Dalam perkataanMu ini terkandung inti spiritualitas Kristiani: Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. (Markus 8:34)
Ada 3 hal yang Kau syaratkan untuk dapat mengikutiMu:
1. Menyangkal diri
Melalui penyangkalan diri, orang akan terbebas dari segala kelekatan duniawi. Egonya memudar sampai akhirnya lenyap, tidak lagi terbelenggu pada hal-hal yang inderawi.
2. Memikul salib
Setelah kedagingan (ego) ditundukkan, di tahap berikutnya Engkau mensyaratkan penyatuan roh denganMu. Memikul salib membutuhkan bukan hanya ketidaklekatan pada hal-hal duniawi yang kasat mata, melainkan juga kematian roh. Roh manusia tidak lagi berkuasa atas tubuh jasmani dan jiwanya, tetapi lenyap dalam Roh Ilahi. Kesatuan dengan RohMu membuat salib yang harus dipikul tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan.
3. MengikutMu
Setelah diri dan roh manusiawi lenyap, maka orang dapat mengikutMu dengan bebas tanpa terbelenggu. MengikutMu berarti mengarahkan pandangan senantiasa kepadaMu, agar tidak mengalami kemunduran dalam hidup spiritual. Di tahap inilah Roh Kudus berperan sebagai pemandu jalan. Roh Kudus menerangi budi dan batin, sehingga orang dapat memahami ajaran-ajaran yang telah Kau berikan semasa hidup di dunia. Dalam terang Roh Kudus dan berpedoman pada firmanMu, orang akan tetap berada di jalanMu.
Minggu, 19 Agustus 2012
Jumat, 17 Agustus 2012
Menguji Kesabaran
Menurut pemeriksaan dokter dan hasil cek darah di laboratorium, anak itu didiagnosis menderita sakit gejala typhus. Sebagai bagian dari upaya pemulihan terhadap usus halus yang luka, dokter melarang pasiennya itu makan makanan yang asam dan pedas serta berolahraga selama sebulan. Rambu-rambu yang diberikan sudah jelas. Namun, begitu mulai pulih kesehatannya, si anak merengek ingin memakan sambal dan berkeliling kompleks permukiman dengan sepedanya.
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)
Minggu, 12 Agustus 2012
Vibrasi yang Sama
Dalam homili hari ini, seorang gembala umatMu bicara tentang Surga. Menurutnya, Surga adalah suatu keadaan di mana roh manusia berada pada vibrasi yang sama dengan roh-roh lain. Vibrasi itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan pencapaian spiritual seseorang selama hidupnya di dunia. Dalam vibrasi yang sama mungkin saja roh seseorang berada bersama orang-orang yang tak dikenalnya, bukan dengan sanak-keluarganya semasa di dunia, karena sanak-keluarganya memiliki kedalaman spiritual yang berbeda.
Jika demikian, aku ingin berada dalam vibrasi yang sama denganMu, ya Tuhan Yesus, sehingga genaplah sabdaMu yang mengatakan: Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)
Jika demikian, aku ingin berada dalam vibrasi yang sama denganMu, ya Tuhan Yesus, sehingga genaplah sabdaMu yang mengatakan: Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)
Rabu, 08 Agustus 2012
MendekatiMu
Aku akan membuat dia maju dan mendekat kepada-Ku, sebab siapakah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada-Ku? (Yeremia 30:21b)
Untuk mendekatiMu perlu keberanian besar, kesediaan berkorban sampai mempertaruhkan nyawa. Ketika seseorang sudah memiliki keberanian mendekatiMu, bukan berarti ia lantas menikmati kesenangan, segala keinginan dan harapannya terpenuhi. Lihat saja pengalaman St. Petrus.
Tatkala melihatMu berjalan di atas air, St. Petrus ingin menghampiriMu. Engkau mempersilakannya datang. Ia turun dari perahu dan mendekatiMu. Awalnya ia mengalami kesenangan, merasa hebat bisa berjalan di atas air. Tetapi, ketika waktu berjalan dan ia semakin dekat kepadaMu, justru saat itulah ia mengalami kegoncangan. Tiba-tiba ia merasa sendirian di tengah gelombang badai. Ia berseru memohon pertolonganMu. Engkau menolongnya dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
Mempertaruhkan nyawa untuk mendekatiMu, bukan berarti harfiah: berani mati sebagai martir. MendekatiMu secara rohaniah pun membutuhkan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Ketika seseorang mulai menjawab panggilanMu untuk lebih memerhatikan hal-hal rohaniah, ia menikmati kesenangan - seperti St. Petrus ketika menapakkan kakinya berjalan di atas air. Engkau memenuhi kepuasan inderawinya dengan aneka rahmat karunia yang memuaskan jiwa.
Namun, setelah berjalan lebih jauh, semakin dekat kepadaMu, Engkau malah membiarkan orang yang berkembang kerohaniannya untuk berani berjalan sendiri di tengah gelombang badai dunia. Hiburan dan kenikmatan inderawi berkurang, bahkan tak dirasakan sama sekali. Satu hal yang menjadi pegangan dalam keadaan seperti ini adalah iman.
Dengan iman, orang yang berkembang kerohaniannya dapat menyangkal diri dan memikul salibnya, sambil terus mengarahkan pandangannya kepadaMu. Pengalaman St. Petrus di atas memperlihatkan pengalaman yang sering dialami manusia dalam pencariannya akan Tuhan: kehilangan iman, ketika semakin dekat dengan Tuhan. Tidak siap dilepas untuk berjalan sendiri dalam kegelapan dunia sekitar dengan hanya mengandalkan iman.
Dalam kondisi yang menggoncangkan seperti itu, kita kerap berseru memohon pertolongan Tuhan. Padahal, Tuhan sudah dekat di depan mata. Maka, tak heran jika Tuhan akan mengatakan yang sama kepada kita: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Ketika nyawa bukan lagi menjadi segalanya yang patut dipertahankan, berani berjalan dalam kekeringan hiburan rohani dengan berpegang pada iman semata; menjadi tanda semakin dekat denganMu.
Untuk mendekatiMu perlu keberanian besar, kesediaan berkorban sampai mempertaruhkan nyawa. Ketika seseorang sudah memiliki keberanian mendekatiMu, bukan berarti ia lantas menikmati kesenangan, segala keinginan dan harapannya terpenuhi. Lihat saja pengalaman St. Petrus.
Tatkala melihatMu berjalan di atas air, St. Petrus ingin menghampiriMu. Engkau mempersilakannya datang. Ia turun dari perahu dan mendekatiMu. Awalnya ia mengalami kesenangan, merasa hebat bisa berjalan di atas air. Tetapi, ketika waktu berjalan dan ia semakin dekat kepadaMu, justru saat itulah ia mengalami kegoncangan. Tiba-tiba ia merasa sendirian di tengah gelombang badai. Ia berseru memohon pertolonganMu. Engkau menolongnya dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
Mempertaruhkan nyawa untuk mendekatiMu, bukan berarti harfiah: berani mati sebagai martir. MendekatiMu secara rohaniah pun membutuhkan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Ketika seseorang mulai menjawab panggilanMu untuk lebih memerhatikan hal-hal rohaniah, ia menikmati kesenangan - seperti St. Petrus ketika menapakkan kakinya berjalan di atas air. Engkau memenuhi kepuasan inderawinya dengan aneka rahmat karunia yang memuaskan jiwa.
Namun, setelah berjalan lebih jauh, semakin dekat kepadaMu, Engkau malah membiarkan orang yang berkembang kerohaniannya untuk berani berjalan sendiri di tengah gelombang badai dunia. Hiburan dan kenikmatan inderawi berkurang, bahkan tak dirasakan sama sekali. Satu hal yang menjadi pegangan dalam keadaan seperti ini adalah iman.
Dengan iman, orang yang berkembang kerohaniannya dapat menyangkal diri dan memikul salibnya, sambil terus mengarahkan pandangannya kepadaMu. Pengalaman St. Petrus di atas memperlihatkan pengalaman yang sering dialami manusia dalam pencariannya akan Tuhan: kehilangan iman, ketika semakin dekat dengan Tuhan. Tidak siap dilepas untuk berjalan sendiri dalam kegelapan dunia sekitar dengan hanya mengandalkan iman.
