Senin, 25 Desember 2017

Melahirkan Kristus

Kristus telah lahir ke dunia dari Perawan Maria. Kita pun dapat melahirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari dengan cara  berpikir dan bertindak seperti Kristus.

Minggu, 10 Desember 2017

Satu Hari dan Seribu Tahun

Saudara-saudara terkasih, hal yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari. (2 Petrus 3:8)

Di mata Tuhan tak ada konsep waktu. Dahulu, sekarang, nanti - semua berada dalam satu titik yang sama. Contohnya, pada penampakan ke-6 atau terakhir, tanggal 13 Oktober 1917. Terdapat tiga wujud penampakan:

Pertama: Keluarga Kudus - Santo Yusuf, Kanak-Kanak Yesus, dan Bunda Maria. Santo Yusuf dan Kanak-Kanak Yesus membuat tanda salib memberkati dunia.
Kedua: Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Tuhan Yesus membuat tanda salib memberkati dunia.
Ketiga: Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.  

Dipandang dari sudut manusia, muncul pertanyaan: mengapa Yesus mula-mula berwujud anak kecil, lalu seketika berubah dalam wujud Yesus yang telah dewasa? Dalam hal inilah kita dapat memahami, arti satu hari dan seribu tahun dalam sudut pandang Allah. 

Jumat, 08 Desember 2017

Tanpa Noda

Aku percaya, saat engkau dikandung dalam rahim ibumu,
engkau tidak tercemari dosa asal.

Keyakinanku hanya didasari pemahaman sederhana:
Allah yang Maha Suci, Maha Agung, Maha Mulia,
tentu akan memilih tempat yang suci, agung, dan mulia bagi Diri-Nya,
saat Ia memutuskan untuk menjelma menjadi Anak Manusia.

Dan sebagai Allah yang Maha Kuasa, tiada yang mustahil bagi-Nya.
Maka, engkau telah dipersiapkan-Nya jauh sebelum engkau dilahirkan,
supaya engkau layak mengandung Sang Mesias dalam rahimmu.

Terpujilah engkau, ya Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda.

Sabtu, 02 Desember 2017

Dukacita Surgawi dan Duniawi


Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.(2 Korintus 7:10)

Ketika yang kuharapkan tidak terjadi, aku berduka.
Namun, kepahitan yang kualami itu, aku imani sebagai kehendak Tuhan.
Aku menyadari, rancangan Tuhan jauh lebih indah daripada rancanganku.
Aku tidak menyalahkan Tuhan atas apa yang telah menimpaku.
Aku bertobat atas kelancanganku tidak mengandalkan Tuhan.
Pertobatan itu membawa keselamatan bagiku.
Aku percaya Tuhan mengampuniku.
Aku melangkah maju lagi dengan berpaut kepada-Nya.

Jumat, 01 Desember 2017

Doa Kesatuan Dua Hati



Misi abadi Kedua Hati ini adalah pemberian silih kepada Hati Mahakudus Yesus dan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, yang terluka oleh dosa-dosa manusia; agar terjadi penyelamatan bagi semakin banyak jiwa pendosa yang terhilang. 

Hati Mahakudus Yesus, melalui Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, dan dalam persatuan dengan kurban misa di seluruh dunia, kami mempersembahkan seluruh diri kami kepada-Mu, doa-doa, pekerjaan, suka-duka, dan penderitaan hari ini. Kami mempersembahkan tubuh, jiwa, dan roh kami; perjuangan spiritual, pergumulan, niat baik, dan kesehatan kami; serta keluarga, kerabat, teman, dan semua milik kami.

Kami mempersembahkan segalanya itu kepada kedua Cinta Kudus dari Dua Hati-Mu, untuk menjadi silih bagi penebusan dosa dan menghibur Hati-Mu atas segala penghinaan dan luka yang menusuk Hati-Mu karena tindakan penyerangan dan sikap tidak acuh dari jiwa-jiwa yang terhilang di seluruh dunia, serta untuk persatuan umat Kristiani, baik melalui komitmen diri maupun dalam persatuan dengan komunitas kami. Dengan pertolongan-Mu dan persembahan diri kami, kiranya dapat terpenuhi hasrat kami untuk dapat menarik jiwa-jiwa kepada-Mu.

