Tiga orang bertamu ke kemah Abraham. Setelah makan, ketiga tamu itu bertanya tentang Sara, istri Abraham. Kata mereka, tahun depan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. Sara yang mendengarkan percakapan itu di belakang pintu kemah, tertawa dalam hati.
Lalu, bersabdalah Tuhan kepada Abraham, "Mengapakah Sara tertawa dan berkata, 'Sungguhkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua?' Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan?...." Sara menyangkal, katanya, "Aku tidak tertawa," sebab ia takut. Tetapi Tuhan bersabda, "Tidak! Memang engkau tertawa!" (Kejadian 18:13-14a, 15).
Manusia bisa saja menyangkal apa yang telah dilakukannya. Bahkan hal paling kecil seperti tertawa di balik pintu. Tidak kelihatan secara kasat mata. Namun, Tuhan melihat hati. Dan itulah yang menjadi pegangan Tuhan dalam bertindak. Meskipun Tuhan mungkin kecewa terhadap respons Sara, tetapi Ia sama sekali tidak membatalkan rancangan besarNya bagi Abraham.
Adakah kita menanggapi Tuhan dengan tulus, ataukah yang kita ucapkan di hadapan Tuhan berbeda dengan yang kita lakukan "di belakang"Nya?
Senin, 24 Juli 2017
Selasa, 04 Juli 2017
Seandainya Tuhan Tidak Mengabulkan Doa
Ketika kita memanjatkan doa permohonan, tentu kita berharap Tuhan menjawab doa kita dengan mengabulkan permohonan kita. Bagaimana seandainya Tuhan tidak mengabulkan doa yang telah kita panjatkan dengan sepenuh hati, bahkan disertai nazar?
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan kepada raja Nebukadnezar di wilayah Babel, karena ketiga orang Yahudi itu tidak mau menyembah patung emas buatan raja. Ketika akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala, ketiganya mengatakan kepada raja: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18)
Ada kalanya, Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita seperti yang kita inginkan. Ada kalanya, Tuhan membiarkan kita mengalami penderitaan. Satu hal yang Tuhan ingin lihat ialah bagaimana sikap kita ketika Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita?
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memahami terkadang Tuhan tidak menjawab doa, karena itu mereka berkata: ".... tetapi seandainya tidak ....," mereka sudah siap. Walaupun Tuhan mungkin tidak menjawab permohonan mereka untuk dilepaskan dari perapian yang menyala-nyala; mereka akan tetap bertahan dalam iman, tidak mau menuruti perintah raja untuk menyembah patung.
Bagaimana dengan kita, seandainya Tuhan tidak mengabulkan doa yang telah kita panjatkan siang dan malam?
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan kepada raja Nebukadnezar di wilayah Babel, karena ketiga orang Yahudi itu tidak mau menyembah patung emas buatan raja. Ketika akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala, ketiganya mengatakan kepada raja: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18)
Ada kalanya, Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita seperti yang kita inginkan. Ada kalanya, Tuhan membiarkan kita mengalami penderitaan. Satu hal yang Tuhan ingin lihat ialah bagaimana sikap kita ketika Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita?
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memahami terkadang Tuhan tidak menjawab doa, karena itu mereka berkata: ".... tetapi seandainya tidak ....," mereka sudah siap. Walaupun Tuhan mungkin tidak menjawab permohonan mereka untuk dilepaskan dari perapian yang menyala-nyala; mereka akan tetap bertahan dalam iman, tidak mau menuruti perintah raja untuk menyembah patung.
Bagaimana dengan kita, seandainya Tuhan tidak mengabulkan doa yang telah kita panjatkan siang dan malam?
Sabtu, 01 Juli 2017
Syukur Bagi-Mu
Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.
(Mazmur 30:12-13)
(Mazmur 30:12-13)
Kamis, 29 Juni 2017
Standar Cinta Yesus
Tiga kali bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya? Terjemahan Injil Yohanes dalam bahasa Indonesia tidak memperlihatkan gradasi kasih yang diutarakan Yesus dan Petrus. Tetapi, dalam Injil berbahasa Yunani, kita dapat mencermati lebih jauh dialog antara Yesus dengan Petrus itu:
The dialogue between Jesus and Peter contains two different words for "love," which some, but not all, commentators deem to be of exegetical significance. The words are agapao (the verb form of the noun agape) and phileo (the verb form of the noun philia). The dialogue proceeds as follows:
* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you phileo me?"
* Peter replied, "I phileo you."
Perhatikan, perbedaan kadar cinta yang dipakai Yesus: pada pertanyaan pertama dan kedua, Yesus bertanya kepada Petrus, apakah ia mencintai Yesus dengan cinta yang paling tinggi (agape)? Dua kali pula Petrus menjawab, ia mencintai Yesus sebatas sahabat dalam kesetaraan (philia).
Yesus tidak mendapatkan jawaban yang diharapkanNya. Sebenarnya Yesus menginginkan standar cinta yang tertinggi dari Petrus, yang akan ditugaskan untuk menggembalakan domba-dombaNya. Meski Yesus mungkin kecewa terhadap Petrus, namun Ia bertanya ketiga kalinya kepada Petrus dan menurunkan standar cinta yang diharapkanNya: "Do you phileo me?" Bukan lagi agapao. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya... (lihat Yohanes 21:17).
Boleh jadi Petrus sedih, karena ternyata ia belum bisa mencintai Yesus sesuai standar yang diinginkan Yesus. Ia baru bisa mencintai Yesus sebagai sahabat (philia), bukan cinta tak bersyarat seperti Tuhan mencintai manusia (agape).
