Senin, 12 September 2011

Aku Memaafkannya

Sejak tadi pagi, Kau telah mengatakan dalam hatiku, bahwa aku sebaiknya memaafkannya. KataMu, masih banyak orang yang berbuat jauh lebih salah daripadanya. Tetapi hatiku masih keras, mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya. Kau juga mengingatkan, aku pun tak luput dari berbagai kesalahan. Dan Kau telah mengampuniku. Mengapa aku tak mau melakukan yang sama kepada orang lain?

Sampai aku mendengar bacaan pertama di rumahMu sore ini. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan (Sirakh 28:1). Ya, Kau benar. Untuk apa aku membalas kejahatan dengan kejahatan, padahal sebagai Sang Penciptanya yang lebih berkuasa atasnya Kau masih berbelas kasih kepadanya?

Dalam homili dikatakan pula, walaupun Kain telah berdosa karena membunuh adiknya, namun karena kerahiman Allah ia tidak mendapat balasan instan. Ia malah dilindungi dengan janji Allah sendiri bahwa siapa pun yang berlaku jahat terhadap Kain akan dihukum tujuh kali lipat.

Aku memaafkannya, sekaligus membebaskannya. Segera saja kelegaan memenuhi ruang hati.

Sabtu, 10 September 2011

Keotentikan Ajaran

Aku banyak membaca buku-buku olah batin belakangan ini. Tetapi, kuperhatikan para pengarang buku mengutip cerita-cerita yang sama, namun dengan nama para pelaku yang bervariasi. Seperti kisah pendiri Stanford University kujumpai di dua buku berbeda - pengarang beragama Buddha dan Katolik. Lalu, kisah penerimaan realitas "ini pun akan berlalu" kubaca di beberapa tempat dengan versi beragam.

Ah, sungguh berbeda sekali dengan ajaranMu yang tak berubah dan tak tergantikan. Hanya Engkau yang mengungkapkannya, tak ada pribadi sebelum dan sesudahMu yang mengutarakan hal serupa dengan apa yang kau nyatakan. Sungguh, ajaranMu benar-benar otentik. Aku mengagumiMu.

Jumat, 02 September 2011

Tak Ingin Anggur yang Baru

Malam ini di rumahMu aku mendengar Kau mengatakan, "Tak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Aku tahu, yang Kau maksudkan adalah orang-orang yang telah berpegang pada keyakinan lama mereka akan sangat sulit untuk menerima ajaran baru yang Kau perkenalkan kepada mereka. Adakah ajaran yang lebih baru daripada yang Kau ajarkan?

Terima kasih, Engkau telah menyadarkanku untuk lebih waspada. Banyak yang menawarkan anggur baru saat ini, tetapi ternyata anggur mereka tidak benar-benar baru. Tidak seperti anggur baru yang pernah Kau tawarkan.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Jika Aku Dipakai Yang Lain

Kemarin, timbul pergulatan dalam batin. Apakah boleh sekali ini Kau pinjamkan aku kepada orang lain? Aku ingin merasakan jika aku dipakai olehnya. Mungkin aku akan senang berjalan bersamanya pada saat awal, lalu aku mulai merasa tidak nyaman karena ternyata ia membawaku pergi mengunjungi tempat-tempat yang tidak sesuai dengan nuraniku, sehingga aku ingin segera kembali kepadaMu. Syukurlah, Kau tak berkenan meminjamkanku kepadanya. Terima kasih atas kasihMu yang begitu besar melingkupiku.

Minggu, 14 Agustus 2011

Yakin Telah Dinubuatkan

Dalam talk show kemarin, terkait kehidupan seorang suci yang juga tokoh dunia, Beato Johanes Paulus II, dikatakan ia merasa yakin telah dinubuatkan untuk memimpin umatnya memasuki Milenium ke-3 tahun 2000. Dan memang benar terjadi demikian.

Apa yang Engkau nubuatkan untukku? Aku menyimpan janjiMu dalam hatiku. Aku percaya Engkau akan mewujudkannya suatu saat kelak, asalkan aku tetap menjadi alas kakiMu.

Jumat, 12 Agustus 2011

Kebahagiaan Alas Kaki

Bagaimana orang menggambarkan relasinya dengan Sang Kudus, Sang Khalik, Sang Pencipta Kehidupan? 

Ada yang menganggap dirinya sebagai hamba Sang Khalik, yang lain merasa menjadi sahabatNya. Ada pula yang mempersonifikasi dirinya seperti bola yang dimainkan Sang Pencipta, atau bejana yang siap dibentuk Sang Pemberi Kehidupan.

Siang ini, di tengah keheningan suasana ruang kerja, tiba-tiba melintas keinginanku menjadi alas kakiNya. Alas kaki yang selalu dipakaiNya ketika menyusuri jalan-jalan di dunia. Dengan menjadi alas kakiNya, aku membiarkanNya membawaku sekehendak hatiNya. Ada perjalanan yang menyenangkan di rerumputan nan lembut, ada pula perjalanan yang membuatku sakit lantaran harus melewati bebatuan. Sesekali, Ia melepaskan alas kakiNya, mengajakku beristirahat bersamaNya.

Aku akan menurutiNya saja ke mana Ia mengarahkan langkahNya, yang penting aku bisa selalu bersamaNya, menemaniNya. Aku tak ingin menjadi lebih daripada alas kaki. Ini sudah membahagiakanku. Alas kaki berada di bagian paling bawah mengajarkanku untuk selalu rendah hati. Alas kaki bergerak sesuai ayunan langkah Sang Pemakai mengajarkanku untuk tunduk pada kehendakNya bukan keinginanku.