Rabu, 28 Desember 2022
Hadiah Natal yang Kuminta
Minggu, 25 Desember 2022
Berani Percaya
Minggu, 18 Desember 2022
Kasih dan Pengampunan
Dua unsur pokok yang perlu ada dalam relasi antar-manusia ialah kasih dan pengampunan. Tanpa kasih yang murni dan pengampunan yang tulus, relasi berlangsung rapuh dan tak tahan goncangan.
Minggu, 27 November 2022
Pengalaman Pribadi dengan Tuhan
Ketika melihat imam atau biarawati yang telah lanjut usia, muncul tanya dalam hati: mengapa ada orang-orang yang bisa bertahan menjalani hidup membiara sampai lanjut usia, bahkan setia sampai ajal menjemput?
Jawaban pertanyaan itu kuperoleh ketika menyaksikan video Romo Ari Saragih, OFM, tentang keluarnya Sr Christina Scuccia asal Italia, yang pernah memenangi kontes menyanyi di negaranya. (lihat video: Biarawati yang pernah Viral ini Memilih Meninggalkan Hidup Membiara/Mantan Suster Katolik - https://www.youtube.com/watch?v=iZInBjtkbFM).
Menurut Romo Ari, satu hal yang membuat kaum berjubah bisa bertahan dalam panggilan mereka adalah pengalaman pribadi dengan Tuhan. Seseorang yang mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan melalui pengalaman hidupnya, akan mampu bertahan dalam panggilan hidupnya.
Merenungkan lebih lanjut pendapat Romo Ari itu, sepertinya pengalaman pribadi dengan Tuhan bukan semata milik eksklusif kaum berjubah. Setiap orang yang menaruh kepercayaan kepada Tuhan, tentu punya pengalaman pribadi dengan Tuhan. Seberapa berkesan dan mendalam pengalaman pribadi dengan Tuhan itulah yang akan menentukan seberapa besar iman seseorang kepada Tuhan.
Pengalaman pribadi dengan Tuhan menjadi bekal dan pegangan, tatkala kita menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Janganlah mudah melupakan kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah kita alami dalam rentang kehidupan kita. Inilah yang akan memperteguh keyakinan kita bahwa Tuhan selalu menyertai dan melimpahkan berkat-berkat-Nya kepada kita.
Senin, 21 November 2022
Patung
Sedang ramai diperbincangkan, keberadaan patung-patung di gereja Katolik. Tak perlu terlibat debat berkepanjangan, apalagi sampai menuai permusuhan. Tak perlu juga menjadi kecil hati, apalagi sampai menggerus keyakinan.
Tetaplah berteguh dalam iman dan kebenaran. Hanya Tuhan sendiri yang mampu menilik kedalaman hati setiap insan. Dialah yang menilai, apakah jalan kita serong atau lurus.
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24)
Rabu, 02 November 2022
Doa Istirahat Kekal
Minggu, 23 Oktober 2022
Misionaris Masa Kini
Menyebut kata 'misi,' dalam benak kita terbayang imam, biarawan, biarawati, dan kaum awam yang rela meninggalkan tanah air mereka, menempuh perjalanan jauh, sulit, dan berbahaya; demi menyebarluaskan warta gembira Kerajaan Allah. Demikianlah gambaran umum misionaris di masa lampau.
Di zaman modern ini tetap dibutuhkan para misionaris yang menjangkau pelosok-pelosok dunia. Namun, 'menjadi misionaris' sejatinya lebih luas daripada mendatangi tempat-tempat terpencil dan mewartakan Injil.
Pada 14 Desember 1927, Paus Pius XI menetapkan Santo Fransiskus Xaverius dan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus sebagai pelindung misi. Santo Fransiskus Xaverius, imam dari Serikat Jesus ini memang misionaris yang tangguh. Tahun 1540 ia diutus St. Ignatius Loyola - pendiri Serikat Jesus - untuk menjadi misionaris di Hindia Belanda. Santo Fransiskus Xaverius dengan gemilang melaksanakan tugas misinya di India, Srilanka, Indonesia, Jepang, dan pulau-pulau lain.Goa di India, Srilanka, Indonesia, Jepang, dan pulau-pulau lain di timur.
Sedangkan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus bukanlah misionaris seperti Santo Fransiskus Xaverius. Biarawati dari tarekat kontemplatif OCD ini hanya berada di seputar biara di Lisieux, Perancis. Tetapi, ia menjadi pelindung misi karena doa-doa yang dipanjatkannya bagi umat manusia melampaui sekat-sekat tembok biara.
Menurut Paus Fransiskus, doa adalah 'tugas misi' pertama yang bisa dan harus dilakukan oleh setiap orang kristiani. Bayangkan, melalui doa, kita bisa menjangkau para pengungsi Ukraina yang menderita akibat perang dengan Rusia, para korban tragedi seusai pertandingan sepak bola di Kanjuruhan, Malang, seorang misionaris yang sedang berjuang di pedalaman; atau siapa pun - perorangan, kelompok, masyarakat di mana saja mereka berada - yang kita bawa dalam doa-doa kita sehari-hari. Ternyata, setiap kita bisa menjadi misionaris masa kini.
