Hari ini, tepat setahun aku mengalami didikan Tuhan. Ia telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut. (Mazmur 118:18)
Dalam kurun setahun ini, banyak yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung. (Mazmur 40:6)
Sukacita dan damai yang kualami bagaikan suatu nyanyian baru dalam hidupku. Tuhan memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan. (Mazmur 40:4)
Masukkanlah aku dalam himpunan 144.000 orang yang telah Kautebus, ya Anak Domba Allah, yang menyanyikan suatu nyanyian baru yang tidak dapat dipelajari oleh seorang pun. (Wahyu 14:3)
Selasa, 27 November 2012
Minggu, 25 November 2012
Raja Alam Semesta
Dalam sebuah acara di televisi, sang presenter mengatakan, jika kita punya mimpi, seringlah mengutarakan mimpi itu secara lisan dan bersuara, agar alam semesta mendengarnya dan mewujudkan mimpi itu.
Siapakah yang berkuasa menjawab doa: Allah atau alam semesta? Alam semesta bukanlah Allah. Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah yang mengasihi Putra Tunggal-Nya, telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus Kristus. (bdk. Yohanes 3:35)
Karena itulah hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan pesta Kristus Raja Alam Semesta sebagai penutup tahun liturgi. Semasa hidup-Nya di dunia ini, beberapa kali Yesus Kristus menunjukkan kekuasaan-Nya atas alam semesta seperti meredakan angin ribut, berjalan di atas air, mengutuk pohon ara. Bahkan di saat kematian-Nya di kayu salib, alam semesta menjadi gelap selama tiga jam, sebagai tanda berduka.
Terpujilah Engkau, Kristus Raja Alam Semesta!
Siapakah yang berkuasa menjawab doa: Allah atau alam semesta? Alam semesta bukanlah Allah. Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah yang mengasihi Putra Tunggal-Nya, telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus Kristus. (bdk. Yohanes 3:35)
Karena itulah hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan pesta Kristus Raja Alam Semesta sebagai penutup tahun liturgi. Semasa hidup-Nya di dunia ini, beberapa kali Yesus Kristus menunjukkan kekuasaan-Nya atas alam semesta seperti meredakan angin ribut, berjalan di atas air, mengutuk pohon ara. Bahkan di saat kematian-Nya di kayu salib, alam semesta menjadi gelap selama tiga jam, sebagai tanda berduka.
Terpujilah Engkau, Kristus Raja Alam Semesta!
Sabtu, 24 November 2012
Baik dan Benar
Sesuatu yang baik belum tentu benar. Contohnya, seorang yang sangat dermawan terus-menerus memberi makan tetangganya yang miskin. Apa yang dilakukan orang itu baik, tetapi tidak benar. Mengapa? Karena perbuatan baik tersebut menciptakan ketergantungan orang miskin itu terhadap tetangganya yang berpunya.
Sebaliknya, sesuatu yang benar tentulah baik. Contohnya, seseorang memberikan pekerjaan kepada tetangganya yang miskin. Perbuatan orang itu benar dan baik, karena ia memberikan "kail" bukan "ikan," sehingga tetangga yang miskin itu menjadi orang mandiri yang dapat menafkahi diri sendiri.
Ketika ada seorang yang bertanya kepadaMu, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Engkau menjawab dengan balik bertanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." (Markus 10:17-18)
Standar ukuran "baik" yang Kaupakai sangat tinggi - mengacu kepada Allah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45), sehingga Engkau yang telah begitu baik di mata manusia pun, menurutMu masih tidak layak disebut "baik."
Dalam mewartakan Injil, Engkau lebih sering menggunakan kata "benar" ketimbang "baik." Seperti perkataanMu ini, "Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa." (Matius 13:43)
"Benar" berkaitan dengan integritas seseorang terhadap suatu prinsip, keyakinan; sedangkan "baik" lebih mengacu pada sifat yang dimiliki seseorang. Kalau seseorang berbuat baik kepada kita, tentu kita akan sangat berterima kasih kepadanya dan bersedia membelanya.
Tetapi, kalau ada seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran yang diyakininya, belum tentu kita bersedia membelanya ketika orang itu menghadapi masalah. St. Paulus telah mengantisipasi hal ini seperti dikatakan dalam Roma 5:7, "Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati."
