Film The Rite yang dirilis awal tahun 2011 mengisahkan ketidakpercayaan seorang calon imam terhadap kuasa gelap dan setan. Ia lebih melihat orang yang kerasukan setan sebagai sakit jiwa parah. Pembimbing rohaninya meminta calon imam itu mengikuti kursus eksorsisme dua bulan di Vatikan. Ia lalu berkenalan dengan imam senior yang terkenal sebagai eksorsis.
Tatkala gagal menyelamatkan seorang gadis yang kerasukan setan, iman pastor tua pakar eksorsis itu melemah. Di saat itulah setan merasukinya. Kini sang calon imam harus mengusir setan yang merasuki imam senior tersebut.
Dengan halus setan yang merasuki pastor senior itu memainkan emosi sang calon imam. Ia mengungkit masa lalunya yang kelam - ditinggal ibu saat masih kecil, hidup dengan ayah dalam relasi yang kurang mesra. Setan juga memainkan ketidakpercayaan calon imam itu kepada setan dan imannya yang kurang mendalam kepada Tuhan.
Di sinilah perlunya kesadaran penuh dari orang yang diganggu setan. Orang yang dengan mudah dibangkitkan emosinya akan terpancing untuk terbawa arus omongan setan, sehingga mudah dikuasai setan. Seperti dikatakan St. Petrus, kita perlu sadar dan berjaga-jaga, karena lawan kita si iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8).
Namun, kesadaran saja belumlah cukup untuk dapat mengusir dan mengalahkan setan. Selain kesadaran diperlukan keilahian. Di sinilah iman memainkan peran sangat penting. Orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada Allah Tritunggal, baru dapat mengalahkan kuasa kegelapan.
Calon imam yang digempur setan itu dengan sadar akhirnya mengakui keberadaan setan, sekaligus mengakui kemahakuasaan Allah Tritunggal yang telah mengalahkan setan. Dengan kuasa dalam nama Yesus Kristus, setan berhasil dihalau keluar dari tubuh pastor tua itu.
Meski orang yang kerasukan setan ditampilkan dengan wajah seram dalam film,
sebenarnya orang yang kerasukan setan itu tidak terlalu menyeramkan. Hal ini
diakui oleh Pastor Gary Thomas, eksorsis dari Chicago, yang kisah sejatinya dituangkan
dalam The Rite lewat peran calon imam Michael Kovak.
Siapakah yang berkata-kata dalam hati kita, kuasa manakah yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu, dari manakah kita memiliki karunia khusus? Kuasa terang Roh Kudus ataukah kuasa gelap? Kita patut mempertanyakannya.
Dengan memiliki kesadaran penuh dari saat ke saat, kita dapat terhindar dari jebakan-jebakan yang dipasang setan. Namun, kesadaran perlu dilengkapi dengan keilahian. Melalui doa lisan dan doa hening yang didaraskan sepenuh hati, kita dapat menyatu dengan Yang Ilahi. Penyertaan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus dalam diri kita akan memampukan kita mengusir dan mengalahkan setan yang terus mengaum dan berusaha menarik kita ke dalam jeratnya.
karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi
melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu
dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri,
sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai
itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 6:12-17)
Jumat, 22 Juni 2012
Selasa, 19 Juni 2012
Tak Perlu Tahu
PerkataanMu dalam Injil Markus 4:26-27 memberi pencerahan padaku: Kerajaan Allah seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
Bekerja untukMu laksana orang yang menabur benih. Setelah selesai melakukan tugasnya, orang itu beristirahat tanpa tahu lebih lanjut, apakah benih yang ditabur itu akan tumbuh atau tidak. Engkaulah yang kemudian memberi pertumbuhan dan perkembangan.
Semangat bergelora untuk memperkenalkan Engkau dan membawa sebanyak mungkin orang kembali kepadaMu adalah kerinduanku. Aku dapat melakukannya dalam kehidupanku sehari-hari kepada orang-orang di sekelilingku yang Kau hadirkan dalam hidupku, tanpa perlu mengarungi samudera menjadi misionaris. Aku dapat melakukannya lewat jejaring sosial, tanpa perlu berkhotbah di atas mimbar.
