Rabu, 15 Januari 2025

Nuestra Senora la Reina de los Angeles

Masih adakah orang Amerika Serikat saat ini yang mengetahui atau mengingat nama lengkap kota Los Angeles sebenarnya adalah Nuestra Senora la Reina de los Angeles?

Pastor David Vincent Meconi, S.J., penulis buku 101 Surpising Facts about Mary, menceritakan tentang Pastor Jacques Marquette, imam Jesuit yang juga penjelajah. Sekitar tahun 1673, Marquette menulis dalam catatan hariannya bahwa ia memercayakan perjalanannya menjelajah 'dunia baru' kepada perlindungan Santa Maria Imakulata. Maka, beberapa tempat yang ditemukan diberi nama terkait Bunda Maria.

Kota Los Angeles yang kita kenal sekarang, memiliki nama lengkap dalam bahasa Spanyol Nuestra Senora la Reina de los Angeles yang berarti Bunda Maria Ratu Para Malaikat. 

Ketika kebakaran hebat melanda Los Angeles sejak 7 Januari silam selama 3 minggu, sebagian orang menghubungkan kejadian tragis itu dengan penghinaan terhadap Tuhan dan agama Katolik yang diumbar sang pembawa acara di ajang Golden Globe Award beberapa hari sebelumnya.

Biarlah menjadi misteri - hanya Tuhan yang tahu - keterkaitan bencana kebakaran itu dengan perkataan tidak menyenangkan yang dilontarkan di acara perfilman Amerika Serikat tersebut. 

Tetapi, satu hal yang kita yakini: Tuhan kita adalah Allah yang Mahakasih dan Maharahim. Ia bukanlah Penguasa Alam Semesta yang cepat marah, kerap menghukum dan menghancurkan. Belas kasih-Nya tak terbatas, selalu merangkul anak-anak-Nya yang mau bertobat dan mendekat kembali kepada-Nya.

Marilah kita doakan seluruh warga Los Angeles kepada Bunda Maria Ratu Para Malaikat, Semoga kota ini dipulihkan keadaannya dan para warganya kembali mengarahkan hati kepada Tuhan dan Bunda-Nya.


Kebakaran yang terjadi sejak 7 Januari 2025 ini tercatat sebagai salah satu bencana terparah dalam sejarah kota terbesar kedua di Amerika Serikat tersebut. Sekitar 150 kilometer persegi lahan hangus terbakar, lebih dari 10.000 rumah hancur, dan sedikitnya 30 orang meninggal dunia. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat amukan si jago merah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kebakaran Los Angeles Padam: 3 Minggu Api Berkobar, Kerugian 4.000 Triliun", Klik untuk baca: https://internasional.kompas.com/read/2025/02/02/165600970/kebakaran-los-angeles-padam--3-minggu-api-berkobar-kerugian-4.000.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Kebakaran yang terjadi sejak 7 Januari 2025 ini tercatat sebagai salah satu bencana terparah dalam sejarah kota terbesar kedua di Amerika Serikat tersebut. Sekitar 150 kilometer persegi lahan hangus terbakar, lebih dari 10.000 rumah hancur, dan sedikitnya 30 orang meninggal dunia. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat amukan si jago merah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kebakaran Los Angeles Padam: 3 Minggu Api Berkobar, Kerugian 4.000 Triliun", Klik untuk baca: https://internasional.kompas.com/read/2025/02/02/165600970/kebakaran-los-angeles-padam--3-minggu-api-berkobar-kerugian-4.000.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Minggu, 05 Januari 2025

Mencari Sampai Menemukan

Tiga Raja dari Timur atau yang dikenal sebagai orang Majus, berpetualang mencari Raja yang baru dilahirkan. Mereka mengikuti tuntunan bintang, sampai ke daerah Yudea. Mereka tak putus asa mencari, sempat singgah di istrana Raja Herodes. 

