Perayaan Natal yang penuh kegembiraan telah berlalu, kita sekarang memasuki masa "biasa" dalam Liturgi Gereja. Melalui bacaan harian Kitab Suci kita diajak untuk taat meski menderita. Santo Paulus menekankan agar kita meneladan Kristus yang selalu taat kepada BapaNya, meski harus melewati jalan salib yang penuh kesengsaraan.
Pernyataan iman Bunda Maria saat mengatakan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," mengandung makna yang sama: taat meski harus mengalami bertubi-tubi penderitaan sepanjang hidupnya bersama Sang Putra.
Selain dari Kristus - tokoh sentral untuk taat dalam penderitaan dan Bunda Maria; kita pun dapat belajar dari pengalaman Ayub dalam Perjanjan Lama, serta pencobaan dan penderitaan yang dialami para kudus sampai mereka meraih mahkota kehidupan abadi.
Jika kita berkata, "Jadilah kehendakMu," dalam doa Bapa Kami yang kita
daraskan, maka kita pun sebenarnya telah menyatakan kesiapan kita untuk
selalu taat pada kehendak Bapa, meski harus memanggul salib kehidupan
sehari-hari.
Ketaatan dalam penderitaan adalah syarat mutlak dan utama mengikut
Kristus. Dan buah dari ketaatan dalam penderitaan adalah kebahagiaan kekal.
Senin, 21 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Iman, Bukan Obat
Hasil laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya tidak mengindikasikan penyakit-penyakit, tetapi mengapa tekanan darah ini tak kunjung turun? Dengan ringan, dokter menambahkan jenis dan dosis obat-obat yang harus diminum. Dari pagi hingga malam aku disibukkan dengan kegiatan meminum bermacam obat.
Hei, mengapa jadi seperti ini?
Sebanyak apa pun obat yang kutelan, tak akan mengubah kondisi tubuhku selama Tuhan tidak berkenan memberikannya. Sebaliknya, tanpa harus minum banyak obat, jika Tuhan menjamahku sekejap saja, tentu segala kelemahan tubuhku akan lenyap.
Yang kubutuhkan adalah setangkup iman, bukan segunung obat.
Aku mempelajari setiap jenis obat yang diresepkan dokter kepadaku. Aku memohon terang Roh Kudus saat memilah-milah, obat mana yang tetap kuminum dan obat mana yang akan kuhentikan.
Ya, Tuhan, ke dalam tanganMu kupercayakan jiwaku.
Hei, mengapa jadi seperti ini?
Sebanyak apa pun obat yang kutelan, tak akan mengubah kondisi tubuhku selama Tuhan tidak berkenan memberikannya. Sebaliknya, tanpa harus minum banyak obat, jika Tuhan menjamahku sekejap saja, tentu segala kelemahan tubuhku akan lenyap.
Yang kubutuhkan adalah setangkup iman, bukan segunung obat.
Aku mempelajari setiap jenis obat yang diresepkan dokter kepadaku. Aku memohon terang Roh Kudus saat memilah-milah, obat mana yang tetap kuminum dan obat mana yang akan kuhentikan.
Ya, Tuhan, ke dalam tanganMu kupercayakan jiwaku.
Rabu, 02 Januari 2013
Seperti IbuMu
Aku ingin seperti IbuMu, yang mengatakan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," untuk segala peristiwa yang akan kualami sepanjang tahun yang baru ini.
Tidak sepatutnya aku memberontak, berbelok dari jalan yang Kau ingin aku menempuhnya, hanya lantaran jalan itu sempit, sulit, gelap, dan jarang sekali dilalui orang.
Dalam kepasrahan diri total kepadaMu, kini aku akan melangkah mengikuti irama langkah kakiMu.
Mungkin aku tidak paham setiap hal yang Engkau izinkan aku mengalaminya, tetapi aku ingin pula seperti IbuMu yang menyimpan segala perkara "aneh" yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya.
Tidak sepatutnya aku memberontak, berbelok dari jalan yang Kau ingin aku menempuhnya, hanya lantaran jalan itu sempit, sulit, gelap, dan jarang sekali dilalui orang.
Dalam kepasrahan diri total kepadaMu, kini aku akan melangkah mengikuti irama langkah kakiMu.
Mungkin aku tidak paham setiap hal yang Engkau izinkan aku mengalaminya, tetapi aku ingin pula seperti IbuMu yang menyimpan segala perkara "aneh" yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya.
Rabu, 26 Desember 2012
Hanya Karena Cinta
Tiga hari menjelang perayaan kelahiranMu, penyakitku kambuh. Ia datang mendadak pada dini hari. Aku tak mengerti, mengapa Engkau membiarkanku sakit, padahal selama masa Adven aku telah cukup sehat dan melakukan berbagai aktivitas secara bebas.
Di malam Natal, karena kesibukan, aku baru kembali ke rumah sore hari. Hanya tersisa waktu satu jam untuk beristirahat, sebelum pergi ke rumahMu untuk menghadiri perayaan kelahiranMu. Tetapi, fisikku yang lemah, ternyata sanggup bertahan dan mengikuti seluruh perayaan dengan hikmat.
Engkaulah yang telah menguatkanku. Sungguh, berbahagialah orang yang mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidupnya. Engkau tak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadaMu.
Setelah merayakan pesta kelahiranMu, aku membayangkan bakal terjadi mukjizat kesembuhanku. Nyatanya, penyakit itu masih setia menyertaiku sampai hari Natal kedua ini.
Ketika aku menanyakan kepadaMu, mengapa Engkau membiarkanku terpuruk di hari istimewaMu, dengan lembut Engkau menjelaskan bahwa Engkau menginginkan Cinta yang tulus. Engkau ingin aku mencintaiMu hanya karena Cinta, bukan lantaran kebaikanMu atau mukjizatMu. Cinta murni yang lahir dari hati terdalam, bukan sekadar balas jasa.
Wahai Bayi Mungil di Betlehem yang datang ke dunia hanya karena Cinta kepada umat manusia, ajarlah aku mencintai seperti Engkau mencintai.
Di malam Natal, karena kesibukan, aku baru kembali ke rumah sore hari. Hanya tersisa waktu satu jam untuk beristirahat, sebelum pergi ke rumahMu untuk menghadiri perayaan kelahiranMu. Tetapi, fisikku yang lemah, ternyata sanggup bertahan dan mengikuti seluruh perayaan dengan hikmat.
Engkaulah yang telah menguatkanku. Sungguh, berbahagialah orang yang mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidupnya. Engkau tak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadaMu.
Setelah merayakan pesta kelahiranMu, aku membayangkan bakal terjadi mukjizat kesembuhanku. Nyatanya, penyakit itu masih setia menyertaiku sampai hari Natal kedua ini.
Ketika aku menanyakan kepadaMu, mengapa Engkau membiarkanku terpuruk di hari istimewaMu, dengan lembut Engkau menjelaskan bahwa Engkau menginginkan Cinta yang tulus. Engkau ingin aku mencintaiMu hanya karena Cinta, bukan lantaran kebaikanMu atau mukjizatMu. Cinta murni yang lahir dari hati terdalam, bukan sekadar balas jasa.
Wahai Bayi Mungil di Betlehem yang datang ke dunia hanya karena Cinta kepada umat manusia, ajarlah aku mencintai seperti Engkau mencintai.
Jumat, 21 Desember 2012
Ajakan Mesra
Betapa mesra ajakanMu pagi ini, saat aku menyimaknya di rumahMu:
"Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!
Lihatlah, musim dingin telah lewat,
hujan telah berhenti dan sudah lalu.
Di ladang telah nampak bunga-bunga,
tibalah musim memangkas."
(Kidung Agung 2:10-12a)
Oh, sungguh benarlah.
Musim dingin yang mencekam disertai hujan air mata itu sudah berlalu.
Di pintu hatiku Engkau berbisik, mengajakku ke ladang
untuk menikmati bunga-bunga, seraya memangkas rerumputan liar.
Dengan mata berbinar penuh harapan,
senyum merekah penuh sukacita,
tangan terulur penuh kepercayaan,
hati berdegup penuh semangat,
aku menyambut ajakanMu.
"Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!
Lihatlah, musim dingin telah lewat,
hujan telah berhenti dan sudah lalu.
Di ladang telah nampak bunga-bunga,
tibalah musim memangkas."
(Kidung Agung 2:10-12a)
Oh, sungguh benarlah.
Musim dingin yang mencekam disertai hujan air mata itu sudah berlalu.
Di pintu hatiku Engkau berbisik, mengajakku ke ladang
untuk menikmati bunga-bunga, seraya memangkas rerumputan liar.
Dengan mata berbinar penuh harapan,
senyum merekah penuh sukacita,
tangan terulur penuh kepercayaan,
hati berdegup penuh semangat,
aku menyambut ajakanMu.
