Jumat, 30 Oktober 2020

Anatomi Tindakan Jahat

Suatu pikiran negatif/buruk melintas dalam benak. Anda berusaha menghalau pikiran tersebut dengan menetralisir pikiran negatif itu, atau mengubahnya menjadi positif. Tak terjadi tindakan jahat.

Suatu pikiran negatif/buruk melintas dalam benak. Anda TIDAK berusaha menghalau pikiran itu. Anda malah terus memikirkannya - semakin lama semakin bertambah negatif/buruk. Belum lagi ditambah "kobaran api" kemarahan dan kebencian, akhirnya memuncak dalam tindakan jahat.

Berhentilah berpikir negatif/buruk pada saat pikiran itu pertama kali melintas dalam benak Anda! Hindari tindakan jahat. Jaga kebersihan hati Anda.

Senin, 12 Oktober 2020

Orang Kudus Zaman Ini

Seorang remaja, Carlo Acutis (15 tahun), dibeatifikasi oleh Takhta Suci Vatikan pada 10 Oktober 2020. Anak milenial yang cerdas dan sangat religius. Ia mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari, juga berdoa Rosario. Ia membersihkan hatinya dengan menerima Sakramen Tobat setiap minggu. Ia memaknai hidupnya yang singkat  - karena sakit leukimia - dengan mendokumentasikan mukjizat-mukjizat Ekaristi yang terjadi di seluruh dunia. 

Ketika seluruh mata tertegun memandang kesucian Beato Carlo Acutis, pada dini hari 10 Oktober 2020 juga, di Aceh Timur seorang anak lelaki berinisial R (9 tahun) tewas dibunuh. Ia berusaha melindungi ibunya dari nafsu bejat seorang pria yang akan memerkosa ibu itu. R yang masih kanak-kanak merelakan nyawanya demi membela sang ibu. Sejatinya, R adalah martir pembela kesucian. 

Tentu banyak kisah orang kudus zaman ini yang jauh dari sorotan khalayak, muncul dalam situasi kehidupan yang beraneka ragam. Cara orang menggapai kekudusan berbeda satu sama lain, tetapi satu hal yang pasti: jalan kekudusan adalah jalan yang selayaknya ditempuh setiap insan yang mengarahkan hidupnya kepada kebenaran dan kekekalan.

Kamis, 01 Oktober 2020

Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang

Memasuki bulan Oktober, berarti 3 bulan lagi tahun akan berganti. Menengok sejenak ketika kita memasuki tahun 2020, adakah yang pernah memprediksi tahun dengan angka cantik ini bakal mengubah wajah dunia secara drastis? 

Semua membayangkan dan mengharapkan yang baik, indah, bagus, menyenangkan, menguntungkan. Manusia terlalu yakin dengan dunia dalam genggamannya, sehingga melupakan Tuhan yang menjadikan dunia dan segala isinya.

Jika yang terjadi di tahun ini adalah kebalikan dari bayangan dan harapan kita, apakah kita lantas tidak dapat melihat karya Tuhan di tahun ini?

"Roh Tuhan ada pada-Ku.... untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19) Tahun rahmat Tuhan telah datang, karena kehadiran dan karya kasih Yesus di tengah umat manusia. 

Meski dihantam virus Corona, tahun 2020 adalah juga tahun rahmat Tuhan. Melalui penderitaan yang dialami umat manusia di dunia, adakah kita melihat kehadiran dan karya kasih Yesus di tengah kita? Masih ada tiga bulan untuk menyadarinya, sebelum tutup tahun 2020. 

Jumat, 18 September 2020

Selamat karena Memandang Salib

Di padang gurun umat Israel bersungut-sungut karena bosan memakan roti hambar. Tuhan mendatangkan ular tedung yang memagut mereka. Menyadari kesalahan, mereka menghadap Musa untuk memohon ampun dan belas kasih Tuhan. Kemudian, Tuhan meminta Musa membuat ular tembaga yang dipasang pada tiang. Setiap orang Israel yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga itu akan selamat. (lihat Bilangan 21:4-9)

Adakah kita yang seperti umat Israel di zaman nabi Musa? Ketika pandemi Covid-19 memporak-porandakan kehidupan seluruh warga dunia; kita tak dapat lagi berelasi dan beraktivitas seperti biasanya, apakah kita bersungut-sungut? 

Kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, lantaran Ia tidak segera bertindak menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman virus mematikan itu. Kita 'memaksa' Tuhan segera bertindak, sebelum semakin banyak manusia berpaling dari-Nya.

Sudahkah kita melakukan yang satu ini? Pandanglah salib, agar selamat.

Rabu, 09 September 2020

Overdosis Live Streaming

Sejak masa pandemi, banyak sekali siaran live streaming terkait kehidupan menggereja. Perayaan Ekaristi on-line diselenggarakan paroki-paroki di seluruh dunia, kita bisa terbang ke mana pun kita ingin ikut ambil bagian dalam Misa virtual. Belum lagi ada seminar, sarasehan, rekoleksi, retret, doa devosi, novena, dan sebagainya yang digelar berbagai komunitas setiap hari.

Tentu saja siaran-siaran tersebut sangat menenteramkan hati yang tengah gundah di rumah saja. Waktu terisi dengan baik, relasi dengan Tuhan tercerahkan. Tetapi, di sisi lain, pernahkah Anda mengalami satu atau beberapa gejala berikut ini?

* Timbul rasa mual dan pusing saat menyaksikan tayangan live streaming

* Tubuh terasa lunglai, tak berdaya

* Tidak bersemangat mengikuti tayangan live streaming

* Tidak memahami topik yang sedang diperbincangkan dalam tayangan live streaming

Kalau mengalami gejala seperti itu, mungkin pertanda Anda overdosis dalam mengikuti acara-acara di media sosial. 

Sebaiknya, pilih secara selektif kegiatan rohani apa yang penting untuk Anda ikuti secara live streaming. Ingatlah, Tuhan tidak hanya dapat ditemukan melalui pengajaran atau homili atau ceramah atau apa pun perbincangan yang disiarkan secara on-line melalui media sosial. 

Siaran-siaran live streaming terkait hal-hal rohani merupakan salah satu sarana yang dapat membantu meningkatkan keimanan kita di masa pandemi ini. Kita tetap perlu menyediakan waktu hening tanpa siaran media sosial untuk menikmati kebersamaan dengan Tuhan dalam jiwa kita.

Minggu, 06 September 2020

Hater atau Liker?

Media sosial semakin ramai di masa pandemi. Segala hal bisa ditayangkan ke hadapan publik lewat berbagai aplikasi. Keterbukaan informasi publik ini tentu mengundang tanggapan dari para netizen yang merupakan pemirsa media sosial.

Sebagai netizen, terhadap suatu posting di media sosial, kita bisa memilih menjadi orang yang netral (tidak berkomentar), hater (orang yang berkomentar negatif), atau liker (orang yang berkomentar positif). Layaknya audiens media massa yang banyak dan tak semuanya dikenal oleh orang yang menyampaikan pesan, demikian pula netizen tidak seluruhnya dikenal oleh orang yang memposting di media sosial.

Saat ini situasi di sekitar kita cenderung negatif karena imbas pandemi. Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh terhadap komunikasi sosial kita. Namun, dengan pengendalian diri yang baik, kita tetap dapat menjadi netizen yang santun. Tak perlu mengomentari semua posting yang kita lihat. 

Jika ingin berkomentar, tebarkanlah ujaran yang positif dan jadilah liker. Kalau mau mengoreksi postingan yang isinya dianggap negatif atau tidak benar, kita tetap dapat memilih menggunakan kata-kata yang membangun, memberi semangat agar orang yang memposting itu berubah menjadi baik; bukan komentar yang memojokkan, apalagi mencaci. 

Hidup ini sudah berat dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, janganlah kita menambah berat beban dengan menjadi hater bagi orang lain, meskipun kita tidak mengenalnya. Wajah dunia ditentukan oleh orang-orang yang menghuninya. Ciptakanlah hunian bersama yang indah dan nyaman, di mana setiap insan betah tinggal di dalamnya. Mari mulai dari diri sendiri.

Senin, 24 Agustus 2020

Menantang Maut dan Menentang Maut

Seorang nenek, tetanggaku, berjalan melintas di depan rumah. Aku menyapanya, mengingatkan agar ia memakai masker demi kesehatannya. Bulan depan, nenek ini akan berulang tahun ke-92. Suatu berkat kehidupan yang patut disyukuri.

Tetapi sang nenek dengan mata berkaca-kaca mengatakan, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya. Berulang kali ia memohon kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Alasannya, anak yang paling disayanginya telah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. 

Tindakan nenek yang berjalan tanpa masker bisa dikatakan menunjukkan sikapnya menantang maut, sementara sebagian besar umat manusia berjuang menentang maut yang mengintai di masa pandemi Covid-19 ini.

Kehidupan adalah anugerah Tuhan yang penuh misteri. Mengapa tidak kita hidupi tanpa menantang atau menentang maut? Jika sampai hari ini Tuhan masih memberi kita napas kehidupan, berarti Ia masih memberi kita kesempatan menikmati anugerah-Nya di dunia ini. Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya; tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.