Kemarin aku mendengar Kau dengan berani melakukan inspeksi mendadak dan membersihkan Bait Allah. Kau begitu mencintai rumah BapaMu, sehingga tak rela kalau rumah itu menjadi kotor akibat transaksi dagang.
Tiga bulan lalu Kau melakukan inspeksi mendadak dan membersihkan diriku. Aku yakin, Kau pun melakukan itu karena Kau begitu mencintaiku, sehingga tak rela kalau tubuh ini - yang menurut St. Paulus adalah Bait Roh Kudus - menjadi kotor akibat tumpukan dosa selama puluhan tahun. Terima kasih atas CintaMu.
Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! (Mazmur 51:8-9)
Senin, 12 Maret 2012
Sabtu, 10 Maret 2012
Penderitaan sebagai Pemurnian Jiwa
Ketika kita menderita suatu penyakit atau mengalami kecelakaan yang
menyebabkan kita sakit, bagaimana kita menyikapi penderitaan fisik itu?
Ada orang-orang menjadi sakit
oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab
kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka
sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan
dalam kesesakan mereka, dan diselamatkanNya mereka dari kecemasan mereka,
disampaikanNya firmanNya dan disembuhkanNya mereka, diluputkanNya mereka dari
liang kubur. (Mazmur 107:17-20)
Seperti dikatakan dalam Mazmur di atas, mungkin saja akibat dosa-dosa
kita – termasuk kelalaian kita menjaga kesehatan tubuh yang telah dianugerahkan
Tuhan kepada kita – membuat kita menjadi sakit. Tetapi janganlah kita kemudian
memandang sakit itu sebagai kutukan Tuhan, melainkan suatu karunia.
Tuhan mempunyai maksud dengan meletakkan penyakit atau rasa sakit pada
tubuh kita. Pada saat kita mengalaminya, sering kali kita belum memahami makna
di balik penderitaan sakit. Namun, kalau kita bisa mengambil jarak, mengatasi kemarahan,
kekecewaan, dan kesedihan yang kita rasakan; maka kita akan memperoleh pemahaman
yang lebih mendalam.
Simaklah pengalaman beberapa orang suci ini. Sebelum menyerahkan diri secara total kepada Kristus dan melayani
Kristus sepenuh jiwa-raga, mereka mengalami proses pemurnian jiwa
melalui sakit – baik sakit yang diderita karena suatu penyakit yang jelas atau
tak jelas penyebabnya, maupun sakit karena terluka dalam peperangan.
Santo Fransiskus Assisi menderita sakit berkepanjangan di tahun 1204,
setelah itu ia mendapat penglihatan yang menjadi awal pertobatannya. Kedua kaki
Santo Ignatius dari Loyola diterjang peluru saat melawan tentara Perancis.
Kesakitan dan sekarat, akhirnya ia dapat melewati masa kritis. Pada masa
perawatan itu ia membaca buku riwayat hidup Kristus yang menghantarnya pada
pengenalan dan cinta akan Kristus.
Santa Teresa Avila setelah menjalani kehidupan di biara selama dua
tahun, mengalami sakit berat hingga koma selama empat hari. Setelah sadar, ia
menderita lumpuh selama delapan bulan dan sembuh melalui doa kepada Santo
Yoseph.
Dalam buku Puri Batin tentang pertumbuhan kehidupan rohani, Santa Teresa Avila menguraikan adanya tujuh ruang dalam batin manusia. Pada ruang batin yang keenam, jiwa mengalami kerinduan sangat dalam akan Allah. Kerinduan itu bisa mengakibatkan penderitaan yang besar. Namun, untuk dapat bersatu dengan Allah, di satu sisi jiwa harus mengalami pemurnian, meskipun di sisi lain memperoleh berkat-berkat luar biasa.
Dalam buku Puri Batin tentang pertumbuhan kehidupan rohani, Santa Teresa Avila menguraikan adanya tujuh ruang dalam batin manusia. Pada ruang batin yang keenam, jiwa mengalami kerinduan sangat dalam akan Allah. Kerinduan itu bisa mengakibatkan penderitaan yang besar. Namun, untuk dapat bersatu dengan Allah, di satu sisi jiwa harus mengalami pemurnian, meskipun di sisi lain memperoleh berkat-berkat luar biasa.
