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak perlu
    Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. (Mazmur 17:3)

- Menjaga tangan (perbuatan) kita tetap bersih
    Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya... (Mazmur 27:3-4a)

- Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang dapat membuat jalan kita menyimpang
    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:1-2)

Senin, 03 Agustus 2020

Cara Tuhan Menegur

Nabi Hananya bin Azur bernubuat untuk menyenangkan hati bangsa Israel. Katanya di depan para imam dan seluruh rakyat: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel..." (Yeremia 28:2-3).
 
Tuhan tidak serta-merta menegur Hananya yang bernubuat palsu itu di depan umum. Tuhan membiarkan Hananya berseloroh di depan orang banyak. Nabi Yeremia yang mendengarkan ucapan Hananya hanya berujar, "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini..." (Yeremia 28:6).

Setelah itu, secara pribadi Tuhan mengutus Yeremia menemui Hananya dan mengatakan yang sebenarnya. Karena kekerasan hati bangsa Israel terhadap Tuhan, maka Tuhan akan membuat mereka takhluk kepada Nebukadnezar, raja Babel. Nabi Hananya yang telah meninabobokan bangsa Israel dengan mengatakan Nebukadnezar akan kalah, sehingga bangsa Israel percaya kepada nubuat yang salah - mendapat ganjaran setimpal. Pada tahun itu juga, Hananya mati (Yeremia 28:17).

Dari kisah nabi Hananya dan nabi Yeremia di atas, kita dapat melihat cara Tuhan menegur manusia. Meski Hananya bernubuat tidak benar di depan orang banyak, perbuatannya mendukakan Tuhan; tetapi Tuhan tetap punya etika dalam menegur ciptaan-Nya. Bagaimana dengan kita ketika menegur orang yang bersalah? Apakah kita menegurnya di depan orang banyak, sehingga mempermalukannya? Ataukah kita menegurnya secara pribadi seperti yang Tuhan lakukan?

Senin, 20 Juli 2020

Bersama Ibu-Nya

Kedekatan Yesus dengan Ibu-Nya tampak dari dua peristiwa besar yang dialami Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Mengawali penampilan-Nya di depan umum dalam perjamuan kawin di Kana, Yesus melakukan mukjizat pertama saat bersama Ibu-Nya. Di atas kayu salib, penampilan terakhir Yesus di depan umum sebelum wafat, Ia pun berada bersama Ibu-Nya.

Melalui kedua peristiwa besar itu, terlihat jelas peran besar Bunda Maria dalam kehidupan Yesus, Putranya. Apakah kita sebagai putra dan putri Bunda Maria juga menyertakan Ibu Surgawi kita dalam hidup kita? Adakah kita menyadari campur tangan Bunda Maria di saat-saat penting kehidupan kita?

Kamis, 16 Juli 2020

Tanda Penyertaan

Manusia butuh tanda penyertaan yang kasat mata dari Tuhan yang tak kelihatan. Dalam pengembaraan bangsa Israel di padang gurun menuju tanah terjanji Kanaan, Allah menyertai mereka dengan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam (lihat Bilangan 14:14).

Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, sesuai amanat perpisahan-Nya dalam Perjamuan Terakhir, umat beriman kristiani mengalami tanda penyertaan-Nya secara konkret melalui Sakramen Mahakudus dalam Perayaan Ekaristi.

Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja, yang telah diangkat ke Surga juga memberikan tanda penyertaannya lewat Rosario dan Skapulir Cokelat Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Dengan tanda kehadiran Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang nyata sampai saat ini, adakah hal lain yang melebihi kedua tanda penyertaan itu untuk kehidupan kita sehari-hari?

Komuni Suci secara fisik belum dapat kita terima beberapa bulan belakangan ini lantaran pandemi Covid-19. Tetapi kita bisa menyelami kehadiran Yesus dalam Komuni Batin dan Adorasi Sakramen Mahakudus, merasakan penyertaan-Nya secara spiritual dalam setiap langkah hidup kita.

Bagaimana dengan untaian Rosario? Dalam beberapa penampakan Bunda Maria, terutama di Fatima tahun 1917, Bunda Maria berpesan melalui tiga anak gembala - Lusia, Fransiskus, dan Yasinta - agar kita berdoa Rosario setiap hari. Sudahkah kita melakukannya? Melalui doa Rosario, bersama Bunda Maria kita menghayati perjalanan hidup Putra tercintanya, Tuhan Yesus.
 