Jumat, 14 Oktober 2022
Tanda Kehadiran Nyata
Untuk menegaskan sesuatu, manusia sering meminta tanda. Seperti yang diminta orang-orang Farisi kepada Yesus: Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. (Markus 8:12-13)
Dari pengalaman hidup-Nya di dunia ini, Yesus sangat memahami kebutuhan manusia akan tanda kehadiran secara fisik. Karena itu, menjelang sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, Ia memberikan tanda kehadiran yang nyata bagi murid-murid-Nya hingga kepada kita sekarang ini.
Dalam perjamuan menjelang wafat-Nya, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu." (Lukas 22:19-20)
Kepingan roti bundar kecil putih yang dibagikan Imam kepada umat yang mengikuti Perjamuan Ekaristi dan menyambut Komuni sejatinya adalah Tubuh Kristus. Tanda kehadiran nyata Diri-Nya yang Ia berikan kepada kita untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tanda fisik dan bukti kecintaan Tuhan kepada umat-Nya. Imanuel - Allah menyertai kita tergambar jelas melalui Sakramen Mahakudus.
Sabtu, 01 Oktober 2022
Kemuliaan Bagi Yang Tersembunyi
Ia hanya seorang gadis remaja. Pernah mengalami luka batin lantaran ibundanya wafat, saat ia masih kanak-kanak. Di usia 15 tahun, ia diperkenankan bergabung dalam komunitas para suster Karmelit Tak Berkasut (OCD). Hidupnya tersembunyi dalam keheningan biara, tekun menjalani rutinitas harian dan mendalami kehidupan spiritual. Hanya 9 tahun ia menjadi biarawati, penyakit TBC merenggut nyawanya di usia 24 tahun.
Tampaknya tak ada yang istimewa dari kehidupan biarawati muda tersebut. Namun, penghayatannya akan kasih Allah yang ia wujudkan dalam kesederhanaan hidupnya, telah menjadikannya seorang kudus. Perjalanan hidupnya yang ia goreskan lewat buku "Kisah Satu Jiwa" (Story of a Soul), ketika diterbitkan menjadi bacaan rohani yang sangat menggugah jiwa. Jalan Kecil yang sangat sederhana, dapat dilakukan setiap orang, untuk mencapai kesucian hidup.
Santa Theresia dari Lisieux (1873-1897) atau Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus, hanya 9 tahun menjalani panggilan hidupnya sebagai biarawati. Tetapi lewat doa-doanya yang menjangkau orang-orang di luar tembok biara, bahkan kepeduliannya terhadap dunia, telah menjadikannya seorang misioner. Tahun 1927 Paus Pius XI mengangkat Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pelindung Misi bersama Santo Fransiskus Xaverius. Kemudian tahun 1997 Paus Yohanes Paulus II mengukuhkan Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pujangga Gereja.
Dunia kerap memandang keberhasilan atau prestasi seseorang dari hal-hal yang kasat mata. Sejatinya, kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang-orang pilihan-Nya jauh dari sorotan dunia, tersembunyi dalam keheningan.
Kamis, 29 September 2022
Doa kepada Santo Mikhael bagi Gereja dan Jiwa-Jiwa
(Dianjurkan untuk didoakan sesering mungkin pada saat kritis seperti sekarang)
O Malaikat Agung yang Mulia St. Mikhael, Panglima perkasa laskar surgawi, belalah kami dan jadilah pelindung kami dalam pertempuran dan peperangan melawan kerajaan-kerajaan dan kekuatan-kekuatan para penguasa dunia kegelapan dan roh-roh jahat. Dampingilah manusia, yang telah diciptakan abadi oleh Allah sesuai citra-Nya sendiri dan yang telah ditebus dengan sangat mahal dari kekuasaan setan.
Bertempurlah hari ini dalam peperangan Allah bersama-sama dengan laskar malaikatmu yang kudus, seperti saat kau melawan Lucifer, pimpinan para malaikat yang sombong dan laskar pemberontaknya, yang tidak berdaya menghadapimu, sehingga tak mendapat tempat lagi di surga. Dan naga besar itu, si ular tua yang disebut iblis atau setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke jurang yang dalam bersama dengan para malaikatnya.
Tapi lihatlah, musuh utama dan pembinasa manusia itu telah memperoleh kembali keberaniannya. Menyamar sebagai malaikat terang, ia berkeliaran dengan semua roh jahat, menyerbu dunia untuk menodai nama Allah dan Tuhan Yesus Kristus, untuk mencengkeram, membinasakan, dan mencampakkan ke dalam penghakiman maut - jiwa-jiwa yang telah dijanjikan untuk meraih mahkota kemuliaan abadi.
Ular jahat itu menyemburkan racun kejahatannya dalam segala roh kebohongan, kefasikan, dan penghujatan, serta menghembuskan napas mautnya dalam kecemaran dan segala bentuk dosa serta kejahatan kepada manusia yang dikuasai kecenderungan dan hawa nafsu yang tak teratur.
