Murid yang Kau kasihi, Yohanes, melarang seorang yang bukan pengikutMu untuk mengusir setan dengan memakai namaMu.(Lukas 9:38) Suatu contoh sikap yang ekstrem dalam kehidupan bersama. Seperti yang terjadi dewasa ini: kelompokku, bangsaku, negaraku, agamaku. Jangan ikut campur kalau engkau tidak termasuk di dalamnya.
Namun, Engkau mengajarkan ekstrem yang berbeda. BagiMu yang lebih penting adalah bersikap ekstrem terhadap diri sendiri ketimbang bersikap ekstrem terhadap orang-orang lain. Engkau mencontohkan dengan memotong satu tangan atau kaki, mencungkil mata kalau anggota-anggota tubuh itu berbuat dosa. (Lukas 9:43-48).
Sikap ekstrem terhadap diri sendiri - memangkas habis akar kejahatan dan dosa dalam diri - lebih bermakna daripada sibuk mencegah atau menyarankan orang-orang lain berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Di ekstrem manakah setiap kita berada saat ini?
Minggu, 30 September 2012
Kamis, 20 September 2012
Tarikan Roh-Roh
Seorang saudara yang prihatin dengan kondisi tubuhku yang sakit-sakitan beberapa bulan belakangan ini, berinisiatif menanyakannya kepada roh seorang rohaniwan lewat perantaraan seorang medium. Menurutnya, roh rohaniwan itu bisa menyembuhkan penyakit-penyakit fisik. Dari penerawangan roh rohaniwan tersebut, banyak roh yang berusaha menarik-narik roh dalam ragaku. Tarik-menarik itu menimbulkan kelemahan fisik, padahal secara medis aku tidak menderita sakit apa pun. Lalu, roh rohaniwan tersebut menyarankan agar roh-roh yang ada di sekitar tubuhku dibersihkan.
Siapa yang tidak mau sehat? Tawaran itu menggoda. Tetapi aku tidak mau menempatkan kesehatanku di atas salibMu. Mengapa harus percaya kepada roh sekalipun ia rohaniwan? Bukan tidak mungkin sebenarnya kuasa jahat yang berkata atas nama roh rohaniwan itu. Bagiku jalan roh berbeda dengan jalan inderawi yang dapat dilihat dan dirasakan. Jalan roh laksana berjalan dalam kegelapan total, hanya bersandar pada iman.
Tentang tarikan roh-roh itu, aku memang merasakannya. Awalnya begitu kuat, namun sekarang melemah seiring pertumbuhan kembali imanku. Biarlah roh-roh itu menarik-narik aku, tetapi aku percaya mereka tak berkuasa atas nyawaku. SabdaMu ya, Tuhan, menjadi kekuatanku: Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. (Yohanes 6:63)
Lalu, suara dalam hati memintaku membaca buku Rahasia Lima Luka Suci Padre Pio - Menyingkap Misteri Allah di balik Penderitaan, karya Gianluigi Pasqulae (ed.), penerbit Fidei 2005. Dua pertiga bagian buku itu telah kubaca sebelumnya, lalu tak kuteruskan belakangan ini.
Aku membuka tepat di bagian yang seharusnya kubaca selanjutnya. Surat Padre Pio yang ditulis pada 19 Desember 1913 kepada pembimbing rohaninya menjawab semua tanda tanyaku mengenai penyakit-penyakit yang kualami sepuluh bulan terakhir.
Allah ingin menyertai jiwa yang beriman, dan jiwa yang ingin mencapai persatuan surgawi ini harus berjalan dalam iman yang murni, yang merupakan satu-satunya jalan yang tepat menuju persatuan cinta ini. Agar bisa mencapai kontemplasi Ilahi, aku katakan bahwa jiwa harus dibersihkan dari semua dosa yang masih ada dan yang biasa dilakukan, yang tidak dapat dibersihkan melalui pembersihan indera-indera - dan yang tetap berakar dalam jiwa - dan yang dapat dibersihkan melalui pembersihan roh, melalui mana Allah, dengan cahaya yang sangat mulia, merasuk seluruh jiwa, menikamnya, dan memperbaharuinya secara menyeluruh.
Cahaya yang sangat mulia ini, yang Allah turunkan ke dalam jiwa-jiwa, masuk ke dalam diri mereka dalam suatu cara yang menuntut dan merusak jiwa, menyebabkan penderitaan yang hebat dan rasa sakit yang mematikan pada jiwa.