Sebagai raja, tentu ketiganya kaya-raya. Persembahan mereka terbilang mahal. Bayangkan perasaan mereka mendapati kenyataan, Raja yang baru dilahirkan itu ternyata tidak tinggal di istana. Sangat sederhana: tidur di palungan di dalam kandang hewan. Tetapi ketiga raja percaya, benarlah Bayi di palungan itu adalah Raja yang mereka cari.

Pengalaman Tiga Raja mencari Tuhan bagaikan pengalaman spiritual kita. Apakah seperti Tiga Raja, kita tekun dan gigih mencari Tuhan sampai menemukan-Nya? 

Lalu, setelah kita menemukan Tuhan, apakah kita percaya kepada-Nya? Tuhan yang kita temukan ternyata tidak seperti raja dunia yang berkuasa dengan sombong dan hidup mewah di istana. Tuhan yang kita ikuti bermahkota duri dan menjadikan salib sebagai takhta-Nya.

Sabtu, 04 Januari 2025

Memaknai Pintu Suci

Tahun Yubileum atau Tahun Suci merupakan tradisi dalam Gereja Katolik yang dirayakan setiap 25 tahun sekali. Pada Tahun Suci ini umat Katolik diajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, merenungkan perjalanan spiritual masing-masing, serta membarui iman melalui ziarah dan pertobatan.

Paus Fransiskus telah membuka Pintu Suci (Porta Sancta) di Basilika Santo Petrus pada malam Natal 24 Desember 2024 untuk menandai awal Tahun Yubileum. Penutupan Tahun Yubileum akan dilakukan pada 6 Januari 2026.

Selain Pintu Suci di Basilika Santo Petrus, ada 4 Pintu Suci di Roma yang dibuka selama Tahun Yubileum ini, yaitu Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran, Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, dan Basilika Santa Maria Maggiore. Satu Pintu Suci khusus yang bukan basilika, untuk pertama kali dibuka Paus Fransiskus, yaitu Pintu Suci di Rebibbia - rumah tahanan terbesar di Italia.

Dengan tema "Peziarah Pengharapan," kita diingatkan bahwa pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:5)

Pembukaan Pintu Suci dapat diartikan sebagai gambaran keterbukaan Tuhan menerima kembalinya anak-anak-Nya yang selama ini menjauh atau menghilang dari hadapan-Nya. 

Bagi anak-anak-Nya yang tidak berada jauh dari-Nya, Tahun Yubileum juga menjadi momen penting untuk menilik kembali kehidupan spiritual kita, apakah sungguh kita telah melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita?

Melalui pertobatan, rekonsiliasi, dan tindakan amal kasih yang kita lakukan sepanjang Tahun Yubileum, diharapkan kita dapat mengalami pembaruan rohani yang membawa kita semakin dekat dalam relasi dengan Tuhan dan memberi damai dalam kehidupan kita.

Rabu, 01 Januari 2025

Berani Menghadapi

Menghadapi sesuatu yang baru, kita sering kali dilanda kekhawatiran. Apakah segalanya akan berjalan baik?  

Ketika tahun berganti, kita pun dihadapkan pada tahun yang baru. Di sela-sela harapan, mengemuka pula kekhawatiran: apakah tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya? Bagaimana jika..........?

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah."

Kutipan di atas ditulis oleh Soe Hok Gie (17 Desember 1942-16 Desember 1969). Almarhum adalah seorang aktivis mahasiswa yang dikenal karena menentang ketidakadilan di era Orde Lama dan Orde Baru.

Berani menghadapi yang tanda tanya, yang belum jelas. Seperti Santa Perawan Maria yang berani menjawab permintaan Tuhan melalui malaikat Gabriel dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Santa Perawan Maria dengan berani dan penuh iman menghadapi segala yang belum jelas, sejak kesediaannya menjawab panggilan Tuhan dalam hidupnya. Bersama Santo Yusuf, ia harus pergi ke Betlehem dalam keadaan hamil besar. Membawa Bayi Yesus ke Mesir, karena terancam dibunuh oleh Herodes. Menyaksikan Putranya ditentang orang-orang Farisi, ketika mewartakan Kerajaan Allah. Menemani Putranya di jalan salib. Berdiri di bawah salib ketika Putranya meregang nyawa.
 
