Ada dua kabar perceraian yang kuterima belakangan ini dari teman-temanku. Pertama, seorang ibu muda dengan tiga anak usia 2-7 tahun, lebih memilih berpisah dengan pria yang dinikahinya secara Katolik, daripada hampir setiap hari rumah tangganya diwarnai pertengkaran sengit. Kedua, seorang ibu yang telah menikah 25 tahun pun memilih jalan sendiri-sendiri, ketimbang memaafkan suaminya.
Meski kedua pasangan berbeda kota dan tak saling kenal, sang istri mengalami perlakuan yang sama dari suami masing-masing: diselingkuhi.
Yang sering terjadi, pihak yang diselingkuhi (istri) merasa sebagai pihak yang kalah, harga diri direndahkan dan tidak lagi dicintai, karena itu patut menuntut balas dengan perceraian. Padahal, jika kita berpikir jernih, pihak yang diselingkuhi adalah pihak yang menang. Mengapa demikian? Menang karena selama ini berhasil menjaga kesetiaan dalam pernikahan.
Namun, seperti kata pepatah: sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak
dapat dipercaya. Agaknya itulah yang diterapkan para istri dalam berelasi
dengan pasangan hidup. Mereka lupa akan firman Tuhan untuk mengasihi
sesama bahkan musuh dan mengampuni orang yang bersalah tanpa batas (70
kali 7 kali).
Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pesan "terakhir" yang diberikan Tuhan Yesus dan digemakan dalam Injil menjelang KenaikanNya ke Surga. Dalam amanat perpisahanNya, Tuhan Yesus kerap menekankan dua hal, yaitu menaati perintah (firman) Tuhan dan saling mengasihi - lihat Yohanes 15:7-12.
Menaati firmanNya antara lain berarti mau mengampuni orang yang bersalah dan tetap mengasihi, seperti telah diteladankan Yesus. Tiga kali Petrus mengkhianatiNya, tetapi Yesus mengampuninya dan tetap mengasihi dengan meminta Petrus menggembalakan domba-dombaNya - lihat Yohanes 21:15-17.
Jika pernikahan Anda di ambang kehancuran karena Anda diselingkuhi, janganlah mengambil keputusan segera untuk bercerai saat emosi Anda tinggi dan kacau. Ingatlah, Anda bukan pihak yang kalah. Anda adalah pemenang dalam hal kesetiaan berumah tangga. Inilah ujian iman Anda: apakah Anda akan menaati firman Tuhan dengan mengampuni pasangan hidup Anda dan tetap mengasihinya? Jika Anda menjawab "ya" untuk pertanyaan ini, berarti Anda benar-benar pemenang sejati di mata Tuhan.
Senin, 02 Mei 2016
Selasa, 26 April 2016
Gairah Perjalanan
Ketika melakukan perjalanan wisata, kita sangat bergairah menjalaninya. Berbagai panorama yang melintas memberi percikan keindahan tersendiri. Suasana riang, hati ringan. Tak ada duka yang menggelayut, semua tampak cerah.
Allah menciptakan manusia, lalu mengutus manusia untuk hidup di dunia dan kelak kembali ke Tanah Air Surga. Hidup kita di dunia pun adalah perjalanan wisata. Tempat pesiar kita adalah tempat kita bermukim dengan segala panorama kesehariannya.
Apakah dalam melakukan perjalanan wisata kehidupan ini kita sama bergairahnya seperti ketika kita berpesiar ke suatu tempat tertentu? Adakah kita menikmati keindahan dari berbagai panorama kehidupan yang melintas di hadapan kita? Apakah hati kita dipenuhi sukacita dalam perjalanan wisata kehidupan ini?
Allah menciptakan manusia, lalu mengutus manusia untuk hidup di dunia dan kelak kembali ke Tanah Air Surga. Hidup kita di dunia pun adalah perjalanan wisata. Tempat pesiar kita adalah tempat kita bermukim dengan segala panorama kesehariannya.
