Sabtu, 25 Desember 2021

Dimensi Lain Perayaan Natal

Perayaan Natal identik dengan sukacita yang besar. Tentu saja kita sangat bergembira karena Allah Putra berkenan turun ke bumi untuk misi penyelamatan umat manusia dari dosa dan maut. Tetapi, di balik rasa kegembiraan besar itu, pernahkah kita merenungkan sejatinya Perayaan Natal adalah tanda dimulainya kesengsaraan?

Betapa tidak, kedua orang tua Yesus - Yosef dan Maria - sudah harus bersengsara menempuh perjalanan jauh dari Nazaret ke Betlehem karena program cacah jiwa penguasa waktu itu. Lalu, mereka tidak memperoleh penginapan yang pantas, sehingga Maria melahirkan Bayinya di kandang hewan. 

Selanjutnya, ada upaya raja Herodes membunuh bayi-bayi berusia di bawah dua tahun karena khawatir takhtanya direbut. Bayi Kudus Yesus dilarikan ke Mesir. Lahir di tempat dengan fasilitas sangat tidak memadai, hidup di pengungsian sejak bayi, bukankah Bayi Yesus sudah menderita sejak Ia dilahirkan ke dunia?

Kelahiran Yesus dapat ditengarai sebagai gambaran kehidupan Sang Bayi kelak... menderita sengsara dan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa umat manusia.

Ketika kita merayakan Natal, selain sisi sukacita, ingatlah pula dimensi lain dari Perayaan ini: ada penderitaan, ada kedukaan, ada kesengsaraan. Namun, Keluarga Kudus dari Nazaret itu tetap optimistis menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana dengan kita?

Rabu, 01 Desember 2021

Musim Mangga Harum Manis

Jika September tiba, aku senang melihat mangga harum manis mulai bermunculan. Memasuki Desember, mangga jenis ini mulai menyurut di pasaran. Sedih, kehilangan buah yang sangat disukai. Tetapi tetap ada harapan, tahun depan di bulan yang sama, aku akan dapat menikmatinya kembali.

Ketika kegembiraan yang kita rasakan - entah karena kehadiran orang yang sangat dicintai, atau karena keberhasilan yang dicapai, dan sebagainya -  seolah berlalu seiring berjalannya waktu, tetaplah berkeyakinan bahwa suatu saat kegembiraan itu akan dapat terjadi lagi dalam hidup kita.

Kamis, 11 November 2021

Mutasi Pencobaan

Sejak kemunculannya di muka bumi dan menjangkiti umat manusia di berbagai belahan dunia, para pakar kesehatan meyakini virus Corona telah bermutasi berkali-kali. Pada Juni 2021, WHO mengumumkan ada 10 varian baru hasil mutasi virus Corona. Kemudian pada Oktober lalu, ditengarai varian baru Delta Plus yang menyebabkan lonjakan kembali kasus Covid-19 di beberapa negara di dunia.  

Jika virus bisa bermutasi menjadi varian-varian baru, demikian pula dengan godaan-godaan hasil kreasi si jahat. Contohnya, godaan-godaan yang dialami Ayub. Pertama, iblis mencobai Ayub dengan melenyapkan lembu sapi yang sedang membajak dan keledai-keledai betina yang sedang merumput melalui serangan orang-orang Syeba (Ayub 1:14-15). Kemudian, kambing domba dan penjaga-penjaganya terbakar habis (Ayub 1:16), orang-orang Kasdim menyerbu unta-unta dan merampasnya (Ayub 1:17).

Selanjutnya, godaan si jahat bermutasi lagi dengan merenggut nyawa semua anak Ayub melalui tiupan angin ribut (Ayub 1:18-19). Masih belum berhenti sampai di situ, iblis kembali mencobai Ayub dengan menimbulkan barah busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya (Ayub 2:7).

Anda merasa dalam hidup Anda godaan-godaan atau tarikan-tarikan dunia tak kunjung putus menghampiri Anda? Si jahat pun pandai bermutasi, agar dapat menakhlukkan hati Anda sehingga murtad dan beralih kepadanya. 

Bertahanlah seperti Ayub, maka pada akhirnya Anda akan menemukan Tuhan, setelah semua pencobaan berhasil Anda takhlukkan.

Senin, 01 November 2021

Doa untuk Mencapai Kekudusan

Allah Bapa yang Mahakudus,
Engkau menciptakan manusia segambar dengan-Mu dalam kekudusan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan hidup di dunia, kekudusan tetap menjadi arah dan tujuan hidup manusia; sehingga kelak manusia dapat menikmati kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga.

Namun, di tengah gemerlap dunia dengan segala daya tariknya, perjuangan kami mencapai kekudusan sering kali terhalang. Berilah kami terang Roh Kudus, agar mampu mengenali dan menjauhi tipuan-tipuan dunia. 

