Senin, 07 Maret 2016

Menyikapi Spotlight


Dari tujuh film yang diunggulkan sebagai film terbaik di ajang Piala Oscar 2016 yang digelar di Dolby Theatre, Hollywood, Los Angeles – Amerika Serikat, pada malam 28 Februari 2016, Spotlight akhirnya terpilih sebagai pemenang. Padahal, film Revenant lebih dijagokan karena sebelumnya film yang membuahkan Leonardo DiCaprio sebagai aktor terbaik ini sudah mengantongi penghargaan sebagai film terbaik di Golden Globe Award dan BAFTA (British Academy Film Awards).

Film Spotlight yang disutradarai Tom McCarthy menjadi film terbaik Oscar dengan jumlah penghargaan paling sedikit. Satu penghargaan lagi yang diraih film ini adalah penghargaan Naskah Asli Terbaik yang ditulis Tom McCarthy dan Josh Singer.

Film berdurasi 2 jam 9 menit yang beredar di Indonesia pertengahan Februari 2016 ini berkisah tentang penyelidikan oleh empat wartawan The Boston Globe tahun 2002 untuk mengungkap kasus pelecehan seksual yang dilakukan John Geoghan, pastor di Keuskupan Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Saat menerima penghargaan Oscar, Michael Sugar, produser film Spotlight berujar, “Film ini menjadi suara bagi para korban. Dan suara ini kami harap bisa menjadi ‘paduan suara’ yang bisa didengar sampai ke Vatikan.”


Tanggapan Paus Fransiskus

Tuduhan pelecehan seksual anak yang melibatkan sejumlah pastor Gereja Katolik sesungguhnya telah lama bergulir. Namun menurut Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keuskupan tidak mengambil sikap tegas terhadap kasus-kasus pelecehan seksual yang dilaporkan ke Vatikan sejak 1995.

Pada Desember 2013, Paus Fransiskus membentuk sebuah tim untuk menyelidiki semua kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilaporkan. Tim ini bertujuan memberantas kekerasan seksual dan memberi keadilan kepada para korban.

Setahun sebelum film Spotlight dibuat, tepatnya pada 11 April 2014, di depan para anggota Biro Anak-Anak Katolik Internasional, sebuah jejaring organisasi Katolik Perancis yang melindungi hak-hak anak, Paus Fransiskus meminta maaf kepada mereka yang dilecehkan secara seksual oleh para pastor. Paus bertekad tak akan mundur dari upaya keras melindungi anak-anak.

Tiga bulan berselang, pada 7 Juli 2014, Paus Fransiskus menggelar pertemuan pertama dengan para korban kekerasan seksual oleh segelintir pastor. Enam korban dari Irlandia, Inggris, dan Jerman; menghadiri misa pagi di kediaman Paus di Vatikan. Paus mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun di Gereja Katolik yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.


Hikmah bagi Umat Katolik

Menyaksikan Spotlight, menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang mengatakan, kita tidak perlu mengeneralisasi seluruh Gereja Katolik buruk; sebab perbuatan kekerasan seksual dilakukan oleh oknum pastor, hanya sedikit sekali dari ratusan ribu pastor di seluruh dunia. Namun, ada pula yang jadi malas beribadah dan berkurang kepercayaannya kepada institusi Gereja Katolik. Yang lain, tidak ambil pusing dengan Spotlight. Itu hanya film, bukankah setiap orang bebas berkreasi dan berinterpretasi?

Satu hal yang menarik, pengumuman Oscar berlangsung pada awal Minggu Prapaskah ke-3 (28 Februari 2016); sementara di akhir Minggu Prapaskah ke-3, tepatnya pada 4-5 Maret 2016, umat Katolik seluruh dunia menanggapi seruan Paus Fransiskus untuk menggelar “Momen 24 Jam untuk Tuhan.” Pada waktu tersebut, umat Katolik semesta didorong untuk semakin mengarahkan hidup kepada Tuhan sepanjang waktu dengan bertobat, rekonsiliasi, peduli, dan berbela rasa.

Suatu kebetulankah? Kedua acara tersebut, tentu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Mungkin ada baiknya, hal ini dipandang sebagai cara Tuhan menyapa umatNya. Dengan rendah hati kita sebagai umat Katolik mengakui, pada dasarnya semua manusia berdosa dan sangat membutuhkan pengampunan dari Allah dan sesama.

Selain itu, kita perlu waspada terhadap berbagai upaya si jahat yang selalu mencari waktu yang baik untuk menggoda manusia (lihat saja apa yang dilakukan iblis setelah mencobai Yesus di padang gurun – Lukas 4:13). Jangan sampai Spotlight menggerus iman kita. Betapa pun, Spotlight hanya sebuah film buatan manusia yang punya berbagai motivasi di baliknya.