Aku mengerjakan bagianku, Engkau mengerjakan bagianMu. Aku hanya perlu membiarkan daya-daya IlahiMu bekerja, tanpa perlu mengetahui bagaimana benih itu bisa bertunas dan berkembang.
Bekerja untukMu laksana orang yang menabur benih. Setelah selesai melakukan tugasnya, orang itu beristirahat tanpa tahu lebih lanjut, apakah benih yang ditabur itu akan tumbuh atau tidak. Engkaulah yang kemudian memberi pertumbuhan dan perkembangan.
Semangat bergelora untuk memperkenalkan Engkau dan membawa sebanyak mungkin orang kembali kepadaMu adalah kerinduanku. Aku dapat melakukannya dalam kehidupanku sehari-hari kepada orang-orang di sekelilingku yang Kau hadirkan dalam hidupku, tanpa perlu mengarungi samudera menjadi misionaris. Aku dapat melakukannya lewat jejaring sosial, tanpa perlu berkhotbah di atas mimbar.
Aku mengerjakan bagianku, Engkau mengerjakan bagianMu. Aku hanya perlu membiarkan daya-daya IlahiMu bekerja, tanpa perlu mengetahui bagaimana benih itu bisa bertunas dan berkembang.
Jumat, 15 Juni 2012
HatiMu-Hatiku
Ketika Kau masih berada di dunia, tiga kali Kau ungkapkan perasaanMu dengan memakai kata "hati-Ku." Pertama, saat Kau tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang telah mengikutiMu selama tiga hari (Matius 15:32 dan Markus 8:2). Kau meminta murid-muridMu memberi mereka makan. Belas kasihan merupakan ungkapan kasih.
Kedua, menjelang Kau disalib, Kau mengatakan hatiMu sangat sedih sebelum menerima baptisan (Lukas 12:50). Terakhir, Kau menyatakan perasaanMu yang terdalam di taman Getsemani, ketika Kau mengatakan hatiMu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. (Matius 26:38 dan Markus 14:34). Selama tiga setengah tahun Kau mewartakan Kabar Baik, Kau berdua karena manusia menolak uluran kasihMu.
Hati adalah lambang kasih. HatiMu merupakan sumber cinta sejati. Di dalam HatiMu yang Mahakudus yang ada hanyalah Cinta Ilahi tanpa kepentingan diri, yang membuat Kau mampu mengasihi seluruh umat manusia tanpa menilai kedosaan mereka - laksana matahari yang memancarkan sinarnya kepada segala makhluk.
Di dalam hatiMu bersemayam Bapa. Itulah daya cintaMu. Kau dan Bapa adalah satu (Lihat Yohanes 17:21). Supaya para rasulMu dapat memiliki kasih seperti Engkau mengasihi, Engkau berdoa kepada Bapa agar Engkau ada di dalam mereka (Lihat Yohanes 17:23).
Inilah relasi cinta yang sempurna: seseorang yang memiliki Engkau dalam hatinya akan memiliki Cinta Ilahi Bapa karena keberadaanMu dalam hati orang itu. Adanya relasi cinta yang sempurna itu membuat seseorang menyatu dalam kasihMu dan kasih Bapa, selanjutnya memampukan orang itu mengasihi sesamanya.
Kedua, menjelang Kau disalib, Kau mengatakan hatiMu sangat sedih sebelum menerima baptisan (Lukas 12:50). Terakhir, Kau menyatakan perasaanMu yang terdalam di taman Getsemani, ketika Kau mengatakan hatiMu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. (Matius 26:38 dan Markus 14:34). Selama tiga setengah tahun Kau mewartakan Kabar Baik, Kau berdua karena manusia menolak uluran kasihMu.
Hati adalah lambang kasih. HatiMu merupakan sumber cinta sejati. Di dalam HatiMu yang Mahakudus yang ada hanyalah Cinta Ilahi tanpa kepentingan diri, yang membuat Kau mampu mengasihi seluruh umat manusia tanpa menilai kedosaan mereka - laksana matahari yang memancarkan sinarnya kepada segala makhluk.
Di dalam hatiMu bersemayam Bapa. Itulah daya cintaMu. Kau dan Bapa adalah satu (Lihat Yohanes 17:21). Supaya para rasulMu dapat memiliki kasih seperti Engkau mengasihi, Engkau berdoa kepada Bapa agar Engkau ada di dalam mereka (Lihat Yohanes 17:23).
Inilah relasi cinta yang sempurna: seseorang yang memiliki Engkau dalam hatinya akan memiliki Cinta Ilahi Bapa karena keberadaanMu dalam hati orang itu. Adanya relasi cinta yang sempurna itu membuat seseorang menyatu dalam kasihMu dan kasih Bapa, selanjutnya memampukan orang itu mengasihi sesamanya.
Rabu, 13 Juni 2012
Jalur Cepat dan Jalur Lambat
Berapa lama Engkau ingin seorang yang telah Kau pilih mengabdiMu di dunia ini?
Bandingkan kehidupan dua orang pilihanMu: St. Teresa Avila dan St. Theresia Lisieux.
St. Teresa Avila lahir tahun 1515, masuk biara di usia 20 tahun, mendirikan biara reformasi di usia 47 tahun, dan wafat di usia 67 tahun. Sedangkan St. Theresia Lisieux lahir tahun 1873, masuk biara di usia 15 tahun setelah mendapat izin dari Paus, dan wafat di usia 24 tahun. Sebagai biarawati, St. Teresa Avila mengabdiMu selama 47 tahun, sedangkan St. Theresia Lisieux hanya 9 tahun.
Keduanya menjadi orang kudus, mistikus, dan pujangga Gereja. Goresan-goresan pena mereka yang menunjukkan kedalaman relasi mereka denganMu, menggugah hati dan memanggil orang-orang yang menyimaknya kepada kekudusan.
Engkau menempatkan St. Theresia Lisieux pada jalur cepat. Sembilan tahun kebersamaannya denganMu dalam kesunyian biara Karmel telah Kau anggap cukup. Sementara Kau meletakkan St. Teresa Avila pada jalur lambat. Di samping hidup dalam keheningan di biara Karmel, Kau memberinya tugas lain mendirikan sejumlah biara. Jalur cepat dan jalur lambat - keduanya tetap merupakan jalanMu.
Berada di manakah aku? Jalur cepat atau jalur lambat? Misteri kehidupan setiap manusia ada di tanganMu. Lebih baik aku menjalani jalurku tanpa perlu tahu cepat atau lambat. Akan kunikmati saja tarian kehidupanku saat ini bersamaMu.
Bandingkan kehidupan dua orang pilihanMu: St. Teresa Avila dan St. Theresia Lisieux.
St. Teresa Avila lahir tahun 1515, masuk biara di usia 20 tahun, mendirikan biara reformasi di usia 47 tahun, dan wafat di usia 67 tahun. Sedangkan St. Theresia Lisieux lahir tahun 1873, masuk biara di usia 15 tahun setelah mendapat izin dari Paus, dan wafat di usia 24 tahun. Sebagai biarawati, St. Teresa Avila mengabdiMu selama 47 tahun, sedangkan St. Theresia Lisieux hanya 9 tahun.
Keduanya menjadi orang kudus, mistikus, dan pujangga Gereja. Goresan-goresan pena mereka yang menunjukkan kedalaman relasi mereka denganMu, menggugah hati dan memanggil orang-orang yang menyimaknya kepada kekudusan.
Engkau menempatkan St. Theresia Lisieux pada jalur cepat. Sembilan tahun kebersamaannya denganMu dalam kesunyian biara Karmel telah Kau anggap cukup. Sementara Kau meletakkan St. Teresa Avila pada jalur lambat. Di samping hidup dalam keheningan di biara Karmel, Kau memberinya tugas lain mendirikan sejumlah biara. Jalur cepat dan jalur lambat - keduanya tetap merupakan jalanMu.
Berada di manakah aku? Jalur cepat atau jalur lambat? Misteri kehidupan setiap manusia ada di tanganMu. Lebih baik aku menjalani jalurku tanpa perlu tahu cepat atau lambat. Akan kunikmati saja tarian kehidupanku saat ini bersamaMu.