Berilah kami masa pemerintahan selamanya dari Hati Mahakudus Yesus dan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda – di Indonesia, di Asia, di Eropa, di Amerika, di Australia, di Afrika, sampai ke ujung-ujung bumi.

Oh, Hati Mahakudus Yesus, dengan perantaraan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, terimalah persembahan diri kami. Jagalah kami agar tetap setia sampai mati. Berilah kepada kami kelak, rumah yang bahagia di Surga, di mana kami hidup selamanya bersama Allah Bapa dan Roh Kudus, serta Engkau, Yesus, bersama dengan Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda. Amin.

Sabtu, 18 November 2017

Adakah Iman di Bumi?

".... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8)

Pertanyaan Yesus itu sungguh mengejutkan, seolah Ia meragukan kelak pada saat Ia datang kembali,  masih ada orang beriman di bumi.
Sekaligus pertanyaan Yesus itu menjadi tantangan buat kita para pengikut-Nya: apakah kita mau tetap mempertahankan iman kepada Kristus, meskipun menghadapi berbagai tantangan hidup dan pencobaan yang sangat berat.

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. (2 Korintus 13:5)

Selasa, 14 November 2017

Gerutu yang Sia-Sia

Sebab telinga-Nya dengan cemburu mendengar segala sesuatu, malah bunyi gerutu pun tak tersembunyi. Jadi, waspadalah terhadap gerutu yang sia-sia, dan awasilah lidahmu agar jangan memfitnah. Karena omongan tersembunyi pun pasti ada akibatnya.... (Kebijaksanaan 1:10-11)

Nasihat dalam kitab Kebijaksanaan ini patut dicermati. Kita harus waspada, jangan sampai mulut kita mengucapkan gerutu yang sia-sia. Sebab, telinga Tuhan sangat tajam, bahkan dapat mendengar gerutu maupun omongan yang tersembunyi. Dan semua ada ganjarannya.

Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! (Mazmur 141:3)

Rabu, 01 November 2017

Murni dan Suci

Memiliki hati yang murni adalah langkah awal mencapai kesucian. Namun, hati yang murni belum cukup untuk menjadikan seseorang suci.

Manusia dapat melakukan berbagai upaya untuk menjadikan hatinya murni, antara lain dengan berkata dan bertindak jujur, berpikiran positif dalam segala hal, memandang dan memperlakukan orang lain dengan penuh ketulusan.

Tetapi, untuk menjadi suci manusia membutuhkan sentuhan Ilahi. Manusia yang telah murni hatinya perlu menjalin relasi yang akrab dengan Allah Tritunggal lewat doa dan kontemplasi. Hanya Yang Mahakuasa dapat menjadikan manusia suci.

Itulah yang diteladankan para kudus, orang-orang pilihan Allah. .... mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba (Wahyu 7:14)  

Selasa, 31 Oktober 2017

Menanti dengan Tekun

Pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:24-25)

Bunda Maria menjadi teladan kita dalam menanti dengan tekun.

Setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel, Bunda Maria menanti dengan tekun penggenapan janji ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.  

Ketika Yesus dipaku di kayu salib, Bunda Maria menanti dengan tekun kebangkitan Yesus dari antara orang mati, seperti telah dinyatakan-Nya ketika masih berada di tengah para murid-Nya. 

Setelah Yesus naik ke Surga, Bunda Maria menanti dengan tekun bersama para rasul akan turunnya Roh Kudus.

Menanti dengan tekun mengandung makna bukan sekadar menanti, melainkan menanti dengan penuh pengharapan disertai iman bahwa hal itu akan terjadi.


Kamis, 19 Oktober 2017

Penyerahan kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda

Mengapa kita perlu menyerahkan diri kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda? Tidak cukupkah kita hidup sebagai orang Katolik yang baik dengan menerima Sakramen-Sakramen yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja-Nya?

Menurut Father Laurent Larroque, Direktur Gerakan Imam Maria Internasional, penyerahan diri atau konsekrasi kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda mutlak diperlukan di masa ini.