Lalu, bagaimana pemakaian Skapulir Cokelat? Skapulir adalah tanda dan lambang perlindungan Bunda Maria bagi kita anak-anaknya, sama seperti ibu kita di dunia yang mengenakan pakaian pada kita. ".... Siapa pun yang meninggal dalam busana ini, tidak akan mengalami api yang kekal. Ini adalah tanda keselamatan, perlindungan dari segala bahaya, sebuah sarana perdamaian dan perjanjian," pesan Santa Perawan Maria kepada Santo Simon Stock saat memberikan Skapulir Cokelat pada 16 Juli 1251.

Sakramen Mahakudus, Rosario dan Skapulir Cokelat - tanda penyertaan nyata dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria - yang dapat kita jadikan "teman seperjalanan" dalam peziarahan kita di dunia, sampai tiba dengan selamat di Kerajaan Surga kelak.

Rabu, 01 Juli 2020

Goresan Warna-Mu

Terima kasih, Tuhan
atas goresan warna-warni 
yang Engkau berikan di atas kanvas kehidupanku. 
Indahlah apa yang telah Engkau buat, ya Tuhan
jiwaku mengaguminya. 
 

Senin, 15 Juni 2020

Berhenti Berpikir Berlebihan

Pikiran berlebihan, mendatangkan petaka.
Lihat saja Kain yang berpikir berlebihan karena iri persembahannya tidak diterima, sedangkan persembahan adiknya berkenan kepada Allah. Muncul macam-macam pikiran buruk, yang berujung pada tindakan menghilangkan nyawa Habel, adiknya.Contoh lain, Raja Daud yang berpikir berlebihan ketika tertarik kepada Batsyeba, sehingga ia merancang segala yang buruk terhadap Uria, suami Batsyeba, agar dapat memperistri perempuan itu.  

Ketika kita sedang mengalami masalah dan berpikir, pergerakan pikiran kita seperti air dalam gelas yang sedang diaduk dengan sendok. Berputar-putar tak tentu arah, menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan. Akibatnya, dalam situasi pikiran keruh seperti itu, si jahat yang selalu mengintai untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa, dapat dengan mudah ikut masuk memberikan ide-ide buruk ke dalam pikiran kita.

Berhenti berpikir berlebihan, membantu menghindari kita jatuh ke dalam dosa akibat pikiran kita. Anda sedang menghadapi masalah? 
Stop berpikir berlebihan. 
Lebih baik datang ke hadirat Tuhan.

Rabu, 03 Juni 2020

Bunda Maria adalah Ibu Bumi

"Seluruh alam dijadikan oleh Allah, dan Allah lahir dari Maria. Allah menciptakan segala sesuatu, dan Maria melahirkan Allah. Allah yang menjadikan segala-galanya, membiarkan diri dibentuk melalui Maria, sehingga Ia membuat diri-Nya diciptakan. Ia yang dapat menciptakan segala sesuatu tanpa bahan baku, tidak mau menjadikan kembali ciptaan-Nya yang hancur tanpa bantuan Maria.

Maka, Allah adalah Bapa bumi yang diciptakan, dan Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Allah adalah Bapa yang oleh-Nya segala sesuatu diberi kehidupan, dan Maria adalah Bunda yang olehnya segala sesuatu diberi kehidupan baru." - Santo Anselmus, Uskup Agung dari Canterbury (1033-1109)

Sepanjang bulan Mei yang lalu, kita mendaraskan doa Rosario dengan ujud-ujud permohonan sesuai Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si yang menekankan perhatian kepada Ibu Bumi dan pelestarian lingkungan hidup.
 
Merefleksikan dan memahami khotbah Santo Anselmus di atas, Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Dalam carut-marut dunia saat ini, sudah sepatutnya kita berpaling kepada Bunda Maria, agar sebagai Bunda bumi ia berkenan mencurahkan kehidupan baru atas segala sesuatu di muka bumi ini.

Jumat, 29 Mei 2020

Pelajaran Lain dari Salib Kristus

Salib Kristus terutama melambangkan penebusan dan pendamaian. Melalui salib, Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penebus dosa bagi seluruh umat manusia. Relasi Allah dengan manusia yang sebelumnya terputus karena dosa manusia pertama di taman Eden, kini dipulihkan Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib.