Minggu, 10 Juni 2012
Menjadi Satu Tubuh DenganMu
Cinta dapat diungkapkan lewat persatuan tubuh. Peleburan dua tubuh menjadi satu merupakan wujud Cinta yang mendalam. Itulah yang membuatMu meninggalkan kenangan Cinta yang nyata pada saat Kau mengadakan Perjamuan Terakhir. Kau memberikan Tubuh dan DarahMu bagi orang-orang yang mengasihiMu.Tubuh dan darahMu dapat direngkuh pada saat orang yang percaya kepadaMu mengikuti Perayaan Ekaristi.
Bagi orang yang baru saja mengalami kelahiran baru melalui Sakramen Baptis, lalu menyambut Tubuh dan darahMu, Cinta masih menggebu. Engkau terasa begitu dekat di hati. Namun, seiring perjalanan waktu, orang yang mengimaniMu mengalami pasang-surut dalam mencinta. Menerima TubuhMu dalam perayaan Ekaristi tanpa menghayati makna CintaMu yang terkandung di dalamnya, laksana bersetubuh tanpa didasari cinta. Semua berlalu begitu saja, tanpa kesan mendalam. Semata kewajiban dan rutinitas. Tak ada getar-getar Cinta tersisa.
Seperti pasangan hidup yang senantiasa berupaya memupuk dan menyegarkan cinta di antara mereka, antara Engkau dan orang yang mengimaniMu pun perlu selalu memupuk Cinta. Dalam Perayaan Ekaristi melalui bacaan-bacaan, terutama Injil, rasa Cinta itu disegarkan kembali. Orang diingatkan akan CintaMu yang menyejarah, dari sejak zaman para nabi hingga keberadaanMu di dunia, dilanjutkan dengan kesaksian para rasulMu.
Orang yang menaruh Cinta kepadaMu akan menikmati persatuan tubuh denganMu sebagai keajaiban Cinta Ilahi. Engkau yang Mahatinggi dan Mahakuasa bersatu dengan ciptaanMu yang berdosa dan rendah.Selanjutnya, kesatuan Cinta itu melahirkan kekudusan Cinta yang bergema melalui kesaksian hidup dan kasih kepada sesama.
Menjadi satu tubuh denganMu mengangkat harkat manusia dan menjadikannya sempurna. Persatuan dengan tubuhMu juga menyatukan umat manusia yang beraneka ragam dalam satu naungan kasih Allah Bapa, seperti yang Kau katakan dalam doa kepada Bapa: Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yohanes 17:22-23)
Bagi orang yang baru saja mengalami kelahiran baru melalui Sakramen Baptis, lalu menyambut Tubuh dan darahMu, Cinta masih menggebu. Engkau terasa begitu dekat di hati. Namun, seiring perjalanan waktu, orang yang mengimaniMu mengalami pasang-surut dalam mencinta. Menerima TubuhMu dalam perayaan Ekaristi tanpa menghayati makna CintaMu yang terkandung di dalamnya, laksana bersetubuh tanpa didasari cinta. Semua berlalu begitu saja, tanpa kesan mendalam. Semata kewajiban dan rutinitas. Tak ada getar-getar Cinta tersisa.
Seperti pasangan hidup yang senantiasa berupaya memupuk dan menyegarkan cinta di antara mereka, antara Engkau dan orang yang mengimaniMu pun perlu selalu memupuk Cinta. Dalam Perayaan Ekaristi melalui bacaan-bacaan, terutama Injil, rasa Cinta itu disegarkan kembali. Orang diingatkan akan CintaMu yang menyejarah, dari sejak zaman para nabi hingga keberadaanMu di dunia, dilanjutkan dengan kesaksian para rasulMu.
Orang yang menaruh Cinta kepadaMu akan menikmati persatuan tubuh denganMu sebagai keajaiban Cinta Ilahi. Engkau yang Mahatinggi dan Mahakuasa bersatu dengan ciptaanMu yang berdosa dan rendah.Selanjutnya, kesatuan Cinta itu melahirkan kekudusan Cinta yang bergema melalui kesaksian hidup dan kasih kepada sesama.
Menjadi satu tubuh denganMu mengangkat harkat manusia dan menjadikannya sempurna. Persatuan dengan tubuhMu juga menyatukan umat manusia yang beraneka ragam dalam satu naungan kasih Allah Bapa, seperti yang Kau katakan dalam doa kepada Bapa: Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yohanes 17:22-23)
Jumat, 08 Juni 2012
Sesat dan Tidak Mengerti
Kemarin (7 Juni 2012) aku membaca posting berita, seorang pendeta berusia 44 tahun dari gereja Pentakosta di Amerika Serikat tewas setelah ular berbisa yang biasa dipegangnya saat berkhotbah, menggigit pahanya. Ular itu telah dipelihara bertahun-tahun dan dibawa saat ia memimpin kebaktian di rumah seorang kerabatnya pada 27 Mei, tepat di hari Pentakosta.
Pendeta itu mengikuti jejak ayahnya yang juga pendeta. Mereka menjadikan perkataanMu di dalam Injil Markus 16:17-18 sebagai pegangan: Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
Aku merenungkan kejadian itu. Aku bertanya kepadaMu, apa yang salah? Bukankah pendeta itu menerapkan perkataanMu secara harfiah?
Dengan lembut Kau memintaku mengingat kembali tanggapanMu terhadap pertanyaan orang Saduki yang menjadi bacaan Injil sehari sebelumnya (6 Juni 2012). Saat itu Kau menjawab dengan mengatakan, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah." (Markus 12:24).
Pendeta itu pun tidak mengerti makna SabdaMu. Boleh dikata, ia malah menyombongkan diri dengan memamerkan kehebatannya memegang ular berbisa. Ia tidak rendah hati, seperti yang Kau inginkan dari setiap orang yang ingin mengikutiMu sepenuhnya. Dengan sikap unjuk giginya, ia malah merendahkan kuasa Allah.
Semoga kerendahan hati selalu memahkotai tindakan-tindakanku, ya Tuhan.
Pendeta itu mengikuti jejak ayahnya yang juga pendeta. Mereka menjadikan perkataanMu di dalam Injil Markus 16:17-18 sebagai pegangan: Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
Aku merenungkan kejadian itu. Aku bertanya kepadaMu, apa yang salah? Bukankah pendeta itu menerapkan perkataanMu secara harfiah?
Dengan lembut Kau memintaku mengingat kembali tanggapanMu terhadap pertanyaan orang Saduki yang menjadi bacaan Injil sehari sebelumnya (6 Juni 2012). Saat itu Kau menjawab dengan mengatakan, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah." (Markus 12:24).
Pendeta itu pun tidak mengerti makna SabdaMu. Boleh dikata, ia malah menyombongkan diri dengan memamerkan kehebatannya memegang ular berbisa. Ia tidak rendah hati, seperti yang Kau inginkan dari setiap orang yang ingin mengikutiMu sepenuhnya. Dengan sikap unjuk giginya, ia malah merendahkan kuasa Allah.
Semoga kerendahan hati selalu memahkotai tindakan-tindakanku, ya Tuhan.
Kamis, 07 Juni 2012
Takut akan Tuhan
Dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama, kalimat "Takut akan Tuhan" banyak sekali disebut. Beberapa di antaranya:
- TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. (Mazmur 25:14)
- Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! (Mazmur 34:10)
- Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Amsal 9:10)
- Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek. (Amsal 10:27)
Takut akan Tuhan bukan berarti Tuhan yang menakutkan. Takut akan Tuhan lebih merujuk pada rasa hormat, cinta, dan bakti kepada Tuhan. Memiliki rasa takut akan Tuhan membuat manusia berusaha menjauhkan pelanggaran dan dosa yang dapat mendukakan hati Tuhan. Takut akan Tuhan menumbuhkan rasa kasih dalam diri manusia untuk menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Takut akan Tuhan mengajarkan kerendahan hati pada manusia, sehingga ia lebih mengandalkan Tuhan daripada kekuatannya sendiri.
Allah tidak memberikan kita roh ketakutan, seperti dikatakan St. Paulus (lihat 2 Timotius 1:7), melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Dalam pengertian inilah takut akan Tuhan bukan menjadi suatu beban bagi pengikut Kristus, melainkan wujud kasih terdalam kepada Allah yang diimaninya. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yohanes 4:18)
- TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. (Mazmur 25:14)
- Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! (Mazmur 34:10)
- Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Amsal 9:10)
- Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek. (Amsal 10:27)
Takut akan Tuhan bukan berarti Tuhan yang menakutkan. Takut akan Tuhan lebih merujuk pada rasa hormat, cinta, dan bakti kepada Tuhan. Memiliki rasa takut akan Tuhan membuat manusia berusaha menjauhkan pelanggaran dan dosa yang dapat mendukakan hati Tuhan. Takut akan Tuhan menumbuhkan rasa kasih dalam diri manusia untuk menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Takut akan Tuhan mengajarkan kerendahan hati pada manusia, sehingga ia lebih mengandalkan Tuhan daripada kekuatannya sendiri.
Allah tidak memberikan kita roh ketakutan, seperti dikatakan St. Paulus (lihat 2 Timotius 1:7), melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Dalam pengertian inilah takut akan Tuhan bukan menjadi suatu beban bagi pengikut Kristus, melainkan wujud kasih terdalam kepada Allah yang diimaninya. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yohanes 4:18)
Rabu, 06 Juni 2012
Mencinta menurut CaraMu
Panggilan untuk menjadi lebih dekat padaMu datang pada Paskah 2009. Tetapi aku masih belum terlalu memedulikannya. Kupikir, itu hanya keinginanku yang menggebu-gebu. Awal tahun lalu aku mulai lebih serius terhadapMu. Aku membuat beberapa karya yang kupersembahkan kepadaMu. Namun, aku mencintaiMu menurut keinginanku sendiri. Apa yang aku suka, aku lakukan untukMu. Dan Kau tampaknya senang-senang saja. Aku mencintaiMu sesuai seleraku. Kau melimpahiku dengan berbagai rahmat. Semua berjalan mulus, dunia terasa begitu indah.
Lalu semua mendadak berubah menjelang akhir tahun. Aku tak tahu mengapa Kau menyapaku dengan cara demikian. Imanku yang sebelumnya begitu kokoh, mendadak seperti pilar terguncang gempa dahsyat. Aku mulai meragukanMu, bertanya-tanya apa maksudMu dengan semua ini.
Refleksi panjang selama Adven hingga Pentakosta bersamaMu membuka mata batinku. Engkau mengajariku mencinta menurut caraMu. Berbeda dengan caraku yang menggebu-gebu dan ingin segera terwujud, Kau menuntunku melangkah setapak demi setapak, menuju ke kedalamanMu.
Terkadang aku tak sabar menanti waktuMu. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Namun, Kau hanya tersenyum menatapku. KataMu, yang Kau inginkan dariku saat ini adalah ketekunanku, bukan perwujudan instan impianku. Masih panjang jalan yang harus dilalui. Saat ini adalah masa perjuangan, lalu akan tiba nanti masa pelayanan, dan setelahnya akan datang masa pencobaan. Dalam diam yang tekun aku belajar mencinta menurut caraMu.
Lalu semua mendadak berubah menjelang akhir tahun. Aku tak tahu mengapa Kau menyapaku dengan cara demikian. Imanku yang sebelumnya begitu kokoh, mendadak seperti pilar terguncang gempa dahsyat. Aku mulai meragukanMu, bertanya-tanya apa maksudMu dengan semua ini.
Refleksi panjang selama Adven hingga Pentakosta bersamaMu membuka mata batinku. Engkau mengajariku mencinta menurut caraMu. Berbeda dengan caraku yang menggebu-gebu dan ingin segera terwujud, Kau menuntunku melangkah setapak demi setapak, menuju ke kedalamanMu.
Terkadang aku tak sabar menanti waktuMu. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Namun, Kau hanya tersenyum menatapku. KataMu, yang Kau inginkan dariku saat ini adalah ketekunanku, bukan perwujudan instan impianku. Masih panjang jalan yang harus dilalui. Saat ini adalah masa perjuangan, lalu akan tiba nanti masa pelayanan, dan setelahnya akan datang masa pencobaan. Dalam diam yang tekun aku belajar mencinta menurut caraMu.