Apakah dalam melakukan perjalanan wisata kehidupan ini kita sama bergairahnya seperti ketika kita berpesiar ke suatu tempat tertentu? Adakah kita menikmati keindahan dari berbagai panorama kehidupan yang melintas di hadapan kita? Apakah hati kita dipenuhi sukacita dalam perjalanan wisata kehidupan ini?
Rabu, 20 April 2016
Melepas Keinginan
Tuhan Yesus, jangan biarkan aku menginginkan sesuatu,
jika Engkau sendiri tidak menghendakinya.
jika Engkau sendiri tidak menghendakinya.
Jumat, 01 April 2016
Beda Senang dan Sukacita
Ada perbedaan mendasar antara rasa senang dan sukacita. Perhatikan beberapa contoh berikut:
Saya senang karena bisa bertemu dengan Anda.
Saya senang karena berpesiar ke luar negeri.
Saya senang karena mendapat hadiah.
Saya senang karena karier saya meningkat.
Saya senang karena memiliki rumah baru.
Saya bersukacita karena memaafkan kesalahannya.
Saya bersukacita karena membantu anak yatim piatu.
Saya bersukacita karena memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada orang lanjut usia.
Saya bersukacita karena menolong pedagang asogan yang dagangannya jatuh di jalan.
Saya bersukacita karena memberi semangat kepada teman yang putus asa.
Rasa senang bersifat sementara, ketika peristiwa berlalu bersama waktu, rasa senang dapat lenyap. Anda senang bertemu sahabat atau kekasih Anda, tetapi ketika harus berpisah dengannya, rasa senang itu menguap. Anda senang mendapat promosi jabatan, tetapi beberapa tahun kemudian, rasa senang akan posisi baru tidak lagi dirasakan.
Sedangkan rasa sukacita menetap, terus dirasakan walaupun peristiwanya sudah lama berlalu. Kunci untuk bersukacita adalah menuruti perintah Kristus. Apakah itu? Supaya kita saling mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita (lihat Yohanes 15:10 dan 12). Memaafkan kesalahan orang lain, membantu yang miskin, lemah, cacat, dan tersingkir - merupakan perbuatan kasih kepada sesama. Fokusnya adalah orang lain, bukan diri sendiri.
Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan: bersenang-senang atau bersukacita - seperti jalan lebar atau jalan sempit - ambillah pilihan yang tidak lazim dipilih orang-orang dunia.
"Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)
Jumat, 25 Maret 2016
Memberikan Diri Bukan Mengorbankan Diri
KematianMu di kayu salib adalah pemberian diri yang ikhlas, bukan pengorbanan diri.
Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita melakukannya dengan hati ringan tanpa merasa terpaksa. Sedangkan kalau kita mengorbankan sesuatu untuk orang lain, ada rasa terpaksa dan berat hati.
Tak ada perkataanMu dalam Injil, yang mengatakan Engkau mengorbankan diri. Malah Engkau berkata, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." (Yohanes 10:17-18)
Karena Engkau memberikan diriMu secara sukarela sebagai tebusan untuk keselamatan umat manusia, Engkau menekuni jalan sengsara dengan rasa damai dan sukacita di dalam hatiMu. Tentu saja rasa sakit fisik akibat cambukan dan torehan paku-paku tajam Engkau rasakan sebagai Anak Manusia, tetapi Engkau memilih untuk diam dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Tepatlah yang digambarkan nabi Yesaya jauh sebelum penyalibanMu, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yesaya 53:7)
Meneladan Kristus, marilah kita memberikan diri bukan berkorban, maka jalan salib kehidupan akan terasa ringan.
Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita melakukannya dengan hati ringan tanpa merasa terpaksa. Sedangkan kalau kita mengorbankan sesuatu untuk orang lain, ada rasa terpaksa dan berat hati.
