Senin, 19 Agustus 2019

Seteru Salib Kristus

Nasihat-nasihat yang diberikan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dalam suratnya yang ditulis sekitar tahun 56 Masehi, tetap relevan bagi kita sebagai para pengikut Kristus: 

Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 
Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih! 
(Filipi 3:17-19, 4:1)
 

Sabtu, 27 Juli 2019

Menyembuhkan Luka Batin

* Karena persembahannya tidak diterima, Kain yang luka batin membunuh adiknya, Habil (lihat Kejadian 4:1-16)

* Karena ditegur Yohanes Pembaptis, Herodias yang luka batin menyuruh anaknya meminta kepala Yohanes Pembaptis (lihat Matius 14:1-12)

* Karena kerap dikritik Yesus, para imam kepala dan ahli Taurat yang luka batin bersepakat membunuh Yesus (lihat Markus 14:1-2)

Ketiga contoh di atas hanyalah gambaran bagaimana seorang yang terluka batin dapat berpikir dan berbuat yang jahat dan merugikan orang lain. Apakah itu luka batin dan bagaimana cara menyembuhkannya, supaya kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan?

Di bawah ini sharing dari pengalaman mengikuti retret Penyembuhan Batin di Lembah Karmel, Cikanyere. Semoga dapat bermanfaat untuk membersihkan dan memulihkan batin yang terluka.

Luka batin adalah pengalaman negatif dan menimbulkan trauma, sehingga membentuk kepribadian yang tidak utuh. Luka batin dapat dialami sejak seseorang berada dalam kandungan ibunya, saat kelahiran dan masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, hingga masa dewasa.

Setiap hari kita berpotensi terluka oleh orang-orang di sekitar kita, terutama tentu saja orang-orang terdekat dengan kita, yang paling banyak berinteraksi dengan kita.

Seseorang yang menderita luka batin memperlihatkan ciri-ciri seperti berikut:
- Merasa tidak dikasihi oleh Allah/orang tua/keluarga/sesama
- Minder, sulit bergaul
- Mudah iri hati, pencemburu
- Pendiam, penyendiri, pemurung
- Takut tanpa alasan yang jelas
- Sering sedih, bahkan kadang mau bunuh diri
- Merasa ditolak, tidak dicintai, tidak diterima di mana2
- Merasa hidupnya tidak berguna
- Rasa bersalah berlebihan
- Selalu ragu, tak mampu mengambil keputusan
- Merasa tidak diperhatikan, kadang over acting

Apakah di antara sekian banyak ciri itu, ada yang mengena pada Anda?
Jangan cemas dan sedih. Luka batin dapat disembuhkan, asalkan Anda bersedia membuka diri.

Memang menyakitkan membuka dan menyadari luka-luka batin dalam diri kita, tetapi lebih baik sakit sebentar untuk mengalami kesembuhan daripada sakit terus-menerus seumur hidup.
Luka batin perlu ditemukan dan disembuhkan, supaya kita dapat menjadi pribadi yang mengalami damai dan sukacita dalam hidup sebagai anak Allah.

Cara menemukan dan menyembuhkan luka-luka batin dalam diri sendiri:
- Masuk dalam keheningan
- Berdoa mohon kehadiran Roh Kudus
- Mintalah kepada Yesus untuk menunjukkan luka-luka batin dengan cara perlahan-lahan kita membayangkan diri kita sejak masa dalam kandungan, setahap demi setahap memasuki masa bayi, kanak-kanak, remaja, sampai pada masa dewasa
- Menyadari dan menyerahkan luka-luka yang kita alamai itu kepada Yesus untuk disembuhkan
- Memberi pengampunan penuh kepada orang-orang yang telah menimbulkan luka-luka itu.
Tanda pengampunan kita bisa dinyatakan dengan membasuh kaki orang-orang yang telah menyakiti kita, sehingga batin kita terluka.