Dalam kondisi yang menggoncangkan seperti itu, kita kerap berseru memohon pertolongan Tuhan. Padahal, Tuhan sudah dekat di depan mata. Maka, tak heran jika Tuhan akan mengatakan yang sama kepada kita: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Ketika nyawa bukan lagi menjadi segalanya yang patut dipertahankan, berani berjalan dalam kekeringan hiburan rohani dengan berpegang pada iman semata; menjadi tanda semakin dekat denganMu.
Kamis, 26 Juli 2012
Daya Hidup
Kehidupan adalah anugerah yang patut disyukuri,
bukan semata lantaran jantung masih berdetak,
napas masih berembus dalam kekosongan,
tetapi terlebih karena daya-daya Ilahi,
yang menggerakkan tubuh fana ini,
dalam kepenuhan Kasih Allah.
bukan semata lantaran jantung masih berdetak,
napas masih berembus dalam kekosongan,
tetapi terlebih karena daya-daya Ilahi,
yang menggerakkan tubuh fana ini,
dalam kepenuhan Kasih Allah.
Sabtu, 14 Juli 2012
Iman yang Menyembuhkan
Gigi gerahamku yang keropos terasa sakit. Aku menemui dokter gigi di dekat rumah dan ia mengatakan tak ada jalan lain kecuali dicabut. Tetapi saat itu kesehatanku belum pulih. Sanggupkah aku bertahan melewati hari demi hari dengan gigi yang sakit?
Aku menyerahkan masalah ini kepadaMu. Kau tentu akan melindungiku selama masa pemulihan penyakitku, sampai suatu saat gigi itu bisa dicabut dengan aman. Aku menutupi lubang gigi dengan kapas dan obat untuk menghindari kotoran masuk ke dalamnya.Tanpa terasa, lima bulan berlalu. Selama itu, tak sekali pun gigi yang berlubang itu menimbulkan rasa sakit.
Aku merasa kesehatanku berangsur pulih. Aku siap mencabut gigi tersebut. Seminggu sebelumnya aku telah mendaftar ke dokter gigi di sebuah rumah sakit sesuai referensi dokter gigiku. Tetapi pada saat hari itu tiba, aku ragu. Apakah benar ini saat yang tepat untuk mencabut gigi, mengingat dua hari sebelumnya aku kembali kurang sehat?
Aku mohon penegasanMu. Aku mendengar Kau berbisik dalam hatiku untuk tetap menjalankan rencana yang telah ditetapkan. Tak ada dalih lagi. Kau memintaku bergerak, meski diselubungi kekhawatiran dan ketidakpastian, aku menjalaninya.
Persiapan berjalan lancar, bahkan dokter gigi yang kutuju sudah datang 30 menit sebelum jadwal praktiknya. Aku diterima dengan lembut dan ramah. Proses pencabutan gigi berlangsung aman dalam waktu sekitar 20 menit. Perjalanan pulang dengan taksi pun telah Kau atur. Pihak rumah sakit mencarikanku taksi yang kebetulan berhenti dekat rumah sakit. Ternyata, pengemudi taksi tinggal tak jauh dari rumahku. Ia mengenal seluk-beluk jalan, sehingga aku dapat beristirahat dengan tenang sepanjang perjalanan.
Ketika ketakutan menderaku, Engkau meneguhkan imanku. Meski aku berada dalam ketidakpastian, Engkau mendorongku untuk berani melangkah. Pengalaman ini menjadi peristiwa yang menentukan dalam kehidupanku selanjutnya. Asalkan aku beriman kokoh, Engkau akan menyertaiku melewati masa-masa sulit, sehingga bebas dari berbagai penderitaan.
Di atas secarik kertas aku menuliskan kata-kataMu yang pernah Kau utarakan kepada seorang perempuan yang mengalami pendaharan selama 12 tahun. Ia menjadi sembuh saat menyentuh jubahMu. Kalimat yang sama Kau sampaikan kepadaku, "Daughter, your faith has healed you. Go in peace and be freed from your suffering." (Mark 5:34, NIV)
Aku menyerahkan masalah ini kepadaMu. Kau tentu akan melindungiku selama masa pemulihan penyakitku, sampai suatu saat gigi itu bisa dicabut dengan aman. Aku menutupi lubang gigi dengan kapas dan obat untuk menghindari kotoran masuk ke dalamnya.Tanpa terasa, lima bulan berlalu. Selama itu, tak sekali pun gigi yang berlubang itu menimbulkan rasa sakit.