Dalam Wahyu 19:7-8 dinyatakan:"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)
St. Yohanes Rasul yang menulis Kitab Wahyu memberi penjelasan dalam tanda kurung tentang apa yang dimaksud dengan lenan halus. Lenan halus adalah perbuatan-perbuatan BENAR, bukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berpakaian lenan halus pada akhir zaman kelak, hendaklah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan sebagai pedoman acuan Kebenaran. Seperti ditulis dalam Yohanes 1:17, "Musa memberikan hukum Taurat, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus."
Dengan tetap tinggal dalam Firman Tuhan Yesus, kita adalah benar-benar murid-Nya dan, "Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)
Sebaliknya, sesuatu yang benar tentulah baik. Contohnya, seseorang memberikan pekerjaan kepada tetangganya yang miskin. Perbuatan orang itu benar dan baik, karena ia memberikan "kail" bukan "ikan," sehingga tetangga yang miskin itu menjadi orang mandiri yang dapat menafkahi diri sendiri.
Ketika ada seorang yang bertanya kepadaMu, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Engkau menjawab dengan balik bertanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." (Markus 10:17-18)
Standar ukuran "baik" yang Kaupakai sangat tinggi - mengacu kepada Allah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45), sehingga Engkau yang telah begitu baik di mata manusia pun, menurutMu masih tidak layak disebut "baik."
Dalam mewartakan Injil, Engkau lebih sering menggunakan kata "benar" ketimbang "baik." Seperti perkataanMu ini, "Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa." (Matius 13:43)
"Benar" berkaitan dengan integritas seseorang terhadap suatu prinsip, keyakinan; sedangkan "baik" lebih mengacu pada sifat yang dimiliki seseorang. Kalau seseorang berbuat baik kepada kita, tentu kita akan sangat berterima kasih kepadanya dan bersedia membelanya.
Tetapi, kalau ada seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran yang diyakininya, belum tentu kita bersedia membelanya ketika orang itu menghadapi masalah. St. Paulus telah mengantisipasi hal ini seperti dikatakan dalam Roma 5:7, "Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati."
Dalam Wahyu 19:7-8 dinyatakan:"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)
St. Yohanes Rasul yang menulis Kitab Wahyu memberi penjelasan dalam tanda kurung tentang apa yang dimaksud dengan lenan halus. Lenan halus adalah perbuatan-perbuatan BENAR, bukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berpakaian lenan halus pada akhir zaman kelak, hendaklah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan sebagai pedoman acuan Kebenaran. Seperti ditulis dalam Yohanes 1:17, "Musa memberikan hukum Taurat, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus."
Dengan tetap tinggal dalam Firman Tuhan Yesus, kita adalah benar-benar murid-Nya dan, "Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)
Senin, 19 November 2012
Cinta Roh
Cinta
indrawi memang menggairahkan dan menggembirakan. Mengapa? Karena kita
merasakan sensasi-sensasinya secara langsung lewat indra kita. Tatapan mata,
senyum menawan, sentuhan lembut, ucapan penuh perhatian membuat perasaan kita
melambung. Namun sejatinya, cinta seperti ini mudah luruh.
Apa
jadinya, ketika orang yang kita cintai – secara indrawi – itu tidak lagi
menatap mesra, tak mengukir senyum
manis, tidak menyentuh penuh kasih, apalagi melontarkan ucapan-ucapan bernada
lembut penuh perhatian?
Dengan
mudah kita mencampakkan orang yang “dicintai” itu, karena ia tidak lagi
memenuhi sensasi-sensasi indrawi kita. Tak heran kita mendengar berita atau
menyaksikan sendiri pasangan-pasangan yang telah bertahun-tahun mengarungi
bahtera hidup bersama pun dapat mengakhiri relasi mereka lantaran masalah
seperti pasangan sakit berat, pasangan selingkuh, pasangan kehilangan
pekerjaan, ketidakcocokan prinsip dan pemikiran dengan pasangan, serta persoalan manusiawi lainnya.
Sebaliknya,
Cinta Roh tak lekang oleh kondisi apa pun, tak terbatasi oleh ruang dan waktu.
Cinta Roh memang tidak menimbulkan sensasi-sensasi menggelegak seperti cinta
indrawi, namun getar-getar Cinta Roh bergema terus di hati sang pencinta.
Lembut dan abadi.