Dalam Homili yang disampaikan Father Laurent pada Misa Senakel di Gereja Santa Anna Jakarta pada pertengahan Oktober silam, beliau mengutip perkataan Paus Yohanes Paulus II yang berujar: "Abad terakhir ini adalah abad yang dikuasai setan. Peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima merupakan panggilan untuk bertobat. Wanita berselubungkan matahari telah turun dari Surga sesuai rencana Allah. Ia berbicara kepada tiga anak gembala di Fatima pada masa lalu, dan kepada kita sekarang dengan hati seorang ibu. Bunda Maria mengajak kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah.” 

Lebih lanjut Father Laurent menegaskan,  setan telah menguasai sebagian besar dunia ini, bahkan sudah masuk ke dalam Gereja. Bunda Maria berkata, “Hanya mereka yang menyerahkan diri kepada Hatiku yang Tak Bernoda akan mampu bertahan dalam iman Katolik di masa pertentangan ini.

Kita dapat memakai analogi bahtera nabi Nuh. Mereka yang tidak masuk ke dalam bahtera akan tenggelam dalam air bah. Saat ini, siapa yang tidak masuk ke dalam Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda akan dihancurkan dan ditenggelamkan oleh berbagai kesesatan, demikian cuplikan Homili Father Laurent.

Di bawah ini disertakan Doa Penyerahan kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, yang merupakan salah satu unsur penting dalam Doa Senakel. Doa ini dapat didaraskan setiap hari, setiap minggu, setiap Sabtu Pertama dalam bulan; sesuai kecintaan Anda kepada Bunda Maria.

Doa Penyerahan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda 

Perawan Fatima, Bunda yang penuh belas kasih, Ratu surga dan bumi, perlindungan orang berdosa, kami yang bergabung dalam Gerakan Imam Maria menyerahkan diri secara khusus kepada Hatimu Yang Tak Bernoda. 

Dengan Doa Penyerahan ini, kami bermaksud untuk hidup bersamamu dan melalui dikau, melakukan kewajiban yang kami terima dari janji pembaptisan kami. Selanjuutnya kami berjanji untuk sungguh mengusahakan pertobatan batin yang amat dituntut oleh Injil, suatu pertobatan yang akan membebaskan kami dari setiap keterlibatan diri dan mudahnya berkompromi dengan dunia; hingga seperti engkau, kami hanya bersedia melakukan kehendak Bapa.

Kepadamu, kami ingin memasrahkan hidup Kristiani dan panggilan kami, dengan demikian engkau dapat menggunakan diri kami, dalam rangka penyelamatan, pada saat-saat yang menentukan bagi dunia, sekarang ini.

Kami berjanji akan hidup menurut yang engkau inginkan, terutama yang berkenaan dengan pembaharuan kehidupan doa dan silih kami, terlibat secara sungguh dalam Perayaan Ekaristi dan kerasulan, berdoa Rosario setiap hari, dan sikap hidup yang cermat sesuai dengan Injil, yang bagi semua orang merupakan contoh ketaatan terhadap hukum Allah dan penghayatan keutamaan Kristiani, terutama dalam hal kemurnian.

Kami berjanji kepadamu, untuk bersatu dengan Bapa Suci, tata pimpinan Gereja dan iman kami, dan dengan demikian membangun benteng terhadap usaha penolakan akan wewenang mengajar, yang mengancam dasar Gereja yang paling hakiki. 

Di bawah perlindunganmu, kami ingin menjadi rasul dalam kesatuan doa yang amat diperlukan ini dan demi cinta kepada Bapa Suci. Bagi beliau, kami memohonkan perlindungan yang khusus.

Akhirnya, kami berjanji untuk membawa sebanyak mungkin, jiwa yang kami jumpai dan kenal, supaya memperbaharui pengabdian kepadamu.

Kami prihatin akan ateisme yang telah menyebabkan kehancuran iman sejumlah besar umat beriman, penodaan telah mencemari bait Allah yang suci, gelombang kejahatan dan dosa makin menyebar luas di seluruh dunia.

Dengan penuh kepercayaan, kami berpaling kepadamu, ya Bunda Kristus, Tuhan dan Allah kami, dan Bunda kami yang kuasa dan berbelas kasih. Pada hari ini, kami kembali memohon dan menanti dirimu, penyelamatan bagi semua anakmu, ya Perawan Maria yang baik dan penuh kasih. Amin.


