Jumat, 18 September 2020

Selamat karena Memandang Salib

Di padang gurun umat Israel bersungut-sungut karena bosan memakan roti hambar. Tuhan mendatangkan ular tedung yang memagut mereka. Menyadari kesalahan, mereka menghadap Musa untuk memohon ampun dan belas kasih Tuhan. Kemudian, Tuhan meminta Musa membuat ular tembaga yang dipasang pada tiang. Setiap orang Israel yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga itu akan selamat. (lihat Bilangan 21:4-9)

Adakah kita yang seperti umat Israel di zaman nabi Musa? Ketika pandemi Covid-19 memporak-porandakan kehidupan seluruh warga dunia; kita tak dapat lagi berelasi dan beraktivitas seperti biasanya, apakah kita bersungut-sungut? 

Kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, lantaran Ia tidak segera bertindak menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman virus mematikan itu. Kita 'memaksa' Tuhan segera bertindak, sebelum semakin banyak manusia berpaling dari-Nya.

Sudahkah kita melakukan yang satu ini? Pandanglah salib, agar selamat.

Rabu, 09 September 2020

Overdosis Live Streaming

Sejak masa pandemi, banyak sekali siaran live streaming terkait kehidupan menggereja. Perayaan Ekaristi on-line diselenggarakan paroki-paroki di seluruh dunia, kita bisa terbang ke mana pun kita ingin ikut ambil bagian dalam Misa virtual. Belum lagi ada seminar, sarasehan, rekoleksi, retret, doa devosi, novena, dan sebagainya yang digelar berbagai komunitas setiap hari.

Tentu saja siaran-siaran tersebut sangat menenteramkan hati yang tengah gundah di rumah saja. Waktu terisi dengan baik, relasi dengan Tuhan tercerahkan. Tetapi, di sisi lain, pernahkah Anda mengalami satu atau beberapa gejala berikut ini?

* Timbul rasa mual dan pusing saat menyaksikan tayangan live streaming

* Tubuh terasa lunglai, tak berdaya

* Tidak bersemangat mengikuti tayangan live streaming

* Tidak memahami topik yang sedang diperbincangkan dalam tayangan live streaming

Kalau mengalami gejala seperti itu, mungkin pertanda Anda overdosis dalam mengikuti acara-acara di media sosial. 

Sebaiknya, pilih secara selektif kegiatan rohani apa yang penting untuk Anda ikuti secara live streaming. Ingatlah, Tuhan tidak hanya dapat ditemukan melalui pengajaran atau homili atau ceramah atau apa pun perbincangan yang disiarkan secara on-line melalui media sosial. 

Siaran-siaran live streaming terkait hal-hal rohani merupakan salah satu sarana yang dapat membantu meningkatkan keimanan kita di masa pandemi ini. Kita tetap perlu menyediakan waktu hening tanpa siaran media sosial untuk menikmati kebersamaan dengan Tuhan dalam jiwa kita.

Minggu, 06 September 2020

Hater atau Liker?

Media sosial semakin ramai di masa pandemi. Segala hal bisa ditayangkan ke hadapan publik lewat berbagai aplikasi. Keterbukaan informasi publik ini tentu mengundang tanggapan dari para netizen yang merupakan pemirsa media sosial.

Sebagai netizen, terhadap suatu posting di media sosial, kita bisa memilih menjadi orang yang netral (tidak berkomentar), hater (orang yang berkomentar negatif), atau liker (orang yang berkomentar positif). Layaknya audiens media massa yang banyak dan tak semuanya dikenal oleh orang yang menyampaikan pesan, demikian pula netizen tidak seluruhnya dikenal oleh orang yang memposting di media sosial.

Saat ini situasi di sekitar kita cenderung negatif karena imbas pandemi. Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh terhadap komunikasi sosial kita. Namun, dengan pengendalian diri yang baik, kita tetap dapat menjadi netizen yang santun. Tak perlu mengomentari semua posting yang kita lihat. 

Jika ingin berkomentar, tebarkanlah ujaran yang positif dan jadilah liker. Kalau mau mengoreksi postingan yang isinya dianggap negatif atau tidak benar, kita tetap dapat memilih menggunakan kata-kata yang membangun, memberi semangat agar orang yang memposting itu berubah menjadi baik; bukan komentar yang memojokkan, apalagi mencaci. 

Hidup ini sudah berat dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, janganlah kita menambah berat beban dengan menjadi hater bagi orang lain, meskipun kita tidak mengenalnya. Wajah dunia ditentukan oleh orang-orang yang menghuninya. Ciptakanlah hunian bersama yang indah dan nyaman, di mana setiap insan betah tinggal di dalamnya. Mari mulai dari diri sendiri.

Senin, 24 Agustus 2020

Menantang Maut dan Menentang Maut

Seorang nenek, tetanggaku, berjalan melintas di depan rumah. Aku menyapanya, mengingatkan agar ia memakai masker demi kesehatannya. Bulan depan, nenek ini akan berulang tahun ke-92. Suatu berkat kehidupan yang patut disyukuri.