Musuh manusia yang teramat lihai itu telah memenuhi Gereja, mempelai Anak Domba yang tak bernoda, dengan cuka dan empedu hingga meluap, dan telah mengotori miliknya yang paling kudus dengan tangan-tangan kotornya. Bahkan di tempat yang suci sekalipun, di mana didirikan Takhta Petrus yang suci dan Singgasana Kebenaran yang menyinari dunia, mereka telah mendirikan takhta kefasikan yang menjijikkan untuk menceraiberaikan domba-domba dengan menyerang sang gembala.
Tampillah wahai Pangeran yang perkasa, bantulah umat Allah melawan serangan roh-roh jahat dan berilah kami kemenangan. Kami mengandalkan engkau sebagai pelindung dan pejuang. Gereja mengandalkan engkau sebagai pertahanan melawan kekuatan jahat dan neraka. Kepadamu Allah telah mempercayakan jiwa-jiwa manusia untuk memperoleh kebahagiaan surgawi.
Doakan kami kepada Allah, agar Ia meletakkan setan di bawah kaki kami dan menakhlukkannya, sehingga ia tak mampu lagi menguasai manusia dan melukai Gereja. Persembahkan doa-doa kami ke hadapan Allah yang Mahatinggi, agar kami dapat memperoleh pengampunan-Nya. Takhlukkanlah sang naga, si ular tua itu, yaitu iblis atau setan. Jadikanlah ia kembali sebagai tawanan di jurang neraka yang dalam, agar ia tak mampu lagi menggoda umat manusia. Amin.
Minggu, 18 September 2022
Bisa Memilih, Tidak Bisa Memilih
Dalam hidup ini, banyak hal yang membutuhkan keputusan kita untuk memilih atau tidak memilihnya. Sejak bangun pagi, kita sudah dihadapkan pada pilihan-pilihan: segera beranjak dari ranjang atau leyeh-leyeh sejenak. Kemudian, kalau kita memilih segera bangun, muncul lagi pilihan: ke kamar mandi atau ke ruang tengah. Begitu seterusnya.... ini atau itu.... ini atau itu.... ini atau itu....
Keputusan kita memilih yang satu dan tidak memilih yang lain dilandasi berbagai pertimbangan dalam diri kita. Dibutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan, agar kita dapat memilih yang baik dan benar secara tepat.
Tetapi, ada pula hal-hal tertentu dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih. Sesuatu yang dihadapkan kepada kita dan mau tak mau kita harus menerimanya. Kita tidak bisa menolak penyakit permanen yang tiba-tiba bersarang dalam tubuh, juga kedatangan kematian yang tak terelakkan.
Ketika kita tidak bisa memilih, daripada marah kepada Tuhan atau berputus asa, lebih baik menerima dengan ikhlas dan berserah kepada-Nya.
Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata! (Mazmur 143:10)
Kamis, 01 September 2022
Rumah Sejati
Tidak ada yang kurang dari rumah yang aku huni saat ini. Tetapi aku masih merindukan punya rumah lain di luar kota. Rumah yang lebih nyaman dari rumah yang sekarang.
Apakah sungguh aku akan betah tinggal di rumah baru itu, seandainya aku bisa memperolehnya? Bukan tidak mungkin, setelah beberapa waktu berlalu, aku akan kembali merasakan ada yang kurang dari rumah kedua itu, dan muncul lagi keinginan untuk mencari rumah di tempat lain.
Ketika aku merenungkan betapa ingin aku tinggal di rumah yang lain, aku menyadari sebenarnya yang kuimpikan adalah rumah sejati. Bukan rumah secara fisik yang selalu ada kekurangan dan tidak dapat memberi kepuasan sepenuhnya. Kediaman Allah yang kekal, itulah rumah sejati yang didambakan setiap insan.
Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:5, 11a)
Kamis, 25 Agustus 2022
Tidak Kekurangan
Anda sedang berada dalam situasi yang menimbulkan kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan? Entah karena ada masalah yang menguras pikiran dan perasaan, atau sedang sakit yang berkepanjangan? Anda menanti-nantikan pertolongan Tuhan, namun tak tampak secercah harapan. Hari demi hari berlalu, tanpa ada perubahan. Masalah tak kunjung selesai, penyakit tetap bersarang dalam tubuh.
Dalam situasi yang tidak menyenangkan ini, pernyataan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dapat menjadi pegangan: Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (1 Korintus 1:7)
Dengan iman kita percaya, kita tidak kekurangan suatu karunia pun, meski keadaan kita sedang tidak baik. Kita perlu bersabar menantikan penyataan Tuhan kepada kita. Keyakinan akan karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, membuat kita mampu bertahan dalam kesulitan hidup yang dihadapi.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)
Senin, 15 Agustus 2022
Ganjaran Mahkota Kemuliaan
Perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga diperingati Gereja universal setiap tanggal 15 Agustus. Selain untuk menghormati Bunda Maria yang telah menuntaskan perutusannya di dunia dengan kemenangan yang gemilang, perayaan ini memberi makna mendalam bagi umat kristiani.