Sabtu, 07 Oktober 2017

Sepuluh Kali Lebih Rajin

Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin (Barukh 4:28) 

Tidak serta-merta Tuhan dapat ditemukan dengan begitu mudah dan dekat, setelah pertobatan. Berbagai ujian iman menghadang, sering berupaya menyeret kembali petobat menjadi pendosa. Di sinilah perlu keteguhan hati untuk mencari Tuhan sepuluh kali lebih rajin, niscaya akhirnya Ia ditemukan.    
 

Jumat, 08 September 2017

Satu Kali Salam Maria

Seorang biarawati mengatakan, "Kalau teringat saya, doakanlah satu Salam Maria..." Sebuah permintaan yang sangat sederhana. 

Bukan hanya kepada biarawati itu. Setiap kali teringat seseorang dan merasa perlu mendoakannya, aku mendaraskan satu Salam Maria sambil membayangkan orang tersebut. Siapa saja - anggota keluarga, saudara, sahabat, kerabat, dan sebagainya termasuk para pemimpin.

Satu kali Salam Maria - doa yang sangat singkat, namun berdaya ampuh. Bunda Surgawi senantiasa mendengarkan seruan anak-anaknya. Anda dapat mempraktikkannya mulai sekarang. 

Senin, 21 Agustus 2017

Patuh Karena Diawasi

Seorang pemilik restoran bertutur, ia atau salah satu anggota keluarganya harus selalu berada di restoran milik keluarga yang dibangun sejak 37 tahun silam, untuk mengawasi para karyawan dalam bekerja. Kalau tidak, para karyawan berbuat seenaknya.

Hari ini kita membaca tentang umat Israel yang patuh kepada Tuhan selama ada hakim-hakim yang dibangkitkan Tuhan untuk menyelamatkan umat Israel dari tangan musuh mereka. Tetapi, apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat... (lihat Hakim-Hakim 2:11-19).

Patuh karena diawasi merupakan kecenderungan kita sebagai manusia. Simon Petrus pun patuh kepada Yesus sejauh Sang Guru berada di dekatnya. Ketika Yesus telah bangkit dan hanya sesekali menampakkan diri di hadapan murid-muridNya, Petrus memilih pergi menangkap ikan lagi (lihat Yohanes 21:2-3a). Sampai kemudian Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus untuk menakar kesungguhannya dalam mengikuti Yesus. Bagaimana dengan kita? 

Rabu, 09 Agustus 2017

Melihat Sisi Positif Kehendak Tuhan


Dua belas orang dipilih Musa dari setiap suku Israel untuk mengintai tanah Kanaan, negeri yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya. Setelah 40 hari mereka kembali, lalu melapor kepada Musa, Harun, dan segenap umat Israel. (Bilangan 13:1-33)

Sepuluh pengintai berkata negatif tentang negeri yang akan mereka masuki, sementara hanya dua pengintai: Kaleb dan Yosua yang melihat sisi positif. "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bilangan 14:7b-8)

Segenap umat Israel hendak melontari Kaleb dan Yosua dengan batu, tetapi Tuhan membela keduanya. Dari 12 orang pengintai, hanya Yosua dan Kaleb yang tetap hidup. Tuhan berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! (Bilangan 14:11) 

***

Terkadang kita seperti sepuluh pengintai itu, tidak bisa melihat sisi positif kehendak Tuhan. Kita hanya membayangkan hal-hal buruk yang kita perkirakan bakal menimpa kita, padahal belum tentu terjadi demikian. Kita masih perlu mengasah iman kita, agar dapat melihat sisi positif seperti Kaleb dan Yosua; sehingga dalam segala hal dapat berkata seperti Bunda Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Selasa, 08 Agustus 2017

Miryam

Ketika masih kecil, Miryam menjadi saksi penyertaan Tuhan terhadap adik lelakinya. Ia mengikuti peti yang membawa bayi Musa sampai ke istana puteri Firaun. Dengan berani ia bertanya kepada puteri Firaun, "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" (Keluaran 2:7)