Tak ada perkataanMu dalam Injil, yang mengatakan Engkau mengorbankan diri. Malah Engkau berkata, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." (Yohanes 10:17-18)
Karena Engkau memberikan diriMu secara sukarela sebagai tebusan untuk keselamatan umat manusia, Engkau menekuni jalan sengsara dengan rasa damai dan sukacita di dalam hatiMu. Tentu saja rasa sakit fisik akibat cambukan dan torehan paku-paku tajam Engkau rasakan sebagai Anak Manusia, tetapi Engkau memilih untuk diam dalam ketaatan penuh kepada Bapa.
Tepatlah yang digambarkan nabi Yesaya jauh sebelum penyalibanMu, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yesaya 53:7)
Meneladan Kristus, marilah kita memberikan diri bukan berkorban, maka jalan salib kehidupan akan terasa ringan.
Rabu, 09 Maret 2016
Matahari yang Tak Terkalahkan
Gerhana matahari total terjadi hari ini. Fenomena alam yang sangat langka setelah 33 tahun silam. Sinar matahari pagi akan sirna tertutup bulan. Tepat pada jam yang diprediksi para ahli terjadi gerhana matahari total, saat lingkaran matahari sepenuhnya ditutupi sang rembulan, ternyata bagian bumi yang mengalami gerhana matahari total tidaklah gelap total. Mengapa? Karena ada korona. Memang, lingkaran matahari tertutup penuh oleh lingkaran bulan, tetapi korona matahari - sinar di sekeliling lingkaran matahari yang tertutup bulan - tetap memancarkan terangnya.
Bersikaplah seperti matahari yang tak terkalahkan, meski bayangan gelap menutupi kita. Senantiasa tinggal bersama Tuhan memampukan kita tetap dapat memancarkan terang. maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Mazmur 139:12)
Senin, 07 Maret 2016
Menyikapi Spotlight
Dari tujuh film yang diunggulkan sebagai film terbaik di ajang Piala Oscar 2016 yang digelar di Dolby Theatre, Hollywood, Los Angeles – Amerika Serikat, pada malam 28 Februari 2016, Spotlight akhirnya terpilih sebagai pemenang. Padahal, film Revenant lebih dijagokan karena sebelumnya film yang membuahkan Leonardo DiCaprio sebagai aktor terbaik ini sudah mengantongi penghargaan sebagai film terbaik di Golden Globe Award dan BAFTA (British Academy Film Awards).
Film Spotlight yang
disutradarai Tom McCarthy menjadi film terbaik Oscar dengan jumlah penghargaan
paling sedikit. Satu penghargaan lagi yang diraih film ini adalah penghargaan
Naskah Asli Terbaik yang ditulis Tom McCarthy dan Josh Singer.
Film berdurasi 2 jam 9 menit yang beredar di Indonesia pertengahan
Februari 2016 ini berkisah tentang penyelidikan oleh empat wartawan The Boston Globe tahun 2002 untuk mengungkap
kasus pelecehan seksual yang dilakukan John Geoghan, pastor di Keuskupan Boston,
Massachusetts, Amerika Serikat.
Saat menerima penghargaan Oscar, Michael
Sugar, produser film Spotlight
berujar, “Film ini menjadi suara bagi para korban. Dan
suara ini kami harap bisa menjadi ‘paduan suara’ yang bisa didengar sampai ke
Vatikan.”
Tanggapan
Paus Fransiskus
Tuduhan pelecehan seksual anak yang melibatkan sejumlah pastor Gereja
Katolik sesungguhnya telah lama bergulir. Namun menurut Dewan Hak Asasi Manusia
(HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keuskupan tidak mengambil sikap tegas
terhadap kasus-kasus pelecehan seksual yang dilaporkan ke Vatikan sejak 1995.
Pada Desember 2013, Paus Fransiskus membentuk sebuah tim untuk
menyelidiki semua kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilaporkan. Tim
ini bertujuan memberantas kekerasan seksual dan memberi keadilan kepada para
korban.
