Tiga hari menjelang perayaan kelahiranMu, penyakitku kambuh. Ia datang mendadak pada dini hari. Aku tak mengerti, mengapa Engkau membiarkanku sakit, padahal selama masa Adven aku telah cukup sehat dan melakukan berbagai aktivitas secara bebas.
Di malam Natal, karena kesibukan, aku baru kembali ke rumah sore hari. Hanya tersisa waktu satu jam untuk beristirahat, sebelum pergi ke rumahMu untuk menghadiri perayaan kelahiranMu. Tetapi, fisikku yang lemah, ternyata sanggup bertahan dan mengikuti seluruh perayaan dengan hikmat.
Engkaulah yang telah menguatkanku. Sungguh, berbahagialah orang yang mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidupnya. Engkau tak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadaMu.
Setelah merayakan pesta kelahiranMu, aku membayangkan bakal terjadi mukjizat kesembuhanku. Nyatanya, penyakit itu masih setia menyertaiku sampai hari Natal kedua ini.
Ketika aku menanyakan kepadaMu, mengapa Engkau membiarkanku terpuruk di hari istimewaMu, dengan lembut Engkau menjelaskan bahwa Engkau menginginkan Cinta yang tulus. Engkau ingin aku mencintaiMu hanya karena Cinta, bukan lantaran kebaikanMu atau mukjizatMu. Cinta murni yang lahir dari hati terdalam, bukan sekadar balas jasa.
Wahai Bayi Mungil di Betlehem yang datang ke dunia hanya karena Cinta kepada umat manusia, ajarlah aku mencintai seperti Engkau mencintai.
Rabu, 26 Desember 2012
Jumat, 21 Desember 2012
Ajakan Mesra
Betapa mesra ajakanMu pagi ini, saat aku menyimaknya di rumahMu:
"Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!
Lihatlah, musim dingin telah lewat,
hujan telah berhenti dan sudah lalu.
Di ladang telah nampak bunga-bunga,
tibalah musim memangkas."
(Kidung Agung 2:10-12a)
Oh, sungguh benarlah.
Musim dingin yang mencekam disertai hujan air mata itu sudah berlalu.
Di pintu hatiku Engkau berbisik, mengajakku ke ladang
untuk menikmati bunga-bunga, seraya memangkas rerumputan liar.
Dengan mata berbinar penuh harapan,
senyum merekah penuh sukacita,
tangan terulur penuh kepercayaan,
hati berdegup penuh semangat,
aku menyambut ajakanMu.
"Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!
Lihatlah, musim dingin telah lewat,
hujan telah berhenti dan sudah lalu.
Di ladang telah nampak bunga-bunga,
tibalah musim memangkas."
(Kidung Agung 2:10-12a)
Oh, sungguh benarlah.
Musim dingin yang mencekam disertai hujan air mata itu sudah berlalu.
Di pintu hatiku Engkau berbisik, mengajakku ke ladang
untuk menikmati bunga-bunga, seraya memangkas rerumputan liar.
Dengan mata berbinar penuh harapan,
senyum merekah penuh sukacita,
tangan terulur penuh kepercayaan,
hati berdegup penuh semangat,
aku menyambut ajakanMu.
Kamis, 20 Desember 2012
Percayakah Engkau?
Kepercayaan
adalah landasan utama sebuah relasi. Dari kepercayaan muncul keterbukaan yang
selanjutnya membawa pada keakraban. Tanpa kepercayaan, relasi adalah semu dan
penuh kecurigaan.
- Kepada perwira yang hambanya sakit: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." (Matius 8:13)
Dalam
menjalin relasi dengan Tuhan, kepercayaan merupakan pintu gerbang menuju
kepada iman. Beberapa contoh betapa Yesus mengutamakan kepercayaan manusia antara lain:
- Kepada para murid ketika angin ribut melanda perahu mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" (Matius 8:26)
- Kepada Petrus setelah sesaat berjalan di atas air dan menjadi takut: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
- Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) mengungkapkan dengan jelas kepercayaan seorang tuan kepada hamba-hambanya untuk mengembangkan talenta yang diberikannya.
Tanpa
kepercayaan tidak akan terjadi mukjizat, seperti yang terjadi saat Yesus kembali ke kampung halamannya, Nazaret. Di tempat ini Ia tidak melakukan banyak mukjizat karena orang-orang sekampungnya tidak percaya. (bdk. Matius 13:58)
Namun,
kepercayaan masih memiliki keterbatasan indrawi. Karena melihat, mendengar,
atau terutama karena mengalami sendiri secara langsung, maka seseorang percaya. Yesus menarik manusia lebih jauh ke dalam
relasi adikodrati melalui iman. Setelah menyembuhkan orang-orang sakit, Yesus biasa mengatakan, "Imanmu telah menyelamatkan engkau."
Para murid bertanya kepada Yesus, mengapa mereka tidak berhasil mengusir setan dari seorang anak yang sakit ayan? Jawab Yesus, "Karena kamu kurang percaya. Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana." (Matius 17:20)
Jika saat ini Yesus bertanya kepada kita masing-masing, “Percayakah engkau,
bahwa Aku dapat melakukannya?” Semoga kita pun dapat menanggapiNya seperti dua orang buta yang dengan mantap menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya."