Santa Perawan Maria seorang gadis sederhana, telah berani menanggapi panggilan Tuhan dengan kesediaannya menjadi Ibu Sang Penebus - Allah yang menjelma menjadi Manusia. Sejak itu, Maria selalu berfokus pada kehendak Tuhan dengan iman yang teguh, menyingkirkan kepentingan diri melalui sikapnya yang sangat rendah hati, setia mendampingi Yesus Putranya mulai dari rahimnya sampai kebangkitan-Nya mengalahkan kematian.
Pengorbanan dan kesucian hidupnya, di samping perannya sebagai Bunda Allah, membuahkan ganjaran mahkota kemuliaan bagi Santa Perawan Maria. Ia menjadi teladan, bahwa seorang manusia biasa dapat meraih kemuliaan di surga setelah menjalani kehidupan di dunia, dengan senantiasa mengedepankan dan bersandar pada Tuhan.
Inilah makna yang lebih dalam dari perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Kita pun sebagai manusia biasa dapat memperoleh ganjaran mahkota kemuliaan kelak, jika kita meneladan cara hidup Santa Perawan Maria.
Kamis, 04 Agustus 2022
Mengapa Bisa Bertahan?
Terbersit rasa kagum, melihat kaum religius yang sungguh-sungguh menghayati panggilan hidup mereka. Dalam hati terucap: mengapa mereka mau hidup seperti itu dan bisa bertahan selama itu?
Tentang panggilan hidup sebagai kaum religius, telah diungkapkan Yesus dalam Injil Matius 19:11b-12: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."
Sungguh di luar nalar manusia, untuk dapat memahami sepenuhnya rahmat khusus yang Tuhan berikan kepada segelintir umat manusia pilihan-Nya. Dengan kemauan sendiri mereka memilih mengikuti jejak Kristus, meneladan cara hidup-Nya yang lepas bebas terhadap hal-hal duniawi walau hidup di dunia.
Hari ini, saat kita mengenang seorang Imam yang sederhana dan sangat kudus dari Ars, Prancis, hendaknya kita membawa kaum religius dalam doa-doa kita, agar mereka setia menapaki jalan hidup yang telah mereka pilih dan direstui Tuhan. Seperti kita pun telah memilih jalan hidup sesuai kehendak Tuhan.
Rabu, 27 Juli 2022
Harta Terpendam dan Mutiara Sangat Berharga
Sabda Tuhan Yesus ini sudah sering kita dengar: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (Matius 13:44-46)
Dan setiap kali Sabda ini dikumandangkan, aku bersyukur karena aku merasa telah menemukan harta terpendam itu, mutiara yang sangat indah. Seolah aku yang berusaha keras mencari, kemudian menemukannya.
Tetapi, ketika Imam yang mempersembahkan Perayaan Ekaristi pagi ini mengatakan bahwa kita-lah harta terpendam dan mutiara sangat berharga bagi Allah, aku terkesima. Benarlah, ya Tuhan.... Engkau yang lebih dahulu mencari kami, yang menjauh dari-Mu. Engkau yang begitu bersukacita, ketika menemukan kami, anak-anak-Mu yang hilang. Engkau yang rela mengosongkan diri dan menderita sengsara, agar dapat memperoleh kami kembali. Engkau yang menjadikan kami sebagai milik-Mu yang sangat berharga.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau senantiasa mencintai kami dengan kasih setia-Mu.
Minggu, 10 Juli 2022
Waktu-Mu
Sabtu, 02 Juli 2022
Masihkah Kita Mengandalkan Tuhan?
Ketika kita berada dalam keadaan tertentu, terutama yang menurut kita mendesak, kita cenderung mengambil jalan pintas yang dapat memberi solusi cepat. Kita lebih berorientasi pada hasil yang ingin segera kita capai, ketimbang menjalani prosesnya dengan tekun dan sabar, sesuai penyelenggaraan Tuhan.
Tak jarang, kita merestui cara-cara yang kurang elok, meski bukan terlarang atau ilegal, agar kita langsung mendapatkan apa yang kita inginkan. Sadarkah kita, pada saat kita memilih untuk mengambil jalan pintas, menandakan kita tidak mengandalkan Tuhan?
Mungkin kita bisa beralasan, kita mempercepat proses lantaran ingin supaya hasilnya dapat segera dinikmati orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi. Tujuan bisa baik dan mulia, tetapi menjadi tidak lagi berkenan di mata Tuhan, karena prosesnya yang menyimpang.
Pada saat kita dihadapkan pada situasi mendesak, kita tetap dapat memilih cara yang berkenan pada Tuhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan manusia.
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7-8)
Jumat, 01 Juli 2022
Syukur atas Kebaikan-Mu
(Mazmur 118:28-29)
Sabtu, 25 Juni 2022
Menjaga Hati
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)
Bagaimana cara menjaga hati?