Selamat Memasuki Tahun 2025!
Penuh tanda tanya, tetapi hadapilah dengan berani


Selasa, 31 Desember 2024

Jangan Menengok ke Belakang

Menutup tahun, kita biasanya mengilas balik berbagai pengalaman yang dialami sepanjang tahun itu. Hari ini, ketika akan menutup tahun 2024, semoga yang ada di hati kita hanyalah ucapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun ini.

Semoga tidak ada peristiwa atau pengalaman yang menyisakan penyesalan besar, yang berujung pada musnahnya harapan dan runtuhnya kepercayaan akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Kalaupun ada peristiwa atau pengalaman di tahun 2024 yang menimbulkan penyesalan, jadikanlah hal itu sebagai pembelajaran hidup yang berharga. Mohonlah ampun kepada Tuhan atas kesalahan, ketidaktahuan, kecerobohan tersebut. Selanjutnya, serahkan segalanya kepada Tuhan.

Melangkah terus, jangan menengok ke belakang lagi. Bukankah hal itu sudah terjadi? Waktu tidak bisa diputar mundur, tetapi kita bisa bergerak maju. Tetaplah percaya, di balik hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia mau kita belajar sesuatu dari peristiwa atau pengalaman itu.

Terima kasih Tuhan atas penyertaan dan segala rahmat yang Kau berikan sepanjang tahun 2024.

Rabu, 25 Desember 2024

Yesus Apa Adanya

Ketika berlibur ke Yogya sembilan tahun silam, aku tertarik membeli patung Bayi Yesus di palungan. Aku memesannya untuk dikirim ke kota tempat kami tinggal, bersama beberapa benda rohani lainnya.

Betapa terkejutku, ketika kiriman itu tiba. Patung Bayi Yesus yang kuterima tidak berwajah manis seperti yang kulihat di toko. Ada 'kelainan' pada mata patung itu. Serta-merta aku berniat mengajukan komplain dan mengirim balik patung tersebut. Minta ditukar.

Putriku mencegahku. Katanya, ia suka dengan patung itu apa adanya. Tidak perlu dikembalikan ke toko. 

Setiap menjelang Natal, saat aku mengeluarkan Bayi Yesus dari penyimpanan, aku teringat kisah yang melatarbelakangi keberadaan patung ini di rumah kami.

Bayi Yesus yang mungil, maafkan aku yang menolak kehadiran-Mu. Aku cenderung menerima yang bagus, yang indah, yang menawan. Aku tidak mau melihat yang tidak bagus, tidak indah, dan tidak menawan mata. 

Bayi Yesus yang manis, aku mau belajar menerima Engkau apa adanya di dalam diri orang-orang di sekitarku yang tidak selalu bagus, tidak selalu indah, dan tidak selalu menawan. 

Selamat Natal!

Minggu, 22 Desember 2024

Pohon Natal untuk Ibu

Aku membeli pohon Natal mungil ini beberapa bulan sebelum perayaan hari kelahiran Kristus. Sudah kuniatkan, pohon perak berbintang emas ini akan kuletakkan di meja depan ranjang Ibu. Meski Ibu sudah tak mampu lagi bangkit dari tempat tidurnya, ia akan dapat memandang keindahan pohon ini.
 
Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ibu dipanggil menghadap-Nya, 70 hari sebelum Natal. Pohon Natal ini tetap kupasang di rumahku. Bertahun berlalu. Sudah 12 kali Natal aku memasang pohon ini.
 
Selamat merayakan Natal di Surga, Ibu. Semoga dari keabadian, Ibu bisa memandang kemilau pohon Natal ini dan mendoakan kami anak-anakmu.