Rabu, 25 Februari 2015

Makna Doa Devosional

Doa-doa devosional seperti Rosario, doa kepada tiga Malaikat Agung, doa kepada Santo dan Santa - untuk apa didaraskan?

Orang sering memanfaatkannya untuk memohon sesuatu atau banyak hal. Dengan cara seperti ini, doa-doa devosional kehilanga makna sejatinya, karena didaraskan hanya sebagai sarana meminta.

Berbeda sekali jika doa-doa devosional kita daraskan sebagai ungkapan rasa syukur tanpa meminta apa pun, dan sebagai penghormatan kepada siapa doa devosional itu ditujukan.

Doa-doa devosional bagaikan jalan lapang yang terbentang antara pendoa dan tokoh kudus yang didevosikan - menghubungkan pribadi yang sudah berbahagia di Surga dengan manusia yang masih berziarah di dunia, menciptakan relasi hangat antara Surga dan Bumi.
 

Jumat, 20 Februari 2015

Antara Bibir dan Hati

Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku..... mereka menanyai Aku tentang hukum-hukum yang benar. Mereka suka mendekat menghadap Allah, dan bertanya, (Yesaya 58:2)

Tak cukup mendekati Tuhan hanya melalui doa, pemahaman kitab suci, dan mengenal jalanNya. Perlu ada kesatuan yang baik antara pikiran, perkataan, perbuatan, dan hati. 

Dalam Perjanjian Lama melalui nabi Yesaya, Allah telah menyatakan hal tersebut. Demikian pula, dalam Perjanjian Baru Yesus pun mengecam bangsa Yahudi yang memuliakanNya dengan bibir, padahal hati mereka jauh dari Tuhan (lihat Matius 15:8). Dengan kecenderungan manusia seperti itu, percuma saja orang rajin beribadah.

Bagi Tuhan yang lebih penting adalah apa yang keluar dari mulut karena berasal dari hati (lihat Matius 15:18).Yesus juga telah mengatakan, bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Allah (lihat Matius 7:21).

Jangan berbangga kalau kita rajin beribadah dan berdevosi, hafal dan paham ayat-ayat Alkitab, merasa berada di jalan yang benar. Tetaplah rendah hati untuk selalu mau membuka hati, sehingga ada keselarasan antara bibir dan hati.

Kamis, 19 Februari 2015

Cermin Ilahi

Tutuplah kelemahanku 
dengan keutamaanMu, ya Yesus,
agar aku dapat memantulkan 
cahaya KasihMu,
bagai cermin Ilahi di hadapan sesama. 

Rabu, 18 Februari 2015

Ke Padang Gurun

Aku bersemangat, saat Engkau kembali mengajakku ke padang gurun

Memang,
padang gurun ini kosong,
sepi dan sunyi,
sulit mendapatkan makanan,
panas terik menyengat,
angin menerbangkan pasir,
kering menimbulkan kehausan,
berjalan terus tanpa tahu batas akhirnya

Tetapi, aku suka, sebab aku berjalan bersamaMu

Inilah masa penuh rahmat, saat Engkau menemuiku secara pribadi,
mengajarkanku menjadi rendah hati,
membimbingku untuk lemah lembut,
memberitahuku rahasia-rahasiaMu,
menuntunku selaras di jalanMu

Kusambut uluran tanganMu

Kamis, 12 Februari 2015

Selalu Benar

Salah satu dongeng karya Hans Christian Andersen yang melekat sampai sekarang di benakku adalah cerita "Ayah Selalu Benar" yang bertutur tentang pengalaman sepasang suami-istri petani. Suatu hari sang suami pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Dalam perjalanan ia bertemu kawannya yang mau menjual kambing. Lalu, ia menukar sapi miliknya dengan kambing. Begitu ia terus menukar perolehannya, sampai di akhir hari ia membawa pulang sekarung apel busuk.

Teman-temannya bertaruh, ia bakal kena marah istrinya lantaran membawa pulang sekarung apel busuk, ganti sapi besar miliknya semula. Tetapi sang suami dengan yakin mengatakan, istrinya akan menerima semua keputusannya.

Setiba di rumah, sang suami menceritakan seluruh pengalamannya hari itu. Mulai dari sapi yang ditukar dengan kambing, lalu kambing ditukar dengan ayam, sampai akhirnya ia mendapat sekarung apel busuk.

Istrinya memandang tindakan suaminya selalu benar. Sang istri memuji setiap keputusan suaminya untuk menukar miliknya dengan benda lain. Bahkan  ketika akhirnya ia diberitahu mendapat sekarung apel busuk sebagai pengganti sapinya, sang istri langsung memeluk suaminya dengan gembira. Ia akan menanam apel-apel yang busuk itu, agar nanti dapat memanen apel dari kebun mereka. Selain mendapat pujian dan rasa puas dari istrinya, sang suami pun memenangi taruhan dengan teman-temannya.