Dalam
relasi antarmanusia, Cinta Roh dapat ditemui pada pasangan-pasangan lanjut usia
yang masih saling mengekspresikan kasih di antara mereka. Seorang bapak berusia
85 tahun masih sehat dan belum pikun, menemani istrinya yang delapan tahun
lebih muda usianya tetapi sudah duduk di kursi roda dengan aneka macam
penyakit. Cinta Roh diperlihatkan pula oleh orang-orang yang menerima orang
lain – pasangan hidup dan sesama – apa adanya, di atas segala perbedaan prinsip
dan keyakinan, kelemahan dan kejatuhan pasangan hidup atau orang lain.
Esensi
Cinta terdalam hanya ada dalam roh dan jiwa, bukan daging yang kasat mata. Roh
dan jiwa merupakan bagian permanen dari manusia yang fana. Orang yang telah dapat
mencintai manusia lain dengan Cinta Roh, berarti orang itu telah mencapai tahap
cinta tertinggi – kalau tidak dapat dikatakan sempurna, karena tak ada yang
sempurna di dunia ini.
Cinta
Roh-lah yang ditunjukkan Allah kepada umat manusia ciptaanNya. Bayangkan, jika
Allah mencintai manusia dengan cinta indrawi, tentu umat manusia sudah
berulang kali dimusnahkanNya seperti zaman nabi Nuh.
Cinta
Roh pula yang sepatutnya mendasari relasi manusia dengan Sang Pencipta. Kita
menjalin relasi dengan Tuhan bukan lantaran Ia telah berbuat baik – memberi
kita kesehatan, memberi kita banyak berkat, mengabulkan doa-doa permohonan
kita, dan berbagai tolok ukur indrawi lainnya.
Cinta
kita kepada Tuhan semata karena roh dan jiwa kita bersatu dengan Roh Tuhan. Tak
peduli kondisi apa pun yang menimpa kita selama hidup di dunia ini – didera
bermacam penyakit, doa-doa tak terkabul, masalah demi masalah muncul – semua
itu tak menggoyahkan cinta kita kepada Tuhan, karena bukan lagi hal-hal
indrawi yang menjadi dasar relasi kita dengan Tuhan.
Persatuan
roh dan jiwa manusia dengan Roh Tuhan dalam Cinta Roh memberi penghiburan dan
kekuatan pada saat kita melalui masa-masa sulit. Kita dapat memandang semua
peristiwa dengan cara pandang berbeda – semua hanya karena dan demi Cinta.
Kamis, 15 November 2012
Kerajaan Allah
Dalam
Injil beberapa kali Yesus Kristus mengatakan tentang Kerajaan Allah, di antaranya:
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)
"Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Matius 12:28)
Ketika menanggapi seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang hukum manakah yang paling utama?Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" (Markus 12:34)
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menegaskan, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." (Lukas 17:20-21)
Kerajaan Allah tidak seperti kerajaan dunia yang kasat mata. Kerajaan Allah tak perlu ditunggu sampai orang meninggal dan berada di Surga. Seperti kata Yesus, Kerajaan Allah sudah ada di antara kita - orang-orang yang beriman kepadaNya.
Kerajaan Allah bermakna Allah merajai hidup manusia. Allah menjadi raja dalam hidup kita - hanya jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, membiarkan Yang Mahakuasa melakukan apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita.
Datanglah KerajaanMu, ya Tuhan...
"Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)
"Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Matius 12:28)
Ketika menanggapi seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang hukum manakah yang paling utama?Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" (Markus 12:34)
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menegaskan, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." (Lukas 17:20-21)
Kerajaan Allah tidak seperti kerajaan dunia yang kasat mata. Kerajaan Allah tak perlu ditunggu sampai orang meninggal dan berada di Surga. Seperti kata Yesus, Kerajaan Allah sudah ada di antara kita - orang-orang yang beriman kepadaNya.
Kerajaan Allah bermakna Allah merajai hidup manusia. Allah menjadi raja dalam hidup kita - hanya jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya, membiarkan Yang Mahakuasa melakukan apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita.
Datanglah KerajaanMu, ya Tuhan...
Selasa, 13 November 2012
Perkawinan
Tiga malam mencicipi tinggal di biara sebagai tamu, melahirkan refleksi tentang perkawinan. Sejatinya, ada perbedaan antara perkawinan antar-manusia dengan perkawinan antara manusia-Tuhan.
