Minggu, 05 September 2021

Kalau Belum Bisa Percaya, Sebaiknya Taat Saja

Sulit mempercayai Tuhan Semesta Alam dapat melakukan segala hal - bahkan hal paling mustahil yang pernah terpikirkan oleh manusia?

Dalam Perjanjian Lama, melalui pengalaman-pengalaman bangsa Israel, kita melihat bagaimana umat pilihan Allah itu belum juga memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan, sekalipun berbagai mukjizat telah terjadi di depan mata mereka.

Contoh, di zaman nabi Musa. Umat Israel sudah melihat betapa besar kuasa Allah melalui 10 tulah kepada Firaun di Mesir (Keluaran 7:14-25, 8:1-32, 9:1-35, 10:1-29, 11:1-10; tetapi tetap saja mereka gamang ketika dikejar pasukan tentara Firaun di dekat Laut Merah. Tuhan tetap menolong bangsa Israel dengan memperlihatkan mukjizat-Nya membelah laut itu.

Dalam pengembaraan di padang gurun, kembali umat Israel bersungut-sungut karena tidak bisa makan daging. Tuhan kembali memperlihatkan kuasa-Nya dengan menghadirkan burung-burung puyuh (Keluaran 16:13). Lalu, ketika umat Israel kehausan di Masa dan Meriba, mereka mencobai Tuhan dengan mengatakan: "Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" (Keluaran 17:7) Tuhan meminta Musa memukul gunung batu di Horeb, dari sana air mengalir.

Di tengah pergulatan hidup dan kecenderungan manusia yang mengedepankan logika berpikir, sering kali iman tertinggal jauh di belakang. Mana mungkin? Mana bisa? Tidak masuk akal.... itulah kata-kata yang dengan mudah terucap dari bibir manusia.

Contoh, Naaman panglima raja Aram yang sakit kusta. Ia diminta nabi Elisa pergi mandi 7 kali di sungai Yordan. Semula Naaman gusar, tetapi akhirnya ia taat pada perkataan nabi Elisa. Ia pun sembuh. (2 Raja-Raja 5:1-14)

Kalau kita belum bisa percaya pada Kemahakuasaan Tuhan yang melampaui pikiran manusia, sebaiknya kita taat saja... maka, mukjizat Tuhan akan terjadi dalam hidup kita.

Rabu, 25 Agustus 2021

Ganti HP - Mulai Baru

Ketika telepon seluler (HP) rusak, kita mengganti dengan perangkat baru seturut kebutuhan komunikasi digital saat ini. Kita akan memindahkan semua kontak yang ada di HP lama, supaya memudahkan keterhubungan dengan orang-orang yang kita kenal. 

Lalu, kita masih menambah "beban" HP baru dengan memindahkan foto-foto, video, dokumen, bahkan seluruh chatting dari media sosial di HP lama. Padahal, tak semua itu kita butuhkan untuk memulai dengan perangkat baru.

Mengapa perlu membawa terus beban masa lampau? Hidup ini sarat dengan aneka tantangan. Bersikaplah bijak dengan memilah mana yang penting dan perlu, mana yang tidak penting dan tidak perlu. Mulai baru tanpa beban.

 

Jumat, 06 Agustus 2021

Belum Selesai di Atas Gunung yang Tinggi

Petrus mengajak Yesus tinggal di gunung yang tinggi dengan membuat tiga kemah, satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satunya lagi untuk Elia (lihat Markus 9:2-10). Seandainya Yesus terbujuk mengikuti saran Petrus, kita bisa membayangkan kelanjutannya... misi penyelamatan manusia gagal diwujudkan!

Yesus tidak terpengaruh, tetap teguh pada pendirian-Nya, meski Ia tahu harus melewati jalan salib. Ketika mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan agar murid-murid-Nya tidak menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Markus 9:9). 

Beranikah kita melepas sesuatu yang nikmat dan menjanjikan? Maukah kita menyangkal diri dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik, jika kita melepaskan kenikmatan itu?

Jika Anda sedang berada di gunung yang tinggi saat ini, jangan takut melepaskan kenyamanan itu. Misi harus diteruskan. Kita belum selesai di atas gunung yang tinggi ini.

 

Sabtu, 24 Juli 2021

Menyelidiki Tuhan

Mengapa orang baik itu Engkau biarkan sakit terpapar virus, kemudian Engkau memanggilnya pulang? Satu pertanyaan berkembang jadi tanda tanya tak terhingga, ketika orang-orang berhadapan dengan penyakit dan kematian di masa pandemi ini. 

Pertanyaanku menguap. Aku yakin demikian pula tanya-tanya lain yang mengudara di berbagai belahan dunia. Dalam diam malah aku menemukan jawabannya: inilah bukti ke-Mahakuasaan-Mu.
 
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:33-34)

Ya, Tuhan Allah-ku, terjadilah pada kami seturut kehendak-Mu. Kami mengakui ke-Mahakuasaan-Mu.


Jumat, 16 Juli 2021

Segera Lakukan Ini

Berserah kepada Bunda Maria secara total,
menjadi hambanya yang siap menerima apa pun yang diberikan olehnya,
maka hati kita akan menjadi tenang di masa pandemi yang mencekam ini,
karena percaya telah berada dalam perlindungan Ibu Surgawi,
seorang Ibu tentu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
 
"Kami berlari kepada perlindunganmu, O Bunda Allah yang kudus.
Jangan menolak permohonan-permohonan kami dalam kesesakan kami,
tetapi bebaskanlah kami dari segala bahaya,
O, Perawan yang termulia dan terberkati." 
 (Doa Sub Tuum Praesidium - abad ke-3)

Kamis, 15 Juli 2021

Mati Raga

Dalam situasi yang mendesak saat ini, selain berdoa dengan tekun, kita perlu bermati raga. 
 
Ingatlah yang dilakukan penduduk Niniwe, ketika diperingatkan Nabi Yunus untuk bertobat (lihat Yunus 3:1-10). Raja memerintahkan semua penduduk bahkan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah. Mereka harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 

Bermati raga dalam hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari. Misalnya, mengurangi waktu menyaksikan siaran televisi, diganti dengan berdoa; membagi makanan yang kita miliki kepada tetangga di sekitar kita yang sangat membutuhkan; menyapa kenalan, saudara, sahabat kita yang sedang berduka; dan perbuatan-perbuatan baik lain yang bisa kita lakukan disertai penyangkalan diri. Inilah saat kita dengan rela memikul salib, tanpa menimbang untung-rugi.

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." (Yoel 2:12)

Kamis, 01 Juli 2021

Permohonanku

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:12)