Memang, setelah kita memberi pengampunan, baik secara langsung atau tidak langsung (dalam refleksi yang kita lakukan bersama Yesus), tentu masih ada bekas luka batin itu. Kita perlu memulihkannya secara total dengan melakukan Meditasi Yesus, serta secara berkala menerima Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat.

Cara melakukan Meditasi Yesus:
1. Duduk bersila atau bersimpuh dengan mata terpejam, kepala tegak, posisi kedua tangan terbuka, selama minimal 20 menit
2. Berdoa mohon kehadiran Roh Kudus dalam keheningan
3. Nyatakan kepada Yesus secara singkat saja keinginan kita seperti: "Tuhan Yesus sembuhkan luka-luka batinku," atau "Tuhan Yesus aku mau sembuh," dan sebagainya
4. Menyebut nama Yesus berulang-ulang dalam hati, sesuai tarikan dan hembusan napas (Sebut "YE" saat menarik napas, lalu sebut "SUS" saat menghembuskan napas)
5. Merasakan Yesus hadir dan menjamah bekas luka-luka batin kita
6. Setelah 20 menit atau lebih, perlahan-lahan membuka mata kembali

Meditasi Yesus sangat baik dilakukan setiap hari, agar relasi kita dengan Yesus makin dekat. Jika kita tidak punya banyak waktu khusus untuk melakukan Meditasi Yesus, kita dapat menyebut nama "Yesus" berulang kali dalam hati, pada saat kita dalam perjalanan atau sambil melakukan pekerjaan lain seperti memasak, menyapu, dan sebagainya.

Setelah luka-luka batin kita dipulihkan Tuhan, sebagai manusia yang kodrati, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya melupakan peristiwa yang menyakitkan itu; tetapi cara pandang kita jadi berbeda. Ketika kita teringat kembali akan peristiwa yang menimbulkan luka batin tersebut, kita dapat mengenangnya tanpa terluka.

Rabu, 10 Juli 2019

Bukan Di Sini Tempatnya

Manusia cenderung ingin tinggal di tempat yang indah, tenang, dan tenteram; tetapi Tuhan justru mengutus orang-orang pilihan-Nya ke tempat-tempat yang tidak menyenangkan untuk dihuni, penuh tantangan.

Firman Tuhan kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (Kejadian 12:1)

Firman Tuhan kepada Musa: "Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." (Keluaran 3:10)

Firman Tuhan kepada Yunus: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:2)

Lalu aku (Yesaya) mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)

Beranikah kita menjawab permintaan Tuhan seperti para nabi itu menjawab-Nya?

Senin, 01 Juli 2019

Bersyukur Senantiasa

Yang perlu kulakukan mulai saat ini: 
Memuji dan bersyukur kepada Allah Tritunggal dan Bunda Maria 
yang telah melimpahkan berbagai rahmat kepadaku.
Aku menyadarinya.
Aku merasakannya dalam setiap tarikan napasku.
Aku akan mewartakan kasih karunia-Nya kepada orang-orang di sekitarku,
agar mereka pun menikmati kebaikan Tuhan.
 

Senin, 24 Juni 2019

Sekarang Aku Mengerti

"Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak," kata-Mu dalam perjamuan terakhir bersama para rasul (lihat Yohanes 13:8b).

Semula memang aku tak mengerti:
- Mengapa Engkau membasuh kaki para rasul?
- Mengapa Engkau mau menanggung sengsara begitu hebat, tanpa sedikit pun melawan?
- Mengapa Engkau tak mau turun dari salib, malah memilih masuk ke alam kematian?
- Mengapa Engkau mengatakan, roti adalah Tubuh-Mu dan air anggur adalah Darah-Mu?

Sekarang aku mengerti:
- Engkau memberi teladan kerendahan hati dan sikap melayani secara total.
- Engkau mau menyelamatkan seluruh umat manusia, serta memulihkan relasi yang terputus antara Allah dan manusia karena dosa manusia pertama.
- Engkau masuk ke alam maut, agar dapat mengalahkannya, sehingga maut tidak lagi berkuasa atas manusia.
- Engkau meninggalkan kenangan abadi berupa Tubuh dan Darah-Mu dalam Sakramen Mahakudus, yang setiap kali kami sambut dalam Perjamuan Ekaristi.   