Kamis, 20 Desember 2012
Percayakah Engkau?
Kepercayaan
adalah landasan utama sebuah relasi. Dari kepercayaan muncul keterbukaan yang
selanjutnya membawa pada keakraban. Tanpa kepercayaan, relasi adalah semu dan
penuh kecurigaan.
- Kepada perwira yang hambanya sakit: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." (Matius 8:13)
Dalam
menjalin relasi dengan Tuhan, kepercayaan merupakan pintu gerbang menuju
kepada iman. Beberapa contoh betapa Yesus mengutamakan kepercayaan manusia antara lain:
- Kepada para murid ketika angin ribut melanda perahu mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" (Matius 8:26)
- Kepada Petrus setelah sesaat berjalan di atas air dan menjadi takut: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
- Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) mengungkapkan dengan jelas kepercayaan seorang tuan kepada hamba-hambanya untuk mengembangkan talenta yang diberikannya.
Tanpa
kepercayaan tidak akan terjadi mukjizat, seperti yang terjadi saat Yesus kembali ke kampung halamannya, Nazaret. Di tempat ini Ia tidak melakukan banyak mukjizat karena orang-orang sekampungnya tidak percaya. (bdk. Matius 13:58)
Namun,
kepercayaan masih memiliki keterbatasan indrawi. Karena melihat, mendengar,
atau terutama karena mengalami sendiri secara langsung, maka seseorang percaya. Yesus menarik manusia lebih jauh ke dalam
relasi adikodrati melalui iman. Setelah menyembuhkan orang-orang sakit, Yesus biasa mengatakan, "Imanmu telah menyelamatkan engkau."
Para murid bertanya kepada Yesus, mengapa mereka tidak berhasil mengusir setan dari seorang anak yang sakit ayan? Jawab Yesus, "Karena kamu kurang percaya. Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana." (Matius 17:20)
Jika saat ini Yesus bertanya kepada kita masing-masing, “Percayakah engkau,
bahwa Aku dapat melakukannya?” Semoga kita pun dapat menanggapiNya seperti dua orang buta yang dengan mantap menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya."
Dan Yesus pun akan senang mendengar tanggapan kita, lalu berkata, "Jadilah kepadamu menurut imanmu." (bdk. Matius 9:28-29)
Minggu, 16 Desember 2012
JanjiMu
Hari ini di Minggu ke-3 masa Adven, aku sangat bersukacita mendengar janji keselamatan dariMu. PerkataanMu yang Kau sampaikan kepada sisa Israel lewat nubuat nabi Zefanya seolah ditujukan khusus untukku:
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai
(Zefanya 3:15 & 17)
Tahun lalu, aku tidak mendengar bacaan yang memberi pengharapan tersebut. Karena sakit, aku tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi di minggu ke-1 dan ke-3 masa Adven. Kini aku sangat bersukacita, karena Engkau telah mengampuni segala dosaku, menarikku dari jurang maut, dan membawaku dekat kepadaMu. Aku bersyukur dan amat berbahagia karena aku telah menemukan Engkau, Sang Kebenaran Sejati.
Engkau membaharui aku dalam kasihMu. Engkau telah menyingkirkan hukuman yang sepatutnya dijatuhkan kepadaku. Sekarang aku tak perlu merasa takut lagi terhadap malapetaka. Dan ternyata, bukan hanya aku yang bersukacita. Engkau pun bergirang dan bersorak-sorak karena aku.
Terpujilah Engkau, ya Allah, yang sangat mengasihi manusia ciptaanMu.
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai
(Zefanya 3:15 & 17)
Tahun lalu, aku tidak mendengar bacaan yang memberi pengharapan tersebut. Karena sakit, aku tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi di minggu ke-1 dan ke-3 masa Adven. Kini aku sangat bersukacita, karena Engkau telah mengampuni segala dosaku, menarikku dari jurang maut, dan membawaku dekat kepadaMu. Aku bersyukur dan amat berbahagia karena aku telah menemukan Engkau, Sang Kebenaran Sejati.
Engkau membaharui aku dalam kasihMu. Engkau telah menyingkirkan hukuman yang sepatutnya dijatuhkan kepadaku. Sekarang aku tak perlu merasa takut lagi terhadap malapetaka. Dan ternyata, bukan hanya aku yang bersukacita. Engkau pun bergirang dan bersorak-sorak karena aku.
Terpujilah Engkau, ya Allah, yang sangat mengasihi manusia ciptaanMu.