Tak perlu ciut hati dengan berbagai rongrongan terhadap Gereja Katolik. Ingatlah Sabda Yesus saat memilih Paus pertama, yakni Santo Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18). Bahkan alam maut saja tak mampu menguasai Gereja yang senantiasa dilindungi Yesus Kristus.

Lihatlah sisi positifnya. Kita dapat menyikapi kemenangan Spotlight di ajang Oscar dengan semakin memurnikan Gereja Katolik. Para imam berikhtiar menjadi semakin kudus seperti Yesus Kristus. Umat Katolik beribadah secara benar dan suci, mendukung karya pelayanan Gereja dengan mendoakan para imam, biarawan, dan biarawati, serta bekerja sama meluaskan Kerajaan Allah.

Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!.... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).

Senin, 29 Februari 2016

Ragu Tetapi Taat

* Musa ragu akan kemampuannya membawa bangsa Israel keluar perbudakan yang dialami di tanah Mesir.

* Naaman ragu akan saran nabi Elisa untuk mandi tujuh kali disungai Yordan agar penyakit kustanya sembuh.

* Janda di Sarfat ragu untuk memenuhi permintaan nabi Elia yang memintanya memasak tepung yang sudah tinggal sedikit itu untuk sang nabi terlebih dulu.

* Yohanes Pembaptis ragu untuk membaptis Yesus karena menganggap dirinya tidak layak.

* Petrus ragu menebarkan jala sesuai saran Yesus, karena sudah semalaman ia melaut dan tidak mendapat ikan.

Keraguan dapat menghinggapi manusia ketika ia diminta melakukan sesuatu yang berbeda, karena dipikirnya tindakan itu bakal merugikannya. Tetapi belajar dari beberapa tokoh di atas, percayalah, tetap taat  menjalani apa yang diperintahkan Tuhan akan membawa berkah.

Sabtu, 27 Februari 2016

Sangat Kaya

Anak sulung itu marah kepada ayahnya, karena sang ayah lebih memerhatikan adiknya yang pulang kembali ke rumah, setelah menghabiskan harta dengan berfoya-foya. "Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku," kata si sulung (lihat Lukas 15:29).

Sang ayah dengan penuh kasih menjawab anaknya, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu...." (Lukas 15:31).

Orang yang bersikap dan perilaku seperti anak sulung itu - setia melayani dan taat (belum pernah melanggar perintah) - sebenarnya tinggal serumah dengan Allah; inilah yang disebut persatuan dengan Tuhan.

Namun, kita sering kali tidak menyadari kehadiran Roh Tuhan yang bersemayam dalam diri kita, yang menggerakkan kita menjadi orang baik. Dan kita menganggap segala rahmat Tuhan sebagai hal yang lumrah.

Sadarilah, sebenarnya kita sangat kaya selama kita selalu bersama-sama dengan Tuhan, karena segala kepunyaanNya adalah kepunyaan kita. 

Selasa, 23 Februari 2016

Godaan dan Pilihan

Ketika manusia digoda, ia selalu punya pilihan: mengikuti godaan atau menolaknya. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendakNya, karena IA menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Kenali godaan melalui pengalaman beberapa tokoh dalam Alkitab berikut ini:

- Hawa digoda si jahat yang menawarinya makan buah pengetahuan baik dan buruk. Hawa tahu, kalau ia memakan buah itu berarti ia melanggar pesan Allah, tetapi ia memilih untuk mengikuti godaan (lihat Kejadian 3:1-7).

- Kain iri karena persembahan Habel adiknya diterima Allah, sedangkan persembahannya ditolak. Kain tergoda untuk menghabisi Habel, padahal ia bisa memilih untuk memohon kepada Allah agar mau menerima persembahannya (lihat Kejadian 4:1-12).  

- Daud menjadi target pembunuhan raja Saul yang tidak senang terhadap calon raja penggantinya. Dalam satu kesempatan di padang gurun En-Gedi, Daud sebenarnya bisa membunuh Saul yang terus mengejarnya. Tetapi Daud memilih hanya memotong punca jubah Saul (lihat 1 Samuel 24:1-13).

- Yusuf tergoda untuk menceraikan Maria tunangannya dengan diam-diam, meskipun ia tahu Maria mengandung dari Roh Kudus. Dalam kebimbangan, malaikat Tuhan muncul dalam mimpi Yusuf, sehingg ia memilih untuk menikahi Maria (lihat Matius 1:18-25)

- Saulus tergoda untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan di Damsyik. Dalam perjalanan ke kota itu, Yesus menampakkan diri. Saulus tidak dapat melihat apa-apa dan tak mau makan-minum selama tiga hari. Dalam pergumulan itu, bisa saja Saulus bersikeras tetap melaksanakan rencananya semula, apalagi ia menjadi buta karena Yesus. Tetapi Saulus memilih untuk bertobat dan menjadi rasul Kristus yang bersemangat baja.
 