Perayaan Hati Mahakudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria adalah jawabannya. Pada perayaan ini kita diingatkan untuk selalu memandang kepada kedua Hati tersebut, agar hati kita menjadi serupa dengan Hati Mahakudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria yang murni dan suci dalam kasih kepada Allah dan sesama.
Senin, 06 Juni 2022
Kebablasan Berdevosi kepada Bunda Maria?
Hari Senin setelah Hari Raya Pentakosta, Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Sebuah perayaan untuk menghormati Bunda Maria, yang sebenarnya sudah diakui sejak berabad silam sebagai Bunda Gereja, namun peringatan ini baru dimasukkan dalam kalender Liturgi Roma oleh Paus Fransiskus pada 3 Maret 2018.
Peran Bunda Maria dalam berdirinya Gereja bisa ditelusuri, saat Bunda Maria berdoa di ruang atas bersama para rasul, setelah Yesus naik ke surga. (lihat Kisah Para Rasul 1:12-14) Maka, jika Pentakosta dirayakan sebagai hari lahirnya Gereja, keesokan harinya umat beriman memberi penghormatan kepada Santa Perawan Maria, yang mendampingi Gereja bukan hanya pada saat awal pembentukannya, melainkan setia menemani umat beriman kristiani yang berziarah di dunia sampai sekarang.
Alkitab Perjanjian Baru telah menuliskan peran besar Santa Perawan Maria dalam karya penebusan umat manusia. Mulai dari kesediaannya menjalani kehendak Tuhan saat dikunjungi Malaikat Gabriel, sampai pada kesetiaannya menyertai Putra terkasihnya di bawah salib, berlanjut mendampingi para rasul menanti kedatangan Roh Kudus.
Penampakan-penampakan Bunda Maria di Guadalupe, Lourdes, dan Fatima - yang telah diakui Gereja Katolik, semakin menguatkan jejak-jejak Bunda Maria dalam membantu Yesus Putranya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, setelah Sang Putra berkurban habis-habisan sampai wafat di kayu salib demi menebus umat manusia.
Sangat disayangkan, pada hari yang dikhususkan Gereja universal untuk menghormati Bunda Maria sebagai Bunda Gereja ini, seorang imam dalam homili meminta agar umat jangan sampai kebablasan dalam berdevosi kepada Bunda Maria. Menyedihkan, mendapati umat beriman kristiani apalagi wakil Kristus di dunia, yang takut mendekat kepada Ibu Surgawi.
"Semua anak sejati Allah memiliki Allah sebagai Bapa mereka dan Maria sebagai Ibu mereka. Setiap orang yang tidak memiliki Maria sebagai Ibu mereka, tidak memiliki Allah sebagai Bapa mereka." (St. Louis-Marie de Montfort)
"Jangan pernah takut terlalu mencintai Perawan Terberkati, karena engkau tidak akan pernah bisa mencintainya sebesar cinta Yesus kepadanya." (St. Maximilian Maria Kolbe)
"Bunda Maria bukan hanya jembatan yang menghubungkan kita dengan Tuhan, ia lebih dari itu. Ia adalah jalan yang ditempuh Tuhan untuk mencapai kita dan jalan yang harus kita lalui untuk mencapai-Nya," (Paus Fransiskus)
Semoga ketiga kutipan di atas ini, yang mewakili tak terhitung kutipan dari para kudus dan para Paus tentang Bunda Maria, dapat memberi keteguhan kepada kita untuk berani menjadi anak-anak Bunda Maria, yang tidak takut kebablasan mencintainya dan berdevosi kepadanya.
Minggu, 05 Juni 2022
Demi Konten
Beberapa hari belakangan ini kita menyimak berita yang membuat miris tentang seorang siswi sekolah keperawatan yang mengunggah video saat sedang memasang selang kateter pada seorang pasien pria muda. Ada pula video tentang seorang perawat yang mendekatkan masker yang dipakainya ke pipi seorang bayi.
Mereka berharap video yang mereka unggah di akun media sosial mereka dapat menarik banyak pemirsa. Memang, yang terjadi demikian. Tetapi bukan lantaran video itu menyentuh hati dan menuai pujian. Sebaliknya, kedua video itu viral karena dibanjiri protes.
Demi konten, begitu alasan yang dikemukakan anak-anak muda yang semakin bebas tampil di media sosial, tanpa memerhatikan rambu-rambu kelayakan bagi publik, apalagi mengedepankan suara hati. Semata yang dicari hanya popularitas diri.
Untuk apakah popularitas diri yang semu itu? Sehari berlalu, konten yang diunggah tak lagi viral, lantaran sudah ada video-video lain yang mencuat ke permukaan dunia digital. Sejatinya, eksistensi seseorang tidaklah bergantung pada posting yang viral atau disukai banyak orang.
Pada Hari Raya Pentakosta ini, marilah kita semakin jernih menatap dunia dan hidup di dalamnya. Berdoalah mohon terang Roh Kudus, sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, sehingga apa yang kita tampilkan menjadi berkat bagi orang-orang yang bersentuhan dengan media sosial kita.
"Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:1-2)
Jumat, 03 Juni 2022
Taman Surgawi Hati Kita
Di manakah letak Taman Surgawi? Karena ada kata "surgawi," kita membayangkan taman itu berada di surga, suatu tempat yang bakal kita masuki kelak, setelah beralih dari dunia fana ini.
Sejatinya, Taman Surgawi ada dalam hati setiap manusia. Serupa Taman Eden, di mana Allah menanam Pohon Kehidupan, yakni Roh Allah dalam jiwa kita. Di dalam Taman Surgawi hati kita juga ada Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, yang membuat hati kita bergumul antara niat baik dan niat jahat, antara kebenaran dan ketidakbenaran.
Apakah kita selama ini sudah menaruh perhatian dengan merawat Taman Surgawi Hati kita? Berfokuslah merawat Pohon Kehidupan dalam Taman Surgawi hati kita, sebab jika Pohon Kehidupan ini semakin tumbuh subur, kita dapat dengan mudah menetapkan yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang tidak benar. Kehadiran Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat di dalam Taman Surgawi Hati kita tidak lagi menimbulkan gejolak batin. ...dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. (Yohanes 8:32)
Selasa, 31 Mei 2022
Menetap di Rumah Bersama Ibu
Anak-anak Maria menetap di rumah bersama Ibunya. Mereka suka menyepi, suka hidup batiniah, bertekun dalam doa menurut teladan dan bersama Ibu mereka, Perawan Tersuci, yang seluruh kemuliaannya bersifat batiniah. Terkadang mereka tampil ke dunia, tetapi itu karena ketaatan kepada kehendak Allah dan kehendak Ibu mereka yang terkasih.
Meskipun anak-anak Maria melakukan hal-hal yang dari luar kelihatannya besar, mereka merasa jauh lebih penting hal-hal besar yang mereka lakukan di dalam batin mereka bersama Perawan Tersuci; karena di dalam batin inilah mereka melakukan karya besar penyempurnaan diri mereka.
Hari terakhir di bulan Mei, Bulan Maria. Bukan berarti kita kembali berjarak dengan Bunda Surgawi. Tulisan Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria yang dikutip di atas, hendaknya menjadi penyemangat kita untuk terus dekat - berada di rumah - bersama Bunda Maria. Penyempurnaan diri kita yang dilakukan secara batiniah bersama Perawan Tersuci adalah hal yang lebih penting, ketimbang hal-hal lain yang di mata dunia kelihatan hebat.
Kamis, 26 Mei 2022
Ada Harapan di Balik Perpisahan
Perpisahan sering kali membuat kedua pihak yang mengalaminya berduka. Merasa ditinggalkan, hampa, tidak bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya - itulah yang dihasilkan oleh sebuah perpisahan.
Melalui peristiwa Yesus naik ke surga, Ia mengajarkan kepada kita untuk tidak takut menghadapi perpisahan, karena selalu ada harapan di balik keterpisahan.
Kepada para murid-Nya, Yesus telah mengutarakan harapan itu sebelum Ia terangkat ke surga, dengan mengatakan: "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)
Dan untuk menghibur para murid-Nya yang berduka karena ditinggal oleh-Nya, Yesus menjanjikan Penghibur. "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)
Bahkan keterpisahan dengan orang yang dicintai karena kematian pun, tetap ada harapan akan perjumpaan kembali dalam kehidupan kekal, seperti dikatakan rasul Paulus dalam surat kepada umat di Tesalonika: ....mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah kit, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.(1 Tesalonika 4:16b-17)
Anda sedang mengalami suatu perpisahan? Ingatlah, selalu ada harapan di baliknya.
Sabtu, 07 Mei 2022
Tak Banyak Bertanya
Dalam keseluruhan Injil, kita membaca hanya tiga kali Perawan Tersuci bertanya. Pertanyaan pertama dan kedua diajukan Maria kepada Malaikat Gabriel pada saat mengunjunginya untuk menyampaikan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus: Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:29) Pertanyaan kedua: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34) Setelah mendengar penjelasan malaikat, Maria berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Maria tidak bertanya, meskipun ia harus membaringkan Putranya di palungan, mendapat kunjungan para gembala dan tiga orang majus, mengungsi ke Mesir, mendengar perkataan yang menusuk hati dari Simeon di Bait Allah. Maria lebih memilih menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya.
Pertanyaan ketiga yang diajukan Maria, ditujukan langsung kepada Yesus Putranya yang tertinggal di Bait Allah di Yerusalem. "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." (Lukas 2:48) Jawaban yang diberikan Yesus tidak lagi membuat Sang Ibu bertanya.
Apakah kita sering kali mempertanyakan kepada Tuhan, kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup kita? Berhati-hatilah. Pertanyaan-pertanyaan kita menandakan keraguan kita kepada Tuhan dan memicu munculnya godaan-godaan. Sebaliknya, kepatuhan kepada kehendak Tuhan membawa berkat.
Jumat, 22 April 2022
Tulisan yang Terabaikan Selama 126 Tahun
Buku Bakti yang Sejati kepada Maria (True Devotion to Mary) diperkirakan ditulis oleh St. Louis-Marie de Montfort tahun 1712, sekitar 4 tahun sebelum kematiannya. Namun, naskah tulisan tangan orang kudus asal Perancis ini terabaikan selama 126 tahun!
Saat terjadi Revolusi Perancis tahun 1789, naskah tulisan ini disembunyikan di tanah pertanian untuk menghindari pemusnahan. Setelah situasi di negara Perancis membaik, naskah tersebut dikembalikan ke biara induk Serikat Maria Montfortan (SMM) di Saint-Laurent-sur-Sevre, Perancis. Tetapi, saat itu para imam SMM lebih berfokus meneruskan misi yang telah dimulai oleh St. Louis-Marie de Montfort, ketimbang menerbitkan tulisan orang kudus yang rajin berkeliling Perancis bagian barat untuk mewartakan Yesus Kristus.
Naskah tulisan tangan St. Louis-Marie de Montfort ditemukan oleh seorang imam SMM yang sedang mencari bahan retret bertema Bunda Maria di perpustakaan biara induk SMM pada 22 April 1842. Kumpulan tulisan tangan itu kemudian diserahkan kepada pimpinan tarekat. Setelah ditelaah dan diyakini sebagai tulisan tangan asli dari St. Louis-Marie de Montfort, pendiri tarekat tersebut, naskah tulisan diterbitkan tahun 1843 berupa buku Bakti yang Sejati kepada Maria.
Penemuan naskah tulisan tangan orang kudus ini bagaikan mendapatkan harta karun yang tersembunyi selama lebih dari satu abad. Harta ini kemudian disebarluaskan. Tak terbilang yang telah memperoleh pemahaman yang benar tentang bakti yang sejati kepada Bunda Maria melalui buku tersebut, di antaranya Santo Paus Yohanes Paulus II yang memakai motto Totus Tuus dari St. Louis-Marie de Montfort, dan Hamba Allah Frank Duff yang mendirikan Legio Mariae.
Inti pengajaran Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria adalah membentuk pelayan-pelayan sejati Bunda Maria yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Yesus Kristus, seperti diteladankan oleh Sang Ibunda Juruselamat. Bakti yang sejati kepada Bunda Maria bukan sekadar devosi, tetapi lebih bersifat mendasar, menyangkut relasi hati antara Ibu dengan anak.
·
Selasa, 19 April 2022
Roh Allah dalam Raga Manusia
Minggu, 17 April 2022
Salib Sumber Bahagia
Selasa, 29 Maret 2022
Mengapa Perlu Berserah kepada Hati Bunda Maria Yang Tak Bernoda?
"Oleh karena itu, ya Bunda Allah, kepada Hatimu yang Tak Bernoda, dengan sepenuh hati kami percayakan dan kuduskan diri kami, Gereja, dan seluruh umat manusia, khususnya Rusia dan Ukraina. Terimalah pemberian diri kami yang penuh kepercayaan dan kasih....," cuplikan doa yang didaraskan Bapa Suci Paus Fransiskus, ketika mengkonsekrasikan Rusia dan Ukraina kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda pada tanggal 25 Maret 2022.
Dengan konsekrasi tersebut, Sri Paus secara khusus memohon perlindungan Tuhan melalui Bunda Maria bagi seluruh umat manusia, khususnya Rusia dan Ukraina yang sudah satu bulan bertikai. Mengapa permohonan perlindungan itu ditujukan secara khusus kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda?
Peran Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda dalam membantu keselamatan jiwa-jiwa disampaikan sendiri oleh Bunda Maria dalam beberapa kali penampakan di Fatima-Portugal tahun 1917 kepada tiga anak gembala: Lusia, Fransiskus, dan Yasinta.
* 13 Juni 1917 Bunda Maria berkata kepada Lusia: "Yesus ingin engkau membuatku dikenal dan dicintai. Ia ingin dunia mengadakan devosi kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Kepada mereka yang menghayatinya, aku menjanjikan keselamatan dan Allah akan mencintai jiwa-jiwa ini bagaikan bunga-bunga yang kuletakkan untuk memperindah takhta-Nya."
* 13 Juni 1917 ketika Lusia diberitahu oleh Bunda Maria bahwa Fransiskus dan Yasinta akan ke surga lebih dahulu, Lusia bersedih. Bunda Maria berkata kepada Lusia: "Jangan kehilangan keberanian. Aku tidak akan meninggalkanmu. Hatiku yang Tak Bernoda akan menjadi tempat pengungsianmu dan jalan yang menghantarmu kepada Allah."
* 13 Juli 1917 "Persembahkan korban-korban bagi para pendosa dan ulangi sesering mungkin, secara khusus ketika mempersembahkan sebuah korban, katakankanlah: 'Yesus, semua ini demi cinta kepada-Mu, untuk pertobatan para pendosa, dan demi pemulihan dosa-dosa yang melawan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda."