Menurut Santa Teresa Avila, pencobaan-pencobaan yang dialami jiwa di
saat pemurnian bisa bersifat lahiriah semata seperti penyakit jasmani,
ditinggalkan sahabat-sahabat, salah mengerti, penganiayaan, kesulitan dengan
bapa pengakuan, namun dapat juga berupa pencobaan-pencobaan batin. Penderitaan
itu perlu untuk memurnikan jiwa dan mempersiapkan jiwa untuk persatuan dengan
Sang Mempelai dalam ruang batin yang ketujuh.
Kalau saat ini Anda sedang menjalani masa perawatan atau pemulihan
suatu penyakit atau sakit akibat kecelakaan, pandanglah penderitaan itu sebagai
suatu karunia. Suatu cara yang digunakan Tuhan untuk memurnikan jiwa Anda.
Tuhan sangat mengasihi Anda, Ia ingin menyatu dengan Anda. Bukalah hati Anda,
biarkan Ia masuk dan tinggal di dalamnya.
Melalui penderitaan fisik yang kita alami, Tuhan menebus kita secara
pribadi. Kita disapa Tuhan secara personal, bukan massal. Rasa
sakit yang kita panggul akan terasa manis sebagai persembahan kasih untuk Tuhan
yang telah menyelamatkan kita. Katakanlah dengan penuh cinta
kepadaNya: Dimuliakankah Engkau, ya Tuhan Yesus, dalam sehat dan sakitku.
Selanjutnya, nantikanlah dengan sabar tugas perutusan yang akan diberikanNya..
Dialah yang menyelamatkan kita
dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah
dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman. (2
Timotius 1:9)
Kamis, 01 Maret 2012
Berada di PelataranMu
Sungguh ajaib Engkau. Ketika aku membuka diriku terhadap perkataanMu, satu per satu rahasia kehidupan Kau singkapkan.
Setelah Kau berikan jaminan masa tua, kini Kau ungkap rahasia bagaimana seseorang bisa ditanam di bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah.
PerkataanMu datang dari Zakharia 3:7:
"Beginilah firman Tuhan semesta alam: Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu, maka engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku, dan Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini...
Semakin mengenalMu dalam peziarahan di dunia ini, semakin besar daya tarikMu - laksana seorang kekasih yang menyingkapkan kepribadiannya.
Setelah Kau berikan jaminan masa tua, kini Kau ungkap rahasia bagaimana seseorang bisa ditanam di bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah.
PerkataanMu datang dari Zakharia 3:7:
"Beginilah firman Tuhan semesta alam: Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu, maka engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku, dan Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini...
Semakin mengenalMu dalam peziarahan di dunia ini, semakin besar daya tarikMu - laksana seorang kekasih yang menyingkapkan kepribadiannya.
Senin, 27 Februari 2012
Jaminan Masa Tua
Menjelang separuh abad, tubuh mulai didera aneka penyakit. Pergi ke rumah sakit, menyaksikan banyak lansia dengan susah payah mendatangi dokter untuk berobat. Bergaul dengan sejumlah tetangga yang sudah paruh baya, bertutur tentang berbagai penyakit yang mereka derita.
Apa enaknya masa tua, jika terus-menerus dihujani penyakit? Lewat sebuah renungan harian yang kubaca, Engkau memberi jawaban yang tepat padaku, ketika aku sampai pada titik jenuh memikirkan kenyataan hidup tersebut.
mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. (Mazmur 92:14-16)
Aku lalu teringat, beberapa biarawan dan biarawati yang mempersembahkan hidup mereka hanya untuk melayaniMu. Tubuh mereka tetap segar, meski telah menginjak usia lanjut. Pencerahan yang Kau berikan lewat ayat-ayat Mazmur di atas memberi peneguhan kepadaku. Pertambahan usia bukan lagi kenyataan yang menakutkan, karena aku telah mendapat jaminan masa tua dariMu.
Apa enaknya masa tua, jika terus-menerus dihujani penyakit? Lewat sebuah renungan harian yang kubaca, Engkau memberi jawaban yang tepat padaku, ketika aku sampai pada titik jenuh memikirkan kenyataan hidup tersebut.
mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. (Mazmur 92:14-16)
Aku lalu teringat, beberapa biarawan dan biarawati yang mempersembahkan hidup mereka hanya untuk melayaniMu. Tubuh mereka tetap segar, meski telah menginjak usia lanjut. Pencerahan yang Kau berikan lewat ayat-ayat Mazmur di atas memberi peneguhan kepadaku. Pertambahan usia bukan lagi kenyataan yang menakutkan, karena aku telah mendapat jaminan masa tua dariMu.