Perkawinan antar-manusia (lelaki-perempuan) disatukan dalam Kristus melalui Sakramen Perkawinan. Ada relasi horisontal antara lelaki-perempuan yang menikah dan ada relasi vertikal antara pasangan yang menikah dengan Kristus.
Perkawinan antara manusia-Tuhan berupa kaul hidup membiara dan Sakramen Imamat merupakan perkawinan antara manusia dengan Kristus. Di sini hanya ada relasi vertikal. Karena itu, perkawinan antara manusia-Tuhan lebih sakral dan membawa konsekuesi lebih besar.
Dua insan yang menikah, masih dimungkinkan - meski tidak diharapkan - membatalkan perkawinan mereka karena alasan-alasan tertentu yang dapat diterima setelah melalui penyelidikan Gereja. Relasi horisontal antara lelaki dan perempuan itu kemudian dapat berakhir, tetapi relasi vertikal masing-masing dengan Kristus tetap terjalin.
Sedangkan perkawinan antara manusia-Tuhan yang dilakukan kaum berjubah (imam, biarawan, dan biarawati) selayaknya bersifat kekal. Bukankah para imam, biarawan, dan biarawati secara sadar - setelah melalui beberapa tahun jenjang pembinaan - telah memilih Kristus yang diimaninya sebagai Mempelai mereka?
Jika kehidupan biara yang telah dijalani bertahun-tahun kemudian dianggap tidak cocok, bagaimana mungkin kaum berjubah itu lantas bisa tetap menjalin relasi vertikal dengan Tuhan yang telah ditolaknya? Apalagi Yesus mengatakan, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a)
Ah, aku hanyalah orang awam yang tidak menggeluti langsung kehidupan dalam biara. Aku hanya melihat dari sisi jalinan relasi antara manusia dengan Tuhan. Tetapi aku kagum akan kaum berjubah yang benar-benar mencintai Kristus sepenuh hati dan mewujudnyatakannya melalui karya-karya kasih kepada sesama manusia.
Kepada para imam, biarawan, dan biarawati yang telah memilih Kristus sebagai Mempelai, tetaplah bertahan dalam hidup "perkawinan vertikal" ini. Memang jalannya sempit, sukar, dan tidak populer; tetapi membuahkan banyak rahmat.
Perkawinan antar-manusia (lelaki-perempuan) disatukan dalam Kristus melalui Sakramen Perkawinan. Ada relasi horisontal antara lelaki-perempuan yang menikah dan ada relasi vertikal antara pasangan yang menikah dengan Kristus.
Perkawinan antara manusia-Tuhan berupa kaul hidup membiara dan Sakramen Imamat merupakan perkawinan antara manusia dengan Kristus. Di sini hanya ada relasi vertikal. Karena itu, perkawinan antara manusia-Tuhan lebih sakral dan membawa konsekuesi lebih besar.
Dua insan yang menikah, masih dimungkinkan - meski tidak diharapkan - membatalkan perkawinan mereka karena alasan-alasan tertentu yang dapat diterima setelah melalui penyelidikan Gereja. Relasi horisontal antara lelaki dan perempuan itu kemudian dapat berakhir, tetapi relasi vertikal masing-masing dengan Kristus tetap terjalin.
Sedangkan perkawinan antara manusia-Tuhan yang dilakukan kaum berjubah (imam, biarawan, dan biarawati) selayaknya bersifat kekal. Bukankah para imam, biarawan, dan biarawati secara sadar - setelah melalui beberapa tahun jenjang pembinaan - telah memilih Kristus yang diimaninya sebagai Mempelai mereka?
Jika kehidupan biara yang telah dijalani bertahun-tahun kemudian dianggap tidak cocok, bagaimana mungkin kaum berjubah itu lantas bisa tetap menjalin relasi vertikal dengan Tuhan yang telah ditolaknya? Apalagi Yesus mengatakan, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a)
Ah, aku hanyalah orang awam yang tidak menggeluti langsung kehidupan dalam biara. Aku hanya melihat dari sisi jalinan relasi antara manusia dengan Tuhan. Tetapi aku kagum akan kaum berjubah yang benar-benar mencintai Kristus sepenuh hati dan mewujudnyatakannya melalui karya-karya kasih kepada sesama manusia.
