Senin, 18 Agustus 2014

Kemerdekaan Sejati dalam Kristus

"Tuhan, jadikan kami orang yang benar-benar merdeka," demikian tanggapan atas Doa Umat yang didaraskan dalam Perayaan Ekaristi kemarin.

Tuhan adalah Roh, di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan, kata rasul Paulus dalam 2 Korintus 3:17. Maka, orang yang benar-benar merdeka adalah:

- Hidup dalam Roh Kristus yang telah memerdekakannya dari hukum dosa dan hukum maut. (Roma 8:2)
- Berdiri teguh dan tidak mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)
- Tidak menggunakan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa. (Galatia 5:13a)
- Melayani satu sama lain karena kasih. (Galatia 5:13b)


... dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)

*Terima kasih, Yesus Kristus - Pembebas roh, jiwa, dan tubuhku
atas pengalaman seminggu di Padang Gurun bersamaMu (10-17 Agustus 2014)

Jumat, 15 Agustus 2014

Diangkat ke Surga

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama ada dua orang yang tubuh dan jiwanya diangkat ke Surga, yaitu Henokh dan nabi Elia. Henokh adalah anak dari Kain. Dalam hidupnya ia bergaul dengan Allah, memiliki relasi dekat dengan Allah, sehingga suatu saat ia tidak ada lagi karena telah diangkat oleh Allah. (lihat Kejadian 5:24) Nabi Elia diangkat ke Surga dengan kereta berapi dan kuda berapi dalam angin badai. (lihat 2 Raja-Raja 2:11) Kedua orang itu diangkat Allah ke Surga, berbeda dengan  Tuhan Yesus yang naik ke Surga bukan diangkat, melainkan dengan kekuatanNya sendiri.

Selama berabad-abad umat Katolik meyakini Bunda Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga, karena peran pentingnya dalam kehidupan Yesus. Pada 1 November 1950 Paus Pius X mengeluarkan dogma yang mengukuhkan tentang pengangkatan tubuh dan jiwa Bunda Maria ke Surga. 

Jika Henokh dan nabi Elia yang bergaul akrab dengan Allah mendapat hak istimewa diangkat tubuh dan jiwa mereka ke Surga, terlebih lagi Maria. Sejak masih kanak-kanak, Maria telah bergaul akrab dengan Allah. Magnificat atau Kidung Maria dalam Lukas 1:46-55 yang secara spontan terlontar dari mulut Maria menjadi tanda kedekatan Maria dengan Allah.

Kesediaan Maria untuk taat penuh pada kehendak Allah merupakan bukti iman Maria yang mendalam kepada Tuhannya. Maria selalu setia mendampingi Putranya, Yesus, sejak saat Ia lahir ke dunia sampai wafat di kayu salib. Setelah Yesus naik ke Surga, Maria masih meneruskan misi yang diterimanya dari Allah, yakni mendampingi para rasul dalam menanti dan menerima Roh Kudus, serta mewartakan Kabar Sukacita.

Bunda Maria diangkat ke Surga -kiranya bukan sekadar dogma, melainkan keyakinan dan kenyataan. 

Sabtu, 09 Agustus 2014

Hati yang Murni

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. (Mazmur 51:12)

Refren Mazmur Tanggapan dua hari yang lalu menggugahku. Hati yang murni..... itulah yang menjadi dambaanku sejak enam tahun silam. Saat itu lewat pengalaman doa sehari-hari, aku merasa doa-doaku dijawab Tuhan, jika aku menyampaikannya dengan hati yang murni, tanpa tergores sedikit pun oleh noda apalagi dosa. Bukan hanya jawaban atas doa-doa. Hati yang murni membuatku mampu menjalani hari-hariku dengan sukacita dan damai, memandang segalanya dengan tulus.  

Namun, ketika itu - enam tahun silam - hati yang murni masih menjadi kerinduan utamaku. Aku baru mengalaminya sesekali, bukan sesuatu yang ada dalam diriku. Aku masih meraba-raba, bagaimana cara memperoleh hati yang murni?

Dengan caraNya, Tuhan Yesus menghantarku pada pemahaman dan pengalaman itu secara bertahap. Perkenalanku dengan meditasi, pemurnianku dari segala dosa masa lampau, pendekatanku kepada Tuhan melalui pembacaan Alkitab setiap hari dan doa-doa rutin harian, serta belakangan ini kehadiran dalam perayaan Ekaristi sesering mungkin kalau bisa setiap hari - semuanya mengasah hati untuk semakin menuju pada kemurniannya.

Kehidupan memiliki dinamikanya tersendiri. Kita mengalami peristiwa-peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Kemurnian hati bukan suatu kondisi yang permanen, melainkan ikut bergerak bersama dinamika kehidupan. Melalui berbagai peristiwa dan pengalaman dengan orang lain, kemurnian hati kita diuji. Di sinilah tantangannya.

Dalam 1 Timotius 1:19, rasul Paulus mengatakan tentang beberapa orang yang telah menolak hati nuraninya yang murni, sehingga iman mereka kandas. Kita perlu terus memurnikan hati kita, agar kita semakin serupa dengan gambaran Allah - karena kita diciptakan Allah secara murni pada mulanya.  

Bersama rasul Paulus,  mari kita katakan, "Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah Para Rasul 24:16)
 

Minggu, 27 Juli 2014

Permintaan yang Tepat

Suatu malam, Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Salomo meminta hikmat dan pengertian, agar ia dapat memimpin bangsanya. Tuhan berkenan akan permintaan Salomo, karena ia tidak meminta kekayaan, kemuliaan, atau umur panjang. (lihat 2 Tawarikh 1:10-12)

Salomo memang menjadi raja yang adil dalam menghakimi rakyatnya. Kisah dua ibu yang memperebutkan seorang bayi melegendakan hikmat Salomo. Namun, Salomo tidak memiliki hikmat dalam relasi dengan Allah dan manusia. Ia memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik. Istri-istrinya itu menjauhkan hatinya dari Tuhan.

Pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya mencondongkan hati Salomo kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, berbeda dengan Daud - ayahnya. Tuhan menjadi marah dan berniat mengoyakkan kerajaan yang dikuasai Salomo. Tetapi Tuhan masih berbaik hati kepada Salomo, sehingga hal itu baru akan terjadi pada saat kerajaan diperintah oleh anak Salomo. Dan karena kasih Tuhan kepada Daud, bagi keturunannya disisakan satu suku (Yehuda) dari 12 suku Israel. (lihat 1 Raja-Raja 11:3-13)

Seandainya Tuhan berfirman kepada kita secara pribadi, apakah yang akan kita minta? Ajukanlah permintaan yang tepat - yang berkenan kepada Tuhan, memberi keselamatan bagi kita, dan membawa kebaikan bagi sesama.

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. 
(Mazmur 27:4)
 

Sabtu, 26 Juli 2014

Bertahan

Satu hal terpenting, agar tetap berada di jalanMu ialah bertahan.
Bertahan, meski segala tampak suram dan tanpa harapan.
Seperti dicontohkan Ayub, ketika ia didera berbagai musibah.
Seperti diteladankan Engkau sendiri, ya Yesus, dari Taman Getsemani ke Golgota.

Bertahan, sesuatu yang sulit dilakukan, selama kita berpegang pada keinginan kita.
Bertahan, sesuatu yang mudah dilakukan, selama kita mengarahkan pandangan kita kepadaNya.

Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!....... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 
(Wahyu 2:10) 

Minggu, 20 Juli 2014

Mencabuti Lalang

Hanya Engkaulah yang berhak memerintahkan para malaikat untuk mencabuti lalang di ladang dunia. Sementara tugasku adalah mencabuti lalang, begitu ia mulai bertumbuh dalam ladang hatiku. Aku tak ingin lalang itu meninggi, sehingga Engkau tidak dapat memanen gandum kelak dari ladang hatiku.
  

Sabtu, 19 Juli 2014

Pelajaran dari Selembar Uang

Kemarin sore aku naik angkutan umum. Aku menyodorkan selembar uang Rp 20.000 yang masih mulus. Di antara uang kembalian yang diberikan sopir, ada selembar uang Rp 1.000 yang kehitaman, dekil, robek di beberapa tepinya, serta semplak di ujung kiri atasnya.

Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?

Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.

Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?

Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.

Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.

Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.