Jumat, 27 September 2024
Sakit
Sabtu, 21 September 2024
Ada yang Tak Bisa Dibagi
Kamis, 12 September 2024
Penumpang Pesawat United 93
Film United 93 yang dirilis Universal Pictures tahun 2006 berkisah tentang kepahlawanan beberapa penumpang pesawat United Airlines 93 yang melawan sekuat tenaga para teroris di pesawat itu pada 11 September 2001.
Dari empat pesawat komersial yang dibajak teroris pada hari kelabu tersebut, pesawat United Airlines 93 menjadi satu-satunya pesawat yang tidak mencapai sasaran teroris. Beberapa penumpang dan awak pesawat bekerja sama menggagalkan rencana jahat empat pembajak pesawat.
Pesawat yang berangkat dari Bandara Internasional Newark di New Jersey dengan tujuan San Francisco ini akhirnya jatuh di Shanksville, Pennsylvania, sekitar 230 km di barat daya Washington D.C.
Setelah sempat menelepon keluarga di Amerika Serikat lewat sambungan di udara, beberapa penumpang pesawat mengetahui, World Trade Center telah disasar para teroris dengan menggunakan pesawat terbang komersial.
Terjadi perbincangan menarik di antara beberapa penumpang pria. Salah satu penumpang mengatakan kira-kira demikian, "Bagaimana pun, kita akan mati. Ayo, kita lawan para teroris ini!"
Dengan segenap peralatan yang ada dan dapat digunakan sebagai 'senjata' untuk melawan, para awak dan penumpang bahu-membahu menyerbu ke arah ruang kemudi pesawat.
Merenungkan kata-kata salah satu penumpang itu, kita pun dapat memilih untuk melakukan sesuatu di tengah pergerakan kita menuju akhir hidup. Bukankah pada akhirnya setiap kita akan meninggalkan dunia ini untuk kembali ke Rumah Bapa?
Mengapa kita tidak bersikap seperti para awak dan penumpang pesawat United 93 yang dengan gigih menggunakan segala yang dimiliki untuk berbuat sesuatu yang baik?
Semoga jiwa-jiwa para awak dan penumpang pesawat United 93 beristirahat dalam damai abadi di surga. Terima kasih atas inspirasi kisah kepahlawananmu.
Sabtu, 07 September 2024
Perjumpaan yang Mengubah
Setelah tertunda hampir 4 tahun karena pandemi Covid-19 saat itu, Paus Fransiskus berkenan memenuhi undangan Pemerintah Indonesia untuk berkunjung ke Jakarta pada 3-6 September 2024.
Sorak gembira umat Katolik Indonesia menyambut kedatangan beliau. Dari berbagai tayangan di media massa, tampak orang banyak berkerumun di tepi jalan-jalan yang dilalui Bapa Suci Paus Fransiskus untuk sekadar melihat wajah beliau dari dalam mobil dengan kaca jendela mobil yang selalu terbuka dan menerima lambaian tangan beliau.
Di acara-acara yang telah disusun untuk Bapa Suci Paus Fransiskus, selalu ada orang-orang yang mendekati beliau untuk bersalaman dan memohon berkat. Ada pula yang sekadar berusaha menjamah jubah beliau, kalau tak bisa bersujud di hadapan beliau atau bersalaman.
Lalu, media sosial pribadi dari orang-orang yang berhasil mendekati Paus Fransiskus, memperlihatkan "kedekatan" mereka dengan Bapa Suci. Tampaknya perjumpaan yang menyenangkan dan membanggakan pribadi.
Namun, sejatinya suatu perjumpaan dapat memberi makna lebih besar. Bukan hanya keberhasilan berfoto bersama dengan salah satu orang terkemuka di dunia. Tetapi perjumpaan yang mengubah.
Paus Fransiskus sendiri mengalami perjumpaan yang mengubah, ketika beliau berusia 17 tahun. Jorge Mario Bergoglio sedang dalam perjalanan ke acara orang muda di kota kelahirannya, Buenos Aires. Melihat gereja terbuka, ia tergerak mengaku dosa.
Perjumpaan dengan Kristus di kamar pengakuan itulah yang mengubah hidup Jorge Mario Bergoglio selanjutnya, yang kemudian menjadi Paus Fransiskus. Saat beliau ditahbiskan sebagai Uskup, beliau memakai motto: miserando atque eligendo (rendah hati dan terpilih). Motto yang tetap disandang beliau ketika terpilih menjadi Paus tahun 2013.
Paus Fransiskus sangat terkesan akan kisah panggilan Santo Matius, pemungut cukai, yang ditulis oleh Santo Bede, biarawan dan pujangga gereja: Yesus melihat seorang penagih pajak dan saat Ia menatapnya dengan kasih dan memilihnya, Yesus berkata kepadanya: Ikutlah Aku.
Semoga perjumpaan kita dengan Bapa Suci Paus Fransiskus - secara langsung ataupun melalui layar kaca secara live streaming saat Misa Agung di Gelora Bung Karno, menjadi perjumpaan yang mengubah; membawa kita semakin dekat dengan Yesus Kristus.
Kamis, 29 Agustus 2024
Tetap Percaya
Yohanes Pembaptis dengan semangat memperkenalkan Yesus di tepi Sungai Yordan: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia..." (Yohanes 1:29)
Yohanes Pembaptis tidak masalah para pengikutnya beralih mengikuti Yesus. Bahkan ia mengatakan: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30)
Yohanes Pembaptis tetap memperjuangkan kebenaran dengan berani menegur Herodes, ketika Herodes mengambil istri Filipus saudaranya untuk menjadi istrinya: "Tidak halalengkau mengambil isteri saudaramu!" (Markus 6:18)
Tetapi, mungkin Yohanes Pembaptis bertanya-tanya mengapa Yesus tidak membelanya, ketika ia dijebloskan ke penjara akibat teguran kerasnya kepada Herodes.
Yohanes Pembaptis mulai mempertanyakan Sang Mesias. Ia mengutus dua orang muridnya untuk bertanya kepada Yesus: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" (Lukas 7:19)
Yesus menanggapi kedua murid Yohanes Pembaptis: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Lukas 7:22-23)
Perkataan Yesus kepada Yohanes Pembaptis di ayat 23 di atas menyiratkan pesan agar ia tetap percaya kepada Yesus, meski hal-hal yang kelihatan di depan mata tampaknya tidak seperti yang diharapkan.
Yohanes Pembaptis tidak memperoleh akhir hidup yang baik di dunia ini. Ia terus mendekam di penjara, sampai akhirnya Herodes memerintahkan pengawalnya untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, karena anak tirinya menghendaki.
Tetap percaya - suatu keteguhan hati yang perlu dimiliki setiap orang beriman kristiani, meski hal-hal yang kelihatan tampaknya tidak menyiratkan kondisi yang lebih baik.
Perkataan Yesus kepada Yohanes Pembaptis hendaknya menjadi pegangan kita juga: jangan pernah kecewa kepada Tuhan dan menolak-Nya!