Dan Yesus pun akan senang mendengar tanggapan kita, lalu berkata, "Jadilah kepadamu menurut imanmu." (bdk. Matius 9:28-29)
Minggu, 16 Desember 2012
JanjiMu
Hari ini di Minggu ke-3 masa Adven, aku sangat bersukacita mendengar janji keselamatan dariMu. PerkataanMu yang Kau sampaikan kepada sisa Israel lewat nubuat nabi Zefanya seolah ditujukan khusus untukku:
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai
(Zefanya 3:15 & 17)
Tahun lalu, aku tidak mendengar bacaan yang memberi pengharapan tersebut. Karena sakit, aku tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi di minggu ke-1 dan ke-3 masa Adven. Kini aku sangat bersukacita, karena Engkau telah mengampuni segala dosaku, menarikku dari jurang maut, dan membawaku dekat kepadaMu. Aku bersyukur dan amat berbahagia karena aku telah menemukan Engkau, Sang Kebenaran Sejati.
Engkau membaharui aku dalam kasihMu. Engkau telah menyingkirkan hukuman yang sepatutnya dijatuhkan kepadaku. Sekarang aku tak perlu merasa takut lagi terhadap malapetaka. Dan ternyata, bukan hanya aku yang bersukacita. Engkau pun bergirang dan bersorak-sorak karena aku.
Terpujilah Engkau, ya Allah, yang sangat mengasihi manusia ciptaanMu.
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai
(Zefanya 3:15 & 17)
Tahun lalu, aku tidak mendengar bacaan yang memberi pengharapan tersebut. Karena sakit, aku tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi di minggu ke-1 dan ke-3 masa Adven. Kini aku sangat bersukacita, karena Engkau telah mengampuni segala dosaku, menarikku dari jurang maut, dan membawaku dekat kepadaMu. Aku bersyukur dan amat berbahagia karena aku telah menemukan Engkau, Sang Kebenaran Sejati.
Engkau membaharui aku dalam kasihMu. Engkau telah menyingkirkan hukuman yang sepatutnya dijatuhkan kepadaku. Sekarang aku tak perlu merasa takut lagi terhadap malapetaka. Dan ternyata, bukan hanya aku yang bersukacita. Engkau pun bergirang dan bersorak-sorak karena aku.
Terpujilah Engkau, ya Allah, yang sangat mengasihi manusia ciptaanMu.
Jumat, 14 Desember 2012
Mentor Spiritual
Jika orang ingin mengetahui dengan pasti jalan yang ditempuhnya, ia harus menutup matanya dan berjalan dalam gelap.(St. Yohanes dari Salib 1842-1891)
Kutipan itu menjadi peganganku saat berjalan bersamaMu. Sungguh, aku tidak tahu ke mana Engkau akan membawaku. Berjalan dalam gelap bermakna melepaskan segala sesuatu dan menyerahkan diri sepenuhnya kepadaMu dalam iman.
St. Yohanes dari Salib yang dirayakan oleh Gereja pada hari ini adalah salah satu dari lima mentor spiritualku. Aku telah memiliki buku karyanya, Mendaki Gunung Karmel, April tahun lalu. Tetapi aku belum tergerak membacanya, sampai suara Roh Kudus dalam hati memintaku membuka buku itu, ketika aku berada di tengah padang gurun spiritual pada Juli silam.
Dari Mendaki Gunung Karmel aku memahami malam gelap yang kualami, sampai pada Nyala Cinta yang Hidup. Aku bersyukur kepadaMu yang telah mengutus St.Yohanes dari Salib sebagai salah satu mentor spiritualku. Keempat mentor spiritualku yang lain ialah St. Fransiskus Assisi, St. Teresa Avila, St. Pio dari Pietrelcina, dan Beato Yohanes Paulus II.
Di atas kelima mentor spiritualku adalah Roh Kudus yang menjadi penggerak semuanya. Setiap kali setelah mengalami kejadian yang tidak lazim, Roh Kudus membisikkan padaku untuk mengambil buku tertentu dari salah satu mentor spiritualku. Dari situlah aku dapat memahami makna di balik kejadian-kejadian tersebut melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang mereka alami.
Terima kasih kepadaMu, Allah Tritunggal, yang telah menghimpun banyak orang kudus di sekelilingMu. Akal budiku yang terbatas tak akan mampu memahami seluruhnya misteriMu, namun dari berbagai pengalaman para kudus, aku dapat sedikit menguaknya.
Kutipan itu menjadi peganganku saat berjalan bersamaMu. Sungguh, aku tidak tahu ke mana Engkau akan membawaku. Berjalan dalam gelap bermakna melepaskan segala sesuatu dan menyerahkan diri sepenuhnya kepadaMu dalam iman.
St. Yohanes dari Salib yang dirayakan oleh Gereja pada hari ini adalah salah satu dari lima mentor spiritualku. Aku telah memiliki buku karyanya, Mendaki Gunung Karmel, April tahun lalu. Tetapi aku belum tergerak membacanya, sampai suara Roh Kudus dalam hati memintaku membuka buku itu, ketika aku berada di tengah padang gurun spiritual pada Juli silam.
Dari Mendaki Gunung Karmel aku memahami malam gelap yang kualami, sampai pada Nyala Cinta yang Hidup. Aku bersyukur kepadaMu yang telah mengutus St.Yohanes dari Salib sebagai salah satu mentor spiritualku. Keempat mentor spiritualku yang lain ialah St. Fransiskus Assisi, St. Teresa Avila, St. Pio dari Pietrelcina, dan Beato Yohanes Paulus II.
Di atas kelima mentor spiritualku adalah Roh Kudus yang menjadi penggerak semuanya. Setiap kali setelah mengalami kejadian yang tidak lazim, Roh Kudus membisikkan padaku untuk mengambil buku tertentu dari salah satu mentor spiritualku. Dari situlah aku dapat memahami makna di balik kejadian-kejadian tersebut melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang mereka alami.