Minggu, 19 Februari 2012
Hanya Ada "Ya"
Adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat "ya" dan "tidak"? (2 Korintus 1:17)
"Ya" dan "tidak," dua kata itulah yang belakangan ini memenuhi benak. Ketika rasa sakit mendera, aku lebih cenderung mengatakan "tidak." Untuk apa bertahan di dunia yang penuh penderitaan ini? Bukankah lebih cepat menjumpaiMu lebih baik?
Tetapi, kesadaran itu muncul. Mengapa aku hanya mau menerima yang nikmat dan menyenangkan dariMu? Engkau sendiri telah mengatakan, siapa yang ingin mengikuti Engkau harus rela memanggul salib dan menyangkal diri. Lalu, kata "tidak" berganti menjadi "ya."
MencintaiMu sungguh membutuhkan pengorbanan, lelehan air mata, dan sakit tak terkata - raga maupun batin. Ketika sudah memutuskan untuk menempuh jalan itu, pilihan yang tersedia hanya mundur atau tetap bertahan. Tidak bisa "ya" dan "tidak."
Sejumlah pengalaman belakangan ini membuktikan, kalau tetap bertahan di jalanMu, meski batu-batu itu terasa menyakitkan di tubuh sebagai alas kakiMu, Kau lalu akan mengganjar dengan penyelesaian yang melegakan.
Semakin hari berjalan bersamaMu, semakin aku meng-amin-i kalimat Santo Paulus ini: Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. (2 Korintus 1:20a).
"Ya" dan "tidak," dua kata itulah yang belakangan ini memenuhi benak. Ketika rasa sakit mendera, aku lebih cenderung mengatakan "tidak." Untuk apa bertahan di dunia yang penuh penderitaan ini? Bukankah lebih cepat menjumpaiMu lebih baik?
Tetapi, kesadaran itu muncul. Mengapa aku hanya mau menerima yang nikmat dan menyenangkan dariMu? Engkau sendiri telah mengatakan, siapa yang ingin mengikuti Engkau harus rela memanggul salib dan menyangkal diri. Lalu, kata "tidak" berganti menjadi "ya."
MencintaiMu sungguh membutuhkan pengorbanan, lelehan air mata, dan sakit tak terkata - raga maupun batin. Ketika sudah memutuskan untuk menempuh jalan itu, pilihan yang tersedia hanya mundur atau tetap bertahan. Tidak bisa "ya" dan "tidak."
Sejumlah pengalaman belakangan ini membuktikan, kalau tetap bertahan di jalanMu, meski batu-batu itu terasa menyakitkan di tubuh sebagai alas kakiMu, Kau lalu akan mengganjar dengan penyelesaian yang melegakan.
Semakin hari berjalan bersamaMu, semakin aku meng-amin-i kalimat Santo Paulus ini: Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. (2 Korintus 1:20a).
Sabtu, 11 Februari 2012
Ujian Kesetiaan
Aku telah bersedia mengiringi langkahMu, mengikuti ke mana Engkau membawaku, terutama dalam tiga hari ini, saat aku benar-benar sendirian. Hari pertama, terjadi pergumulan hebat menjelang senja. Seperti pergumulanMu di Taman Getsemani. Merasa ditinggalkan, menghadapi semua yang menakutkan sendirian....
Hampir dua jam aku bergumul, sampai batas kekuatanku. Ada dorongan untuk meminta tolong pada orang-orang yang kukenal. Tetapi aku bertahan dalam kesendirian, lalu aku berdoa Rosario dan melepaskannya.... Dengan berjarak, aku dapat melihat pergumulan yang bagai pertempuran itu sungguh menguras habis energi. Aku kelelahan. Engkau berkata, "Jika kamu bisa hidup tanpa pikiran dan perasaan, maka tak akan ada lagi rasa takut." Hatiku mulai tenang.
Hari kedua, aku bangun dengan segar. Dalam terangMu aku mendengar Kau berkata, "Sesungguhnya musuh lama si setan bukanlah makhluk mengerikan di luar dirimu, melainkan dirimu sendiri dengan segala nafsu dan keinginannya." Sungguh tepat apa yang Kau bisikkan padaku. Pertempuran menghadapi diri sendiri adalah pertempuran terberat.