Kematian dan kebangkitan Kristus juga mengajarkan kepada kita bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, justru melalui kematian itu Yesus mengalahkan maut yang sangat ditakuti manusia.

Renungkanlah lebih dalam tentang Salib Kristus, penderitaan-Nya yang sangat berat; maka kita akan menemukan pemahaman lain yang dapat menguatkan kita dalam menyusuri lembah duka kehidupan di dunia ini.

Anda pernah menderita? Tentu. Tak ada satu manusia pun yang bebas dari penderitaan. Tetapi, hati-hati. Penderitaan yang tidak dikelola dengan baik, terus-menerus diratapi; dapat membawa manusia pada musnahnya harapan. Jika tak ada lagi secercah harapan, manusia cenderung jadi apatis, memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

Sekarang, di tengah penderitaan Anda, cobalah memandang Salib Kristus. Selamilah penderitaan-Nya. Pandanglah wajah-Nya yang menunduk, luka-luka di sekujur tubuh-Nya, sakit yang mendera akibat tusukan paku di kedua tangan dan kaki-Nya. Perlahan, Anda dapat merasakan, kesedihan dan kesengsaraan yang ditanggung Yesus ternyata jauh lebih dahsyat daripada kesedihan dan penderitaan kita. Salib kita tidak seberat Salib-Nya.

Ya Yesus, pada saat aku mengalami duka dan derita, aku akan memeluk Salib-Mu, agar aku dapat memperoleh kekuatan dari penderitaan-Mu.

Rabu, 13 Mei 2020

Memilih Jalan Maria Tak Bernoda

Santo Louis Marie de Montfort (1673-1716) dikenal karena devosinya yang sangat mendalam kepada Santa Perawan Maria. Dalam bukunya Bakti Sejati kepada Maria, St. Louis Marie de Montfort mengungkapkan betapa Yesus sendiri sejak awal memilih jalan melalui Maria untuk datang ke dunia. Bagaimana dengan kita?

Silakan orang membuka bagi saya sebuah jalan baru kepada Yesus Kristus – dengan segala pahala para orang suci, dengan segala keutamaan yang heroik, dengan segala kecemerlangan dan keindahan para malaikat. Namun dengan kepastian sepasti-pastinya, saya mengatakan kebenaran bahwa jalan yang sangat sempurna yang saya pilih adalah jalan Maria Tak Bernoda. Sebuah lintasan jalan tanpa cacat atau cela, tanpa noda dosa asal atau dosa pribadi, tanpa bayangan atau kegelapan.

Apabila Yesusku datang kedua kalinya ke dunia dalam kemuliaan-Nya untuk memerintah, sudah pasti Ia tidak akan mengambil jalan lain daripada jalan Maria yang dipenuhi Allah, yang telah dilalui-Nya dengan begitu aman dan sempurna, ketika Ia datang pertama kali ke dunia.

Perbedaan antara kedua kedatangan itu hanya terletak pada hal ini: kedatangan pertama berlangsung secara rahasia dan tersembunyi, sedangkan kedatangan kedua akan berlangsung dengan mulia dan gemilang. Kedua kedatangan itu sempurna, karena berlangsung lewat Maria. Sayang sekali, rahasia ini tidak dimengerti. (dari buku Bakti Sejati kepada Maria no. 158)

Minggu, 03 Mei 2020

Panggilan kepada Kekudusan

Perayaan Minggu Panggilan selalu dikaitkan dengan panggilan hidup khusus sebagai kaum religius. Namun sesungguhnya setiap manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, memiliki panggilan utama untuk menjadi kudus seperti Sang Pencipta.

tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Petrus 1:15-16)
 

Sabtu, 02 Mei 2020

Percaya dan Tahu

Sering kali kita mau percaya terhadap sesuatu, setelah kita mengetahui bahwa sesuatu itu layak untuk dipercayai. Tetapi hari ini rasul Petrus mengatakan kepada Yesus, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yohanes 6:68-69)

Pernyataan rasul Petrus menyadarkan kita: dengan percaya terlebih dahulu, maka barulah kita akan mengetahui kebenaran.

Jumat, 01 Mei 2020

Partikel-Partikel Kasih-Mu

Virus mematikan itu berukuran sangat kecil, bisa masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Virus itu juga bisa bertahan di udara selama beberapa jam. Mendisiplinkan diri dengan hidup lebih higienis, sudah diterapkan semaksimal mungkin. Tetapi, bagaimana jika tanpa diketahui, virus itu menyelinap ke dalam tubuh?

"Anak-Ku, janganlah terlalu khawatir. Tidakkah engkau tahu, di udara ini ada partikel-partikel kasih-Ku? Partikel-partikel ini lebih banyak jumlahnya dan siap bergerak menyelubungi virus mematikan itu, sehingga engkau terluput dari mara bahaya. Percayalah!"

Minggu, 12 April 2020

Bukan Ritual, Melainkan Spiritual

Kursi-kursi kosong berjajar,
Tak ada nyanyian berkumandang,
Tak ada perarakan dengan lambaian daun palem,
Tak ada pembasuhan kaki,
Tak ada pentakhtaan Sakramen Mahakudus,
Tak ada penciuman Salib,
Tak ada lilin-lilin yang bernyala,
Tak ada pujian Eksultet,
Tak ada dentang lonceng,
Sunyi, pintu-pintu pagar gereja terkunci.
 
Ah, Tuhan, mengapa pandemi ini terjadi di masa suci Paskah?
Tidakkah Engkau salah mengatur waktu?
Seandainya ia melanda dunia setelah Paskah berlalu,
kami masih bisa hadir dalam rumah-Mu ,
kami masih bisa melakukan ibadah Pekan Suci.

Tetapi, Engkau mengizinkannya terjadi di masa Prapaskah,
Engkau membiarkan umat-Mu menjauh dari rumah-Mu,
Engkau membuat umat-Mu termenung dalam diam,
Engkau memperkenankan semua ini terjadi,
Engkau tidak menghendaki sekadar ritual, melainkan yang spiritual.

Sabtu, 11 April 2020

Mengisolasi Diri Bersama Bunda Maria

Sabtu yang sunyi,
hari ketika Bunda Maria kehilangan Yesus secara manusiawi,
sejak ia mengandung-Nya, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya,
dan menyertai-Nya selama 33 tahun masa hidup-Nya di dunia.

Sang Bunda memilih berdiam di rumah,
mengisolasi diri dalam kedukaan yang sangat,
penuh harap menanti janji Sang Putra,
besok fajar kebangkitan akan terbit.

Hari-hari yang sunyi,
ketika pandemi mengharuskan masyarakat tinggal di rumah,
mengubah irama kehidupan ceria menjadi murung,
menyaksikan wajah dunia yang tanpa daya.

Mengisolasi diri bersamamu, Bunda
saling menghibur dalam kesedihan dan penantian,
Putramu besok akan bangkit, Ibu
Pandemi ini akan berakhir, anakku

Jumat, 10 April 2020

Ketakutan Kita

Ketika berdoa di Taman Getsemani sebelum ditangkap para prajurit, Yesus mengalami rasa takut seperti manusia pada umumnya. Apalagi, sebagai Putra Allah, Yesus sudah mendapat penglihatan kesengsaraan yang bakal menimpa dan kematian-Nya yang sudah semakin dekat. 

Mengapa kita takut pada pandemi Covid-19? Penyakit ini sangat menular, jika virus sudah masuk ke paru-paru, tanpa penanganan medis yang baik dapat berujung pada kematian.

Manusia takut menghadapi kematian. Tetapi, bukankah kematian adalah misteri Allah? Belajar dari Yesus yang menerima kematian dengan kepasrahan total kepada Bapa; ketika maut mengintai, kita pun hendaknya berpasrah seraya mengatakan, "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku."

Kamis, 09 April 2020

Memaknai Doa Ini

Dalam Perayaan Ekaristi, sebelum menyambut Tubuh Kristus, kita mendaraskan doa singkat ini: "Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." Lalu, kita duduk dan menanti giliran maju ke depan untuk menyambut Komuni Kudus.

Sekarang, dalam situasi pandemi Covid-19, pada saat Perayaan Ekaristi tidak bisa dilakukan di dalam gedung gereja, dan umat Katolik mengikuti Perjamuan Kudus secara online, doa tersebut menjadi sangat bermakna.

Karena kedosaan kita, sesungguhnya kita memang tidak pantas menyambut Tubuh Kristus untuk menyatu dengan tubuh kita yang fana; maka kita meminta Tuhan Yesus untuk bersabda saja, itu sudah cukup untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa kita.

