Minggu, 23 Oktober 2022

Misionaris Masa Kini

Menyebut kata 'misi,' dalam benak kita terbayang imam, biarawan, biarawati, dan kaum awam yang rela meninggalkan tanah air mereka, menempuh perjalanan jauh, sulit, dan berbahaya; demi menyebarluaskan warta gembira Kerajaan Allah. Demikianlah gambaran umum misionaris di masa lampau. 

Di zaman modern ini tetap dibutuhkan para misionaris yang menjangkau pelosok-pelosok dunia. Namun, 'menjadi misionaris' sejatinya lebih luas daripada mendatangi tempat-tempat terpencil dan mewartakan Injil.

Pada 14 Desember 1927, Paus Pius XI menetapkan Santo Fransiskus Xaverius dan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus sebagai pelindung misi. Santo Fransiskus Xaverius, imam dari Serikat Jesus ini memang misionaris yang tangguh. Tahun 1540 ia diutus St. Ignatius Loyola - pendiri Serikat Jesus - untuk menjadi misionaris di Hindia Belanda. Santo Fransiskus Xaverius dengan gemilang melaksanakan tugas misinya di India, Srilanka, Indonesia, Jepang, dan pulau-pulau lain.Goa di India, Srilanka, Indonesia, Jepang, dan pulau-pulau lain di timur.

Sedangkan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus bukanlah misionaris seperti Santo Fransiskus Xaverius. Biarawati dari tarekat kontemplatif OCD ini hanya berada di seputar biara di Lisieux, Perancis. Tetapi, ia menjadi pelindung misi karena doa-doa yang dipanjatkannya bagi umat manusia melampaui sekat-sekat tembok biara. 

Menurut Paus Fransiskus, doa adalah 'tugas misi' pertama yang bisa dan harus dilakukan oleh setiap orang kristiani. Bayangkan, melalui doa, kita bisa menjangkau para pengungsi Ukraina yang menderita akibat perang dengan Rusia, para korban tragedi seusai pertandingan sepak bola di Kanjuruhan, Malang, seorang misionaris yang sedang berjuang di pedalaman; atau siapa pun - perorangan, kelompok, masyarakat di mana saja mereka berada - yang kita bawa dalam doa-doa kita sehari-hari. Ternyata, setiap kita bisa menjadi misionaris masa kini.

Jumat, 14 Oktober 2022

Tanda Kehadiran Nyata

Untuk menegaskan sesuatu, manusia sering meminta tanda. Seperti yang diminta orang-orang Farisi kepada Yesus: Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. (Markus 8:12-13) 

Dari pengalaman hidup-Nya di dunia ini, Yesus sangat memahami kebutuhan manusia akan tanda kehadiran secara fisik. Karena itu, menjelang sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, Ia memberikan tanda kehadiran yang nyata bagi murid-murid-Nya hingga kepada kita sekarang ini.

Dalam perjamuan menjelang wafat-Nya, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya  dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu." (Lukas 22:19-20)

Kepingan roti bundar kecil putih yang dibagikan Imam kepada umat yang mengikuti Perjamuan Ekaristi dan menyambut Komuni sejatinya adalah Tubuh Kristus. Tanda kehadiran nyata Diri-Nya yang Ia berikan kepada kita untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tanda fisik dan bukti kecintaan Tuhan kepada umat-Nya. Imanuel - Allah menyertai kita tergambar jelas melalui Sakramen Mahakudus. 

Sabtu, 01 Oktober 2022

Kemuliaan Bagi Yang Tersembunyi

Ia hanya seorang gadis remaja. Pernah mengalami luka batin lantaran ibundanya wafat, saat ia masih kanak-kanak. Di usia 15 tahun, ia diperkenankan bergabung dalam komunitas para suster Karmelit Tak Berkasut (OCD). Hidupnya tersembunyi dalam keheningan biara, tekun menjalani rutinitas harian dan mendalami kehidupan spiritual. Hanya 9 tahun ia menjadi biarawati, penyakit TBC merenggut nyawanya di usia 24 tahun. 

Tampaknya tak ada yang istimewa dari kehidupan biarawati muda tersebut. Namun, penghayatannya akan kasih Allah yang ia wujudkan dalam kesederhanaan hidupnya, telah menjadikannya seorang kudus. Perjalanan hidupnya yang ia goreskan lewat buku "Kisah Satu Jiwa" (Story of a Soul), ketika diterbitkan menjadi bacaan rohani yang sangat menggugah jiwa. Jalan Kecil yang sangat sederhana, dapat dilakukan setiap orang, untuk mencapai kesucian hidup.

Santa Theresia dari Lisieux (1873-1897) atau Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus, hanya 9 tahun menjalani panggilan hidupnya sebagai biarawati. Tetapi lewat doa-doanya yang menjangkau orang-orang di luar tembok biara, bahkan kepeduliannya terhadap dunia, telah menjadikannya seorang misioner. Tahun 1927 Paus Pius XI mengangkat Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pelindung Misi bersama Santo Fransiskus Xaverius. Kemudian tahun 1997 Paus Yohanes Paulus II mengukuhkan Santa Theresia dari Lisieux sebagai Pujangga Gereja.

Dunia kerap memandang keberhasilan atau prestasi seseorang dari hal-hal yang kasat mata. Sejatinya, kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang-orang pilihan-Nya jauh dari sorotan dunia, tersembunyi dalam keheningan.

Kamis, 29 September 2022

Doa kepada Santo Mikhael bagi Gereja dan Jiwa-Jiwa

(Dianjurkan untuk didoakan sesering mungkin pada saat kritis seperti sekarang)

O Malaikat Agung yang Mulia St. Mikhael, Panglima perkasa laskar surgawi, belalah kami dan jadilah pelindung kami dalam pertempuran dan peperangan melawan kerajaan-kerajaan dan kekuatan-kekuatan para penguasa dunia kegelapan dan roh-roh jahat. Dampingilah manusia, yang telah diciptakan abadi oleh Allah sesuai citra-Nya sendiri dan yang telah ditebus dengan sangat mahal dari kekuasaan setan. 

Bertempurlah hari ini dalam peperangan Allah bersama-sama dengan laskar malaikatmu yang kudus, seperti saat kau melawan Lucifer, pimpinan para malaikat yang sombong dan laskar pemberontaknya, yang tidak berdaya menghadapimu, sehingga tak mendapat tempat lagi di surga. Dan naga besar itu, si ular tua yang disebut iblis atau setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke jurang yang dalam bersama dengan para malaikatnya.

Tapi lihatlah, musuh utama dan pembinasa manusia itu telah memperoleh kembali keberaniannya. Menyamar sebagai malaikat terang, ia berkeliaran dengan semua roh jahat, menyerbu dunia untuk menodai nama Allah dan Tuhan Yesus Kristus, untuk mencengkeram, membinasakan, dan mencampakkan ke dalam penghakiman maut - jiwa-jiwa yang telah dijanjikan untuk meraih mahkota kemuliaan abadi.

Ular jahat itu menyemburkan racun kejahatannya dalam segala roh kebohongan, kefasikan, dan penghujatan, serta menghembuskan napas mautnya dalam kecemaran dan segala bentuk dosa serta kejahatan kepada manusia yang dikuasai kecenderungan dan hawa nafsu yang tak teratur.

Musuh manusia yang teramat lihai itu telah memenuhi Gereja, mempelai Anak Domba yang tak bernoda, dengan cuka dan empedu hingga meluap, dan telah mengotori miliknya yang paling kudus dengan tangan-tangan kotornya. Bahkan di tempat yang suci sekalipun, di mana didirikan Takhta Petrus yang suci dan Singgasana Kebenaran yang menyinari dunia, mereka telah mendirikan takhta kefasikan yang menjijikkan untuk menceraiberaikan domba-domba dengan menyerang sang gembala.

Tampillah wahai Pangeran yang perkasa, bantulah umat Allah melawan serangan roh-roh jahat dan berilah kami kemenangan. Kami mengandalkan engkau sebagai pelindung dan pejuang. Gereja mengandalkan engkau sebagai pertahanan melawan kekuatan jahat dan neraka. Kepadamu Allah telah mempercayakan jiwa-jiwa manusia untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. 

Doakan kami kepada Allah, agar Ia meletakkan setan di bawah kaki kami dan menakhlukkannya, sehingga ia tak mampu lagi menguasai manusia dan melukai Gereja. Persembahkan doa-doa kami ke hadapan Allah yang Mahatinggi, agar kami dapat memperoleh pengampunan-Nya. Takhlukkanlah sang naga, si ular tua itu, yaitu iblis atau setan. Jadikanlah ia kembali sebagai tawanan di jurang neraka yang dalam, agar ia tak mampu lagi menggoda umat manusia. Amin.

(P) Pandanglah Salib Tuhan; tercerai-berailah wahai kekuatan-kekuatan jahat
(U) Singa dari suku Yehuda, Anak Daud, telah menang
(P) Semoga kami menerima belas kasihan-Mu, ya Tuhan
(U) Sebab Engkaulah pengharapan kami
(P) Dengarkanlah doaku, ya Tuhan
(U) Dan semoga seruanku sampai di hadirat-Mu
 
Marilah berdoa:
Allah, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, kami menyerukan nama-Mu yang kudus dan kami memohon belas kasihan-Mu, agar dengan perantaraan Maria, Perawan yang Dikandung Tak Bernoda dan Bunda kami, serta St. Mikhael Malaikat Agung yang mulia, Engkau berkenan menolong kami melawan setan dan semua roh jahat lain yang berkeliaran di dunia hendak mencelakakan manusia dan membinasakan jiwa-jiwa. Amin.
 
St. Mikhael Malaikat Agung, belalah kami dalam pertempuran, agar kami tak binasa dalam penghakiman maut. Amin.
 
St. Mikhael, Ksatria utama Takhta Kristus, doakan kami. Amin.
 
(Imprimatur: Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Bogor - 22 Apri 1999)

Minggu, 18 September 2022

Bisa Memilih, Tidak Bisa Memilih

Dalam hidup ini, banyak hal yang membutuhkan keputusan kita untuk memilih atau tidak memilihnya. Sejak bangun pagi, kita sudah dihadapkan pada pilihan-pilihan: segera beranjak dari ranjang atau leyeh-leyeh sejenak. Kemudian, kalau kita memilih segera bangun, muncul lagi pilihan: ke kamar mandi atau ke ruang tengah. Begitu seterusnya.... ini atau itu.... ini atau itu.... ini atau itu....

Keputusan kita memilih yang satu dan tidak memilih yang lain dilandasi berbagai pertimbangan dalam diri kita. Dibutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan, agar kita dapat memilih yang baik dan benar secara tepat.

Tetapi, ada pula hal-hal tertentu dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih. Sesuatu yang dihadapkan kepada kita dan mau tak mau kita harus menerimanya. Kita tidak bisa menolak penyakit permanen yang tiba-tiba bersarang dalam tubuh, juga kedatangan kematian yang tak terelakkan.

Ketika kita tidak bisa memilih, daripada marah kepada Tuhan atau berputus asa, lebih baik menerima dengan ikhlas dan berserah kepada-Nya.

Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah  yang rata! (Mazmur 143:10)

Kamis, 01 September 2022

Rumah Sejati

Tidak ada yang kurang dari rumah yang aku huni saat ini. Tetapi aku masih merindukan punya rumah lain di luar kota. Rumah yang lebih nyaman dari rumah yang sekarang. 

Apakah sungguh aku akan betah tinggal di rumah baru itu, seandainya aku bisa memperolehnya? Bukan tidak mungkin, setelah beberapa waktu berlalu, aku akan kembali merasakan ada yang kurang dari rumah kedua itu, dan muncul lagi keinginan untuk mencari rumah di tempat lain.

Ketika aku merenungkan betapa ingin aku tinggal di rumah yang lain, aku menyadari sebenarnya yang kuimpikan adalah rumah sejati. Bukan rumah secara fisik yang selalu ada kekurangan dan tidak dapat memberi kepuasan sepenuhnya. Kediaman Allah yang kekal, itulah rumah sejati yang didambakan setiap insan.

Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:5, 11a)

Kamis, 25 Agustus 2022

Tidak Kekurangan

Anda sedang berada dalam situasi yang menimbulkan kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan? Entah karena ada masalah yang menguras pikiran dan perasaan, atau sedang sakit yang berkepanjangan? Anda menanti-nantikan pertolongan Tuhan, namun tak tampak secercah harapan. Hari demi hari berlalu, tanpa ada perubahan. Masalah tak kunjung selesai, penyakit tetap bersarang dalam tubuh.

Dalam situasi yang tidak menyenangkan ini, pernyataan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dapat menjadi pegangan: Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (1 Korintus 1:7)

Dengan iman kita percaya, kita tidak kekurangan suatu karunia pun, meski keadaan kita sedang tidak baik. Kita perlu bersabar menantikan penyataan Tuhan  kepada kita. Keyakinan akan karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, membuat kita mampu bertahan dalam kesulitan hidup yang dihadapi.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)