Perayaan Natal identik dengan sukacita yang besar. Tentu saja kita sangat bergembira karena Allah Putra berkenan turun ke bumi untuk misi penyelamatan umat manusia dari dosa dan maut. Tetapi, di balik rasa kegembiraan besar itu, pernahkah kita merenungkan sejatinya Perayaan Natal adalah tanda dimulainya kesengsaraan?
Betapa tidak, kedua orang tua Yesus - Yosef dan Maria - sudah harus bersengsara menempuh perjalanan jauh dari Nazaret ke Betlehem karena program cacah jiwa penguasa waktu itu. Lalu, mereka tidak memperoleh penginapan yang pantas, sehingga Maria melahirkan Bayinya di kandang hewan.
Selanjutnya, ada upaya raja Herodes membunuh bayi-bayi berusia di bawah dua tahun karena khawatir takhtanya direbut. Bayi Kudus Yesus dilarikan ke Mesir. Lahir di tempat dengan fasilitas sangat tidak memadai, hidup di pengungsian sejak bayi, bukankah Bayi Yesus sudah menderita sejak Ia dilahirkan ke dunia?
Kelahiran Yesus dapat ditengarai sebagai gambaran kehidupan Sang Bayi kelak... menderita sengsara dan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa umat manusia.
Ketika kita merayakan Natal, selain sisi sukacita, ingatlah pula dimensi lain dari Perayaan ini: ada penderitaan, ada kedukaan, ada kesengsaraan. Namun, Keluarga Kudus dari Nazaret itu tetap optimistis menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana dengan kita?