"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" tanya Natanael kepada Filipus (Yohanes 1:46)
Pertanyaan serupa yang diucapkan Natanael itu terus terngiang dalam batin: Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar?
Metropolitan memiliki segalanya, kecuali keheningan. Lalu-lalang beragam kendaraan di jalan-jalan tak pernah berhenti. Aneka hiburan termasuk saluran internet tersedia dengan mudah dan non-stop. Bahkan banyak pemberi jasa menawarkan layanan 24 jam seperti resto cepat saji, apotek, laboratorium, mini swalayan. Hingar-bingar tiada henti.
Dalam suasana kota besar seperti itu, keheningan menjadi barang langka yang sulit ditemukan. Dapatkah seorang warga kota besar duduk diam tanpa berbuat apa-apa selama 10 menit saja? Telepon genggam berdering atau sinyal tanda pesan masuk berbunyi. Perlu ditanggapi, siapa tahu berita penting. Acara televisi jam sekian itu patut ditonton, kalau tidak bakal ketinggalan cerita. Koran yang terbaring di meja itu perlu dibaca, agar selalu tahu situasi terkini dunia.
Kota-kota besar menawarkan aneka kenikmatan duniawi. Kebanyakan orang harus pergi 'mengungsi' ke luar kota jika ingin mencari keheningan. Rumah-rumah retret menjadi incaran para penghuni kota-kota besar. Di sana, orang menemukan ketenangan dan kedamaian - sesuatu yang berbeda dari kesehariannya.
Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari kota besar tanpa harus pergi mencarinya ke tempat lain? Kehidupan spiritual bukanlah bagian terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kehidupan spiritual memayungi berbagai aktivitas manusia sehari-hari. Jika setiap warga kota besar telah menyadari hal itu dan dapat menghayati spiritualitas di tengah hingar-bingar suasana sekitarnya, maka sesuatu yang baik akan datang dari kota-kota besar.
Kamis, 30 Agustus 2012
Minggu, 26 Agustus 2012
Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga?
Pertanyaan yang Kau lontarkan kepada 12 rasulMu dalam bacaan Injil (Yohanes 6:67) hari ini menghujam hatiku. Dua hari lalu Kau telah mengingatkanku akan komitmenku. Aku setengah menyerah, meski dalam hati masih mencoba membela diri.Tetapi hari ini, ketika Engkau melontarkan pertanyaan itu - seolah langsung kepadaku - aku tertunduk dan menitikkan air mata penyesalan.
Mengapa aku tega meninggalkanMu demi memenuhi keinginanku? Bukankah jalan salib itu tidak enak - sementara aku mencari yang nikmat?
Ya, Tuhan, ke manakah aku akan pergi? Engkau telah menebusku dari segala dosa dan menarik aku dari jurang maut. Engkau senantiasa melingkupiku dengan CintaMu. Biarkan aku bertahan di jalan sempit ini bersamaMu sebagai tanda kasihku kepadaMu. Aku percaya, meski harus memanggul salib dalam kesendirian, Engkau akan menguatkanku, karena Engkau ada di dalamku dan aku ada di dalamMu. Inilah kemanisan salib.
Mengapa aku tega meninggalkanMu demi memenuhi keinginanku? Bukankah jalan salib itu tidak enak - sementara aku mencari yang nikmat?
Ya, Tuhan, ke manakah aku akan pergi? Engkau telah menebusku dari segala dosa dan menarik aku dari jurang maut. Engkau senantiasa melingkupiku dengan CintaMu. Biarkan aku bertahan di jalan sempit ini bersamaMu sebagai tanda kasihku kepadaMu. Aku percaya, meski harus memanggul salib dalam kesendirian, Engkau akan menguatkanku, karena Engkau ada di dalamku dan aku ada di dalamMu. Inilah kemanisan salib.
Minggu, 19 Agustus 2012
Inti Spiritualitas Kristiani
Dalam perkataanMu ini terkandung inti spiritualitas Kristiani: Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. (Markus 8:34)
Ada 3 hal yang Kau syaratkan untuk dapat mengikutiMu:
1. Menyangkal diri
Melalui penyangkalan diri, orang akan terbebas dari segala kelekatan duniawi. Egonya memudar sampai akhirnya lenyap, tidak lagi terbelenggu pada hal-hal yang inderawi.
2. Memikul salib
Setelah kedagingan (ego) ditundukkan, di tahap berikutnya Engkau mensyaratkan penyatuan roh denganMu. Memikul salib membutuhkan bukan hanya ketidaklekatan pada hal-hal duniawi yang kasat mata, melainkan juga kematian roh. Roh manusia tidak lagi berkuasa atas tubuh jasmani dan jiwanya, tetapi lenyap dalam Roh Ilahi. Kesatuan dengan RohMu membuat salib yang harus dipikul tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan.
