Apakah Yesus yang lahir di Betlehem dan baru saja kita rayakan peristiwa
kelahiranNya, masih tetap menjadi Mesias dalam
kehidupan kita?
Di penghujung tahun, Santo Yohanes lewat tulisannya mengingatkan kita telah bangkit banyak antikristus. Mereka adalah orang-orang yang menyangkal Bapa dan Yesus Kristus (lihat 1 Yohanes 2:22). Kita perlu senantiasa waspada, apakah dalam berpikir, berkata-kata, dan bertindak kita telah menyangkal Kristus?
Menyangkal Kristus bermakna luas antara lain mengutamakan kegiatan duniawi dibandingkan kegiatan spiritual; mementingkan pemenuhan kebutuhan pribadi daripada memerhatikan sesama yang membutuhkan; mengikuti aktivitas yang bertujuan menyehatkan jasmani atau rohani padahal merupakan ritual keyakinan yang berbeda; mencampuradukkan ajaran lain dengan ajaran Yesus; tidak merealisasikan sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.
Antikristus bukan orang yang jauh, yang tidak kita kenal. Mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita (lihat 1 Yohanes 2:19). Kenali dengan cermat antikristus, agar kita tidak terseret dalam kesesatan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan
yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah
perbuatan-perbuatan itu. (Efesus 5:11)
Kamis, 31 Desember 2015
Senin, 28 Desember 2015
Tanda Kemartiran
Setelah merayakan Kelahiran Yesus, pada hari Natal kedua - tanggal 26 Desember - Gereja Katolik Semesta memperingati kemartiran Stefanus. Selang sehari - tanggal 28 Desember - kita memperingati martir-martir kecil yakni bayi-bayi berusia di bawah dua tahun yang dibunuh pasukan Herodes.
Peringatan kemartiran diletakkan sangat berdekatan dengan perayaan Kelahiran Yesus untuk mengingatkan kita akan misi kedatangan Yesus ke dunia. Bukan untuk menjadi raja dunia seperti disangka orang-orang Yahudi, melainkan menjadi martir.
Sesungguhnya sejak Allah mewujud dalam Bayi, sejak itulah kemartiranNya dimulai. Kemahakuasaan sebagai Allah ditanggalkanNya, berganti kepapaan sebagai Anak Manusia. Perjalanan hidup Yesus selama 33 tahun di dunia adalah perjalanan kemartiran yang memuncak di Golgota.
Sepatutnya perjalanan hidup kita sebagai pengikut-pengikut Yesus juga merupakan perjalanan kemartiran dalam arti luas. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. (Mazmur 126:5)
Peringatan kemartiran diletakkan sangat berdekatan dengan perayaan Kelahiran Yesus untuk mengingatkan kita akan misi kedatangan Yesus ke dunia. Bukan untuk menjadi raja dunia seperti disangka orang-orang Yahudi, melainkan menjadi martir.
Sesungguhnya sejak Allah mewujud dalam Bayi, sejak itulah kemartiranNya dimulai. Kemahakuasaan sebagai Allah ditanggalkanNya, berganti kepapaan sebagai Anak Manusia. Perjalanan hidup Yesus selama 33 tahun di dunia adalah perjalanan kemartiran yang memuncak di Golgota.
Sepatutnya perjalanan hidup kita sebagai pengikut-pengikut Yesus juga merupakan perjalanan kemartiran dalam arti luas. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. (Mazmur 126:5)
Kamis, 24 Desember 2015
Natal yang Berbeda
Romantisme Natal yang syahdu dengan kemeriahan dan kegembiraan bagi diri sendiri tidak lagi relevan. Seperti Engkau yang memberikan diriMu kepada umat manusia melalui kehadiranMu di dunia, mulai Natal tahun ini aku pun akan mengisi perayaan kelahiranMu dengan memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitarku yang membutuhkan.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (Yesaya 60:1)
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (Yesaya 60:1)
Senin, 21 Desember 2015
Rumah Terang
Betapa indah rumah-rumah yang berhiaskan aneka lampu menyambut Natal. Terang benderang. Sesekali lampu-lampu bergantian berkedip, menambah romantis suasana ketika menatap rumah seperti itu di tengah semilir angin di malam hari yang senyap.
Tetapi penampilan rumah-rumah demikian hanya dapat dijumpai di negara-negara Barat. Tentu akan sangat mencolok kalau aku menghias tampak muka rumahku seperti itu. Namun, aku mendambakannya.
Mengapa masyarakat di Barat senang menghias rumah mereka dengan ratusan lampu menjelang Natal? Mungkin menandakan kegembiraan merayakan Natal dan seminggu kemudian tahun baru. Aha..., ada makna yang lebih mendalam dari sekadar menghias rumah dengan lampu-lampu.
Rumah terang melambangkan kesiapan tuan rumah menyambut Sang Terang. Di tengah dunia nan gelap karena kegelapan dosa, ada rumah-rumah terang yang bercahaya menyongsong Terang Dunia. Rumah terang menjadi simbol penerimaan penuh sukacita akan Berkah Surgawi.
Tak ada dekorasi Natal yang semarak di depan rumahku. Apalagi lampu-lampu yang berkelap-kelip. Tetapi bukan berarti aku tidak siap menyambut Sang Terang. Lebih baik aku menata rumah batinku, agar menjadi rumah terang yang pantas dihuni Terang Dunia.
Tetapi penampilan rumah-rumah demikian hanya dapat dijumpai di negara-negara Barat. Tentu akan sangat mencolok kalau aku menghias tampak muka rumahku seperti itu. Namun, aku mendambakannya.
Mengapa masyarakat di Barat senang menghias rumah mereka dengan ratusan lampu menjelang Natal? Mungkin menandakan kegembiraan merayakan Natal dan seminggu kemudian tahun baru. Aha..., ada makna yang lebih mendalam dari sekadar menghias rumah dengan lampu-lampu.
Rumah terang melambangkan kesiapan tuan rumah menyambut Sang Terang. Di tengah dunia nan gelap karena kegelapan dosa, ada rumah-rumah terang yang bercahaya menyongsong Terang Dunia. Rumah terang menjadi simbol penerimaan penuh sukacita akan Berkah Surgawi.
Tak ada dekorasi Natal yang semarak di depan rumahku. Apalagi lampu-lampu yang berkelap-kelip. Tetapi bukan berarti aku tidak siap menyambut Sang Terang. Lebih baik aku menata rumah batinku, agar menjadi rumah terang yang pantas dihuni Terang Dunia.
Rabu, 16 Desember 2015
Pertanyaan Yohanes Pembaptis
Ketika mendatangi Perawan Maria untuk menyampaikan pesan dari Allah, malaikat Gabriel menyebut Elisabet sebagai sanak (saudara/keluarga) Maria. (lihat Lukas 1:36) Berarti ada pertalian persaudaraan antara Yohanes Pembaptis - dalam tulisan ini disebut Yohanes - dengan Yesus.
Saat Maria mengunjungi Elisabet, anak di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan ketika mendengar salam dari Maria. (lihat Lukas 1:41) Dapat dikatakan, sejak dalam kandungan Yohanes telah mengakui Keilahian Yesus.
Yohanes begitu yakin Yesus adalah Anak Allah, tatkala Yohanes berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29) Dan Yohanes pun menunjuk Yesus kepada dua orang muridnya yang kemudian pergi mengikut Yesus. (Yohanes 1:35-37)
Ketika orang-orang bertanya kepada Yohanes, siapakah dirinya? Yohanes terus terang mengakui, "Aku bukan Mesias." (Yohanes 1:20) Ia adalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalanTuhan! (lihat Yohanes 1:23) Sedangkan Dia yang datang kemudian daripada Yohanes, "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak," ujar Yohanes. (lihat Yohanes 1:27)
Lebih jauh, dalam kitab Yohanes 3:22-36, kita dapat membaca kesaksian Yohanes tentang Yesus. Sejak awal mewartakan pertobatan bagi orang-orang berdosa, tampak iman Yohanes yang begitu besar kepada Yesus.
Sampai terjadilah peristiwa itu. Yohanes menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri adiknya. Yohanes lalu dipenjara. Dalam keadaan tak menentu di selnya, muncul keraguan pada Yohanes. Ia lalu mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (lihat Matius 11:3)
Yesus tidak menjawab secara langsung pertanyaan Yohanes, melainkan memaparkan kejadian-kejadian nyata: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. (lihat Matius 11:5)
Tidak seperti Petrus dan Yohanes serta Paulus yang pernah dibebaskan dari penjara melalui pertolongan malaikat, Yohanes terus mendekam dalam penjara sampai anak Herodias meminta kepala Yohanes sebagai hadiah atas tariannya yang indah di hadapan Herodes.
Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan kita juga. Ketika kehidupan berjalan mulus, iman kita memuncak dalam kegembiraan. Tetapi, tatkala kemalangan merengkuh kita, dalam keadaan serba tidak jelas, kita melontarkan tanya kepada Yesus, "Engkau akan menolongku? Berapa lama lagi aku harus menanti?"
Perhatikanlah. Seperti kepada Yohanes, mungkin Tuhan Yesus memberi kita jawaban tidak secara langsung. Adakah kita melihat-mendengar-memahami jawabanNya? Atau, kita menjadi tidak sabar, putus asa, dan meninggalkanNya?
"Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku," tandas Yesus kepada murid-murid Yohanes yang datang bertanya kepadaNya. Kata-kata yang sama diucapkanNya kepada kita.
Saat Maria mengunjungi Elisabet, anak di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan ketika mendengar salam dari Maria. (lihat Lukas 1:41) Dapat dikatakan, sejak dalam kandungan Yohanes telah mengakui Keilahian Yesus.
Yohanes begitu yakin Yesus adalah Anak Allah, tatkala Yohanes berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29) Dan Yohanes pun menunjuk Yesus kepada dua orang muridnya yang kemudian pergi mengikut Yesus. (Yohanes 1:35-37)
Ketika orang-orang bertanya kepada Yohanes, siapakah dirinya? Yohanes terus terang mengakui, "Aku bukan Mesias." (Yohanes 1:20) Ia adalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalanTuhan! (lihat Yohanes 1:23) Sedangkan Dia yang datang kemudian daripada Yohanes, "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak," ujar Yohanes. (lihat Yohanes 1:27)
Lebih jauh, dalam kitab Yohanes 3:22-36, kita dapat membaca kesaksian Yohanes tentang Yesus. Sejak awal mewartakan pertobatan bagi orang-orang berdosa, tampak iman Yohanes yang begitu besar kepada Yesus.
Sampai terjadilah peristiwa itu. Yohanes menegur Herodes yang mengambil Herodias, istri adiknya. Yohanes lalu dipenjara. Dalam keadaan tak menentu di selnya, muncul keraguan pada Yohanes. Ia lalu mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (lihat Matius 11:3)
Yesus tidak menjawab secara langsung pertanyaan Yohanes, melainkan memaparkan kejadian-kejadian nyata: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. (lihat Matius 11:5)
Tidak seperti Petrus dan Yohanes serta Paulus yang pernah dibebaskan dari penjara melalui pertolongan malaikat, Yohanes terus mendekam dalam penjara sampai anak Herodias meminta kepala Yohanes sebagai hadiah atas tariannya yang indah di hadapan Herodes.
***
Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan kita juga. Ketika kehidupan berjalan mulus, iman kita memuncak dalam kegembiraan. Tetapi, tatkala kemalangan merengkuh kita, dalam keadaan serba tidak jelas, kita melontarkan tanya kepada Yesus, "Engkau akan menolongku? Berapa lama lagi aku harus menanti?"
Perhatikanlah. Seperti kepada Yohanes, mungkin Tuhan Yesus memberi kita jawaban tidak secara langsung. Adakah kita melihat-mendengar-memahami jawabanNya? Atau, kita menjadi tidak sabar, putus asa, dan meninggalkanNya?
"Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku," tandas Yesus kepada murid-murid Yohanes yang datang bertanya kepadaNya. Kata-kata yang sama diucapkanNya kepada kita.
Selasa, 08 Desember 2015
Imanuel dan Imakulata
Hari ini Gereja semesta memperingati Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda atau Imakulata. Sebetulnya mudah bagi kita untuk meyakini sepenuhnya Kebenaran bahwa Bunda Maria sejak dalam kandungan tidak memiliki dosa asal. Dan keyakinan kita ini bukan lantaran dogma yang diterbitkan Paus Pius IX pada 8 Desember 1854, tetapi lebih pada pemahaman akan Sabda Yesus dalam Injil.
Dalam Matius 5:8, tertulis salah satu Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus Kristus, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Seorang manusia biasa yang hatinya bersih dan murni akan dapat melihat Allah. Jika Allah mensyaratkan hati yang suci untuk dapat berelasi secara pribadi dengan Allah, tentu Allah mensyaratkan yang jauh lebih sempurna bagi kediaman Sang Putra - Allah yang menjadi Manusia.
Bunda Maria sebagai Perawan Pilihan Allah telah dipersiapkan jauh sebelumnya. Ingatlah akan kalimat-kalimat dalam Mazmur 139:16, "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Saat Allah menciptakan sesosok manusia, Ia telah merancang secara rinci hari-hari yang akan dijalani manusia tersebut. Dengan pemahaman ini, tentu Bunda Maria pun telah digariskan sejak semula untuk menjadi Ibu Allah Putra.
Namun Allah tak pernah memaksakan kehendakNya. Ia selalu memberi kebebasan untuk memilih kepada setiap ciptaanNya. Ketika Allah mengutus malaikat agung St. Gabriel kepada Maria, keputusan akhir ada pada Maria. Jawaban Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," (Lukas 1:38) menjadi keputusan terpenting yang menggulirkan kisah selanjutnya - kehadiran Allah dalam wujud manusia untuk menebus umat manusia dari belenggu dosa dan maut.
Allah hadir di tengah umat manusia (Imanuel) dapat terwujud karena Imakulata.
Dalam Matius 5:8, tertulis salah satu Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus Kristus, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Seorang manusia biasa yang hatinya bersih dan murni akan dapat melihat Allah. Jika Allah mensyaratkan hati yang suci untuk dapat berelasi secara pribadi dengan Allah, tentu Allah mensyaratkan yang jauh lebih sempurna bagi kediaman Sang Putra - Allah yang menjadi Manusia.
Bunda Maria sebagai Perawan Pilihan Allah telah dipersiapkan jauh sebelumnya. Ingatlah akan kalimat-kalimat dalam Mazmur 139:16, "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Saat Allah menciptakan sesosok manusia, Ia telah merancang secara rinci hari-hari yang akan dijalani manusia tersebut. Dengan pemahaman ini, tentu Bunda Maria pun telah digariskan sejak semula untuk menjadi Ibu Allah Putra.
Namun Allah tak pernah memaksakan kehendakNya. Ia selalu memberi kebebasan untuk memilih kepada setiap ciptaanNya. Ketika Allah mengutus malaikat agung St. Gabriel kepada Maria, keputusan akhir ada pada Maria. Jawaban Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu," (Lukas 1:38) menjadi keputusan terpenting yang menggulirkan kisah selanjutnya - kehadiran Allah dalam wujud manusia untuk menebus umat manusia dari belenggu dosa dan maut.
Allah hadir di tengah umat manusia (Imanuel) dapat terwujud karena Imakulata.
Senin, 07 Desember 2015
Jalan Kudus
Jika setiap orang di dunia ini secara sadar selalu berusaha menyenangkan hatiMu, ya Tuhan,
maka pastilah tak akan ada lagi kesedihan, kekerasan, dan kejahatan di muka bumi.
Semua makhluk mengarahkan pandangan mereka kepadaMu dalam berinteraksi dengan sesamanya.
Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebut Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. (Yesaya 35:8)
maka pastilah tak akan ada lagi kesedihan, kekerasan, dan kejahatan di muka bumi.
Semua makhluk mengarahkan pandangan mereka kepadaMu dalam berinteraksi dengan sesamanya.
Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebut Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. (Yesaya 35:8)
Jumat, 04 Desember 2015
SikapMu
Hampir semua orang sudah tahu, ia bukan orang baik. Sepak terjangnya semata demi kesohoran dan kemakmuran diri sendiri. Kalau pun ada yang menganggapnya dermawan, mungkin hanya segelintir orang yang memperoleh keuntungan berelasi dengannya.
Terhadap orang seperti itu, bukankah sebaiknya kita mengambil jarak? Kalau bisa tak perlu sama sekali berhubungan dengannya, supaya kita tidak ikut terseret dalam gelombang kejahatan tersembunyi yang dilakukannya. Selain itu, kalau kita berbaik sapa di hadapannya sementara hati kita menentang sepak terjangnya, bukankah berarti kita berlaku munafik?
Rasanya sudah benar sikap tegas menjauhkan diri dari orang yang berkelakuan buruk, tetapi aku ingin mengetahui bagaimana sikapMu kalau berhadapan dengan orang seperti itu? Apa yang akan Engkau lakukan?