Pada Trihari Suci ini, saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi secara online, doakanlah secara perlahan: "Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." Dalam kesatuan dengan Roh Kristus, kita dapat menghayati pernyataan tersebut, dan aliran yang damai akan memenuhi hati kita.

Minggu, 05 April 2020

Ketika Yesus Tak Memerlukan Lambaian Daun Palem

... mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yohanes 12:13)

Kali ini, Yesus tidak menginginkan kita melambai-lambaikan daun-daun palem.
Kali ini, Yesus tidak mengharapkan pekik sorak dan tawa umat-Nya.
Kali ini, Yesus tidak menerima kumandang lagu-lagu pujian kita.
Kali ini, Yesus tidak menghendaki kehadiran kita di rumah-Nya.

Tuhan Yesus tidak menyukai hal-hal yang artifisial. 

Kali ini, Yesus menginginkan kita menelaah hati kita sedalam-dalamnya.
Kali ini, Yesus mengharapkan kita mengakui segala dosa dan berbalik kepada-Nya.
Kali ini, Yesus menerima anak-anak-Nya yang dengan tulus hati berserah.
Kali ini, Yesus menghendaki kita menanti kedatangan-Nya di rumah kita.

Rabu, 01 April 2020

Padang Gurun di Tengah Kota

Sebelas tahun silam, ketika mulai menapaki jalan spiritual, betapa menggebu keinginan untuk naik ke gunung dan menjadi rahib. Kini, ternyata tak perlu menyepi ke gunung untuk hidup dalam keheningan. Kita bisa menjadi rahib di tengah kota, di dalam rumah kita sendiri.

Sabtu, 28 Maret 2020

Bersih-Bersih

Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk memberi perhatian pada kebersihan tangan dan sekitarnya. Sekarang, semua orang jadi rajin mencuci tangan dan membersihkan tubuh. Bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita juga membersihkannya di masa Prapaskah ini?

Jumat, 20 Maret 2020

Doa Komuni Batin

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki  penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. (Yohanes 4:23-24)

Doa Komuni Batin 
dari St. Alfonsus Maria de Liguori

Yesus-ku, aku percaya
Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Aku mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu,
dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam jiwaku. 

Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Perayaan Ekaristi,
aku mohon datanglah secara rohani ke dalam hatiku.

(Hening sejenak, satukanlah dirimu dengan Yesus)

Seolah-olah Engkau telah datang.
Aku memeluk-Mu, dan menyatukan diriku sepenuhnya dengan Dikau.
Jangan biarkan aku terpisah dari-Mu.

Amin



Kamis, 19 Maret 2020

Malam Gelap - Santo Yohanes dari Salib

Syair di bawah ini ditulis Santo Yohanes dari Salib di dalam kegelapan penjara tempat ia ditahan dari 2 Desember 1577 sampai Agustus 1578, karena perselisihan yang timbul dengan sebagian rekan biaranya dalam upaya pembaruan Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD). 

Bagi Santo Yohanes dari Salib, siksaan yang dialami menjadi jalan menuju terang, sekaligus menolong ia menemukan suatu lambang yang menjelaskan situasi rohani banyak orang. 

Dalam bait pertama dan kedua dijelaskan hasil pembersihan keindrawian dan pembersihan kerohanian manusia. Dalam keenam bait lainnya, diterangkan secara rinci buah hasil istimewa dari penerangan rohani dan persatuan dengan Allah dalam cinta.

Jiwa menyanyikan bait-bait ini, sesudah ia sampai ke tingkat kesempurnaan, yakni persatuan dengan Allah dalam cinta. Rasa sakit dan sesak yang pernah menekannya, sudah lewat. Itu dialaminya dalam usaha rohaninya di jalan sempit menuju hidup kekal seperti disebut Penyelamat kita dalam Injil (lihat Matius 7:14). Santo Yohanes Salib menyebut jalan sempit itu sebagai malam gelap.

Jalan ini sempit dan hanya sedikit orang yang masuk melaluinya, seperti dikatakan Tuhan sendiri (lihat Matius 7:14). Maka, jiwa merasa beruntung sekali, karena melalui jalan itu ia masuk ke dalam kesempurnaan cinta.

1. Di malam yang gulita
    Membara dan merayau kar'na cinta
    - betapa beruntung -
    Aku tak kelihatan,
    Ke luar, dan rumahku sudah tenang.

