Rabu, 11 September 2019

Rahasia Hidup Damai

Kunci untuk memperoleh rasa damai dalam menjalani kehidupan setiap hari ialah menerima dengan sepenuh hati apa pun yang Tuhan berikan; tanpa merasa kecewa, kesal, marah, sedih, bahkan ingin menjauh dari Tuhan.

Ketika Ayub belum bisa menerima kenyataan bahwa segala harta bendanya musnah dan semua anaknya meninggal, hidupnya terus berada dalam pergumulan. Ia mengeluh dan tidak merasakan damai dalam hatinya. Apalagi istri dan sahabat-sahabatnya menyalahkan Ayub atas semua kejadian yang menimpa keluarganya itu. 

Tuhan kemudian memberi jawab kepada Ayub dan Ayub merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ayub berkata, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ayub 42:2) Di saat inilah, Ayub mengalami kedamaian hati. 

Atas kegigihannya bertahan dalam pencobaan, Tuhan lalu memulihkan keadaan Ayub. Bahkan Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada hidupnya yang dahulu. (Ayub 42:12)    

Ingin merasakan damai dalam kehidupan? Terimalah dengan sepenuh hati apa pun yang Tuhan berikan kepada Anda.

Jumat, 30 Agustus 2019

Panggilan Kekudusan

Kekudusan bukan hanya rahmat yang diberikan Tuhan kepada orang-orang tertentu yang hidupnya begitu saleh, sehingga sulit dicontoh oleh orang-orang biasa. Dalam Matius 5:48 Yesus mengatakan, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Berarti, setiap manusia dipanggil kepada kesempurnaan yang dapat dicapai melalui kekudusan hidup.

Hal ini kembali ditegaskan rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Tesalonika: "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (1 Tesalonika 4:7-8) 
 
Marilah kita menjadi kudus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari.  Hal-hal biasa yang jika ditekuni, akan berdampak luar biasa.

Kamis, 22 Agustus 2019

Santa Perawan Maria Ratu

Pesta Santa Perawan Maria Ratu yang dirayakan setiap tanggal 22 Agustus mengukuhkan permenungan kita akan Peristiwa Mulia ke-5 dalam Doa Rosario: "Bunda Maria Dimahkotai di Surga." Dengan diangkat ke Surga jiwa-raganya dan dimahkotai di Surga, Bunda Maria menjadi Ratu Surga dan bumi. 

Sebagai Ibunda Kristus - Allah Putra yang menjelma menjadi manusia, Bunda Maria layak menerima anugerah "Ratu Surga dan bumi." Kita sebagai pengikut Kristus patut menghormatinya, seperti Allah Bapa dan Kristus menghormati Bunda Maria dengan menjadikannya Ratu.

Senin, 19 Agustus 2019

Seteru Salib Kristus

Nasihat-nasihat yang diberikan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dalam suratnya yang ditulis sekitar tahun 56 Masehi, tetap relevan bagi kita sebagai para pengikut Kristus: 

Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 
Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih! 
(Filipi 3:17-19, 4:1)
 

Sabtu, 27 Juli 2019

Menyembuhkan Luka Batin

* Karena persembahannya tidak diterima, Kain yang luka batin membunuh adiknya, Habil (lihat Kejadian 4:1-16)

* Karena ditegur Yohanes Pembaptis, Herodias yang luka batin menyuruh anaknya meminta kepala Yohanes Pembaptis (lihat Matius 14:1-12)

* Karena kerap dikritik Yesus, para imam kepala dan ahli Taurat yang luka batin bersepakat membunuh Yesus (lihat Markus 14:1-2)

Ketiga contoh di atas hanyalah gambaran bagaimana seorang yang terluka batin dapat berpikir dan berbuat yang jahat dan merugikan orang lain. Apakah itu luka batin dan bagaimana cara menyembuhkannya, supaya kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan?

Di bawah ini sharing dari pengalaman mengikuti retret Penyembuhan Batin di Lembah Karmel, Cikanyere. Semoga dapat bermanfaat untuk membersihkan dan memulihkan batin yang terluka.

Luka batin adalah pengalaman negatif dan menimbulkan trauma, sehingga membentuk kepribadian yang tidak utuh. Luka batin dapat dialami sejak seseorang berada dalam kandungan ibunya, saat kelahiran dan masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, hingga masa dewasa.

Setiap hari kita berpotensi terluka oleh orang-orang di sekitar kita, terutama tentu saja orang-orang terdekat dengan kita, yang paling banyak berinteraksi dengan kita.