Sadarilah godaan, lalu segera ambil pilihan yang tepat. Jangan berlama-lama mendengar bujukan si jahat, sehingga akhirnya terbujuk. Belajarlah cara Yesus menolak godaan. Dengan cepat Yesus menghentikan ocehan si jahat yang tiga kali mencobaiNya di padang gurun (lihat Lukas 4:1-13). Tanpa ragu pula Yesus memarahi Petrus yang berharap Allah menjauhkan Yesus dari derita yang harus ditanggungNya di Yerusalem (lihat Matius 16:21-23).

Si jahat memang selalu menunggu waktu yang baik untuk menggoda manusia, tetapi godaan sedahsyat apa pun tak akan mampu menggoyahkan manusia yang mengambil pilihan berdasarkan Firman Tuhan.


Jumat, 19 Februari 2016

Memberi Nasihat = Menghakimi?

Sekarang banyak orang tak berani mengatakan Kebenaran dengan alasan yang tampaknya mulia - mengutip perkataan Yesus ketika orang-orang Yahudi hendak melempari batu ke seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah, "Kita semua orang berdosa, kita tidak berhak menghakimi."

Di satu sisi pernyataan itu benar, kita semua memang orang berdosa. Tetapi di sisi lain kita punya tanggung jawab untuk mengajar dan memberi nasihat (lihat Katekismus Gereja Katolik 2447). Menegur orang yang berbuat salah bukanlah menghakimi, melainkan justru mengingatkan orang tersebut akan kekeliruan yang mungkin tidak disadari sebelumnya.

Yesus tidak menghukum perempuan pendosa tersebut dengan hukuman fisik. Namun setelah orang-orang Yahudi pergi, Yesus memberi nasihat kepada perempuan itu, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:11).

Orang-orang masa kini mencari yang termudah dan terenak bagi diri sendiri. Tak perlu ikut campur urusan orang lain karena kita menghormati hak asasi manusia. Tak perlu menegur orang yang berbuat salah karena kita pun ada salahnya. Nanti kita malah dicap sok suci.

Padahal, tidak menyuarakaan Kebenaran sama dengan melakukan pembiaran. Lama kelamaan penyimpangan dan kejahatan merajalela, karena tak ada lagi orang yang berani menyatakan Kebenaran. Belajarlah pada Yesus. Jangan hanya mengadopsi sepenggal perkataanNya untuk membenarkan sikap dan tindakan keliru kita. Yesus memang tidak menghakimi, tetapi memberi nasihat jitu kepada orang-orang yang keluar dari rel Kebenaran.

 

Jumat, 12 Februari 2016

Tidak Cukup

Tidak cukup mencariMu setiap hari,
Tidak cukup suka mengenal segala jalanMu,
Tidak cukup menanyakan kepadaMu tentang hukum-hukum yang benar,
Tidak cukup suka mendekat kepadaMu.

Perbuatan mendekatkan diri kepadaMu itu sepertinya benar dan saleh,
tetapi tak berarti apa-apa bagiMu,
jika tanpa disertai perbuatan baik kepada sesama.

Engkau menghendaki kami tidak sekadar melaksanakan hukum dan perintahMu,
melainkan berbuat yang konkret,
melampaui hukum dan perintah yang tertulis.  

Di masa puasa ini, Engkau menghendaki kami:
Membuka belenggu-belenggu kelaliman,
Melepaskan tali-tali kuk,
Memerdekakan orang yang teraniaya,
Mematahkan setiap kuk,
Memecah-mecah roti bagi orang yang lapar,
Membawa ke rumah -orang miskin yang tak punya rumah,
memberi pakaian kepada orang telanjang,
tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri.

(lihat Yesaya 58:1-7)

Rabu, 10 Februari 2016

Bertolak BersamaMu

Engkau mengajakku untuk bertolak ke tempat yang dalam. (lihat Lukas 5:4)

Mengikuti ajakanMu berarti berani meninggalkan tempat berpijakku sekarang,
membiarkanMu membimbingku ke tempat yang Engkau ingin kita tuju.

Tanpa mengetahui dengan jelas seberapa berat perjalanan ini,
pemandangan dan tantangan apa saja yang akan kita hadapi.

Yang terpenting, kita mengarunginya bersama-sama,
dan Engkau meyakiniku seraya berkata, "Jangan takut!"