Siang hari aku memandang wajahMu yang selalu penuh kasih, meskipun aku penuh kelemahan. Kau memelukku dengan hangat. Aku terdiam dalam keharuan. Segala aktivitas dapat kulalui hari ini dengan baik dan lancar, tanpa merasa sakit. Bahkan Kau menyediakan kendaraan umum yang memudahkan aku pergi ke dan pulang dari tujuan.
Sore hari aku menemui seorang dokter. Bukan hanya mengobati gigi, ia bercerita panjang lebar tentang berbagai penyakit yang membuat rasa takutku bangkit kembali. Oh, memang cobaan ini tak henti menghadang. Aku tak ingin terpengaruh perkataannya. Betapa pun ia hanya manusia juga, seperti aku, bukan seperti Engkau yang Maha Kuasa.
Malam hari aku membaca buku Salam Damai dari Assisi, yang mengulas kehidupan St. Fransiskus Assisi. Dikisahkan, setelah Fransiskus mengalami Tuhan yang menyentuhnya, ia merasa hidup dalam ketidakpastian dan ketidakpuasan. Ia tidak tahu ke mana arah yang dituju. Ia mendengar suaraMu untuk memperbaiki GerejaMu yang hampir roboh. Semula, Fransiskus berpikir, Engkau memintanya memperbaiki bangunan fisik gereja, belakangan bermakna kehidupan menggereja yang mulai tergerus di zaman itu. Apakah yang Engkau minta untuk aku lakukan di zaman sekarang?
Ketika bangun di hari ketiga, aku pikir hari ini aku akan mengalami yang lebih menenteramkan, setelah kemarin Engkau melawatku. Nyatanya, pagi ini aku bangun dengan rasa sangat tidak nyaman di dalam tubuhku. Kalimat-kalimat sang dokter kemarin, kembali terngiang. Ah, mengapa aku begitu mudah dipengaruhi?
Tubuhku terasa lemah. Denyut nadi bertambah cepat. Aku bergumul, antara menyerah dan pergi ke rumah sakit atau bertahan sesuai janjiku padaMu selama tiga hari ini. Aku ingat akan kasih setiaMu. Kau tak pernah ingkar janji. Mengapa aku harus menyerah? Aku akan bertahan bersamaMu, aku ingin lulus dari ujian kesetiaan ini. Aku tahu, Kau tak akan membiarkanku menderita melebihi kemampuanku.
Aku berupaya mengobati diriku dan menguasai tubuhku. Hidup-matiku ada di tanganMu. Engkau tahu apa yang terbaik untukku. Semoga hidupku menjadi pujian kemuliaan bagi namaMu. Menjelang siang, aku sudah bisa mengendalikan keadaan lahir dan batinku.
Menunggu saat berdoa Koronka pukul 15, Engkau berkata, "Yang Kuinginkan cintamu sepenuh hati, tanpa rasa ragu dan takut." Aku terkesiap. Ya, sudah lebih dari dua bulan imanku naik-turun seirama penyakitku. Kita lalu bersepakat, akan saling mengasihi tanpa rasa ragu dan takut.
Kedamaian melingkupi. Aku tak lagi khawatir akan penyakitku. Bukankah selama ini Kau selalu menjagaku, memberitahu rambu-rambu, dan membawaku pada pengobatan yang tepat? Aku akan mengerjakan bagianku untuk memerhatikan kesehatanku dan selebihnya adalah bagianMu. Terima kasih, Engkau sangat mengasihiku....
Perjalanan tiga hari non-stop bersamaMu telah berakhir. Aku bersiap ke luar kota untuk keperluan keluarga keesokan harinya. Semua persiapan telah rapi, tetapi karena beberapa alasan, aku lalu membatalkannya. Aku memperpanjang sehari lagi kebersamaan denganMu. Ternyata, bukan tanpa cobaan - masalah yang dihadapi anakku dan berbagai pikiran terkait sakitku.
Oh... lagi-lagi diri ini muncul. Mengapa aku tidak bisa pasrah seperti orang-orang kecil yang melihat sakit yang mereka derita dari kacamata sangat sederhana: hanya karena masuk angin? Tak ada cara lain melawan godaan-godaan ini, kecuali dalam doa.
Seusai berdoa, jantung yang berdegup keras selama setengah hari tadi tak lagi terasa. Meskipun hujan cukup lebat sore ini, aku tak merasa kesepian dan ketakutan. Aku merasakan penyertaanMu. Begitu pula malam ini, ketika akan beranjak tidur. Aku merasa begitu damai.
Baru dua jam terlelap, aku terbangun dalam kegelapan pekat. Rupanya, aliran listrik mati. Gelap... di mana-mana gelap.... Haruskah aku bangun menyalakan lilin atau senter? Tetapi, untuk apa? Aku lebih memilih kembali memejamkan mata dan memasrahkan semuanya kepadaMu. Malam gelap ini menjadi titik puncak penyerahan total diriku padaMu.
Betapa sangat berharga pengalamanku berjalan bersamaMu secara khusus dalam empat hari ini. Bersama nabi Ayub kini aku dapat berujar: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Ayub 42:5)
Hampir dua jam aku bergumul, sampai batas kekuatanku. Ada dorongan untuk meminta tolong pada orang-orang yang kukenal. Tetapi aku bertahan dalam kesendirian, lalu aku berdoa Rosario dan melepaskannya.... Dengan berjarak, aku dapat melihat pergumulan yang bagai pertempuran itu sungguh menguras habis energi. Aku kelelahan. Engkau berkata, "Jika kamu bisa hidup tanpa pikiran dan perasaan, maka tak akan ada lagi rasa takut." Hatiku mulai tenang.
Hari kedua, aku bangun dengan segar. Dalam terangMu aku mendengar Kau berkata, "Sesungguhnya musuh lama si setan bukanlah makhluk mengerikan di luar dirimu, melainkan dirimu sendiri dengan segala nafsu dan keinginannya." Sungguh tepat apa yang Kau bisikkan padaku. Pertempuran menghadapi diri sendiri adalah pertempuran terberat.
Siang hari aku memandang wajahMu yang selalu penuh kasih, meskipun aku penuh kelemahan. Kau memelukku dengan hangat. Aku terdiam dalam keharuan. Segala aktivitas dapat kulalui hari ini dengan baik dan lancar, tanpa merasa sakit. Bahkan Kau menyediakan kendaraan umum yang memudahkan aku pergi ke dan pulang dari tujuan.
Sore hari aku menemui seorang dokter. Bukan hanya mengobati gigi, ia bercerita panjang lebar tentang berbagai penyakit yang membuat rasa takutku bangkit kembali. Oh, memang cobaan ini tak henti menghadang. Aku tak ingin terpengaruh perkataannya. Betapa pun ia hanya manusia juga, seperti aku, bukan seperti Engkau yang Maha Kuasa.
Malam hari aku membaca buku Salam Damai dari Assisi, yang mengulas kehidupan St. Fransiskus Assisi. Dikisahkan, setelah Fransiskus mengalami Tuhan yang menyentuhnya, ia merasa hidup dalam ketidakpastian dan ketidakpuasan. Ia tidak tahu ke mana arah yang dituju. Ia mendengar suaraMu untuk memperbaiki GerejaMu yang hampir roboh. Semula, Fransiskus berpikir, Engkau memintanya memperbaiki bangunan fisik gereja, belakangan bermakna kehidupan menggereja yang mulai tergerus di zaman itu. Apakah yang Engkau minta untuk aku lakukan di zaman sekarang?
Ketika bangun di hari ketiga, aku pikir hari ini aku akan mengalami yang lebih menenteramkan, setelah kemarin Engkau melawatku. Nyatanya, pagi ini aku bangun dengan rasa sangat tidak nyaman di dalam tubuhku. Kalimat-kalimat sang dokter kemarin, kembali terngiang. Ah, mengapa aku begitu mudah dipengaruhi?
Tubuhku terasa lemah. Denyut nadi bertambah cepat. Aku bergumul, antara menyerah dan pergi ke rumah sakit atau bertahan sesuai janjiku padaMu selama tiga hari ini. Aku ingat akan kasih setiaMu. Kau tak pernah ingkar janji. Mengapa aku harus menyerah? Aku akan bertahan bersamaMu, aku ingin lulus dari ujian kesetiaan ini. Aku tahu, Kau tak akan membiarkanku menderita melebihi kemampuanku.