Kepada para imam, biarawan, dan biarawati yang telah memilih Kristus sebagai Mempelai, tetaplah bertahan dalam hidup "perkawinan vertikal" ini. Memang jalannya sempit, sukar, dan tidak populer; tetapi membuahkan banyak rahmat.
Minggu, 11 November 2012
Di Manakah Engkau Berada?
Ketika
berada di luar kota, seorang saudara mengajakku ke kapel Adorasi Ekaristi Abadi untuk menemaniMu selama satu jam setiap hari.
Di kapel itu aku melihat lukisan
Hati KudusMu yang besar, di tengahnya diletakkan monstran besar berisi Sakramen
Mahakudus.
Saat
berada di sana, beberapa umat setempat datang-pergi silih berganti. Kapel ini
terbuka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau tidak punya kerinduan pribadi,
tentu orang tak akan mampir ke sini. Mereka ingin lebih dekat denganMu, mendaraskan doa,
menemaniMu dalam keheningan, atau bercakap-cakap denganMu.
Adorasi Ekaristi Abadi yang kini sedang dikembangkan dalam Gereja Katolik merupakan suatu cara yang sangat baik untuk menumbuhkan rasa cinta, hormat, dan bakti pengikutMu kepada Engkau, ya Yesus Kristus, yang telah merelakan diri untuk mati bagi kami umatMu.
Adorasi Ekaristi Abadi yang kini sedang dikembangkan dalam Gereja Katolik merupakan suatu cara yang sangat baik untuk menumbuhkan rasa cinta, hormat, dan bakti pengikutMu kepada Engkau, ya Yesus Kristus, yang telah merelakan diri untuk mati bagi kami umatMu.
Tetapi, bagiku pribadi, setelah
aku merasakan kehadiranMu yang nyata dalam hatiku, aku bertanya-tanya apakah
aku masih perlu menemuiMu di luar? Di manakah sebenarnya Engkau berada?
Dengan
tersenyum Kau menjawab lembut, “Aku ada di mana-mana. Aku ada di hatimu, di hati
semua orang, dan di dalam Sakramen Mahakudus.”
Terima
kasih, Engkau telah mengubah cara pandangku. Sejak itu aku dapat merasakan
kehadiranMu dalam diri setiap orang yang berelasi denganku. Aku menaruh hormat
lebih besar pada Sakramen Mahakudus. Sekalipun Engkau telah tinggal dalam
hatiku, aku tetap membutuhkan tanda kehadiranMu yang nyata dalam Ekaristi melalui Tubuh dan DarahMu yang kusambut, serta melihat wajahMu melalui orang-orang yang kujumpai.
Rabu, 07 November 2012
Tidak Pernah Memaksa
Kemarin aku mendengar dalam bacaan Injil, saat Engkau menuturkan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih, "Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh." (Lukas 14:23)
Kata "paksa" terasa kurang pas Kau ucapkan, mengingat sifatMu yang lembut. Ketika membandingkannya dengan membuka Alkitab dalam bahasa Inggris New International Version (NIV), perkataan di Lukas 14:23 itu berbunyi, "Go out to the roads and country lanes and make them come in, so that my house will be full." Tidak ada paksaan, melainkan ajakan.
Sesungguhnya Engkau tak pernah memaksa siapa pun untuk menerima atau menolakMu. Engkau mencerminkan sifat BapaMu di Surga yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)
Kata "paksa" terasa kurang pas Kau ucapkan, mengingat sifatMu yang lembut. Ketika membandingkannya dengan membuka Alkitab dalam bahasa Inggris New International Version (NIV), perkataan di Lukas 14:23 itu berbunyi, "Go out to the roads and country lanes and make them come in, so that my house will be full." Tidak ada paksaan, melainkan ajakan.
Sesungguhnya Engkau tak pernah memaksa siapa pun untuk menerima atau menolakMu. Engkau mencerminkan sifat BapaMu di Surga yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:45)
Jumat, 02 November 2012
Memahami Kematian
Bangunlah,
hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan
bercahaya atas kamu. (Efesus 5:14)
Jika
ada orang yang kita kenal meninggal dunia, kita dapat dengan tenang mengatakan, "Ya, memang sudah jalannya demikian." Namun, jika
ditanya apakah Anda siap untuk meninggal?