Terima kasih kepadaMu, Allah Tritunggal, yang telah menghimpun banyak orang kudus di sekelilingMu. Akal budiku yang terbatas tak akan mampu memahami seluruhnya misteriMu, namun dari berbagai pengalaman para kudus, aku dapat sedikit menguaknya.
Senin, 10 Desember 2012
Hasil Kebenaran dan Takwa
Di minggu kedua menjelang pesta kedatanganMu, nabi Barukh mengutarakan dua syarat agar kita pantas mendapat damai sejahtera dan kemuliaan untuk selamanya, yaitu tetap berpegang pada kebenaran Allah dan bertakwa. Berpegang pada kebenaran Allah berarti mendasarkan hidup kita pada Sabda Allah di dalam Alkitab. Sedangkan takwa menyangkut kesalehan hidup, hormat dan bakti kepada Allah.
Dari pihak Allah engkau akan diberi nama ini untuk selamanya: "Damai sejahtera hasil kebenaran" dan "Kemuliaan hasil dari takwa". (Barukh 5:4)
Allah berkenan pada orang yang berselubungkan kampuh (selimut dari tiga helai kain yang dijahit menjadi satu) kebenaran Allah dan memasang tajuk kemuliaan dari Yang Kekal di atas kepala. Allah akan menunjukkan seri (cahaya, semarak, keindahan) orang yang demikian di bawah kolong langit seluruhnya. (bdk. Barukh 5:2-3)
Pada saat itulah, orang yang berpegang pada kebenaran Allah dan bertakwa akan menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraan, kemudian mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya. (bdk. Barukh 5:1)
Dari pihak Allah engkau akan diberi nama ini untuk selamanya: "Damai sejahtera hasil kebenaran" dan "Kemuliaan hasil dari takwa". (Barukh 5:4)
Allah berkenan pada orang yang berselubungkan kampuh (selimut dari tiga helai kain yang dijahit menjadi satu) kebenaran Allah dan memasang tajuk kemuliaan dari Yang Kekal di atas kepala. Allah akan menunjukkan seri (cahaya, semarak, keindahan) orang yang demikian di bawah kolong langit seluruhnya. (bdk. Barukh 5:2-3)
Pada saat itulah, orang yang berpegang pada kebenaran Allah dan bertakwa akan menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraan, kemudian mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya. (bdk. Barukh 5:1)
Kamis, 06 Desember 2012
Gunung Sion
Gunung Sion adalah gunung kudus, tempat Allah bersemayam. (bdk. Yoel 3:17)
Di Gunung Sion, Tuhan akan menyediakan perjamuan mewah, mengoyakkan kain perkabungan, meniadakan maut untuk seterusnya, menghapus air mata, dan melindunginya. (Yesaya 25:6-10)
Gunung Sion bukan sekadar gunung dalam arti harfiah. Seperti kata nabi Daud, orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. (Mazmur 125:1)
Di dalam hati setiap orang percaya, Allah bersemayam. St. Paulus mengatakan, kamu bukan milik kamu sendiri. Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang diperoleh dari Allah. (1 Korintus 6:19)
Nubuat nabi Yesaya tentang gunung Sion dalam bacaan Alkitab kemarin, mengandung janji Tuhan bagi orang-orang yang menantikan kedatanganNya. Kain perkabungan dikoyakkan, air mata dihapus, dan maut ditiadakan untuk seterusnya. Tuhan akan melindungi dan memberi sukacita kekal - laksana pesta mewah - bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.
Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. (Mazmur 119:11)
Di Gunung Sion, Tuhan akan menyediakan perjamuan mewah, mengoyakkan kain perkabungan, meniadakan maut untuk seterusnya, menghapus air mata, dan melindunginya. (Yesaya 25:6-10)
Gunung Sion bukan sekadar gunung dalam arti harfiah. Seperti kata nabi Daud, orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. (Mazmur 125:1)
Di dalam hati setiap orang percaya, Allah bersemayam. St. Paulus mengatakan, kamu bukan milik kamu sendiri. Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang diperoleh dari Allah. (1 Korintus 6:19)
Nubuat nabi Yesaya tentang gunung Sion dalam bacaan Alkitab kemarin, mengandung janji Tuhan bagi orang-orang yang menantikan kedatanganNya. Kain perkabungan dikoyakkan, air mata dihapus, dan maut ditiadakan untuk seterusnya. Tuhan akan melindungi dan memberi sukacita kekal - laksana pesta mewah - bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.
Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. (Mazmur 119:11)
Senin, 03 Desember 2012
Berjaga dan Berdoa
Memasuki bulan Desember, kecemasan melanda sebagian umat manusia. Ada ilmuwan yang menafsirkan tulisan di prasasti suku Maya, beranggapan kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Ditambah lagi, perkataan-perkataanMu dalam Injil yang disampaikan menjelang penutupan tahun liturgi Gereja - sebelum memasuki masa Adven, berbicara tentang akhir zaman.
Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan zaman akan berakhir, kecuali Allah Bapa (bdk. Markus 13:32). Jika Engkau mengutarakannya, semata karena Engkau ingin seluruh umat manusia ciptaan BapaMu selamat, tidak ada satu pun yang binasa.
Ada dua hal yang Engkau minta untuk dilakukan manusia dalam masa penantian kedatanganMu kembali, yaitu berjaga-jaga dan berdoa. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (Lukas 21:36).