Aku merasa kesehatanku berangsur pulih. Aku siap mencabut gigi tersebut. Seminggu sebelumnya aku telah mendaftar ke dokter gigi di sebuah rumah sakit sesuai referensi dokter gigiku. Tetapi pada saat hari itu tiba, aku ragu. Apakah benar ini saat yang tepat untuk mencabut gigi, mengingat dua hari sebelumnya aku kembali kurang sehat?
Aku mohon penegasanMu. Aku mendengar Kau berbisik dalam hatiku untuk tetap menjalankan rencana yang telah ditetapkan. Tak ada dalih lagi. Kau memintaku bergerak, meski diselubungi kekhawatiran dan ketidakpastian, aku menjalaninya.
Persiapan berjalan lancar, bahkan dokter gigi yang kutuju sudah datang 30 menit sebelum jadwal praktiknya. Aku diterima dengan lembut dan ramah. Proses pencabutan gigi berlangsung aman dalam waktu sekitar 20 menit. Perjalanan pulang dengan taksi pun telah Kau atur. Pihak rumah sakit mencarikanku taksi yang kebetulan berhenti dekat rumah sakit. Ternyata, pengemudi taksi tinggal tak jauh dari rumahku. Ia mengenal seluk-beluk jalan, sehingga aku dapat beristirahat dengan tenang sepanjang perjalanan.
Ketika ketakutan menderaku, Engkau meneguhkan imanku. Meski aku berada dalam ketidakpastian, Engkau mendorongku untuk berani melangkah. Pengalaman ini menjadi peristiwa yang menentukan dalam kehidupanku selanjutnya. Asalkan aku beriman kokoh, Engkau akan menyertaiku melewati masa-masa sulit, sehingga bebas dari berbagai penderitaan.
Di atas secarik kertas aku menuliskan kata-kataMu yang pernah Kau utarakan kepada seorang perempuan yang mengalami pendaharan selama 12 tahun. Ia menjadi sembuh saat menyentuh jubahMu. Kalimat yang sama Kau sampaikan kepadaku, "Daughter, your faith has healed you. Go in peace and be freed from your suffering." (Mark 5:34, NIV)
Minggu, 01 Juli 2012
Percaya Saja!
Hari ini Engkau meneguhkanku dengan mengatakan kalimat serupa seperti yang Engkau katakan kepada Yairus, kepala rumah ibadat, saat ia memintaMu menyembuhkan putrinya yang sekarat: "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36).Ya, tak ada satu hal pun yang sepatutnya membuatku takut, jika aku telah memercayakan semuanya kepadaMu.
Hari ini aku seperti membuka lembaran baru dalam kehidupanku, memasuki tahap ke-tiga menuju puncak gunungMu yang suci. Dalam peziarahan yang penuh tantangan ini, Engkau telah memintaku untuk tabah menanggung kesengsaraan sementara di dunia ini, seperti hari-hari kehidupanMu dahulu di dunia yang tak pernah luput dari penderitaan.
Aku akan selalu berjalan bersamaMu, sampai mencapai puncak gunungMu yang suci. Dan kelak, di atas sana, Kau akan memelukku dengan hangat dan senyum mengembang seraya berkata, "Imanmu telah menyelamatkan engkau."
Hari ini aku seperti membuka lembaran baru dalam kehidupanku, memasuki tahap ke-tiga menuju puncak gunungMu yang suci. Dalam peziarahan yang penuh tantangan ini, Engkau telah memintaku untuk tabah menanggung kesengsaraan sementara di dunia ini, seperti hari-hari kehidupanMu dahulu di dunia yang tak pernah luput dari penderitaan.
Aku akan selalu berjalan bersamaMu, sampai mencapai puncak gunungMu yang suci. Dan kelak, di atas sana, Kau akan memelukku dengan hangat dan senyum mengembang seraya berkata, "Imanmu telah menyelamatkan engkau."