Sabtu, 04 Januari 2025

Memaknai Pintu Suci

Tahun Yubileum atau Tahun Suci merupakan tradisi dalam Gereja Katolik yang dirayakan setiap 25 tahun sekali. Pada Tahun Suci ini umat Katolik diajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, merenungkan perjalanan spiritual masing-masing, serta membarui iman melalui ziarah dan pertobatan.

Paus Fransiskus telah membuka Pintu Suci (Porta Sancta) di Basilika Santo Petrus pada malam Natal 24 Desember 2024 untuk menandai awal Tahun Yubileum. Penutupan Tahun Yubileum akan dilakukan pada 6 Januari 2026.

Selain Pintu Suci di Basilika Santo Petrus, ada 4 Pintu Suci di Roma yang dibuka selama Tahun Yubileum ini, yaitu Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran, Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, dan Basilika Santa Maria Maggiore. Satu Pintu Suci khusus yang bukan basilika, untuk pertama kali dibuka Paus Fransiskus, yaitu Pintu Suci di Rebibbia - rumah tahanan terbesar di Italia.

Dengan tema "Peziarah Pengharapan," kita diingatkan bahwa pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:5)

Pembukaan Pintu Suci dapat diartikan sebagai gambaran keterbukaan Tuhan menerima kembalinya anak-anak-Nya yang selama ini menjauh atau menghilang dari hadapan-Nya. 

Bagi anak-anak-Nya yang tidak berada jauh dari-Nya, Tahun Yubileum juga menjadi momen penting untuk menilik kembali kehidupan spiritual kita, apakah sungguh kita telah melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita?

Melalui pertobatan, rekonsiliasi, dan tindakan amal kasih yang kita lakukan sepanjang Tahun Yubileum, diharapkan kita dapat mengalami pembaruan rohani yang membawa kita semakin dekat dalam relasi dengan Tuhan dan memberi damai dalam kehidupan kita.

Rabu, 01 Januari 2025

Berani Menghadapi

Menghadapi sesuatu yang baru, kita sering kali dilanda kekhawatiran. Apakah segalanya akan berjalan baik?  

Ketika tahun berganti, kita pun dihadapkan pada tahun yang baru. Di sela-sela harapan, mengemuka pula kekhawatiran: apakah tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya? Bagaimana jika..........?

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah."

Kutipan di atas ditulis oleh Soe Hok Gie (17 Desember 1942-16 Desember 1969). Almarhum adalah seorang aktivis mahasiswa yang dikenal karena menentang ketidakadilan di era Orde Lama dan Orde Baru.

Berani menghadapi yang tanda tanya, yang belum jelas. Seperti Santa Perawan Maria yang berani menjawab permintaan Tuhan melalui malaikat Gabriel dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Santa Perawan Maria dengan berani dan penuh iman menghadapi segala yang belum jelas, sejak kesediaannya menjawab panggilan Tuhan dalam hidupnya. Bersama Santo Yusuf, ia harus pergi ke Betlehem dalam keadaan hamil besar. Membawa Bayi Yesus ke Mesir, karena terancam dibunuh oleh Herodes. Menyaksikan Putranya ditentang orang-orang Farisi, ketika mewartakan Kerajaan Allah. Menemani Putranya di jalan salib. Berdiri di bawah salib ketika Putranya meregang nyawa.
 
Selamat Memasuki Tahun 2025!
Penuh tanda tanya, tetapi hadapilah dengan berani


Selasa, 31 Desember 2024

Jangan Menengok ke Belakang

Menutup tahun, kita biasanya mengilas balik berbagai pengalaman yang dialami sepanjang tahun itu. Hari ini, ketika akan menutup tahun 2024, semoga yang ada di hati kita hanyalah ucapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun ini.

Semoga tidak ada peristiwa atau pengalaman yang menyisakan penyesalan besar, yang berujung pada musnahnya harapan dan runtuhnya kepercayaan akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Kalaupun ada peristiwa atau pengalaman di tahun 2024 yang menimbulkan penyesalan, jadikanlah hal itu sebagai pembelajaran hidup yang berharga. Mohonlah ampun kepada Tuhan atas kesalahan, ketidaktahuan, kecerobohan tersebut. Selanjutnya, serahkan segalanya kepada Tuhan.

Melangkah terus, jangan menengok ke belakang lagi. Bukankah hal itu sudah terjadi? Waktu tidak bisa diputar mundur, tetapi kita bisa bergerak maju. Tetaplah percaya, di balik hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia mau kita belajar sesuatu dari peristiwa atau pengalaman itu.

Terima kasih Tuhan atas penyertaan dan segala rahmat yang Kau berikan sepanjang tahun 2024.

Rabu, 25 Desember 2024

Yesus Apa Adanya

Ketika berlibur ke Yogya sembilan tahun silam, aku tertarik membeli patung Bayi Yesus di palungan. Aku memesannya untuk dikirim ke kota tempat kami tinggal, bersama beberapa benda rohani lainnya.

Betapa terkejutku, ketika kiriman itu tiba. Patung Bayi Yesus yang kuterima tidak berwajah manis seperti yang kulihat di toko. Ada 'kelainan' pada mata patung itu. Serta-merta aku berniat mengajukan komplain dan mengirim balik patung tersebut. Minta ditukar.

Putriku mencegahku. Katanya, ia suka dengan patung itu apa adanya. Tidak perlu dikembalikan ke toko. 

Setiap menjelang Natal, saat aku mengeluarkan Bayi Yesus dari penyimpanan, aku teringat kisah yang melatarbelakangi keberadaan patung ini di rumah kami.

Bayi Yesus yang mungil, maafkan aku yang menolak kehadiran-Mu. Aku cenderung menerima yang bagus, yang indah, yang menawan. Aku tidak mau melihat yang tidak bagus, tidak indah, dan tidak menawan mata. 

Bayi Yesus yang manis, aku mau belajar menerima Engkau apa adanya di dalam diri orang-orang di sekitarku yang tidak selalu bagus, tidak selalu indah, dan tidak selalu menawan. 

Selamat Natal!

Minggu, 22 Desember 2024

Pohon Natal untuk Ibu

Aku membeli pohon Natal mungil ini beberapa bulan sebelum perayaan hari kelahiran Kristus. Sudah kuniatkan, pohon perak berbintang emas ini akan kuletakkan di meja depan ranjang Ibu. Meski Ibu sudah tak mampu lagi bangkit dari tempat tidurnya, ia akan dapat memandang keindahan pohon ini.
 
Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ibu dipanggil menghadap-Nya, 70 hari sebelum Natal. Pohon Natal ini tetap kupasang di rumahku. Bertahun berlalu. Sudah 12 kali Natal aku memasang pohon ini.
 
Selamat merayakan Natal di Surga, Ibu. Semoga dari keabadian, Ibu bisa memandang kemilau pohon Natal ini dan mendoakan kami anak-anakmu.
 

Jumat, 13 Desember 2024

Pilih yang Mana?

Dari pengalaman menyapu halaman sehari-hari, setidaknya ada dua cara menyapu yang biasa digunakan orang. 

Cara pertama, mengumpulkan sampah di suatu titik. Setelah sampah cukup banyak terkumpul, sampah disapu ke dalam serokan atau pengki, lalu dibuang ke tong sampah. 

Cara kedua,  orang menyapu sambil membawa serokan atau pengki di tangan kiri. Sambil berjalan selangkah demi selangkah, sampah yang ditemukan langsung disapu masuk ke serokan atau pengki.

Cara mana yang biasa Anda gunakan dalam menyapu? Kedua cara bisa digunakan, tergantung kebiasaan masing-masing orang.

Tetapi, pengalaman menyapu ini membuat saya berefleksi tentang dosa dalam kehidupan manusia. Setiap kita tentu tak luput dari dosa dan pernah berbuat dosa. Lalu, bagaimana cara kita menangani kedosaan kita? 

Ada di antara kita yang cenderung mengumpulkan dosa-dosa sampai bertumpuk, baru kemudian mencari imam untuk menerima Sakramen Tobat; pada saat Gereja membuka penerimaan Sakramen Tobat bagi umat secara luas menjelang Natal dan Paskah. 

Namun, ada juga di antara kita yang lebih suka  segera mengaku dosa, tak mau menumpuknya. Terus bergerak maju sedikit demi sedikit, seraya membersihkan diri dari 'kotoran' akibat dosa.

Cara mana yang Anda pilih? Ini pun tergantung kebiasaan Anda. Manfaatkanlah kesempatan mengaku dosa yang ditawarkan Gereja di masa Adven ini, sehingga dengan hati bersih kita menyambut Kristus dalam palungan hati kita di hari Natal.

Senin, 02 Desember 2024

Mengapa Masa Adven Tetap Perlu?

Masa Adven disediakan Gereja selama 4 minggu untuk umat kristiani, agar dapat menyiapkan hati menyambut kedatangan Kristus. 

Kita tahu, Kristus sudah datang ke dunia lebih dari 2000 tahun silam. Lalu, mengapa masa Adven tetap perlu? Mengapa kita tidak menyibukkan diri saja menyiapkan pesta Natal atau merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember? Bukankah pada kenyataannya Kristus sudah lahir ke dunia?

Masa Adven tetap perlu ada, supaya kita dapat merefleksikan kehidupan rohani kita. Mengingat kembali kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup kita. Betapa Ia sangat mengasihi kita, mau meninggalkan takhta-Nya di surga untuk turun ke dunia menjadi manusia sama seperti kita. Ia bersedia mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan jiwa kita dari cengkeraman dosa dan maut. 

Masa Adven membawa kita pada perenungan akan kesediaan melaksanakan kehendak Allah seperti yang dilakukan terutama oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, juga oleh para gembala dan tiga orang majus.

Jika dihayati sepenuh hati, masa Adven akan memberi banyak makna tentang kemanisan kasih Tuhan kepada kita - umat manusia yang diciptakan-Nya sekaligus sangat dicintai-Nya.