Berjaga-jaga mencerminkan kewaspadaan, sadar setiap saat terhadap berbagai upaya si jahat untuk mengelabui dan menjatuhkan manusia, menarik orang ke lembah dosa dan maut. Dengan waspada, hati akan tetap murni, tidak tercemar.
Namun, kewaspadaan dan kesadaran belumlah cukup. Perlu satu senjata lagi dalam menghadapi berbagai godaan di dunia ini, yaitu berdoa.
Menjalin relasi akrab denganMu melalui doa, sampai akhirnya menyatu denganMu - Engkau ada di dalam aku dan aku ada di dalam Engkau. Jika Engkau sudah meraja dalam hati, maka akan semakin mudah memahami firmanMu yang menjadi panduan dalam hidup di dunia.
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Matius 26:41). Dua hal itu pula yang Engkau pesankan kepada tiga rasulMu yang menemaniMu ke taman Getsemani sebelum Engkau ditangkap, didera, dan disalibkan.
Dengan berjaga-jaga dan berdoa, tak ada lagi kekhawatiran akan apa yang bakal terjadi dalam kehidupan di dunia ini, karena sudah terbiasa hidup dalam sikap sadar dan waspada. Tak ada lagi ketakutan menghadap tahta Allah, karena sudah terbiasa hidup dalam relasi yang akrab dengan Allah Tritunggal.
Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan zaman akan berakhir, kecuali Allah Bapa (bdk. Markus 13:32). Jika Engkau mengutarakannya, semata karena Engkau ingin seluruh umat manusia ciptaan BapaMu selamat, tidak ada satu pun yang binasa.
Ada dua hal yang Engkau minta untuk dilakukan manusia dalam masa penantian kedatanganMu kembali, yaitu berjaga-jaga dan berdoa. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (Lukas 21:36).
Berjaga-jaga mencerminkan kewaspadaan, sadar setiap saat terhadap berbagai upaya si jahat untuk mengelabui dan menjatuhkan manusia, menarik orang ke lembah dosa dan maut. Dengan waspada, hati akan tetap murni, tidak tercemar.
Namun, kewaspadaan dan kesadaran belumlah cukup. Perlu satu senjata lagi dalam menghadapi berbagai godaan di dunia ini, yaitu berdoa.
Menjalin relasi akrab denganMu melalui doa, sampai akhirnya menyatu denganMu - Engkau ada di dalam aku dan aku ada di dalam Engkau. Jika Engkau sudah meraja dalam hati, maka akan semakin mudah memahami firmanMu yang menjadi panduan dalam hidup di dunia.
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Matius 26:41). Dua hal itu pula yang Engkau pesankan kepada tiga rasulMu yang menemaniMu ke taman Getsemani sebelum Engkau ditangkap, didera, dan disalibkan.
Dengan berjaga-jaga dan berdoa, tak ada lagi kekhawatiran akan apa yang bakal terjadi dalam kehidupan di dunia ini, karena sudah terbiasa hidup dalam sikap sadar dan waspada. Tak ada lagi ketakutan menghadap tahta Allah, karena sudah terbiasa hidup dalam relasi yang akrab dengan Allah Tritunggal.
Minggu, 02 Desember 2012
Tidak Bercacat dan Kudus
Pesan St. Paulus di minggu pertama Adven ini adalah agar Tuhan menguatkan hati kita, supaya kita tidak bercacat dan kudus di hadapan Allah Bapa pada waktu kedatangan Yesus (bdk. 1 Tesalonika 3:13).
Hati tidak bercacat merupakan hati yang murni dan tulus dalam relasi dengan sesama manusia. Sedangkan hati yang kudus menyangkut relasi yang akrab dan sejati dengan Allah.
Dengan memiliki hati yang tidak bercacat dan kudus, kita akan menjadi manusia yang layak berdiri di hadapan Allah Bapa pada waktu Yesus datang membawa kita bersamaNya.
Selasa, 27 November 2012
Nyanyian Baru
Hari ini, tepat setahun aku mengalami didikan Tuhan. Ia telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut. (Mazmur 118:18)
Dalam kurun setahun ini, banyak yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung. (Mazmur 40:6)
Sukacita dan damai yang kualami bagaikan suatu nyanyian baru dalam hidupku. Tuhan memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan. (Mazmur 40:4)
Masukkanlah aku dalam himpunan 144.000 orang yang telah Kautebus, ya Anak Domba Allah, yang menyanyikan suatu nyanyian baru yang tidak dapat dipelajari oleh seorang pun. (Wahyu 14:3)
Dalam kurun setahun ini, banyak yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung. (Mazmur 40:6)
Sukacita dan damai yang kualami bagaikan suatu nyanyian baru dalam hidupku. Tuhan memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan. (Mazmur 40:4)
Masukkanlah aku dalam himpunan 144.000 orang yang telah Kautebus, ya Anak Domba Allah, yang menyanyikan suatu nyanyian baru yang tidak dapat dipelajari oleh seorang pun. (Wahyu 14:3)
Minggu, 25 November 2012
Raja Alam Semesta
Dalam sebuah acara di televisi, sang presenter mengatakan, jika kita punya mimpi, seringlah mengutarakan mimpi itu secara lisan dan bersuara, agar alam semesta mendengarnya dan mewujudkan mimpi itu.
Siapakah yang berkuasa menjawab doa: Allah atau alam semesta? Alam semesta bukanlah Allah. Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah yang mengasihi Putra Tunggal-Nya, telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus Kristus. (bdk. Yohanes 3:35)
Karena itulah hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan pesta Kristus Raja Alam Semesta sebagai penutup tahun liturgi. Semasa hidup-Nya di dunia ini, beberapa kali Yesus Kristus menunjukkan kekuasaan-Nya atas alam semesta seperti meredakan angin ribut, berjalan di atas air, mengutuk pohon ara. Bahkan di saat kematian-Nya di kayu salib, alam semesta menjadi gelap selama tiga jam, sebagai tanda berduka.
