Sabtu, 17 Februari 2024

Menanti Waktu Tuhan

Mantan Perdana Menteri Belanda Dries van Agt dan istrinya Eugenie memutuskan mengakhiri hidup dengan suntikan euthanasia pada awal Februari lalu. Keduanya telah mencapai usia 93 tahun dan menderita sakit. 
 
Terlepas dari diizinkannya praktik euthanasia di negara kincir angin atau hak manusia untuk menentukan nasibnya sendiri; mengakhiri hidup sebelum waktu Tuhan, menunjukkan manusia kurang menghargai anugerah kehidupan dari Tuhan bagi ciptaan-Nya.

Bayangkan, kalau ternyata sebenarnya Tuhan sudah merancang yang indah untuk mereka: beberapa hari lagi pasangan tersebut akan dipanggil pulang ke alam abadi. Bukankah tindakan mereka itu sepatutnya tak perlu diperbuat?   

Menanti waktu Tuhan sering kali terasa lama dan tak terlihat perubahan apa pun. Tetapi, dengan iman kita percaya - bahkan dalam keadaan yang biasa-biasa saja, tanpa perubahan pun; Tuhan selalu bekerja. Biarlah Ia sebagai Sang Penguasa menentukan waktu yang terbaik untuk setiap insan ciptaan-Nya.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)
 

Kamis, 15 Februari 2024

Sepertinya Kalah

Ketika tubuh Yesus terentang di kayu salib, para seteru-Nya bersorak. 
Akhirnya, Ia yang mengatakan: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali," sekarang tak berdaya terpaku di salib.
 
Semua mukjizat yang pernah dilakukan-Nya menguap, habis dimakan sikap diam-Nya. Ia menerima saja pukulan, cacian, hujatan dalam kesengsaraan yang tak terperi. Sepertinya Ia kalah di mata manusia.
 
Tidak demikian dalam pandangan Allah. Menyaksikan penderitaan Sang Putra di jalan salib, yang dengan keteguhan hati menjalankan kehendak Allah, Sang Bapa berkata dengan penuh kasih dan keyakinan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Yang dilihat manusia, berbeda dengan yang dinilai Allah. 
Di manakah hati kita berada?

Rabu, 14 Februari 2024

Saat yang Kunantikan

Tidak... aku sama sekali tidak keberatan,
untuk ikut dengan-Mu ke padang gurun.
Bahkan, berada bersama-Mu di padang gurun,
menjadi saat yang kunantikan.
 
Aku ingin menyepi sejenak,
jauh dari hiruk-pikuk dunia,
dengan segala persoalan dan keangkuhannya.
 
Aku ingin mengiringi-Mu,
menimba hikmat dari-Mu,
mengatasi godaan seperti-Mu,
menjadi pemenang bersama-Mu.
 

Jumat, 02 Februari 2024

Berjalan Bersama-Mu

Tak selalu semuanya berjalan monoton, 
ketika aku menapaki jalan yang Engkau tunjukkan.
Tak selalu semuanya dipenuhi salib, 
karena Engkau penuh kejutan.
Ada yang menantang, 
Ada yang menggembirakan, 
Ada yang melegakan.
Dan aku berterima kasih kepada-Mu,
sepanjang aku berjalan bersama-Mu.
 

Kamis, 25 Januari 2024

Mengira-Ngira Misteri Tuhan

Tuhan melengkapi manusia ciptaan-Nya dengan akal budi untuk bekerja dan berkarya bagi kemuliaan Tuhan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun, manusia sering kali menggunakan akal budinya untuk mengira-ngira apa yang Tuhan akan lakukan dalam kehidupan spiritualnya.

Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk mengendalikan segala sesuatu. Jika manusia memegang kendali, maka ia dapat mengarahkan yang dikendalikannya itu menjadi sesuai dengan keinginannya. Tidaklah demikian dalam relasi manusia dengan Tuhan. Justru, manusia diharapkan menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan, di atas akal budi dan logika. 

Santo Paulus - sebelumnya bernama Saulus, bertemu dengan Tuhan yang dianiayanya dalam perjalanan ke Damsyik. Sinar terang membutakan matanya. Kata Tuhan kepada Saulus, ".... bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." (Kisah Para Rasul 9:6)

Saulus seorang yang terpelajar, tentu sangat mengedepankan akal budi. Kalau ia mengira-ngira misteri Tuhan dengan logikanya, mungkin Saulus tak mau pergi ke Damsyik. Tidak jelas perintah Tuhan - suara yang didengarnya dalam penampakan di tengah jalan. Apa yang akan ditemui di kota itu nanti? Jangan-jangan ia yang akan dibunuh.

Pada titik inilah, dapat dikatakan, iman Saulus kepada Tuhan mulai bertumbuh. Ia mengabaikan kerja akal budinya, mengikuti arahan suara yang didengarnya. Kita ketahui, selanjutnya Saulus bertobat menjadi rasul Paulus yang gigih mewartakan Injil Tuhan kepada orang-orang non-Yahudi.

Belajar dari pengalaman iman Santo Paulus, dalam menjalin relasi pribadi dengan Tuhan, sebaiknya kita tidak mengedepankan akal budi dan logika. Bukankah bagi Tuhan tidak ada yang mustahil?

Minggu, 14 Januari 2024

Sering Menerima Komuni Kudus

Seorang Bapak berusia 79 tahun merasa dirinya sehat, tetapi tiba-tiba tulang paha kirinya patah. Setelah dioperasi, ia sehat kembali dan masih sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Menjelang Natal, kesehatannya menurun. Ia menemui imam dengan mengendarai mobil sendiri, mengaku dosa dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Keesokan harinya, ia masuk rumah sakit. Dari diagnosis dokter, diketahui sel-sel kanker telah menyebar ke beberapa organ tubuh. Kurang dari sebulan kemudian, bapak ini dipanggil Tuhan.

Ada yang menarik dari kisah bapak tersebut. Biasanya, penderita kanker mengalami kesakitan yang sangat, tetapi tidak demikian dengan bapak itu. Bahkan sepertinya sang bapak tidak mengetahui dirinya menderita kanker. Ketika kami berkunjung, dengan wajah ceria ia mengatakan sama sekali tidak tahu penyebab tulang kakinya mendadak patah. Hanya keluarganya yang mengetahui sakit bapak itu yang sesungguhnya.

Kami mengenal bapak ini sebagai pengikut Kristus yang sangat setia. Selama 18 tahun ia melayani sebagai Prodiakon. Setiap pagi ia mengikuti Perayaan Ekaristi, menyambut Tubuh Kristus. Kasih karunia Tuhan yang membuatnya mampu menjalani hari-hari, tanpa mengalami kesakitan tubuh akibat digerogoti kanker. 

Aku sangat yakin, Komuni Kudus yang disambutnya setiap hari  itulah yang memberi kekuatan fisik kepadanya. Seberapa sering kita menyatu dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi? 

Santo Fransiskus dari Sales memaparkan perlunya menerima Komuni Kudus:

“Ada dua jenis manusia yang harus sering menerima Komuni: orang-orang yang sempurna, karena dengan keadaan baik itu, salahlah bila mereka tidak menerima sumber kesempurnaan mereka; dan orang-orang yang tidak sempurna, agar pada akhirnya mereka dapat mencapai kesempurnaan: yang kuat, agar tidak menjadi lemah, yang lemah supaya menjadi kuat, yang sakit agar sembuh, yang sehat agar tak jatuh sakit - yang tidak sempurna, lemah, dan sakit harus sering menerima Dia yang adalah Kesempurnaan, Kekuatan, dan Penyembuhmu.”


Senin, 01 Januari 2024

Konsisten

Bunda Surgawi, memasuki tahun baru ini 
aku ingin bersikap konsisten seperti engkau. 
Tetap teguh dan setia melaksanakan kehendak Tuhan, 
meski semua serba samar.
Aku mau seperti engkau yang mendasarkan segalanya 
pada penyelenggaraan ilahi, 
karena percaya akan kasih setia Tuhan.