Tetapi sang nenek dengan mata berkaca-kaca mengatakan, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya. Berulang kali ia memohon kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Alasannya, anak yang paling disayanginya telah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. 

Tindakan nenek yang berjalan tanpa masker bisa dikatakan menunjukkan sikapnya menantang maut, sementara sebagian besar umat manusia berjuang menentang maut yang mengintai di masa pandemi Covid-19 ini.

Kehidupan adalah anugerah Tuhan yang penuh misteri. Mengapa tidak kita hidupi tanpa menantang atau menentang maut? Jika sampai hari ini Tuhan masih memberi kita napas kehidupan, berarti Ia masih memberi kita kesempatan menikmati anugerah-Nya di dunia ini. Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya; tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.

Jumat, 14 Agustus 2020

Militia Imakulata

Hari ini Gereja Katolik memperingati kemartiran Santo Maximilian Maria Kolbe (1894-1941), seorang Imam Fransiskan asal Polandia, yang merelakan dirinya menggantikan seorang tawanan lain di kamp konsentrasi Auschwitz pada masa penguasaan Nazi. 

Salah satu warisan St. Max Kolbe ialah komunitas Militia Imakulata. Awalnya, ketika sedang berada di Roma, St. Max Kolbe melihat parade orang-orang Freemason yang memperingati 200 tahun keberadaan mereka dengan membawa spanduk bertuliskan: "Setan akan menguasai Vatikan dan Paus akan menjadi hambanya."

St. Max Kolbe lalu bertekad mempertahankan Gereja. Pada 16 Oktober 1917 - 3 hari setelah penampakan terakhir Bunda Maria di Fatima kepada 3 anak gembala - St. Max Kolbe mendirikan komunitas Militia Imakulata yang kemudian dikenal dengan nama Bentara Maria Imakulata. Tujuan Militia Imakulata ialah mempertobatkan para pendosa dan penganut bidaah, terutama pengikut Freemason; serta pengudusan semua orang melalui teladan dan perantaraan Bunda Maria.

Pilihan St. Max Kolbe kepada Maria Imakulata berdasarkan keyakinan bahwa Bunda Maria akan menang melawan setan dan menghancurkan kepala setan. Selain itu, Bunda Maria adalah perantara segala rahmat.

Menurut St. Max Kolbe ada 3 "medan pertempuran" bagi anggota Militia Imakulata, yaitu  (1) memenangkan jiwa kita sendiri bagi Maria Imakulata, (2) memenangkan jiwa keluarga dan teman-teman kita bagi Maria Imakulata, (3) memenangkan jiwa seluruh umat manusia bagi Maria Imakulata.

St. Maximilian Maria Kolbe dikenal sebagai rasul pengabdian kepada Bunda Maria dan martir cinta kasih. Pada 10 Oktober 1982 ia dikanonisasi oleh Paus St. Yohanes Paulus II.

Jumat, 07 Agustus 2020

Jika Virus Itu Seperti Dosa...

Di masa pandemi Covid-19 ini, kita diminta menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari terpapar virus Corona dengan cara:
- Memakai masker
- Sering mencuci tangan
- Menjaga jarak sosial

Mengibaratkan virus Corona seperti dosa, kita pun perlu menerapkan protokol keselamatan jiwa dengan cara:
- Menutup mulut terhadap pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak perlu
    Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. (Mazmur 17:3)

- Menjaga tangan (perbuatan) kita tetap bersih
    Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya... (Mazmur 27:3-4a)

- Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang dapat membuat jalan kita menyimpang
    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:1-2)

Senin, 03 Agustus 2020

Cara Tuhan Menegur

Nabi Hananya bin Azur bernubuat untuk menyenangkan hati bangsa Israel. Katanya di depan para imam dan seluruh rakyat: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel..." (Yeremia 28:2-3).
 
Tuhan tidak serta-merta menegur Hananya yang bernubuat palsu itu di depan umum. Tuhan membiarkan Hananya berseloroh di depan orang banyak. Nabi Yeremia yang mendengarkan ucapan Hananya hanya berujar, "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini..." (Yeremia 28:6).

Setelah itu, secara pribadi Tuhan mengutus Yeremia menemui Hananya dan mengatakan yang sebenarnya. Karena kekerasan hati bangsa Israel terhadap Tuhan, maka Tuhan akan membuat mereka takhluk kepada Nebukadnezar, raja Babel. Nabi Hananya yang telah meninabobokan bangsa Israel dengan mengatakan Nebukadnezar akan kalah, sehingga bangsa Israel percaya kepada nubuat yang salah - mendapat ganjaran setimpal. Pada tahun itu juga, Hananya mati (Yeremia 28:17).

Dari kisah nabi Hananya dan nabi Yeremia di atas, kita dapat melihat cara Tuhan menegur manusia. Meski Hananya bernubuat tidak benar di depan orang banyak, perbuatannya mendukakan Tuhan; tetapi Tuhan tetap punya etika dalam menegur ciptaan-Nya. Bagaimana dengan kita ketika menegur orang yang bersalah? Apakah kita menegurnya di depan orang banyak, sehingga mempermalukannya? Ataukah kita menegurnya secara pribadi seperti yang Tuhan lakukan?