Terpujilah Engkau, Kristus Raja Alam Semesta!
Siapakah yang berkuasa menjawab doa: Allah atau alam semesta? Alam semesta bukanlah Allah. Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah yang mengasihi Putra Tunggal-Nya, telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus Kristus. (bdk. Yohanes 3:35)
Karena itulah hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan pesta Kristus Raja Alam Semesta sebagai penutup tahun liturgi. Semasa hidup-Nya di dunia ini, beberapa kali Yesus Kristus menunjukkan kekuasaan-Nya atas alam semesta seperti meredakan angin ribut, berjalan di atas air, mengutuk pohon ara. Bahkan di saat kematian-Nya di kayu salib, alam semesta menjadi gelap selama tiga jam, sebagai tanda berduka.
Terpujilah Engkau, Kristus Raja Alam Semesta!
Sabtu, 24 November 2012
Baik dan Benar
Sesuatu yang baik belum tentu benar. Contohnya, seorang yang sangat dermawan terus-menerus memberi makan tetangganya yang miskin. Apa yang dilakukan orang itu baik, tetapi tidak benar. Mengapa? Karena perbuatan baik tersebut menciptakan ketergantungan orang miskin itu terhadap tetangganya yang berpunya.
Sebaliknya, sesuatu yang benar tentulah baik. Contohnya, seseorang memberikan pekerjaan kepada tetangganya yang miskin. Perbuatan orang itu benar dan baik, karena ia memberikan "kail" bukan "ikan," sehingga tetangga yang miskin itu menjadi orang mandiri yang dapat menafkahi diri sendiri.
Ketika ada seorang yang bertanya kepadaMu, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Engkau menjawab dengan balik bertanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." (Markus 10:17-18)
Standar ukuran "baik" yang Kaupakai sangat tinggi - mengacu kepada Allah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45), sehingga Engkau yang telah begitu baik di mata manusia pun, menurutMu masih tidak layak disebut "baik."
Dalam mewartakan Injil, Engkau lebih sering menggunakan kata "benar" ketimbang "baik." Seperti perkataanMu ini, "Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa." (Matius 13:43)
"Benar" berkaitan dengan integritas seseorang terhadap suatu prinsip, keyakinan; sedangkan "baik" lebih mengacu pada sifat yang dimiliki seseorang. Kalau seseorang berbuat baik kepada kita, tentu kita akan sangat berterima kasih kepadanya dan bersedia membelanya.
Tetapi, kalau ada seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran yang diyakininya, belum tentu kita bersedia membelanya ketika orang itu menghadapi masalah. St. Paulus telah mengantisipasi hal ini seperti dikatakan dalam Roma 5:7, "Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati."
Dalam Wahyu 19:7-8 dinyatakan:"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)
St. Yohanes Rasul yang menulis Kitab Wahyu memberi penjelasan dalam tanda kurung tentang apa yang dimaksud dengan lenan halus. Lenan halus adalah perbuatan-perbuatan BENAR, bukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berpakaian lenan halus pada akhir zaman kelak, hendaklah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan sebagai pedoman acuan Kebenaran. Seperti ditulis dalam Yohanes 1:17, "Musa memberikan hukum Taurat, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus."
Dengan tetap tinggal dalam Firman Tuhan Yesus, kita adalah benar-benar murid-Nya dan, "Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)
Sebaliknya, sesuatu yang benar tentulah baik. Contohnya, seseorang memberikan pekerjaan kepada tetangganya yang miskin. Perbuatan orang itu benar dan baik, karena ia memberikan "kail" bukan "ikan," sehingga tetangga yang miskin itu menjadi orang mandiri yang dapat menafkahi diri sendiri.
Ketika ada seorang yang bertanya kepadaMu, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Engkau menjawab dengan balik bertanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." (Markus 10:17-18)
Standar ukuran "baik" yang Kaupakai sangat tinggi - mengacu kepada Allah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45), sehingga Engkau yang telah begitu baik di mata manusia pun, menurutMu masih tidak layak disebut "baik."
Dalam mewartakan Injil, Engkau lebih sering menggunakan kata "benar" ketimbang "baik." Seperti perkataanMu ini, "Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa." (Matius 13:43)
"Benar" berkaitan dengan integritas seseorang terhadap suatu prinsip, keyakinan; sedangkan "baik" lebih mengacu pada sifat yang dimiliki seseorang. Kalau seseorang berbuat baik kepada kita, tentu kita akan sangat berterima kasih kepadanya dan bersedia membelanya.
Tetapi, kalau ada seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran yang diyakininya, belum tentu kita bersedia membelanya ketika orang itu menghadapi masalah. St. Paulus telah mengantisipasi hal ini seperti dikatakan dalam Roma 5:7, "Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati."
Dalam Wahyu 19:7-8 dinyatakan:"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)
St. Yohanes Rasul yang menulis Kitab Wahyu memberi penjelasan dalam tanda kurung tentang apa yang dimaksud dengan lenan halus. Lenan halus adalah perbuatan-perbuatan BENAR, bukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berpakaian lenan halus pada akhir zaman kelak, hendaklah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan sebagai pedoman acuan Kebenaran. Seperti ditulis dalam Yohanes 1:17, "Musa memberikan hukum Taurat, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus."