3. MengikutMu
Setelah diri dan roh manusiawi lenyap, maka orang dapat mengikutMu dengan bebas tanpa terbelenggu. MengikutMu berarti mengarahkan pandangan senantiasa kepadaMu, agar tidak mengalami kemunduran dalam hidup spiritual. Di tahap inilah Roh Kudus berperan sebagai pemandu jalan. Roh Kudus menerangi budi dan batin, sehingga orang dapat memahami ajaran-ajaran yang telah Kau berikan semasa hidup di dunia. Dalam terang Roh Kudus dan berpedoman pada firmanMu, orang akan tetap berada di jalanMu.
Ada 3 hal yang Kau syaratkan untuk dapat mengikutiMu:
1. Menyangkal diri
Melalui penyangkalan diri, orang akan terbebas dari segala kelekatan duniawi. Egonya memudar sampai akhirnya lenyap, tidak lagi terbelenggu pada hal-hal yang inderawi.
2. Memikul salib
Setelah kedagingan (ego) ditundukkan, di tahap berikutnya Engkau mensyaratkan penyatuan roh denganMu. Memikul salib membutuhkan bukan hanya ketidaklekatan pada hal-hal duniawi yang kasat mata, melainkan juga kematian roh. Roh manusia tidak lagi berkuasa atas tubuh jasmani dan jiwanya, tetapi lenyap dalam Roh Ilahi. Kesatuan dengan RohMu membuat salib yang harus dipikul tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan.
3. MengikutMu
Setelah diri dan roh manusiawi lenyap, maka orang dapat mengikutMu dengan bebas tanpa terbelenggu. MengikutMu berarti mengarahkan pandangan senantiasa kepadaMu, agar tidak mengalami kemunduran dalam hidup spiritual. Di tahap inilah Roh Kudus berperan sebagai pemandu jalan. Roh Kudus menerangi budi dan batin, sehingga orang dapat memahami ajaran-ajaran yang telah Kau berikan semasa hidup di dunia. Dalam terang Roh Kudus dan berpedoman pada firmanMu, orang akan tetap berada di jalanMu.
Jumat, 17 Agustus 2012
Menguji Kesabaran
Menurut pemeriksaan dokter dan hasil cek darah di laboratorium, anak itu didiagnosis menderita sakit gejala typhus. Sebagai bagian dari upaya pemulihan terhadap usus halus yang luka, dokter melarang pasiennya itu makan makanan yang asam dan pedas serta berolahraga selama sebulan. Rambu-rambu yang diberikan sudah jelas. Namun, begitu mulai pulih kesehatannya, si anak merengek ingin memakan sambal dan berkeliling kompleks permukiman dengan sepedanya.
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)
Awalnya sang bunda menjawab dengan lembut, membujuk anaknya agar menaati saran dokter. Namun, si anak setiap hari mengulangi permintaan yang sama. "Ayolah... jangan menguji kesabaran ibu. Kamu sudah tahu dari dokter apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," kata sang bunda dengan tegas.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pun tak jarang menguji kesabaranNya. Kita sudah tahu rambu-rambu kehidupan yang telah ditetapkan lewat firmanNya. Tetapi, kita sering bertindak seperti anak yang sakit itu. Kita bertanya dan menawar kepada Tuhan, bolehkah kita melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firmanNya.
Sekali, dua kali, Tuhan bersabar membiarkan kita melakukan apa yang kita ingini, tanpa memerhatikan kehendakNya. Namun, lama-kelamaan bukan tidak mungkin Tuhan akan melontarkan kalimat serupa dengan ibu dari anak yang sakit itu: "Ayolah... jangan menguji kesabaranKu...."
Alangkah damainya bila kita dapat mengucap seperti nabi Daud, "Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatanNya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkanNya. (Mazmur 119:2-3)
Minggu, 12 Agustus 2012
Vibrasi yang Sama
Dalam homili hari ini, seorang gembala umatMu bicara tentang Surga. Menurutnya, Surga adalah suatu keadaan di mana roh manusia berada pada vibrasi yang sama dengan roh-roh lain. Vibrasi itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan pencapaian spiritual seseorang selama hidupnya di dunia. Dalam vibrasi yang sama mungkin saja roh seseorang berada bersama orang-orang yang tak dikenalnya, bukan dengan sanak-keluarganya semasa di dunia, karena sanak-keluarganya memiliki kedalaman spiritual yang berbeda.
Jika demikian, aku ingin berada dalam vibrasi yang sama denganMu, ya Tuhan Yesus, sehingga genaplah sabdaMu yang mengatakan: Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)
Jika demikian, aku ingin berada dalam vibrasi yang sama denganMu, ya Tuhan Yesus, sehingga genaplah sabdaMu yang mengatakan: Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)
Rabu, 08 Agustus 2012
MendekatiMu
Aku akan membuat dia maju dan mendekat kepada-Ku, sebab siapakah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada-Ku? (Yeremia 30:21b)
Untuk mendekatiMu perlu keberanian besar, kesediaan berkorban sampai mempertaruhkan nyawa. Ketika seseorang sudah memiliki keberanian mendekatiMu, bukan berarti ia lantas menikmati kesenangan, segala keinginan dan harapannya terpenuhi. Lihat saja pengalaman St. Petrus.