Sekarang mereka tidak sanggup memahami karya Ilahi ini, cahaya yang sangat mulia ini, karena dua alasan. Pertama, cahaya yang begitu agung dan sangat luhur yang melampaui kemampuan orang untuk mengerti, segera menjadi sumber kegelapan dan kesengsaraan daripada sebagai sumber terang. Kedua, cahaya mulia ini bukan saja tidak dapat dipahami tetapi yang menyengsarakan dan menyusahkan karena kehinaan dan ketidakmurnian jiwa. Maka, hal itu bukannya menghibur mereka, tetapi malah membuat mereka sangat menderita, memenuhi mereka dengan rasa sakit yang luar biasa, kecemasan yang mengerikan, dan rasa sakit yang menggetarkan.
Semua ini terjadi pada tahap permulaan, ketika cahaya Ilahi mendapati jiwa-jiwa belum siap bagi persekutuan Ilahi. Oleh karena itu, jiwa-jiwa ini ditempatkan di jalan pemurnian; dan setelah dimurnikan oleh cahaya ini, mereka kemudian ditempatkan di sebuah jalan terang, mengangkat mereka kepada penglihatan akan Allah dan persatuan yang sempurna denganNya.
Oleh karena itu, biarkanlah mereka bersukacita dalam Tuhan karena mengangkat mereka ke tempat mahatinggi ini, dan biarkanlah mereka percaya kepada Tuhan dengan segenap hati seperti yang pernah dilakukan oleh Ayub yang saleh, seorang yang ditempatkan Allah pada situasi yang sama dan yang berharap melihat terang di balik kegelapan. (hal. 60-61)
Jika memang demikian yang kualami, biarlah aku bertahan di jalanMu, ya Tuhan, meskipun jalan ini sempit, tidak menarik, dan sukar. Jadilah sesuai kehendakMu.
Siapa yang tidak mau sehat? Tawaran itu menggoda. Tetapi aku tidak mau menempatkan kesehatanku di atas salibMu. Mengapa harus percaya kepada roh sekalipun ia rohaniwan? Bukan tidak mungkin sebenarnya kuasa jahat yang berkata atas nama roh rohaniwan itu. Bagiku jalan roh berbeda dengan jalan inderawi yang dapat dilihat dan dirasakan. Jalan roh laksana berjalan dalam kegelapan total, hanya bersandar pada iman.
Tentang tarikan roh-roh itu, aku memang merasakannya. Awalnya begitu kuat, namun sekarang melemah seiring pertumbuhan kembali imanku. Biarlah roh-roh itu menarik-narik aku, tetapi aku percaya mereka tak berkuasa atas nyawaku. SabdaMu ya, Tuhan, menjadi kekuatanku: Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. (Yohanes 6:63)
Lalu, suara dalam hati memintaku membaca buku Rahasia Lima Luka Suci Padre Pio - Menyingkap Misteri Allah di balik Penderitaan, karya Gianluigi Pasqulae (ed.), penerbit Fidei 2005. Dua pertiga bagian buku itu telah kubaca sebelumnya, lalu tak kuteruskan belakangan ini.
Aku membuka tepat di bagian yang seharusnya kubaca selanjutnya. Surat Padre Pio yang ditulis pada 19 Desember 1913 kepada pembimbing rohaninya menjawab semua tanda tanyaku mengenai penyakit-penyakit yang kualami sepuluh bulan terakhir.
Allah ingin menyertai jiwa yang beriman, dan jiwa yang ingin mencapai persatuan surgawi ini harus berjalan dalam iman yang murni, yang merupakan satu-satunya jalan yang tepat menuju persatuan cinta ini. Agar bisa mencapai kontemplasi Ilahi, aku katakan bahwa jiwa harus dibersihkan dari semua dosa yang masih ada dan yang biasa dilakukan, yang tidak dapat dibersihkan melalui pembersihan indera-indera - dan yang tetap berakar dalam jiwa - dan yang dapat dibersihkan melalui pembersihan roh, melalui mana Allah, dengan cahaya yang sangat mulia, merasuk seluruh jiwa, menikamnya, dan memperbaharuinya secara menyeluruh.
Cahaya yang sangat mulia ini, yang Allah turunkan ke dalam jiwa-jiwa, masuk ke dalam diri mereka dalam suatu cara yang menuntut dan merusak jiwa, menyebabkan penderitaan yang hebat dan rasa sakit yang mematikan pada jiwa.
Sekarang mereka tidak sanggup memahami karya Ilahi ini, cahaya yang sangat mulia ini, karena dua alasan. Pertama, cahaya yang begitu agung dan sangat luhur yang melampaui kemampuan orang untuk mengerti, segera menjadi sumber kegelapan dan kesengsaraan daripada sebagai sumber terang. Kedua, cahaya mulia ini bukan saja tidak dapat dipahami tetapi yang menyengsarakan dan menyusahkan karena kehinaan dan ketidakmurnian jiwa. Maka, hal itu bukannya menghibur mereka, tetapi malah membuat mereka sangat menderita, memenuhi mereka dengan rasa sakit yang luar biasa, kecemasan yang mengerikan, dan rasa sakit yang menggetarkan.
Semua ini terjadi pada tahap permulaan, ketika cahaya Ilahi mendapati jiwa-jiwa belum siap bagi persekutuan Ilahi. Oleh karena itu, jiwa-jiwa ini ditempatkan di jalan pemurnian; dan setelah dimurnikan oleh cahaya ini, mereka kemudian ditempatkan di sebuah jalan terang, mengangkat mereka kepada penglihatan akan Allah dan persatuan yang sempurna denganNya.
Oleh karena itu, biarkanlah mereka bersukacita dalam Tuhan karena mengangkat mereka ke tempat mahatinggi ini, dan biarkanlah mereka percaya kepada Tuhan dengan segenap hati seperti yang pernah dilakukan oleh Ayub yang saleh, seorang yang ditempatkan Allah pada situasi yang sama dan yang berharap melihat terang di balik kegelapan. (hal. 60-61)
Jika memang demikian yang kualami, biarlah aku bertahan di jalanMu, ya Tuhan, meskipun jalan ini sempit, tidak menarik, dan sukar. Jadilah sesuai kehendakMu.
Jumat, 14 September 2012
Kenikmatan Salib
Ketika pertama kali salib diletakkan di bahu, siapa yang mau menerimanya dengan rela? Sebagai manusia yang terbiasa dengan kenikmatan hidup, kita tentu akan serta-merta menolaknya. Mengapa, Tuhan...? Mengapa, Kau berikan beban ini kepadaku?
Kita ingin salib ini segera diangkat kembali dari bahu kita, padahal salib itu baru ditumpangkan, kita belum memanggulnya. Tuhan, aku menderita... bersegeralah bebaskan aku... dalam doa-doa yang gencar kita merintih.
Namun, salib itu tak kunjung beralih dari bahu. Pilihannya hanya diam di tempat meratapi salib atau memanggulnya, membawanya bergerak maju walau awalnya langkah terseok-seok.
Jadilah kehendakMu, ya Tuhan... itulah kalimat doa yang sering kita daraskan. Itu pula yang dituntutNya dari kita: kerelaan memanggul salib.
Bersamaan dengan kepasrahan kita memikul salib, perjalanan salib yang semula tertatih-tatih, lama- kelamaan menjadi perjalanan biasa. Salib tak lagi terasa sebagai beban. Yang ada hanya kenikmatan memanggul salib bersamaMu.
(Pesta Salib Suci 14 September)
Kita ingin salib ini segera diangkat kembali dari bahu kita, padahal salib itu baru ditumpangkan, kita belum memanggulnya. Tuhan, aku menderita... bersegeralah bebaskan aku... dalam doa-doa yang gencar kita merintih.
Namun, salib itu tak kunjung beralih dari bahu. Pilihannya hanya diam di tempat meratapi salib atau memanggulnya, membawanya bergerak maju walau awalnya langkah terseok-seok.
Jadilah kehendakMu, ya Tuhan... itulah kalimat doa yang sering kita daraskan. Itu pula yang dituntutNya dari kita: kerelaan memanggul salib.
Bersamaan dengan kepasrahan kita memikul salib, perjalanan salib yang semula tertatih-tatih, lama- kelamaan menjadi perjalanan biasa. Salib tak lagi terasa sebagai beban. Yang ada hanya kenikmatan memanggul salib bersamaMu.
(Pesta Salib Suci 14 September)
Kamis, 30 Agustus 2012
Sesuatu yang Baik
"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" tanya Natanael kepada Filipus (Yohanes 1:46)
Pertanyaan serupa yang diucapkan Natanael itu terus terngiang dalam batin: Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar?
Metropolitan memiliki segalanya, kecuali keheningan. Lalu-lalang beragam kendaraan di jalan-jalan tak pernah berhenti. Aneka hiburan termasuk saluran internet tersedia dengan mudah dan non-stop. Bahkan banyak pemberi jasa menawarkan layanan 24 jam seperti resto cepat saji, apotek, laboratorium, mini swalayan. Hingar-bingar tiada henti.
Dalam suasana kota besar seperti itu, keheningan menjadi barang langka yang sulit ditemukan. Dapatkah seorang warga kota besar duduk diam tanpa berbuat apa-apa selama 10 menit saja? Telepon genggam berdering atau sinyal tanda pesan masuk berbunyi. Perlu ditanggapi, siapa tahu berita penting. Acara televisi jam sekian itu patut ditonton, kalau tidak bakal ketinggalan cerita. Koran yang terbaring di meja itu perlu dibaca, agar selalu tahu situasi terkini dunia.
Kota-kota besar menawarkan aneka kenikmatan duniawi. Kebanyakan orang harus pergi 'mengungsi' ke luar kota jika ingin mencari keheningan. Rumah-rumah retret menjadi incaran para penghuni kota-kota besar. Di sana, orang menemukan ketenangan dan kedamaian - sesuatu yang berbeda dari kesehariannya.
Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar tanpa harus pergi mencarinya ke tempat lain? Kehidupan spiritual bukanlah bagian terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kehidupan spiritual memayungi berbagai aktivitas manusia sehari-hari. Jika setiap warga kota besar telah menyadari hal itu dan dapat menghayati spiritualitas di tengah hingar-bingar suasana sekitarnya, maka sesuatu yang baik akan datang dari kota-kota besar.
Pertanyaan serupa yang diucapkan Natanael itu terus terngiang dalam batin: Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar?
Metropolitan memiliki segalanya, kecuali keheningan. Lalu-lalang beragam kendaraan di jalan-jalan tak pernah berhenti. Aneka hiburan termasuk saluran internet tersedia dengan mudah dan non-stop. Bahkan banyak pemberi jasa menawarkan layanan 24 jam seperti resto cepat saji, apotek, laboratorium, mini swalayan. Hingar-bingar tiada henti.
Dalam suasana kota besar seperti itu, keheningan menjadi barang langka yang sulit ditemukan. Dapatkah seorang warga kota besar duduk diam tanpa berbuat apa-apa selama 10 menit saja? Telepon genggam berdering atau sinyal tanda pesan masuk berbunyi. Perlu ditanggapi, siapa tahu berita penting. Acara televisi jam sekian itu patut ditonton, kalau tidak bakal ketinggalan cerita. Koran yang terbaring di meja itu perlu dibaca, agar selalu tahu situasi terkini dunia.
Kota-kota besar menawarkan aneka kenikmatan duniawi. Kebanyakan orang harus pergi 'mengungsi' ke luar kota jika ingin mencari keheningan. Rumah-rumah retret menjadi incaran para penghuni kota-kota besar. Di sana, orang menemukan ketenangan dan kedamaian - sesuatu yang berbeda dari kesehariannya.
Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar tanpa harus pergi mencarinya ke tempat lain? Kehidupan spiritual bukanlah bagian terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kehidupan spiritual memayungi berbagai aktivitas manusia sehari-hari. Jika setiap warga kota besar telah menyadari hal itu dan dapat menghayati spiritualitas di tengah hingar-bingar suasana sekitarnya, maka sesuatu yang baik akan datang dari kota-kota besar.
Minggu, 26 Agustus 2012
Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga?
Pertanyaan yang Kau lontarkan kepada 12 rasulMu dalam bacaan Injil (Yohanes 6:67) hari ini menghujam hatiku. Dua hari lalu Kau telah mengingatkanku akan komitmenku. Aku setengah menyerah, meski dalam hati masih mencoba membela diri.Tetapi hari ini, ketika Engkau melontarkan pertanyaan itu - seolah langsung kepadaku - aku tertunduk dan menitikkan air mata penyesalan.
Mengapa aku tega meninggalkanMu demi memenuhi keinginanku? Bukankah jalan salib itu tidak enak - sementara aku mencari yang nikmat?
Ya, Tuhan, ke manakah aku akan pergi? Engkau telah menebusku dari segala dosa dan menarik aku dari jurang maut. Engkau senantiasa melingkupiku dengan CintaMu. Biarkan aku bertahan di jalan sempit ini bersamaMu sebagai tanda kasihku kepadaMu. Aku percaya, meski harus memanggul salib dalam kesendirian, Engkau akan menguatkanku, karena Engkau ada di dalamku dan aku ada di dalamMu. Inilah kemanisan salib.
Mengapa aku tega meninggalkanMu demi memenuhi keinginanku? Bukankah jalan salib itu tidak enak - sementara aku mencari yang nikmat?
Ya, Tuhan, ke manakah aku akan pergi? Engkau telah menebusku dari segala dosa dan menarik aku dari jurang maut. Engkau senantiasa melingkupiku dengan CintaMu. Biarkan aku bertahan di jalan sempit ini bersamaMu sebagai tanda kasihku kepadaMu. Aku percaya, meski harus memanggul salib dalam kesendirian, Engkau akan menguatkanku, karena Engkau ada di dalamku dan aku ada di dalamMu. Inilah kemanisan salib.
Minggu, 19 Agustus 2012
Inti Spiritualitas Kristiani
Dalam perkataanMu ini terkandung inti spiritualitas Kristiani: Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. (Markus 8:34)
Ada 3 hal yang Kau syaratkan untuk dapat mengikutiMu:
1. Menyangkal diri
Melalui penyangkalan diri, orang akan terbebas dari segala kelekatan duniawi. Egonya memudar sampai akhirnya lenyap, tidak lagi terbelenggu pada hal-hal yang inderawi.
2. Memikul salib
Setelah kedagingan (ego) ditundukkan, di tahap berikutnya Engkau mensyaratkan penyatuan roh denganMu. Memikul salib membutuhkan bukan hanya ketidaklekatan pada hal-hal duniawi yang kasat mata, melainkan juga kematian roh. Roh manusia tidak lagi berkuasa atas tubuh jasmani dan jiwanya, tetapi lenyap dalam Roh Ilahi. Kesatuan dengan RohMu membuat salib yang harus dipikul tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan.
3. MengikutMu
Setelah diri dan roh manusiawi lenyap, maka orang dapat mengikutMu dengan bebas tanpa terbelenggu. MengikutMu berarti mengarahkan pandangan senantiasa kepadaMu, agar tidak mengalami kemunduran dalam hidup spiritual. Di tahap inilah Roh Kudus berperan sebagai pemandu jalan. Roh Kudus menerangi budi dan batin, sehingga orang dapat memahami ajaran-ajaran yang telah Kau berikan semasa hidup di dunia. Dalam terang Roh Kudus dan berpedoman pada firmanMu, orang akan tetap berada di jalanMu.
Ada 3 hal yang Kau syaratkan untuk dapat mengikutiMu:
1. Menyangkal diri
Melalui penyangkalan diri, orang akan terbebas dari segala kelekatan duniawi. Egonya memudar sampai akhirnya lenyap, tidak lagi terbelenggu pada hal-hal yang inderawi.
2. Memikul salib
Setelah kedagingan (ego) ditundukkan, di tahap berikutnya Engkau mensyaratkan penyatuan roh denganMu. Memikul salib membutuhkan bukan hanya ketidaklekatan pada hal-hal duniawi yang kasat mata, melainkan juga kematian roh. Roh manusia tidak lagi berkuasa atas tubuh jasmani dan jiwanya, tetapi lenyap dalam Roh Ilahi. Kesatuan dengan RohMu membuat salib yang harus dipikul tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan.
3. MengikutMu
Setelah diri dan roh manusiawi lenyap, maka orang dapat mengikutMu dengan bebas tanpa terbelenggu. MengikutMu berarti mengarahkan pandangan senantiasa kepadaMu, agar tidak mengalami kemunduran dalam hidup spiritual. Di tahap inilah Roh Kudus berperan sebagai pemandu jalan. Roh Kudus menerangi budi dan batin, sehingga orang dapat memahami ajaran-ajaran yang telah Kau berikan semasa hidup di dunia. Dalam terang Roh Kudus dan berpedoman pada firmanMu, orang akan tetap berada di jalanMu.
Jumat, 17 Agustus 2012
Menguji Kesabaran
Menurut pemeriksaan dokter dan hasil cek darah di laboratorium, anak itu didiagnosis menderita sakit gejala typhus. Sebagai bagian dari upaya pemulihan terhadap usus halus yang luka, dokter melarang pasiennya itu makan makanan yang asam dan pedas serta berolahraga selama sebulan. Rambu-rambu yang diberikan sudah jelas. Namun, begitu mulai pulih kesehatannya, si anak merengek ingin memakan sambal dan berkeliling kompleks permukiman dengan sepedanya.
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)