Misa harian pagi itu terlambat 20 menit. Pasalnya, Imam yang memimpin misa kebablasan tidur. Alarm yang dipasang untuk membangunkan beliau tidak berbunyi. Kejadian ini membuahkan refleksi: Bagaimana jika alarm dalam diri kita tidak berfungsi?
Alarm pengetahuan baik dan jahat, alarm kejujuran, alarm kasih, alarm kemanusiaan, alarm kerendahan hati, alarm penyangkalan diri, alarm ketegasan... dan alarm-alarm lain yang berfungsi mengingatkan kita kepada kebenaran pikiran, perkataan, dan perilaku kita; yang membuat kita terhindar dari jerat dosa dan maut.
Periksalah keberfungsian alarm kita secara berkala dengan berpedoman pada kebenaran Alkitab.
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua
manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh,
sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran
hati kita. (Ibrani 4:12)
Kamis, 22 Oktober 2015
Jumat, 09 Oktober 2015
Kerendahan Hati dan Ketaatan
Masa pemurnian telah selesai,
kini saatnya belajar mengosongkan diri.
Bagai bejana baru yang siap Engkau isi,
dalam kepasrahan total kepadaMu.
Untuk dapat mengosongkan diri,
perlu kerendahan hati.
Untuk dapat berserah secara total,
perlu ketaatan.
Kerendahan hati dan ketaatan,
kunci menuju kesatuan dengan Bapa.
Engkau sendiri telah mencontohkannya,
semasa hidupMu di dunia.
Setahap demi setahap,
Engkau membuka pemahamanku.
Aku masih perlu banyak sekali belajar dariMu.
Biarkan Air itu mengalir ke dalam bejana,
sampai penuh pada saat yang Engkau tentukan.
kini saatnya belajar mengosongkan diri.
Bagai bejana baru yang siap Engkau isi,
dalam kepasrahan total kepadaMu.
Untuk dapat mengosongkan diri,
perlu kerendahan hati.
Untuk dapat berserah secara total,
perlu ketaatan.
Kerendahan hati dan ketaatan,
kunci menuju kesatuan dengan Bapa.
Engkau sendiri telah mencontohkannya,
semasa hidupMu di dunia.
Setahap demi setahap,
Engkau membuka pemahamanku.
Aku masih perlu banyak sekali belajar dariMu.
Biarkan Air itu mengalir ke dalam bejana,
sampai penuh pada saat yang Engkau tentukan.
Jumat, 18 September 2015
Taat dan Setia
Orang yang setia adalah orang yang selalu taat. Untuk dapat menjadi orang yang setia,
kita perlu bertahan terus dalam ketaatan.
kita perlu bertahan terus dalam ketaatan.
Selasa, 15 September 2015
Martir Tanpa Darah
Semasa hidup di dunia Bunda Maria mengalami berbagai penderitaan, terutama tujuh duka yang kita peringati hari ini. Duka-duka itu menjadikan Bunda Maria sebagai Martir Tanpa Darah.
Sampai sekarang, Bunda Maria masih berduka melihat penderitaan yang dialami manusia di muka bumi:
* Bunda Maria berduka karena perbantahan di antara manusia - percekcokan, pertengkaran, dan permusuhan merajalela dari lingkup rumah tangga hingga antar-negara.
* Bunda Maria berduka karena banyak orang harus mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat perang dan bencana alam.
* Bunda Maria berduka karena anak-anakNya yang hilang - semakin menjauh dari Kerajaan Allah.
* Bunda Maria berduka karena sikap apatis manusia - ketidakpedulian akan penderitaan orang lain di sekitarnya.
* Bunda Maria berduka karena semakin banyak orang memilih kematian yang sia-sia, tanpa menggali tujuan hidup yang bermakna.
* Bunda Maria berduka karena kekerasan semakin kerap terjadi, seolah menjadi cara yang wajar untuk menyingkirkan makhluk lain yang tidak disukai.
* Bunda Maria berduka karena kehampaan hidup yang dialami manusia akibat meluasnya paham-paham duniawi.
Karena itu, sampai sekarang Bunda Maria terus bergiat dalam upaya menyelamatkan umat manusia. Kita pun dapat meringankan, kalau tidak mampu menghapus, duka Bunda Maria. Bertobat, berdoa, berpuasa, dan bermatiraga demi keselamatan banyak orang - menjadi Martir Tanpa Darah seperti Bunda Maria.