Dapatkah kita memandang semua yang dilakukan Allah Bapa terhadap kita adalah selalu benar? Seperti istri petani dalam kisah di atas, yang percaya penuh kepada sang suami dan melihat segala peristiwa dari sudut pandang positif?

Kepahitan dalam kehidupan yang kita alami seperti kematian seorang yang dikasihi, keinginan kita yang diungkapkan lewat doa dan tidak dikabulkan Tuhan, dapat membuat orang kecewa kepada Tuhan dan meninggalkanNya.

Di sekeliling kita, ada orang-orang yang kehilangan iman mereka karena berbagai pencobaan. "Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku," ujar Yesus kepada murid-murid Yohanes Pembaptis dalam Matius 11:6. 

Dengan iman dan cinta yang kita miliki, kita akan sanggup bertahan dalam pencobaan dan tetap dapat melihat kebaikanNya di balik setiap penderitaan yang kita alami. Yakinlah, apa yang dilakukanNya adalah yang terbaik, karena Ia adalah Ayah yang Selalu Benar.

Jumat, 06 Februari 2015

Sarapan Pagi BersamaMu

"Marilah dan sarapanlah," ajakMu kepada beberapa muridMu, setelah mereka menangkap ikan (lihat Yohanes 21:1-14). Ajakan yang sama Engkau gemakan setiap hari kepada kami, "Marilah dan sarapanlah....." Sarapan pagi bersamaMu adalah saat kami hadir dalam Perayaan Ekaristi, serta menyambut Tubuh dan DarahMu.

Meski telah lebih dari tiga dasawarsa menjadi orang Katolik, aku bukanlah orang yang tergerak untuk mengikuti Perayaan Ekaristi harian. Setelah ditegur Tuhan Yesus lewat penyakit - yang aku yakini sebagai caraNya menunjukkan Kasih dan PenebusanNya kepadaku secara pribadi, aku mulai menghadiri Perayaan Ekaristi setiap Jumat. Setahun berselang, aku meningkatkan frekuensiku datang ke Perayaan Ekaristi harian dua kali seminggu.

Aku menyaksikan, para biarawan dan biarawati yang menyambut Tubuh Kristus setiap hari memiliki stamina fisik kuat. Mereka mampu menjalani berbagai kesibukan sehari-hari tanpa didera kelelahan berat.

Lalu, aku mulai lebih sering datang ke Perayaan Ekaristi setiap hari, agar aku pun memperoleh kekuatan fisik yang prima. Niat yang kurang murni ini membuatku malah mudah lelah. Aku merasa terpaksa bangun pagi dan mengikuti Perayaan Ekaristi, karena ingin bugar sepanjang hari.

"Demi kasihNya kepadamu, Yesus tetap hadir di tengah-tengahmu sebagai Kurban dalam Sakramen Ekaristi," ucapan Bunda Maria dalam penampakan di Medjugorje tanggal 11 September 1988, seperti yang ditulis dalam suatu pengantar renungan harian di buku Ruah.

Ah, mengapa aku tidak melihat makna sejati Perayaan Ekaristi? Kasih Yesus kepadaku.... Ia begitu mengasihi aku, mau menyediakan Santapan Istimewa setiap pagi untukku. Mengapa aku sulit membalas KasihNya?

Aku mengubah alasanku menghadiri Perayaan Ekaristi harian. Aku memandangnya sebagai kerinduan Yesus untuk bertemu secara pribadi denganku. Inilah kesempatan khusus bersantap pagi bersamaNya: mendengarkan pengalaman hidupNya dalam Injil dan merasakan persatuan denganNya saat menyambut Komuni.

Ada kalanya aku kurang tidur. Aku bisa memilih: memejamkan mata lagi atau bangun dan bersiap pergi ke Perayaan Ekaristi. Aku cenderung tetap menemui Yesus, kecuali aku sakit sampai tak mampu melangkah ke rumahNya. Bayangkan, Ia tentu kecewa kalau tidak melihat aku, karena Ia ingin menyatakan KasihNya yang begitu besar.

Seusai sarapan bersama, Petrus mendapat kesempatan berduaan dengan Yesus. "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" tanya Yesus kepada Simon Petrus (lihat Yohanes 21:15-19).

Kesempatan berduaan dengan Yesus pun tersedia bagi kita, setelah sarapan pagi denganNya. Sekarang aku tak peduli, apakah kekuatan fisikku bertambah atau tidak, seusai aku menghadiri Perayaan Ekaristi setiap hari. Namun, justru setelah niatku dimurnikanNya, Ia memberiku berkat-berkat tambahan sepanjang hari. PenyertaanNya nyata dalam setiap tarikan napasku. 

"Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing.