Selasa, 06 Oktober 2026

Sepenuh Hati

Marta sibuk melayani Tuhan Yesus yang berkunjung ke rumahnya dengan menyediakan aneka hidangan. Sementara Maria lebih suka duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya. (lihat Lukas 10:38-42)

Pilihan yang diambil Marta dan Maria bukan soal perbedaan cara hidup aktif dan kontemplatif, tetapi lagi-lagi yang Tuhan pentingkan adalah bagaimana sikap hati seseorang terhadap Diri-Nya - cara kita menyembah dan mengabdi-Nya.

Marta mengabdi Tuhan dengan menyibukkan diri menyiapkan makanan. Ini suatu tindakan aktif yang baik, namun hati Marta tidak sepenuhnya berfokus pada pelayanannya. Sambil memasak, ia menggerutu dalam hati, kesal karena Maria tidak membantunya.

Tuhan tidak berkenan dengan sikap hati seperti itu, meskipun yang dilakukan Marta sebenarnya sangat baik. Bayangkan kalau ada tamu agung bertandang ke rumah kita, ingin santap siang bersama kita, tetapi kita tidak punya makanan apa-apa.

Maria, karena berada di hadapan Yesus, tentu saja seluruh dirinya terarah kepada perkataan-perkataan Yesus. Hati Maria fokus menyembah Yesus. 

Sepenuh hati - itulah yang Tuhan inginkan dari kita dalam menjalin relasi dengan-Nya.

Jumat, 02 Oktober 2026

Suam-Suam Kuku

Masuk kanal YouTube, tiba-tiba muncul tawaran menyaksikan video ceramah Uskup Agung Fulton J. Sheen - yang pada 24 September lalu dianugerahi gelar Beato oleh Gereja Katolik. 

Video berdurasi 41 menit itu bertutur tentang perilaku umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah - mengikuti perayaan Ekaristi atau berdevosi. Menurut Beato Fulton Sheen dalam pengajarannya, mengutip pengalaman Santo Pio dari Pietrelcina, umat beriman yang bersikap suam-suam kuku dalam beribadah merupakan orang-orang yang paling banyak tinggal di api penyucian.

Beato Fulton Sheen lalu memaparkan pengalaman seorang imam muda yang datang berkonsultasi ke Padre Pio di biara San Giovanni Rotondo. Imam itu merasa paroki yang dipimpinnya dalam kondisi sekarat. Sebanyak 800 umat tetap rutin beribadah, tetapi tidak memiliki nyala 'api' yang hidup.

Jika Anda ingin mengetahui detail pemaparan Beato Fulton Sheen, dapat menyaksikan di link YouTube ini:

 https://www.youtube.com/watch?v=q1P9BmLxUQQ

Tayangan video itu membuat kita semakin menyadari, menjalin relasi erat dengan Tuhan bukan soal berapa banyak waktu kita habiskan dalam satu hari untuk berada di hadirat-Nya, tetapi lebih pada di mana hati kita berada pada saat kita mendekatkan diri kepada Tuhan?

Kamis, 01 Oktober 2026

Seperti Anak Kecil

Santa Theresia Lisieux atau yang dikenal sebagai Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, masuk biara kontemplatif Karmel Tak Berkasut (OCD) di usia 15 tahun. Hanya 9 tahun ia hidup membiara. Penyakit TBC merenggut nyawanya pada 30 September 1897.

Dalam upaya menghidupi panggilannya di biara, Santa Theresia membaca riwayat para kudus Karmelit seperti Santa Teresa Avila dan Santo Yohanes Salib. Tetapi ia merasa dirinya sangat kecil, sulit sekali mengikuti jalan kekudusan yang hebat dari para pendiri ordo Karmel Tak Berkasut itu.

Permenungannya membawa Santa Theresia Lisieux pada penemuan Jalan Kecil-nya yang mengagumkan. Ia memilih menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan Yesus. Ia membiarkan dirinya dibimbing Tuhan setiap hari - melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan cinta yang besar, sepenuh hati.

Hari ini, kita merayakan pesta Santa Thersia Lisieux. Ternyata, pedoman hidupnya yang sangat sederhana seperti anak kecil, justru membuatnya menjadi orang kudus yang besar. Jalan Kecil yang dihidupinya menjadi inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia. Santo Paus Yohanes Paulus II menggelarinya Pujangga Gereja tahun 1997.  

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:13-14)

Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus, doakanlah kami agar dapat mengikuti Jalan Kecil-mu setiap hari.


Jumat, 25 September 2026

Kekekalan di Hati Manusia

Tak ada yang abadi di dunia ini. Seperti ditulis Pengkhotbah, "Untuk segala sesuatu ada waktunya." (Pengkhotbah 3:1-15)

Tetapi, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati manusia (lihat Pengkhotbah 3:11a).

Yang kekal dan abadi ada di dalam Hati manusia. 
Tuhan sendiri yang menanamkannya. 
Apakah kita menyadarinya?

Jumat, 18 September 2026

Mega-trust

Letak negara Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (ring of fire) - jalur berbentuk tapal kuda dengan banyak gunung berapi aktif sepanjang sekitar 40.000 km di sekeliling Samudra Pasifik.  

Dengan kondisi teritorial seperti itu, ancaman megathrust membayangi. Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik di bumi, serta bisa memicu gempa bumi sangat besar dan tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat Indonesia, agar siap siaga menghadapi ancaman megathrust.

Tak dapat dipungkiri, setelah Anak Krakatau erupsi, ancaman megathrust sepertinya tampak nyata. Muncul kekhawatiran sangat besar. Kita patut berjaga-jaga dan waspada, namun tak perlu sampai ketakutan membelenggu hidup kita.

Hadapilah ancaman megathrust dengan mega-trust. Perteguh iman dan harapan kita kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Tekunlah memohon dalam doa-doa kita, agar kerahiman-Nya menjauhkan segenap makhluk ciptaan-Nya dari bencana alam yang mematikan.

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?" (Lukas 12:25-26)

Senin, 14 September 2026

Angin Menerbangkan Debu

Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, erupsi. Debu vulkaniknya tertiup angin ke arah barat, memenuhi udara, melintasi sekitar 158 kilometer sampai ke kota Jakarta.

Muncul himbauan bagi warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup jendela-jendela, memakai masker guna menghindari paparan debu vulkanik.

Debu vulkanik yang partikelnya sangat kecil saja bisa diterbangkan angin, melintasi perairan dan pulau, mendarat di halaman rumah kita. 

Pernahkah kita bayangkan, hembusan Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan ke atas dunia? Tentu kecepatannya lebih dahsyat dibandingkan kecepatan debu vulkanik memenuhi udara Ibu Kota. 

Jika debu vulkanik yang berupa partikel sangat kecil mampu melintasi jarak sekian puluh kilometer menjangkau suatu tempat, apalagi Roh Tuhan yang tak terlihat dengan kemampuan menerobos pikiran dan hati manusia.

Fenomena alam masih ada keterbatasannya. 
Kuasa Tuhan tiada batasnya. 

Selasa, 08 September 2026

Ketulusan

Sikap batin yang sangat langka,
di tengah dunia yang kian materialistis,
ditunjang makin maraknya media sosial.
 
Ketulusan ditandai hati yang jujur,
tidak berpura-pura,
berbuat tanpa pamrih.

Ketulusan kunci kelanggengan relasi,
yang didamba untuk dijumpai,
di hamparan aneka topeng

Ketulusan muncul dari hati yang mencinta,
pancaran kesahajaan tanpa kepalsuan,
pesona yang membangkitkan harapan.

Sabtu, 22 Agustus 2026

Misteri

Ada kalanya kita tak dapat memahami sikap seseorang,  
sekalipun ia orang yang cukup dekat dengan kita.
Tak semua hal bisa dimengerti dengan nalar,
tetap ada misteri dalam diri setiap insan.
 
Biarlah yang tak dapat dipahami tetap tinggal sebagai misteri,
menggoreskan keunikan tanpa menuntut kejelasan.
Seperti Tuhan pun menyimpan misteri
dalam relung kehidupan setiap kita.
 

Selasa, 11 Agustus 2026

Lima Belas Tahun Penuh Makna

Ketika mulai mengunggah tulisan pertama di blog ini 11 Agustus 2011, yang terbersit dalam hati hanyalah keinginan untuk mengutarakan dan membagikan percikan aneka pengalaman saat berjalan bersama Tuhan.

Tuhan yang penuh misteri dan kejutan; yang berusaha kudekati dan kenali dengan segala dinamika-Nya. Di padang gurun yang kering, di bukit yang hijau, di gunung berangin kencang, di lembah penuh bunga, di tepi laut bergelombang besar, di danau yang teduh - pada kehidupan seperti itulah aku terus berjalan bersama-Nya.

Sejumlah warganet menemukan blog ini, menyimak tulisan-tulisan di sini. Kepada Anda sekalian yang dengan setia pada saat-saat tertentu mengklik blog ini dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya, dari hati terdalam kuhaturkan beribu terima kasih.

Kita memang tidak saling mengenal dalam tatapan mata, tetapi hati kita menyatu dalam pesona kasih Allah Tritunggal dan Bunda Maria. Berusaha memetik hikmah dalam peziarahan di dunia ini. Semoga yang dibagikan di sini dapat memberi makna kepada kehidupan Anda sekalian. 

Peziarahan kita masih berlanjut, sampai setiap kita tiba di pintu gerbang Kerajaan-Nya yang abadi. Marilah terus berjalan bersama-Nya.

Aku tak tahu ke mana Ia melangkah. Terkadang Ia membawaku melalui rerumputan yang lembut, kali lain Ia mengajakku melewati jalan berbatu. Jalan apa pun yang ditempuh-Nya, aku selalu mengiringi-Nya, karena aku adalah alas kaki-Nya. 

Tuhan, Engkau penuh misteri dan selalu punya kejutan. Untuk semua ini aku bersyukur.

Jumat, 07 Agustus 2026

Bangga Punya Relasi

Melihat seorang selebriti, dengan penuh kebanggaan seorang kawan berujar, "Dia itu temannya temanku waktu di SMA." Kawan yang lain tak mau kalah, "Pejabat itu saudara sepupu kakak ipar ibuku."

Sering kali kita merasa bangga memiliki percikan relasi dengan orang-orang terkemuka; meskipun percikan itu hanya setitik dan relasi mungkin sebatas tahu nama, tetapi tidak mengenal orang yang dibanggakan itu.

Mengapa kita begitu ingin dipandang sebagai orang yang punya relasi dengan para tokoh terkenal? Manfaat apa yang diperoleh, jika kita punya relasi - meski sangat jauh bahkan mungkin hanya kenal nama - dengan orang-orang terkemuka?

Ada Tokoh sangat tersohor, dikenal hampir oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. Namanya: Yesus Kristus. Anda tentu kenal juga.

Apakah kita merasa sangat bangga karena telah mengenal-Nya? Apakah kita akan memberitahu orang-orang di sekitar kita bahwa kita punya relasi yang dekat dengan Tokoh terkenal ini?

Dialah Sahabat Sejati kita, seperti yang diungkapkan Joseph Scriven dalam lirik lagu What a Friend We Have in Jesus. Sebagian terjemahannya:

Sungguh indah Sahabat kita, Yesus
yang menanggung segala dosa dan duka kita
Sungguh suatu anugerah 
dapat membawa segala sesuatu kepada Allah dalam doa

Adakah Sahabat yang begitu setia,
yang mau turut merasakan segala duka kita?
Yesus mengetahui segala kelemahan kita,
bawalah itu kepada Tuhan dalam doa

Mulai sekarang, berbanggalah karena kita punya relasi yang dekat dengan Tuhan Yesus Kristus.

Kamis, 30 Juli 2026

Beda ke Pasar dengan ke Gunung

Tentu ada perbedaan antara kita akan pergi ke pasar atau kita akan mendaki ke gunung. 

Kalau mau ke pasar, kita tahu pasar mana yang dituju, jalan untuk sampai ke sana sudah tergambar dengan jelas. Sedangkan saat kita akan naik ke gunung, meskipun kita tahu gunung yang dituju, kita belum tahu secara pasti jalan untuk sampai ke puncaknya.

Perjalanan spiritual lebih seperti perjalanan mendaki ke gunung. Tujuannya sudah jelas: Kerajaan Allah. Jalan untuk mencapai "gunung" itu sudah tergambar, namun ketika kita menempuh jalan itu, terkadang kita menemukan "jalan" yang bercabang. Muncul keraguan, jalan mana yang harus kita pilih. 

Perjalanan berlanjut, muncul tantangan-tantangan lain. Para pendaki gunung memakai kompas untuk menentukan arah yang akan dijalani. Kita pun perlu "kompas" yakni Firman Tuhan untuk memastikan kita berada di jalan yang benar mencapai tujuan. 

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya..... Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. (Mazmur 119:97-98, 101)

Minggu, 19 Juli 2026

Gandum dan Lalang - Tanda Kepercayaan Tuhan

Perumpamaan gandum dan lalang dalam Matius 13:24-30, memberi kita pemahaman tentang kepercayaan Tuhan kepada anak-anak Kerajaan Allah.

Ketika melihat ada lalang di antara gandum, hamba-hamba pemilik ladang bertanya kepada pemilik ladang; apakah Tuan mau supaya lalang dicabut? Tetapi, tuannya mengatakan, kalau lalang dicabut, mungkin nanti ada gandum yang ikut tercabut. "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai." (Matius 13:30a)

Dalam penjelasan tentang perumpamaan lalang dan gandum, Yesus mengatakan:

- Ladang = dunia

- Orang yang menabur benih yang baik = Anak Manusia

- Benih yang baik = anak-anak Kerajaan Allah

- Musuh yang menabur lalang = iblis

- Benih lalang = anak-anak si jahat

- Waktu menuai = akhir zaman

Mencermati perumpamaan itu, tak perlu lagi kita mempertanyakan ada orang-orang jahat di dunia ini. Memang Tuhan membiarkan anak-anak Kerajaan Allah hidup berdampingan dengan anak-anak si jahat. Mengapa?

Seorang imam yang membawakan homili tentang perumpamaan ini, mengungkapkan hal menarik: Anak Manusia (Yesus) tidak setuju hamba-hamba-Nya mencabuti lalang, karena sebagai Penabur, Yesus yakin benih-benih yang ditabur-Nya adalah benih-benih yang baik. Benih-benih yang baik akan dapat bertahan terus sampai waktu menuai tiba. 

Bagaimana dengan kita? Sebagai anak-anak Kerajaan Allah, apakah kita sanggup bertahan di tengah berbagai tantangan zaman ini, di antara lalang-lalang yang mencoba menjerat kita dengan bermacam daya tarik dunia?

Sang Penabur benih yang baik menaruh kepercayaan-Nya yang besar kepada kita. Ia berharap, pada akhir zaman Ia akan melihat orang-orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa (lihat Matius 13:43).

Kamis, 16 Juli 2026

Penyembuhan Sejati

Belakangan ini marak ibadat dan sarasehan bertema penyembuhan. Tema penyembuhan bagai magnet berdaya besar yang menarik umat datang. Ada orang-orang yang selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan rohani untuk penyembuhan.

Ada pula yang sama sekali tidak tergerak mengikuti acara-acara penyembuhan; meskipun menghadirkan imam-imam dengan kuasa menyembuhkan, atau pembicara-pembicara terkenal yang ceramahnya sangat pas menghibur kecemasan dalam hati.

Sebagai manusia, kita semua menerima salib sakit-penyakit. Apalagi dengan usia makin bertambah, kita semua tak luput dari penyakit-penyakit degeneratif. Kita percayakan saja semuanya kepada Sang Pencipta dan Penyelenggara Kehidupan. 

Meski tubuh fana ini kian rapuh digerus berbagai penyakit seiring penuaan, marilah kita merangkul salib ini dengan hati penuh kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Cukuplah kita mendekat ke Ibu Surgawi Tersuci, yang menjadi Pengantara Segala Rahmat Allah, agar ia bermurah hati menyembuhkan kita seturut kasih karunia Tuhan.

Pada saat seluruh kedirian kita telah mencapai titik penerimaan diri dalam kepasrahan kepada Tuhan, maka akan terjadi penyembuhan yang sejati; yang melampaui segala sakit. Karena sudah tidak ada lagi pergumulan, hati kita diliputi rasa damai.

Rabu, 01 Juli 2026

Kebersamaan Kita

Bacaan dari kitab Hosea 2:14-20 sangat mengena di hatiku, ya Tuhan. Seperti itulah aku merasakan, kehadiran-Mu dalam kehidupanku. Engkau telah membujukku untuk mau berjalan bersama-Mu di padang gurun. Di sanalah Engkau menenangkan hatiku. Melalui berbagai tantangan dan pencobaan yang aku alami ketika "menggarap kebun anggur" yang Engkau berikan kepadaku, aku belajar mengenal-Mu dan tetap menujukan pandanganku kepada-Mu.

Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!... Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. (Hosea 2:16, 19-20)

Terima kasih, Allah Tritunggal dan Bunda Maria!


Senin, 15 Juni 2026

Sepuluh Tahun Silam

Terima kasih sapaan kasihmu, Ibu Surgawi
yang membuatku sadar dan berbalik ke jalan Tuhan
Berjumpa denganmu laksana menemukan mutiara 
yang selama ini tak terlihat 
Untuk itu aku sangat bersyukur dan bertekad
tak akan menjauh darimu selamanya
 

Sabtu, 13 Juni 2026

Tidak Tahu Dosa

Sejak Santa Perawan Maria masih kanak-kanak, orang tuanya menyerahkan putri mereka ke Bait Allah. Maria kecil tumbuh dalam lingkungan yang mengutamakan kesucian. Ia tidak tahu tentang bermacam dosa dan kejahatan di sekitarnya. Hatinya menjadi suci dan tidak ternoda oleh dosa.

Kita hidup di tengah dunia yang mengedepankan kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Keinginan menonjolkan diri, menumpuk harta, ambisi menjadi penguasa - dalam skala apa pun; membuat manusia bersaing. Muncul sikap iri hati, melakukan dan membenarkan segala cara untuk menjadi yang berkuasa, berharta, dan berjaya. Akibatnya, manusia kehilangan kesucian hatinya.  

Di hari peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, kita dapat belajar darinya. Kita berupaya memiliki hati yang suci dengan selalu mengarahkan hati kita kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Perawan Tersuci semasa hidupnya di dunia.

Jumat, 12 Juni 2026

Menyelami Hati Mahakudus Yesus

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Matius 11:29)

Dengan memiliki hati yang lembut dan rendah hati, seperti Kristus sendiri, kita dapat menyelami rahasia Hati-Nya yang Mahakudus. 


Rabu, 03 Juni 2026

Ketulusan Hati

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketulusan adalah kejujuran yang sepenuhnya keluar dari lubuk hati yang suci. Wikipedia menyatakan yang senada: Ketulusan adalah suatu kualitas kesungguhan dan kebersihan hati yang tidak berpura-pura, jujur, dan lurus.  

Dari kedua penjabaran di atas, ketulusan berkaitan erat dengan hati. Orang yang tulus memiliki hati yang bersih, suci, tanpa kepura-puraan, dan jujur. 

Di tengah era yang sarat kepalsuan dalam tampilan wajah-wajah bertopeng saat ini, ketulusan hati mutlak dibutuhkan untuk dapat tetap hidup bersih dan suci di hadapan Tuhan dan sesama. 

Raja Daud meyakini ia hidup dengan ketulusan, maka dengan berani ia berkata, "Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu." (Mazmur 7:4-6) 

Raja Daud juga meminta, agar Tuhan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. (Mazmur 125:4-5)

Sudahkah kita hidup dengan ketulusan hati? Adakah kita menampilkan wajah asli kita, atau kita terbiasa memakai topeng-topeng untuk mengamankan diri kita dalam interaksi dengan orang-orang yang kita anggap dapat menyingkap wajah asli kita?

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Sabtu, 30 Mei 2026

Wajah yang Adem

Keprihatinan mendalam terhadap sepak-terjang kecerdasan buatan, mendorong Paus Leo XIV menyampaikan pesan bertajuk “Menjaga Suara dan Wajah Manusia,” pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tahun 2026.

Menurut Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik ke-267 ini, wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci karena merupakan anugerah Allah, yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Jangan sampai teknologi digital secara mendasar mengubah pilar-pilar penting peradaban manusia. Karena itu Paus Leo XIV berpendapat, tantangan utama kita bukan sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Perhatikanlah wajah orang-orang kudus. Satu ciri utama yang tampak adalah wajah mereka yang adem – memancarkan aura positif, tenang dan damai. Tentu mereka tidak berpura-pura atau memakai topeng. Mereka berwajah adem karena memancarkan kasih Kristus dari hati mereka.

Bandingkan wajah-wajah kreasi aplikasi Artificial Intelligence (AI) yang bertebaran di media sosial. Secara visual wajah-wajah ini memang kelihatan menarik, tetapi kalau diperhatikan tak ada kedalaman jiwa pada wajah-wajah kreasi mesin. Mereka bagaikan manusia tak berhati.

Manusia sebagai pelaku teknologi, perlu menjaga martabat dan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Cara pandang manusia dalam memanfaatkan teknologi, perlu diluruskan. Berkaca pada pengalaman para kudus, dua hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga wajah dan suara kita tetap otentik adalah menjalin relasi akrab dengan Tuhan, serta memiliki hati murni dan suci.

 

Relasi Akrab dengan Tuhan

Ketika menciptakan manusia, Allah memateraikan martabat luhur dengan menjadikan manusia menurut gambar-Nya (bdk. Kejadian 1:27). Inilah wajah asli manusia yang secitra dengan Sang Pencipta.

Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri menyatakan Ia menyinari dan menghadapkan wajah-Nya  kepada manusia untuk memberi kasih karunia dan damai sejahtera (bdk. Bilangan 6:25-26).

Keadaan kini berbeda. Di era modern ini AI terus menggerus keberadaan dan peran Tuhan dalam hidup manusia. Wajah-Nya tertutup chatbot – asisten virtual berbasis AI. Manusia jadi terbiasa mengejar jawaban instan atas berbagai pertanyaan dan permasalahan hidupnya.

Orang cenderung tidak sabar, ingin segera mendapat jawaban pasti. Padahal, berelasi dengan Allah butuh kesabaran dan kesetiaan, seperti ditunjukkan Abraham ketika berpuluh tahun menanti anak yang dijanjikan Tuhan.

Perlu pula disadari bahwa martabat, identitas, dan relasi manusia tidak dapat digantikan mesin. “Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama,” pesan Paus Leo XIV.  

Inilah tantangan iman di zaman sekarang. Manusia perlu terus menjalin relasi akrab dengan Tuhan,  agar tetap memiliki wajah aslinya; seperti ketika Allah menciptanya.

 

Hati Murni dan Suci

Manusia berbeda dengan robot. Manusia memiliki hati yang terpaut kepada Sang Penciptanya, karena Tuhan telah menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati manusia. Ketika Kain marah dan membenci adiknya, Tuhan menegurnya, “Mengapa hatimu panas dan wajahmu muram? Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kejadian 4:6-7a)

Raut wajah mencerminkan hati. Tatkala orang menolak berelasi akrab dengan Tuhan, terhanyut hal-hal duniawi yang berlebihan; hati nuraninya menjadi tumpul. Kepentingan diri dikedepankan, daripada kebaikan dan kepentingan orang lain.

Cermati gerak batin kita saat melihat aneka konten di media sosial. Kita mungkin seperti Kain yang panas hati, ketika melihat orang-orang memamerkan diri atau gaya hidup (flexing) di media sosial. Hindarilah kekeruhan hati, yang menghambat kita berelasi akrab dengan Tuhan.

Memiliki hati murni dan suci, membuat kita hidup dalam ketulusan dan kejujuran. Kita bertindak berdasarkan suara hati; bukan menurut kata orang di media sosial, bukan pula berdasarkan tanggapan dan keputusan yang disodorkan AI.

Kata Bapa Suci Paus Leo XIV, kalau kita menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin, berarti kita mengubur talenta yang kita terima dari Tuhan untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Sama saja dengan kita menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Hati murni dan suci mutlak kita perlukan, di dunia saat ini yang sarat kepura-puraan dan kebohongan. Hoaks telah menggunung, menyurutkan kepercayaan. Tak ada rambu-rambu kebenaran yang jelas di media sosial. Kita sendirilah yang perlu menegakkan batasan-batasannya berdasarkan hati nurani.

 

Pertahankan Wajah yang Adem

Kehidupan manusia sepertinya dimudahkan dengan keberadaan AI, namun sejatinya kemanusiaan kita tengah digerogoti perlahan tetapi pasti. Menyisakan manusia tanpa hati.

Di tengah ingar-bingar kecerdasan buatan, kita bisa belajar dari para kudus. Semasa hidup di dunia, orang-orang kudus menjadikan Yesus Kristus Sang Sumber Kekudusan dan Bunda Maria yang hatinya tak bernoda sebagai junjungan dan panutan mereka. Dari Kristus dan Bunda-Nya mereka menimba kekudusan, yang membuat wajah mereka adem.

Wajah yang adem memancarkan pesona yang berasal dari dalam diri (inner beauty), melampaui penampilan fisik yang bersifat sementara. Inilah yang patut kita pertahankan melawan gempuran AI.

Tukarlah waktu kita berkutat di media sosial dengan memeluk keheningan. Dalam hening, kita berhadapan dengan wajah Tuhan yang menyinari kita. Lakukanlah tanpa jemu setiap hari dengan hati murni dan suci, niscaya perlahan tetapi pasti, wajah kita menjadi adem.

Wajah yang adem, memancarkan ketulusan tanpa kepalsuan.

Wajah yang adem, tak mudah dipengaruhi kecerdasan buatan.

Wajah yang adem, membuat suara tenang membawa harapan.

Bersama Santo Paulus kita dapat berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa hati nurani kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” (2 Korintus 1:12)

[Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan di lingkup Gereja Katolik Indonesia] 

 

 

 

Selasa, 26 Mei 2026

Percaya dan Bertahan

Ketika dilanda masalah - apa pun persoalan hidup yang kita hadapi, termasuk penyakit; sering kali kita tak sabar menanti penyelesaiannya. Kita berusaha keras percaya dan berserah kepada Tuhan, namun kenyataan sehari-hari mencuatkan keraguan. 

Di tengah penantian tak berujung, kerap kita bertanya: kapankah Tuhan akan menolong dan mengabulkan doaku?

Pengharapan tidak mengecewakan, itulah yang diyakini Paus Fransiskus. Kalimat Santo Paulus dalam Roma 5:5 tersebut digunakan Bapa Suci sebagai tema Tahun Yubileum 2025.  

Tujuh tahun aku menanti penyelesaian suatu masalah. Bagai janda di Sarfat, harapan itu pupus digerus penderitaan (lihat 1 Raja-Raja 17:7-24). Beberapa kali, terlontar pertanyaanku kepada Paus Fransiskus, "Bapa Suci, engkau meyakini pengharapan tidak mengecewakan. Benarkah demikian?" 

Tetapi tanpa berpaling, aku terus bertahan dengan mencontoh Bunda Maria. Melakukan semua kewajiban dan kegiatan, meski dengan langkah tertatih-tatih. Sampai tiba hari ini, ketika Tuhan dengan cara-Nya yang ajaib, melalui Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat, melimpahkan berkat-Nya yang sangat besar.  

Lewat tulisan ini, aku mau bersaksi. Sungguh, tak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali percaya penuh kepada Tuhan dan bertahan sekuatnya, di tengah penderitaan dan pencobaan.

Teruslah menghidupkan pengharapan dalam melewati badai kehidupan. Percaya selalu akan kasih setia Tuhan dan penyelenggaraan-Nya yang tepat pada waktu-Nya. Bertahan dalam situasi tersulit, di tengah gempuran duniawi. Selalu ada solusi, bagi yang menaruh harapan kepada-Nya.