Melalui penyertaan Bunda Maria dan doa-doa Para Kudus, bentuklah kami menjadi anak-anak-Mu yang kudus, meski belum sempurna seperti-Mu. Buatlah kami semakin menyerupaia gambaran kekudusan-Mu, agar kelak dapat bersatu kembali dengan-Mu, Sang Pencipta Mahaagung. Dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.


Kekudusan

Janganlah kita takut menjadi kudus, 
karena saat kita diciptakan segambar dengan Sang Pencipta, 
kita pun sebenarnya adalah orang-orang kudus.
 

Minggu, 17 Oktober 2021

Konsisten Percaya

Bunda Maria PERCAYA penuh kepada Allah atas seluruh hidupnya dengan mengatakan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," (Lukas 1:38). Selanjutnya, dalam segala pengalaman hidup yang dialami, terutama saat menghadapi tantangan-tantangan berat - menempuh perjalanan jauh ke Betlehem di tengah hamil tua, melahirkan di kandang, mengungsi ke Mesir membawa Bayi, kehilangan Yesus di Yerusalem, menemani Yesus dalam perjalanan menuju Golgota, berdiri di bawah Salib Yesus, menyaksikan wafat Putranya - Bunda Maria tetap KONSISTEN dalam imannya. 

Konsisten percaya kepada Allah adalah kunci untuk bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan konsisten percaya kepada Allah, godaan-godaan dunia dapat dihalau. Bukan berarti bebas dari penderitaan, tetapi dalam penderitaan tetap percaya bahwa Allah akan menyelenggarakan yang terbaik bagi orang yang beriman dan berharap kepada-Nya.

Jumat, 08 Oktober 2021

Jangan Biarkan Rumah Hatimu Kosong

Roh jahat sudah keluar dari seseorang, tetapi roh jahat itu kemudian memilih kembali ke 'rumah' yang telah ditinggalkannya. Ia mendapati 'rumah' itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat darinya. Mereka masuk dan berdiam di dalamnya. Akibatnya, keadaan orang itu jadi lebih buruk daripada sebelumnya. (lihat Lukas 11:24-26)

Pemaparan Yesus tentang kembaliya roh jahat ini mengingatkan pentingnya bagi manusia memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Orang yang tidak membutuhkan Tuhan dalam hidupnya seperti rumah yang kosong. Meskipun kelihatannya bersih dan rapi, aman-aman saja; tetapi sebenarnya tak ada cahaya kehidupan.

Jangan biarkan rumah hatimu kosong. Bangunlah relasi yang kokoh dan mendalam dengan Tuhan, sehingga tak ada hal-hal negatif termasuk roh jahat yang dapat menguasai hatimu.


Rabu, 29 September 2021

Slow Response

Di era digital, semua bergerak serba cepat. Ketika pesan yang kita kirim - entah itu melalui whatsapp, telegram, instagram, facebook, sms atau media sosial lainnya - tidak segera mendapat tanggapan alias slow response dari si penerima pesan, kita merasa jengkel. Pesan kita dicuekin. 

Bagaimana perasaan Tuhan yang telah menyampaikan pesan-pesan-Nya - sejak zaman Perjanjian Lama melalui para nabi sampai zaman Perjanjian Baru melalui Putra Tunggal-Nya - demi keselamatan jiwa yang dikasihi-Nya, tetapi tidak segera mendapat tanggapan alias slow response dari umat manusia?

Kalau kita bisa fast response kepada sesama kita, terlebih kepada Tuhan kita perlu fastest response

Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. (Matius 4:19-20)


Minggu, 05 September 2021

Kalau Belum Bisa Percaya, Sebaiknya Taat Saja

Sulit mempercayai Tuhan Semesta Alam dapat melakukan segala hal - bahkan hal paling mustahil yang pernah terpikirkan oleh manusia?

Dalam Perjanjian Lama, melalui pengalaman-pengalaman bangsa Israel, kita melihat bagaimana umat pilihan Allah itu belum juga memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan, sekalipun berbagai mukjizat telah terjadi di depan mata mereka.

Contoh, di zaman nabi Musa. Umat Israel sudah melihat betapa besar kuasa Allah melalui 10 tulah kepada Firaun di Mesir (Keluaran 7:14-25, 8:1-32, 9:1-35, 10:1-29, 11:1-10; tetapi tetap saja mereka gamang ketika dikejar pasukan tentara Firaun di dekat Laut Merah. Tuhan tetap menolong bangsa Israel dengan memperlihatkan mukjizat-Nya membelah laut itu.

Dalam pengembaraan di padang gurun, kembali umat Israel bersungut-sungut karena tidak bisa makan daging. Tuhan kembali memperlihatkan kuasa-Nya dengan menghadirkan burung-burung puyuh (Keluaran 16:13). Lalu, ketika umat Israel kehausan di Masa dan Meriba, mereka mencobai Tuhan dengan mengatakan: "Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" (Keluaran 17:7) Tuhan meminta Musa memukul gunung batu di Horeb, dari sana air mengalir.

Di tengah pergulatan hidup dan kecenderungan manusia yang mengedepankan logika berpikir, sering kali iman tertinggal jauh di belakang. Mana mungkin? Mana bisa? Tidak masuk akal.... itulah kata-kata yang dengan mudah terucap dari bibir manusia.

Contoh, Naaman panglima raja Aram yang sakit kusta. Ia diminta nabi Elisa pergi mandi 7 kali di sungai Yordan. Semula Naaman gusar, tetapi akhirnya ia taat pada perkataan nabi Elisa. Ia pun sembuh. (2 Raja-Raja 5:1-14)

Kalau kita belum bisa percaya pada Kemahakuasaan Tuhan yang melampaui pikiran manusia, sebaiknya kita taat saja... maka, mukjizat Tuhan akan terjadi dalam hidup kita.

Rabu, 25 Agustus 2021

Ganti HP - Mulai Baru

Ketika telepon seluler (HP) rusak, kita mengganti dengan perangkat baru seturut kebutuhan komunikasi digital saat ini. Kita akan memindahkan semua kontak yang ada di HP lama, supaya memudahkan keterhubungan dengan orang-orang yang kita kenal. 

Lalu, kita masih menambah "beban" HP baru dengan memindahkan foto-foto, video, dokumen, bahkan seluruh chatting dari media sosial di HP lama. Padahal, tak semua itu kita butuhkan untuk memulai dengan perangkat baru.

Mengapa perlu membawa terus beban masa lampau? Hidup ini sarat dengan aneka tantangan. Bersikaplah bijak dengan memilah mana yang penting dan perlu, mana yang tidak penting dan tidak perlu. Mulai baru tanpa beban.

 

Jumat, 06 Agustus 2021

Belum Selesai di Atas Gunung yang Tinggi

Petrus mengajak Yesus tinggal di gunung yang tinggi dengan membuat tiga kemah, satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satunya lagi untuk Elia (lihat Markus 9:2-10). Seandainya Yesus terbujuk mengikuti saran Petrus, kita bisa membayangkan kelanjutannya... misi penyelamatan manusia gagal diwujudkan!

Yesus tidak terpengaruh, tetap teguh pada pendirian-Nya, meski Ia tahu harus melewati jalan salib. Ketika mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan agar murid-murid-Nya tidak menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Markus 9:9). 

Beranikah kita melepas sesuatu yang nikmat dan menjanjikan? Maukah kita menyangkal diri dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik, jika kita melepaskan kenikmatan itu?

Jika Anda sedang berada di gunung yang tinggi saat ini, jangan takut melepaskan kenyamanan itu. Misi harus diteruskan. Kita belum selesai di atas gunung yang tinggi ini.

 

Sabtu, 24 Juli 2021

Menyelidiki Tuhan

Mengapa orang baik itu Engkau biarkan sakit terpapar virus, kemudian Engkau memanggilnya pulang? Satu pertanyaan berkembang jadi tanda tanya tak terhingga, ketika orang-orang berhadapan dengan penyakit dan kematian di masa pandemi ini. 

Pertanyaanku menguap. Aku yakin demikian pula tanya-tanya lain yang mengudara di berbagai belahan dunia. Dalam diam malah aku menemukan jawabannya: inilah bukti ke-Mahakuasaan-Mu.
 
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:33-34)

Ya, Tuhan Allah-ku, terjadilah pada kami seturut kehendak-Mu. Kami mengakui ke-Mahakuasaan-Mu.


Jumat, 16 Juli 2021

Segera Lakukan Ini

Berserah kepada Bunda Maria secara total,
menjadi hambanya yang siap menerima apa pun yang diberikan olehnya,
maka hati kita akan menjadi tenang di masa pandemi yang mencekam ini,
karena percaya telah berada dalam perlindungan Ibu Surgawi,
seorang Ibu tentu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
 
"Kami berlari kepada perlindunganmu, O Bunda Allah yang kudus.
Jangan menolak permohonan-permohonan kami dalam kesesakan kami,
tetapi bebaskanlah kami dari segala bahaya,
O, Perawan yang termulia dan terberkati." 
 (Doa Sub Tuum Praesidium - abad ke-3)

Kamis, 15 Juli 2021

Mati Raga

Dalam situasi yang mendesak saat ini, selain berdoa dengan tekun, kita perlu bermati raga. 
 