Setahun sebelum film Spotlight
dibuat, tepatnya pada 11 April 2014, di depan para anggota Biro Anak-Anak
Katolik Internasional, sebuah jejaring organisasi Katolik Perancis yang
melindungi hak-hak anak, Paus Fransiskus meminta maaf kepada mereka yang
dilecehkan secara seksual oleh para pastor. Paus bertekad tak akan mundur dari
upaya keras melindungi anak-anak.
Tiga bulan berselang, pada 7 Juli 2014, Paus Fransiskus menggelar pertemuan pertama dengan para korban kekerasan seksual oleh segelintir pastor. Enam korban dari Irlandia, Inggris, dan Jerman; menghadiri misa pagi di kediaman Paus di Vatikan. Paus mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun di Gereja Katolik yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.
Tiga bulan berselang, pada 7 Juli 2014, Paus Fransiskus menggelar pertemuan pertama dengan para korban kekerasan seksual oleh segelintir pastor. Enam korban dari Irlandia, Inggris, dan Jerman; menghadiri misa pagi di kediaman Paus di Vatikan. Paus mengatakan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun di Gereja Katolik yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak.
Hikmah
bagi Umat Katolik
Menyaksikan Spotlight, menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang mengatakan, kita
tidak perlu mengeneralisasi seluruh Gereja Katolik buruk; sebab perbuatan
kekerasan seksual dilakukan oleh oknum pastor, hanya sedikit sekali dari
ratusan ribu pastor di seluruh dunia. Namun, ada pula yang jadi malas beribadah
dan berkurang kepercayaannya kepada institusi Gereja Katolik. Yang lain, tidak
ambil pusing dengan Spotlight. Itu
hanya film, bukankah setiap orang bebas berkreasi dan berinterpretasi?
Satu hal yang menarik, pengumuman Oscar
berlangsung pada awal Minggu Prapaskah ke-3 (28 Februari 2016); sementara di
akhir Minggu Prapaskah ke-3, tepatnya pada 4-5 Maret 2016, umat Katolik seluruh
dunia menanggapi seruan Paus Fransiskus untuk menggelar “Momen 24 Jam untuk
Tuhan.” Pada waktu tersebut, umat Katolik semesta didorong untuk semakin
mengarahkan hidup kepada Tuhan sepanjang waktu dengan bertobat, rekonsiliasi,
peduli, dan berbela rasa.
Suatu kebetulankah? Kedua acara
tersebut, tentu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Mungkin ada baiknya, hal
ini dipandang sebagai cara Tuhan menyapa umatNya. Dengan rendah hati kita sebagai
umat Katolik mengakui, pada dasarnya semua manusia berdosa dan sangat
membutuhkan pengampunan dari Allah dan sesama.
Selain itu, kita perlu waspada terhadap berbagai
upaya si jahat yang selalu mencari waktu yang baik untuk menggoda manusia (lihat
saja apa yang dilakukan iblis setelah mencobai Yesus di padang gurun – Lukas
4:13). Jangan sampai Spotlight menggerus
iman kita. Betapa pun, Spotlight hanya
sebuah film buatan manusia yang punya berbagai motivasi di baliknya.
Tak perlu ciut hati dengan berbagai
rongrongan terhadap Gereja Katolik. Ingatlah Sabda Yesus saat memilih Paus
pertama, yakni Santo Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini
Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius
16:18). Bahkan alam maut saja tak mampu menguasai Gereja yang senantiasa dilindungi
Yesus Kristus.
Lihatlah sisi positifnya. Kita dapat menyikapi
kemenangan Spotlight di ajang Oscar dengan semakin memurnikan Gereja Katolik. Para
imam berikhtiar menjadi semakin kudus seperti Yesus Kristus. Umat
Katolik beribadah secara benar dan suci, mendukung karya pelayanan
Gereja dengan mendoakan para imam, biarawan, dan biarawati, serta bekerja sama meluaskan Kerajaan Allah.
Jangan
takut terhadap apa yang harus engkau derita!.... Hendaklah engkau setia sampai
mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10).