Sampai sekarang, Bunda Maria masih berduka melihat penderitaan yang dialami manusia di muka bumi:
* Bunda Maria berduka karena perbantahan di antara manusia - percekcokan, pertengkaran, dan permusuhan merajalela dari lingkup rumah tangga hingga antar-negara.
* Bunda Maria berduka karena banyak orang harus mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat perang dan bencana alam.
* Bunda Maria berduka karena anak-anakNya yang hilang - semakin menjauh dari Kerajaan Allah.
* Bunda Maria berduka karena sikap apatis manusia - ketidakpedulian akan penderitaan orang lain di sekitarnya.
* Bunda Maria berduka karena semakin banyak orang memilih kematian yang sia-sia, tanpa menggali tujuan hidup yang bermakna.
* Bunda Maria berduka karena kekerasan semakin kerap terjadi, seolah menjadi cara yang wajar untuk menyingkirkan makhluk lain yang tidak disukai.
* Bunda Maria berduka karena kehampaan hidup yang dialami manusia akibat meluasnya paham-paham duniawi.
Karena itu, sampai sekarang Bunda Maria terus bergiat dalam upaya menyelamatkan umat manusia. Kita pun dapat meringankan, kalau tidak mampu menghapus, duka Bunda Maria. Bertobat, berdoa, berpuasa, dan bermatiraga demi keselamatan banyak orang - menjadi Martir Tanpa Darah seperti Bunda Maria.
Kamis, 03 September 2015
Hari-Hari Ini adalah Jahat
Kejahatan semakin merajalela, dengan kekejaman yang tak terbayangkan. Penghilangan nyawa manusia lain tidak lagi dipandang sebagai kejahatan tertinggi.
Bagaimana bisa terjadi, seorang siswa SMP di Bandung membawa palu dari rumahnya untuk dipukulkan ke kepala siswi SMP lain? Lalu, mengapa seorang pria penagih utang di Bekasi tega mencekik dan membenturkan kepala perempuan yang berutang Rp 300 ribu ke lantai, hingga berujung pada kematian?
Dua kejahatan dalam kurun satu minggu itu hanyalah segelintir dari bermacam kekerasan yang terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia. Banyak manusia tidak lagi memiliki hati yang lemah lembut. Egoisme melambung, mengalahkan kemanusiaan. Suara hati menjadi tumpul.
Tidakkah Anda merasakan, betapa kuasa kegelapan semakin mencengkeram dunia ini? Si jahat kian gencar berkeliaran mencari mangsa. Dengan kelicikannya menyulut pertengkaran antarpribadi, permusuhan antarkomunitas, sampai peperangan antarbangsa.
Hari-hari ini adalah jahat. Untuk itu kita perlu menggunakan waktu yang ada dengan bijak:
Lawanlah si jahat dengan kekuatan doa.
Bertahan dalam iman dan kebenaran.
Bertumbuh dalam kasih dan pengharapan.
Setia menempuh jalan sunyi yang tidak populer.
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:15-17)
Bagaimana bisa terjadi, seorang siswa SMP di Bandung membawa palu dari rumahnya untuk dipukulkan ke kepala siswi SMP lain? Lalu, mengapa seorang pria penagih utang di Bekasi tega mencekik dan membenturkan kepala perempuan yang berutang Rp 300 ribu ke lantai, hingga berujung pada kematian?
Dua kejahatan dalam kurun satu minggu itu hanyalah segelintir dari bermacam kekerasan yang terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia. Banyak manusia tidak lagi memiliki hati yang lemah lembut. Egoisme melambung, mengalahkan kemanusiaan. Suara hati menjadi tumpul.
Tidakkah Anda merasakan, betapa kuasa kegelapan semakin mencengkeram dunia ini? Si jahat kian gencar berkeliaran mencari mangsa. Dengan kelicikannya menyulut pertengkaran antarpribadi, permusuhan antarkomunitas, sampai peperangan antarbangsa.
Hari-hari ini adalah jahat. Untuk itu kita perlu menggunakan waktu yang ada dengan bijak:
Lawanlah si jahat dengan kekuatan doa.
Bertahan dalam iman dan kebenaran.