Sesaat setelah Tuhan membuat air Laut Merah berbalik memporakporandakan pasukan berkuda Firaun, Miryam mengambil rebana. Ia menyanyi dan menari diikuti semua perempuan Israel. Miryam mempimpin mereka, "Menyanyilah bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut." (Keluaran 15:21)

Dalam pengembaraan di padang gurun, Miryam bersama kakaknya Harun, mempertanyakan kenabian Musa adik mereka, ketika Musa mengambil perempuan Kush menjadi isterinya. "Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" kata Harun dan Miryam. (Bilangan 12:2)

Karena kesangsian mereka itu, Tuhan memanggil tiga bersaudara - Harun, Miryam, dan Musa - untuk menghadapNya. Tuhan membela Musa dengan menegur Harun dan Miryam. Setelah Tuhan berlalu, Miryam kena kusta.

Musa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan kakaknya. Tuhan menjawab Musa. Selama 7 hari Miryam dikucilkan ke luar tempat perkemahan. Bangsa Israel menanti kesembuhan Miryam, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. (Bilangan 12:16)

Miryam masih mengiringi peziarahan bangsanya di padang gurun, sampai ia meninggal di Kadesh dan dimakamkan di sana.

***

Adakah penilaian-penilaian yang kita buat telah menjadi penghambat langkah maju dalam kehidupan spiritual kita? Kita perlu senantiasa waspada, jangan sampai menjadi seperti Miryam di tengah peziarahan kita di dunia.

Minggu, 06 Agustus 2017

Cahaya Pelita di Tempat Gelap

Ketika Tuhan Yesus dimuliakan Allah Bapa di Gunung Tabor, rasul Petrus adalah salah seorang saksi mata. Dan Yesus telah berpesan kepada tiga rasul yang mengikutiNya untuk tidak menceritakan penglihatan yang mereka lihat di atas Gunung Tabor kepada siapa pun sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (lihat Matius 17:9).

Petrus menepati permintaan Yesus. Setelah Yesus naik ke Surga, dalam pengajarannya Petrus mengungkapkan peristiwa itu (lihat 2 Petrus 1:16-21). Petrus bersaksi tentang apa yang dialaminya di Gunung Tabor.

Peristiwa penampakan Yesus dengan nabi Elia dan nabi Musa di atas Gunung Tabor meneguhkan keilahian Yesus, sekaligus menjadi pegangan bagi umat beriman yang terkadang dilanda keraguan akan kemahakuasaan Yesus.

Inilah yang dimaksudkan rasul Petrus ketika ia mengatakan: ".... Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu (2 Petrus 1:19b).

Yesus yang dimuliakan Allah Bapa di Gunung Tabor adalah Kristus, Mesias, Allah Putra. Walaupun sekeliling kita diliputi kegelapan, dengan tetap berpegang pada keyakinan iman itu, kita dapat teguh bertahan sampai Sang Surya Kebenaran terbit dan CahayaNya bersinar dalam hati kita.      

Senin, 24 Juli 2017

Tertawa atau Tidak Tertawa?

Tiga orang bertamu ke kemah Abraham. Setelah makan, ketiga tamu itu bertanya tentang Sara, istri Abraham. Kata mereka, tahun depan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. Sara yang mendengarkan percakapan itu di belakang pintu kemah, tertawa dalam hati.

Lalu, bersabdalah Tuhan kepada Abraham, "Mengapakah Sara tertawa dan berkata, 'Sungguhkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua?' Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan?...." Sara menyangkal, katanya, "Aku tidak tertawa," sebab ia takut. Tetapi Tuhan bersabda, "Tidak! Memang engkau tertawa!" (Kejadian 18:13-14a, 15).

Manusia bisa saja menyangkal apa yang telah dilakukannya. Bahkan hal paling kecil seperti tertawa di balik pintu. Tidak kelihatan secara kasat mata. Namun, Tuhan melihat hati. Dan itulah yang menjadi pegangan Tuhan dalam bertindak. Meskipun Tuhan mungkin kecewa terhadap respons Sara, tetapi Ia sama sekali tidak membatalkan rancangan besarNya bagi Abraham.

Adakah kita menanggapi Tuhan dengan tulus, ataukah yang kita ucapkan di hadapan Tuhan berbeda dengan yang kita lakukan "di belakang"Nya?

