Ia hanya seorang gadis remaja. Pernah mengalami luka batin lantaran ibundanya wafat, saat ia masih kanak-kanak. Di usia 15 tahun, ia diperkenankan bergabung dalam komunitas para suster Karmelit Tak Berkasut (OCD). Hidupnya tersembunyi dalam keheningan biara, tekun menjalani rutinitas harian dan mendalami kehidupan spiritual. Hanya 9 tahun ia menjadi biarawati, penyakit TBC merenggut nyawanya di usia 24 tahun.
Tampaknya tak ada yang istimewa dari kehidupan biarawati muda tersebut. Namun, penghayatannya akan kasih Allah yang ia wujudkan dalam kesederhanaan hidupnya, telah menjadikannya seorang kudus. Perjalanan hidupnya yang ia goreskan lewat buku "Kisah Satu Jiwa" (Story of a Soul), ketika diterbitkan menjadi bacaan rohani yang sangat menggugah jiwa. Jalan Kecil yang sangat sederhana, dapat dilakukan setiap orang, untuk mencapai kesucian hidup.
Santa Theresia dari Lisieux (1873-1897) atau Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus, hanya 9 tahun menjalani panggilan hidupnya sebagai biarawati. Tetapi lewat doa-doanya yang menjangkau orang-orang di luar tembok biara, bahkan kepeduliannya terhadap dunia, telah menjadikannya seorang misioner. Tahun 1927 Paus Pius XI mengangkat Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pelindung Misi bersama Santo Fransiskus Xaverius. Kemudian tahun 1997 Paus Yohanes Paulus II mengukuhkan Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pujangga Gereja.
Dunia kerap memandang keberhasilan atau prestasi seseorang dari hal-hal yang kasat mata. Sejatinya, kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang-orang pilihan-Nya jauh dari sorotan dunia, tersembunyi dalam keheningan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar