Jumat, 03 Juni 2022

Taman Surgawi Hati Kita

Di manakah letak Taman Surgawi? Karena ada kata "surgawi," kita membayangkan taman itu berada di surga, suatu tempat yang bakal kita masuki kelak, setelah beralih dari dunia fana ini.

Sejatinya, Taman Surgawi ada di dalam hati setiap manusia. Serupa Taman Eden, di mana Allah menanam Pohon Kehidupan, yakni Roh Allah dalam jiwa kita. Di dalam Taman Surgawi hati kita juga ada Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, yang membuat hati kita bergumul antara niat baik dan niat jahat, antara kebenaran dan ketidakbenaran.   

Apakah kita selama ini sudah menaruh perhatian dengan merawat Taman Surgawi Hati kita? Berfokuslah merawat Pohon Kehidupan dalam Taman Surgawi hati kita, sebab jika Pohon Kehidupan ini semakin tumbuh subur, kita dapat dengan mudah menetapkan yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang tidak benar. Kehadiran Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat di dalam Taman Surgawi Hati kita tidak lagi menimbulkan gejolak batin. ...dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. (Yohanes 8:32)

Ciptakanlah Taman Surgawi yang indah di dalam hati kita, agar Roh Allah betah bersemayam di sana dan mengagumi keindahan jiwa kita.

Selasa, 31 Mei 2022

Menetap di Rumah Bersama Ibu

Anak-anak Maria menetap di rumah bersama Ibunya. Mereka suka menyepi, suka hidup batiniah, bertekun dalam doa menurut teladan dan bersama Ibu mereka, Perawan Tersuci, yang seluruh kemuliaannya bersifat batiniah. Terkadang mereka tampil ke dunia, tetapi itu karena ketaatan kepada kehendak Allah dan kehendak Ibu mereka yang terkasih.

Meskipun anak-anak Maria melakukan hal-hal yang dari luar kelihatannya besar, mereka merasa jauh lebih penting hal-hal besar yang mereka lakukan di dalam batin mereka bersama Perawan Tersuci; karena di dalam batin inilah mereka melakukan karya besar penyempurnaan diri mereka.

Hari terakhir di bulan Mei, Bulan Maria. Bukan berarti kita kembali berjarak dengan Bunda Surgawi. Tulisan Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria yang dikutip di atas, hendaknya menjadi penyemangat kita untuk terus dekat - berada di rumah - bersama Bunda Maria. Penyempurnaan diri kita yang dilakukan secara batiniah bersama Perawan Tersuci adalah hal yang lebih penting, ketimbang hal-hal lain yang di mata dunia kelihatan hebat.

Kamis, 26 Mei 2022

Ada Harapan di Balik Perpisahan

Perpisahan sering kali membuat kedua pihak yang mengalaminya berduka. Merasa ditinggalkan, hampa, tidak bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya - itulah yang dihasilkan oleh sebuah perpisahan.

Melalui peristiwa Yesus naik ke surga, Ia mengajarkan kepada kita untuk tidak takut menghadapi perpisahan, karena selalu ada harapan di balik keterpisahan. 

Kepada para murid-Nya, Yesus telah mengutarakan harapan itu sebelum Ia terangkat ke surga, dengan mengatakan: "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)

Dan untuk menghibur para murid-Nya yang berduka karena ditinggal oleh-Nya, Yesus menjanjikan Penghibur. "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)

Bahkan keterpisahan dengan orang yang dicintai karena kematian pun, tetap ada harapan akan perjumpaan kembali dalam kehidupan kekal, seperti dikatakan rasul Paulus dalam surat kepada umat di Tesalonika: ....mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah kit, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.(1 Tesalonika 4:16b-17)

Anda sedang mengalami suatu perpisahan? Ingatlah, selalu ada harapan di baliknya.

 

Sabtu, 07 Mei 2022

Tak Banyak Bertanya

Dalam keseluruhan Injil, kita membaca hanya tiga kali Perawan Tersuci bertanya. Pertanyaan pertama dan kedua diajukan Maria kepada Malaikat Gabriel pada saat mengunjunginya untuk menyampaikan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus: Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:29) Pertanyaan kedua: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34) Setelah mendengar penjelasan malaikat, Maria berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Maria tidak bertanya, meskipun ia harus membaringkan Putranya di palungan, mendapat kunjungan para gembala dan tiga orang majus, mengungsi ke Mesir, mendengar perkataan yang menusuk hati dari Simeon di Bait Allah. Maria lebih memilih menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya.

Pertanyaan ketiga yang diajukan Maria, ditujukan langsung kepada Yesus Putranya yang tertinggal di Bait Allah di Yerusalem. "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." (Lukas 2:48) Jawaban yang diberikan Yesus tidak lagi membuat Sang Ibu bertanya.

Apakah kita sering kali mempertanyakan kepada Tuhan, kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup kita? Berhati-hatilah. Pertanyaan-pertanyaan kita menandakan keraguan kita kepada Tuhan dan memicu munculnya godaan-godaan. Sebaliknya, kepatuhan kepada kehendak Tuhan membawa berkat. 

 

Jumat, 22 April 2022

Tulisan yang Terabaikan Selama 126 Tahun

Buku Bakti yang Sejati kepada Maria (True Devotion to Mary) diperkirakan ditulis oleh St. Louis-Marie de Montfort tahun 1712, sekitar 4 tahun sebelum kematiannya. Namun, naskah tulisan tangan orang kudus asal Perancis ini terabaikan selama 126 tahun!

Saat terjadi Revolusi Perancis tahun 1789, naskah tulisan ini disembunyikan di tanah pertanian untuk menghindari pemusnahan. Setelah situasi di negara Perancis membaik, naskah tersebut dikembalikan ke biara induk Serikat Maria Montfortan (SMM) di Saint-Laurent-sur-Sevre, Perancis. Tetapi, saat itu para imam SMM lebih berfokus meneruskan misi yang telah dimulai oleh St. Louis-Marie de Montfort, ketimbang menerbitkan tulisan orang kudus yang rajin berkeliling Perancis bagian barat untuk mewartakan Yesus Kristus.

Naskah tulisan tangan St. Louis-Marie de Montfort ditemukan oleh seorang imam SMM yang sedang mencari bahan retret bertema Bunda Maria di perpustakaan biara induk SMM pada 22 April 1842. Kumpulan tulisan tangan itu kemudian diserahkan kepada pimpinan tarekat. Setelah ditelaah dan diyakini sebagai tulisan tangan asli dari St. Louis-Marie de Montfort, pendiri tarekat tersebut, naskah tulisan diterbitkan tahun 1843 berupa buku Bakti yang Sejati kepada Maria.

Penemuan naskah tulisan tangan orang kudus ini bagaikan mendapatkan harta karun yang tersembunyi selama lebih dari satu abad. Harta ini kemudian disebarluaskan. Tak terbilang yang telah memperoleh pemahaman yang benar tentang bakti yang sejati kepada Bunda Maria melalui buku tersebut, di antaranya Santo Paus Yohanes Paulus II yang memakai motto Totus Tuus dari St. Louis-Marie de Montfort, dan Hamba Allah Frank Duff yang mendirikan Legio Mariae. 

Inti pengajaran Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria adalah membentuk pelayan-pelayan sejati Bunda Maria yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Yesus Kristus, seperti diteladankan oleh Sang Ibunda Juruselamat. Bakti yang sejati kepada Bunda Maria bukan sekadar devosi, tetapi lebih bersifat mendasar, menyangkut relasi hati antara Ibu dengan anak.

Melalui Santa Perawan Maria-lah Yesus Kristus telah datang ke dunia, dan melalui Maria pulalah Dia harus meraja di dunia. - St. Louis-Marie de Montfort

·  

Selasa, 19 April 2022

Roh Allah dalam Raga Manusia

Paskah tahun ini, di Amerika Serikat dirilis film Father Stu. Film ini mengangkat kisah nyata seorang pria tampan, Stuart Long (1963-2014). Di masa mudanya, Stuart seorang petinju, lantas menjajal jadi aktor Hollywood. Namun kegairahan masa mudanya kandas, setelah ia mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya ditabrak mobil. Tubuhnya yang terpelanting, kembali diseruduk mobil.

Yang menarik, kesaksian Stuart saat ia berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan tersebut. Ia mendapati jiwanya keluar dari raganya. Pada kondisi demikian, ia melihat roh Allah tetap bersemayam dalam raganya. 
 
Stuart bukan orang yang religius, malah ia mengaku ateis sebelum mengalami kecelakaan fatal itu. Setelah sadar dari koma dan kesehatannya pulih, Stuart memutuskan masuk seminari dan menjadi imam di Helena, Montana.
 
Dari pengalaman spiritual Father Stuart, keyakinan kita semakin diperteguh bahwa di dalam raga setiap manusia, bersemayamlah Roh Allah. ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7) Maka, sudah sepatutnya kita menghargai setiap manusia, karena ada Roh Allah di dalamnya.
 

Minggu, 17 April 2022

Salib Sumber Bahagia

Penggalan syair lagu Kristus Bangkit mengungkapkan: ..salib sumber bahagia, Kristus pemenang jaya... Benarkah salib merupakan sumber kebahagiaan bagi para pengikut Kristus?
 
Suatu kali, di akun IG diunggah ayat ini: Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. (Yakobus 1:2-4) - Hanya satu orang yang memberi like.
 
Sebulan berselang, kutipan berikut ini muncul di IG yang sama: "Buatlah Santo Yosef menjadi pelindung keluargamu, dan engkau akan segera memperoleh bukti nyata perlindungannya." (St. Petrus Yulianus Eymard) - Ada 9 orang yang memberi like.
 
Perbandingan kedua materi unggahan di media sosial itu memberi gambaran, betapa kita lebih suka akan hal-hal yang manis dan indah, ketimbang salib dan penderitaan. Hari ini, ketika kita merayakan Paskah - Kebangkitan Kristus, dalam suasana sukacita dan kemenangan, hendaklah dalam hati kita tetap mengakui: tanpa sengsara dan wafat, tak ada kebangkitan. 

Jalan mana pun yang kamu tempuh, kamu akan selalu menemukan salib: kamu akan menemukan salib kaum para pilihan, jika kamu memanggulnya sebagaimana seharusnya, dengan sabar dan gembira demi kasih kepada Allah. (St. Louis-Marie de Montfort)
 
Selamat Paskah - Salib Sumber Bahagia!