Selasa, 04 Juli 2017

Seandainya Tuhan Tidak Mengabulkan Doa

Ketika kita memanjatkan doa permohonan, tentu kita berharap Tuhan menjawab doa kita dengan mengabulkan permohonan kita. Bagaimana seandainya Tuhan tidak mengabulkan doa yang telah kita panjatkan dengan sepenuh hati, bahkan disertai nazar?

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan kepada raja Nebukadnezar di wilayah Babel, karena ketiga orang Yahudi itu tidak mau menyembah patung emas buatan raja. Ketika akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala, ketiganya mengatakan kepada raja: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18)

Ada kalanya, Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita seperti yang kita inginkan. Ada kalanya, Tuhan membiarkan kita mengalami penderitaan. Satu hal yang Tuhan ingin lihat ialah bagaimana sikap kita ketika Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita?

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memahami terkadang Tuhan tidak menjawab doa, karena itu mereka berkata: ".... tetapi seandainya tidak ....," mereka sudah siap. Walaupun Tuhan mungkin tidak menjawab permohonan mereka untuk dilepaskan dari perapian yang menyala-nyala; mereka akan tetap bertahan dalam iman, tidak mau menuruti perintah raja untuk menyembah patung.

Bagaimana dengan kita, seandainya Tuhan tidak mengabulkan doa yang telah kita panjatkan siang dan malam? 

Sabtu, 01 Juli 2017

Syukur Bagi-Mu

Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu. 

(Mazmur 30:12-13)
 

Kamis, 29 Juni 2017

Standar Cinta Yesus


Tiga kali bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya? Terjemahan Injil Yohanes dalam bahasa Indonesia tidak memperlihatkan gradasi kasih yang diutarakan Yesus dan Petrus. Tetapi, dalam Injil berbahasa Yunani, kita dapat mencermati lebih jauh dialog antara Yesus dengan Petrus itu:  

The dialogue between Jesus and Peter contains two different words for "love," which  some, but not all, commentators deem to be of exegetical significance. The words are agapao (the verb form of the noun agape) and phileo (the verb form of the noun philia). The dialogue proceeds as follows:

* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you phileo me?"
* Peter replied, "I phileo you."
(Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Restoration_of_Peter)

Perhatikan, perbedaan kadar cinta yang dipakai Yesus: pada pertanyaan pertama dan kedua, Yesus bertanya kepada Petrus, apakah ia mencintai Yesus dengan cinta yang paling tinggi (agape)? Dua kali pula Petrus menjawab, ia mencintai Yesus sebatas sahabat dalam kesetaraan (philia).

Yesus tidak mendapatkan jawaban yang diharapkanNya. Sebenarnya Yesus menginginkan standar cinta yang tertinggi dari Petrus, yang akan ditugaskan untuk menggembalakan domba-dombaNya. Meski Yesus mungkin kecewa terhadap Petrus, namun Ia bertanya ketiga kalinya kepada Petrus dan menurunkan standar cinta yang diharapkanNya: "Do you phileo me?" Bukan lagi agapao. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya... (lihat Yohanes 21:17).

Boleh jadi Petrus sedih, karena ternyata ia belum bisa mencintai Yesus sesuai standar yang diinginkan Yesus. Ia baru bisa mencintai Yesus sebagai sahabat (philia), bukan cinta tak bersyarat seperti Tuhan mencintai manusia (agape).  

Petrus sudah mengikuti Yesus sekitar 3 tahun, sudah mengenal pribadi dan karakter Yesus. Tetapi tetap tidak bersedia menyatakan cinta tak bersyarat kepada Yesus. Bagaimana dengan kita yang hanya mengenal Yesus dari Alkitab dan pewartaan? Apa jawaban yang akan kita berikan kepada Yesus, jika Ia bertanya kepada kita: "Do you agapao me?"

Minggu, 25 Juni 2017

Menyimpan dalam Memori

Perangkat telekomunikasi seluler, smartphone, punya ruang penyimpanan data yang terbatas. Ketika memori di smartphone sudah mendekati batas maksimal, pemilik perangkat itu biasanya akan memilah-milah data mana yang tetap perlu disimpan dan data mana yang dapat dilenyapkan dari perangkat (delete).