Tatkala melihatMu berjalan di atas air, St. Petrus ingin menghampiriMu. Engkau mempersilakannya datang. Ia turun dari perahu dan mendekatiMu. Awalnya ia mengalami kesenangan, merasa hebat bisa berjalan di atas air. Tetapi, ketika waktu berjalan dan ia semakin dekat kepadaMu, justru saat itulah ia mengalami kegoncangan. Tiba-tiba ia merasa sendirian di tengah gelombang badai. Ia berseru memohon pertolonganMu. Engkau menolongnya dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
Mempertaruhkan nyawa untuk mendekatiMu, bukan berarti harfiah: berani mati sebagai martir. MendekatiMu secara rohaniah pun membutuhkan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Ketika seseorang mulai menjawab panggilanMu untuk lebih memerhatikan hal-hal rohaniah, ia menikmati kesenangan - seperti St. Petrus ketika menapakkan kakinya berjalan di atas air. Engkau memenuhi kepuasan inderawinya dengan aneka rahmat karunia yang memuaskan jiwa.
Namun, setelah berjalan lebih jauh, semakin dekat kepadaMu, Engkau malah membiarkan orang yang berkembang kerohaniannya untuk berani berjalan sendiri di tengah gelombang badai dunia. Hiburan dan kenikmatan inderawi berkurang, bahkan tak dirasakan sama sekali. Satu hal yang menjadi pegangan dalam keadaan seperti ini adalah iman.
Dengan iman, orang yang berkembang kerohaniannya dapat menyangkal diri dan memikul salibnya, sambil terus mengarahkan pandangannya kepadaMu. Pengalaman St. Petrus di atas memperlihatkan pengalaman yang sering dialami manusia dalam pencariannya akan Tuhan: kehilangan iman, ketika semakin dekat dengan Tuhan. Tidak siap dilepas untuk berjalan sendiri dalam kegelapan dunia sekitar dengan hanya mengandalkan iman.
Dalam kondisi yang menggoncangkan seperti itu, kita kerap berseru memohon pertolongan Tuhan. Padahal, Tuhan sudah dekat di depan mata. Maka, tak heran jika Tuhan akan mengatakan yang sama kepada kita: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Ketika nyawa bukan lagi menjadi segalanya yang patut dipertahankan, berani berjalan dalam kekeringan hiburan rohani dengan berpegang pada iman semata; menjadi tanda semakin dekat denganMu.
Untuk mendekatiMu perlu keberanian besar, kesediaan berkorban sampai mempertaruhkan nyawa. Ketika seseorang sudah memiliki keberanian mendekatiMu, bukan berarti ia lantas menikmati kesenangan, segala keinginan dan harapannya terpenuhi. Lihat saja pengalaman St. Petrus.
Tatkala melihatMu berjalan di atas air, St. Petrus ingin menghampiriMu. Engkau mempersilakannya datang. Ia turun dari perahu dan mendekatiMu. Awalnya ia mengalami kesenangan, merasa hebat bisa berjalan di atas air. Tetapi, ketika waktu berjalan dan ia semakin dekat kepadaMu, justru saat itulah ia mengalami kegoncangan. Tiba-tiba ia merasa sendirian di tengah gelombang badai. Ia berseru memohon pertolonganMu. Engkau menolongnya dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31)
Mempertaruhkan nyawa untuk mendekatiMu, bukan berarti harfiah: berani mati sebagai martir. MendekatiMu secara rohaniah pun membutuhkan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Ketika seseorang mulai menjawab panggilanMu untuk lebih memerhatikan hal-hal rohaniah, ia menikmati kesenangan - seperti St. Petrus ketika menapakkan kakinya berjalan di atas air. Engkau memenuhi kepuasan inderawinya dengan aneka rahmat karunia yang memuaskan jiwa.
Namun, setelah berjalan lebih jauh, semakin dekat kepadaMu, Engkau malah membiarkan orang yang berkembang kerohaniannya untuk berani berjalan sendiri di tengah gelombang badai dunia. Hiburan dan kenikmatan inderawi berkurang, bahkan tak dirasakan sama sekali. Satu hal yang menjadi pegangan dalam keadaan seperti ini adalah iman.
Dengan iman, orang yang berkembang kerohaniannya dapat menyangkal diri dan memikul salibnya, sambil terus mengarahkan pandangannya kepadaMu. Pengalaman St. Petrus di atas memperlihatkan pengalaman yang sering dialami manusia dalam pencariannya akan Tuhan: kehilangan iman, ketika semakin dekat dengan Tuhan. Tidak siap dilepas untuk berjalan sendiri dalam kegelapan dunia sekitar dengan hanya mengandalkan iman.
Dalam kondisi yang menggoncangkan seperti itu, kita kerap berseru memohon pertolongan Tuhan. Padahal, Tuhan sudah dekat di depan mata. Maka, tak heran jika Tuhan akan mengatakan yang sama kepada kita: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
Ketika nyawa bukan lagi menjadi segalanya yang patut dipertahankan, berani berjalan dalam kekeringan hiburan rohani dengan berpegang pada iman semata; menjadi tanda semakin dekat denganMu.