Sabtu, 25 Juni 2022

Menjaga Hati

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23) 

Bagaimana cara menjaga hati? 

Perayaan Hati Mahakudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria adalah jawabannya. Pada perayaan ini kita diingatkan untuk selalu memandang kepada kedua Hati tersebut, agar hati kita menjadi serupa dengan Hati Mahakudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria yang murni dan suci dalam kasih kepada Allah dan sesama.


Senin, 06 Juni 2022

Kebablasan Berdevosi kepada Bunda Maria?

Hari Senin setelah Hari Raya Pentakosta, Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Sebuah perayaan untuk menghormati Bunda Maria, yang sebenarnya sudah diakui sejak berabad silam sebagai Bunda Gereja, namun peringatan ini baru dimasukkan dalam kalender Liturgi Roma oleh Paus Fransiskus pada 3 Maret 2018.

Peran Bunda Maria dalam berdirinya Gereja bisa ditelusuri, saat Bunda Maria berdoa di ruang atas bersama para rasul, setelah Yesus naik ke surga. (lihat Kisah Para Rasul 1:12-14) Maka, jika Pentakosta dirayakan sebagai hari lahirnya Gereja, keesokan harinya umat beriman memberi penghormatan kepada Santa Perawan Maria, yang mendampingi Gereja bukan hanya pada saat awal pembentukannya, melainkan setia menemani umat beriman kristiani yang berziarah di dunia sampai sekarang.

Alkitab Perjanjian Baru telah menuliskan peran besar Santa Perawan Maria dalam karya penebusan umat manusia. Mulai dari kesediaannya menjalani kehendak Tuhan saat dikunjungi Malaikat Gabriel, sampai pada kesetiaannya menyertai Putra terkasihnya di bawah salib, berlanjut mendampingi para rasul menanti kedatangan Roh Kudus.

Penampakan-penampakan Bunda Maria di Guadalupe, Lourdes, dan Fatima - yang telah diakui Gereja Katolik, semakin menguatkan jejak-jejak Bunda Maria dalam membantu Yesus Putranya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, setelah Sang Putra berkurban habis-habisan sampai wafat di kayu salib demi menebus umat manusia. 

Meski peran Bunda Maria dalam Gereja sudah tampak sedemikian nyata, masih ada orang-orang kristiani yang waspada supaya tidak kebablasan dalam berdevosi kepada Bunda Maria. Mengapa takut mendekat kepada Ibu Surgawi?

"Semua anak sejati Allah memiliki Allah sebagai Bapa mereka dan Maria sebagai Ibu mereka. Setiap orang yang tidak memiliki Maria sebagai Ibu mereka, tidak memiliki Allah sebagai Bapa mereka." (St. Louis-Marie de Montfort)

"Jangan pernah takut terlalu mencintai Perawan Terberkati, karena engkau tidak akan pernah bisa mencintainya sebesar cinta Yesus kepadanya." (St. Maximilian Maria Kolbe)

"Bunda Maria bukan hanya jembatan yang menghubungkan kita dengan Tuhan, ia lebih dari itu. Ia adalah jalan yang ditempuh Tuhan untuk mencapai kita dan jalan yang harus kita lalui untuk mencapai-Nya." (Paus Fransiskus) 

Semoga ketiga kutipan tersebut dapat memberi keteguhan kepada kita untuk berani menjadi anak-anak Bunda Maria, yang tidak takut kebablasan mencintainya dan berdevosi kepadanya.

Minggu, 05 Juni 2022

Demi Konten

Beberapa hari belakangan ini kita menyimak berita yang membuat miris tentang seorang siswi sekolah keperawatan yang mengunggah video saat sedang memasang selang kateter pada seorang pasien pria muda. Ada pula video tentang seorang perawat yang mendekatkan masker yang dipakainya ke pipi seorang bayi. 

Mereka berharap video yang mereka unggah di akun media sosial mereka dapat menarik banyak pemirsa. Memang, yang terjadi demikian. Tetapi bukan lantaran video itu menyentuh hati dan menuai pujian. Sebaliknya, kedua video itu viral karena dibanjiri protes.

Demi konten, begitu alasan yang dikemukakan anak-anak muda yang semakin bebas tampil di media sosial, tanpa memerhatikan rambu-rambu kelayakan bagi publik, apalagi mengedepankan suara hati. Semata yang dicari hanya popularitas diri. 

Untuk apakah popularitas diri yang semu itu? Sehari berlalu, konten yang diunggah tak lagi viral, lantaran sudah ada video-video lain yang mencuat ke permukaan dunia digital. Sejatinya, eksistensi seseorang tidaklah bergantung pada posting yang viral atau disukai banyak orang. 

Pada Hari Raya Pentakosta ini, marilah kita semakin jernih menatap dunia dan hidup di dalamnya. Berdoalah mohon terang Roh Kudus, sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, sehingga apa yang kita tampilkan menjadi berkat bagi orang-orang yang bersentuhan dengan media sosial kita.

"Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:1-2)

 

Jumat, 03 Juni 2022

Taman Surgawi Hati Kita

Di manakah letak Taman Surgawi? Karena ada kata "surgawi," kita membayangkan taman itu berada di surga, suatu tempat yang bakal kita masuki kelak, setelah beralih dari dunia fana ini.

Sejatinya, Taman Surgawi ada di dalam hati setiap manusia. Serupa Taman Eden, di mana Allah menanam Pohon Kehidupan, yakni Roh Allah dalam jiwa kita. Di dalam Taman Surgawi hati kita juga ada Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, yang membuat hati kita bergumul antara niat baik dan niat jahat, antara kebenaran dan ketidakbenaran.   

Apakah kita selama ini sudah menaruh perhatian dengan merawat Taman Surgawi Hati kita? Berfokuslah merawat Pohon Kehidupan dalam Taman Surgawi hati kita, sebab jika Pohon Kehidupan ini semakin tumbuh subur, kita dapat dengan mudah menetapkan yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang tidak benar. Kehadiran Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat di dalam Taman Surgawi Hati kita tidak lagi menimbulkan gejolak batin. ...dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. (Yohanes 8:32)

Ciptakanlah Taman Surgawi yang indah di dalam hati kita, agar Roh Allah betah bersemayam di sana dan mengagumi keindahan jiwa kita.

Selasa, 31 Mei 2022

Menetap di Rumah Bersama Ibu

Anak-anak Maria menetap di rumah bersama Ibunya. Mereka suka menyepi, suka hidup batiniah, bertekun dalam doa menurut teladan dan bersama Ibu mereka, Perawan Tersuci, yang seluruh kemuliaannya bersifat batiniah. Terkadang mereka tampil ke dunia, tetapi itu karena ketaatan kepada kehendak Allah dan kehendak Ibu mereka yang terkasih.

Meskipun anak-anak Maria melakukan hal-hal yang dari luar kelihatannya besar, mereka merasa jauh lebih penting hal-hal besar yang mereka lakukan di dalam batin mereka bersama Perawan Tersuci; karena di dalam batin inilah mereka melakukan karya besar penyempurnaan diri mereka.

Hari terakhir di bulan Mei, Bulan Maria. Bukan berarti kita kembali berjarak dengan Bunda Surgawi. Tulisan Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria yang dikutip di atas, hendaknya menjadi penyemangat kita untuk terus dekat - berada di rumah - bersama Bunda Maria. Penyempurnaan diri kita yang dilakukan secara batiniah bersama Perawan Tersuci adalah hal yang lebih penting, ketimbang hal-hal lain yang di mata dunia kelihatan hebat.

Kamis, 26 Mei 2022

Ada Harapan di Balik Perpisahan

Perpisahan sering kali membuat kedua pihak yang mengalaminya berduka. Merasa ditinggalkan, hampa, tidak bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya - itulah yang dihasilkan oleh sebuah perpisahan.

Melalui peristiwa Yesus naik ke surga, Ia mengajarkan kepada kita untuk tidak takut menghadapi perpisahan, karena selalu ada harapan di balik keterpisahan. 

Kepada para murid-Nya, Yesus telah mengutarakan harapan itu sebelum Ia terangkat ke surga, dengan mengatakan: "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)

Dan untuk menghibur para murid-Nya yang berduka karena ditinggal oleh-Nya, Yesus menjanjikan Penghibur. "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)

Bahkan keterpisahan dengan orang yang dicintai karena kematian pun, tetap ada harapan akan perjumpaan kembali dalam kehidupan kekal, seperti dikatakan rasul Paulus dalam surat kepada umat di Tesalonika: ....mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah kit, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.(1 Tesalonika 4:16b-17)

Anda sedang mengalami suatu perpisahan? Ingatlah, selalu ada harapan di baliknya.

 

Sabtu, 07 Mei 2022

Tak Banyak Bertanya

Dalam keseluruhan Injil, kita membaca hanya tiga kali Perawan Tersuci bertanya. Pertanyaan pertama dan kedua diajukan Maria kepada Malaikat Gabriel pada saat mengunjunginya untuk menyampaikan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus: Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:29) Pertanyaan kedua: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34) Setelah mendengar penjelasan malaikat, Maria berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Maria tidak bertanya, meskipun ia harus membaringkan Putranya di palungan, mendapat kunjungan para gembala dan tiga orang majus, mengungsi ke Mesir, mendengar perkataan yang menusuk hati dari Simeon di Bait Allah. Maria lebih memilih menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya.

Pertanyaan ketiga yang diajukan Maria, ditujukan langsung kepada Yesus Putranya yang tertinggal di Bait Allah di Yerusalem. "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." (Lukas 2:48) Jawaban yang diberikan Yesus tidak lagi membuat Sang Ibu bertanya.

Apakah kita sering kali mempertanyakan kepada Tuhan, kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup kita? Berhati-hatilah. Pertanyaan-pertanyaan kita menandakan keraguan kita kepada Tuhan dan memicu munculnya godaan-godaan. Sebaliknya, kepatuhan kepada kehendak Tuhan membawa berkat.