2. Gelap, tetapi aman, 
    Lewat tangga yang sepi - samar-samar
    - betapa beruntung -
    Gelap, tak kelihatan
    Sebab rumahku itu sudah tenang.

3.  Di malam beruntung 'tu,
    Aku sembunyi dan tidak dikenal,
    Tidak melihat apa,
    Tanpa terang pembimbing
    Selain yang membara di hatiku. 

4. Ini menuntun aku,
    - yang lebih terang daripada siang - 
    Aku sudah dinanti
    Dia yang kukenal baik
    Dan tiada orang lain kelihatan.

5. Wahai malam pembimbing
    Malam yang jauh melebihi fajar,
    Dan yang mempersatukan
    Kekasih dan kekasih,
    Kekasih berubah jadi kekasih!

6. Dadaku penuh kembang,
    yang kusimpan melulu bagi Dia.
    Ia tidur tenang.
    Dan aku membuai-Nya
    di bawah himbauan kedar yang sejuk.

7. Angin sejuk bertiup,
    Seraya aku membelai rambut-Nya,
    Dan tangan-Nya yang halus
    Melukai leherku,
    Sampai segala rasa hilang lenyap.

8. Aku lupa, menyerah,
    Wajah kusandarkan pada Kekasih;
    Tenang; aku menyerah,
    Segala susah hilang,
    Terlupa di antara bunga bakung.

 (Cuplikan dari buku: Malam Gelap, karya Santo Yohanes dari Salib. Penerbit Karmelindo, 2011)

Jumat, 13 Maret 2020

Merefleksikan Covid-19

Dalam tiga bulan terakhir ini, dunia porak-poranda lantaran pandemi virus Covid-19. Pada minggu ini, ada negara-negara di Eropa yang melakukan lockdown hingga akhir Maret, agar virus itu tidak makin menyebar di antara masyarakat. Salah satu konsekuensi yang timbul dari lockdown ialah tidak diperkenankannya masyarakat berkumpul secara massal, termasuk menghadiri Perayaan Ekaristi.

Di satu sisi, kenyataan tersebut sangat menyedihkan. Di saat umat membutuhkan peneguhan iman dalam menghadapi wabah penyakit ini, Gereja tidak dapat hadir. Namun, cobalah memandangnya dari sisi lain. 

Saat ini kita berada dalam masa Prapaskah - masa pertobatan. Masih ada 3 minggu lagi sebelum memasuki Pekan Suci. Kita dapat sungguh-sungguh memanfaatkan waktu mengurung diri di rumah ini untuk berada di padang gurun bersama Kristus. Dalam kesepian, dalam kesendirian, dalam kegersangan, dalam ketakutan, dalam ketidakberdayaan, dalam kesengsaraan.

Inilah malam gelap yang harus dilalui manusia untuk dapat sampai kepada Kristus, seperti diajarkan  Santo Yohanes Salib. Malam gelap bagi jiwa, yang sebenarnya adalah kehadiran Kristus di dekat kita, namun karena ditutupi dosa-dosa sehingga kita belum dapat melihat kehadiran-Nya. 

Jika kita bertekun melewati malam gelap indrawi dan rohani, sebagai pemurnian diri, akhirnya kita akan sampai pada persatuan dengan Kristus. Perjalanan panjang bagi jiwa yang rindu bersatu dengan-Nya.


Rabu, 26 Februari 2020

Menemani-Mu

Kenapa kita harus pergi ke padang gurun lagi, Tuhan? 
Anak-Ku, engkau perlu menyingkir sejenak dalam satu tahun siklus kehidupanmu untuk berada di dekat-Ku. 

Tapi, aku bisa dekat dengan-Mu setiap hari, tanpa harus ke padang gurun....
Di padang gurun sunyi, dalam keheningan engkau dapat lebih mendengar suara-Ku.

Padang gurun tidak enak, Tuhan. Suasananya gersang, sulit memperoleh makanan dan minuman, tidak ada hiburan....
Justru dalam segala keterbatasan manusiawi itu, engkau dapat menemukan-Ku dan menyatu dengan-Ku.

Ooo... baiklah, Tuhan. Sekarang aku mau menemani-Mu ke padang gurun.

Jumat, 21 Februari 2020

Siapa Dia?

Siapakah yang tidak akan mati sebelum melihat Kerajaan Allah datang - seperti dikatakan Yesus dalam Injil Markus 9:1?
"Aku berkata kepadamu; Sungguh, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah datang dengan kuasa."