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sangat mengasihi kami. 

Minggu, 23 Juni 2019

Mukjizat Penggandaan Roti

Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki (lihat Lukas 9:12-17). Ada tafsiran yang mengatakan, peristiwa penggandaan roti hanya simbolis. Intinya, Yesus mencontohkan agar orang-orang yang hadir di tempat itu mau saling berbagi, sehingga semua berkecukupan. 

Mealui pemaparan Yesus dalam Injil Markus 8:18b-21, kita meyakini peristiwa penggandaan roti adalah sungguh mukjizat yang diperbuat Tuhan Yesus, bukan sekadar bermakna simbolis. 

Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul." Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul." Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"   

Sabtu, 15 Juni 2019

Ketika Kita Bertatapan

Tepat tiga tahun silam aku merasakan sapaanmu, ketika kita bertatapan. 
Perjumpaan ini mengubah hidupku selanjutnya....



Tak ada perasaan bersemangat akan bertemu denganmu, ketika aku memutuskan menghadiri acara devosi kepada Bunda Maria Fatima di sebuah aula di kawasan Jakarta Barat pada 15 Juni 2016. Acara yang diselenggarakan Marian Centre Indonesia ini menghadirkan ikon Bunda Maria Peziarah Internasional dari Fatima-Portugal, dirangkai dengan Doa Rosario dan Perayaan Ekaristi.

Ketika ikon Bunda Maria Peziarah Internasional diarak masuk ke aula, seluruh hadirin berdiri. Dalam hati aku berucap, "Apa yang istimewa? Pasti seperti tampilan Bunda Maria umumnya.... tersenyum manis dengan pandangan mata lembut."

Aku menatap ke wajah Bunda Maria, saat tandu yang membawanya lewat di dekatku. "Ke mana saja kamu selama ini, anakku?" suara itu menggema dalam hatiku. Aku terkesiap! Sapaan Bunda menyadarkanku.  Aku menatap wajah Bunda dengan lekat, lalu menunduk.

Sudah 37 tahun aku dibaptis. Sebagai orang Katolik tentu aku mengenalmu, Bunda. Aku telah mengalami berbagai peristiwa pribadi yang menjadi tonggak-tonggak penting dalam perjalanan hidupku, di dalamnya kuakui ada campur tangan dan peran besar Bunda Maria. Tetapi, selama itu pula relasiku dengan Bunda Maria hanya suam-suam kuku. Setelah masalah selesai dan peristiwa berlalu, penyertaan dan pertolongan Bunda Maria tak lagi kuingat. Bahkan dalam beberapa kasus, peringatan dini Bunda Maria tidak kugubris.

Ke mana saja aku selama ini sampai melupakan Bunda Surgawiku yang dalam diam dan caranya sendiri selalu mendampingi langkah hidupku?

Perjumpaan dengan Bunda Maria dan sapaannya mengubah hidupku. Selubung penghalang lenyap.

Dua minggu kemudian setelah peristiwa itu, aku mengawali devosi kepada Bunda Maria di Paroki dengan mengajak umat mendaraskan Doa Senakel, setelah Misa harian pada Sabtu pertama. Lima belas bulan setelahnya, Paroki kami diminta Marian Centre Indonesia menjadi salah satu penyelenggara Misa dan Doa Senakel bersama Father Laurent Larroque, pemimpin Gerakan Imam Maria Internasional, yang berkunjung ke Indonesia. 

Tiga tahun berlalu sejak engkau menatap dan menyapaku. Terima kasih, Bunda Maria, engkau telah membawaku dekat kepadamu. Dari hari ke hari tumbuh semangat besar untuk makin mengenal dan mencintaimu, agar engkau dapat menggunakan diriku demi kepentingan Hatimu yang Tak Bernoda.