Sering kali ketika Tuhan menyapa kita atau memberi tugas khusus kepada kita, reaksi spontan kita umumnya merasa tidak layak.
Nabi Musa merasa diriya tak pandai bicara, bagaimana ia dapat memimpin ribuan orang Israel keluar dari Mesir? Nabi Yunus merasa tak pantas menjadi pewarta Allah untuk memberitahu penduduk Niniwe agar bertobat. Petrus sang nelayan terkejut mendapati banyak ikan dalam jalanya, setelah Yesus mengarahkan tangkapannya. Maka, Petrus meminta Tuhan pergi darinya, karena ia orang berdosa. (Lukas 5:8)
Telusurilah batin dengan lebih saksama: apakah alasan merasa diri tak layak merupakan tanda kerendahan hati; atau sesungguhnya mengungkapkan keengganan melayani Tuhan lebih jauh, karena terbayang bakal menghadapi berbagai rintangan?
Manusia cenderung merasa diri lemah dan tak berdaya -perlu bergantung kepada Tuhan. Manusia lebih suka menjadi penerima, ketimbang pemberi. Jika merenungkan misteri penciptaan manusia, sejatinya ada dimensi Allah yang ditanam dalam diri manusia. Dimensi Allah yang mengasihi, memberi, bertindak aktif untuk selalu berbuat kebaikan.
Di zaman sekarang, ketika Tuhan tak lagi dapat ditemui secara kasat mata -tak seperti semasa Yesus hidup di dunia, maka peran para pengikut Yesus sangat menentukan. Melalui kitalah Tuhan Yesus dapat melanjutkan karya-karyaNya di dunia.
Jika banyak orang yang mengikuti Yesus merasa tak layak ikut ambil bagian dalam karya pelayananNya; siapa lagi yang akan mewartakanNya, menjadi tangan dan kakiNya, meneruskan misiNya?
Patutlah kita mencontoh seorang gadis belia, yang ketika diserahi tugas khusus oleh Allah, dengan penuh iman menjawab kepada malaikat yang mendatanginya, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)
Minggu, 19 Januari 2014
Kamis, 16 Januari 2014
Sederhana Namun Berdaya
Doa adalah tindakan paling sederhana namun berdaya ampuh, yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah seisi dunia menjadi lebih baik.
Kamis, 02 Januari 2014
Menafikan Segalanya
Dua minggu sebelum tutup tahun 2013, Engkau memintaku untuk tidak lagi hidup dengan kebiasaan dan cara pandang lama."Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62)
Dua hari menjelang berakhirnya tahun 2013, Engkau menghantarku pada pengalaman malam gelap lewat beberapa peristiwa, yang membuatku tak dapat berbuat apa pun selain berpasrah penuh kepada penyelenggaraanMu.
Lewat pengalaman-pengalaman tersebut, aku sampai pada pemahaman untuk menganggap segala sesuatu bukan apa-apa dan segenap manusia bukan siapa-siapa. Tak ada satu pun yang penting, yang istimewa, yang berbeda, yang luar biasa - selain daripada Engkau sendiri.
Menafikan segalanya, menampik keduniawian, menyangkal diri sepenuhnya - itulah yang Engkau kehendaki. Sulit dan berat, tetapi bukan berarti mustahil jika aku tetap berjalan bersamaMu.
Dua hari menjelang berakhirnya tahun 2013, Engkau menghantarku pada pengalaman malam gelap lewat beberapa peristiwa, yang membuatku tak dapat berbuat apa pun selain berpasrah penuh kepada penyelenggaraanMu.
Lewat pengalaman-pengalaman tersebut, aku sampai pada pemahaman untuk menganggap segala sesuatu bukan apa-apa dan segenap manusia bukan siapa-siapa. Tak ada satu pun yang penting, yang istimewa, yang berbeda, yang luar biasa - selain daripada Engkau sendiri.
Menafikan segalanya, menampik keduniawian, menyangkal diri sepenuhnya - itulah yang Engkau kehendaki. Sulit dan berat, tetapi bukan berarti mustahil jika aku tetap berjalan bersamaMu.
Selasa, 31 Desember 2013
BersamaMu
Ketika aku menoleh ke belakang, memandang jalan-jalan yang telah kita tempuh bersama, hanya inilah yang terucap: "Terima kasih, Yesus."
Sungguh mengagumkan merasakan kasih setiaMu di sepanjang perjalanan kita. Sungguh ajaib segala yang telah Kau perbuat untukku. TanpaMu di sisiku, tak mungkin aku dapat sampai pada keberadaanku sekarang.
Terima kasih, Kekasih Jiwaku, Engkau yang memampukan aku, Engkau yang membimbing aku, Engkau yang menyertai aku senantiasa. Puji dan syukur hanya kepadaMu.
Di sini, kita menatap hamparan gurun, gunung, dan lembah. "Mari," kataMu seraya tersenyum lembut mengulurkan tanganMu, "Sudah saatnya kita meneruskan perjalanan ini." Aku memandangMu dalam diam dan menggenggam erat telapak tanganMu.
Sungguh mengagumkan merasakan kasih setiaMu di sepanjang perjalanan kita. Sungguh ajaib segala yang telah Kau perbuat untukku. TanpaMu di sisiku, tak mungkin aku dapat sampai pada keberadaanku sekarang.
Terima kasih, Kekasih Jiwaku, Engkau yang memampukan aku, Engkau yang membimbing aku, Engkau yang menyertai aku senantiasa. Puji dan syukur hanya kepadaMu.