Ketika aku mengambil buku renungan harian God Calling, kudapati renungan ini yang menggambarkan sikapMu terhadap orang-orang yang melupakanMu - mereka yang melakukan kejahatan di dunia demi kekuasaan dan keuntungan pribadi:
Bagi mereka yang tidak merasa membutuhkan Aku, yang dengan keras kepala menolak Aku, yang menutup pintu hati mereka sehingga Aku tidak dapat masuk, Aku akan datang kepada mereka dengan kerinduan yang lemah lembut dan rendah hati. Bahkan apabila Aku mendapati semua celah tertutup, semua celah dihambat, Aku akan bertahan sebagai Pengemis yang mengetuk dan terus mengetuk pintu hati mereka. Pengemis Surgawi dalam Kerendahan Hati-Nya. (renungan tanggal 25 November)
Hmmm... betapa bedanya sikapMu dengan sikapku. Terhadap orang-orang yang menolak kehadiranMu dalam hidup mereka, Engkau akan tetap bersikap lemah lembut dan rendah hati. Engkau akan tetap bertahan, terus mengetuk pintu hati mereka agar mereka berbalik kepadaMu.
Aku malu terhadap diriku yang masih jauh dari gambaran IlahiMu. Ampuni aku, ya Yesus. Aku perlu banyak belajar dariMu. Tak sepatutnya aku menghakimi orang-orang seperti itu. Bukankah penghakiman adalah wewenangMu? Sebagai Hakim Kehidupan, Engkau masih berbelas kasih kepada mereka.
Mulai saat ini, jika Engkau menghantarku kepada orang berkelakuan buruk, aku akan melihat orang itu seperti Engkau memandangnya, berelasi dengannya seperti Engkau menyapanya. Engkau yang bergerak di dalam aku, bukan aku bertindak tanpa menyertakanMu.
Terhadap orang seperti itu, bukankah sebaiknya kita mengambil jarak? Kalau bisa tak perlu sama sekali berhubungan dengannya, supaya kita tidak ikut terseret dalam gelombang kejahatan tersembunyi yang dilakukannya. Selain itu, kalau kita berbaik sapa di hadapannya sementara hati kita menentang sepak terjangnya, bukankah berarti kita berlaku munafik?
Rasanya sudah benar sikap tegas menjauhkan diri dari orang yang berkelakuan buruk, tetapi aku ingin mengetahui bagaimana sikapMu kalau berhadapan dengan orang seperti itu? Apa yang akan Engkau lakukan?
Ketika aku mengambil buku renungan harian God Calling, kudapati renungan ini yang menggambarkan sikapMu terhadap orang-orang yang melupakanMu - mereka yang melakukan kejahatan di dunia demi kekuasaan dan keuntungan pribadi:
Bagi mereka yang tidak merasa membutuhkan Aku, yang dengan keras kepala menolak Aku, yang menutup pintu hati mereka sehingga Aku tidak dapat masuk, Aku akan datang kepada mereka dengan kerinduan yang lemah lembut dan rendah hati. Bahkan apabila Aku mendapati semua celah tertutup, semua celah dihambat, Aku akan bertahan sebagai Pengemis yang mengetuk dan terus mengetuk pintu hati mereka. Pengemis Surgawi dalam Kerendahan Hati-Nya. (renungan tanggal 25 November)
Hmmm... betapa bedanya sikapMu dengan sikapku. Terhadap orang-orang yang menolak kehadiranMu dalam hidup mereka, Engkau akan tetap bersikap lemah lembut dan rendah hati. Engkau akan tetap bertahan, terus mengetuk pintu hati mereka agar mereka berbalik kepadaMu.
Aku malu terhadap diriku yang masih jauh dari gambaran IlahiMu. Ampuni aku, ya Yesus. Aku perlu banyak belajar dariMu. Tak sepatutnya aku menghakimi orang-orang seperti itu. Bukankah penghakiman adalah wewenangMu? Sebagai Hakim Kehidupan, Engkau masih berbelas kasih kepada mereka.
Mulai saat ini, jika Engkau menghantarku kepada orang berkelakuan buruk, aku akan melihat orang itu seperti Engkau memandangnya, berelasi dengannya seperti Engkau menyapanya. Engkau yang bergerak di dalam aku, bukan aku bertindak tanpa menyertakanMu.