Dengan tetap tinggal dalam Firman Tuhan Yesus, kita adalah benar-benar murid-Nya dan, "Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)
Senin, 19 November 2012
Cinta Roh
Cinta
indrawi memang menggairahkan dan menggembirakan. Mengapa? Karena kita
merasakan sensasi-sensasinya secara langsung lewat indra kita. Tatapan mata,
senyum menawan, sentuhan lembut, ucapan penuh perhatian membuat perasaan kita
melambung. Namun sejatinya, cinta seperti ini mudah luruh.
Apa
jadinya, ketika orang yang kita cintai – secara indrawi – itu tidak lagi
menatap mesra, tak mengukir senyum
manis, tidak menyentuh penuh kasih, apalagi melontarkan ucapan-ucapan bernada
lembut penuh perhatian?
Dengan
mudah kita mencampakkan orang yang “dicintai” itu, karena ia tidak lagi
memenuhi sensasi-sensasi indrawi kita. Tak heran kita mendengar berita atau
menyaksikan sendiri pasangan-pasangan yang telah bertahun-tahun mengarungi
bahtera hidup bersama pun dapat mengakhiri relasi mereka lantaran masalah
seperti pasangan sakit berat, pasangan selingkuh, pasangan kehilangan
pekerjaan, ketidakcocokan prinsip dan pemikiran dengan pasangan, serta persoalan manusiawi lainnya.
Sebaliknya,
Cinta Roh tak lekang oleh kondisi apa pun, tak terbatasi oleh ruang dan waktu.
Cinta Roh memang tidak menimbulkan sensasi-sensasi menggelegak seperti cinta
indrawi, namun getar-getar Cinta Roh bergema terus di hati sang pencinta.
Lembut dan abadi.
Dalam
relasi antarmanusia, Cinta Roh dapat ditemui pada pasangan-pasangan lanjut usia
yang masih saling mengekspresikan kasih di antara mereka. Seorang bapak berusia
85 tahun masih sehat dan belum pikun, menemani istrinya yang delapan tahun
lebih muda usianya tetapi sudah duduk di kursi roda dengan aneka macam
penyakit. Cinta Roh diperlihatkan pula oleh orang-orang yang menerima orang
lain – pasangan hidup dan sesama – apa adanya, di atas segala perbedaan prinsip
dan keyakinan, kelemahan dan kejatuhan pasangan hidup atau orang lain.
Esensi
Cinta terdalam hanya ada dalam roh dan jiwa, bukan daging yang kasat mata. Roh
dan jiwa merupakan bagian permanen dari manusia yang fana. Orang yang telah dapat
mencintai manusia lain dengan Cinta Roh, berarti orang itu telah mencapai tahap
cinta tertinggi – kalau tidak dapat dikatakan sempurna, karena tak ada yang
sempurna di dunia ini.
Cinta
Roh-lah yang ditunjukkan Allah kepada umat manusia ciptaanNya. Bayangkan, jika
Allah mencintai manusia dengan cinta indrawi, tentu umat manusia sudah
berulang kali dimusnahkanNya seperti zaman nabi Nuh.
Cinta
Roh pula yang sepatutnya mendasari relasi manusia dengan Sang Pencipta. Kita
menjalin relasi dengan Tuhan bukan lantaran Ia telah berbuat baik – memberi
kita kesehatan, memberi kita banyak berkat, mengabulkan doa-doa permohonan
kita, dan berbagai tolok ukur indrawi lainnya.
Cinta
kita kepada Tuhan semata karena roh dan jiwa kita bersatu dengan Roh Tuhan. Tak
peduli kondisi apa pun yang menimpa kita selama hidup di dunia ini – didera
bermacam penyakit, doa-doa tak terkabul, masalah demi masalah muncul – semua
itu tak menggoyahkan cinta kita kepada Tuhan, karena bukan lagi hal-hal
indrawi yang menjadi dasar relasi kita dengan Tuhan.
Persatuan
roh dan jiwa manusia dengan Roh Tuhan dalam Cinta Roh memberi penghiburan dan
kekuatan pada saat kita melalui masa-masa sulit. Kita dapat memandang semua
peristiwa dengan cara pandang berbeda – semua hanya karena dan demi Cinta.
Kamis, 15 November 2012
Kerajaan Allah
Dalam
Injil beberapa kali Yesus Kristus mengatakan tentang Kerajaan Allah, di antaranya:
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)
"Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Matius 12:28)
Ketika menanggapi seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang hukum manakah yang paling utama?Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" (Markus 12:34)
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menegaskan, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." (Lukas 17:20-21)
Kerajaan Allah tidak seperti kerajaan dunia yang kasat mata. Kerajaan Allah tak perlu ditunggu sampai orang meninggal dan berada di Surga. Seperti kata Yesus, Kerajaan Allah sudah ada di antara kita - orang-orang yang beriman kepadaNya.
Kerajaan Allah bermakna Allah merajai hidup manusia. Allah menjadi raja dalam hidup kita - hanya jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, membiarkan Yang Mahakuasa melakukan apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita.
Datanglah KerajaanMu, ya Tuhan...
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)
"Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Matius 12:28)
Ketika menanggapi seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang hukum manakah yang paling utama?Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" (Markus 12:34)
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menegaskan, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." (Lukas 17:20-21)
Kerajaan Allah tidak seperti kerajaan dunia yang kasat mata. Kerajaan Allah tak perlu ditunggu sampai orang meninggal dan berada di Surga. Seperti kata Yesus, Kerajaan Allah sudah ada di antara kita - orang-orang yang beriman kepadaNya.
Kerajaan Allah bermakna Allah merajai hidup manusia. Allah menjadi raja dalam hidup kita - hanya jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, membiarkan Yang Mahakuasa melakukan apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita.
Datanglah KerajaanMu, ya Tuhan...
Selasa, 13 November 2012
Perkawinan
Tiga malam mencicipi tinggal di biara sebagai tamu, melahirkan refleksi tentang perkawinan. Sejatinya, ada perbedaan antara perkawinan antar-manusia dengan perkawinan antara manusia-Tuhan.
Perkawinan antar-manusia (lelaki-perempuan) disatukan dalam Kristus melalui Sakramen Perkawinan. Ada relasi horisontal antara lelaki-perempuan yang menikah dan ada relasi vertikal antara pasangan yang menikah dengan Kristus.
Perkawinan antara manusia-Tuhan berupa kaul hidup membiara dan Sakramen Imamat merupakan perkawinan antara manusia dengan Kristus. Di sini hanya ada relasi vertikal. Karena itu, perkawinan antara manusia-Tuhan lebih sakral dan membawa konsekuesi lebih besar.
Dua insan yang menikah, masih dimungkinkan - meski tidak diharapkan - membatalkan perkawinan mereka karena alasan-alasan tertentu yang dapat diterima setelah melalui penyelidikan Gereja. Relasi horisontal antara lelaki dan perempuan itu kemudian dapat berakhir, tetapi relasi vertikal masing-masing dengan Kristus tetap terjalin.
Sedangkan perkawinan antara manusia-Tuhan yang dilakukan kaum berjubah (imam, biarawan, dan biarawati) selayaknya bersifat kekal. Bukankah para imam, biarawan, dan biarawati secara sadar - setelah melalui beberapa tahun jenjang pembinaan - telah memilih Kristus yang diimaninya sebagai Mempelai mereka?
Jika kehidupan biara yang telah dijalani bertahun-tahun kemudian dianggap tidak cocok, bagaimana mungkin kaum berjubah itu lantas bisa tetap menjalin relasi vertikal dengan Tuhan yang telah ditolaknya? Apalagi Yesus mengatakan, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a)
Ah, aku hanyalah orang awam yang tidak menggeluti langsung kehidupan dalam biara. Aku hanya melihat dari sisi jalinan relasi antara manusia dengan Tuhan. Tetapi aku kagum akan kaum berjubah yang benar-benar mencintai Kristus sepenuh hati dan mewujudnyatakannya melalui karya-karya kasih kepada sesama manusia.
Kepada para imam, biarawan, dan biarawati yang telah memilih Kristus sebagai Mempelai, tetaplah bertahan dalam hidup "perkawinan vertikal" ini. Memang jalannya sempit, sukar, dan tidak populer; tetapi membuahkan banyak rahmat.
Perkawinan antar-manusia (lelaki-perempuan) disatukan dalam Kristus melalui Sakramen Perkawinan. Ada relasi horisontal antara lelaki-perempuan yang menikah dan ada relasi vertikal antara pasangan yang menikah dengan Kristus.
Perkawinan antara manusia-Tuhan berupa kaul hidup membiara dan Sakramen Imamat merupakan perkawinan antara manusia dengan Kristus. Di sini hanya ada relasi vertikal. Karena itu, perkawinan antara manusia-Tuhan lebih sakral dan membawa konsekuesi lebih besar.
Dua insan yang menikah, masih dimungkinkan - meski tidak diharapkan - membatalkan perkawinan mereka karena alasan-alasan tertentu yang dapat diterima setelah melalui penyelidikan Gereja. Relasi horisontal antara lelaki dan perempuan itu kemudian dapat berakhir, tetapi relasi vertikal masing-masing dengan Kristus tetap terjalin.
Sedangkan perkawinan antara manusia-Tuhan yang dilakukan kaum berjubah (imam, biarawan, dan biarawati) selayaknya bersifat kekal. Bukankah para imam, biarawan, dan biarawati secara sadar - setelah melalui beberapa tahun jenjang pembinaan - telah memilih Kristus yang diimaninya sebagai Mempelai mereka?
Jika kehidupan biara yang telah dijalani bertahun-tahun kemudian dianggap tidak cocok, bagaimana mungkin kaum berjubah itu lantas bisa tetap menjalin relasi vertikal dengan Tuhan yang telah ditolaknya? Apalagi Yesus mengatakan, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a)
Ah, aku hanyalah orang awam yang tidak menggeluti langsung kehidupan dalam biara. Aku hanya melihat dari sisi jalinan relasi antara manusia dengan Tuhan. Tetapi aku kagum akan kaum berjubah yang benar-benar mencintai Kristus sepenuh hati dan mewujudnyatakannya melalui karya-karya kasih kepada sesama manusia.
Kepada para imam, biarawan, dan biarawati yang telah memilih Kristus sebagai Mempelai, tetaplah bertahan dalam hidup "perkawinan vertikal" ini. Memang jalannya sempit, sukar, dan tidak populer; tetapi membuahkan banyak rahmat.
Minggu, 11 November 2012
Di Manakah Engkau Berada?
Ketika
berada di luar kota, seorang saudara mengajakku ke kapel Adorasi Ekaristi Abadi untuk menemaniMu selama satu jam setiap hari.
Di kapel itu aku melihat lukisan
Hati KudusMu yang besar, di tengahnya diletakkan monstran besar berisi Sakramen
Mahakudus.
Saat
berada di sana, beberapa umat setempat datang-pergi silih berganti. Kapel ini
terbuka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau tidak punya kerinduan pribadi,
tentu orang tak akan mampir ke sini. Mereka ingin lebih dekat denganMu, mendaraskan doa,
menemaniMu dalam keheningan, atau bercakap-cakap denganMu.
Adorasi Ekaristi Abadi yang kini sedang dikembangkan dalam Gereja Katolik merupakan suatu cara yang sangat baik untuk menumbuhkan rasa cinta, hormat, dan bakti pengikutMu kepada Engkau, ya Yesus Kristus, yang telah merelakan diri untuk mati bagi kami umatMu.
Adorasi Ekaristi Abadi yang kini sedang dikembangkan dalam Gereja Katolik merupakan suatu cara yang sangat baik untuk menumbuhkan rasa cinta, hormat, dan bakti pengikutMu kepada Engkau, ya Yesus Kristus, yang telah merelakan diri untuk mati bagi kami umatMu.
Tetapi, bagiku pribadi, setelah
aku merasakan kehadiranMu yang nyata dalam hatiku, aku bertanya-tanya apakah
aku masih perlu menemuiMu di luar? Di manakah sebenarnya Engkau berada?
Dengan
tersenyum Kau menjawab lembut, “Aku ada di mana-mana. Aku ada di hatimu, di hati
semua orang, dan di dalam Sakramen Mahakudus.”
Terima
kasih, Engkau telah mengubah cara pandangku. Sejak itu aku dapat merasakan
kehadiranMu dalam diri setiap orang yang berelasi denganku. Aku menaruh hormat
lebih besar pada Sakramen Mahakudus. Sekalipun Engkau telah tinggal dalam
hatiku, aku tetap membutuhkan tanda kehadiranMu yang nyata dalam Ekaristi melalui Tubuh dan DarahMu yang kusambut, serta melihat wajahMu melalui orang-orang yang kujumpai.
Rabu, 07 November 2012
Tidak Pernah Memaksa
Kemarin aku mendengar dalam bacaan Injil, saat Engkau menuturkan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih, "Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh." (Lukas 14:23)
Kata "paksa" terasa kurang pas Kau ucapkan, mengingat sifatMu yang lembut. Ketika membandingkannya dengan membuka Alkitab dalam bahasa Inggris New International Version (NIV), perkataan di Lukas 14:23 itu berbunyi, "Go out to the roads and country lanes and make them come in, so that my house will be full." Tidak ada paksaan, melainkan ajakan.
Sesungguhnya Engkau tak pernah memaksa siapa pun untuk menerima atau menolakMu. Engkau mencerminkan sifat BapaMu di Surga yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)
Kata "paksa" terasa kurang pas Kau ucapkan, mengingat sifatMu yang lembut. Ketika membandingkannya dengan membuka Alkitab dalam bahasa Inggris New International Version (NIV), perkataan di Lukas 14:23 itu berbunyi, "Go out to the roads and country lanes and make them come in, so that my house will be full." Tidak ada paksaan, melainkan ajakan.
Sesungguhnya Engkau tak pernah memaksa siapa pun untuk menerima atau menolakMu. Engkau mencerminkan sifat BapaMu di Surga yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)
Jumat, 02 November 2012
Memahami Kematian
Bangunlah,
hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan
bercahaya atas kamu. (Efesus 5:14)
Jika
ada orang yang kita kenal meninggal dunia, kita dapat dengan tenang mengatakan, "Ya, memang sudah jalannya demikian." Namun, jika
ditanya apakah Anda siap untuk meninggal?
Mulai
timbul keraguan dalam hati. Sebagai orang beriman, tentu kita akan menjawab
kita siap. Bukankah Yesus meminta kita untuk senantiasa berjaga-jaga,
karena Anak Manusia datang pada waktu
yang tidak disangka-sangka?
Masuklah
lebih dalam ke dalam diri, tentu sebagian besar dari kita akan sampai pada
kesimpulan akhir: saya belum siap meninggal. Mengapa
belum siap?
Terutama, karena kita melekati hidup di dunia. Kita senang punya orang-orang yang dicintai dan mencintai kita,
kita punya aneka benda yang bisa dinikmati, pekerjaan dan posisi yang prestisius, hiburan yang berlimpah, dan sebagainya. Maka,
tak heran jika ada orang yang dekat dengan kita meninggal, kita akan
menangisinya. Kita ingat akan sikap dan perilakunya, ingat akan segala kenangan dengannya. Kita melekat padanya.
Karena sikap posesif, kita takut menghadapi kematian. Padahal, kematian tubuh yang fana ini hanyalah kematian daging. Tubuh jasmani kita akan hancur, tetapi roh kita akan tetap hidup, seperti dikatakan Yesus Kristus, "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna." (Yohanes 6:63)
Dengan berbekal perkataan Yesus Kristus itu, tataplah dalam-dalam kematian. Pahamilah keberadaannya sampai tak tersisa lagi rasa takut. Maka, yang tinggal di dalam lubuk hati kita terdalam adalah Yang Ilahi. Kita akan merasakan persatuan roh yang indah dengan roh Kristus. Kemudian kita menjadi manusia bebas yang hidup tanpa dihantui rasa takut akan kematian.
St. Paulus termasuk orang yang telah memahami kematian jasmani sampai tuntas dan mengalami persatuan roh dengan Yesus Kristus, sehingga ia dapat berkata, "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20)
Hanya ada satu cara untuk dapat memahami kematian jasmani sampai tuntas dan menerima keberadaannya: percaya kepada Yesus Kristus. Percaya penuh bahwa di dalam Dia, kematian jasmani sudah tak ada artinya lagi. "Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." (Yohanes 11:25)