Di sini, kita menatap hamparan gurun, gunung, dan lembah. "Mari," kataMu seraya tersenyum lembut mengulurkan tanganMu, "Sudah saatnya kita meneruskan perjalanan ini." Aku memandangMu dalam diam dan menggenggam erat telapak tanganMu.
Rabu, 25 Desember 2013
Bayi Kekudusan
Perayaan KelahiranMu tahun ini membawa makna lahirnya "bayi" Kekudusan. Kian hari kian kupahami, Kekudusan adalah sejatinya inti kehidupan manusia. Pada saat Allah Tritunggal menciptakan manusia, Kekudusan bersemayam dalam diri manusia - seperti dikatakan dalam Kitab Kejadian, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (lihat Kejadian 1:26).
Kekudusan adalah tujuan hidup manusia di dunia. Setiap kita dipanggil untuk menjadi kudus, sehingga sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Namun, menjadi kudus tidaklah semudah menarik napas. Adanya tarikan-tarikan dunia membuat kita mudah tergoda dan jatuh ke dalam dosa, sehingga menjauhkan kita dari Kekudusan.
Natal membawa penyadaran bagi kita untuk kembali kepada Kekudusan. Bayi mungil di Betlehem adalah wujud nyata Kekudusan sejati. Menerima kelahiran Bayi Kekudusan dalam hati, membuat hidup kita menjadi suci, sehingga diri kita menjadi persembahan yang kudus dan tak bercela bagi Allah.
Kekudusan adalah tujuan hidup manusia di dunia. Setiap kita dipanggil untuk menjadi kudus, sehingga sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Namun, menjadi kudus tidaklah semudah menarik napas. Adanya tarikan-tarikan dunia membuat kita mudah tergoda dan jatuh ke dalam dosa, sehingga menjauhkan kita dari Kekudusan.
Natal membawa penyadaran bagi kita untuk kembali kepada Kekudusan. Bayi mungil di Betlehem adalah wujud nyata Kekudusan sejati. Menerima kelahiran Bayi Kekudusan dalam hati, membuat hidup kita menjadi suci, sehingga diri kita menjadi persembahan yang kudus dan tak bercela bagi Allah.
Kamis, 05 Desember 2013
Kemartiran Masa Sekarang
Sebelum memasuki Masa Adven, aku mendengar seruanMu berulang kali melalui bacaan-bacaan Kitab Suci tentang akhir zaman. Engkau meminta para pengikutMu untuk terus bertahan dalam iman sampai Engkau datang kembali ke dunia dalam sinar kemuliaan.
Bertahan dalam iman sampai tarikan napas penghabisan, itulah tanda kemartiran. Kemartiran masa sekarang bukan kepala yang dipenggal atau badan yang ditusuk pedang.
Kemartiran masa sekarang adalah kepasrahan pada kehendak Tuhan, kesediaan memanggul salib tanpa mengeluh, kegembiraan dalam kedukaan, keikhlasan memaafkan tanpa mengingat kesalahan-kesalahan orang lain, ketulusan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan dengan mengabaikan kepentingan diri, penyangkalan diri terus-menerus demi memiliki hati yang murni.
Bertahan dalam iman sampai tarikan napas penghabisan, itulah tanda kemartiran. Kemartiran masa sekarang bukan kepala yang dipenggal atau badan yang ditusuk pedang.
Kemartiran masa sekarang adalah kepasrahan pada kehendak Tuhan, kesediaan memanggul salib tanpa mengeluh, kegembiraan dalam kedukaan, keikhlasan memaafkan tanpa mengingat kesalahan-kesalahan orang lain, ketulusan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan dengan mengabaikan kepentingan diri, penyangkalan diri terus-menerus demi memiliki hati yang murni.
Senin, 25 November 2013
Hambatan Kekudusan
Ketika mulai masuk dalam kekudusan hidup, ada suara yang menghambat langkah. "Hei, jangan terlalu baik, jangan terlalu suci... nanti kau cepat mati!"
Sungguhkah seorang yang kudus akan cepat beralih ke alam baka?
Sebagian besar orang kudus memang tak panjang usianya. Tetapi, ada pula yang tergolong lanjut usia seperti Santo Yohanes Rasul, Santo Augustinus, Santo Hieronimus, Santa Rosa Venerini.
Suara si jahat itu sungguh mengganggu. Agaknya, begitulah cara setan membujuk manusia agar menjauh dari kekudusan. Semakin kita berusaha hidup murni, semakin gencar ia mengggoda. Tak ada alasan untuk mundur, kembali ke keduniawian. Hidup di dunia ini atau beralih ke Surga untuk memandang langsung wajahMu adalah mutlak kebijaksanaanMu, ya Yesus.
Aku menghalau suara godaan itu dengan perkataan Santo Paulus, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku" (Filipi 1:20).
Sungguhkah seorang yang kudus akan cepat beralih ke alam baka?
Sebagian besar orang kudus memang tak panjang usianya. Tetapi, ada pula yang tergolong lanjut usia seperti Santo Yohanes Rasul, Santo Augustinus, Santo Hieronimus, Santa Rosa Venerini.
Suara si jahat itu sungguh mengganggu. Agaknya, begitulah cara setan membujuk manusia agar menjauh dari kekudusan. Semakin kita berusaha hidup murni, semakin gencar ia mengggoda. Tak ada alasan untuk mundur, kembali ke keduniawian. Hidup di dunia ini atau beralih ke Surga untuk memandang langsung wajahMu adalah mutlak kebijaksanaanMu, ya Yesus.
Aku menghalau suara godaan itu dengan perkataan Santo Paulus, "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku" (Filipi 1:20).