Segala tafsir dapat dikemukakan, mungkin juga Yesus berkata-kata dalam arti kiasan. Jumlahnya bisa satu orang atau bisa juga beberapa orang. Tetapi saya meyakini, orang yang dimaksud Yesus dalam ayat tersebut adalah Bunda Maria. Mengapa?

Meski dalam iman Katolik diyakini Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga - sesuai dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang ditetapkan Paus Pius XII pada 1 November 1950, namun dalam perannya sebagai co-redemptrix - rekan dalam penebusan manusia - Bunda Maria masih beredar di dunia ini untuk membantu Sang Putra menyelamatkan umat manusia.

Setelah mengalahkan maut dan bangkit dari mati, Tuhan Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa - kita mengakui kebenaran ini dalam Kredo Para Rasul. Tetapi, Bunda Maria - Ibunda Kristus yang telah diserahkan kepada umat manusia dan diterima oleh rasul Yohanes di bawah salib Yesus - masih menampakkan diri antara lain di Guadalupe, Lourdes, Fatima. Dalam penampakan-penampakannya, Bunda Maria selalu meminta umat manusia bertobat, berdoa, dan bermatiraga.

Dari kenyataan tersebut, bisa dikatakan bahwa Bunda Maria-lah orang yang sejak zaman Yesus hidup di dunia sampai sekarang, masih sibuk mengerjakan keselamatan bagi umat manusia; hingga kelak Putra terkasihnya datang kembali dengan penuh kuasa untuk mengadili orang hidup dan mati.

Senin, 03 Februari 2020

Doa yang Diajarkan Bunda Maria Fatima

Dalam penampakan ke-4 di Fatima, Portugal, pada 13 Juli 1917, Bunda Maria mengajarkan kepada tiga anak gembala - Lusia, Fransiskus, dan Yasinta - doa singkat yang sekarang kita daraskan di akhir setiap peristiwa dalam Doa Rosario: 

"Ya Yesusku yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu."

***

Ketika mengikuti Sarasehan Penampakan Bunda Maria Fatima di Marian Centre Indonesia (MCI) pada 13 September 2019, Romo Yulius Sudharnoto, O.Carm, yang waktu itu menjadi Moderator MCI, merangkai doa dalam untaian manik-manik yang menekankan pada doa yang diajarkan Bunda Maria Fatima tersebut di atas.

Berikut ini adalah gambar dan keterangan untaian doa Rosario Maria Fatima yang diperkenalkan Romo Yulius:


Dari untaian manik-manik doa Rosario Maria Fatima ini, tampak bahwa doa yang diajarkan Bunda Maria Fatima menjadi intinya. Doa "Ya Yesusku yang baik...." didaraskan 7x7 kali.

Dalam kata pengantar buku Ya Yesusku yang Baik - Makna Doa Fatima karya Stephen Bullivant dan Luke Arrendondo, penerbit Marian Centre Indonesia, 2019; Romo Yulius Sudharnoto, OCarm menyampaikan: tujuan mendaraskan doa Rosario Maria Fatima terutama supaya semakin banyak orang berdosa BERTOBAT, terutama ditujukan kepada pertobatan umat dan rakyat China.

Mengapa China? Simbol China adalah naga, musuh Yesus, Putra Terkasih Bunda Maria. Dalam kitab Wahyu bab 12 ditulis, perempuan berselubung matahari - Bunda Maria - yang akan menakhlukkan naga merah si ular tua. Melalui Doa Rosario Maria Fatima dan Doa Kerahiman Ilahi (Koronka), Gereja menyiapkan diriuntk kedatangan kedua kali Yesus Kristus.

Pada saat menampakkan diri di Fatima, Bunda Maria menyarankan doa yang diajarkannya itu diucapkan pada akhir setiap peristiwa dalam Doa Rosario. Tetapi, dalam perjalanan waktu, jika muncul gagasan baik untuk mendaraskan lebih banyak doa yang diajarkan Bunda Maria Fatima tersebut, mengapa tidak? Doa Rosario Maria Fatima tentu menyenangkan hati Bunda Maria, sekaligus membantunya memenangkan pertempuran melawan si jahat.

