Sudahkah kita memanfaatkan "Sin Amnesty" dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah ini, seperti kita memanfaatkan keleluasaan yang diberikan Pemerintah Indonesia dalam program Tax Amnesty?
Ungkap - Tebus - Lega adalah tiga kata yang didengungkan dalam program Tax Amnesty, agar wajib pajak mau mengungkapkan harta kekayaan yang dimilikinya tetapi selama ini belum pernah dilaporkan untuk urusan perpajakannya.
Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah yang dicanangkan Paus Fransiskus, berlangsung dari 8 Desember 2015 hingga 20 November 2016, mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk kembali kepada Allah. Bagai anak yang hilang kembali ke rumah bapaknya.
Ungkapkanlah dosa-dosa kita, tebuslah dengan berbalik sepenuhnya dari dosa-dosa dan menjadi manusia baru, maka kita akan mengalami kelegaan dalam menjalani hari-hari selanjutnya di dalam persatuan dengan Allah Tritunggal.
Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan;
aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,"
dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5)
Jumat, 30 September 2016
Rabu, 21 September 2016
Tak Perlu Melaporkan
Terima kasih,
Tuhan Pencipta alam semesta,
setiap pagi aku menikmati
harta kekayaan berlimpah:
mata yang menatap fajar menyingsing,
telinga yang menangkap kicauan burung,
hidung yang menghirup kesegaran udara,
mulut yang melambungkan pujian syukur,
jari-jari tangan yang menyentuh kelopak bunga,
telapak kaki yang menginjak rerumputan,
organ-organ tubuh yang berfungsi baik,
segala yang Engkau anugerahkan kepada setiap anakMu....
Dan aku bebas menggunakan harta kekayaan itu,
tanpa perlu menyatakannya dalam Laporan Harta Kekayaan.
Tetapi aku ingin menuliskannya di sini,
sebagai ungkapan rasa syukurku yang mendalam.
Terima kasih,
Tuhan Pencipta alam semesta,
harta kekayaan dariMu jauh melebihi harta kekayaan dunia.
Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Tuhan Pencipta alam semesta,
setiap pagi aku menikmati
harta kekayaan berlimpah:
mata yang menatap fajar menyingsing,
telinga yang menangkap kicauan burung,
hidung yang menghirup kesegaran udara,
mulut yang melambungkan pujian syukur,
jari-jari tangan yang menyentuh kelopak bunga,
telapak kaki yang menginjak rerumputan,
organ-organ tubuh yang berfungsi baik,
segala yang Engkau anugerahkan kepada setiap anakMu....
Dan aku bebas menggunakan harta kekayaan itu,
tanpa perlu menyatakannya dalam Laporan Harta Kekayaan.
Tetapi aku ingin menuliskannya di sini,
sebagai ungkapan rasa syukurku yang mendalam.
Terima kasih,
Tuhan Pencipta alam semesta,
harta kekayaan dariMu jauh melebihi harta kekayaan dunia.
Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Kamis, 15 September 2016
Ketaatan Mendatangkan Penderitaan?
Ketaatan Bunda Maria sejak menyatakan kesediaannya untuk menerima kehendak Tuhan, tidaklah membuat hidupnya senang. Bertubi-tubi duka menghampirinya. Nabi Simeon menubuatkan pedang akan menusuk hatinya - mulai dari kelahiran Putra Manusia hingga wafatNya di kayu salib.
Ketaatan Kristus kepada kehendak BapaNya, juga tidak membuat hidupNya di dunia ini nyaman. Orang banyak kerap memburuNya, para ahli Taurat dan orang Farisi mencari celah untuk menjatuhkanNya, murid-muridNya tak kunjung memahami maksudNya - hingga berujung pada kematian tragis di kayu salib.
Ketaatan di mata dunia memang tampaknya mendatangkan penderitaan. Tetapi tidak demikian di hadapan Tuhan. Lewat ketaatan manusia diuji imannya, ketahanannya, kesetiaannya.