* 13 Juli 1917 Bunda Maria memperlihatkan lautan api dengan setan-setan dan jiwa-jiwa di dalamnya. "Kalian baru saja melihat neraka, ke mana jiwa-jiwa para pendosa yang malang pergi. Untuk menyelamatkan mereka, Allah menginginkan untuk mengadakan devosi kepada Hatiku yang Tak Bernoda di dunia. Jika mereka melakukan apa yang aku katakan kepadamu, banyak jiwa akan diselamatkan...."
* 13 Juli 1917 ".... Ia [Allah] akan menghukum dunia karena kejahatan perang, kelaparan, dan penganiayaan melawan Gereja dan Paus. Untuk mencegah hal ini, aku akan datang untuk meminta penyerahan Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda dan penerimaan Komuni demi pemulihan pada hari Sabtu Pertama setiap bulan. Jika permintaan-permintaanku diperhatikan, Rusia akan dipertobatkan dan mereka akan memiliki damai. Jika tidak, Rusia akan menyebarkan kesesatan ke seluruh dunia, memancing perang dan penganiyaan terhadap Gereja.
Dari pemaparan di atas, Bunda Maria 5 kali menyebut tentang Hatinya yang Tak Bernoda dalam 2 kali penampakan di Fatima. Pada penampakan di bulan Juni dan Juli ini, Bunda Maria menyatakan bahwa Yesus dan Allah yang menghendaki adanya devosi kepada Hatinya yang Tak Bernoda di dunia. Dengan berserah dan berdoa kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda secara rutin, misalnya setiap Sabtu Pertama dalam bulan; kita telah memenuhi permintaan Yesus dan Allah untuk Bunda Maria.
Seperti dikatakan Bunda Maria kepada Lusia, tentu juga kepada kita semua anak-anaknya, bahwa Hatinya yang Tak Bernoda adalah tempat pengungsian dan jalan yang menghantar kepada Allah. Pendosa yang masuk ke dalam rengkuhan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, akan disucikan dari dosa-dosanya, sehingga jiwanya selamat dari api neraka. Jiwa yang sudah disucikan ini kemudian dapat bertemu dan bersatu dengan Allah.
Kepada Hatimu yang Tak Bernoda, ya Bunda Maria, dengan sepenuh hati kami percayakan dan kuduskan diri kami....
Jumat, 25 Maret 2022
Hati yang Murni dan Suci
Santa Perawan Maria, mampukan anak-anakmu memiliki hati yang murni dan suci seperti hatimu, agar kami pun dapat berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu," dalam setiap peristiwa kehidupan kami.
Hari Raya Kabar Sukacita
Rabu, 02 Maret 2022
Di Padang Gurun
Senin, 28 Februari 2022
Koleksi
Jumat, 18 Februari 2022
Keberanian Mendekati Salib
O Yesus, betapa sedikit orang yang berani mendekati salib-Mu... apalagi memeluk dan mencintai salib. Padahal Engkau telah mengatakan: "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku." (Markus 8:34)
Menurut Santo Louis-Marie de Montfort, seorang sahabat salib yang sempurna adalah seorang pengemban Kristus yang sejati, yang dengan sungguh hati dapat mengatakan: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:20)
Berilah aku keberanian mendekati salib-Mu, ya Yesusku
Senin, 14 Februari 2022
Ketika Tuhan Menunjukkan Kuasa-Nya
Sabtu, 29 Januari 2022
Kebijaksanaan Ilahi
Dalam kehidupan manusia, ada kalanya Tuhan memakai orang-orang tidak benar untuk semakin memurnikan orang-orang benar. Tetapi bukan berarti orang tidak benar itu kemudian tidak menanggung hukuman atas penyimpangannya.
Contohnya, raja Saul dipakai Tuhan untuk memurnikan Daud. Raja Saul yang merasa takhtanya terancam karena kehadiran Daud, berusaha membunuhnya dua kali. Pada suatu kesempatan, ketika Saul dan para pengiringnya sedang tidur di perkemahan; Daud sebenarnya bisa membunuh raja Saul, tetapi ia tidak mau melakukannya. Dalam peristiwa ini, Daud semakin dimurnikan oleh Tuhan. Ia berhasil mengalahkan keinginan diri untuk membunuh orang yang akan membunuhnya (lihat 1 Samuel 26:1-23).
Raja Saul yang tidak taat kepada Tuhan, akhirnya memilih bunuh diri ketika orang Filistin berperang melawan orang Israel (lihat 1 Samuel 31:1-10).
Inilah Kebijaksanaan Ilahi yang tersembunyi di mata manusia.
Jumat, 07 Januari 2022
Nikmatilah Prosesnya
Sabtu, 01 Januari 2022
Meneruskan Peziarahan
Selamat menjejakkan langkah di tahun 2022!
Mari meneruskan peziarahan hidup kita,
berjalan bersama Tuhan di dunia ini,
sampai mencapai Tanah Air Surgawi kelak.