Petrus sudah mengikuti Yesus sekitar 3 tahun, sudah mengenal pribadi dan karakter Yesus. Tetapi tetap tidak bersedia menyatakan cinta tak bersyarat kepada Yesus. Bagaimana dengan kita yang hanya mengenal Yesus dari Alkitab dan pewartaan? Apa jawaban yang akan kita berikan kepada Yesus, jika Ia bertanya kepada kita: "Do you agapao me?"
Minggu, 25 Juni 2017
Menyimpan dalam Memori
Perangkat telekomunikasi seluler, smartphone, punya ruang penyimpanan data yang terbatas. Ketika memori di smartphone sudah mendekati batas maksimal, pemilik perangkat itu biasanya akan memilah-milah data mana yang tetap perlu disimpan dan data mana yang dapat dilenyapkan dari perangkat (delete).
Bagaimana ruang penyimpanan dalam hati kita?
Memori kita pun terbatas. Tidak semua peristiwa bisa kita ingat sejak kita lahir sampai saat ini. Kita perlu memilah-milah juga, apa yang akan tetap kita simpan dalam hati dan apa yang akan kita lenyapkan dari memori kita. Biasanya peristiwa-peristiwa berkesan yang kita simpan. Tetapi, berkesan karena apa: karena indahnya atau karena menyakitkannya?
Kalau kita bisa menyimpan data yang bagus-bagus saja dalam memori smartphone, sepatutnya kita pun menyimpan hal-hal baik saja dalam hati kita.
Bagaimana ruang penyimpanan dalam hati kita?
Memori kita pun terbatas. Tidak semua peristiwa bisa kita ingat sejak kita lahir sampai saat ini. Kita perlu memilah-milah juga, apa yang akan tetap kita simpan dalam hati dan apa yang akan kita lenyapkan dari memori kita. Biasanya peristiwa-peristiwa berkesan yang kita simpan. Tetapi, berkesan karena apa: karena indahnya atau karena menyakitkannya?
Kalau kita bisa menyimpan data yang bagus-bagus saja dalam memori smartphone, sepatutnya kita pun menyimpan hal-hal baik saja dalam hati kita.
Kamis, 22 Juni 2017
Gelap-Mu adalah Cahaya Kami
Di tengah lembah duka dan derita,
seolah yang tampak hanya kegelapan.
Sesungguhnya,
gelap dari-Mu adalah cahaya bagi kami.
Sebab, kegelapan tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang.
Kegelapan sama seperti terang,
asalkan kita bisa memaknainya.
(Lihat Mazmur 139:12)
seolah yang tampak hanya kegelapan.
Sesungguhnya,
gelap dari-Mu adalah cahaya bagi kami.
Sebab, kegelapan tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang.
Kegelapan sama seperti terang,
asalkan kita bisa memaknainya.
(Lihat Mazmur 139:12)
Minggu, 28 Mei 2017
Masih Adakah Iman di Bumi?
".... jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8b)
Pertanyaan Yesus itu patut menjadi bahan utama refleksi kita, saat kita menjalani hari-hari dalam kehidupan kita di dunia ini yang serba diwarnai ketidakpastian, serta rusaknya lingkungan bumi dan hilangnya kebajikan umat manusia. Di tengah situasi tersebut, adakah kita sering atau bahkan selalu merasa khawatir dan takut?
Kekhawatiran dan ketakutan dapat menyebabkan kita mengambil langkah yang keliru. Contohnya, Pilatus khawatir mendapat citra buruk di mata masyarakat jika ia memihak Yesus, ditambah lagi ia bakal dianggap bukan sahabat kaisar, maka Pilatus takut membebaskan Yesus. Petrus khawatir ditangkap dan dihukum seperti Yesus, maka Petrus takut mengakui dirinya murid Yesus dan memilih menyangkal Yesus.
Kekhawatiran dan ketakutan yang menggunung merupakan bukti nyata menguapnya iman. Ketika taufan sangat dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, para murid membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Setelah menghardik angin itu dan danau menjadi teduh sekali, Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Lihat Markus 4:35-40)
Di atas segala yang terjadi dalam kehidupan kita, janganlah sampai iman kita menyurut. Tidakkah Yesus akan sangat berduka, jika pada saat Ia datang kembali, Ia tidak lagi mendapati iman di bumi?
Pertanyaan Yesus itu patut menjadi bahan utama refleksi kita, saat kita menjalani hari-hari dalam kehidupan kita di dunia ini yang serba diwarnai ketidakpastian, serta rusaknya lingkungan bumi dan hilangnya kebajikan umat manusia. Di tengah situasi tersebut, adakah kita sering atau bahkan selalu merasa khawatir dan takut?
Kekhawatiran dan ketakutan dapat menyebabkan kita mengambil langkah yang keliru. Contohnya, Pilatus khawatir mendapat citra buruk di mata masyarakat jika ia memihak Yesus, ditambah lagi ia bakal dianggap bukan sahabat kaisar, maka Pilatus takut membebaskan Yesus. Petrus khawatir ditangkap dan dihukum seperti Yesus, maka Petrus takut mengakui dirinya murid Yesus dan memilih menyangkal Yesus.
Kekhawatiran dan ketakutan yang menggunung merupakan bukti nyata menguapnya iman. Ketika taufan sangat dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, para murid membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Setelah menghardik angin itu dan danau menjadi teduh sekali, Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Lihat Markus 4:35-40)
Di atas segala yang terjadi dalam kehidupan kita, janganlah sampai iman kita menyurut. Tidakkah Yesus akan sangat berduka, jika pada saat Ia datang kembali, Ia tidak lagi mendapati iman di bumi?