Mulai
timbul keraguan dalam hati. Sebagai orang beriman, tentu kita akan menjawab
kita siap. Bukankah Yesus meminta kita untuk senantiasa berjaga-jaga,
karena Anak Manusia datang pada waktu
yang tidak disangka-sangka?
Masuklah
lebih dalam ke dalam diri, tentu sebagian besar dari kita akan sampai pada
kesimpulan akhir: saya belum siap meninggal. Mengapa
belum siap?
Terutama, karena kita melekati hidup di dunia. Kita senang punya orang-orang yang dicintai dan mencintai kita,
kita punya aneka benda yang bisa dinikmati, pekerjaan dan posisi yang prestisius, hiburan yang berlimpah, dan sebagainya. Maka,
tak heran jika ada orang yang dekat dengan kita meninggal, kita akan
menangisinya. Kita ingat akan sikap dan perilakunya, ingat akan segala kenangan dengannya. Kita melekat padanya.
Karena sikap posesif, kita takut menghadapi kematian. Padahal, kematian tubuh yang fana ini hanyalah kematian daging. Tubuh jasmani kita akan hancur, tetapi roh kita akan tetap hidup, seperti dikatakan Yesus Kristus, "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna." (Yohanes 6:63)
Dengan berbekal perkataan Yesus Kristus itu, tataplah dalam-dalam kematian. Pahamilah keberadaannya sampai tak tersisa lagi rasa takut. Maka, yang tinggal di dalam lubuk hati kita terdalam adalah Yang Ilahi. Kita akan merasakan persatuan roh yang indah dengan roh Kristus. Kemudian kita menjadi manusia bebas yang hidup tanpa dihantui rasa takut akan kematian.
St. Paulus termasuk orang yang telah memahami kematian jasmani sampai tuntas dan mengalami persatuan roh dengan Yesus Kristus, sehingga ia dapat berkata, "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20)
Hanya ada satu cara untuk dapat memahami kematian jasmani sampai tuntas dan menerima keberadaannya: percaya kepada Yesus Kristus. Percaya penuh bahwa di dalam Dia, kematian jasmani sudah tak ada artinya lagi. "Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati." (Yohanes 11:25)
Kamis, 01 November 2012
Menjadi Kudus
Selain Engkau - Putra Allah yang menjelma menjadi manusia - tak ada satu manusia pun yang sempurna. Tetapi, meski tidak sempurna, manusia bisa menjadi kudus.
Kekudusan berbeda dengan kesempurnaan. Menurut Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, ketika orang sudah sampai pada tahap persatuan dengan Allah Tritunggal - dirinya semakin peka dan penurut untuk digerakkan dan dibimbing oleh Roh Allah. Seluruh kehendak diarahkan kepada Allah, orang itu masih memiliki kelemahan-kelemahan, tetapi dosa-dosa yang disengaja sudah tidak ada lagi.
Orang-orang seperti itu adalah kudus, tetapi tidak sempurna. Orang-orang kudus masih memiliki keterbatasan dan kekurangan, namun semua kekurangan itu tidak mengurangi kekudusan mereka dan Tuhan juga tidak memerhatikannya, kecuali untuk semakin menyadarkan mereka akan kekecilan dan kekosongan mereka sendiri.
Sebagai contoh, St. Theresia Lisieux masih menunjukkan ketidaksabaran pada saat-saat terakhir hidupnya. Namun, ia cepat sekali menyadarinya dan merendahkan diri. Sikap rendah hati ini jauh lebih berkenan kepada Allah daripada kekurangsabarannya.
Menjadi kudus bukanlah pertama-tama soal berapa banyak kita terjun dalam kegiatan-kegiatan gerejani, berapa banyak karya sosial yang kita lakukan, atau berapa banyak doa-doa dan devosi-devosi yang kita jalankan. Semuanya itu memang perlu, tetapi bukan itu yang terutama, bukan itu yang menjadi intinya. Intinya ialah supaya hati kita berubah menjadi hati yang penuh kasih.
Menjadi kudus bukan lain daripada menghayati dengan segenap hati perintah Allah yang mencakup segala-galanya, yaitu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40) - dari buku Dalam Keheningan Dasar Samudera Ilahi - Menjelajahi Puri Batin Teresa Avila karya Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm.
