Jumat, 31 Mei 2013

Berbahagia

Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, IbuMu bersukacita ketika didatangi malaikat Gabriel dan diberitahu bakal mengandung Anak Allah. IbuMu bersemangat mengunjungi Elisabeth, sanak keluarganya, untuk membagikan kabar sukacita itu.

Meskipun aku tidak tahu apa yang bakal terjadi, hatiku bersukacita ketika Engkau datang menyelamatkanku dari jurang maut dan memberi anugerah hidup kekal kepadaku. Aku berbahagia karena termasuk orang yang dipilih BapaMu untuk menjadi anggota Kerajaan Surga. Aku bersyukur karena cahaya Roh Kudus yang mengajarkan segala sesuatu kepadaku.

Bersama IbuMu, aku memadahkan kidung ini: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus." (Lukas 1:46-49)

Bunda Allah yang Kudus, semasa hidupmu di dunia ini, engkau menanggapi segala peristiwa dengan tangan terbuka dan kepasrahan yang dalam pada penyelenggaraan Ilahi. Ajari aku menyikapi kehidupanku sama seperti engkau, sehingga hidupku menjadi kesaksian iman dan kasih kepada Allah Tritunggal - seperti telah engkau contohkan.


Rabu, 29 Mei 2013

Hanya dengan Berdoa

Berdoa sering kali dianggap pekerjaan yang tak memberi banyak hasil. Pekerjaan sia-sia dan hanya cocok dilakukan para manula (manusia lanjut usia). Orang-orang sibuk di zaman sekarang, jarang atau bahkan hampir tidak ada waktu untuk berdoa. Waktu mereka habis untuk bekerja, mengumpulkan harta untuk membiayai kebutuhan hidup jasmani; ketimbang berdoa.

Pengalaman Yesus dengan murid-muridNya berikut ini mengungkap dimensi lain dari doa:

Suatu kali, Yesus bersama Petrus, Yohanes, dan Yakobus pulang dari bepergian. Dari kejauhan tampak beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan murid-murid Yesus lainnya. Yesus mendekati kerumunan itu. Ternyata, murid-muridNya gagal menyembuhkan seorang anak yang kerasukan roh jahat. Dengan penuh kuasa, Yesus dapat mengusir roh jahat itu keluar dari tubuh si anak.

Setiba di rumah, murid-murid yang penasaran itu bertanya kepada Yesus, "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?" Jawaban Yesus sangat singkat, namun bermakna begitu luas dan mendalam, "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa." (Markus 9:29)

Murid-murid Yesus tentulah orang-orang yang secara fisik sangat dekat dengan Yesus saat itu. Mereka tentu percaya kepada Allah Bapa seperti Sang Guru mereka. Namun, semua itu belum menjamin mereka memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat.

Dari beberapa teks dalam Injil, kita dapat mengetahui kebiasaan Yesus berdoa kepada BapaNya seorang diri, sedangkan murid-muridNya tidak ikut berdoa bersamaNya. (lihat Matius 14:23, Markus 6:46, Lukas 6:12) Di sinilah letak kekuatan dan kuasa Yesus.

Roh jahat yang merasuki si anak adalah roh super jahat. Roh ini telah berada dalam tubuh si anak sejak ia masih kecil, sehingga membuat si anak bisu dan tuli. Saat roh itu menyerang, tubuh anak itu dibanting-banting ke tanah, mulutnya berbusa, giginya bekertakan, dan tubuhnya kejang. (lihat Markus 9:20-21, 25) 

Untuk dapat mengusir roh super jahat itu, menurut Yesus, tidak bisa dilakukan dengan cara lain, kecuali dengan berdoa. Ternyata, jangkauan doa jauh melampaui pemikiran dan kesanggupan kita. Kuasa doa luas, tak terikat ruang dan waktu. Dalam doa, kita memupuk relasi akrab dengan Allah Tritunggal. Inilah letak kekuatan kita.

Berdoa sebuah tindakan yang sangat sepele, namun berdaya luar biasa.  
  

Minggu, 26 Mei 2013

Memahami Allah Tritunggal

Selama kita mengkotak-kotakkan Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus secara indrawi berdasarkan pikiran manusia, maka Kebenaran satu Allah tiga Pribadi merupakan sesuatu yang absurd. Misteri Allah Tritunggal hanya dapat dipahami secara jelas melalui cara pandang Roh.

"Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)

Jumat, 24 Mei 2013

Hidup dalam RohMu

Ibu berusia lebih dari 70 tahun itu bertanya tentang bunga lotus yang tengah mekar di kebunku. Kami lalu terlibat perbincangan tentang berbagai tanaman. Kali kedua bertemu, saat ibu itu kembali dari pasar, perbincangan meningkat ke soal penyakit jantung yang dideritanya dan penyakit kanker stadium 4 yang diderita putrinya. Masih satu kali lagi kami berbincang di halaman rumah - seputar penyakit dan tanaman.

Bulan demi bulan berlalu, aku mendapat kabar ibu tersebut meninggal karena serangan jantung, tepat sehari sebelum Pekan Suci. Aku menghadiri misa requiem-nya pada Minggu Palem. Keesokan hari, ketakutan yang sangat besar menyergapku.

Suara-suara si jahat dalam hatiku menghasutku, melumpuhkan kekuatanku. Aku dicekam ketakutan, merasa kematian begitu dekat. Aku berseru kepadaMu, ya Yesus, memohon agar Engkau menghalau suara-suara yang menjengkelkan ini. Aku tak berdaya, lunglai didera rasa takut.

Lalu, Engkau dengan lembut memintaku untuk lebih berani hidup dalam roh, menyatu dengan RohMu, sehingga tak akan dikuasai lagi oleh ketakutan akan maut. Menaruh kepercayaan pada apa yang tampak oleh indra, tidak akan dapat menenteramkan jiwa.

Perlahan aku melepaskan keterikatan jiwaku pada hal-hal indrawi. Aku mengangkat jiwaku naik ke alam roh dan mendekati RohMu. Rasa takut memudar, berganti dengan kedamaian yang luas. Sebelum peristiwa ini, aku selalu ketakutan jika harus melewati malam hari seorang diri di rumah.

Hidup dalam RohMu membuatku begitu damai, sehingga tak ada bedanya antara sendirian atau ada orang lain di dekatku. Cerita-cerita menyeramkan tentang hantu, setan, arwah yang kudengar; pengalaman melayat orang-orang yang meninggal, tidak mengoyakkan ketenangan jiwaku.

Kini, aku sepenuhnya dapat merasakan kehadiranMu dengan mengarahkan perhatianku pada RohMu yang bersemayam dalam relung hatiku. Semakin dalam aku memasukinya, semakin nyata keberadaanMu di sana.Terima kasih, ya Yesus, yang telah membuatku memahami dan mengalami semua ini.

Beristirahatlah dengan damai, Ibu B. Iman mendalam yang Ibu tunjukkan semasa Ibu hidup di dunia akan mengangkat jiwa Ibu untuk menyatu sempurna dengan Roh Tuhan Yesus yang mulia. 

Kamis, 23 Mei 2013

Kemurnian Jiwa dan Kesatuan Roh

Kemurnian jiwa seseorang belumlah menjamin kesatuannya dengan Allah Tritunggal, sampai orang itu mendekatkan jiwanya yang sudah murni dengan Roh Ilahi, untuk kemudian menjadi satu dalam Roh.
 

Sabtu, 18 Mei 2013

Penyembah yang Benar

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:23)

Menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran memiliki makna sangat dalam. Menyembah dalam Roh berarti kita mendaraskan doa-doa dan memuji Tuhan bukan karena kewajiban atau semata menjalankan ritual keagamaan yang menjadi rutinitas.

Sebaliknya, doa dan pujian kepada Tuhan yang keluar dari hati dan mulut kita muncul dari kemurnian roh dan jiwa kita yang telah menyatu dengan Roh Tuhan. Dalam kaitan ini, perkataan Yesus berikut menjadi relevan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21)

Mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari tidak akan membuat kita menjadi lebih suci, jika kita melakukannya hanya sebatas ritual keagamaan. Mendaraskan aneka doa devosi dan berziarah ke berbagai tempat yang disucikan tidak akan menjamin tiket masuk ke Surga, jika kita melakukannya hanya sebatas kesenangan dan membebaninya dengan segudang permohonan pribadi untuk memuaskan ego.

Yesus meminta kita untuk melakukan kehendak Bapa, yaitu melihat Anak dan percaya kepadaNya. Orang yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman. (lihat Yohanes 6:40)

Kita yang hidup di zaman modern, ribuan tahun setelah kehadiran fisik Yesus di dunia, memang tidak dapat melihat Anak secara langsung dengan indra mata kita. Namun, kita dapat bertemu Yesus dengan membaca dan merenungkan isi Alkitab setiap hari, sehingga kita semakin mengenal dan menyatu dengan Allah Tritunggal. Yesus sendiri telah mengatakan, Firman Allah adalah Kebenaran. (lihat Yohanes 17:17) Maka, semakin kita akrab dengan Alkitab, berarti kita telah menyembah Allah dalam Kebenaran.

Cara lain untuk melihat Anak dan percaya kepadaNya adalah dengan memenuhi undangan Yesus untuk hadir dalam perayaan Ekaristi. Karena kasih dan kebaikan Allah yang tak terhingga, kita dapat bertemu dan bersatu secara fisik dengan Yesus pada saat kita menerima Tubuh dan DarahNya, seperti telah dikatakan Yesus, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia."(Yohanes 6:56)

Ya, Yesus, semasa hidupMu di dunia, Engkau telah menjanjikan Penolong dan Penghibur yang akan selalu menyertai kami. Ialah Roh Kebenaran yang akan memimpin kami kepada seluruh Kebenaran. Pada hari Pentakosta ini kami mohon, curahkanlah Roh Kudus yang Engkau janjikan itu, supaya kami dapat menjadi penyembah-penyembah benar yang berkenan di hati Bapa.
 

Minggu, 12 Mei 2013

Hak atas Pohon Kehidupan

Kota kudus – Yerusalem yang baru, turun dari Surga. Berkilauan bagai permata tanpa perlu sinar matahari, karena Allah sendirilah yang menerangi kota itu. “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba," kata malaikat kepada Yohanes. (Wahyu 21:9)

Mempelai Anak Domba itu adalah suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. (Wahyu 7:9)

Merekalah para penghuni Yerusalem yang baru. "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba,” malaikat menjelaskan kepada Yohanes. (Wahyu 7:14)

Di tengah-tengah jalan kota Yerusalem yang baru, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. (Wahyu 22:2)

Pohon kehidupan telah disebut dalam Kitab Kejadian. Ketika manusia pertama dan pasangannya tidak menaati perintah Allah dengan memakan buah dari pohon pengetahuan, Allah berkata, "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." (Kejadian 3:22)

Dari perkataan Allah di Kitab Kejadian itu, kita tahu bahwa pohon kehidupan merupakan simbol  kehidupan kekal. Orang-orang yang berhak atas pohon kehidupan yang ada di kota kudus Yerusalem yang baru adalah mereka yang telah disucikan dengan Darah Anak Domba Allah, menjadi para mempelai Anak Domba Allah. “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." (Wahyu 2:7)

Oh, Tuhan Yesus, semoga aku termasuk salah satu dari kumpulan besar orang banyak yang berdiri di hadapanMu, yang Kauberi makan dari pohon kehidupan. Aku telah mencuci jubahku dan Engkau telah menjadikannya putih dalam DarahMu yang suci. Jangan biarkan jubahku tercemar lagi oleh setitik noda apa pun. Aku ingin kelak dapat berkata bersamaMu, “Marilah!” (Wahyu 22:17a)

“Barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!" (Wahyu 22:11)

Kamis, 09 Mei 2013

Perjumpaan Bukan Perpisahan

Hari ini para pengikutMu dengan sukacita merayakan Engkau yang naik ke Surga. Peristiwa ini membawa kegembiraan bukan kesedihan, karena Engkau kembali bersatu dengan Bapa yang telah mengutus Engkau ke dunia. Engkau yang telah menang atas dosa dan maut, telah menjadikan segala sesuatu baru. Engkau menghapus segala air mata; tidak ada lagi maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Segala sesuatu yang lama telah berlalu. (lihat Wahyu 21:4-5).

Jika demikian kenyataannya, mengapa manusia bersedih kalau ada orang yang dicintai meninggalkan dunia ini? Dari sisi duniawi, peristiwa kematian fisik seseorang adalah perpisahan. Kita berpisah secara fisik dengan orang yang kita cintai. Kita tidak dapat memandang wajahnya dan menyentuh raganya lagi. Namun, jika kita melihat dari sisi spiritualitas, peristiwa kematian fisik seseorang adalah perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Orang yang memiliki relasi sangat dekat denganMu, ya Yesus; rohnya telah menyatu denganMu pada saat raga atau fisiknya masih berada di dunia. Seperti perkataanMu kepada para murid, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15: 4a & 5b)

Roh manusia yang menyatu dengan Engkau yang telah bangkit mengalahkan maut, tidak akan mengalami kematian. Fisik manusia bisa saja menjadi rapuh dan tak mampu lagi menyangga roh, tetapi roh orang beriman tetap hidup di dalam dan bersama Engkau.

Tak ada lagi alasan berduka, ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai. Kita percaya rohnya telah berjumpa dengan Allah. Begitu pula hari ini, ketika kita memperingati peristiwa kembalinya Yesus kepada BapaNya. Meskipun secara kasat mata Yesus tidak dapat lagi dilihat, namun Ia tetap hadir dalam setiap detik kehidupan kita.

Engkau bukanlah manusia yang fana, ya Yesus, maka Engkau memilih wujud Roh untuk senantiasa berada bersama kami. Hanya perlu keberanian kami untuk menapak masuk dalam dunia Roh Ilahi, agar dapat bersatu denganMu saat kami masih mengembara di dunia. Melalui persatuan Roh denganMu, maka kami  akan senantiasa merasakan kehadiranNya yang membawa sukacita dan damai.