Ingatlah yang dilakukan penduduk Niniwe, ketika diperingatkan Nabi Yunus untuk bertobat (lihat Yunus 3:1-10). Raja memerintahkan semua penduduk bahkan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah. Mereka harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 

Bermati raga dalam hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari. Misalnya, mengurangi waktu menyaksikan siaran televisi, diganti dengan berdoa; membagi makanan yang kita miliki kepada tetangga di sekitar kita yang sangat membutuhkan; menyapa kenalan, saudara, sahabat kita yang sedang berduka; dan perbuatan-perbuatan baik lain yang bisa kita lakukan disertai penyangkalan diri. Inilah saat kita dengan rela memikul salib, tanpa menimbang untung-rugi.

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." (Yoel 2:12)

Kamis, 01 Juli 2021

Permohonanku

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:12)
 

Minggu, 27 Juni 2021

Percaya

Percaya berarti meyakini keunggulan-keunggulan atau kualitas yang dimiliki oleh orang atau benda atau hal yang dipercayai. Misalnya, percaya obat yang diminum akan menyembuhkan penyakit yang diderita, percaya olah raga setiap hari akan membuat tubuh bugar, percaya pasangan hidup tidak akan berkhianat. 

Untuk dapat menjadi percaya, orang perlu referensi atau pengalaman yang membuatnya menjadi percaya. Percaya obat yang diberikan karena direferensikan dokter, percaya bugar berolah raga karena melihat bukti orang yang melakukannya sehat, percaya pada pasangan hidup karena telah bertahun-tahun setia hidup bersama.

Seorang perwira di Kapernaum percaya Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit, karena ia telah melihat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit (Matius 8:5-13). Buah dari percaya ialah memperoleh apa yang diyakini, sebagaimana dikatakan Yesus kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." 

Terkadang, yang kelihatan tidak menampakkan hal yang diyakini, sehingga timbul rasa tidak percaya. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" kata murid-murid-Nya ketika membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan perahu (Markus 4:38). Di saat seperti inilah kepercayaan diuji. 

Bagaimana kepercayaan kita terhadap Yesus Sang Penyelamat? Ketika terjadi hal-hal buruk pada kita, apakah kita seperti murid-murid Yesus yang mempertanyakan kuasa-Nya, atau tetap percaya penuh kepada-Nya seperti perwira di Kapernaum?

"Jangan takut, percaya saja!" kata Yesus memberi harapan kepada Yairus - kepala rumah ibadat yang diberitahu anaknya telah mati, pada saat ia memohon kesembuhan kepada Yesus (Markus 5:21-43). Ketika harapan semakin terkikis, apakah kata-kata Yesus itu menggema dalam hati kita: "Jangan takut, percaya saja!"


Minggu, 20 Juni 2021

Sudah Bersama Yesus, Tetapi .......

Para murid Yesus sudah bersama dengan-Nya di dalam perahu, ketika topan dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu (lihat Markus 4:36-37). Yesus tidur di buritan, seolah tidak peduli terhadap badai yang dialami murid-murid-Nya. Mengapa mereka begitu takut dan tidak percaya kepada Yesus, padahal sebelum peristiwa angin ribut itu telah banyak kali Yesus melakukan mukjizat penyembuhan (lihat Markus bab 2 dan 3)?

Di tengah amukan badai virus Corona saat ini, ketika kita masuk ke rumah untuk mengurangi mobilitas, apakah kita sudah memanfaatkan waktu dengan masuk lebih jauh lagi ke rumah hati kita? 

Yesus selalu ada bersama kita, termasuk ketika pandemi Covid-19 mengamuk dan memporak-porandakan kehidupan umat manusia di dunia. Lalu, mengapa kita begitu takut dan tidak percaya kepada Yesus, padahal sebelum terjadi pandemi ini telah banyak kali Yesus melakukan mukjizat dalam hidup kita? 

Seperti para murid Yesus yang lebih fokus pada amukan topan dan ombak, kita lebih memerhatikan jumlah penderita Covid-19 yang terus bertambah banyak dari hari ke hari dan semakin banyak orang yang kita kenal terpapar virus itu. 

Kalau saat ini kita merasa Yesus seolah sedang tidur, bukan berarti Ia tidak peduli. Sebaliknya, Ia sedang bekerja untuk keselamatan kita. Adakah kita meletakkan seluruh kepercayaan kita kepada-Nya dan menanti saat Ia bertindak? 

 

Sabtu, 12 Juni 2021

Kepada Hati Tersuci Bunda Maria

Hati Tersuci Bunda yang Kudus,
hati kami haus mendamba percik-percik kesucianmu.
 
Ajarilah kami seperti engkau dahulu mengajar Yesus kecil:
tetap bersyukur di tengah keterbatasan,
tetap bersikap lembut di tengah kekerasan,
tetap rendah hati di tengah sanjungan,
tetap setia di tengah godaan,
tetap percaya di tengah ketidakpastian, 
tetap bertahan di tengah tantangan,
tetap mengasihi di tengah kebencian. 

Hati Tersuci Bunda yang Kudus, 
engkau selalu dilingkupi kuasa Roh Kudus,
sehingga terhindar dari jerat si jahat. 

Di tengah dunia yang sarat kenikmatan, 
menyeret kami pada kepuasan semu,
membengkokkan hati menjadi tumpul,
tolonglah kami lewat Mempelai Sucimu,
agar dapat menjaga hati kami tetap murni.

Hati Tersuci Bunda yang Kudus,
hatimu tanpa noda setitik pun,
kesucian hatimu paduan ketulusan dan kesetiaan.

Ketulusanmu bening bagai kristal,
yang digambarkan St. Teresa Avila dalam puri batin.
Kesetiaanmu pada kehendak Tuhan
membuatmu tetap menapak di jalan lurus,
mendaki gunung Karmel St. Yohanes Salib. 

Hati Tersuci Bunda yang Kudus,
engkaulah Hawa baru dengan kekudusan sempurna.
Kesucian hatimu tiada tara,
membuat St. Louis-Marie de Montfort yakin,
bakti sejati kepadamu adalah jalan paling aman, cepat, dan pasti menuju Yesus;
membangkitkan semangat St. Maximilian Maria Kolbe
untuk membangun Militia Immaculata;
menginspirasi Hamba Allah Frank Duff
untuk membentuk Legio Maria.

Hati Tersuci Bunda yang Kudus,
jadikanlah hati kami murni dan suci seperti hatimu,
agar seperti engkau,
kami dapat menjadi hamba-hamba Yesus yang setia.
 

Minggu, 06 Juni 2021

Kehadiran Kristus yang Nyata

Tak perlu kita berharap bisa terlontar ke masa silam... lebih dari 2000 tahun lalu, ketika Yesus hidup di dunia ini, hanya untuk bertemu dengan Yesus sebagai Manusia. Dengan iman sepenuhnya, kita percaya Yesus hadir secara nyata melalui Sakramen Mahakudus yang kita sambut dalam Perayaan Ekaristi. Yesus sendiri telah mengatakan: "Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." (Yohanes 6:55)

"Aku sama sekali tak meragukan kehadiran-Mu yang nyata dalam Ekaristi. Engkau telah memberiku iman yang hidup. Ketika aku mendengar orang-orang berkata: 'seandainya mereka hidup saat Engkau ada di dunia ini...,' aku tertawa dalam hati sebab aku tahu aku memiliki Dikau dalam Sakramen Mahakudus, sebegitu nyata seperti orang-orang di masa Engkau hidup di dunia ini. Aku bertanya-tanya: apa lagi yang dapat diminta?" - Santa Teresa dari Avila

 

Senin, 31 Mei 2021

Gema Allah

Ketika Elisabet menerima kunjungan Maria, ia memuji Maria dengan mengatakan: "Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Lukas 1:45) Maria menanggapi pujian Elisabet dengan mengucap syukur dan memuji Allah melalui kidung Magnificat - jiwaku memuliakan Tuhan (Lukas 1:46-55).

Dari kisah Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabet yang kita peringati setiap tanggal 31 Mei, kita dapat melihat: kalau kita memuji dan menghormati Bunda Maria, menurut St. Louis-Marie de Montfort, maka Bunda Maria bersama kita memuji dan menghormati Allah. Sebab, Bunda Maria sepenuhnya berelasi dengan Allah. Karena itu, kalau kita memuji Bunda Maria, mengasihinya, menghormatinya, atau memberi sesuatu kepadanya; maka Allah dipuji, Allah dikasihi, Allah dihormati, Allah menerima sesuatu dari kita melalui dan di dalam Bunda Maria.

Jadi, mengapa ragu untuk memuji dan menghormati Bunda Maria?

Minggu, 23 Mei 2021

Mengapa Perlu Merayakan Pentakosta?

Mengapa setiap tahun Gereja merayakan Pentakosta yang didahului dengan Novena Roh Kudus? Bukankah umat beriman kristiani sudah menerima Roh Kudus melalui Sakramen Krisma? Jawaban atas pertanyaan ini tidak ditelaah dari sudut keilmuan atau tafsir Kitab Suci dan sebagainya, melainkan hanyalah pemahaman sederhana.

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menghembuskan napas kehidupan yang adalah Roh Kudus, Roh-Nya sendiri ke dalam hati manusia. Dalam perjalanan hidup manusia di dunia yang sarat godaan, sering kali Roh Kudus yang ada di hati setiap insan memudar lantaran jiwa manusia lebih condong pada roh-roh dunia. 

Melalui Novena Roh Kudus dan puncaknya perayaan Pentakosta, umat beriman kristiani diingatkan kembali akan perlunya memperkuat Roh Allah yang bersemayam di dalam hati, sehingga jiwa tidak mudah terpikat daya tarik roh-roh dunia. Roh Allah yang menguasai jiwa, memampukan jiwa berpikir, merasa, dan bertindak seperti Kristus.

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tes 5:23)


Kamis, 13 Mei 2021

Fisik dan Roh

Kehadiran fisik dibatasi tempat dan waktu
Kehadiran roh melampaui tempat dan waktu 
 
Dengan kembali ke surga, 
Engkau malah bisa menjangkau lebih banyak jiwa.
Engkau tidak meninggalkan kami sebagai yatim-piatu,
kehadiran-Mu dalam Sakramen Ekaristi
tanda penyertaan nyata bagi raga kami yang lemah.

Kehadiran fisik dibatasi tempat dan waktu
Kehadiran roh melampaui tempat dan waktu
 
Terima kasih, Tuhan Yesus

Sabtu, 01 Mei 2021

Ciri Bakti Sejati kepada Bunda Maria

Memasuki Bulan Maria, alangkah baiknya kita mengenal ciri-ciri bakti yang sejati kepada Bunda Maria seperti yang dikemukakan St. Louis-Marie de Montfort, sehingga kita dapat sungguh-sungguh berbakti kepada Santa Perawan Maria dengan tulus hati. 

Lima Ciri Bakti sejati kepada Bunda Maria:

1. Bakti yang sejati kepada Perawan Suci bersifat batiniah, berasal dari budi dan kalbu; dari rasa hormat yang kita miliki terhadap keagungan Maria, dan dari kasih kita kepadanya.

2. Bakti yang sejati kepada Perawan Suci penuh kasih sayang, penuh kepercayaan seperti seorang anak kepada ibunya yang baik, sehingga mendorong jiwa untuk datang kepadanya dalam segala kebutuhan jasmani dan rohani, dengan segala kesederhanaan, kepercayaan dan kasih sayang.
 
3. Bakti yang sejati kepada Perawan Suci bersifat suci, menghantar jiwa untuk menghindari dosa dan meneladan keutamaan-keutamaan Maria terutama kerendahan hatinya, imannya yang hidup, ketaatannya, doanya yang terus-menerus, mati raganya, kemurniannya, cintanya, kesabarannya, kelemahlembutannya, dan kebijaksaannya.

4. Bakti yang sejati kepada Perawan Suci bersifat tetap, meneguhkan jiwa dalam kebaikan dan menghantar jiwa itu agar tak mudah meninggalkan praktik-praktik baktinya. Seorang yang sungguh berbakti kepada Perawan Suci bukanlah orang yang berubah-ubah, resah, gelisah atau takut. Kalau ia jatuh, ia akan bangun kembali sambil mengulurkan tangan kepada Ibundanya yang baik hati.

5. Bakti yang sejati kepada Perawan Suci bersifat tanpa pamrih, mengilhamkan jiwa untuk tidak mencari dirinya sendiri, melainkan hanya Allah di dalam Ibunda-Nya yang suci. Mengasihi Maria bukan karena Maria melakukan hal yang baik kepadanya, melainkan karena Maria memang pantas dikasihi. Jiwa mengasihi Maria pada saat berada di bukit Kalvari maupun saat berada di pesta perkawinan di Kana.

Selamat menapaki Bulan Maria - bersama Maria, dalam Maria, melalui Maria, untuk Maria.

Rabu, 28 April 2021

Pemenuhan Kerinduan

Aku kerap berdoa, agar Tuhan memenuhi kerinduanku untuk semakin mengenal dan mencintai Bunda-Nya. Aku bergiat dalam devosi rutin kepada Santa Perawan Maria, tetapi tetap saja aku merasa belum dekat secara batin dengannya. 

Keadaan tersebut berlangsung beberapa tahun, sampai aku menemukan seorang kudus yang melaluinya membawaku semakin mengenal dan mencintai Bunda Maria. Orang kudus itu ialah Santo Louis-Marie de Montfort yang diperingati Gereja Katolik setiap 28 April. 

Sepanjang hidupnya yang mencapai usia 43 tahun, St. Louis-Marie de Montfort (1673-1716) giat mewartakan Kristus melalui kedekatan engan Bunda Maria. Beberapa buku ditulisnya, tetapi yang menjadi mahakarya adalah buku Baki yang Sejati kepada Maria - Persiapan Menghadapi Kerajaan Yesus Kristus.  

Jika pembaca blog ini mendapati semakin banyak tulisan beraroma Bunda Maria belakangan ini, mohon dimaklumi seiring kebahagiaanku menemukan "harta karun." Aku ingin membagikannya, agar semakin banyak umat beriman kristiani yang mengenal dan mencintai Bunda Maria. 

Kita tidak menganggap Maria sebagai tujuan akhir dari semua pelayanan kita, sebab tujuan akhir ini hanyalah Yesus Kristus. Maria sebagai tujuan dekat kita dan lingkungan rahasia kita serta sebagai sarana mudah kita untuk pergi kepada Yesus Kristus. (Bakti Sejati, 265)

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau telah memenuhi kerinduan hatiku untuk dekat dengan Ibu-Mu melalui hamba-Mu, St. Louis-Marie de Montfort. 

 

Kamis, 15 April 2021

Penundaan Bukan Pengingkaran

Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 
(Habakuk 2:3) 
 
Meski saat ini aku belum memahami maksud-Mu; aku tahu, penundaan ini bukan berarti pengingkaran. Aku perlu bersabar menunggu waktu-Mu.

Aku tidak menyesali penundaan ini. Aku membuka diri seluas-luasnya bagi penyelenggaraan-Mu. Perbuatlah sesuai kehendak-Mu, itulah yang lebih utama. Engkau yang bergerak di dalam aku, buatlah aku peka akan gerakan-Mu.


Minggu, 04 April 2021

Paskah

Paskah adalah keberanian untuk bangkit mengatasi kelemahan dan keterpurukan.

 

Minggu, 28 Maret 2021

Tiga Salam Maria Setelah Komuni

Sempatkanlah berdoa 3 Salam Maria, setelah Anda menerima Sakramen Mahakudus dalam Perayaan Ekaristi - baik Komuni Batin di rumah maupun Komuni Sakramental di gereja. Tiga Salam Maria diintensikan untuk:

- Imam yang mempersembahkan Perayaan Ekaristi yang sedang Anda ikuti, agar Imam ini mencintai Bunda Maria seperti Yesus mencintai Ibu-Nya, sehingga Imam ini dapat tetap setia pada janji Imamatnya dan memiliki kedekatan hati dengan Bunda Maria.

- Seluruh Imam, agar para Imam mencintai Bunda Maria, sehingga para Imam tetap memiliki hati yang suci, selalu dilindungi Bunda Maria, dan menjadi pewarta Hati Bunda Maria Yang Tak Bernoda.

- Kemenangan Hati Bunda Maria Yang Tak Bernoda di seluruh dunia, sebagai pendahuluan dari masa pemerintahan selamanya Hati Mahakudus Yesus.


Jumat, 19 Maret 2021

Santo Yusuf - Kekudusan dalam Kesederhanaan

Jalan kekudusan adalah jalan yang sangat sederhana, tanpa kemilau yang menggiurkan. Tak menarik bagi yang suka akan kegemerlapan, tetapi sangat menawan hati yang bersahaja. Kekudusan adalah kesederhanaan, seperti diteladankan Santo Yusuf.

Selasa, 09 Maret 2021

Donasi atau Doa?

"Tuhan, aku juga mau seperti perempuan itu...," aku membatin usai membaca berita tentang perempuan terkaya di dunia. Mantan istri pendiri Amazon.com yang memiliki harta senilai US$58,6 miliar atau sekitar Rp 825 triliun menurut Forbes akhir tahun lalu, mendonasikan sebagian hartanya untuk amal.

Seandainya aku punya uang ratusan triliun, dengan ringan hati aku akan menolong orang-orang yang sangat membutuhkan. Suara dalam sanubari menyadarkanku: kamu bisa menolong mereka tanpa harus punya uang banyak. Kamu bisa mendoakan orang yang sakit supaya sembuh, mendoakan orang yang menganggur supaya memperoleh pekerjaan. Ketika orang yang sakit itu sembuh, kamu tak perlu lagi memberinya uang untuk berobat; ketika orang yang menganggur itu telah bekerja, kamu tak perlu lagi memberinya uang untuk menopang hidupnya. Doa-doamu jauh lebih bernilai daripada harta sebanyak apa pun yang bisa kamu berikan untuk mereka. Kuasa Tuhan bekerja melampaui pemikiran manusia. 

"Tuhan, aku mau menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa kepada-Mu bagi mereka yang membutuhkan."

Minggu, 28 Februari 2021

Kekudusan sebagai Tujuan Hidup

Beato Carlo Acutis mengatakan, "Satu-satunya hal yang harus kita minta dari Tuhan ketika kita berdoa adalah hasrat untuk menjadi kudus." Sungguh, tak dapat disangkal. Semakin seseorang mendalami kehidupan spiritual, semakin disadari bahwa tujuan hidup manusia di dunia sejatinya adalah mencapai kekudusan. Masing-masing dengan jalannya sendiri, sampai akhirnya kekudusan orang itu membawanya kepada kehidupan kekal.

Rabu, 17 Februari 2021

Ke Padang Gurun Lagi?

Oh Yesus, bukankah kita sudah berada di padang gurun hampir setahun belakangan ini? 
Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan gerak aktivitas umat manusia, membuat penduduk dunia seolah berada di padang gurun pencobaan setiap hari.
 
Dan sekarang, masa Prapaskah kembali tiba. Engkau menghendaki umat-Mu menjelajah padang gurun lebih jauh lagi. Betapa pun tidak nyaman berada di padang gurun, asalkan bersama-Mu, dengan bimbingan-Mu, perjalanan panjang ini tidak terasa berat.
 

Minggu, 07 Februari 2021

Meminta Tanda

Sebagai manusia, kita lebih suka akan tanda yang kelihatan, karena kita mendiami tubuh jasmani. Kita sering meminta tanda kepada Tuhan, terutama ketika menghadapi masalah sulit. Kita butuh tanda yang kasat mata untuk menenangkan hati kita, membuat kita lebih percaya akan penyertaan Tuhan.
 
Padahal, yang bersifat jasmaniah akan kita tinggalkan, seperti dikatakan Yesus: "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna." (Yohanes 6:63) Bisakah kita - meskipun masih berada di dunia - mengedepankan yang rohaniah ketimbang yang jasmaniah? Percaya penuh - meski tidak mendapat tanda - bahwa penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita adalah yang terbaik. 
 
"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29)

Kamis, 28 Januari 2021

Landasan Kokoh Pembaktian kepada Bunda Maria

Ada alasan kuat untuk bersukacita! Setelah beberapa bulan menelusuri isi buku Bakti yang Sejati Kepada Maria - Persiapan Menghadapi Kerajaan Yesus Kristus buah pena St. Louis Marie de Montfort (1673-1716) yang diterbitkan oleh Pusat Spiritualitas Marial Montfortan, Malang 2019; aku sangat bersyukur telah menemukan landasan kokoh pembaktian kepada Bunda Maria.

Pada Kata Pengantar buku Bakti yang Sejati Kepada Maria, St. Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan: "Aku sendiri, pada masa mudaku, sangat terbantu dengan membaca karya ini. Di dalamnya, aku temukan jawaban dari kebingungan-kebingunganku yang ditimbulkan oleh ketakutan bahwa bakti kepada Maria, kalau dikembangkan secara berlebihan, pada akhirnya dapat mengalahkan kebaktian yang seharusnya diberikan kepada Kristus. Di bawah bimbingan bijaksana St. Montfort, aku akhirnya mengerti bahwa jika misteri Maria dihayati dalam Kristus, maka bahaya ini tidak akan muncul. Sungguh, pemikiran St. Montfort mengenai Maria "berakar dari Misteri Tritunggal dan dalam kebenaran Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia."

Menurut St. Louis Marie de Montfort, cara paling sempurna untuk membarui janji-janji Baptis adalah dengan membaktikan diri seutuhnya kepada Kristus, Sang Kebijaksanaan yang menjelma, melalui tangan Santa Perawan Mariadalam Roh Kudus. Dalam bahasa St. Montfort, kita berjalan menuju kekudusan, melalui Maria, dengan Maria, dalam Maria dan untuk Mariadi bawah bimbingan Roh Kudus. Bunda Maria sendiri akan menuntun dan membawa kita untuk menjadi satu dan serupa dengan Yesus Putranya. Inilah tujuan akhir hidup kristiani kita.

Tertarik menghayati pembaktian kepada Yesus melalui Bunda Maria? 
 
Dalam website Serikat Maria Montfortan di Indonesia: http://montfortan.id/ tertulis: Buku ini dapat dipesan ke SMM, Jln. Gunung Kenanca 8-10, Ciumbuleuit, Bandung, Tlp. (022) 2035443
 
Melalui Santa Perawan Marialah Yesus Kristus telah datang ke dunia, dan melalui Maria pulalah Dia harus meraja di dunia. (St. Louis Marie de Montfort)
 

Jumat, 22 Januari 2021

Engkau Akan Menyelesaikannya

Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku;
terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu,
dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. 
TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! (Mazmur 138:7-8a)

Ketika didera penderitaan, aku percaya Engkau mempertahankan hidupku dan Engkau akan menyelesaikannya bagiku. Terima kasih, Tuhan

Sabtu, 02 Januari 2021

Selamat Pagi....

Di grup-grup What's App (WA), sering kita jumpai orang-orang yang rajin menyapa para anggota grup dengan gambar bertuliskan: "Selamat Pagi," saat mengawali hari baru. Aku sering merasa terganggu dengan posting ucapan itu, yang dengan cepat menambah jumlah wa images, sehingga perlu sering dibersihkan. 

Tetapi... posting "Selamat Pagi," tak kian surut. Malah rasanya semakin bertambah banyak di masa pandemi ini. Aku merenungkan maknanya. Di saat ketidakpastian menyelimuti, tanpa tahu apa yang bakal terjadi esok - mungkinkah kita masih bisa membuka mata dan menghirup udara di hari baru? - ucapan "Selamat Pagi" jadi pembawa kegembiraan, harapan, dan semangat hidup baru. Selamat pagi....

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23)