Seseorang yang menderita luka batin memperlihatkan ciri-ciri seperti berikut:
- Merasa tidak dikasihi oleh Allah/orang tua/keluarga/sesama
- Minder, sulit bergaul
- Mudah iri hati, pencemburu
- Pendiam, penyendiri, pemurung
- Takut tanpa alasan yang jelas
- Sering sedih, bahkan kadang mau bunuh diri
- Merasa ditolak, tidak dicintai, tidak diterima di mana2
- Merasa hidupnya tidak berguna
- Rasa bersalah berlebihan
- Selalu ragu, tak mampu mengambil keputusan
- Merasa tidak diperhatikan, kadang over acting

Apakah di antara sekian banyak ciri itu, ada yang mengena pada Anda?
Jangan cemas dan sedih. Luka batin dapat disembuhkan, asalkan Anda bersedia membuka diri.

Memang menyakitkan membuka dan menyadari luka-luka batin dalam diri kita, tetapi lebih baik sakit sebentar untuk mengalami kesembuhan daripada sakit terus-menerus seumur hidup.
Luka batin perlu ditemukan dan disembuhkan, supaya kita dapat menjadi pribadi yang mengalami damai dan sukacita dalam hidup sebagai anak Allah.

Cara menemukan dan menyembuhkan luka-luka batin dalam diri sendiri:
- Masuk dalam keheningan
- Berdoa mohon kehadiran Roh Kudus
- Mintalah kepada Yesus untuk menunjukkan luka-luka batin dengan cara perlahan-lahan kita membayangkan diri kita sejak masa dalam kandungan, setahap demi setahap memasuki masa bayi, kanak-kanak, remaja, sampai pada masa dewasa
- Menyadari dan menyerahkan luka-luka yang kita alamai itu kepada Yesus untuk disembuhkan
- Memberi pengampunan penuh kepada orang-orang yang telah menimbulkan luka-luka itu.
Tanda pengampunan kita bisa dinyatakan dengan membasuh kaki orang-orang yang telah menyakiti kita, sehingga batin kita terluka.

Memang, setelah kita memberi pengampunan, baik secara langsung atau tidak langsung (dalam refleksi yang kita lakukan bersama Yesus), tentu masih ada bekas luka batin itu. Kita perlu memulihkannya secara total dengan melakukan Meditasi Yesus, serta secara berkala menerima Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat.

Cara melakukan Meditasi Yesus:
1. Duduk bersila atau bersimpuh dengan mata terpejam, kepala tegak, posisi kedua tangan terbuka, selama minimal 20 menit
2. Berdoa mohon kehadiran Roh Kudus dalam keheningan
3. Nyatakan kepada Yesus secara singkat saja keinginan kita seperti: "Tuhan Yesus sembuhkan luka-luka batinku," atau "Tuhan Yesus aku mau sembuh," dan sebagainya
4. Menyebut nama Yesus berulang-ulang dalam hati, sesuai tarikan dan hembusan napas (Sebut "YE" saat menarik napas, lalu sebut "SUS" saat menghembuskan napas)
5. Merasakan Yesus hadir dan menjamah bekas luka-luka batin kita
6. Setelah 20 menit atau lebih, perlahan-lahan membuka mata kembali

Meditasi Yesus sangat baik dilakukan setiap hari, agar relasi kita dengan Yesus makin dekat. Jika kita tidak punya banyak waktu khusus untuk melakukan Meditasi Yesus, kita dapat menyebut nama "Yesus" berulang kali dalam hati, pada saat kita dalam perjalanan atau sambil melakukan pekerjaan lain seperti memasak, menyapu, dan sebagainya.

Setelah luka-luka batin kita dipulihkan Tuhan, sebagai manusia yang kodrati, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya melupakan peristiwa yang menyakitkan itu; tetapi cara pandang kita jadi berbeda. Ketika kita teringat kembali akan peristiwa yang menimbulkan luka batin tersebut, kita dapat mengenangnya tanpa terluka.

Rabu, 10 Juli 2019

Bukan Di Sini Tempatnya

Manusia cenderung ingin tinggal di tempat yang indah, tenang, dan tenteram; tetapi Tuhan justru mengutus orang-orang pilihan-Nya ke tempat-tempat yang tidak menyenangkan untuk dihuni, penuh tantangan.

Firman Tuhan kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (Kejadian 12:1)

Firman Tuhan kepada Musa: "Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." (Keluaran 3:10)

Firman Tuhan kepada Yunus: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:2)

Lalu aku (Yesaya) mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)

Beranikah kita menjawab permintaan Tuhan seperti para nabi itu menjawab-Nya?

Senin, 01 Juli 2019

Bersyukur Senantiasa

Yang perlu kulakukan mulai saat ini: 
Memuji dan bersyukur kepada Allah Tritunggal dan Bunda Maria 
yang telah melimpahkan berbagai rahmat kepadaku.
Aku menyadarinya.
Aku merasakannya dalam setiap tarikan napasku.
Aku akan mewartakan kasih karunia-Nya kepada orang-orang di sekitarku,
agar mereka pun menikmati kebaikan Tuhan.