Penderitaan yang muncul karena ketaatan hanyalah penderitaan sementara - selama hidup di dunia, itu pun tidak seluruh hidup dipenuhi dengan penderitaan. Bukankah Bunda Maria masih bisa tertawa ketika mengasuh Kanak-Kanak Yesus? Bukankah Yesus masih bisa bergembira ketika menyusuri ladang gandum dengan murid-muridNya?
Ketaatan pada kehendak Tuhan sepatutnya menjadi satu-satunya keinginan manusia di dunia ini, seperti dicontohkan Tuhan Yesus dan Bunda Maria selama hidup di dunia.
Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).
Ketaatan Kristus kepada kehendak BapaNya, juga tidak membuat hidupNya di dunia ini nyaman. Orang banyak kerap memburuNya, para ahli Taurat dan orang Farisi mencari celah untuk menjatuhkanNya, murid-muridNya tak kunjung memahami maksudNya - hingga berujung pada kematian tragis di kayu salib.
Ketaatan di mata dunia memang tampaknya mendatangkan penderitaan. Tetapi tidak demikian di hadapan Tuhan. Lewat ketaatan manusia diuji imannya, ketahanannya, kesetiaannya.
Penderitaan yang muncul karena ketaatan hanyalah penderitaan sementara - selama hidup di dunia, itu pun tidak seluruh hidup dipenuhi dengan penderitaan. Bukankah Bunda Maria masih bisa tertawa ketika mengasuh Kanak-Kanak Yesus? Bukankah Yesus masih bisa bergembira ketika menyusuri ladang gandum dengan murid-muridNya?
Ketaatan pada kehendak Tuhan sepatutnya menjadi satu-satunya keinginan manusia di dunia ini, seperti dicontohkan Tuhan Yesus dan Bunda Maria selama hidup di dunia.
Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).
Kamis, 08 September 2016
Ratu Surgawi
Maria bukan Allah, tetapi ia adalah Bunda Allah.
Ia hanya seorang makhluk, tetapi ia ciptaan Allah yang terbesar.
Ia bukan raja, tetapi ia adalah bunda ratu yang dipilih oleh Allah.
Persis seperti seorang seniman yang ingin melukis suatu masterpiece di antara banyak karyanya,
demikian Yesus membuat ibu-Nya menjadi masterpiece yang terbesar.
Mengakui kebenaran tentang Maria tidaklah mengurangi karya Yesus,
sebaliknya, menolak mengakuinya sungguh mengurangi karya Yesus.
(Scott Hahn dalam buku Salam, Ratu Surgawi - Bunda Allah dalam Sabda Allah hal. 166. Penerbit Dioma, 2007)
Ia hanya seorang makhluk, tetapi ia ciptaan Allah yang terbesar.
Ia bukan raja, tetapi ia adalah bunda ratu yang dipilih oleh Allah.
Persis seperti seorang seniman yang ingin melukis suatu masterpiece di antara banyak karyanya,
demikian Yesus membuat ibu-Nya menjadi masterpiece yang terbesar.
Mengakui kebenaran tentang Maria tidaklah mengurangi karya Yesus,
sebaliknya, menolak mengakuinya sungguh mengurangi karya Yesus.
(Scott Hahn dalam buku Salam, Ratu Surgawi - Bunda Allah dalam Sabda Allah hal. 166. Penerbit Dioma, 2007)
Minggu, 04 September 2016
Memahami dan Mengimani SabdaMu
Tuhan Yesus,
terangilah kami dengan Roh Kudus,
agar kami dapat memahami maksudMu dalam Alkitab.
Tetapi jika kami tak juga dapat memahaminya,
biarlah kami tetap mengimaninya
dengan penuh cinta kepadaMu.
terangilah kami dengan Roh Kudus,
agar kami dapat memahami maksudMu dalam Alkitab.
Tetapi jika kami tak juga dapat memahaminya,
biarlah kami tetap mengimaninya
dengan penuh cinta kepadaMu.
Senin, 15 Agustus 2016
Doa Rosario Pengampunan
Doa yang
didaraskan dengan menggunakan kaplet Rosario ini BUKAN pengganti doa Rosario,
melainkan pelengkap doa harian yang dapat menjadi senjata peperangan rohani, di saat kekerasan semakin meningkat.