Bertumbuh dalam kasih dan pengharapan.
Setia menempuh jalan sunyi yang tidak populer.
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:15-17)
Jumat, 28 Agustus 2015
Di Bawah Pohon Ara
Di bawah pohon ara Filipus bertemu Natanael. Filipus berkata tentang Yesus anak Yusuf dari Nazaret. "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" tanya Natanael kepada Filipus.
Ketika Natanael datang kepadaNya, Yesus berkata, "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Natanael menanggapi Yesus. (lihat Yohanes 1:45-51)
Mengapa Natanael takjub akan Yesus yang mengatakan sebelumnya Ia telah melihat Natanael di bawah pohon ara?
Di bawah pohon ara Natanael meragukan ke-Ilahi-an Yesus yang berasal dari Nazaret. Dengan berkata telah melihatnya di bawah pohon ara, berarti Yesus sudah mengetahui seluruh isi hati Natanael. Natanael merasa "telanjang" di hadapan Yesus.
Di dalam hati kita berkutat segala pikiran, perasaan, niat, rancangan, keinginan, dan harapan. Adakah kepalsuan dan kebusukan di dalam hati kita? Di hadapan Allah kita semua "telanjang."
Ketika Natanael datang kepadaNya, Yesus berkata, "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Natanael menanggapi Yesus. (lihat Yohanes 1:45-51)
Mengapa Natanael takjub akan Yesus yang mengatakan sebelumnya Ia telah melihat Natanael di bawah pohon ara?
Di bawah pohon ara Natanael meragukan ke-Ilahi-an Yesus yang berasal dari Nazaret. Dengan berkata telah melihatnya di bawah pohon ara, berarti Yesus sudah mengetahui seluruh isi hati Natanael. Natanael merasa "telanjang" di hadapan Yesus.
Di dalam hati kita berkutat segala pikiran, perasaan, niat, rancangan, keinginan, dan harapan. Adakah kepalsuan dan kebusukan di dalam hati kita? Di hadapan Allah kita semua "telanjang."
Selasa, 25 Agustus 2015
Jalan di Tengah
Jalan di sisi kanan penuh semarak surgawi
Jalan di sisi kiri penuh kenikmatan duniawi
Putih dan hitam, ekstrem kanan dan ekstrem kiri
Jalan di tengah sangat sempit
Terdesak jalan di sisi kanan dan kirinya
Bukan jalan abu-abu
Bukan pula jalan kompromi
Jalan di tengah bening bagai kristal
Sejernih hati yang melintasinya
Tanpa kecenderungan ke kiri atau ke kanan
Pandangan lurus ke tujuan akhir
Jalan di tengah adalah jalanMu
Jalan Kasih dan Kesetiaan
***
Kendati jalanKu tampaknya sempit, jalan itu menghantar menuju kehidupan yang berkelimpahan. Ikutilah jalan itu. Jalan itu tidak terlalu sempit untuk Aku yang ingin menempuh jalan itu di sampingmu. Kamu tidak pernah kesepian dengan persahabatan semacam itu. Seorang sahabat dengan kelembutan dan kekuatan yang tiada batas akan menempuh jalan itu bersamamu. (dari buku God Calling - renungan tgl 25 Agustus)
Jalan di sisi kiri penuh kenikmatan duniawi
Putih dan hitam, ekstrem kanan dan ekstrem kiri
Jalan di tengah sangat sempit
Terdesak jalan di sisi kanan dan kirinya
Bukan jalan abu-abu
Bukan pula jalan kompromi
Jalan di tengah bening bagai kristal
Sejernih hati yang melintasinya
Tanpa kecenderungan ke kiri atau ke kanan
Pandangan lurus ke tujuan akhir
Jalan di tengah adalah jalanMu
Jalan Kasih dan Kesetiaan
***
Kendati jalanKu tampaknya sempit, jalan itu menghantar menuju kehidupan yang berkelimpahan. Ikutilah jalan itu. Jalan itu tidak terlalu sempit untuk Aku yang ingin menempuh jalan itu di sampingmu. Kamu tidak pernah kesepian dengan persahabatan semacam itu. Seorang sahabat dengan kelembutan dan kekuatan yang tiada batas akan menempuh jalan itu bersamamu. (dari buku God Calling - renungan tgl 25 Agustus)