Sabtu, 01 Februari 2020

Senin, 27 Januari 2020

Mengikat Orang Kuat

Camkanlah, tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat, untuk merampas harta bendanya, kecuali kalau ia mengikat lebih dahulu orang kuat itu. Lalu barulah ia dapat merampok rumah itu. (Markus 3:27)

Apakah ada sesuatu yang sedang membelenggu hidup Anda? Mungkin masalah berat dalam pekerjaan, hidup berumah tangga, atau suatu penyakit yang membuat Anda kehilangan sukacita dalam hidup? Begitu berat tantangan kehidupan yang Anda alami, sampai merampas iman, cinta, dan harapan Anda kepada Tuhan Yesus.

Perkataan Yesus dalam Injil Markus di atas dapat menjadi pegangan, agar kita selalu waspada. Camkanlah, si jahat dapat memasuki rumah hati kita untuk merampas Yesus - harta paling berharga milik kita. 

Dengan tipu dayanya si jahat berusaha memengaruhi kita, sehingga kita tidak sadar kalau sudah diikatnya. Kita menjauhkan diri dari relasi dengan Tuhan, marah kepada pasangan hidup, bertindak kasar terhadap anak, malas ke gereja, bosan melayani, bekerja asal-asalan, memfitnah teman, enggan menolong orang lain, dan perbuatan-perbuatan tanpa cinta kasih lainnya. 

Berhati-hatilah, jangan sampai si jahat mengikat kita, lalu merampok dan menguasai rumah hati kita.

Kamis, 16 Januari 2020

Kalau Engkau Mau....

Bangsa Israel mengandalkan Tabut Perjanjian dalam berperang. Kalau ada Tabut Perjanjian, bisa dipastikan kemenangan berpihak kepada bangsa Israel. Tetapi jika Tabut Perjanjian tidak diikutsertakan, bangsa Israel mengalami kekalahan.

Namun, sesuatu yang tak lazim terjadi. Ketika bangsa Israel melawan kaum Filistin (lihat 1 Samuel 4:1-11), meskipun sudah ada Tabut Perjanjian, bangsa Israel tetap saja kalah. Mengapa? Karena Allah menghendaki hal itu terjadi.

***

"Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku," kata seorang penderita kusta yang datang kepada Yesus. Tergerak oleh belas kasihan, Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu, "Aku mau, jadilah engkau tahir." (lihat Markus 1:40-41) 

***

Beata Chiara Badano (1971-1990) gadis cantik asal Italia, menderita sakit kanker tulang selama 3 tahun terakhir hidupnya. Ketika mengetahui hasil diagnosis dokter, Chiara berkata, "Ini untukmu, Yesus. Jika Engkau menghendakinya, maka saya juga menghendakinya."

***

Bagaimana sikap kita, ketika menghadapi sesuatu yang tidak lazim dalam kehidupan kita? Akankah kita berkata, "Kalau Engkau mau, Tuhan.... " Entah kemudian Yesus akan mengangkat penderitaan kita, atau malah mengizinkan penderitaan itu kita alami, kita tetap menyakini Ia memberikan yang terbaik.


Minggu, 05 Januari 2020

Sahabat Sejati

Siapakah Sahabat Sejati?
Engkau yang bersemayam di dalam tabernakel hati ataukah malaikat pelindung yang menyertai peziarahan setiap anak-Mu?

Sebuah pemahaman yang indah: Setelah jiwa dan raga menyatu dengan-Mu dalam Perayaan Ekaristi, kita akan berjalan bersama sehati-sejiwa dan malaikat-malaikat akan mengiringi langkah kita.

Rabu, 01 Januari 2020

Energi Ekaristi

Kita mengawali setiap hari dengan menyembah Allah Bapa sebagai ungkapan kasih kita kepada-Nya, karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita, sejak kita diciptakan-Nya. Perayaan Ekaristi adalah saat di mana kita dapat bertemu dan berdialog dengan Allah Bapa, seperti nyata dalam doa-doa yang didaraskan Imam pada Perayaan Ekaristi - ditujukan kepada Allah Bapa.

Setelah mengungkapkan kasih kita kepada Allah Bapa, kita menerima Tubuh dan Darah Putra-Nya yang akan menemani kita sepanjang hari. Kekuatan persatuan fisik ini, ditambah daya Roh Kudus dan penyertaan Bunda Maria - akan menghasilkan energi luar biasa yang memampukan kita mengarahkan hidup kita kepada perkara yang di atas, bergerak dalam persatuan dengan Bunda Maria dan Yesus di dalam Allah Bapa.

Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kolose 3:3).