Di tengah
situasi dunia yang diwarnai kebencian dan balas dendam, sebagai pengikut Yesus
Kristus, kita tetap memegang teguh SabdaNya: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu
(Matius 5:44).
Ilham Roh
untuk mendaraskan doa Rosario Pengampunan berpangkal pada teladan Bunda Maria yang
mencintai seluruh umat manusia. Melalui dialog batin dengan Pastor Don Stefano
Gobbi, Bunda Maria menyampaikan pesan-pesan kepada para imam, putra-putra
terkasihnya. Pesan Bunda Maria yang disampaikan pada 28 November 1979 berbicara
tentang kasih yang universal:
“Kasihilah terutama mereka yang sudah
amat jauh, yakni para pendosa, para ateis, dan mereka yang ditolak oleh setiap
orang; kasihilah juga para penganiaya dan para algojo. Katakanlah dengan penuh
kasih, ‘Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat.’ Bagi mereka yang membenci, mereka yang membunuh, mereka yang
melakukan kekerasan, mereka yang melakukan kejahatan, mereka yang menghujat,
mereka yang menciptakan sandungan, berikanlah hanya kasih....” (Dikutip dari buku Bersama Maria dan Putranya dalam Doa Senakel
– Sebuah Refleksi atas Pesan-Pesan Bunda Surgawi. Pengarang: Atanasius Ari
Pawarto, O.Carm. Penerbit Karmelindo, 2014)
Tujuan mendaraskan doa Rosario Pengampunan:
- Mohon ampun atas segala dosa kita, agar kita layak menghadap ke hadirat Tuhan dan mendaraskan doa Rosario Pengampunan
- Mohon ampun atas kesalahan dan dosa orang-orang yang telah mendukakan hati Tuhan
- Mohon pertobatan bagi dunia
Doa Tobat
Allah yang Maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang Mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa. (Amin)
Doa Datanglah Roh Kudus
Datanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya Api Cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu, maka semua akan dijadikan lagi, dan Engkau akan membarui muka bumi.
Marilah berdoa: Ya Allah, Engkau yang mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus, berilah supaya dalam Roh yang Kudus ini, kami senantiasa berpikir benar dan bertindak bijaksana serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya, demi Kristus Tuhan kami. (Amin)
Doa Salam Maria
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,
terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah, doakalah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. (Amin)
Doa Bapa Kami
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. (Amin)
Doa Pengampunan
Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Doa Kemuliaan
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu,
dan sepanjang segala abad. (Amin)
Kamis, 11 Agustus 2016
Mengampuni dengan Segenap Hati
Terhadap orang yang bersalah kepada kita, yang telah menyakiti entah fisik dan/atau perasaan, kita dapat saja mengatakan: aku memaafkanmu.... Tetapi, sungguhkah kita telah mengampuni dengan segenap hati?
Dalam Injil, Yesus mengatakan kita perlu mengampuni dengan segenap hati (lihat Matius 18:35). Mengampuni dengan segenap hati mensyaratkan satu hal: melupakan kesalahan orang yang telah menyakiti kita. Bisakah kita berinteraksi kembali dengan orang yang pernah menyakiti kita, tanpa dibebani ingatan akan peristiwa masa lalu yang telah menggoreskan luka?
Kita perlu belajar menjadi sempurna seperti Bapa di Surga dalam mengampuni: .... sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:34)
Dalam Injil, Yesus mengatakan kita perlu mengampuni dengan segenap hati (lihat Matius 18:35). Mengampuni dengan segenap hati mensyaratkan satu hal: melupakan kesalahan orang yang telah menyakiti kita. Bisakah kita berinteraksi kembali dengan orang yang pernah menyakiti kita, tanpa dibebani ingatan akan peristiwa masa lalu yang telah menggoreskan luka?
Kita perlu belajar menjadi sempurna seperti Bapa di Surga dalam mengampuni: .... sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:34)