Aku berupaya mengobati diriku dan menguasai tubuhku. Hidup-matiku ada di tanganMu. Engkau tahu apa yang terbaik untukku. Semoga hidupku menjadi pujian kemuliaan bagi namaMu. Menjelang siang, aku sudah bisa mengendalikan keadaan lahir dan batinku.
Menunggu saat berdoa Koronka pukul 15, Engkau berkata, "Yang Kuinginkan cintamu sepenuh hati, tanpa rasa ragu dan takut." Aku terkesiap. Ya, sudah lebih dari dua bulan imanku naik-turun seirama penyakitku. Kita lalu bersepakat, akan saling mengasihi tanpa rasa ragu dan takut.
Kedamaian melingkupi. Aku tak lagi khawatir akan penyakitku. Bukankah selama ini Kau selalu menjagaku, memberitahu rambu-rambu, dan membawaku pada pengobatan yang tepat? Aku akan mengerjakan bagianku untuk memerhatikan kesehatanku dan selebihnya adalah bagianMu. Terima kasih, Engkau sangat mengasihiku....
Perjalanan tiga hari non-stop bersamaMu telah berakhir. Aku bersiap ke luar kota untuk keperluan keluarga keesokan harinya. Semua persiapan telah rapi, tetapi karena beberapa alasan, aku lalu membatalkannya. Aku memperpanjang sehari lagi kebersamaan denganMu. Ternyata, bukan tanpa cobaan - masalah yang dihadapi anakku dan berbagai pikiran terkait sakitku.
Oh... lagi-lagi diri ini muncul. Mengapa aku tidak bisa pasrah seperti orang-orang kecil yang melihat sakit yang mereka derita dari kacamata sangat sederhana: hanya karena masuk angin? Tak ada cara lain melawan godaan-godaan ini, kecuali dalam doa.
Seusai berdoa, jantung yang berdegup keras selama setengah hari tadi tak lagi terasa. Meskipun hujan cukup lebat sore ini, aku tak merasa kesepian dan ketakutan. Aku merasakan penyertaanMu. Begitu pula malam ini, ketika akan beranjak tidur. Aku merasa begitu damai.
Baru dua jam terlelap, aku terbangun dalam kegelapan pekat. Rupanya, aliran listrik mati. Gelap... di mana-mana gelap.... Haruskah aku bangun menyalakan lilin atau senter? Tetapi, untuk apa? Aku lebih memilih kembali memejamkan mata dan memasrahkan semuanya kepadaMu. Malam gelap ini menjadi titik puncak penyerahan total diriku padaMu.
Betapa sangat berharga pengalamanku berjalan bersamaMu secara khusus dalam empat hari ini. Bersama nabi Ayub kini aku dapat berujar: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Ayub 42:5)
Senin, 06 Februari 2012
Memilih Menyingkir
NamaMu sudah harum di Kapernaum, lantaran banyak orang Kau sembuhkan. Kabar dari mulut ke mulut segera menyebar. Dalam hitungan jam, semakin berkerumun orang di tempatMu singgah hari itu. Ada godaan dalam hati, akankah Kau tetap tinggal di sana dengan alasan yang baik untuk menyembuhkan orang-orang sakit - dan Engkau akan semakin dihormati? Atau Kau akan meninggalkan semua kebesaran itu, mendatangi kota-kota yang berdekatan tanpa tahu bagaimana sambutan penduduknya terhadapMu?
Dalam keheningan menjelang fajar, waktu hari masih gelap; Engkau bangun, pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Kesunyian dan kesendirian menjadikan mata hatiMu terang. Kau bisa mengambil keputusan dengan jernih.
"Semua orang mencari Engkau," kata salah seorang muridMu.
"Marilah kita pergi ke tempat lain...," jawabMu.
Aku ingin belajar dariMu. Mengambil keputusan tanpa gegabah. Mencari kehendak Allah di atas segalanya.
(Inspirasi dari Bacaan Injil Markus 2:29-39)
Dalam keheningan menjelang fajar, waktu hari masih gelap; Engkau bangun, pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Kesunyian dan kesendirian menjadikan mata hatiMu terang. Kau bisa mengambil keputusan dengan jernih.
"Semua orang mencari Engkau," kata salah seorang muridMu.
"Marilah kita pergi ke tempat lain...," jawabMu.
Aku ingin belajar dariMu. Mengambil keputusan tanpa gegabah. Mencari kehendak Allah di atas segalanya.
(Inspirasi dari Bacaan Injil Markus 2:29-39)