Untuk dapat mengasihi Tuhan Allah dan sesama yang merupakan inti kekudusan, kita perlu bersikap dan berperilaku yang pantas seperti orang-orang kudus. St. Paulus menyebut beberapa sikap dan perilaku sehari-hari yang perlu dihindari orang-orang kudus, yaitu percabulan, rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, perkataan yang kotor, kosong atau sembrono (Efesus 5:3-4).
Menjelang wafatMu di kayu salib, Engkau berdoa kepada Bapa untuk dua belas rasulMu. Dalam doa yang tentunya Kau tujukan juga bagi semua orang yang mengasihiMu, Engkau meminta agar Bapa menguduskan para rasul dalam kebenaran. Firman Allah adalah kebenaran. Dengan berpegang pada firman Allah, manusia dapat menjadi kudus. Lalu, setelah menjadi kudus, Engkau mengutus para rasul ke dalam dunia. Kekudusan bukan hanya menyangkut relasi dengan Tuhan. Perutusan ke dalam dunia mengandung makna kekudusan perlu ditampakkan dan ditularkan kepada orang-orang lain.
Kekudusan berbeda dengan kesempurnaan. Menurut Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, ketika orang sudah sampai pada tahap persatuan dengan Allah Tritunggal - dirinya semakin peka dan penurut untuk digerakkan dan dibimbing oleh Roh Allah. Seluruh kehendak diarahkan kepada Allah, orang itu masih memiliki kelemahan-kelemahan, tetapi dosa-dosa yang disengaja sudah tidak ada lagi.
Orang-orang seperti itu adalah kudus, tetapi tidak sempurna. Orang-orang kudus masih memiliki keterbatasan dan kekurangan, namun semua kekurangan itu tidak mengurangi kekudusan mereka dan Tuhan juga tidak memerhatikannya, kecuali untuk semakin menyadarkan mereka akan kekecilan dan kekosongan mereka sendiri.
Sebagai contoh, St. Theresia Lisieux masih menunjukkan ketidaksabaran pada saat-saat terakhir hidupnya. Namun, ia cepat sekali menyadarinya dan merendahkan diri. Sikap rendah hati ini jauh lebih berkenan kepada Allah daripada kekurangsabarannya.
Menjadi kudus bukanlah pertama-tama soal berapa banyak kita terjun dalam kegiatan-kegiatan gerejani, berapa banyak karya sosial yang kita lakukan, atau berapa banyak doa-doa dan devosi-devosi yang kita jalankan. Semuanya itu memang perlu, tetapi bukan itu yang terutama, bukan itu yang menjadi intinya. Intinya ialah supaya hati kita berubah menjadi hati yang penuh kasih.
Menjadi kudus bukan lain daripada menghayati dengan segenap hati perintah Allah yang mencakup segala-galanya, yaitu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40) - dari buku Dalam Keheningan Dasar Samudera Ilahi - Menjelajahi Puri Batin Teresa Avila karya Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm.
Untuk dapat mengasihi Tuhan Allah dan sesama yang merupakan inti kekudusan, kita perlu bersikap dan berperilaku yang pantas seperti orang-orang kudus. St. Paulus menyebut beberapa sikap dan perilaku sehari-hari yang perlu dihindari orang-orang kudus, yaitu percabulan, rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, perkataan yang kotor, kosong atau sembrono (Efesus 5:3-4).
Menjelang wafatMu di kayu salib, Engkau berdoa kepada Bapa untuk dua belas rasulMu. Dalam doa yang tentunya Kau tujukan juga bagi semua orang yang mengasihiMu, Engkau meminta agar Bapa menguduskan para rasul dalam kebenaran. Firman Allah adalah kebenaran. Dengan berpegang pada firman Allah, manusia dapat menjadi kudus. Lalu, setelah menjadi kudus, Engkau mengutus para rasul ke dalam dunia. Kekudusan bukan hanya menyangkut relasi dengan Tuhan. Perutusan ke dalam dunia mengandung makna kekudusan perlu ditampakkan dan ditularkan kepada orang-orang lain.
"Kuduskanlah
mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama
seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah
mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya
mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yohanes 17:17-19).
Menjadi kudus bukanlah suatu khayalan yang tidak mungkin menjadi
kenyataan. Rambu-rambunya sudah ada, tinggal tergantung apakah kita
sungguh berniat mewujudkannya dalam kehidupan kita.