Bagaimana ruang penyimpanan dalam hati kita?
Memori kita pun terbatas. Tidak semua peristiwa bisa kita ingat sejak kita lahir sampai saat ini. Kita perlu memilah-milah juga, apa yang akan tetap kita simpan dalam hati dan apa yang akan kita lenyapkan dari memori kita. Biasanya peristiwa-peristiwa berkesan yang kita simpan. Tetapi, berkesan karena apa: karena indahnya atau karena menyakitkannya?

Kalau kita bisa menyimpan data yang bagus-bagus saja dalam memori smartphone, sepatutnya kita pun menyimpan hal-hal baik saja dalam hati kita.


Kamis, 22 Juni 2017

Gelap-Mu adalah Cahaya Kami

Di tengah lembah duka dan derita,
seolah yang tampak hanya kegelapan.
Sesungguhnya, 
gelap dari-Mu adalah cahaya bagi kami.
Sebab, kegelapan tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang.
Kegelapan sama seperti terang,
asalkan kita bisa memaknainya.

(Lihat Mazmur 139:12)

Minggu, 28 Mei 2017

Masih Adakah Iman di Bumi?

".... jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8b)

Pertanyaan Yesus itu patut menjadi bahan utama refleksi kita, saat kita menjalani hari-hari dalam kehidupan kita di dunia ini yang serba diwarnai ketidakpastian, serta rusaknya lingkungan bumi dan hilangnya kebajikan umat manusia. Di tengah situasi tersebut, adakah kita sering atau bahkan selalu merasa khawatir dan takut? 

Kekhawatiran dan ketakutan dapat menyebabkan kita mengambil langkah yang keliru. Contohnya, Pilatus khawatir mendapat citra buruk di mata masyarakat jika ia memihak Yesus, ditambah lagi ia bakal dianggap bukan sahabat kaisar, maka Pilatus takut membebaskan Yesus. Petrus khawatir ditangkap dan dihukum seperti Yesus, maka Petrus takut mengakui dirinya murid Yesus dan memilih menyangkal Yesus.

Kekhawatiran dan ketakutan yang menggunung merupakan bukti nyata menguapnya iman. Ketika taufan sangat dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, para murid membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Setelah menghardik angin itu dan danau menjadi teduh sekali, Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Lihat Markus 4:35-40)

Di atas segala yang terjadi dalam kehidupan kita, janganlah sampai iman kita menyurut. Tidakkah Yesus akan sangat berduka, jika pada saat Ia datang kembali, Ia tidak lagi mendapati iman di bumi?

Minggu, 14 Mei 2017

Pertanyaan Anak-Anak

Pengajaran Bina Iman sore itu diisi dengan menonton bersama film kartun Penampakan Bunda Maria di Fatima:

https://www.youtube.com/watch?v=87xRcZcriAk&t=378s

https://www.youtube.com/watch?v=GNa08jQlW_g

https://www.youtube.com/watch?v=V385KSsZULk

Usai menyaksikannya, seorang anak perempuan kelas 4 SD bertanya: "Mengapa Bunda Maria tidak menampakkan diri lagi sekarang?"
"Apakah ada di antara kalian yang berdoa Rosario setiap hari?" sang pengajar balik bertanya. Dua belas anak yang duduk di bangku SD kelas 1-4 itu menggelengkan kepala. "Ketiga anak gembala di Fatima mendaraskan doa Rosario setiap hari, seperti yang dipesankan Bunda Maria dalam 6 kali penampakan di Fatima. Bagaimana Bunda Maria mau mengunjungi kita, jika kita tidak dekat dengannya?" tandas sang pengajar.

Sejurus, semua anak terdiam. Lalu, seorang anak laki-laki kelas 3 SD berkata, "Ibu, saya tidak mau berdoa, karena kalau saya berdoa di depan teman-teman, mereka mengatakan saya sok suci." Problema zaman modern. "Kamu bisa tetap berdoa. Masuklah ke kamar tidur kamu, lalu tutup pintu. Di dalam kamar kamu bisa berdoa dengan tenang," sang pengajar menyarankan. Anak-anak mengangguk.
 

Sabtu, 13 Mei 2017

100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima


"Apakah kalian mau mempersembahkan dirimu kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang dikirimkan-Nya kepadamu, demi penebusan dosa-dosa yang melukai hati-Nya dan demi pertobatan para pendosa?"  

(Pertanyaan Bunda Maria kepada Lusia, Fransiskus, dan Yasinta dalam Penampakan pertama di Fatima, Portugal, 13 Mei 1917)
***

Hari ini, ketika kita merayakan 100 tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima, kita patut merenungkan kembali pertanyaan Bunda Maria kepada tiga anak gembala dalam Penampakan Pertama itu:

- Apakah kita mau mempersembahkan diri kita kepada Allah? 
- Apakah kita mau menanggung semua penderitaan yang diberikan Allah kepada kita?

Pesan Bunda Maria di Fatima 100 tahun yang lalu tetap relevan saat ini. 
Persembahan diri dan kesediaan menanggung penderitaan dimaksudkan sebagai penebusan atas dosa-dosa kita yang telah melukai hati Tuhan dan untuk pertobatan orang-orang berdosa.

Ketiga anak gembala yang masih anak-anak itu menjawab "ya" dengan mantap untuk kedua pertanyaan Bunda Maria tersebut. Bagaimana dengan kita?


Selasa, 09 Mei 2017

Keadilan Allah

"Apabila Aku menetapkan waktunya, 
Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. 
(Mazmur 75:2)


Kami menanti keadilanMu, ya Tuhan, yang jauh melampaui keadilan manusia

Sabtu, 22 April 2017

Rabu, 19 April 2017

Menderita-Mati-Bangkit

Tiada kebangkitan tanpa kematian,
Tiada kematian tanpa penderitaan,
Perlu menderita dan mati, sebelum bangkit.
 

Jumat, 14 April 2017

Duka ke-7: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Ketujuh: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam

..... Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ. (Yohanes 19:41-42)


***

Meskipun telah mendengar Anaknya mengatakan Ia akan mati, dikubur, dan bangkit pada hari ketiga; ibu manakah yang tidak akan berurai air mata ketika mengantar anaknya ke makam?

Bunda Maria mengikuti prosesi pemakaman Putranya dalam diam, sambil  merenungkan pesan Yesus tentang kebangkitanNya. Bunda Maria percaya itu akan terjadi, tetapi ia pun menyadari kelak relasinya dengan Sang Putra tercinta tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Relasi yang tidak kasat mata, melainkan kesatuan dalam Roh.

***

Mengantar kepergian selamanya dari orang-orang yang kita kenal, apalagi orang-orang yang kita cintai, selalu membawa kepedihan. Hal yang paling mendukakan ialah sejak saat itu kita tidak dapat lagi memandang dan menyentuhnya secara fisik.

Bunda Maria pun pernah mengalami duka itu, ketika ia berpisah secara fisik dengan Yesus. Namun, kita dapat belajar dari Bunda Maria, menyadari kefanaan relasi fisik dan mengubahnya menjadi kesatuan dalam Roh, lewat doa-doa yang kita panjatkan untuk orang-orang tercinta di Rumah Bapa.

 

Jumat, 07 April 2017

Duka ke-6: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Keenam: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat

..... Sesudah itu, Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (Yohanes 19:38)

***

Setelah Yesus wafat di kayu salib, betapa pilu hati Bunda Maria melihat seorang serdadu menusuk lambung Putranya. Kemudian, jasad Yesus diturunkan dari salib. Bunda Maria diberi kesempatan memangku jenazah Putra tercintanya.

Inilah puncak penderitaan seorang ibu: menghadapi kenyataan anak yang dilahirkannya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Bunda Maria kini harus melepaskan seluruh ikatan lahiriah dengan Putranya yang telah hidup bersamanya selama 30 tahun.    

***

Kematian adalah bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyikapinya, ketika kematian merenggut orang-orang yang kita kasihi? Apakah kita marah berkepanjangan sampai tidak mau lagi berbakti kepada Sang Pencipta, karena telah mengambil nyawa orang yang dekat dengan kita? 

Kepedihan manusiawi tak dapat sirna, ketika sosok yang kita cintai lenyap dari pandangan dan sentuhan. Namun, belajar dari Bunda Maria, kita dapat berkata dalam duka: Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu, ya Tuhan.